Anda di halaman 1dari 34

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KELAS II SD MELALUI PENDEKATAN REALISTIK DI SD NEGERI 37 KEC.TILATANG KAMANG KAB.

AGAM PROPOSAL PENELITIAN

Oleh:

JUMMY YANTI NIM: 2411.049

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SJECH. M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan

manusia untuk

menumbuh kembangkan potensi-potensi yang dimiliki sejak lahir, baik jasmani maupun rohani, sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan iman, budi perkerti, akhlak, karakter, pikiran (intelek) dan jasmani anak. Dalam islam, perintah yang pertama kali diperintahkan oleh Allah kepada hamba-nya bukanlah perintah shalat, zakat, puasa, ataupun haji melainkan membaca. Membaca berarti belajar. Jadi Allah memerintahkan kepada hambaNya adalah untuk belajar. Sebagai balasan Allah kepada hamba-Nya yang telah belajar terdapat dalam firman-Nya dalam surat Al-mujaadalah ayat 111: ... Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Salah satu cabang ilmu dalam dunia pendidikan adalah matematika. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang dipelajari mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Pembelajaran tersebut diperoleh dari pengetahuan

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya .(Bandung:CV Penertbit Diponegoro, 2005) hal. 434

yang sudah dimilikinya, kemudian melalui media ataupun pengalamanpengalaman nyata yang dapat dihubungkan dengan pelajaran matematika. Demi tercapainya tujuan pelajaran matematika di atas, banyak hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah usaha pemerintah dengan melakukan pembaharuan dan penyempurnaan kurikulum. Selama perjalanannya, dunia pendidikan indonesia telah menerapkan enam kurikulum yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, revisi kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (meski belum sempat disahkan oleh pemerintah, tetapi sempat berlaku disekolah piloting project) dan terakhir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan pemerintah melalui Permen Diknas Nomor 22 tentang Standar Isi, Permen Diknas Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permen Diknas Nomor 24 tentang Pelaksanaan kedua Permen Tersebut2. Pembelajaran matematika haruslah bermakna bagi siswa, supaya siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika dalam situasi kehidupan nyata siswa. Guru dalam mengajar matematika di kelas harus mengaitkan pembelajarannya dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ideide matematika tersebut. Hal ini terbukti dari hasil observasi peneliti di SDN 37 Gadut kecamatan Tilatang Kamang di kelas II Rabu 6 november 2013, dimana Siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika terutama tentang pembelajaran operasi hitung campuran yang berkaitan dengan perkalian dan pembagian. Pada saat guru

Kunandar, Guru Profesional,(Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2007), h.107

manjelaskan pelajaran tersebut di depan kelas siswa mengerti, tapi bila siswa diberikan soal latihan yang berbeda siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Sedangkan untuk meningkatkan hasil belajar matematika tergantung dari bagaimana guru melaksanakan pembelajaran. Guru harus menciptakan

pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Salah satu cara yaitu dengan menerapkan pendekatan realistik. Pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkonstruksi kembali konsep matematika sehingga siswa mempunyai konsep pengertian yang kuat. Menggunakan realitas yang ada di sekitar siswa maka suasana belajar akan menyenangkan bagi siswa. Manusia perlu diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengupayakan berbagai kondisi dan situasi serta permasalahan-permasalahan yang realistik, sehingga pembelajaran bermakna dan membuat siswa tertarik untuk belajar matematika serta dapat meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Bagi Siswa Kelas II SD melalui Pendekatan Realistik di SDN 37 Kec.Tilatang Kamang Kab.Agam.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana merancang model pembelajaran dengan pendekatan realistik untuk memahami operasi hitung campuran pada siswa kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang? 2. Bagaimana melaksanakan pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik di kelas II SD Negeri 37 kecamatan Tilatang Kamang? 3. Bagaimana hasil belajar siswa kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang setelah mengikuti pembelajaran operasi hitung campuran melalui pendekatan realistik?

C. Pembatasan Masalah.

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan, tidak semua masalah diatas dilakukan penelitian, karena mengingat keterbatasan waktu, tenaga, biaya, dan teori-teori yang mendukung. Maka pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: Hasil belajar siswa Kelas II SD Negri 37 Kecamatan Tilatang Kamang.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah: 1. Bagaimana merancang model pembelajaran dengan pendekatan realistik untuk memahami operasi hitung campuran pada siswa kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang?

2. Bagaimana melaksanakan pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik di kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang? 3. Bagaimana hasil belajar siswa kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang setelah mengikuti pembelajaran operasi hitung campuran melalui pendekatan realistik?

E. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari rumusan masalah, maka rincian tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: 1. Cara merancang model pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik pada siswa kelas II SD. 2. Pelakasanaan model pembelajaran dengan pendekatan realistik bagi siswa kelas II SD dalam operasi bilangan campuran pada SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang. 3. Tingkat pencapaian hasil belajar siswa kelas II SD yang diperoleh melalui pendekatan realistik.

