Anda di halaman 1dari 36

NASKAH AKADEMIK PENDIDIKAN KETERAMPILAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM 2007

KATA PENGANTAR Pemberlakuan UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menuntut cara pandang yang berbeda tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dulu, pengembangan kurikulum dilakukan oleh pusat dalam hal ini Pusat Kurikulum sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh satuan pendidikan. Pengembangan kurikulum yang dilakukan langsung oleh satuan pendidikan memberikan harapan tidak ada lagi permasalahan berkenaan dengan pelaksanaannya. Hal ini karena penyusunan kurikulum satuan pendidikan seharusnya telah mempertimbangkan segala potensi dan keterbatasan yang ada. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan: standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Salah satu dari ke delapan standar nasional pendidikan tersebut, yakni standar isi (SI) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum disamping standar kompetensi lulusan (SKL). Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum telah dilakukan oleh sebagian satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu pada standar isi. Sebagai acuan, standar isi ini masih perlu ditelaah. Penelaahan dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang adatidaknya rumusan pada standar isi yang menimbulkan permasalahan bila digunakan untuk mengembangkan kurikulum. Sebagai naskah, kurikulum yang telah dikembangkan oleh satuan pendidikan juga perlu ditelaah. Penelaahan terhadap naskah kurikulum dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kemungkinan keterlaksanaannya. Penelaahan standar isi dan kurikulum dilakukan melalui berbagai tahapan kegiatan pengkajian. Salah satu hasil kajian tersebut di atas adalah Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Keterampilan. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai masukan bagi perumus kebijakan pendidikan lebih lanjut. Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada banyak pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, kepala sekolah, pengawas, guru, dan praktisi pendidikan, serta Depag. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari mereka, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas,

Diah Harianti

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Landasan Yuridis C. Tujuan D. Peserta Yang Terlibat E. Strategi Kegiatan 5 7 12 12 15

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

21

BAB III : TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN A. Kajian Dokumen B. Kajian Lapangan C. Pembahasan Kajian Dokumen Dan Pelaksanaannya 24 28 33

BAB IV : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan B. Rekomendasi Daftar Pustaka 36 37 39

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

ii

Abstrak Pusat Kurikulum berperan dan bertanggung jawab dalam mengembangkan modelmodel kurikulum, pembelajaran dan bahan ajar pada berbagai satuan pendidikan. Dalam rangka mendukung pelaksanaan yang tertuang dalam Peraturan Menteri No. 22 dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan serta No. 24 tentang Pelaksanaan Permen No. 22 dan 23, maka melalui mata pelajaran keterampilan, dirancang pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan perilaku siswa menjadi cekat, cepat dan tepat dalam melakukan aktivitas kerajinan dan teknologi rekayasa, teknologi budi daya serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan manusia di masyarakat. Siswa melakukan interaksi terhadap karya produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungannya, untuk berkreasi menciptakan berbagai jenis produk kerajinan maupun produk teknologi, sehingga diperoleh pengalaman perseptual, pengalaman apresiatif dan kreativitas dari potensi lingkungan. Oleh karenanya, orientasi pembelajaran Keterampilan adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetik, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apresiasi dan kreasi terhadap berbagai produk kerajinan. Kegiatan ini dimulai dari mengidentifikasi potensi di sekitar siswa diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pembelajaran dirancang secara sistematis melalui tahapan meniru, memodifikasi, dan mengubah fungsi produk yang ada menuju produk baru yang lebih bermanfaat. Tujuan dari naskah akademik secara umum ialah memberikan masukan kepada BNSP tentang standar isi mata pelajaran keterampilan untuk dijadikan acuan dalam pembentukan kebijakan arah pendidikan di masa depan. Secara khusus memberi masukan terhadap SK dan KD yang sesuai dengan kebutuhan di sekolah. Memberi masukan terhadap pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan di sekolah. Memberikan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan ketrampilan yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan potensi daerah masing-masing. Serta memberi masukan terhadap pengembangan pendidikan keterampilan di sekolah Ruang Lingkup kegiatan ini ialah mengkajian standar isi mata pelajaran Keterampilan dari tingkat SD, SMP dan SMU. Sedangkan strategi kegitan ialah pembuatan desain kegiatan , kajian Dokumen Standar Isi (Seminar Kur. Masa Depan) , Diskusi Hasil Kajian Standar Isi, Kajian Pelaksanaan Standar Isi, Diskusi Hasil Kajian Dokumen dan Pelaksanaan Standar isi, Studi Dokumentasi Standar Isi , Penyempurnaan Draf Naskah Akademik (Analisis Data Hasil Kajian) , Penyusunan Draf Bahan Presentasi Naskah Akademik, Finalisasi Naskah Akademik diakhiri dengan Ekspose Hasil Kajian Standar isi Mata Pelajaran Keterampilan. Sedangkan peserta yang terlibat terdiri dari Direktorat Kesetaraan Depdiknas, UNJ, UNY, SMP Lab School Cinere Labu , SD dan SMP Al-Izhar, Pondok Labu , SMU 6 Jakarta dan SMA 11 Yogyakarta. Berdasarkan hasil kajian pelaksanaan kurikulum mata pelajaran keterampilan di Sekolah tampak SK dan KD yang sudah ada masih perlu pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan perkembangan, kebutuhan, dan minat siswa serta potensi daerah, Pengembangan materi yang mengacu pada pilar-pilar CTL akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Hal ini penting artinya sebagai media apresiasi dan ekspresi diri melalui karya seni. Mata pelajaran Ketrampilan di masa depan diharapkan dapat diproyeksikan sebagai Pendidikan Ketrampilan yang wajib dilaksanakan di sekolah-sekolah karena kemampuan ketrampilan dibutuhkan dalam kehidupan untuk membangun sikap mandiri, memiliki daya juang, rasa estetik, kooperatif, apresiatif, kreatif-produktif dan jiwa kewirausahaan.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

iii

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas dirasakan semakin mengikat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Persaingan yang terjadi juga semakin tajam meskipun upaya untuk menyemangati bentuk kemitraan semakin disadari oleh pelaku industri dan perdagangan. Kondisi tersebut secara langsung berdampak bagi keharusan negara Indonesia untuk mau dan harus mengikuti segala bentuk dan tingkat perkembangan agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain sehingga dapat bersama-sama ikut membangun peradaban dunia. Kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan sesama anggota ASEAN. Salah satu faktor utama rendahnya kualitas sumber daya manusia ini tentu berhubungan dengan dunia pendidikan nasional. Program pendidikan nasional yang dirancang diyakini belum berhasil menjawab harapan dan tantangan masa kini maupun di masa depan. Dunia pendidikan nasional perlu dirancang agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat komunikasi yang luar biasa. Dalam membangun pendidikan di masa depan perlu dirancang sistem pendidikan yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu berkesinambungan dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Dalam menghadapi harapan dan tantangan di masa depan, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan. Pendidikan di masa depan memainkan peranan yang sangat fundamental di mana cita-cita suatu bangsa dan negara dapat diraih. Usaha untuk mengembangkan manusia berkualitas yang siap menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan harus dimulai sedini mungkin melalui pendidikan. Salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan. Untuk itu, kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial, dan kredibilitas sehingga tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Terlebih lagi, industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi tingkat tinggi, maka bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi. Dengan demikian, fungsi pendidikan sebagai hak asasi manusia yang mendasar, modal ekonomi, sosial dan politik; alat pemberdayaan kelompok yang kurang beruntung, landasan budaya damai, dan sebagai jalan utama menuju masyarakat belajar sepanjang hayat, sesungguhnya merupakan langkah penting bagi pembangunan kualitas sebuah bangsa yang berbudaya dan berkarakter. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif sesuai standar mutu nasional dan internasional, kurikulum di masa depan perlu dirancang
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

