Anda di halaman 1dari 71

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Ilmu geologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai lapisan bumi serta proses dan sejarah terbentuknya,yang dibagi dalam bagian-bagian tersendiri. Paleontology merupakan salah satu bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang sisa makhluk hidup yang terawetkan pada umur jutaan tahun yang lalu,sisa-sisa makhluk hidup tersebut adalah fosil. Dalam mempelajari fosil,jenis fosil berdasarkan besar kecil dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Fosil makro yaitu:fosil yang dapat dideskriplsi dengan mata telanjjang tampa menggunakan alat bantu mikroskop,contohnya phylum molusca sedangkan. Fosil mikro yaitu fosil yang berukuran micron dalam

menganalisisnya,menggunak alat bantu mikroskop,contoihnaya pada phylum protozoa yaitu ordo foraminifera. Kegunaan dalam mempelajari fosil dalam ilmu geologi adalah untuk mengetahui umur suatu lapisan batuan serta menentukan lingkungan pengendapan. Sejarah Mikropaleontologi Sebelum zaman masehi, fosil-fosil mikro terutama ordo foraminifera sangat sedikit untuk di ketahui.medkipun demikian filosof-filosof Mesir banyak yang menuis tentang keanehan alam. Termasuk pada waktu menjumpai fosil.

Herodotus dan Strabo pada abad ke lima dan ke tujuh sebelum masehi menemukan benda-benda aneh di daerah piramida. Mereka mengatakan bahwa benda-benda tersebut adalah sisa-sisa makanan para pekerja yang telah menjadi keras, padahal benda tersebut sebetulnya adalah fosil-fosil numulites. Fosil fosil ini terdapat dalam batu gamping brumur Eosen yang di gunakan sebagai bahan bangunan piramida di Negara tersebut. Agricola pada tahun 1546mengambarkan benda-benda aneh tersebut sebagai Stone Lentils Gesner tahun 1565 menulis tentang sistematika paleontology. Van Leewenhoek (tahun 1660) menemukan miroskop, terhadap fosil mikro berkembang dengan pesat. Beccarius (tahun 1739) pertama kali menulis tentang foraminifera yang dapat dilihat dengan mikrosop. Carl Von Lineous adalah orang swedia yang memperkenalkan tata nama baru (1758) dalam bukunya yang berjudul (System Naturae) tata nama baru ini penting, karena cara penamaan ini lebih sederhana dan sampai sekarang ini digunakan untuk penamaan binatang maupun tumbuhan pada umumnya. Dorbigny (1802-1857) menulis tentang foraminifera yang

digolongkan dalam kelas Chepalopoda. Beliau juga menulis tentang fosil mikro seperti Ostracoda, Conodonta, beliau dikenal sebagai Bapak Mikropaleontologi. Ehrenberg dalam penyelidikan organisme mikro menemukan berbagai jenis Ostracoda, Foraminifera dan Flagellata, penyelidikan tentang sejarah perkembangan foraminifera dilakukan oleh Carpenter (1862) dan Lister (1894). Selain itu mereka juga menemukan bentuk-bentuk mikrosfir dan megalosfir dari cangkang-cangkang foraminifera.

Chushman (1927) pertama kali menulis tentang fosil-fosil foraminifera dan menitikberatkan penelitianya pada study determinasi foraminifera, serta menyusun kunci untuk mengenal fosil-fosil foraminifera. Jones (1956) banyak membahas fosil mikro diantaranya Foraminifera, Gastropoda, Conodonta, Ostracoda, Spora dan Pollen serta kegunaan fosilfosil tersebut, juga membahas mengenai ekologinya. I.2. Maksud Dan Tujuan Maksud dari praktikum mikropaleontologi adalah untuk mengenal berbagai macam fosil mikro tertutama dari golongan foraminifera yang umumnya banyak di jumpai. Tujuannya mendeskripsi fosil-fosil,foraminifera agar praktikan dapat menentukkan umur relative suatu batuan,membantu dalam studi lingkungan pengendapan dan korelasi stratigrafi dengan daerah lain. I.3. Alat Dan Bahan Dalam praktikum mikropaleontologi alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut: Peralatan yang digunakan dalam pengambilan sampel, antara lain : a. Palu geologi b. Kompas geologi c. Plastik/tempat sampel d. Buku catatan lapangan e. Alat tulis f. HCl 0,1 N g. Peta lokasi pengambilan sampel

Sedangkan peralatan lain guna menyajikan fosil, antara lain : a. Wadah sampel b. Larutan H2O2 c. Mesin pengayak d. Ayakan menurut skala Mesh e. Tempat sampel yang telah dibersihkan f. Alat pengering / oven Dan untuk memisahkan fosil, peralatan yang diperlukan antara lain : a. Cawan tempat contoh batuan b. Jarum c. Lem unuk merekatkan fosil d. Tempat fosil e. Mikroskop & alat penerang

BAB II MIKROPALEOANTOLOGI
A. Pengertian Mikropaleontolgi merupakan ilmu yang mempelajari sisa organism yang terawetkan di alam dengan mengunakan alat mikroskop ukuran fosil tersebut berukuran micron. Yang artinya sangat kecil Mikrolitologi membahas batuan sedimen mengunakan mikroskop dinokular yang di bahas : warna, tekstur, pemilahan, struktur, ukuran kristal, mineral, semen dll. pada umumnya fosil mikro yang berukuran lebih kecil dari 0,5 mm,untuk mempelajainya kadang-kadang mengunakan sayatan tipis dari fosil tersebut. Fosil berasal dari bahasa latin, yaitu Fossilis, yang berarti menggali dan/ sesuatu yang diambil dari dalam tanah/batuan. Pembahasan mikropaleontologi ini sesungguhnya sangat heterogen, berasal baik dari hewan maupun tumbuhan ataupun bagian dari hewan atau tumbuahan. Pada ilmu Mikropaleontologi ini dikenal adanya Analisis Biostratigrafi. Dimana biostratigrafi tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dalam penentuan umur relatif dan lingkungan pengendapan dari suatu Batuan berdasarkan kandungan fosil yang terkandung dalam Batuan tersebut. B. Aplikasi Mikropaleontologi di Bidang Geologi Untuk Menentukan Umur Relatif Lingkungan Berbagai macam fosil digunakan untuk menentukan umur geologi batuan yang

mengandungnya. Dikenal dua macam umur dalam geologi, yaitu umur absolute(dapat diketahui kuantita tahunnya), dan umur relative (yang ditentukan durasi, dengan memakai terminology umur geologi).

Penentuan

umur

absolute

dikenal

pula

dengan

istilah dating, dilakukan dengan menurut masa paruh (half life time) dari unsur radioaktif, diantaranya dengan metode uranium/lead ratio, kalium/argon ratio, rubidium/strontium ratio, untuk batuan yang lebih tua, sedang untuk batuan yang masih relative muda dan mengandung unsure karbon dipergunakan unsur karbon isotope. Beberapa jenis fosil flora yang dimanfaatkan untuk menentukan umur antara lain : 1. Clathrodiction cf. spatiosum dan Heliolites porosus 2. Glossopteris-flora, merupakan fosil indeks untuk umur karbon 3. Vertebraria, Pecopteris dan Taeniopteris Beberapa jenis fosil mikro yang dikenal seb gai fosil indeks 1. antara lain Hallylites wallichii , fosil ini menunjukkan umur Silur atas. 2. Cretaceous atas dicirikan dengan munculnya Globegerinaeocaena 3. Munculnya Lenticulina velascoensis. Globorotallia aragonensisdan Bolivinoides sp. Konsep Dasar Penyusunan Biostratigrafi Dengan Fosil Mikro Penyusunan biostratigrafi dengan memanfaatkan fosil mikro, contoh batuan yang diproses dapat diperoleh dengan cara : 1. Mengambil contoh (sampel) batuan dilapangan dari singkapan batuan terpilih, 2. Memanfaatkan contoh batuan dalam bentuk core pemboran 3. Memanfaatkan contoh batuan dari cutting (serpihan) pemboran

C. Fosil Mikro Definisi Mikro fosil menurut Jones, 1936: Mikro fosil adalah setiap fosil yang biasanya kecil dan untuk mempelajarinya digunakan alat bantu Mikroskop. Fosil mikro dalam batuan tersebut terdapat bersama dengan bahan lain telah direkatkan oleh semen. Dalam mikropaleontologi yang dipelajari adalah Phylum protozoa, class Sarcodina, Ordo Foraminifera. Foraminifera Foraminifera di bagi menjadi dua yaitu foram besar dan foram kecil. Foram besar disebut juga fosil mikro karena untuk menanalisis atau mengamati fosil foram besar langka awalnya adala harus di sayat dulu, kemudian dianalisis pakai alat bantu yang di sebut mikroskop. Foraminifera dari kata foramen yang berarti lubang kecil. Sangat jelas bila mengamati rumahnya / test / shell / cangkang penuh lubang yang kecil dan halus. Golongan ini merupakan binatang ber sel satu yang sederhana, didapatkan protoplasma dan didapatkan satu atau lebih inti (nucleous/oli)