F. Manfaat Penelitian

Setelah dilaksanakannya penelitian pembelajaran operasi hitung campuran pada siswa kelas II SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang dengan pendekatan realistik, diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu alternatif untuk

peningkatan kualitas pendidikan matematika pada umumnya dan pembelajaran operasi hitung campuran khususnya di SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang. Berdasarkan dapat: a). Manfaat praktis 1. Bagi peneliti. Meningkatkan semangat profesionalitas peneliti dalam membelajarkan siswa untuk mata pelajaran matematika dan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan peneliti dalam pembelajaran di SD sehingga menjadi guru profesional dapat terlaksana dengan baik. 2. Bagi siswa. Untuk melatih keaktifan siswa dalam belajar, dan juga dapat merangsang siswa untuk aktif dalam mengembangkan potensinya. 3. Bagi guru. Menjadi bahan masukan khususnya guru mengajar konsep perkalian dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan realistik 4. Bagi sekolah. Menjadi bahan pertimbangan bagi praktisi pendidikan lainnya dalam membuat kebijakan pendidikan. b). Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan penelitian selanjutnya dengan menambah variabel lain yang berhubungan dengan usaha kepentingannya, maka hasil penelitian ini diharapkan

mencapai tujuan pendidikan. Di samping itu, hasil penelitian ini juga dapat dijadikan rujukan untuk penelitian sejenisnya.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pembelajaran matematika

Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Kecakapan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang terbentuk dan berkembang disebabkan oleh belajar. Jadi, belajar merupakan proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya yang memberikan manfaat bagi dirinya. Hal di atas sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Cronbach yaitu: learning is shown by a change in behavior as a result of experience3. Dari pendapat Cronbach tersebut, terdapat kata change atau perubahan yang dapat diartikan seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikapnya. Sehingganya kriteria keberhasilan anak didik dalam belajar ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Slemato juga menyatakan bahwa: Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sehingga hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.4 Hal ini didukung oleh pendapat Fontana dalam Erman yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman.5 Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibeda tiga fase atau episode, yakni: a. Informasi
3

Sardiman, interaksi dan motivasi belajar mengajar, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2008) h.20 4 Slemato, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta) h.2 5 Erman Suherman dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI) h. 8

Dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya. b. Transformasi Informasi yang telah diperoleh harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal itu bantuan guru sangat diperlukan. c. Evaluasi Dari dua fase sebelumnya, kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain6 Teori mengenai pembelajaran terdiri dari beberapa pandangan para ahli pendidikan. Menurut Fontana pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal7. Kemudian menurut konsep sosiologi, pembelajaran adalah rekayasa sosio-psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik 8. Sedangkan menurut konsep komunikasi pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai komunikasikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu pengetahuan9. Sementara itu menurut Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran10.
6

Nasution, berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010) h.9-10 7 Erman suherman..., h. 8 8 Erman suherman..., h. 9 9 Erman Suherman..., h.9 10 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) h. 57

Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran menurut Oemar Hamalik, yaitu: a. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu recana khusus. b. Kesalingtergantungan (interdependence) antara unsur-unsur sistem

pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran. c. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai.11 Erman Suherman menjelaskan bahwa dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi)12.Tujuan umum pembelajaran matematika pertama adalah memberikan penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Dan tujuan kedua adalah memberikan penekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya13. Dalam pembelajaran matematika, seorang guru semestinya tidak hanya sebatas mengajar pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi matematika belaka. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan sebagai materi secara parsial, tetapi harus diintegrasikan antara satu topik dengan topik lainnya, bahkan dengan bidang lain. Matematika harus diperkenalkan dan disajikan kedalam kehidupan kita. Menyajikan matematika hanya sebagai kumpulan faktafakta saja tidak akan menumbuhkan kebermaknaan dan hakekat matematika sebagai queen of the scince dan sebagai pelayan ilmu lainnya.

B. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik

1. Pengertian Pendekatan Matematika Realistik.


11 12

Oemar Hamalik, , h. 66 Erman Suherman , ,h. 55 13 Erman Suherman , , h. 56-57

Pendekatan matematika realistik ( PMR ), merupakan suatu teori dalam pendidikan matematika yang berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal Treffers. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian, perumusan, dan penvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real dalam matematika. Jadi

matematisasi horizontal bergerak dari dunia nyata ke dalam dunia simbol. Sedangkan matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematik, penggunaan model-model yang berbeda, dan penggeneralisasian. Matematisasi vertikal bergerak dari dunia simbol. Pendekatan ini dikembangkan oleh ahli matematika Belanda yang bernama Fruedenthal. Dia menyatakan bahwa bahan ajar matematika dikaitkan dengan realita dan matematika harus merupakan aktivitas manusia. Freudental pun menekankan bahwa materi matematika dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan matematika melalui kegiatan praktek, serta dapat ditransmisikan sebagai aktifitas manusia. Menurutnya siswa tidak bisa dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi (passive receiver of ready-made

mathematics). Ini berarti matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa atau guru. Usaha untuk menemukan kembali konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dapat dilakukan dengan penjelajahan berbagai situasi nyata (realistik) dan permasalahanpermasalahan dunia nyata. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas atau tidak selalu harus masalah dunia nyata tetapi dapat berupa masalah matematika yang dapat dibayangkan siswa.