sedini mungkin. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan cara seperti ini lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan peserta didik. Segala kegiatan yang bertujuan untuk mendidik siswa selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk mata pelajaran - mata pelajaran yang keseluruhannya memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan bervariasi bagi siswa. Pengalaman belajar di sekolah mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta memberikan bekal keterampilan hidup (life skill) kepada siswa untuk menghadapi permasalahan di dalam kehidupannya. Siswa dikondisikan agar dapat mengaplikasikan seluruh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah diperolehnya ketika harus memecahkan masalah. Dengan demikian diharapkan siswa dapat merasakan manfaat pendidikannya di sekolah. Salah satu mata pelajaran yang terasa dapat memberikan sumbangan kepada siswa agar berani dan siap menghadapi tantangan masa depan adalah mata pelajaran keterampilan. Hal ini dikarenakan kompetensi dalam mata pelajaran ini merupakan bagian dari pembekalan life skill kepada siswa. selain itu keseluruhan kegiatan pembelajaran keterampilan yang merupakan aplikasi dari mata pelajaran lain dalam menghasilkan suatu benda yang dibuat langsung oleh siswa dapat membuat siswa semakin merasakan manfaat memperoleh pengalaman mata pelajaran keterampilan. Keterampilan merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam berbagai pengalaman apresiasi maupun pengalaman berkreasi untuk menghasilkan suatu produk berupa benda nyata yang bermanfaat langsung bagi kehidupan siswa. Dalam mata pelajaran Keterampilan, siswa melakukan interaksi terhadap benda-benda produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungan siswa, dan kemudian berkreasi menciptakan berbagai produk kerajinan maupun produk teknologi, sehingga diperoleh pengalaman konseptual, pengalaman apresiatif dan pengalaman kreatif. Orientasi mata pelajaran Keterampilan adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual, fisik, konsepsi, sosial, estetik, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apreasiasi dan kreasi terhadap berbagai produk benda di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, mencakup antara lain ; jenis, bentuk, fungsi, manfaat, tema, struktur, sifat, komposisi, bahan baku, bahan pembantu, peralatan, teknik kelebihan dan keterbatasannya. Selain itu siswa juga melakukan aktivitas memproduksi berbagai produk benda kerajinan maupun produk teknologi melalui yang sistematis dengan berbagai cara misalnya meniru, mengembangkan dari benda yang sudah ada atau membuat benda yang baru. Berdasarkan paparan diatas, maka dianggap perlu segera dilakukan upaya untuk membahas dan mengkaji kembali permasalahan kurikulum secara keseluruhan dan mapel ketrampilan dari tingkat SD sampai SMA. B. LANDASAN YURIDIS Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, kurikulum dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. 1. Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 : (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan : a. peningkatan iman dan takwa; b. peningkatan akhlak mulia; c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d. keragaman potensi daerah dan lingkungan; e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f. tuntutan dunia kerja; g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h. agama; i. dinamika perkembangan global; dan j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. (4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 37 (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : a. pendidikan agama; b. pendidikan kewarganegaraan; c. bahasa; d. matematika; e. ilmu pengetahuan alam; f. ilmu pengetahuan sosial; g. seni dan budaya; h. pendidikan jasmani dan olahraga; i. keterampilan/kejuruan; dan j. muatan lokal.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

(2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat : a. pendidikan agama; b. pendidikan kewarganegaraan; dan c. bahasa. (3) Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Standar nasional pendidikan harus disempurnakan dan ditingkatkan secara berencana, terarah dan berkala sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.K Kata standar memiliki makna tingkat atau level kualitas atau keunggulan yang harus dicapai dengan kriteria, benchmark, persayaratan atau spesifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan pengertian di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa kriteria minimal tentang sistem standar nasional pendidikan merupakan pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar nasional pendidikan terdiri atas: 1. standar isi Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kerangka dasar dan struktur kurikulum mengatur tentang kelompok mata pelajaran serta kedalaman muatan kurikulum yang dituangkan dalam kompetensi, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar. Beban belajar mengatur tentang jam pembelajaran dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, pelaksanaan pembelajaran sistem paket dan satuan kredit semester (SKS), serta pemberian pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. KTSP untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. 2. standar proses Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar proses mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 3. standar kompetensi lulusan Standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Standar ini meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran 4. standar pendidik dan tenaga kependidikan Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar ini mengatur tentang pendidik yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, Rasio pendidik terhadap peserta didik, kelengkapan dan kualifikasi tenaga kependidikan satuan pendidikan, pengawas satuan pendidikan. 5. standar sarana dan prasarana Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar ini mengatur tentang kelengkapan, jenis dan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan. 6. standar pengelolaan Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar ini terdiri atas standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan standar pengelolaan oleh pemerintah.
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan mengatur tentang penerapan prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS), proses pengambilan keputusan, pedoman, rencana kerja tahunan, Pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan satuan pendidikan. Standar pengelolaan oleh pemerintah daerah dan pemerintah mengatur tentang rencana kerja tahunan, penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional. 7. standar pembiayaan Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Standar ini mengatur tentang biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal satuan pendidikan. 8. standar penilaian pendidikan Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Standar ini mengatur tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik, oleh satuan pendidikan dan oleh pemerintah, serta tentang kelulusan peserta didik. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bertugas melakukan pengembangan, pemantauan, dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Sedangkan evaluasi pendidikan meliputi: 1. evaluasi kinerja pendidikan oleh satuan pendidikan pada tiap akhir semester, 2. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah (menteri) 3. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah propinsi 4. evaluasi kinerja pendidikan oleh pemerintah kabupaten/kota 5. evaluasi kinerja pendidikan oleh lembaga mandiri Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi. Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan, secara bertahap, sistematis, dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, LPMP mensurpervisi dan membantu satuan pendidikan dalam penjaminan mutu. Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP didasarkan pada penilaian khusus.
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan disebutkan bahwa salah satu tugas pokok Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dalam hal ini, Pusat Kurikulum adalah memonitor secara nasional penerapan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri. Salah satu yang menjadi bagian dari monitoring tersebut adalah melakukan monitoring secara nasional penerapan peraturan menteri pendidikan nasional dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian kegiatan dengan pendekatan studi eksplorasi atau penelitian sosial yang utamanya mulai analisis dan kajian kebijakan tentang standar nasional pendidikan secara umum, pemantauan atau monitoring penerapan, impelementasi dan pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan dalam bentuk mengumpulkan data dan informasi yang relevan sehingga dapat diperoleh temuan, masukan, atau data sebagai bahan untuk pengambilan keputusan agar Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 dapat diterapkan secara efisien dan efektif. Kegiatan diawali dengan penyusunan desain untuk menetapkan fokus kajian, informasi yang relevan dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai keahlian. Selanjutnya dilakukan penyusunan instrumen dan pedoman untuk menjaring informasi yang dibutuhkan. Agar instrumen memiliki keandalan (reliabilitas) dan keabsahan (validitas) yang cukup, maka akan dilakukan ujicoba instrumen dan pedomannya. Berikutnya, kegiatan pengumpulan data lapangan dengan melibatkan para praktisi yang berpengalaman melalui kuesioner, wawancara, tes, observasi kesiapan sumber daya, situasi, kondisi dan pelaksanaan pembelajaran dan studi dokumentasi, serta analisis data untuk merumuskan rekomendasi sebagai hasil kajian untuk penyempurnaan lebih lanjut. Tahapan ini juga melibatkan terutama praktisi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, stakeholder (pemangku kepentingan) pendidikan, serta para pakar dari berbagai keahlian