Gambar: 1 foraminifera

Perkembangbiakan Foraminifera Pada golongan ini didapatkan dua cara perkembangbiakan yaitu secara sexual dan asexsual, keduanya merupakan satu siklus perkembangan A-sexual Megalosfeer Protoconch besar, test kecil Sexual Mikrosfeer Protoconch kecil, test besar

Dimorfisme : satu macam individu membentuk dua macam bentuk berlainan

Gambar: 2 foraminifera

Gambar: 3 foraminifera

Gambar : 4 Siklus perkembangbiak Foraminifera

Klasifikasi Foraminifera Foraminifera dibedakan atas foram kecil dan foram besar. Foram kecil berdasarkan cara hidupnya dapat dibedakan menjadi foram benthonik. 1. Fosil Planktonik (mengambang), Cirri-cirinya : Susunan kamar trochospiral, Bentuk test bulat, Komposisi test Hyaline. Ekologi Foraminifera Planktonik Foraminifera plankton lebih tahan terhadap pengaruh lingkungan jika dibandingkan dengan foraminifera benthos. Foraminifera plankton penting digunakan untuk memecahkan problem-problem geologi, antara lain : fosil penunjuk, Korelasi, Menentukan lingkungan pengendapan. Foraminifera plankton tidak selalu hidup di permukaan air laut, tetapi pada kedalaman tertentu : Hidup antara 30 50 meter Hidup antara 50 100 meter Hidup pada kedalaman 300 meter Hidup pada kedalaman 1000 meter. planktonik dan

2. Fosil Benthonik (di dasar laut), Ciri-cirinya : Susunan kamar planispiral, Bentuk test pipih, Komposisi test adalah aglutine dan aranaceous Ekologi Foraminifera Benthos Foram kecil benthos sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan foraminifera besar dipakai untuk penentuan umur foram kecil benthos sudah sejak lama dipakai dan sangat berharga untuk mengetahui lingkungan pengendapan purba. Lingkungan laut di bagi menjadi : Zona neritik : kedalaman 0-200m Zona bathyal : kedalaman 200-300m Zona abysal : kedalaman lebih 3000m

Gambar: 5 Ekologi Foraminifera Benthos

Gamabar: 6 foraminifera benthos

10

Fosil foraminifera planktonik sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan fosil foram benthonik besar dipakai untuk penentuan umur. Fosil Planktonik ini sangat berharga untuk penentuan lingkungan purba. Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum adalah : Pada kedalaman 0 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran. Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina. Pada kedalaman 90 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia. Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina

Gambar: 7 Skema Kehidupan & Kelimpahan Foraminifera di Laut

11

Pada batuan sedimen golongan foraminifera lebih banyak di jumpai,sehingga lebih berharga dari ordo-ordo yang lain dari pada kelas sarcodina.golongan ini telah muncul pada zaman pra-kambrium sampai sekarang.selain dari itu foraminifera dapat di pakai unutk korelasi batuan,serta unutk penentuan lingkungan ataun sebagai fosil penunjuk. Foraminifera merupakan binatang yang terdiri dari satu sel yang sangat sederhana,sel tersebut terdiri dari protoplasma dan inti. Ciri khas foraminifera adalah adanya pseudupodia yang berfungsi sebagai alat pengerak dan menangkap mangsanya. Foraminifera sudah memiliki cangkang, dimana cangkang tersebut di bentuk oleh protoplasma ataupun di ambil dari bahan-bahan di sekelilingnya. Pada umumnya cangkang tersebut dari zat organik ataupun anorganik. Pada umumnya memiliki pori-pori dan satu atau lebih lubang yang di sebut aperture. Tempat hidup foraminiera dapat di laut,danau,atau rawa-rawa baik yang berair tawra atau asing,perkembangbiakan secara aseksual maupun seksual.perkembangan foraminiera dapt menhasilkan cangkang yang berbeda-beda,di manasatu individu dapat menhasilkan dua cangkang yang berbeda bentuknya (diamorphisma) bahkan ada juga timorphisma. Morfologi Foraminifera Bentuk luar foraminifera,jika di amati di bawah mikroskop dapat menunjukan beberapa kenampakan yang bermacam-macam dari cangkan foraminifera,meliputi : Dinding, lapisan terluar dari cangkan foraminifera yang berfungsi melindungi bagian tubuhnya.dapat terbuat dari zat-zat organik yang di hasilkan sendiri atau dari material asing yang di ambil dari sekelilingnya. Kamar, bagian dalam foraminifera di mana protoplasma berada Septa, sekat-sekat yang memisahkan antara kamar. Suture, suatu bidang yang memisahkan antara dua kamar yang berdekatan. Aperture, lubang utama dalam cangkan foraminifera yang berfungsi sebagai mulut atau juga jalan keluarnya protoplasma.

12

Gambar: 8 morfologi foraminifera

Ciri-ciri Morfologi Komposisi dinding test (bahan pembentuk test) Bentuk test, bentuk kamar. Susunan kamar dan jumlah kamar. Bentuk dan letak mulut, aperture utama dan aperture tambahan, jumlah aperture. Bentuk dan letak ormentasi / hiasan. Radiolarian Radiolarian merupakan sala satu kelompok yang sangat menarik untuk dipelajari dari phylum protozoa.kehidupan radiolariaberada pada daerah pelagic atau laut dalam dan hidup dalam endoskeleton yang komplek. Tubuh radiolarian terbentuk dari silica dengan bentuk yang sering dijumpai berupa bentuk simetri membulat dan sangat indah. Pengambaran dari radiolarian yang terkenal telah dibuat oleh Ernest Haeckel (berkebangsaan jerman)dan di publikasikan dalam buku die radiolarian (Berlin,1962) serta koleksi-koleksi dari fosil ini oleh Ernest Haeckel dibuat dalam Report On The Radiolaria pada tahun 1973-1876.

13

Gambar: 9 Radiolaria

Radiolarian juga merupakan sala satu dari jenis planktonik dan pertama kali muncul sejak jaman pra-kambrian serta merupakan sala satu jenis organisme yang pertama kali muncul. Radiolaria termasuk dari organism jenis uniceluler dan memiliki cangkang dengan komposisi dari silica.Radiolaria hidup pada linkungan marine atau laut dan hidu dengan baik secara individual maupun secara koloni. Secara fofmal radiolarian termasuk dari phylum protozoa subphylum sarcodina klas actinopoda subklas radiolarian.radiolaria terdiri dari dua ordo besar phaedaria dan polichistina. Phaedaria merupakan jenis radiolarian yang memiliki cangkang dari silica yang bercampur dengan material organic artinya tidak murni berkomposisi

silica,sedangkan polycystina merupakan jenis radiolarian yang memiliki cangkang dari silica murni (umumnya opal) Jenis polysyctina ini yang sangat banyak terekam dalam batuan kerana komposisi cangkangnya yang berupa silica murni.polycystina terbagi dua sub orde yaitu spumellaria dan naselaria.

14

Determinasi Radiolaria Seperti cara penyajian fosil mikro pada umumnya,radiolarian juga mengunakan cara-cara yang sama,hanya saja dalam proses penguraian batuannya mengunakan asam hidroflourik (10%).cara penyajian hingga determinasi dan penamaan juga sama seperti fosil mikro lainnya.contoh foraminifera. Berikut merupakan contoh-contoh fosil radiolaria yang umum dijumpai : Bentuk Test Dan Kamar Foraminifera Bentuk cangkang merupakan bentuk cangkang fosil secara keseluruhan, artinya tidak sama dengan bentuk kamar dalam fosil tersebut. Foraminifera mempunyai cangkang yang bermacam-macam bentuknya, biasanya terdiri dari satu atau lebih kamar dimana antara kamar satu dan lainnya dibatasi oleh septa. Cangkang tersebut dibatasi oleh sebuah dinding, tempat pertemuan dinding dengan septa ini disebut suture yang penting untuk klasifikasi.
C D A

B
Gambar 1. Bentuk Test Dan Kamar Foraminifera

15

C
D C

A
B

Gambar: 12 Bentuk Test Dan Kamar Foraminifera

Keterangan : A : Proloculus, B : Kamar , C : Aperture, D : Suture, E : Umbilicus Secara garis besar bentuk-bentuk cangkang, meliputi : 1. Tabular (tabung). 2. Radial (bola) 3. Ellips 4. Lagenoid 5. Sagitate (anak panah) 6. Fusiform (kumparan) 7. Palmate (tapak/ jejak) 8. Lencticular (lensa) 9. Rhomboid (ketupat) 10. Globular (seperti peluru) 11. Subglobular 12. Kerucut 13. Biconvex 14. Tabulospinate (berduri). 15. Involute planispiral 16. Streptospiral 17. Enrolled Biserial 18. Globular (bulat) 19. Clavate (ganda) 20. Cuneate (tanduk) 21. Flating (mekar) 22. Fistulate (jantung) 23. Sirkular 24. Kipas 25. Biconvex trochospiral 26. Spiroconvex trochospiral 27. Umbilicus biconvex trochospiral 28. Envolute planispiral.