Dalam pandangan ini aktivitas siswa merupakan hal yang penting. Oleh karena itu guru harus menyediakan ide-ide matematika untuk siswa. Hal ini hanya mungkin jika guru memberi reaksi kepada siswa sehingga dapat membawa ia ke depan kelas menyampaikan ide-idenya. Gravemeijer (dalam Sunardi, 2001:3) menyatakan bahwa matematika adalah aktivitas manusia. Manusia perlu diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide dan dilakukan dengan mengupayakan berbagai kondisi dan situasi serta permasalahan-permasalahan yang realistik. Proses menemukan kembali konsep matematika dapat

diinformasikan melalui dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horizontal dan vertikal. Pada matematisasi horizontal siswa mengorganisasikan dan

menyelesaikan suatu masalah yang ada pada situasi nyata, misalnya siswa dapat mengidentifikasikan, merumuskan, dan menvisualisasikan masalah dengan cara yang berbeda, serta dapat mentransformasikan masalah dunia real ke bentuk matematika. Jadi, matematisasi horizontal bergerak dari dunia nyata kedalam dunia simbol. Sedangkan pada masalah matematisasi vertikal proses pengorganisasian masalah kembali menggunakan konsep matematika itu sendiri, misalnya siswa dapat menpresentasikan hubunganhubungan dalam rumus, menggunakan model-model yang berbeda dan menggeneralisasikannya. Jadi, matematisai vertikal bergerak dari dunia simbol. Matematika horizontal De Lange (dalam Sriyanto, 2008:7) bertujuan agar siswa menggali masalah dan mencoba mengidentifikasi aspek matematika yang ada pada masalah tersebut. Sedangkan matematisasi vertikal siswa tiba pada tahap pembentukan konsep. Pembelajaran akan bermakna bagi siswa bila yang abstrak menjadi kongkret, sehingga konsep matematika yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh siswa. Siswa akan merasa puas bila mereka dapat menyelesaikan suatu masalah bukan karena gurunya, melainkan atas penalarannya sendiri. 2. Karakterisitik Pembelajaran Matematika Realistik

Secara umum teori pembelajaran matematika realistik terdiri dari lima karakteristik yaitu: a. Menggunakan konteks yang real terhadap siswa sebagai titik awal untuk belajar. Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dimana titik awal pembelajaran haruslah nyata bagi siswa untuk menjelajahi situasi yang diberikan dan mengidentifikasi hubungan matematika, membuat skema dan memvisualisasikan untuk menemukan keteraturan serta mengembangkan model hasil dalam konsep matematika. b. Penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus. Model yang dimaksudkan disini adalah model situasi dari konkret ke abstrak, atau konteks formal ke informal yang dikembangkan sendiri oleh siswa. Dengan kata lain siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. c. Mengaitkan sesama topik dalam matematika, struktur matematika saling berkaitan, oleh karena itu keterkaitan antar topik harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran. d. Penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antara guru dan siswa dapat berupa negosiasi, pembenaran, pertanyaan, atau refleksi, dan penjelasan yang bertujuan untuk mencapai bentuk formal. e. Menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa. Dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik guru harus memberi kesempatan siswa untuk berperan aktif selama pembelajaran, sehingga mereka merasa terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran, (Yetti, 2004:15). Guru harus mengembangkan instruksi interaktif yang tinggi dalam proses pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator, siswa bebas mengeluarkan ide-idenya dalam mengambil keputusan tentang ide mana yang benar, dan mudah dipahami. 3. Pinsip-prinsip pembelajaran matematika realistik. Tiga prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik yaitu:

a. Penemuan terbimbing dan matematisasi progresif (guided reinvention and progresive mathematizing). Maksudnya adalah dengan bimbingan guru melalui topik-topik yang disampaikan, siswa diberi kesempatan untuk membangun dan menemukan kembali tentang konsep-konsep matematika. Prinsip penemuan didapat dari proses penyelesaian informal, yang selanjutnya digunakan terhadap prosedur formal. b. Fenomeologi didaktis (didactical phenomenology), siswa dalam mempelajari matematika harus dimulai dari masalah-masalah

kontekstual yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Disini siswa mendapatkan gambaran tentang pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika yang dipelajari dengan mempertimbangkan kecocokan konteks dalam pembelajaran. Model dan prosedur diusahakan siswa yang menemukannya bukan diajarkan guru. c. Self develoved models, prinsip ini merupakan jembatan antara pengetahuan matematika informal dengan formal dari siswa, kemudian siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan sendiri. Disini guru bertindak sebagai fasilitator, sehingga guru dituntut untuk memahami bagaimana cara memberikan bantuan agar proses kontruksi siswa dalam pikirannya dapat terbentuk. Guru bertanggung jawab terhadap tugas untuk membantu siswa, bukan memberi penjelasan kepada siswa. Dalam pembelajaran matematika, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, sehingga mereka terlibat langsung dalam pelaksanaan pembelajaran. Lima prinsip mayor dalam proses pembelajaran yang berbasis realistik, yaitu: a. Pengkonstruksian dan pengkonkretan (contructing and concreting). Maksudnya, bahwa belajar matematika merupakan aktivitas model-modelnya

konstruktif, dan dimulai dari orientasi konkret terhadap skill yang dipelajari.