C. TUJUAN Tujuan Umum Tujuan dari kegiatan ini ialah memberikan masukan kepada BNSP tentang standar isi mata pelajaran keterampilan untuk dijadikan acuan dalam pembentukan kebijakan arah pendidikan di masa depan. Tujuan yang juga penting adalah dilakukannya pemantauan atau monitoring penerapan, implementasi dan pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan dalam bentuk mengumpulkan data dan informasi yang relevan sehingga dapat diperoleh temuan, masukan, atau data sebagai bahan untuk pengambilan keputusan agar Permendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006 dapat diterapkan secara efisien dan efektif.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

Tujuan khusus Memberi masukan terhadap SK dan KD yang sesuai dengan kebutuhan di sekolah. Memberi masukan terhadap pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan di sekolah Memberikan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan ketrampilan yang disesuaikan dengan situasi ,kondisi dan potensi daerah masing-masing Memberi masukan terhadap pengembangan pendidikan keterampilan di sekolah

D. Peserta yang terlibat


No. Nama Instansi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Dra. Caecilia Tridjata S. M.Sn. Drs. Daryanto, M.T. Dra. Suci Rahayu Dr. Soeprijanto, M.Pd. Drs. Bakri Nasir, M.A Dr. Pramono. Drs. Hajar Pamadhi MA Drs. Buyung Rohmanto Dra. Ariana Restu Handari Drs. Andi Suandi Dra. Eni Widyastuti Miftahkodin Drs. Tatang Subagyo, M.Pd.

UNJ UNJ UNJ UNJ UNJ Direktorat Kesetaraan Depdiknas UNY Pemakalah SMP Lab School Cinere Labu Jakarta Selatan SD Al-Izhar, Pondok Labu Jakarta Selatan SMP Al-Izhar, Pondok Labu Jakarta Selatan SMU 6 Jakarta - Selatan SMA 11 Yogyakarta Puskur Depdiknas

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

E. Strategi kegiatan Agar kegiatan ini dapat memberi hasil yang optimal sebagaimana yang diharapkan selama tahun 2007 adalah sebagai berikut:
No. 1. . Kegiatan Kajian Kurikulum Mata Pelajaran keterampilan Langkah Kegiatan 1. Penyusunan Desain Tujuan Menghasilkan Desain yang berisi fokus kajian Standar Isi Hasil yang diharapkan Desain Kajian Unsur Peserta / Nama Ahli Kordinator Pelaksanaan Kegiatan/Acara Jakarta Diskusi gambaran kegiatan kajian Penyusunan draft desain Finalisasi desain Penyusunan kriteria kajian Cisarua Pengarahan Seminar Diskusi permasalahan dokumen Mengkaji dokumen berdasarkan kriteria Progres hasil kajian Perumusan kesimpulan dan rekomendasi

2. Kajian Dokumen Standar Isi (Seminar Kur. Masa Depan) Langkah 2 dan 3 digabung

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji konsep, strategi dan kebijakan mengenai kurikulum masa depan mata pelajaran keterampilan.

naskah akademik yang berisi kajian konsep, pembahasan dan kesimpulan serta rekomendasi mengenai kurikulum masa depan mata pelajaran keterampilan. Rekomendasi tentang kurikulum masa depan pelajaran keterampilan.

Dra. Caecilia Tridjata S. M.Sn. Drs. Daryanto, M.T. Dra. Suci Rahayu Dr. Soeprijanto, M.Pd. Drs. Bakri Nasir, M.A Dr. Pramono. Drs. Tatang Subagyo, M.Pd. Drs. Hajar Pamadhi MA

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

No.

Kegiatan

Langkah Kegiatan 4. Kajian Pelaksanaan Standar Isi Mata Pelajaran Keterampilan

Tujuan 1. Mengidentifikasi permasalahan pelaksanaan standar isi (struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, dll) 2. Mengidentifikasi permasalahan pelaksanaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran

Hasil yang diharapkan 1. Informasi dan data mengenai permasalahan dan pemecahan masalah pelaksanaan standar isi (struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, dll) 2. Informasi dan data mengenai permasalahan dan pemecahan masalah pelaksanaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran

Unsur Peserta / Nama Ahli Dra. Caecilia Tridjata Drs. Buyung Rohmanto Dra. Ariana Restu Handari Drs. Andi Suandi

Pelaksanaan Kegiatan/Acara Cisarua Pengarahan Diskusi kelompok per mata pelajaran tentang hasil kajian dokumen standar isi Progres hasil diskusi Merumuskan kekuatan dan kelemahan dokumen standar isi

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

10

No.

Kegiatan

Langkah Kegiatan 5. Diskusi Hasil Kajian Dokumen dan Pelaksanaan Standar isi Mata Pelajaran Keterampilan

Tujuan Mendiskusikan kembali hasil kajian terhadap dokumen dan pelaksanaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan

Hasil yang diharapkan Kesimpulan dan rekomendasi mengenai hasil kajian terhadap dokumen dan pelaksanaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Keterampilan untuk jenjang SD, SMP dan SMA. kesimpulan dan rekomendasi mengenai hasil studi dokumentasi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan.

Unsur Peserta / Nama Ahli Dra. Caecilia Tridjata Drs. Buyung Rohmanto Dra. Ariana Restu Handari Drs. Andi Suandi Dra. Eni Widyastuti

Pelaksanaan Kegiatan/Acara Cisarua Pengarahan Diskusi umum (pleno) tentang pelaksanaan standar isi Diskusi kelompok tentang hasil kajian pelaksanaan standar isi Progres hasil diskusi Merumuskan kekuatan dan kelemahan pelaksanaan standar isi di lapangan

6. Studi Dokumentasi Standar Isi Mata Pelajaran Keterampilan

melakukan studi terhadap dokumen standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan ditinjau dari berbagai referensi.

Dra. Caecilia Tridjata Dra. Ariana Restu Handari Drs. Andi Suandi Dra. Eni Widyastuti

Jakarta Pengarahan Diskusi kelompok mata pelajaran tentang hasil kajian dan diskusi Membandingkan hasil kajian dan diskusi dengan berbagai referensi Progres hasil tinjauan referensi Perumusan rekomendasi

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

11

No.

Kegiatan

Langkah Kegiatan 7. Penyempurnaa n Draf Naskah Akademik (Analisis Data Hasil Kajian) Mata Pelajaran Keterampilan

Tujuan menyusun kerangka naskah akademik standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan.

Hasil yang diharapkan kerangka naskah akademik standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan

Unsur Peserta / Nama Ahli Dra. Suci Rahayu Drs. Buyung Rohmanto Dra. Ariana Restu Handari Drs. Andi Suandi Dra. Eni Widyastuti

Pelaksanaan Kegiatan/Acara Cisarua Pengarahan Diskusi kelompok mata pelajaran tentang hasil kajian dan diskusi Membandingkan hasil kajian dan diskusi dengan berbagai referensi Membuat draf naskah akademik Jakarta Melihat ulang, merapikan dan perbaikan Naskah akademik dan Power Point untuk presentasi di Yogyakarta Jogjakarta Pembukaan dan pengarahan umum. Presentasi Memperbaiki masukan oleh para ahli.

8. Penyusunan Draf Bahan Presentasi Naskah Akademik Mata Pelajaran Keterampilan 9. Finalisasi Naskah Akademik Mata Pelajaran Keterampilan

menyusun kerangka naskah akademik standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan. Finalisasi naskah akademik kajian mata pelajaran keterampilan. Penyususun bahan presentasi kajian mata pelajaran ketermpilan

kerangka naskah akademik standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran keterampilan Naskah akademik kajian mata pelajaran keterampilan yang sudah final Bahan presentasi kajian mata pelajaran keterampilan yang sudah final dan siap

kordinator

Drs. Hajar Pamadhi MA Tatang Subagyo Miftahkodin Dra. Ariana Restu Handari

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

12

No.