16

Gambar: 13 bentuk bentuk test foaraminifera

Septa Dan Sutu Septa Septa adalah sekat-sekat yang memisahkan antar kamar. Suture adalah suatu hiasan yang memisahkan dua kamar yang saling berdekatan. Bentuk Suture : melengkung kuat, Melengkung lemah dan Lurus. Jumlah Kamar Dan Jumlah Putaran Foraminifera mempunyai cangkan yang bermacam-macam bentuknya biasanya terdiri dari satu atau lebih kamar-kamar yang satu sama lainnya di batasi oleh sebab-sebab cangkang tersebut di kelilingi sebuah dinding dengan sebta di sebut suture yang penting untuk klsifikasi.

17

Cangkang di bedakan atsa dua macam yaitu cangkang monotalamus dan cangkang politalamus. Berdasarkan jumlah kamar yang didapatkan, yang mempunyai kamar satu buah disebut : Unilocular / Monothalamus, biasanya mempunyai bentuk test/cangkan yang sederhana. Sedangkan yang mempunyai kamar lebih dari satu disebut : Multilocular / Polythalamus, golongan ini memunyai bentuk dan susunan kamar yang komplek. est Monothalamus Mempunyai bentuk Globular / bulat, Botol (flash shape), Tabung (tabular), Planspiral (terputar dalam satu bidang), Planspiral pada permulaan kemudian terputar tak teratur, Planspiral kemudian lurus.

Gambar:14 Bentuk cangkang monothalamus

Gambar: 15 Test uniformed linier

18

Bentuk cangkang monothalamus ( Schrock & Twenhofel, 1953 dan Jones, 1956). Test Polythalamus Uniformed : dalam satu bentuk test didapatkan hanya satu macam susunan kamar Biformed : dalam satu bentuk test didapatkan dua macam susunan kamar Triformed : dalam satu bentuk test didapatkan tiga macam susunan kamar Multiformed : dalam satu bentuk test didapatkan lebih dari tiga macam susunan kamar Test Uniformed Uniserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri satu baris .Linier : curvilinier, rectilinier, rectilinier with neck

Gambar: 16 Test uniformed linier

Gambar: 17 Test equitant

19

Test Terputar (coiled test) a. Plaspiral coiled test : kamar tersusun secara terputar dalam satu bidang

Gambar: 18 Planspiral coiled test

b. Rotaloid : susunan kamar dengan kenampakan berbeda pada bagian dorsal nampak evolut, sedangkan pada bagian ventral nampak involut, disebut juga sebagai Trochospiral

Gambar: 19 Rotaloid

20

c. Nautiloid : kamar tersusun secara terutar dimana kamar-kamarnya saling menyelubungi teutama pada bagian umbilicus

Gambar: 20 Nautiloid

Biserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri atas dua baris kamar

Gambar: 21 Biserial

Triserial : dalam satu macam susunan kamar terdiri atas tiga baris kamar

Gambar: 22 Triserial

21

BAB III LAPANGAN


III.1. Pengambilan Contoh Batuan. A. Dasar Teori Karena fosil mikro mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga pengamatan di lapangan sulit dilakukan, sehingga pengamatan di lapangan lebih di fokuskan kepada deskripsi batuan di lapangan yang meliputi : warna batuan, tekstur batuan, struktur batuan serta komposisinya secara megaskopis. Selanjutnya adalah pencatatan secara lengkap lokasi tempat & sampel batuannya, meliputi : hari, tanggal, nomer sampel, nama batuan dll. B. Geologi Ragional Daerah Penelitian Menurut penelitian Van Bemmelen (1948), secara fisiografis Jawa Tengah dibagi menjadi 3 zona, yaitu:
1. Zona Jawa Tengah bagian utara yang merupakan Zona Lipatan 2. Zona Jawa Tengah bagian tengah yang merupakan Zona Depresi 3. Zona Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan Zona Plato

Berdasarkan letaknya, Kulon Progo merupakan bagian dari zona Jawa Tengah bagian selatan maka daerah Kulon Progo merupakan salah satu plato yang sangat luas yang terkenal dengan nama Plato Jonggrangan (Van Bemellen, 1948). Daerah ini merupakan daerah upliftyang memebentuk dome yang luas. Dome tersebut relatif berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 32 km yang melintang dari arah utara - selatan, sedangkan lebarnya sekitar 20 km pada arah barat - timur. Oleh Van Bemellen Dome tersebut diberi nama Oblong Dome.

22

Berdasarkan relief dan genesanya, wilayah kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi antara lain, yaitu
a) Satuan Pegunungan Kulon Progo

Satuan pegunungan Kulon Progo mempunyai ketinggian berkisar antara 100 1200 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng sebesar 150 160. Satuan Pegunungan Kulon Progo penyebarannya memanjang dari utara ke selatan dan menempati bagian barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh. Daerah pegunungan Kulon Progo ini sebagian besar

digunakan sebagai kebun campuran, permukiman, sawah dan tegalan.


b) Satuan Perbukitan Sentolo

Satuan perbukitan Sentolo ini mempunyai penyebaran yang sempit dan terpotong oleh kali Progo yang memisahkan wilayah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul. Ketinggiannya berkisar antara 50 150 meter diatas permukaan air laut dengan besar kelerengan rata rata 15 0. Di wilayah ini, satuan perbukitan Sentolo meliputi daerah Kecamatan Pengasih dan Sentolo.
c) Satuan Teras Progo

Satuan teras Progo terletak disebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan disebelah timur satuan Pegunungan Kulon Progo, meliputi kecamatan Nanggulan dan Kali Bawang, terutama di wilayah tepi KulonProgo
d) Satuan Dataran Alluvial

Satuan dataran alluvial penyebarannya memanjang dari barat ke timur, daerahnya meliputi kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur dan sebagian Lendah. Daerahnya relatif landai sehingga sebagian besar diperuntukkan untuk pemukiman dan lahan persawahan.
23

Kabupaten Kulon Progo merupakan wilayah bagian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak paling barat dengan batas sebelah barat dan utara adalah Propinsi Jawa Tengah dan sebelah selatan adalah Samudera Indonesia . Secara geografis terletak antara 7 o 38'42" - 7 o 59'3" Lintang Selatan dan 110 o 1'37" - 110 o 16'26" Bujur Timur. Kulonprogo dan sekitarnya telah banyak diteliti para ahli geologi dengan mengemukan susunan stratigrafi. Beberapa ahli tersebut antara lain : Bemmelen (1949), dengan urutan stratigrafinya dari tua ke muda : Eosen of Nanggulan, Old Andesite Formation yang berfasies volkanik, tidak selaras diatasnya diendapkan Djonggrangan Beds pada Miosen Awal dan Sentolo Beds pada Miosen Akhir. Marks (1957), mengusulkan perubahan Beds menjadi Formasi pada Djonggrangan Beds dan Sentolo Beds menjadi Formasi Djonggrangan dan Formasi Sentolo, dimana kedua formasi tersebut tidak selaras terhadap Formasi Andesit Tua. Sujanto dan Roskamil (1975), dengan urutan Formasi Nanggulan berumur Eosen, tidak selaras diatasnya Formasi Andesit Tua berumur Oligosen Akhir, menerus diendapkan Formasi Sentolo pada Miosen Pliosen dan Formasi Sambipitu pada Miosen Awal, tidak selaras Formasi Jonggrangan pada Miosen Awal Miosen Akhir. Diatas Formasi Sentolo tidak selaras diendapkan Formasi Wonosari pada Pliosen dan termuda berupa Endapan Volkanik Muda. Pringgoprawiro dan Purnamaningsih (1981), menambahkan Anggota Seputih pada Formasi Nanggulan yang disusun napal berumur Eosen Akhir Oligosen Akhir, Formasi Andesit Tua tidak selaras diatasnya. Diatas Formasi Andesit Tua tidak selaras diendapkan Formasi Sentolo yang bersilang-jari dengan Formasi Jonggrangan.

24

Kadar (1986), mengsulkan pada Formasi Sentolo dibagi menjadi tiga anggota, yaitu Anggota Kanyar-anyar, Anggota Genung, dan Anggota Tanjunggunung yang selaras diatas Formasi Andesit Tua. Pringgoprawiro dan Riyanto (1987), melakukan revisi Formasi Andeit Tua menjadi dua formasi baru, yaitu Formasi Kaligesing berfasies darat dan Formasi Dukuh berfasies laut dalam, umur Oligosen Akhir Miosen Awal. Formasi Kaligesing disusun oleh perselingan breksi volkanik, lava, batupasir tufaan, dan endapan lahar, sedang Formasi Dukuh disusun oleh perselingan breksi volkanik, lava, batupasir tufaan, batulempung dan sisipan karbonat, dimana hubungan keduanya saling menjari atau kontak sesar. Stratigrafi Pegunungan Kulon Progo [Pringgoprawiro dan Riyanto (1987)] dari tua ke muda : 1. Formasi Nanggulan Formasi Nanggulan bagian bawah tersusun atas batupasir kuarsa dengan sisipan lignit, mengandung fosil Axinea dengan lingkungan pengendapannya litoral, bagian tengah disusun oleh napal pasiran selangseling dengan batupasir dan batulempung, dijumpai fosil Nummulites djojakartae dengan lingkungan pengendapan litoralsublitoral pinggir, bagian atas disusun napal dan batugamping berselingan dengan batupasir, fosil Discocylina omphalus lingkungan pengendapan sublitoral pinggir. Umurnya Eosen Tengah-Eosen Akhir, tebal 400 meter. Bagian atasnya merupakan Anggota Seputih litologi napal pelagis, mengandung fosil foram ; Gt.opima, Gt.cerroazualensis, dan Gt.mexicana berumur Eosen AkhirOligosen Akhir, lingkungan pengendapan sublitoral- laut terbuka, tebal 100 m.