b. Level dan model (levels and models). Maksudnya level dari aritmatika informal menuju level aritmatika formal, untuk itu siswa perlu diberi jembatan untuk menghindari pemisah antara konkret dan abstrak dengan alat peraga, model visual, memodelkan situasi, skema, diagram, dam simbol-simbol. c. Refleksi dan penilaian khusus (reflection and special assignment). Refleksi maksudnya memahami proses berfikir seseorang. Sedangkan penilaian khusus maksudnya menilai kemungkinan jawaban siswa yang bervariasi. Misalnya dalam melakukan operasi hitung campuran, penilaiannya terdiri dari banyaknya siswa yang bisa menyelesaikan permasalahan, level skematisasi siswa, kemungkinan kesalahan sistematis, atau penggunaan algoritma dalam menyelesaikan masalah. d. Interaksi dan konteks sosial (social context and interaction). Maksudnya pendidikan matematika pada dasarnya bersifat interaktif. Dimana siswa diberi kesempatan untuk bertukar ide, berbantahan argumen, dan sebagainya. Jadi pengajaran diarahkan pada konteks sosio-kultural. e. Penstrukturan dan pengkaitan (structuring and interweaving).

Maksudnya, belajar matematika bukanlah merupakan kumpulan dari pengetahuan dan skill yang terpisah satu sama lain, tetapi merupakan kesatuan yang terstruktur. Jadi dalam pembelajaran matematika guru harus mengaitkan pembelajaran dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkontruksi sendiri ide-ide matematika, agar pembelajaran bermakna bagi siswa. 4. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Matematika Realistik Kelebihan pendekatan Realistik adalah: a. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena

menggunakan realitas yang ada disekitar siswa. b. Karena siswa membangun sendiri pengetahuannya maka siswa tidak mudah lupa dengan materi.

c. Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap jawaban ada nilainya. d. Melatih siswa untuk terbiasa berfikir dan berani mengemukakan

pendapat,Pendidikan budi pekerti, misal : saling kerjasama dan menghormati teman yang sedang berbicara. Sedangkan kekurangannya adalah: a. Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya. b. Untuk memahami satu materi pelajaran dibutuhkan waktu yang cukup lama. c. Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu. d. Belum ada pedoman penilaian, sehingga guru merasa kesulitan dalam evaluasi/memberikan nilai. Berdasarkan temuan tentang kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik, maka guru hendaknya dapat: a. Memilih dan menggunakan strategi atau metode yang dapat memotivasi siswa aktif secara mental, maupun sosial dalam kegiatan pembelajaran, b. Membimbing siswa ke arah menebak, berbuat, mencoba sehingga siswa mampu menjawab permasalahan yang mengarah kepada pertanyaan kapan?, dalam konteks apa?, dan mengapa? mereka menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: a. Memotifasi siswa untuk aktif dalam kegiatan selama pembelajaran berlangsung. b. Membuat kelompok belajar kecil, karena dapat membantu guru dalam memberikan bimbingan,

c. Memberikan bimbingan pada siswa yang memerlukan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan sederhana dan dianggap realistik bagi siswa. Walaupun pada pembelajaran dengan pendekatan realistik mempunyai kekurangan-kekurangan, diharapkan kekurangan-kekurangan tersebut dapat teratasi bila penerapannya dilakukan dengan bersungguhsungguh, memanfaatkan fasilitas pembelajaran secara optimal, dan guru harus senantiasa mengembangkan pengetahuannya tentang model belajar dengan pendekatan realistik. 5. Tahap-tahap Pembelajaran Matematika Realistik. Proses pengajaran dengan pendekatan realistik terdiri dari 4 tahap yaitu: a. Tahap pendahuluan. Pada tahap ini pembelajaran dimulai dengan pemberian masalah real bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan siswa agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Hal ini dimaksudkan supaya siswa terlibat dalam pembelajaran secara bermakna. b. Tahap pengembangan model simbolik. Dalam tahap ini siswa masih dihadapkan pada masalah real. Siswa mengembangkan model sendiri dalam menyelesaikan masalah dari bentuk konkret ke abstrak. c. Tahap penjelasan dan alasan. Pada tahap ini siswa diminta untuk memberikan alasan atas jawaban yang diberikan, jika jawaban yang diberikan siswa salah, maka guru dapat melemparkan pertanyaan pada siswa lain sehingga terjadi interaksi yang efektif dan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. d. Tahap penutup. Pada tahap ini guru memberikan arahan pada siswa untuk mengumpulkan atau merangkum dari masalah dalam kehidupan sehari-hari yang telah dikerjakan siswa. P Pembelajaran dengan pendekatan realistik ada 5 tahapan yang perlu dilalui oleh siswa, yaitu: penyelesaian masalah, penalaran, komunikasi, kepercayaan diri, dan representasi. a. Pada tahap penyelesaian masalah, siswa diajak mengerjakan soal-soal dengan menggunakan langkah-langkah sendiri. Patut dihargai adalah