Kegiatan

Langkah Kegiatan

Tujuan

Hasil yang diharapkan dipresentaskan di depan BSNP Naskah akademik kajian mata pelajaran keterampilan yang sudah final dan Power Point.

Unsur Peserta / Nama Ahli

Pelaksanaan Kegiatan/Acara

10. Ekspose Hasil Kajian Standar isi Mata Pelajaran Keterampilan

Memperoleh masukan naskah akademik dari para ahli

Drs. Hajar Pamadhi MA Tatang Subagyo

Jakarta Pembukaan dan pengarahan umum. Presentasi Memperbaiki masukan oleh para ahli.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

13

BAB II TINJAUAN TEORITIS Secara morfologis istilah keterampilan diambil dari skill maka memuat arti kemampuan mengerjakan sesuatu dengan baik dan dilakukan dengan cara memanfaatkan pengalaman dan pelatihan. Namun jika keterampilan masuk dalam konstelasi kurikulum pendidikan dimaknai sebagai pendidikan vokasional. Jika keterampilan dikaitkan dengan seni, Collingwood (1937) menjelaskan bahwa kata seni dari Ars. Ars berasal dari bahasa Latin yang diartikan kriya yang mempunyai keterampilan khas, seperti keahlian tukang kayu dimana keahlian tersebut mendasarkan pengerjaannya pada cita rasa keindahan yang berbeda dengan sekedar keterampilan tangan. Dalam kinerja tangan untuk terampil ternyata menuai sistem kerja yang secara otomatis menjadikan reflektif, kerja tangan tersebut jika dilihat dari kacamata psikologi terjadi otomatisasi. Dampak yang dapat diambil dari konstelasi keterampilan tangan ternyata berkait dengan kinerja otak. Otak menjadi bekerja sistemik manakala terdapat kekurangan atau kegagalan; melalui pelatihan yang terampil akan diketahui secara otomatis pula jalan keluar. Ini merupakan segi positif belajar keterampilan. Paul G. Stoltz (terjemahan, 2000) menyarankan agar kegagalan dapat dijadikan landas pacu untuk memperoleh keberhasilan. Dari kinerja terampil menjadi kreasi di masa berikutnya. Saran juga datang dari teori Shieh Ho yang hadir abad 7 di Cina, disarankan untuk menjadi seorang seniman yang berhasill dapat mengkopi kinerja seniman tenar: ..... mengkopi untuk mencari kemungkinan dari seniman besar adalah tindakan yang berpahala. (Trisno Sumarjo, 1957). Kinerja otak

Otak Kiri Logis Sekuensial Linear Rasional

Otak Kanan Acak Tdak teratur Intuitif Holistik

Jadi tidak salah jika keterampilan dilatihkan sebagai mata pelajaran, karena keterampian memberi kemanfaatkan pelatihan kinerja otomatis pada kerja otak seperti: berpikir logis, sekuensial, rasional dan linier. Lalu bagaimana dengan mata pelajaran keterampilan? Raisson detre kehadiran kurikulum keterampilan sekaligus sebagai dasar atau Falsafah Pendidikan Keterampilan adalah melatih kemampuan perseptual, apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan kerajinan produk kerajinan
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

14

dan atau produk teknologi yang memberikan penekanan pada penciptaan kerajinan-kerajinan fungsional dari karya kerajinan, karya teknologi sederhana, yang bertumpu pada keterampilan tangan. Istilah keterampilan mengandung arti kecakapan melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan cekat, cepat dan tepat. Cekat bermakna tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi dari sudut pandang karakter, bentuk, sistem dan perilaku obyek yang diwaspadai. Cekat mengandung unsur kreativitas, keuletan mengubah hambatan menjadi peluang untuk keberhasilan (adversity) serta kecakapan menanggulangi permasalahan dengan tuntas. Istilah cepat merujuk kepada kecakapan mengantisipasi perubahan, mengurangi kesenjangan dan kekurangan terhadap masalah, dan obyek, membuat karya berdasarkan target waktu terhadap keluasan materi, dan kuantitas sesuai dengan sasaran yang ditentukan. Kata tepat menunjukkan kecakapan bertindak secara presisi untuk menyamakan bentuk, sistem, kualitas maupun kuantitas dan perilaku karakteristik obyek atau karya. Melalui mata pelajaran keterampilan, dirancang pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan perilaku siswa menjadi cekat, cepat dan tepat dalam melakukan aktivitas kerajinan dan teknologi rekayasa, teknologi budi daya serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan manusia di masyarakat. Siswa melakukan interaksi terhadap karya produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungannya, untuk berkreasi menciptakan berbagai jenis produk kerajinan maupun produk teknologi, sehingga diperoleh pengalaman perseptual, pengalaman apresiatif dan kreativitas dari potensi lingkungan. Oleh karenanya, orientasi pembelajaran Keterampilan adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetik, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apresiasi dan kreasi terhadap berbagai produk kerajinan. Kegiatan ini dimulai dari mengidentifikasi potensi di sekitar siswa diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pembelajaran dirancang secara sistematis melalui tahapan meniru, memodifikasi, dan mengubah fungsi produk yang ada menuju produk baru yang lebih bermanfaat. Dasar pembelajaran keterampilan adalah pelatihan; jika bertolak dari strategi pembelajaran, terdapat istilah yang melingkupi: pelatihan dan pendidikan. Belajar sebenarnya usaha untuk melatih menyimpan memory agar tersimpan lama dan dapat diungkap kembali sesuai dengan kebutuhan.dasar belajar ini adalah memasukkan secara berkali-kali informasi ke dalam otak. Ternyata teori Bandura mengajarkan kinerja peniruan (imitasi) melaui pelatihan yang diulang-ulang: .... theory of imitation, also called social learning theory, four factors are necessary for a person to learn through observation and then imitate a behavior: attention, retention, reproduction, and motivation. ( 1993-2003 Microsoft Corporation).

Pendidikan Keterampilan dalam kontelasi pendidikan umum mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Mengembangkan pengetahuan siswa melalui penelaahan jenis, bentuk, sifatsifat, penggunaan dan kegunaan, alat, bahan, proses dan teknik membuat berbagai produk kerajinan dan produk teknologi yang berguna bagi kehidupan
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

15

2.

3.

4.

5.

6.

manusia, termasuk pengetahuan dalam konteks budaya dari kerajinan-kerajinan tersebut. Mengembangkan kepekaan rasa estetik, rasa menghargai terhadap hasil produk kerajinan dan produk teknologi masa kini serta artefak hasil produk masa lampau dari berbagai wilayah Nusantara maupun dunia. Mengembangkan keterampilan siswa untuk menghasilkan berbagai produk kerajinan dan produk teknologi serta industri sederhana yang berguna bagi kehidupan manusia dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya. Menanamkan apresiasi akan berbagai karya dan tatanan kehidupan di dunia termasuk karya seni dan budayanya sehingga dapat menumbuhkan kecintaan pada budaya berkarya yang bercirikan Indonesia. Mengembangkan kepekaan kreatif siswa melalui berbagai kegiatan penciptaan kerajinan-kerajinan produk kerajinan dan teknologi dengan menggunakan bahan-bahan alam maupun industri. Menumbuhkembangkan sikap profesional, kooperatif, toleransi, kepemimpinan (leadership) maupun kekaryaan (employmentship).