25

2. Formasi Kaligesing Formasi ini dicirikan oleh adanya batuan volkanik klastik tebal, yang teridiri dari breksi volkanik (laharik), dengan sisipan lava andesit dan batupasir tuffan. Lokasi Desa Ulusobo, Kaligesing, 10 km timur Kota Purworejo. Bagian bawah dicirikan perselingan breksi andesit dan lava andesit, tebal 275 m, bagian tengah berupa breksi andesit sisipan batupasir tuffan, tebal 220 m, bagian atas tersusun breksi andesit pirosen sisipan batupasir kerikilan, tebal 2,5 18 dan 0,5 2,5 m, sedang tebal keseluruhan mencapai 830 meter. Umur formasi ini ditentukan atas hubungan stratigrafi dengan dua satuan batuan yang mengapitnya, karena tidak mengandung fosil penunjuk umur, diperkirakan berumur Oligosen AkhirMiosen Awal, diendapkan lingkungan darat, berupa endapan lahar yang terpilah buruk dalam matrik relatif halus dan kadang nampak perlapisan berangsur dan perlapisan sejajar. 3. Formasi Dukuh Formasi Dukuh disusun oleh selang-seling batugamping

bioklastik, batupasir sedang sampai kerikilan, batulempung, breksi dan konglomerat, mengandung banyak koral, bryozoa, pelecypoda,

gastropoda, dan foraminifera. Lokasi di Desa Dukuh, Samigaluh, Kulon Progo, 17 km ke Utara dari Sentolo, ketebalan pada stratotipenya mencapai 535 meter. Umur dari formasi ini Oligosen Akhir bagian atas (N3) dengan hadirnya fosil Ga.selli, Ga.senilis, Ga.nana, Ga.tripartita, dan Miosen Awal Bagian Bawah (N4 N5) dan dijumpainya fosil Ga.binaensis, Grt.dissimillis, Gs.primordius, Gt.kugleri. Lingkungan pengendapannya adalah kipas bawah laut dalam, dijumpainya fosil laut, glaukonit, struktur sedimen graded bedding, stratifikasi sejajar, diselingi batuan pelitik yang memperihatkan laminasi sejajar.

26

Formasi ini selaras diatas Anggota Seputih Formasi Nanggulan, bersilang jari atau kontak sesar dengan Formasi Kaligesing, dan selaras diatasnya Formasi Jonggrangan dan Formasi Sentolo. 4. Formasi Jonggrangan Lokasi berada di desa Jonggrangan, dicirikan batugamping terumbu hadirnya koral, moluska, foram besar, batugamping klastik dan sisipan napal tipis mengandung foram plankton dan bentos, ketebalan 150 meter, berumur Miosen AwalMiosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan litoral. Formasi tidak selaras Formasi Kaligesing, selaras Formasi Dukuh, dan bersilang jari Formasi Sentolo. 5. Formasi Sentolo Formasi ini bagian bawah berupa napal pelagis dan sisipan batugamping, bagian atas dominan batulempung banyak mengandung foram plankton, bentos, dan foram besar, berumur Miosen Awal Pliosen dan merupakan endapan laut dangkal hingga laut terbuka dalam. Lokasi formasi ini di daerah Sentolo dengan ketebalan 1100 meter. Formasi ini mempunyai hubungan tidak selaras dengan Formasi Kaligesing, selaras dengan Formasi Dukuh, dan bersilang jari dengan Formasi Jonggrangan. 6. Endapan Volkanik Kuarter Satuan ini tersusun atas tufa, abu, breksi, aglomerat dan lelehan lava tak terpisahkan yang berumur Pleistosen Holosen dan merupakan endapan darat, Raharjo (1974) menamakan Formasi Yogyakarta yang disusun oleh endapan volkanik Merapi, terletak tidak selaras diatas semua formasi yang lebih tua, dan penyebaran sisi timur Kubah Kulon Progo mempunyai ketebalan lebih 20 meter.

27

Darwin kadar (1975) menyebutkan bahwa formasi sentolo bagian bawah tersusun oleh batu pasir konglomerat, batu gamping, dan semakin ke atas berkembang napal yang berseling dengan batu gamping,bagian atas di jumpai batu gamping berlapis yang berseling dengan lapisan tipis napal.berdsarkan kisaran umur dari fosil Endapan Aluvial terdiri dari kerakal,pasir dan rombakan gunung api yang menumpang tidak selaras di atas formasi jonggrangan dan formasi sentolo,endapan aluvial mempunyai kisaran umur holosen foraminifera sentolo berkisar antara miosen sampai pliosen. Endapan Aluvial terdiri dari kerakal,pasir dan rombakan gunung api yang menumpang tidak selaras di atas formasi jonggrangan dan formasi sentolo,endapan aluvial mempunyai kisaran umur holosen.
Tabel 1. Geologi Daerah Penelitian

AGE Holosen Pleistosen Upper miocene Midlle miocene Lower Miocene Ologocene Eocene

STRATIGRAFI Aluvial Old merapi volcanic

Sentolo beds Jonggrangan beds Old andesit formation Upper eocence of nangulan

28

C. Waktu,lokasi dan kesampaian daerah Lokasi Daerah Pengamatan, yaitu di Daerah Kulung Progo meliputi daerah G.Perem, Sentolo, Termasuk Kab. Kulung Progo, kota Yogyakarta, kira-kira sebelah utara kota Yogyakarta. Kesampaian daerah kira-kira 35 Km, dari laboratorium Institut Sains & Teknologi Akprind, sampai lokasi pengamatan Waktu pelaksaan Fild Trip pada hari minggu, 13 oktober 2013 dari jam 08:3015:30 WIB. III.2. Lampiran 1. Deskripsi Lapangan (Terlampir) 2. Kolom Stratigrafi Terukur (Terlampir)

29

BAB IV ANALISIS
IV.1. Penyajian atau Preparasi Fosil A. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam pengambilan sampel, antara lain : 1. Kompas geologi 2. Palu geologi 3. Plastik/tempat sampel 4. Buku catatan lapangan 5. Alat tulis 6. HCl 0,1 N 7. Peta lokasi pengambilan sampel Sedangkan peralatan lain guna menyajikan fosil, antara lain : 1. Wadah sampel 2. Larutan H2O2 3. Mesin pengayak 4. Ayakan menurut skala Mesh 5. Tempat sampel yang telah dibersihkan 6. Alat pengering / oven Dan untuk memisahkan fosil, peralatan yang diperlukan antara lain : 1. Cawan tempat contoh batuan 2. Jarum 3. Lem unuk merekatkan fosil 4. Tempat fosil 5. Mikroskop & alat penerang

30

B. Langkah Kerja
Teknik Penyajian Fosil : Teknik Pengamatan dan Pengamatan Lapangan. Fosil Mikro Karena fosil mikro mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga pengamatan di lapangan sulit dilakukan, sehingga pengamatan di lapangan lebih di fokuskan kepada deskripsi batuan di lapangan yang meliputi : warna batuan, tekstur batuan, struktur batuan serta komposisinya secara megaskopis. Selanjutnya adalah pencatatan secara lengkap lokasi tempat & sampel batuannya, meliputi : hari, tanggal, nomer sampel, nama batuan dll. 1. Pengamatan Laboratorium Pengamatan di laboratorium dilakukan untuk analisa fosil secara detail yang tidak dapat dilakukan di lapangan. Pengamatan di laboratorium ini terutama adalah dari fosil-fosil mikro dengan menggunakan bantuan alat mikroskop. Adapaun tahap-tahap pengamatan di laboratorium akan dijelaskan selanjutnya

Gambar: 50 Skema Analisis Fosil Mikro

31

2. Teknik Dokumentasi Berikut merupakan tahap-tahap dalam pengambilan sampel batuan yang mengandung fosil mikro, yaitu : a) Sampling Sampling adalah pengambilan sampel batuan di lapangan untuk dianalisis kandungan mikrofaunanya. Fosil mikro yang terdapat dalam batuan mempunyai bahan pembentuk cangkang dan morfologi yang berbeda, namun hampir seluruh mikrofosil mempunyai satu sifat fisik yang sama, yaitu ukurannya yang sangat kecil dan kadang sangat mudah hancur, sehingga perlu perlakuan khusus dalam

pengambilannya. Sangat diperlukan ketelitian serta perhatian dalam pengambilan sampel, memisahkan dari material lain, lalu

menyimpannya di tempat yang aman dan terlindung dari kerusakan secara kimiawi dan fisika. Beberapa prosedur sampling pada berbagai sekuen sedimentasi dapat dilakukan, seperti : 1. Spot Sampling, dengan interval tertentu merupakan metode terbaik untuk penampang yang tebal dengan jenis litologi yang seragam, seperti pada lapisan batugamping. Pada metode ini dapat ditambahkan channel sample (sampel paritan) sepanjang kurang lebih 30 cm pada setiap interval 1,5 meter. 2. Channel sample, dapat dilakukan pada penampangg lintasan yang pendek 3 5 m, pada litologi yang seragam atau pada perselingan batuan dan dilakukan setiap perubahan unit litologi.

