Anda di halaman 1dari 42

Laporan Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Keluarga Long Case STATUS ASMATIKUS

Pembimbing dr. Madya Ardhi Wicaksono, Msi. dr. Sugeng Rahadi

Disusun Oleh Elli Dwi Ermawati G1A212038

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

Halaman Pengesahan
Laporan Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Keluarga Long Case STATUS ASMATIKUS

Disusun untuk memenuhi syarat Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Disusun Oleh Elli Dwi Ermawati G1A212038

Telah diperiksa, disetujui dan disyahkan: Hari Tanggal : :

Preseptor Lapangan

Preseptor Fakultas

dr. Sugeng Rahadi NIP.19601028.198912.1.001

dr. Madya Ardhi Wicaksono, Msi NIP. 198105112010121003

BAB I KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga

: Ny. Sutiyah : Suro, RT 04 RW 04, Kalibagor, Banyumas. : Nuclear family

Tabel 1.1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal dalam Satu Rumah No 1 Nama Ny. S Status KK L/P P Usia 60 Pendidikan SD Pekerjaan Tani Ket Pasien status asmatikus 2 Nn. R Anak P 30 SD Tani -

Sumber : Data Primer, 3 November 2012 Kesimpulan : Kesimpulan dari demografi keluarga Ibu Sutiyah yaitu berbentuk nuclear family, Ibu Sutiyah berjenis kelamin perempuan, umur 60 tahun menderita status asmatikus.

BAB II STATUS PENDERITA

A. Pendahuluan Laporan ini diambil pada tanggal 30 Oktober 2012 dari pasien rawat inap di Puskesmas I Sokaraja dengan jenis kelamin perempuan, usia 60 tahun yang datang ke Puskesmas I Sokaraja dengan keluhan utama sesak nafas. B. Identitas Penderita Nama Umur Jenis kelamin Status Agama Suku Kewarganegaraan Pekerjaan Pendidikan Penghasilan per bulan Alamat Tanggal periksa Pengantar C. Anamnesis 1. Keluhan Utama Sesak nafas 2. Keluhan tambahan Batuk berdahak, mengi dan lemas. 3. Riwayat Penyakit Sekarang : Ny. S : 60 tahun : Perempuan : Menikah : Islam : Jawa : Indonesia : Tani : SD : Rp.250.000,00 : Suro, RT 4 RW 4, Kalibagor, Banyumas : 30 Oktober 2012 : Anak dan Menantu

Pasien datang ke IGD Puskesmas 1 Sokaraja tanggal 30 Oktober 2012 dengan keluhan sesak nafas sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan nafasnya berat disertai bunyi ngik- ngik. Pasien merasa sesak nafasnya semakin memberat dan berlangsung terus- menerus sehingga meganggu aktifitas dan tidur pasien. Semakin lama sesak semakin terasa berat terutama jika digunakan untuk beraktifitas. Sesak berkurang jika digunakan untuk istirahat dan duduk dengan posisi diganjal dengan bantal. Sesak nafas yang dikeluhkan pasien tidak sampai menimbulkan nyeri dada. Pasien juga mengeluh batuk berdahak sejak 2 minggu yang lalu. Batuk mengeluarkan banyak dahak yang berwana putih. Akan tetapi pasien tidak pernah minum obat batuk untuk mengatasi keluhannya karena merasa hanya batuk biasa dan tidak terlalu menganggu aktivitasnya. Beberapa hari sebelum masuk Puskesmas keluhan batuknya semakin bertambah dan dahak yang dikeluarkan juga semakin banyak. Hal ini membuat pasien merasa tidak nyaman dan terganggu aktivitasnya. 4. Riwayat Penyakit Dahulu Keluhan yang sama Penyakit jantung Hipertensi Diabetes Asma Riwayat operasi Riwayat mondok Riwayat alergi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : ada : ada : ada

Riwayat pengobatan : disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga Keluhan yang sama Asma Penyakit jantung Riwayat hipertensi Riwayat diabetes Tuberkulosis : disangkal : disangkal : suami Ny.S : disangkal : disangkal : disangkal