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

16

BAB III TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN A. KAJIAN DOKUMEN HASIL KAJIAN KURIKULUM DOKUMEN Satuan Pendidikan : SD ASPEK Dokumen Kelas 1 PERMASALAHAN SK,KD di kls 1 smt 1 dan 2 Tdk mencantumkan kompetensi ketrampilan secara khusus.Tapi terintegrasi di kls 1 SK 2 KD 2.2 Dan di kls 2 di SK 8 KD 8.2 PEMECAHAN MASALAH Di kelas 1 smt 1 dan 2 , SK aspek ketrampilan sebaiknya dicantumkan secara terpisah agar konsisten dan berkelanjutan dengan SK aspek ketrampilan di kelas 2 . Sebaiknya di kls 1 sudah diberikan aspek ketrampilan 3 Dimensi, dengan media lunak(seperti plastisin, bubur kertas,tanah liat dll). Karena anak butuh mengembangkan kepekaan rabaan dan motorik halus lebih intens. Sebaiknya KD aspek ketrampilan di kls 2 Smt 1 dan 2 dikaitkan dengan SK, KD aspek Seni Rupa di kelas yang sama agar pengalaman belajar anak lebih bermakna. Pewarna alam dapat digunakan sebagai media apresiasi dan ekspresi diri melalui karya Seni Rupa. KD sebaiknya tdk hanya sebatas pengalaman proses tetapi pengalaman produksi kreasi. SK dan KD sebaiknya dibedakan berdasarkan jenis ketrampilan yang beragam sesuai dengan perkembangan motorik siswa.

Kelas 2

Cakupan kompetensi dasar masih terbatas pada penguasaan ketrampilan dua dimensi seperti menggunting, merobek dan merekatkan. Substansi aspek ketrampilan KD di kls 2 smt 1 dan 2 kurang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa.

Kelas 3

Substansi KD aspek ketrampilan di smt 1 dan 2 kurang memberikan pengalaman eksplorasi yang variatif, hanya pengulangan materi dengan media yang berbeda. Beberapa istilah yang digunakan dalam SK,KD aspek ketrampilan di kls 4 smt 1 dan 2 sulit dipahami ; mis:mengidentifikasi,konstruksi, sikap apresiatif. SK 7 aspek ketrampilan di kls 5

Kelas 4

Kata kerja operasional pada SK, KD aspek ketrampilan di kelas 4 smt 1 mis:mengidentifikasi,konstruksi,sikap apresiatif sebaiknya diberi penjelasan istilah. SK, KD 7 aspek ketrampilan di kls 5 smt 17

Kelas 5

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

smt 1 tidak konsisten dengan SK 8 aspek ketrampilan. .

1 perlu ditambahkan apresiasi benda permainan agar konsisten dengan SK,KD 8.

Satuan Pendidikan : SMP ASPEK Dokumen Kelas 7 PERMASALAHAN KD kls 7 smt 1 dan 2 aspek teknologi rekayasa masih berorientasi pd produk kerajinan sebagai fungsi pakai. Sedangkan sentuhan estetisnya belum ada. Beberapa istilah pada SK- KD kls 8 smt 1 dan 2 seperti teknologi mekanis, teknologi kimia, dan makrame agak sulit dipahami. Beberapa istilah pada SK- KD kls 9 smt 1 dan 2 seperti tekhnik potong sambung, tekhnik potong konstruksi, dan modifikasi agak sulit dipahami. PEMECAHAN MASALAH Sebaiknya pada aspek teknologi rekayasa juga diperhatikan pengembangan segi estetis.

Kelas 8

Kelas 9

Substansi SK, KD kls 9 smt 1 sama dengan SK, KD kls 12 smt 1.

Kata kerja operasional pada SK, KD aspek ketrampilan di kelas 8 smt 1 dan 2 mis:teknologi mekanis, teknologi kimia, dan makrame sebaiknya di beri penjelasan istilah. Kata kerja operasional pada SK, KD aspek ketrampilan di kelas 9 smt 1 dan 2 mis:tekhnik potong sambung, teknik potong konstruksi dan modifikasi sebaiknya di beri penjelasan istilah. Substansi SK, KD di kls 9 smt 1 supaya lebih fokus pada kompetensi apresiasi dan membuat benda kerajinan dengan tekhnik potong sambung saja.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

18

Satuan Pendidikan : SMA ASPEK Dokumen Kelas 10 PERMASALAHAN KD teknologi rekayasa kls 10 smt 1 dan 2 hanya menampilkan aspek keterampilan teknis saja belum menyinggung aspek estetikanya. Istilah pada SK dan KD smt 1 seperti tapestry agak sulit dipahami. Materi kerajinan tapestry sulit dipraktekkan di daerah-daerah. PEMECAHAN MASALAH Sebaiknya pada aspek keterampilan teknis juga diperhatikan pengembangan segi estetis. Istilah Tapestry pada SK dan KD sebaiknya diberi penjelasan istilah. Perlu pengembangan aspek keterampilan yang lebih bervariatif sesuai dengan potensi daerah misalnya, kerajinan tenun. Cakupan kompetensi apresiasi pada KD kerajinan kls 10 smt 1 dan 2 perlu membahas segi estetisnya. Istilah teknik pembentukan manual perlu diberikan penjelasan khusus terkait dengan kinerja tangan dalam pengolahan bahan lunak seperti, tanah liat, bubur kertas, plastisin, dll.

Kompetensi apresiasi pada KD kerajinan kls 10 smt 1 dan 2 hanya sebatas ketrampilan teknis saja, belum mencakup segi estetiknya. Istilah teknik pembentukan manual pada aspek kerajinan SK, KD kls 10 smt 2 masih agak sulit dipahami. Kompetensi apresiasi pada KD kerajinan kls 11 smt 1 dan 2 hanya sebatas ketrampilan tekhnis saja, belum mencakup segi estetiknya. Penggunaan istilah produk benda konstruksi sederhana pada KD kerajinan kls 11 smt 1 perlu ditinjau kembali karena sulit dipahami di lapangan.

Kelas 11

Kompetensi apresiasi pada KD kerajinan kls 11 smt 1 dan 2 perlu membahas segi estetisnya.

Istilah produk benda konstruksi sederhana dapat diganti dengan benda dengan konstruksi sederhana.

Kelas 12

Substansi SK, KD kls 12 smt 1 Substansi SK, KD di kls 12 smt 1 supaya sama dengan SK, KD kls 9 smt lebih fokus pada kompetensi apresiasi dan membuat benda kerajinan dengan teknik 1. potong konstrusi saja.

Kelas 12

KD teknologi rekayasa kls 12 smt 1 dan 2 hanya menampilkan aspek keterampilan teknis saja belum

Sebaiknya pada aspek keterampilan teknis juga diperhatikan pengembangan segi estetiika

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

19

ASPEK

PERMASALAHAN menyinggung aspek estetikanya.

PEMECAHAN MASALAH

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

20

B. KAJIAN LAPANGAN KAJIAN PELAKSANAAN KETERAMPILAN Satuan Pendidikan : SD PENYUSUN AN PROG. Silabus PERMASALAHAN Belum seluruh muatan lokal dapat dikembangkan dr SK , KD di kelas 1 s.d. kelas 6. KD secara keseluruhan belum terintegrasi dan memiliki keterkaitan yang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa. Pemahaman tentang SK (Standar Kompetensi), KD (Kompetensi Dasar) belum dimengerti secara jelas (masih rancu). PEMECAHAN MASALAH Muatan lokal dalam pengembangan SK , KD harus lebih fleksibel mengacu kepada potensi daerah. Substansi KD secara keseluruhan perlu memperhatikan keterkaitan atau keterpaduan pengalaman belajar dari aspek keterampilan dan seni rupa. KURIKULUM MATA PELAJARAN

Kompetensi dasar ketrampilan harus mengacu pada aspek: perceptual,apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan produk kerajinan atau produk teknologi. Materi pokok dikembangkan dengan memperhatikan pilar-pilar CTL /pembelajaran kontekstual disesuaikan dengan kebutuhan anak, lingkungan dan perkembangan zaman . Rumusan indikator harus merujuk pada indikator kinerja ketrampilan yang mencakup: kecepatan, ketepatan dan kecekatan dengan memperhatikan prinsip ergonomic, efisien, ekonomis dan higienis. Perlu dikembangkan pengalaman belajar yang mengacu pada pilar-pilar CTL.

