Anda di halaman 1dari 2

Proses terjadinya , penyebab, serta tipe-tipe inkontensia urine pada usia lanjut ( geriatri ) Proses berkemih adalah suatu

mekanisme yang sangat kompleks. Untuk dapat mengelola penderita inkontinensia urin dengan baik dibutuhkan pemahaman dari mekanisme detrusor dan mekanisme sfringter. Inkontinensia urine merupakan salah satu keluhan utama pada penderita usia lanjut, dengan pengeluaran urine atau feses yang tanpa disadari, dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan sosial. Kebanyakan penderita menggangap inkonteninsia urin adalah akibat yang wajar dari proses usia lanjut, dan tidak ada yang dapat dikerjakan kecuali tindakan pembedahan dan umumnya orang tidak menyukai tindakan ini. Secara umum, dengan bertambahnya usia, kapasitas kandung kemih menurun. Sisa urin dalam kandung kemih, setiap selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot-otot kandung kemih yang tidak teratur makin sering terjadi. Kontraksi-kontraksi involunter ini ditemukan pada 40-75% orang lanjut usia yang mengalami inkontinensia Bila proses berkemih terjadi, otot-otot detrusor dari kandung kemih berkontraksi, diikuti relaksasi dari sfringter dan uretra. Secara sederhana dapat digambarkan, saat proses berkemih dimulai, tekanan dari otot-otot detrusor kandung kemih meningkat melebihi tahanan dari muara uretra dan urin akan memancar keluar. Secara garis besar, proses berkemih diatur oleh pusat reflex kemih di daerah sacrum. Jaras aferen lewat persyarafan somatic dan otonom, membawa informasi tentang isi kandung kemih ke medulla spinalis sesuai pengisian kandung kemih. Tonus simpatik akan menyebabkan penutupan kandung kemih dan menghambat tonus parasimpatik. Pada saat proses berkemih berlangsung, tonus simpatik menurun dan peningkatan rangsangan parasimpatik mengakibatkan kontraksi kandung kemih. Semua proses ini berlangsung di bawah koordinasi dari pusat yang lebih tinggi pada batang otak, otak kecil dan korteks serebri. 1. Pada wanita terjadi lanjut usia juga berakibat menurunnya tahanan pada uretra dan muara kandung kemih. Ini berkenan dengan berkurangnya kadar estrogen dan melemahnya jaringan atau otot panggul karena proses melahirkan, apalagi bila disertai tindakan-tindakan berkenaan dengan persalinan tersebut. Menurunnya pengaruh dari estrogen pada lanjut usia, juga dapat menyebabkan vaginitis atropi dan urithritis sehingga terjadi keluhan-keluhan disuri misalnya : polikisuri dan dapat mencetuskan inkontinensia. 2. Pada pria, pembesaran kelenjar prostatpada sat lanjut usia, mempunyai potensi untuk menyebabkan inkontinensia. Penyebab dan tipe-tipe inkontinensia. Mengetahui penyebab inkontinensia sangat penting untuk pengelolaan yang tepat. Pertama-tama harus diusahakan membedakan apakah penyebab inkontinensia berasal dari 1. Kelainan urologic, misalnya: radang, batu, timor, divertikel.

2. Kelainan neurologic, misalnya : stroke, Trauma pada medulla spinalis, demensia, dan lainlain. 3. Lain-lain, misalnya : hambatan mobilitas, situasi tempat berkemih yang tidak memadai atau jauh dan sebagainya. Kemudian harus diteliti lagi, apakah : 1. Inkontinensia terjadi secara akut : yang biasanya reversible, inkontinensia yang terjadi secara akut, terjadi secara mendadak, biasanya berkaitan dengan sakit yang diderita atau masalah obat-obatan yang digunakan. Untuk memudahkan mengingat macam inkontinensia yang akut dan biasanya reversible, antara lain dapat memanfaatkan akronim DPRIP, yg merupakan kependekan dari : a. Delirium : kesadaran yg menurun berpengaruh pada tanggapan rangsang berkemih, serta mengetahui tempat erkemih. b. Infection : infeksi saluran kemih sering berakibat inkontinensia, tidak demikian dengan bakteriuri yang asimptomatik. c. Atropik vaginitis dan atropik urethritis : pada umumnya atropik vaginitis akan disertai atropik urethritis dan keadaan ini menyebabkan inkontinensia pada wanita . d. Pharmaceuticals : obat-obatan mrupakn salah satu penyebab utama dari inkontinensia yang sementara, missal : diuretika,antikolinergik, dll. e. Psycologic factors : depresi berat dengan reterdasi psikomotorik dapat menurunkan kemampuan atau motivasi untuk mencapai tempat berkemih. f. Excess urine output : pengeluaran urin berlebihan g. Restricted mobility : hambatan mobilitas untuk mencapai tempat berkemih. h. Stool impaction : impaksi feses. 2. Inkontinensia yang menetap/kronik/persisten : tidak berkaitan dengan penyakit-penyakit akut ataupun obat-obatan dan inkontinensia ini berlangsung lama. Secara umum penyebab yang menetap adalah akibat : a. Aktivitas deutsor berlebih ( over active baldder, inkontinensia tipe urgensi ) b. Aktivitas detrusor yang menurun ( inkontinensia tipe overflow atau luapan ) c. Kegagalan urethra ( inkontinensia tipe stress ) d. Obstruksi urethra . Tipe fungsional Cara yang sederhana untuk mencari penyebab dari inkontinensia pada usia lanjut dalah dengan memperhatikan tiga hal yang berkemih secara normal, yaitu : a. Tahu dimana tempat berkemih. b. Dapat mencapai tempat tersebut. c. Dapat menahan untuk tidak berkemih sebelum sampai pada tempatnya. Inkontinensia urin tipe fungsional ditandai dengan keluarnya urin secara dini, akibat ketidakmampuan mencapai tempat berkemih karena gangguan fisik atau kognitif maupun macam-macam hambatan situasi atau lingkungan yang lain, sebelum siap untuk berkemih.