bahwa penggunaan langkah ini tidak berlaku baku atau sama seperti yang dipakai pada buku atau yang digunakan guru. Siswa dapat menggunakan cara atau metode yang ditemukan sendiri, yang bahkan sangat berbeda dengan cara atau metode yang digunakan oleh buku atau oleh guru. b. Pada tahap penalaran, siswa dilatih untuk bernalar dalam mengerjakan setiap soal yang dikerjakan, artinya pada tahap ini siswa harus dapat mempertanggungjawabkan cara atau metode yang dipakainya dalam mengerjakan tiap soal. c. Pada tahap komunikasi, siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan jawaban yang dipilih pada teman-temannya. Siswa berhak pula menyanggah atau menolak jawaban milik teman yang dianggap tidak sesuai dengan pendapatnya sendiri. d. Pada tahap kepercayaan diri, siswa diharapkan mampu melatih kepercayaan diri dengan cara mau menyampaikan jawaban soal yang diperolehnya kepada teman-temannya dengan berani maju ke depan kelas. Jika jawabannya berbeda dengan jawaban temannya, siswa diharapkan mau menyampaikannya dengan penuh tanggung jawab dan berani baik secara lisan maupun secara tertulis. e. Pada tahap representasi, siswa memperoleh kebebasan untuk memilih bentuk representasi yang dia inginkan (benda konkret, gambar atau lambang-lambang matematika) untuk menyajikan atau menyelesaikan masalah yang dia hadapi siswa membangun penalarannya,

kepercayaan dirinya melalui bentuk representasi yang dipilihnya. 6. Tinjauan Materi Operasi Hitung Campuran Berdasarkan Kurikulum SD. Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar tahun 2006, materi operasi hitung campuran terdapat di kelas II semester II. Standar kompetensinya adalah melakukan perkalian dan pembagian bilangan dua angka, dan kompetensi dasarnya melakukan operasi hitung campuran. Materi pokoknya adalah menyelesaikan masalah sehari-hari yang menggunakan perkalian dan pembagian.

Materi yang diambil disini adalah tentang menyelesaikan masalah sehari-hari yang mengunakan perkalian dan pembagian bagi kelas II, yang membahas tentang cara melakukan operasi hitung campuran bagi siswa kelas II. 7. Pembelajaran Operasi Hitung Campuran Dengan Pendekatan Realistik. Pembelajaran akan bermakna bagi siswa apabila pembelajarannya dimulai dengan masalah-masalah realistik, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. Pengajaran matematika dengan pendekatan realistik, di samping menawarkan cara untuk mencegah kesalahan siswa, juga dapat untuk mempelajari proses solusi menurut pola pikir siswa dalam pembentukan konsep dan hubungan matematika dengan dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran operasi hitung campuran di SD dalam pembelajaran tradisional sering tidak melibatkan siswa secara aktif dan sulit untuk menguasai matematika secara baik, termasuk materi operasi hitung campuran. Guru lebih berperan dalam pembelajaran operasi hitung campuran daripada siswa sehingga, siswa secara pasif menerima pembelajaran tersebut. Guru biasanya langsung memberikan contoh soal yang diselesaikan secara formal dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian latihan dan soal. Sebagai contoh misalnya penyajian pembelajaran operasi hitung campuran seperti berikut: 1. 3 x 6 : 2 = ...... 2. 4 x 6 : 6 = ...... Berbeda dengan pembelajaran tradisional, pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik melibatkan siswa secara aktif memberikan perhatian yang seimbang antara matematisasi horizontal dengan matematisasi vertikal. Pembelajaran dengan pendekatan realistik pengalaman belajar harus dimulai dari sesuatu yang nyata bagi siswa. Hal ini berarati bahwa suatu pembelajaran tidak dimulai dari yang formal, melainkan lebih banyak dari nalar siswa.