Pengembangan materi pokok kurang menarik dan bermakna bagi siswa Rumusan indikator kurang dapat mengukur kompetensi yang diharapkan dapat dilakukan anak.

Rumusan pengalaman belajar ketrampilan kurang dikembangkan RPP Kesulitan dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kontekstual.. Kesulitan dalam pengaturan pembelajaran tematik

Model tematik harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan anak , minat dan keadaan lingkungan ,mis: tematik, proyek terpadu. Dibutuhkan koordinasi tim guru mapel ketrampilan dengan mapel lainnya untuk merancang RPP bersama. 21

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

PENYUSUN AN PROG.

PERMASALAHAN Penilaian ketrampilan cenderung hanya menilai hasil produk saja.

PEMECAHAN MASALAH Penilaian sejogyanya mencakup penilaian proses dan produk Penilaian proses mengacu pada indikator kinerja cepat,cekat,tepat. Selain itu portfolio dapat juga digunakan menilai proses

KBM

Mapel ketrampilan kekurangan Mapel ketrampilan perlu diberikan jam khusus dan bukan lagi merupakan mata jam pelajaran, karena masih pelajaran pilihan(wajib). tergabung dengan mapel Seni Budaya. Sarana dan prasarana termasuk SDM kurang memadai Kegiatan apresiasi seperti pameran, workshop kurang diberikan perhatian. Guru dan sekolah dituntut lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya alam, prasarana yang ada. Pameran kelas dilaksnakan setiap semester dan pameran sekolah dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua. Workshop untuk guru dilaksanakan minimal 1 kali dalam 1 semester dengan mendatangkan nara sumber dari luar. Penilaian yang dilakukan sejogyanya berupa penilaian angka dan deskripsi/narasi.

Penilaian terhadap aspek proses belum dilaksanakan dengan menggunakan acuan penilaian sikap yang bersifat deskriptif. Instrumen penilaian kurang mendetail dengan bobot prosentase yang proporsional.

Sebagai contoh: dalam penilaian aspek produksi segi ketrampilan atau skill memiliki bobot lebih besar dari pada segi kreativitas.

Satuan Pendidikan : SMP PENYUSUN PERMASALAHAN AN PROG. SILABUS Mapel ketrampilan belum
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

PEMECAHAN MASALAH Kebijakan dan otonomi sekolah 22

PENYUSUN PERMASALAHAN AN PROG. diberikan di sekolah sebagai mapel yang berdiri sendiri

PEMECAHAN MASALAH sejogyanya menetapkan maple ketrampilan sebagai mata pelajaran tersendiri Substansi KD secara keseluruhan perlu memperhatikan keterkaitan atau keterpaduan pengalaman belajar dari aspek keterampilan dan seni rupa. Kompetensi dasar ketrampilan harus mengacu pada aspek: perceptual,apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan produk kerajinan atau produk teknologi.

Mapel ketrampilan di KD belum memiliki keterkaitan yang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa. Pemahaman tentang SK (Standar Kompetensi), KD (Kompetensi Dasar) belum dimengerti secara jelas (masih rancu).

Pengembangan materi pokok kurang menarik dan bermakna bagi siswa

Materi pokok dikembangkan dengan memperhatikan pilar-pilar CTL /pembelajaran kontekstual disesuaikan dengan kebutuhan anak, lingkungan dan perkembangan zaman . Rumusan indikator harus merujuk pada indikator kinerja ketrampilan yang mencakup: kecepatan, ketepatan dan kecekatan dengan memperhatikan prinsip ergonomic, efisien, ekonomis dan higienis. Perlu dikembangkan pengalaman belajar yang mengacu pada pilar-pilar CTL.

Rumusan indikator kurang dapat mengukur kompetensi yang diharapkan dapat dilakukan anak.

Rumusan pengalaman belajar ketrampilan kurang dikembangkan RPP Kesulitan dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kontekstual. Kesulitan dalam pengaturan pembelajaran tematik Penilaian ketrampilan cenderung hanya menilai hasil produk saja.

Model tematik harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan anak , minat dan keadaan lingkungan ,mis: tematik, proyek terpadu.

Dibutuhkan koordinasi tim guru mapel ketrampilan dengan mapel lainnya untuk merancang RPP bersama. Penilaian sejogyanya mencakup penilaian proses dan produk . Penilaian proses mengacu pada indikator kinerja cepat,cekat,tepat. Selain itu portfolio dapat juga 23

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

PENYUSUN PERMASALAHAN AN PROG.

PEMECAHAN MASALAH digunakan menilai proses

KBM

Mapel ketrampilan kekurangan jam pelajaran, karena masih tergabung dengan mapel Seni Budaya. Sarana dan prasarana termasuk SDM kurang memadai

Mapel ketrampilan perlu diberikan jam khusus dan bukan lagi merupakan mata pelajaran pilihan(wajib).

Guru dan sekolah dituntut lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya alam, prasarana yang ada. Pameran kelas dilaksnakan setiap semester dan pameran sekolah dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua. Workshop untuk guru dilaksanakan minimal 1 kali dalam 1 semester dengan mendatangkan nara sumber dari luar.

Kegiatan apresiasi seperti pameran, workshop kurang diberikan perhatian.

Penilaian terhadap aspek proses belum dilaksanakan dengan menggunakan acuan penilaian sikap yang bersifat deskriptif. Instrumen penilaian kurang mendetail dengan bobot prosentase yang proporsional.

Penilaian yang dilakukan sejogyanya berupa penilaian angka dan deskripsi/narasi.

Sebagai contoh: dalam penilaian aspek produksi segi ketrampilan atau skill memiliki bobot lebih besar dari pada segi kreativitas.

Satuan Pendidikan : SMU PENYUSUN PERMASALAHAN AN PROG. SILABUS Mapel ketrampilan belum diberikan di sekolah sebagai mapel yang berdiri sendiri PEMECAHAN MASALAH Kebijakan dan otonomi sekolah sejogyanya menetapkan maple ketrampilan sebagai mata pelajaran tersendiri Substansi KD secara keseluruhan perlu memperhatikan keterkaitan atau keterpaduan pengalaman belajar dari aspek keterampilan dan seni rupa. 24

Mapel ketrampilan di KD belum memiliki keterkaitan yang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa.
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

PENYUSUN AN PROG.

PERMASALAHAN

PEMECAHAN MASALAH

SK KD aspek ketrampilan di kelas 9 smt 1 sama dengan di kelas 12 smt 1

Cakupan kompetensi harus dibedakan.dengan mempertimbangkan segi tingkat kesulitan sesuai dengan perkembangan anak. Kompetensi dasar ketrampilan harus mengacu pada aspek: perceptual,apresiatif dan kreatif produktif dalam menghasilkan produk kerajinan atau produk teknologi.

Pemahaman tentang SK (Standar Kompetensi), KD (Kompetensi Dasar) belum dimengerti secara jelas (masih rancu).

Pengembangan materi pokok kurang menarik dan bermakna bagi siswa

Materi pokok dikembangkan dengan memperhatikan pilar-pilar CTL /pembelajaran kontekstual disesuaikan dengan kebutuhan anak, lingkungan dan perkembangan zaman . Rumusan indikator harus merujuk pada indikator kinerja ketrampilan yang mencakup: kecepatan, ketepatan dan kecekatan dengan memperhatikan prinsip ergonomic, efisien, ekonomis dan higienis. Perlu dikembangkan pengalaman belajar yang mengacu pada pilar-pilar CTL.

Rumusan indikator kurang dapat mengukur kompetensi yang diharapkan dapat dilakukan anak.