6. Riwayat Sosial dan Exposure a. Community Pasien tinggal didaerah lingkungan dengan kepadatan penduduk sedang, lingkungan rumah lembab dengan dikelilingi pohon bambu, lahan pertanian dan jauh dari jalan raya. b. Home Rumah tinggal pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat. Rumah pasien dihuni oleh dua orang penghuni, yakni Ny.S dan Nn.R, anak perempuan Ny.S. Dinding rumah terbuat dari papan kayu dan bambu, lantai ubin, atap berasal dari genting dan tidak ada langit-langit. Ventilasi dan pencahayaan yang terdapat pada masing-masing ruangan sangat kurang. Kamar mandi, jamban dan sumber air bersih tidak ada. Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk kebutuhan sehari- hari diambil dari sumur milik anaknya yang rumahnya terpisah. Pasien memasak menggunakan tungku kayu bakar. c. Occupation Pekerjaan Ny. S setiap hari adalah petani. d. Personal Habbit Pasien tidak pernah berolahraga dikarenakan tidak ada waktu. e. Drug -

f. Diet Setiap hari pasien makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur, lauk pauk (tahu atau tempe) 7. Riwayat Psiko-Sosio-Ekonomi Pasien termasuk orang yang berkepribadian terbuka. Hubungan pasien dengan anak- anaknya berjalan dengan baik, hal ini terbukti apabila ada masalah pasien selalu bercerita dengan anak- anaknya dan menantunya. Hubungan anatar anggota keluarga sangat dekat. Saat pasien sakit, anakanaknya berkumpul menunggu pasien sampai pasien pulih. Pasien cemas akan penyakitnya, pasien berencana untuk kontrol kembali ke puskesmas terdekat. Pasien merupakan kepala kelurga di karenakan suaminya telah lama meninggal akibat sakit jantung. Pasien juga bekerja diluar rumah sebagai petani. Hubungan pasien dengan lingkungan tetangga sekitar berjalan harmonis. Paien sering berkumpul dengan tetangga sekedar untuk mengobrol. Pasien juga mengikuti kegiatan arisan dan kadang ikut pengajian bersama tetangga lainya. Kebutuhan ekonomi ditopang oleh pasien sendiri yang bekerja sebagai petani dan anak perempuanya yang tinggal bersama pasien yang juga bekerja sebagai petani. Ekonomi pasien berasal dari kelas ekonomi kelas menengah kebawah dengan penghasilan sekitar Rp.250.000,00 perbulan. Namun penghasilan tersebut dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan seharihari pasien dikarenakan pasien juga mendapat bantuan dari anak perempuannya. 8. Riwayat Gizi Sehari-hari pasien makan 3 kali sehari, konsumsi nasi, sayuran dan lauk pauk (tahu dan tempe) dengan porsi yang cukup. Kesan status gizi baik. 9. Resume Anamnesis Pasien Ny. S usia 60 tahun, tinggal dalam satu rumah bersama anak perempuanya sehingga bentuk keluarga disebut Nuclear family. Diagnosis pasien status asmatikus. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang sama

tetapi pasien memiliki riwayat alergi. Apabila cuaca dingin pasien cepat terkena batuk. Pasien mengeluh sesak nafas sejak 1 hari yang lalu. Keluhan dirasa memberat dan meganggu aktifitas. Keluhan berkurang jika dibuat istirahat dan duduk dengan posisi diganjal bantal. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak dan lemas. 10. Reviev anamnesis sistemik Keluhan Utama Kulit Kepala Mata Hidung Telinga : Sesak nafas : Warna kulit sawo matang : Sakit kepala (-) : Penglihatan jelas : Sekret hidung (-) : Pendengaran baik, keluar cairan (-) Mulut Tenggorokan Pernafasan : Luka (-) : Sakit menelan (-) : Sesak nafas (+), batuk berdahak (+), mengi (+) Sistem Kardiovaskuler Sistem Gastrointestinal Sistem Muskuloskeletal Sistem Genitourinaria Ekstremitas : Nyeri dada (-) : Mual (-), muntah (-), nyeri perut (-) : Lemas (+) : Buang air kecil (+) normal : Atas : bengkak (-), luka (-)

Bawah : bengkak (-), luka (-) D. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum / kesadaran Tampak sesak nafas / komposmentis 2. Tanda Vital a. Tekanan darah b. Nadi c. RR d. Suhu 3. Status gizi a. BB b. TB c. IMT Kesan status gizi 4. Kepala :50 kg : 154 cm : 21 kg/m2 : normal : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut 5. Kulit 6. Mata : Sianosis (-), ikterik (-), tugor cukup : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra (-/-) 7. Telinga 8. Hidung 9. Mulut 10. Tenggorokan 11. Leher : Bentuk dan ukuran normal, cairan sekret (-/-), : Nafas cuping hidung (+), sekret (-/-) : Bibir sianosis (-), tanda-tanda radang (-) : Faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-) : Deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar tiroid (-) Pembesaran kelenjar limfe (-) 12. Thoraks Jantung Inspeksi : Ictus cordis tampak di SIC V 2 jari lateral LMCS : : 140/80 : 96 x /menit, regular : 24x /menit : 37,7oC