Berhubung materi operasi hitung campuran, sering kita jumpai masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, maka dalam pembelajaran operasi hitung campuran sebaiknya siswa dilibatkan secara aktif dalam menemukan konsep yang dipelajari, yaitu konsep perkalian dan pembagian serta cara melakukan operasi hitung campuran. C. Hasil Belajar

Dalam kehidupan manusia setiap saat selalu mengalami proses belajar. Dalam proses belajar yang dilakukan manusia akan diperoleh hasil belajar. Belajar yang dilakukan manusia baik secara formal maupun informal. Setelah proses belajar mengajar diharapkan terjadi perubahan tingkah laku pada siswa dalam kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dinamakan hasil belajar. Seorang guru harus mampu dalam melaksanakan hasil belajar, agar guru dapat mengukur dan menilai sampai sejauh mana siswa yang mengikuti proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat mencapai keberhasilan. Dalam

menentukan keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar tidaklah merupakan suatu pekerjaan yang mudah. Dari kemungkinan di atas, guru diharapkan dapat melaksanakan kegiatan penilaian dengan baik dan tepat jangan sampai terjadi kesalahan dalam menetapkan keputusan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar yang diperoleh siswa dalam melakukan proses belajar dapat diketahui melalui test atau ujian. Tujuan penilaian hasil belajar adalah untuk mengetahui, apakah materi yang diajarkan sudah dipahami oleh siswa dan apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Penilaian hasil belajar sangat penting untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa serta dapat juga digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa serta dapat juga digunakan untuk mengetahui kecocokan metode yang dipakai oleh guru dalam mengajarkan materi tertentu. Hasil belajar adalah akibat yang ditimbulkan dari proses pembelajaran yang dilakukan pada diri siswa berupa kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari kemampuanya dalam mengingat pelajaran yang telah disampaikan selama pembelajaran yang dinyatakan dalam skor dari hasil tes dan

bagaimana siswa tersebut bisa menerapkannya serta mampu memecahkan masalah yang timbul sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya.

D. Kerangka Teori.

Matematika bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Pendekatan matematika realistik merupakan suatu teori dalam pendidikan matematika yang berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas dan harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal. Karakteristik pendekatan matematika realistik adalah: 1. Penggunaan masalah kontekstual. 2. Menggunakan model-model. 3. Kontribusi siswa. 4. Interaksi. 5. Pengaitan. Hasil belajar diperoleh dari proses belajar yang dilakukan oleh manusia baik secara formal maupun informal. Setelah proses belajar diharapkan terjadi perubahan tingkah laku pada siswa dalam kognitif, afektif, dan psikomotor.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A Lokasi Penelitian.

1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 37 Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Pemilihan lokasi ini berdasarkan kepada beberapa pertimbangan sebagai berikut : a. Kepala sekolah bersedia menerima inovasi pendidikan terutama dalam kegiatan belajar mengajar. b. Guru tidak keberatan untuk menerima pembaharuan terutama dalam kegiatan belajar mengajar. c. Berdasarkan pengamatan penulis pengajaran matematika di sekolah tersebut belum pernah menggunakan pendekatan realistik. d. Lingkungan sekolah yang mendukung. 2. Subjek Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN 37 Kecamatan Tilatang Kamang. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II, yang terdaftar pada semester I tahun ajaran 2013/2014, dengan jumlah siswanya 20 orang, 11 orang perempuan dan 9 orang laki-laki. Adapun yang terlibat dalam penelitian ini adalah : a. Peneliti sebagai guru praktisi pada kelas II SDN 37 Kecamatan Tilatang Kamang.

b. Guru kelas yang bersangkutan. 3. Waktu Penelitian dan Lama Penelitian. Waktu penelitian yakni tanggal 6 november 2013 sampai 7 november 2013.

B. Rancangan Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran dalam suatu kelas. Pendekatan kualitatif digunakan karena suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan serta perilaku yang diamati dari orang-orang atau sumber informasi . Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Action Research. Oleh sebab itu sesuai dengan penelitian tindakan kelas, maka masalah penelitian yang harus dipecahkan berasal dari persoalan praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional. 2. Alur Penelitian. Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan menggunakan model siklus yang dikembangkan. Model siklus ini mempunyai empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus yaitu siklus I dan II. Pada stiap akhir siklus dilakukan tes hasil belajar. Pada setiap pertemuan dilakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar.

C. Prosedur Penelitian.

Tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan ini mengikuti prinsip-prinsip dasar yang berlaku dalam penelitian tindakan. Dalam penelitian ini dilakukan mulai dari refleksi awal dan dilanjutkan dengan pelaksanaan dengan tahap sebagai berikut:

a. Refleksi awal 1) Melakukan orientasi dan observasi pendahuluan sebagai dasar untuk menentukan fokus penelitian 2) Mengadakan diskusi dengan guru dan kepala sekolah tentang perencanaan penelitian yang dilakukan 3) Mempersiapkan perangkat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian 4) Mengidentifikasi jenis kesulitan yang terjadi dari hasil tes. b. Perencanaan. Sebelum melakukan penelitian kegiatan ini dimulai dengan

menentukan jadwal penelitian. Dimana sebelumnya peneliti meminta persetujuan kepala sekolah dan guru kelas untuk melakukan penelitian. Setelah itu peneliti berunding dengan guru kelas kapan dilaksanakannya penelitian itu. Setelah didapat waktu pelaksanaannya penelitian langkah selanjutnya yaitu mengkaji Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Di dalam kurikulum itu terdapat standar kompetensi yang merupakan tujuan umum dari