32

b) Kualitas Sampel Pengambilan sampel batuan untuk analisis mikropaleontologi harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Bersih, sebelum mengambil sampel harus dibersihkan dari semua kepingan pengotor 2. Representatif dan Komplit, harus dipisahkan dengan jelas antara sampel batuan yang mewakili suatu sisipan atau suatu lapisan batuan. Ambil sekitar 300-500 gram (hand specimen) sampel batuan yang sudah dibersihkan. 3. Pasti, apabila sampel terkemas dengan baik dalam suatu kemasan kedap air yang ditandai dengan tulisan tahan air, yang mencakup segala hal keterangan tentang sampel tersebut seperti nomer sampel, lokasi, jenis batuan dan waktu pengambilan, maka hasil analisis sampel pasti akan bermanfaat. Ketidakhati-hatian kita dalam memperlakukan sampel batuan akan berakibat fatal dalam paleontologi maupun stratigrafi apabila tercampur baur, terkontaminasi ataupun hilang. c) Jenis Sample Jenis sampel disini ada 2 macam, yaitu : 1. Sampel permukaan, sampel yang diambil langsung dari

pengamatan singkapan di lapangan. Lokasi & posisi stratigrafinya dapat diplot pada peta. 2. Sampel bawah permukaan, sampel yang diambil dari suatu pemboran.

33

Dari cara pengambilannya, sampel bawah permukaan dapat dipisahkan menjadi : a) Inti bore (core), seluruh bagian lapisan pada kedalaman tertentu diambil secara utuh. b) Sampel hancuran (ditch-cutting), lapisan pada kedalaman tertentu dihancurkan dan dipompa keluar, kemudian ditampung. c) Sampel sisi bor (side-well core), diambil dari sisi-sisi dinding bor dari lapisan pada kedalaman tertentu. 3. Teknik Penyajian Fosil Fosil mikro dalam batuan sering terdapat bersamaan dengan batuan lain yang telah direkatkan oleh semen,oleh karena itu harus dipisahkan terlebih dahulu dari batuan penyusunnya sebelum melakukan penelitian. Karena dalam penelitian diperlukan fosil yang benar-benar bersih dari pengotor dan lepas dari iktan semennya,maka batuan sedien yang belum begiu kompak perlu diurai menjadi butir-butir yang

lepas,sedangkan untuk batuan yang telah kompak dimana penguraian butirnya tidak memungkinkan,perlu dilakukan secara khusus,misalnya dengan sayatan tipis,kemudian diteliti dengan mikroskop. 4. Teknik penguraian batuan Proses penguraian batuan sedimen dapat dikerjakan dengan dua cara, yaitu proses penguraian secara fisik dan penguraian secara kimia. a) Proses penguraian secara fisik Cara ini digunakan terutama untuk batuan sedimen yang belum begitu kompak dan dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu : 1. Batuan sedimen ditumbuk dengan palu karet sampai menjadi pecahan-pecahan dengan diameter 3-6 mm

34

2. Pecahan-pecahan batuan direndam dalam air 3. Kemudian direas-remas dalam air 4. Diaduk dengan mesin aduk atau alat pengaduk yang bersih 5. Dipanaskan selama 5-10 menit 6. Didinginkan Umumnya batuan sedimen yang belum begitu kompak, apabila mengalami proses-proses tersebut akan terurai. b) Proses penguraian secara kimia Bahan-bahan larutan kimia yang biasa digunakan dalam penguraian batuan sedimen antara lain : asam asetat, asam nitrat dan hydrogen piroksida. Penggunaan larutan kimia sangat tergantung dari macam butir pembentuk batuan dan jenis semen. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan penguraian batuan tersebut perlu diteliti jenis butirannya, masa dasar dan semen. Hal ini dikerjakan dengan seksama agar fosil mikro yang terkandung didalamnya tidak rusak atau ikut larut bersama zat pelarut yang digunakan. Contoh : Batulempung dan Lanau : penguraian batuan dilakukan dengan menggunakan larutan Hydrogen Pyroksida (H2O2).

35

5. Teknik Proses Pengayakan Dasar proses pengayakan adalah bahwa fosil-fosil dan butiran lain hasil penguraian terbagi menjadi berbagai kelompok berdasarkan ukuran butirnya masing-masing yang ditentukan oleh besar lubang. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua butiran mempunyai bentuk bulat, tetapi ada juga yang panjang yang hanya bisa lolos dalam kedudukan vertikal. Oleh karena itu, pengayakan harus digoyang sehingga dengan demikian berarti bahwa yang dimaksudkan dengan besar butir adalah diameter yang kecil / terkecil Pengayakan dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering : a. Cara kering 1. Keringkan seluruh contoh batuan yang telah terurai. 2. Masukkan kedalam ayakan paling atas dari unit ayakan yang telah tersusun baik sesuai denagn keperluan. 3. Mesin kocok dijalankan selama + 10 menit. 4. Contoh batuan yang tertinggal di tiap-tiap ayakan ditimbang dan dimasukkan dalam botol/plastik contoh batuan b. Cara basah Cara ini pada prinsipnya sama dengan cara kering, tetapi pada umumnya menggunakan ayakan yang kecil. Pengayakan dilakukan dalam air sehingga contoh batuan yang diperoleh masih harus dikeringkan terlebih dahulu 6. Teknik Pemisahan Fosil Fosil-fosil dipisahkan dari butiran lainnya dengan menggunakan jarum. Untuk menjaga agar fosil yang telah dipisahkan tidak hilang, maka fosil perlu disimpan di tempat yang aman.

36

Setelah selesai pemisahan fosil, penelitian terhadap masing-masing fosil dilakukan. a) Saringan dengan 30 80 100 mesh b) Wadah pengamatan mikrofosil c) Jarum pengutik d) Slide karton (model Jerman 40 x 25 mm e) Slide karton (model internasional, 75 x 25 mm)

Gambar 51. Alat pemisah fosil

37

IV.2. Determinasi Fosil A. Dasar Teori Determinasi merupakan tahap akhir dari pekerjaan mikropaleontologis di laboratorium, tetapi juga merupakan tahap awal dari pekerjaan penting selanjutnya, yaitu sintesis. Tujuan determinasi adalah menentukan nama genus dan spesies mikrofosil yang diamati, dengan mengobservasi semua sifat fisik dan kenampakan optik mikrofosil tersebut. 1. Deskripsi dan Ilustrasi Berdasarkan observasi yang dilakukan pada mikrofosil, baik sifat fisik maupun kenampakan optiknya dapat direkam dalam suatu deskripsi terinci yang bila perlu dilengkapi dengan gambar ilustrasi ataupun fotografi. Deskripsi sangat penting karena merupakan dasar untuk mengambil keputusan tentang penamaan mikrofosil yang bersangkutan. Sementara itu, gambar dan ilustrasi yang baik harus dapat menjelaskan berbagai sifat khas tertentu dari mikrofosil itu. Juga, setiap gambar ilustrasi harus selalu dilengkapi dengan skala ataupun ukuran perbesarannya. 2. Penamaan Tahap selanjutnya setelah tahap deskripsi dan ilustrasi adalah menenrukan nama (determinasi) mikrofosil. Penamaan ini menganut asas penamaan berganda atau binominal. Sejak Ch. de Linne mengusulkan penamaan binominal, peraturan penamaan suatu taxon menjadi lebih teratur, praktis, dan dipakai secara internasional. Penulisan nama binominal mempergunakan nama Latin yang ditulis miring tanpa garis bawah, menunjukkan nama genus dari spesies yang bersangkutan, sedangkan nama kedua seluruhnya huruf kecil, menunjukkan nama spesien itu sendiri. Pada umumnya, setelah nama genus-spesies itu, ditambahkan lagi nama orang yang menemukan spesies tersebut.