Rumusan pengalaman belajar ketrampilan kurang dikembangkan RPP Kesulitan dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kontekstual.. Kesulitan dalam pengaturan pembelajaran tematik Penilaian ketrampilan cenderung hanya menilai hasil produk saja.

Model tematik harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan anak , minat dan keadaan lingkungan ,mis: tematik, proyek terpadu. Dibutuhkan koordinasi tim guru mapel ketrampilan dengan mapel lainnya untuk merancang RPP bersama. Penilaian sejogyanya mencakup penilaian proses dan produk. Penilaian proses mengacu pada indikator kinerja cepat,cekat,tepat. Selain itu portfolio dapat juga digunakan menilai proses. Mapel ketrampilan perlu diberikan jam khusus dan bukan lagi merupakan mata 25

KBM

Mapel ketrampilan kekurangan jam pelajaran, karena masih

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

PENYUSUN AN PROG.

PERMASALAHAN tergabung dengan mapel Seni Budaya. Sarana dan prasarana termasuk SDM kurang memadai

PEMECAHAN MASALAH pelajaran pilihan(wajib).

Guru dan sekolah dituntut lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya alam, prasarana yang ada. Pameran kelas dilaksnakan setiap semester dan pameran sekolah dilaksanakan setiap tahun dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua. Workshop untuk guru dilaksana- kan minimal 1 kali dalam 1 semester dengan mendatangkan nara sumber dari luar. Penilaian yang dilakukan sejogyanya berupa penilaian angka dan deskripsi/narasi. Sebagai contoh: dalam penilaian aspek produksi segi ketrampilan atau skill memiliki bobot lebih besar dari pada segi kreativitas.

Kegiatan apresiasi seperti pameran, workshop kurang diberikan perhatian.

Penilaian terhadap aspek proses belum dilaksanakan dengan menggunakan acuan penilaian sikap yang bersifat deskriptif. Instrumen penilaian kurang mendetail dengan bobot prosentase yang proporsional.

C. PEMBAHASAN TEMUAN KAJIAN DAN LAPANGAN Hasil temuan kajian dokumen dan lapangan pada mata pelajaran keterampilan Berdasarkan hasil kajian pelaksanaan kurikulum mata pelajaran keterampilan di Sekolah Dasar tampak SK dan KD yang sudah ada masih perlu pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan perkembangan, kebutuhan, dan minat siswa serta potensi daerah, Dalam penyusunan silabus, substansi KD secara keseluruhan harus memperhatikan keterkaitan atau keterpaduan pengalaman belajar siswa, demikian pula pada waktu merumuskan indikator. Pengembangan materi yang mengacu pada pilar-pilar CTL akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Hal ini penting artinya sebagai media apresiasi dan ekspresi diri melalui karya seni. Di SMP untuk dokumen kelas 7 SK dan KD semester 1 dan 2 aspek tehnologi rekayasa masih berorientasi pada produk kerajinan sebagai fungsi pakai dan sentuhan estetika belum ada. Untuk dokumen kelas 8, beberapa istilah pada SK dan KD semester 1 dan 2 agak sulit dipahami seperti tehnologi mekanis, tehnologi kimia dan makrame. Dokumen kelas 9, beberapa SK dan KD semester 1 dan 2 juga sulit dipahami seperti tehnik potong sambung dan konstruksi, serta modifikasi. Substansi SK dan KD kelas 9 semester 1 sama dengan SK dan KD kelas 12 semester 1.
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

26

Untuk silabus, mata pelajaran keterampilan belum diberikan di sekolah sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Mata pelajaran keterampilan di KD belum memiliki indikator yang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa. Rumusan indikator kurang dapat mengukur kompetensi yang diharapkan dapat dilakukan siswa. Untuk RPP, kesulitan dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kontekstual. Kesulitan dalam pengaturan pembelajaran tematik. Penilaian keterampilan cenderung hanya menilai hasil produk saja. Untuk KBM, mata pelajaran keterampilan kekurangan jam pelajaran, karena masih bergabung dengan mata pelajaran seni budaya. Sarana dan prasarana, termasuk SDM-nya kurang memadai. Kegiatan apresiasi seperti pameran, workshop. Kurang diberikan perhatian. Instrumen penilaian kurang mendetail dengan bobot prosentasi yang proporsional dan penilaian pada aspek proses belum dilaksanakan dengan menggunakan acuan penilaian sikap yang bersifat deskriptif. SK dan KD kelas 7, 8, dan 9 semester 1 dan 2, yang sudah ada masih perlu pengembangan lebih lanjut yang disesuaikan dengan perkembangan, kebutuhan, dan minat siswa serta potensi daerah, Dalam penyusunan silabus, substansi KD secara keseluruhan harus memperhatikan keterkaitan atau keterpaduan pengalaman belajar siswa, demikian pula pada waktu merumuskan indikator. Pengembangan materi yang mengacu pada pilar-pilar CTL akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Hal ini penting artinya sebagai media apresiasi dan ekspresi diri melalui karya seni. Apresiasi dalam bentuk pameran dan workshop serta pelatihan keterampilan harus berkala/secara periodik dilakukan . Penilaian sikap dan prilaku secara deskriptif harus menjadi acuan penilaian secara keseluruhan untuk menunjukan keberhasilan belajar keterampilan. Berdasarkan hasil temuan di lapangan pada dasarnya mapel ketrampilan di SMA dokumen SK KD lebih banyak menggali aspek ketrampilan, kreativitas dan baru sedikit pengembangan dari segi estetis. Secara umum sudah terjadi adanya jenjang dan tahapan dalam perkembangan dalam tingkatan kelas yang dimulai dari yang sederhana hingga yang rumit dalam pembelajaran ketrampilan dengan mengacu pada keragaman. Bahasa teknis yang digunakan masih terlalu luas kurang spesisfik dibahas; perlu diadakannya suplemen yang lebih rinci /detail. Dari segi silabus adanya kesulitan dalam mencari dan menerapkan mapel ketrampilan di jenjang SMA di perkotaan. Pada umumnya materi apa yang dipilih oleh sekolah sangat tergantung dari kebijakan sekolah dalam menentukan materi ketrampilan yang sesuai dengan ketersediaan SDM dan kemampuan sekolah untuk menakses dan mengembangkan ketrampilan sebagai muatan lokal. Sebaiknya pengajaran ketrampilan di tingkatan SMA lebih mengacu pada minat anak, kebutuhan dan perkembangan serta budaya dari setiap daerah/wialayah.Keseluruhan materi mengacu pada pilar-pilar CTL sehingga akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Hal ini sangat penting artinya sebagai media ekspresi diri melalui karya seni. Sebaiknya pembelajaran tematik harus dikembangkan sehingga dibutuhkan adanya koordinasi tim guru mata pelajaran lain untuk merancang RPP bersama, dalam
Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

27

hubungannya dengan penilaian mencakup proses dan hasil dan memanfaatkan port folio sebagai bahan yang juga dinilai. Dari segi KBM keterampilan perlu memanfaatkan sumber daya alam yang secara kreatif dapat dikembangkan. Dukungan dari berbagai pihak terutama orang tua,komite sekolah terlibat dalam pengembangan ketrampilan; misalnya melalui kegiatan workshop, pameran, serta mengundang nara sumber terkait. Dalam hubungannya dengan tujuan mengembangkan manusia seutuhnya, maka penilaian terhadap mapel ketrampilan sejogyanya berupa penilaian angka dan deskripsi/narasi dengan bobot skill. Ketrampilan mendapatkan bobot yang lebih besar.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