pembelajaran yang harus di capai siswa. Kompetensi dasar adalah penjabaran dari standar kompetensi. Kegiatan selanjutnya adalah membuat Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP). Dimana dalam RPP ini tergambar secara rinci apa tujuan pembelajaran yang akan dicapai, kegiatan yang dilakukan dalam

pembelajaran, baik kegiatan guru maupun kegiatan siswa dan evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang pembelajaran. Selain itu peneliti juga membuat soal yang akan diberikan kepada siswa. Setelah melakukan kegiatan di atas, kegiatan selanjutnya adalah menyusun lembar observasi. Lembar observasi ini berguna untuk mengetahui apakah pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki untuk pembelajaran selanjutnya. c. Pelaksanaan. Setelah penyusunan RPP, maka peneliti melakukan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus dilaksanakan satu kali pertemuan dengan dengan alokasi waktu setara dengan dua kali pertemuan (4x35 menit). Sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Kegiatan dilakukan oleh guru kelas sebagai observer dan peneliti sebagai praktisi. Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran operasi hitung campuran dengan menggunakan pendekatan realistik. Kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
1. menggunakan masalah kontekstual tentang operasi hitung campuran. 2. menggunakan model-model.

3. menggunakan konstruksi. 4. menggunakan interaktif. 5. menggunakan keterkaitan masalah operasi hitung campuran dalam kehidupan.

d. Pengamatan Pengamatan terhadap tindakan pembelajaran dilakukan untuk

mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik. Pengamatan dilakukan oleh guru kelas II dan teman sejawat (observer). Dalam kegiatan ini peneliti dan observer berusaha mengenal, mendokumentasikan semua kegiatan pembelajaran yang terjadi, baik yang disebabkan oleh tindakan terencana maupun dampak intervensi dalam pembelajaran tersebut. Pengamatan dilakukan secara terus-menerus mulai dari siklus I sampai siklus II. Hasil pengamatan ini kemudian didiskusikan dengan guru dan diadakan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya. e. Refleksi Refleksi diadakan setiap tindakan terakhir. Pada kegiatan ini peneliti dan guru mengamati lembaran observasi yang telah dilakukan. Serta melakukan diskusi tentang kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pembelajaran yang telah dilakukan. Apabila terdapat kekurangan maka dilakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran. Selain itu guru dan peneliti mengulas dan menjelaskan perbedaan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.. Hasil refleksi ini dimanfaatkan sebagai masukan pada tindakan

selanjutnya. Selain itu, hasil kegiatan refleksi setiap tindakan digunakan untuk menyusun simpulan terhadap hasil tindakan I, dan II.

D. Data dan Sumber Data.

1. Data Penelitian. Data penelitian kelas ini berupa hasil pengamatan, tes, observasi aktivitas guru dan siswa, dan dokumentasi dari setiap tindakan perbaikan pembelajaran operasi hitung campuran. Data tersebut berupa :

a. Data perencanaan Perencanaan yang terdapat dalam rancangan pembelajaran guru secara tertulis berupa rumusan tujuan pembelajaran, penyusunan KBM, materi dan sumber belajar, dan perencanaan evaluasi. b. Data pelaksanaan Data tentang proses pelaksanaan pembelajaran yang berhubungan dengan interaksi belajar antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dalam pembelajaran operasi hitung campuran dengan pendekatan realistik. Data tersebut berupa catatan pengamatan tentang aktivitas guru dan siswa dalam tahap pendahuluan, tahap pengembangan model simbolik, tahap penjelasan dan alasan, dan tahap penutup. c. Data hasil Data tentang hasil jawaban siswa sesudah tindakan dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Data tersebut berupa hasil tes kepada siswa tentang operasi hitung campuran. yang diberikan

2. Sumber Data Data diperoleh dari subjek yang akan diteliti yaitu siswa kelas II SDN 37 Kecamatan Tilatang Kamang.

E. Instrumen penelitian.

Prosedur pengumpulan data yang dilakukan berdasarkan bentuk data yang ingin diperoleh, data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan tes, observasi aktivitas guru dan siswa, serta pengambilan gambar pada saat pembelajaran belangsung. Untuk masing-masinng uraiannya adalah sebagai berikut:
1. Tes dilakukan untuk informasi tentang kemampuan siswa dalam memahami

pembelajaran matematika. Tes ini dilakukan pada awal dan setiap akhir tindakan, untuk: a. memperoleh data kemajuan siswa. b. kepentingan analisis dan. c. merumuskan refleksi untuk tindakan selanjutnya. 2. Observasi, bertujuan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengetahui adanya kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan tindakan, serta mengkaji sejauh mana pemberian tindakan menghasilkan perubahan sesuai yang dikehendaki peneliti.