38

Selanjutnya, dengan dipisahkan dengan tanda koma dituliskan tahun publikasi pertama yang membahas spesies tersenut. Contoh : Globigerina bulloides dORBIGNY, 1826 (genus) (spesies) (penemu) (Thn.Publikasi). Jika nama penemu dituliskan dalam tanda kurung ( ), ini merupakan bahwa nama spesies tersebut bukan dia yang menemukannya, yang bersangkutan hanya mengatribusikan nama spesies pada genus lain yang menurutnya lebih tepat. Contohnya : Globotruncana elevata (BROTZEN), 1934- berarti spesies elevata telah dipublikasikan sebelumnya oleh orang lain sebagai bagian dari genus Rotalia. Bila diperlukan, nama subgenus dapat dituliskan di dalam tanda kurung antara nama genus dan nama spesiesnya. Contohnya : Alveolina (Glomalveolina) primaera reichel, 1936. Untuk penamaan subspesies yang juga merupakan penamaan trinominal, nama subspesies dituliskan di belakang nama spesies awal yang telah dipublikasikan sebelumnya. Contohnya : Globorotalia cerroazulensis cole, 1928 menjadi globorotalia cerrozulensis cunialensis toumarkine & bolli, 1970. B. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang di gunakan untuk determinasi fosil antara lain sebagai berikut 1. Cawan tempat contoh batuan 2. Jarum 3. Lem unuk merekatkan fosil 4. Tempat fosil 5. Mikroskop & alat penerang

39

C. Langkah Kerja Metode determinasi fosil,dapat dilakukan dengan cara: Membandinkan dengan koleksi fosil yang adaMenyamakan fosil,yang belum dikenal dengan gambar-ganbar yang ada literatur/publikasi. Langsung mendeterminasi fosil yang belum dikenal tersebut dengan mempelajari ciri-ciri morfologinya. Kombinasi 1,2 dan 3 Morfologi fosil yang dideterminasi masing-masing fosil berbeda,karena hal ini tergantung dari jenis fosil dan karakteristik morfologi tubuhya baik fosil makro maupun mikro. 1. Determinasi fosil mikro Determinasi fosil mikro,dengan menggunakan mikroskop hal-hal yg diamati: Sketsa/gambar fosil Nomor praga Jenis fosil Susunan kamar Bentuk kamar Suture Komposisi Jumlah kamar Ventral Dostral Jumlah putaran kamar Ventral Dorsal Aperture Hiasan pada: Permukaan test Aperture Suture Umbllical Peri-peri Nama fosil

40

2. Deskripsi fosil mikro bagian TOP Sketsa/gambar fosil Nomor praga Jenis fosil Susunan kamar Bentuk kamar Suture Komposisi Jumlah kamar Ventral Dostral : : 3 kamar 3 kamar : : : : : : mesh 60 Top planktonik trochospiral spherical kuat silliceus

Jumlah putaran kamar Ventral Dorsal : : : 1 putaran 1 puatran utama

Aperture Hiasan pada: Permukaan test Aperture:Suture:Umbllical:Peri-peri:-

smoth

Nama fosil

globoratalia inflata

D. Lampiran 1. Fosil Planktonik (Terlampir) 2. Fosil Bentonik (Terlampir)

41

BAB V APLIKASI FORAMINIFERA


V.1. Penentuan Umur Relatif Batuan a) Dasar Teori Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi. Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi, dan eksplorasi minyak dan gas bumi, dll. 1. Fosil Indeks Foraminifera memberikan data umur relatif batuan

sedimen laut. Ada beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga khususnya untuk

menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara terus -

menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan

terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam. Fosil indeks yaitu fosil yang dipergunakan sebagai penunjuk umur relatif. Umumnya fosil ini mempuyai penyebaran vertikal pendek dan penyebara n lateral luas, serta mudah dikenal. Contohnya : Globorotalina Tumida penciri N18 atau Miocen akhir.

42

2. Paleoekologi dan Paleobiogeografi Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera

tersebut hidup. Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Sebuah contoh kumpulan fosil foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup sampai sekarang, maka pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut dapat

digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan fosil foraminifera diperoleh - ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah perconto mengandung kumpulan fosil

foraminifera yang semuanya atau sebagian besar sudah punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies, jumlah relatif dari spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera plangtonik dar i total

kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari tipe tipe cangkang (rasio Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek kimia material penyusun cangkang.

43

Aspek

kimia

cangkang

fosil

foraminifera

sangat

bermanfaat karena mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh. Sebagai contoh, perban -dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab air bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang lebih ringan. Pengukuran isotop ok sigen stabil pada cangkang foraminifera plangtonik dan bentonik yang berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di seluruh dunia telah dimanfaatkan untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar perairan masa lampau. Data tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim dan arus laut telah berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan perubahan -perubahan di masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji). 3. Eksplorasi Minyak Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi. Banyak spesies foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli

paleontologi dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan lingkungan saat batuan tersebut terbentuk. Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil.

Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil foraminifera memberikan sumbangan yang berharga dalam mengarahkan suatu pengeboran ke arah samping pada horison yang

44

mengandung minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak. Selain ketiga hal tersebut dia atas foraminifera juga memiliki kegunaan dalam analisa struktur yang terjadi pada lapisan batuan. Sehingga sangatlah penting untuk mempelajari foraminifera secara lengkap. 4. Biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan

menggunakan fosil yang terkandung didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karenasedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal lingkungan

sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas lempung dan napal sementara yang lainnya lebih

bersifat batu gampingkapuran, tetapi apabila kandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan telah diendapkan pada waktu yang sama. Amonit, graptolit dan trilobit merupakan fosil banyak digunakan dalam biostratigrafi. Mikrofosil seperti acritarchs, chitinozoa,conodontskista di noflagelata, serbuksari, sapura dan foraminifera juga sering indeks yang

digunakan. Fosil berbeda dapat berfungsi dengan baik pada sedimen yang berumur berbeda; misalnya trilobit, terutama berguna untuk sedimen yang berumur Kambrium. Untuk dapat berfungsi dengan baik, fosil yang digunakan harus tersebar luas secara geografis, sehingga dapat berada pada bebagai tempat berbeda.

45

Mereka juga harus berumur pendek sebagai spesies, sehingga periode waktu dimana mereka dapat tergabung dalam sedimen relatif sempit, Semakin lama waktu hidup spesies, semakin tidak akurat korelasinya, sehingga fosil yang berevolusi dengan cepat, seperti amonit, lebih dipilih daripada bentuk yang berevolusi jauh lebih lambat, seperti nautoloid. 5. Lithostratigrafi merupakan ilmu geologi yang berhubungan dengan

penelitian mengenai strata lapisan batuan. Fokus utama dari penelitian ini mencakup geokronologi, geologi perbandingan, dan petrologi. Secara umum suatu strata dapat berupa batuan bekuatau batuan sedimen bergantung bagaimana pembentukan batuan tersebut. Lapisan batuansedimen terbentukoleh pengendapan sedim en yang berhubungan dengan proses pelapukan, peluruhan zat organik (biogenik) atau melalui presipitasi kimiawi. Lapisan ini dapat dibedakan karena memiliki banyak fosil dan juga penting untuk penelitian biostratigrafi. Lapisan batuan beku dapat memiliki karakter plutonik atau vulkanik bergantung pada kecepatan pembekuandari batuan tersebut. Lapisan ini umumnya sama sekali tidak memiliki fosil dan merepresentasikan aktivitas intrusi dan ekstrusi yang terjadi sepanjang sejarah geologi daerah tersebut. Terdapat menjelaskan beberapa prinsip yang digunakan suatu batuan untuk beku

kehadiran

strata.

Ketika

memotong suatu formasi batuan sedimen, kita dapat mengatak an bahwa intusi batuan beku tersebut berumur lebih muda dari batuan sedimen tersebut.

46

Hukum

superposisi mengatakan

bahwa

suatu

lapisan

batuan sedimen pada suatu strata yang ridak terganggu secara tektonik lebih muda dari yang dibawahnya dan lebih tua dari yang berada diatasnya. Prinsip kemendataran awal menyatakan bahwa pengendapan sedimen pada dasarnya terjadi s ebagai lapisan mendatar. 6. Paleoklimatologi merupakan ilmu mengenai perubahan iklim yang terjadi dalam seluruh rentang sejarah bumi. Fosil yang dapat

dipergunakan sebagai petunjuk iklim pada saat itu. Contohnya : Globigerina Pachyderma penciri iklim dingin. 7. Fosil bathymetry/fosil kedalaman Yaitu fosil yang dipergunakan untuk menentukan

lingkungan kedalaman pengendapan. Umumnya yang dipakai adalah benthos yang hidup di dasar. Contohnya : Elphidium spp penciri lingkungan transisi. 8. Fosil horizon/fosil lapisan/fosil diagnostic Yaitu fosil yang mencirikan khas yang terd apat pada lapisan yang bersangkutan. Contoh : Globorotalia tumida penciri N18. 9. Fosil lingkungan Yaitu fosil yang dapat dipergunakan sebagai penunjuk lingkungan sedimentasi. Fosil foraminifera benthonik sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan Fosil

benthonik ini sangat berharga untuk penentuan lingkungan purba.