Palpasi

Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari lateral LMCS, kuat angkat (-)

Perkusi

Batas jantung kanan atas SIC II LPSD Batas jantung kiri atas SIC II LPSS Batas jantung kanan bawah SIC IV LPSD Batas jantung kiri bawah SIC V 2 jari lateral LMCS

Auskultasi Paru Inspeksi

: S1>S2, reguler-reguler, murmur (-), gallop (-)

Simetris, retraksi intercosta (-), retraksi substernal (-), gerakan paru simetris, benjolan (-), trauma (-), lesi (-), otot-otot bantu pernafasan (+)

Palpasi

Nyeri tekan (-), ketinggalan gerak (-), vokal fremitus paru kanan = kiri

Perkusi

Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri, batas paru hepar SIC VI LMCD

Auskultasi 13. Punggung 14. Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi

: Suara dasar vesikular, RBK (-/-), wheezing(+/+) : Skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)

: Datar, venektasi (-), sikatrik (-) : Bising usus (+) normal : Supel, datar, nyeri tekan (-), pekak sisi (-), pekak alih (-)

tes undulasi (-), hepar dan lien tidak teraba Perkusi 15. Genitalia 16. Anorektal 17. Ekstremitas Superior Inferior : Edema (-/-), trauma (-/-), akral dingin (-/-) : Edema (-/-), trauma (-/-), akral dingin (-/-) : Timpani : Tidak diperiksa : Tidak diperiksa

18. Pemeriksaan Neurologik Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif Fungsi Sensorik Fungsi motorik K 5 5 5 5 : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : T N N N N RF + + + + RP -

E. Pemeriksaan Penunjang 1. Darah rutin 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Spirometri Tes provokasi bronkial Pemeriksaan tes kulit Pemeriksaan kadar IgE total dan spesifik dalam serum Pemeriksaan radiologi rongent thorak Analisis gas darah Pemeriksaan eosinofil dalam darah dan pemeriksaan sputum.

F. Resume Ny. S menderita sesak nafas yang disertai batuk berdahak. Hasil pemeriksaan fisik pasien di dapatkan bunyi wheezing (+/+) pada auskultasi. G. Diagnosis Holistik Ny. S, usia 60 tahun tinggal dalam satu rumah dengan anak perempuannya sehingga bentuk keluarga nuclear family. Diagnosis status asmatikus. Kondisi psikologi keluarga cukup baik, yang terlihat dari dukungan dan perhatian keluarga saat pasien sakit. Status ekonomi berasal dari keluarga menengah kebawah namun dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Rumah pasien tidak memenuhi kriteria rumah sehat, tetapi pasien merasa cukup untuk dihuni bersama anggota keluarga. 1. Aspek Personal Pasien mengeluh sesak nafas. Idea Concern : pasien berharap penyakitnya segera sembuh. : pasien menginginkan perhatian dari keluarganya untuk mendukung pengobatannya, mendukung dirinya dalam mengendalikan penyakitnya . Expectacy : pasien mempunyai harapan penyakitnya segera sembuh dan dapat beraktifitas dengan normal. Anxiety : pasien takut akan kondisi kesehatannya yang belum stabil dan pasien khawatir kalau sesak nafasnya akan kambuh kembali 2. Aspek klinis Diagnosa differential : Asma bronkial, PPOK, Bronkitis, Gagal jantung kongestif Gejala klinis yang muncul : Sesak nafas, batuk berdahak, mengi dan lemas.

3. Aspek Faktor Risiko Internal a. Pasien memiliki riwayat alergi dingin. b. Pasien tidak pernah berolahraga. c. Tingkat pengetahuan pasien tenatang kesehatan dan kebersihan masih kurang d. Tingkat pemahaman dan pengetahuan pasien tentang penyakit asma masih kurang. 4. Aspek Faktor Risiko Eksternal a. Pasien tinggal didaerah lingkungan dengan kepadatan penduduk sedang, lingkungan rumah lembab dengan dikelilingi pohon bambu. Rumah tinggal pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat. Rumah pasien dihuni oleh dua orang penghuni, yakni pasien dan anak perempuanya. Dinding terbuat dari kayu papan dan bamboo, lantai ubin, atap genting tidak ada langit-langit. Ventilasi dan pencahayaan yang terdapat pada masing-masing ruangan kurang baik. Kamar mandi, jamban dan sumber air bersih tidak ada. Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk kebutuhan sehari- hari diambil dari sumur milik anaknya yang rumahnya terpisah. Pasien memasak menggunakan tungku kayu bakar. b. Pelayanan kesehatan dirumah pasien sulit dijangkau hal ini dikarenakan rumah pasien jauh dari jalan raya dengan kondisi jalan yang sudah rusak berat. c. Pasien bekerja sebagai petani yang banyak terpajan debu.