Berpedoman pada lembar observasi, observer (guru kelas II) mengamati apa yang terjadi dalam proses pembelajaran, yaitu:

a. Kegiatan awal: tahap pendahuluan:

1. memberikan motivasi kepada siswa tentang manfaat operasi hitung campuran dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Apersepsi yaitu tanya jawab dengan siswa tentang operasi hitung campuran (perkalian dan pembagian), 2. menyampaikan tujuan pembelajaran 3. membentuk siswa ke dalam beberapa kelompok, 4. membagikan LKS. b. Kegiatan inti: 1. memberikan masalah yang nyata bagi siswa berhubungan dengan operasi hitung campuran, 2. meminta siswa memahami masalah yang diberikan guru, 3. membantu siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Tahap pengembangan model simbolik. 4. meminta siswa aktif bekerja dalam kelompok 5. menyuruh siswa mengembangkan idenya dalam membuat model matematika dengan memanfaatkan lilin untuk menyelesaikan masalah yang diberikan di dalam kelompoknya, 6. membimbing siswa bila siswa tidak menemukan model matematika, 7. menyuruh siswa menentukan lambang matematika dari setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Tahap penjelasan dan alasan: 8. meminta siswa mencatat hasil diskusi, 9. meminta wakil kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya ke depan kelas,

10. meminta kelompok lain memberikan tanggapan hasil diskusi kelompok temannya, 11. meminta siswa mengajukan ide/gagasan yang mereka temui. Tahap penutup. 12. membimbing siswa menyimpulkan materi pembelajaran. c. Kegiatan akhir: 1. memberikan latihan pada siswa, 2. tindak lanjut kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai perencana dan pelaksana pembelajaran di kelas dan guru kelas selaku observer. Peneliti bertugas menyaring, menilai, menyimpulkan, dan memutuskan data yang digunakan. instrumen yang dipakai pada penelitian dapat dilihat pada lampiran.

F. Teknik Analisis Data

Data yang di peroleh dalam penelitian ini di analisis dengan menggunakan model analisis data kualitatif. Model analisis data kualitatif, yaitu analisis data dimulai dengan menelaah sejak pengumpulan data sampai seluruh data terkumpul. Tahap analisis data tersebut antara lain : 1. Menelaah data yang terkumpul baik melalui observasi maupun tes 2. Reduksi data meliputi pengkategorian dan pengklasifikasian semua data yang terkumpul dikelompok-kelompokan dan diseleksi sesuai dengan fokus masing-masing

3. Menyajikan data, dilakukan dengan cara mengorganisasikan data yang telah direduksi melalui rangkuman yang disajikan secara terpadu 4. Menyimpulkan hasil penelitian dan triangulasi. Kegiatan triangulasi dilakukan dengan cara : a. peninjauan kembali lembaran observasi aktivitas guru dan siswa b. bertukar pikiran dengan teman sejawat dan guru. Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik data perencanaan, pelaksanaan dan kegiatan evaluasi. Analisis data dilakukan dengan cara terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan agar dapat ditemukan berbagai informasi yang spesifik dan terfokus pada berbagai informasi yang mendukung dan menghambat pembelajaran. Pengembangan dan perbaikan atas berbagai kekurangan dapat dilakukan tepat pada aspek yang bersangkutan. Kriteria keberhasilan setiap tindakan adalah sebagai berikut : seluruh aktivitas guru dan siswa mencapai keberhasilan 70%. Hasil belajar siswa yang diharapkan berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas yang bersangkutan dan standar ketuntasan materi di SDN 37 Kecamatan Tilatang Kamang adalah 70 atau 70%. Jadi diharapkan keberhasilan yang dicapai adalah 70%. Jika belum berhasil maka siklus diteruskan sampai berhasil 70%.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya .(Bandung:CV Penertbit Diponegoro, 2005)

Kunandar, Guru Profesional,(Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2007)

Abdullah

bin

Abbas.

2008.

Matematika

Realisti:

Apa

dan

Bagaimana?.(Online)(http://www.pmri.or.id/artikel/index.php%3Fmain/

Ade Chandra Prayogi. 2008. Pendekatan Realistik dalam Pembelajaran Matematika.(Online)(http://adechandraprayogi.blogspot.com/2008/01/pen dekatan-realistik-dalam-pembelajaran.html/

Depdiknas.2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar.

Gregoria

Ariyanti.

Pendekatan

Realistik

dalam

Pembelajaran

Matematika.(Online)(http://ariyanti.freehostia.com.wordpress/?p=31/

Hadi.2003. Pembelajaran dengan Pendekatan Realistik untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Persamaan Linier Dua Pengubah Siswa Kelas II SLTP. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Hendra Gunawan. 2008. Kurikulum Matematika Pra-Universitas.(Online) (http://www.suarapembaruan.com/News/1998/08/280898/OpEd/op06.html /

Rahmah Johar. Konstruktivisme Atau Realistik?. Makalah Disajikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics Educations (RME) FMIPA UNESA SURABAYA, Surabaya, 24 Februari.

Mansur.

2008.

Refleksi

Kritis

Pembelajaran

Matematika.

(Online)

(http://Mansur08.wordpress.com/refleksikritispembelajaran/

Rochiati Wiraatmadja. 2007. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosda Karya.

79