47

Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum adalah : a) Pada kedalaman 0-5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-

bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran. b) Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai

genus Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina. c) Pada kedalaman 90-300 m (9-13oC), dijumpai

genus Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides danTextularia. d) Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina,

Bolivina danValvulina Contohnya dalam. 10. Paleoceanography Mengetahui tempat kehidupan masa lampau 11. Paleoenvironment Kondisi iklim dan lingkungan di Oklahoma prasejarah sangat berbeda dari orang-orang dari zaman kita. Lanskap fisik dan iklim yang kita kenal saat ini telah bertahan selama sekitar tiga ribu tahun tanpa perubahan yang signifikan.Beberapa : Radiolaria sebagai penciri lingkungan laut

ilmuwan bahkan perdebatan pertanyaan apakah, pada a khir abad kedua puluh, lingkungan tetap dalam periode es bebas dari glaciation terakhir atau telah memasuki era baru dalam rangka

48

iklim dengan tindakan-tindakan manusia (misalnya, pemanasan global). " Catatan lingkungan selama tiga puluh ribu tahun terakhir, namun, dokumen berbagai kejadian yang mencerminkan perubahan iklim besar serta kurang "fluktuasi iklim. Baik perubahan iklim dan fluktuasi membawa perubahan lanskap fisik dan dalam komunitas tumbuhan dan hewan

yang orang prasejarah diandalkan sebagai sumber daya kritis. Misalnya, dengan kering, kondisi hangat, padang rumput dan komunitas hewan yang terkait bergeser ke timur. Dengan kembalinya iklim lembab lebih, hutan dan hewan terkait bergeser distribusi mereka ke arah barat. Pergeseran dari timur-barat tumbuhan dan komunitas hewan berdenyut berulang kali melalui waktu, tidak diragukan lagi mempengaruhi gerakan dan kegiatan ekonomi kel ompok prasejarah. Antara beberapa 30.015 ribu tahun yang lalu kondisi glasial yang dihadapi manusia yang mungkin telah mendiami wilayah yang sekarang disebut Oklahoma. Iklim secara signifikan lebih dingin dan lembab dari saat ini. Hutan pohon cemara dan pinus yang diselingi dengan padang rumput menutupi bagian utara wilayah tersebut, ek hickory hutan ditemukan di tenggara, dan padang rumput terjadi di barat daya. Megafauna Pleistosen seperti raksasa, raksasa

sloth tanah, kuda, unta, harimau gigi pedang, dan hewan lain banyak umum untuk era Wisconsin glasial mendominasi

komunitas hewan. Hampir tidak Oklahoma, tandus arctic -seperti pengaturan. Bukti menunjukkan bahwa spesies modern banyak juga dihuni daerah tersebut. Bahkan, data menunjukkan bahwa buaya berkeliaran barat laut Oklahoma beberapa 28.000 -32.000 tahun yang lalu.
49

b) Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang di gunakan Penentuan umur relative batuan, antara lain sebaga berikut : 1. Cawan tempat contoh batuan 2. Jarum 3. Lem unuk merekatkan fosil 4. Tempat fosil 5. Mikroskop & alat penerang

c) Langkah Kerja Penentuan umur batuan secara relatif : Penentuan umur relatif batuan pada 2 lapisan yang berbeda dalam 1 penampang dapat ditentukan dengan melihat lapisan yang terlebih dahulu diendapkan, yang terendapkan pertama lebih tua umurnya daripada yang terendapkan kemudian. Proses ini berlangsung terus sampai semua lapisan tersusun dalam suatu skala umur relatif yang memperlihatkan urutan kejadiannya. Setiap lapisan memperlihatkan sejarah geologi dari bumi kita. Proses sedimentasi misalnya merupakan suatu bagian dari proses pengendapan. Granit ataupun batuan beku lainnya merupakan gambaran adanya intrusi batuan beku pada kerak bumi. Batuan beku ekstrusif menunjukkan suatu kejadian vulkanisme. Batuan metamorf merupakan akibat terjadinya kenaikan suhu dan tekanan di dalam bumi, yang berasal dari aktivitas tektonik atau instrusi dari gunung berapi. Suatu proses geologi merupakan suatu kejadian alam yang didalamnya termasuk pengendapan deformasi dan instrusi. Umur relatif dari berbagai macam lapisan dapat dipecahkan dengan tiga konsep yang mendasar :

50

Gambar 50. Penentuan Umur secara Relatif

1) Prinsip superposisi Dalam keadaan normal (belum mengalami gangguan), dalam suatu urutan batuan yang diendapkan maka lapisan yang berada paling bawah umurnya paling tua. 2) Hukum cross cutting relation (memotong/diterobos) Batuan yang memotong batuan yang lain berarti lebih muda. Misal antara batuan beku dengan batuan endapan atau antar batuan Beku. Lapisan batuan endapan A dipotong (diterobos) oleh batuan beku B dan batuan beku B diterobos oleh batuan beku C, gga urutannya A, B, C. 3) Cara dengan hasil fosil Cara ini biasanya pada batuan endapan. Fosil adalah sisa sisa binatang atau tumbuhan purba yang sudah membatu. Dasar

pemikirannya: evolusi. Pada endapan yang terletak dibawah mempunyai fosil yang berbeda dengan endapan yang terletak di atas. Dari fosil-fosil ersebut dapat diketahui evolusi dari binatang maupun tumbuhan. Banyak binatang/tumbuhan yang baru muncul. Dengan mengetahui evolusi binatang / tumbuhan tersebut dapat diketahui endapan yang tua dan yang lebih muda. Tetapi umur yang didapat hanyalah umur kisaran (nisbi).

51

d) Lampiran Kolom Penarikan Umur Relatif

52

V.2. Penentuan Lingkungan Bathymetry

53

Penentuan Umur Batuan Foraminifera Plantonik. Terdiri dari dua metode yaitu : 1. Penentuan umur absolute Umumnya di lakukan dengan menghitung waktu paruh dari unsur-unsur radioaktif yang terkandung dalam batuan tersebut. 2. Penentuan umur relatif Adalah menbandingkan umur batuan tersebut dengan batuan lain yang sudah di ketahui atau menpunyai hubungan posisi stratigrafi yang jelas.salah satu cara penenutan umur relatif ini adalah dengan menelit kandungan fosil yang ada dalam batuan tersebut. Penentuan umur batuan dengan menggunakan analisa fosil foraminiera telah banyak di lakukan. Analisa foraminifera di tunjang pula oleh kemajuan ilmu ini yang sangata pesat sehingga banyak perusahaan perminyakan yang selalu mengunakan analisis ini sebagai salah satu tahapan dalam eksplorasi yang mererka lakukan.penelitian foraminifera menhasilkan banyak bionesa foraminifera yang di pakai sebagai acuan dalam analisisnya. Hal ini terlihat dari nilai Z yang lebih besar yaitu 1,58-2,01 untuk foraminifera plangtonik dan 5,26-5,75 pada foraminifera besar (Z score adalah perbangdingan tengang waktu tersier dalam juta tahun di bagi dengan jumlah biozona yang menyusunnya).seluruh biozonasi planktonik

54

mengunakan datum pemuncuan awal dan aklhir spesies marker tertentu untuk manbatasi masing-masing zonanya. Prinsip zona selang banyak di gunakan dalam penarikan batas-batas zona setiap boizonasi.boizonasi foraminifera kecil (benthos), selain digunakan untuk penentuan lingkungan purba, beberapa spesies foraminifera kecil (bentonik) dapat di gunakan untuk penentuan umur.
Table 2. penentuan umur

Umur

Oligosen upper

Miosen lower middle N 7 upper

Foraminifera plantonik N1

N 2

N3

N 4

N 5

N6

--N14

---N24

Orbulina universa Globigerinoides rubery Gs. Sacculifer Gt. Rubery Gt. Pseudabuloides Urbulina universa Gt. Tosaensis Gt. Buloides Gt. Mayeri Gs. Duminitus

55

Gobolotalia Globigerina cipenencis Gs. Sacculifer Gs. Saculifer Gs. Rubery Gt. Buloides Gs. Saculifer Gs. Ruber Hedbergela Gs.mayeri Gs.sicanus Gs.fistolosus Gs.obesa Gq.altispira Gs.immaturus

V.2. Penentuan Lingkungan Pengendapan Penentuan lingkungan pengendapan Foraminifera Benthonik Fosil foraminifera benthonik sering dipakai untuk penentuan lingkungan pengendapan, sedangkan fosil foram benthonik besar dipakai untuk penentuan umur. Fosil benthonik ini sangat berharga untuk penentuan lingkungan purba. Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum adalah :
56

a) Pada kedalaman 0 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius, banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina, Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding cangkangnya dibuat dari pasiran. b) Pada kedalaman 15 90 m (3-16 C), dijumpai genus Cilicides, Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan Triloculina. c) Pada kedalaman 90 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna, Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan Textularia. d) Pada kedalaman 300 1000 m (5-8 C), dijumpai Listellera, Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina Table 3. linkungan pengendapan Lingkungan pengendapan Litoral Neritik Tepi I Foraminifera bentonik 0-5 m 5-20 m 20-100 m 100-200 m Tepi II Tepi III 200-2000m Batial

57

Table 4. Penentuan lingkungan pengendapan berdasarkan Cimsdde dan Mark Heaven 1955. Ratio % 0 10 10 20 20 30 30 40 40 50 50 60 60 - 70 Kedalaman (m) 0 70 0 70 60 -120 120 600 120 600 550 700 650 825

== 0,95 Berdasarkan Cimsdde dan Mark Heaven (1955) dalam memakai rumus perhitungan ratio. Menghasilkan hasil mencapai 0,95, maka dari itu dapat mengambil kesimpulan bahwa linkungan pengendapannya adalah 0 70 meter yang menunjukan pada Zona Neritik Tipe II.