28

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN Keterampilan pada dasarnya potensi manusia yang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk memaksimalkan semua fungsi perkembangan manusia sehingga menjadikan manusia yang utuh. Pendidikan Keterampilan harus mampu memaksimalkan fungsi fisik, mengembangkan imajinasi, melatih kepekaan rasa dan inderawi, mengapresiasi/menghargai kreasi sendiri, orang lain, dan lingkungan alam sekitar, serta membiasakan diri dengan nilai-nilai positif (membangun tata nilai pada peserta didik). Filosofi pendidikan keterampilan melatih kemampuan perseptual, apresiatif dan kreatif-produtif dalam menghasilkan produk kerajinan atau produk teknologi yang berorientasi pada segi fungsional, berteknologi sederhana bertumpu pada keterampilan tangan. Keterampilan mengandung arti kecakapan melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan cepat, cekat, dan tepat dengan memperhatikan prinsip ergonomis, efisien, ekonomis, higenis. Kurikulum Pendidikan Keterampilan dapat dilakukan secara terpadu dengan mata pelajaran lain dan atau mandiri dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik yang disesuaikan dengan minat dan bakatnya Pendidikan Keterampilan di jenjang Sekolah Dasar dilaksanakan terintegrasi dengan penanaman etika, moral, dan nilai budaya.Untuk SMP dan SMTA harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup (life skill) yang mencakup kecakapan kepribadian, moral, sosial, dan vocational. Pendidikan Keterampilan dalam implementasinya pada tingkatan tertentu harus memperhatikan aspek pengembangan dan pelestarian potensi daerah (potensi budaya, alam, dan sosial). Pendidikan ketrampilan menumbuhkan sikap kooperatif, toleransi, kemandirian, professional dan kepemimpinan dalam diri peserta didik. Beberapa istilah asing dan istilah ketrampilan yang spesifik belum dijelaskan secara lebih rinci seperti konstruksi, tapestry, makram, dll oleh karenanya diperlukan penjelasan deskriptif yang lebih rinci. Guru ketrampilan pada umumnya tidak berlatarbelakang pendidikan ketrampilan, sehingga guru perlu diberi workshop praktik ketrampilan khusus agar lebih profesional dalam bidangnya. Mata pelajaran Ketrampilan di masa depan diharapkan dapat diproyeksikan sebagai Pendidikan Ketrampilan yang wajib dilaksanakan di sekolah-sekolah karena kemampuan ketrampilan dibutuhkan dalam kehidupan untuk membangun sikap mandiri, memiliki daya juang, rasa estetik, kooperatif, apresiatif, kreatifproduktif dan jiwa kewirausahaan. Penilaian terhadap hasil belajar mapel ketrampilan pada umumnya hanya sebatas penilaian produk. Seyogyanya penilaian juga mencakup segi proses sehingga memberikan gambaran potensi peserta didik secara utuh.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

29

Sosialisasi dan pelatihan pembuatan SK, KD di berbagai tingkat satuan pendidikan perlu diintensifkan oleh Tim Pengembang Kurikulum Sekolah dengan pendampingan dari Puskur/Diknas. Adanya penilaian secara menyeluruh terhadap aspek keseluruhan proses, hasil, pengembangan. Pengembangan materi mengacu pada ketersediaan potensi daerah. Ketrampilan di usia dasar lebih ditekankan pada aspek perkembangan anak. Perlu peningkatan upaya sekolah,guru dan komite untuk secara rutin menyelenggarakan pameran , promosi, presentasi hasil ketrampilan. Perlu dilakukan pelatihan, pendidikan dan pengembangan ketrampilan SDM, terutama bagi para pengampu. Sebaiknya materi ketrampilan berintegrasi dengan pelajaran lain. Pengelompokkan materi ketrampilan harus jelas, tidak rancu dengan PKK atau seni rupa (batasan yang lebih dipertegas). Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai agar ketrampilan dapat lebih mudah untuk dilaksanakan

B. REKOMENDASI Materi keterampilan dikembangkan ke dalam bentuk proses kreatif dan bermain bagi anak usia dini. Ketrampilan lebih menekankan ke arah belajar proses, bukan hasil. Namun perlu adanya apresiasi dari berbagai pihak. Materi keterampilan perlu dikaji ulang untuk lebih berbobot dan profesional. Materi keterampilan perlu dibentuk dalam pendidikan khusus ketrampilan di perguruan tinggi . Pendalaman program ketrampilan disosialisasikan secara berkesinambungan . Ketrampilan harus menjadi pendidikan pravokasional yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah/daerah Pendalaman program ketrampilan disosialisasikan secara berkesinambungan . Kompetensi apresiasi di SK dan KD sama, belum dibedakan Istilah asing yang diserap belum dijelaskan dengan lebih rinci,mis: konstruksi, tapestry, macram, dll. Pengembangan kemampuan SDM /guru ketrampilan perlu dilatihkan atau out sourching agar siap dilaksanakan di lapangan. Kompetensi yang tidak popular /tidak sesuai dengan keadaan perlu dipertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan kerja; contoh: pemilihan materi ketrampilan pemeliharaan hewan unggas ditunda dahulu karena adanya flu burung. Pelaksanaan mata pelajaran ketrampilan di Sekolah seyogyanya dijadikan mata pelajaran wajib karena ketrampilan mengandung dasar-dasar: kemandirian, daya juang, estetika, skill life. Karena di lapangan materi pendidikan ketrampilan menjadi sebuah pendidikan maka, Perguruan tinggi pemerintah (UNJ dan UPI) mengembangkan pendidikan tinggi untuk menghasilkan tenaga guru bidang studi ketrampilan/program studi ketrampilan. Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak; guru, sekolah, komite sekolah, orangtua dan masyarakat untuk mendukung keberhasilan implementasi mapel ketrampilan di berbagai satuan pendidikan.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

30

Pengenalan untuk mata pelajaran ketrampilan harus sering dilakukan dalam bentuk kegiatan pameran atau workshop serta pelatihan-pelatihan materi ajar baru. Keterampilan harus menjadi pendidikan pravokasional yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah/daerah Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak; guru, sekolah, komite sekolah, orangtua dan masyarakat serta pemerintah untuk mendukung keberhasilan implementasi mapel ketrampilan di berbagai satuan pendidikan Kemampuan apresiasi peserta didik dan guru terhadap karya ketrampilan masih tergolong kurang. Perlu dikembangkan kegiatan apresiasi melalui pameran, kunjungan ke sentra-sentra industri, bursa kerajinan. Materi ketrampilan teknologi budidaya yang berkaitan dengan pemiliharaan unggas dapat saja dipilih dan dikembangkan di sekolah-sekolah harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan , contoh: pemilihan materi ketrampilan pemeliharaan hewan unggas.

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

31

DAFTAR PUSTAKA

Makalah disampaikan oleh Hajar Pamadhi (dosen Pendidikan Seni Rupa FPBS, UNY). dalam seminar Nasional Kurikulum Masa Depan, Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, di Hotel Puncak- jl Raya Puncak Bogor 13 15 Maret 2007. Raja Roy Singh ( 1991), Education for Twenty-first Century Asia-Pacific Perspective, UNESCO Principal regionalOffice For Asia and Pacific, Bangkok.

Paul G. Stoltz (2000), Adversity Quotient (terjemahan T. Hermaya), Gramedia . Widiasarana, Jakarta. Skill Toward 2020 for Global Era, ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia, 1997: 7) (Linking & Delinking dalam Pendidikan dan Kebudayaan : mempertanyakan Konsep link dan match dalam Basis 03-04, tahun ke 45, Mei-Juni 1996, hal. 5.) Microsoft Encarta Reference Library 2004. Vocational Education : 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved. (John Dewey, Democracy and Education: an introduction to the Philosophy of Education, The Macmillan Company, New York, 1964: hal. 5) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendinas) No. 24 tahun 2006 pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 tahun 2006 tentang

Kajian kebijakan kuriukulum MP Keterampilan -2007

32