BAB V
58

HASIL PENELITIAN

IV.I. Geologi Regional Daerah Penelitian Lp I Lokasi Hari Jam Cuaca Morfologi Litologi : Sentolo,kabupaten Kulongrogo : minggu 17-10-2012 :08:30 WIB : cerah : Perbukitan : Batuan Sedimen (Batu Pasir)

Deskripsi batuan: Warna Lapuk Segar Tekstur: Ukuran butir : sedang halus Bentuk butir :membundar Kemas : tertutup : putih keabu-abuan : hitam kecoklatan

59

Sortasi Struktur Komposisi: Fragmen Matriks Semen Petrogenesa

: Baik : masif

:: pasir halus : karbonatan : Terbentuk di endapan laut ,batu gamping pasiran.

Nama batuan : batu pasir Dekripsi Bagian Middle Lp I Lokasi Hari Jam Cuaca Morfologi Litologi : sentolo,kabupaten Kulongrogo : minggu 17-10-2012 :08:30 WIB : cerah : Perbukitan : Batuan Sedimen (Batu Pasir)

Deskripsi batuan: Warna:

60

Lapuk Segar Tekstur:

: putih keabu-abuan : hitam kecoklatan

Ukuran butir : sedang halus Bentuk butir :membundar Kemas Sortasi Struktur Komposisi: Fragmen Matriks Semen :: ukuran pasir halus : karbonatan : tertutup : Baik : masif

Nama batuan : batu pasir Deskripsi Bagian bottom: Lp I Lokasi Hari Jam Cuaca : sentolo,kabupaten Kulongrogo : minggu 17-10-2012 :08:30 WIB : cerah

61

Morfologi Litologi Deskripsi batuan: Warna Lapuk Segar Tekstur

: Perbukitan : Batuan Sedimen (Batu Pasir)

:Hitam kecoklatan : Kuning keabu-abuan :

Ukuran butir : sedang halus Bentuk butir :menyudut Kemas Sortasi Struktur Komposisi: Fragmen Matriks Semen Petrogenesa ::Pasir halus : karbonatan : Terbentuk di endapan laut ,batu gamping pasiran. : tertutup : Baik : Perlapisan/Laminasi 3/4-1/16

Nama batuan : Batu gamping Klastik V.3.Determinasi Fosil

62

Metode determinasi fosil,dapat dilakukan dengan cara: Membandinkan dengan koleksi fosil yang ada Menyamakan fosil,yang belum dikenal dengan gambar-ganbar yang ada literatur/publikasi. Langsung mendeterminasi fosil yang belum dikenal tersebut dengan mempelajari ciri-ciri morfologinya. Kombinasi 1,2 dan 3 Morfologi fosil yang dideterminasi masing-masing fosil berbeda,karena hal ini tergantung dari jenis fosil dan karakteristik morfologi tubuhya baik fosil makro maupun mikro

Determinasi fosil mikro Determinasi fosil mikro,dengan menggunakan mikroskop hal-hal yang diamati: Sketsa/gambar fosil Nomor praga Jenis fosil Susunan kamar Bentuk kamar Suture Komposisi Jumlah kamar Ventral Dostral Jumlah putaran kamar Ventral Dorsal Aperture

63

Hiasan pada: Permukaan test Aperture Suture Umbllical Peri-peri Nama fosil

Deskripsi fosil mikro bagian TOP Sketsa/gambar fosil Nomor praga Jenis fosil Susunan kamar Bentuk kamar Suture: kuat Komposisi Jumlah kamar Aperture Hiasan pada: Permukaan test Aperture: Suture: Umbllical:: smoth Ventral Dostral : 3 kamar : 3 kamar :silliceus : mesh 60 Top : planktonik : trochospiral : spherical

Jumlah putaran kamar Ventral Dorsal : 1 putaran : 1 puatran : utama

64

Peri-peri:Nama fosil : globoratalia inflata

Deskripsi fosil mikro bagian MIDDLE Sketsa/gambar fosil Nomor praga Jenis fosil Susunan kamar Bentuk kamar Suture Komposisi Jumlah kamar Ventral Dostral : 3 kamar : 3 kamar : mesh 40 Top : planktonik : trochospiral : spherical : melengkung kuat : hyalin

Jumlah putaran kamar Ventra Dorsal : 2 putaran : 2 puatran :utama

Apertur

Hiasan pada: Permukaan test : smoth Aperture:Suture:Umbllical:Peri-peri:-

65

Nama fosi

:candeiana nitida

Deskripsi fosil mikro bagian BOTTOM o ketsa/gambar fosil o Nomor praga o Jenis fosil o Susunan kamar o Bentuk kamar o Suture o Komposisi o Jumlah kamar Ventral Dostral o Jumlah putaran kamar Ventral Dorsal : 1 putaran : 1 puatran : utama : 2 kamar : 2 kamar : mesh 40 Top : planktonik : trochospiral : spherical : kuat : hyalin

o Aperture o Hiasan pada: o Permukaan test Aperture:Suture:Umbllical:Peri-peri:-

: smoth

o Nama fosil

:Orbulina Bilobata

66

V.4.Umur dan lingkungan pengendapan(Top Midel Bottom) Table 2. penentuan umur Umur Oligosen upper Foraminifera plantonik N1 N 2 Miosen lower N 4 N 5 N 7 middle upper

N3

N6

--N14

---N21

Globorotalia menardii Goloborotalia acostensis Goloborotalia obesa Orbolina universa Golobogerinoides immaturus Spheroidinella subdeliceus

67

Table 3. linkungan pengendapan Lingkungan pengendapan Litoral Neritik Tepi I Foraminifera bentonik 10-20 m Batial

Tepi II 20-200 m

Tepi III 100-200 m

Table 4. Penentuan lingkungan pengendapan berdasarkan Cimsdde dan Mark Heaven 1955. Ratio % 0 10 10 20 20 30 30 40 Kedalaman (m) 0 70 0 70 60 -120 120 600

68

40 50 50 60 60 - 70

120 600 550 700 650 825

Ratio=E Plantonik x100

=19

E Plantonik+E Bentonik 19+1 =0,95

BAB VI PENUTUP
VI.1 Kesimpulan Untuk melanjutkan pembelajaran atau perkuliaan semester berikutnya kuliah mikro paleontologi dan praktikumnya sebagai dasar bagi saya, karena

mikropaleontologi adalah salah satu cabang dari ilmu geologi yang memiliki peranan penting bagi seorang geologisist sehingga sangatlah penting untuk mengikuti praktikum mikropaleontologi karena dengan praktikum mikropaleontologi praktikan bisa mengetahui umur relatif suatu batuan, lingkungan pengendapan dan iklim purba. setelah selesainya praktikum ini praktikan mampu melakukan pekerjaan

mikropaleontologi yang di mulai dari pengambilan sampel sampai analisis fosil, penentuan nama fosil foraminifera dengan mengunakan sistem taxonomi, penentuan umur relatif suatu batuan, dan lingkungan pengendapan. VI.2. Saran

69

Tingkatkan aturan yang telah di tegakan supaya tahun demi tahun harus ada perubahan. Sebaiknya kita menghargai waktu.

DAFTAR PUSTAKA

www.hhtp. Fosilforaminifera.com Kholik Abdul,2005,foraminifera bentonik dari berbagai bahan dunia,PPPT MIGAS LEMIGAS,Jakarta Postuma JA,manual of planctonic foraminifera,elsevier publishing company amsterdam london,new york Sanjoto siwi,defri h,sri p.k,.2005,buku petunjuk praktekum mikropaliontologi ista yogyakarta Sanjoto siwi,suharsono,1994,petunjuk praktekum mikropaleontologi dasar, Ordo foraminifera,ista yogyakarta http/www.foraminifera ,com http/www.geolab.unc.edu http/www.lemigas.esdm.go.id http/www.paleontology.com

70

http/www.radiolaria,org/ http/www.micropaleontology.com http/www.ucmp.berkeley.edu http://en.wikipedia.org/wiki/foraminifera


1. Alfred, R. Loeblich, Jr,Helen Tappan, 1988, Foraminiferal Genera and Their Classification-Plate, Van Nostrand Reinhold, New York. 2. Postuma J, A, 1971. Manual of Planktonic Foraminifera Elsivier Publishing Company, Amsterdam, New York 3. Aubry M., P, 1984, Handbook of Cenozoic Calcareous Nannoplankton; Vol 1 Ortholithae ( Discoaster ). Micropal. Press, Am.Mus. Nat. Hist., New York 4. Perch Nielsen K., 1985, Cenozoic Calcareous Nannofassils In. Bolly H.M. 5. Saunders J.B & Perch Nielsen K., Plankton Stratigrafi, Cambrige Univ. Press., pp.427554

LAMPIRAN

71