5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial Tabel 2.1. Skala Fungsi Ny. S Skala Fungsional Skala 1 Akltivitas Menjalankan Fungsi Mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit (tidak ada kesulitan) Kemampuan dalam menjalani kehidupan untuk tidak tergantung pada orang lain Perawatan diri, bekerja di dalam dan di luar rumah (mandiri)

Skala 2

Mampu melakukan pekerjaan Mulai mengurangi ringan sehari-hari di dalam dan di aktivitas kerja (pekerjaan luar rumah (sedikit kesulitan) kantor) Skala 3 Mampu melakukan perawatan Perawatan diri masih bisa diri, tetapi hanya mampu dilakukan, hanya mampu melakukan pekerjaan ringan melakukan kerja ringan Skala 4 Dalam keadaan tertentu, masih Tidak melakukan mampu merawat diri, namun aktivitas kerja, sebagian besar pekerjaan hanya tergantung pada duduk dan berbaring (banyak keluangan kesulitan) Skala 5 Perwatan diri dilakukan orang Tergantung pada pelaku lain, tidak mampu berbuat aparawat apa, berbaring pasif Berdasarkan skala fungsional, skala Ny. S adalah skala 1 H. Penatalaksanaan Terapi farmakologis 1. Infus RL 16 tetes/menit selang seling dengan dextrose 5% 16 tetes/menit 2. O2 2-4 liter per menit 3. Nebulizer (dexametasone dan fenoterol hidrobromida) 4. Salbutamol 2mg 3x1 tab sehari 5. Aminofilin 10ml drip 6. Ambroxol syrup 3x1 tab sehari 7. Dexametasone 0,5ml injeksi 8. Bufacaril 3x1 tab Terapi non farmakologis 1. Istirahat cukup 2. Makan makanan bergizi ( nasi, sayur, lauk pauk seperti tempe, tahu) 3. Olahraga aerobik teratur minimal 3 kali seminggu selama 30 menit. 4. Kurangi aktifitas fisik yang berat 5. Sering menghirup udara yang bersih 6. Menghidari udara kotor, berdebu dan berasap 7. Pembersihan rumah tinggal supaya pertukaran udara rumah lancar. 8. Pemberian ventilasi rumah yang cukup.

9. Kurangi pajanan terhadap dingin 10. Managemen stress. Patient Centered Management 1. Suport Psikologis Dukungan dari keluarga sangat perlu diberikan kepada pasien, mengingat penyakit asma tidak dapat disembuhkan secara total. Pasien didukung untuk menghindari alergen yang mungkin dapat memicu kekambuhan. 2. Memberikan ketenangan kepada pasien Keluarga pasien sangat dianjurkan untuk memberikan ketenangan kepada pasien supaya pasien tidak terlalu khawatir dengan penyakitnya dan mendorong untuk melakukan upaya preventif agar tidak kambuh dan menghindari pajanan udara dingin. 3. Penjelasan mengenai penyakit asma Keluarga harus dapat menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dihindari dengan menghindari kecapaian, hidup sehat, dan menghindari alergen-alergen asma. Pasien juga harus rajin berolahraga dan menghindari stress. 4. Pengobatan Medika mentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera dalam penatalaksanaan. 5. Pencegahan dan Promosi Kesehatan Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pencegahan dan promosi kesehatan berupa perubahan pola hidup sehat, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, ventilasi udara kamar dan ruangan yang cukup, pembukaan jendela tiap pagi hari, membersihkan rumah setiap hari, membersihkan ventilasi, menutup jendela dan ventilasi saat malam hari (udara dingin), penggunaan alat masak yang tidak menyebabkan kepulan asap.

Family focused Kebersihan rumah pasien merupakan hal yang sangat penting, dimana rumah pasien masih belum memenuhi kriteria rumah sehat. Lantai dan dinding terlihat berdebu. Ventilasi sangat kurang, sehingga udara dalam rumah terasa pengap. Pencahayaan perlu ditambahkan di setiap ruangan. Pasien juga masih memasak dengan tungku yang mengeluarkan asap yang dapat memicu timbulnya asma. Selain itu penejelasan mengenai penyakit asma yang dapat menurun ke anak, dalam bentuk penyakit asma atau dalam bentuk penyakit alergi lain (seperti alergi makanan tertentu, udara, dan obat). Community oriented Menjaga kebersihan lingkungan rumah, usahakan ada sumber air bersih dan jamban,membuang sampah di tempat pembuangan yang sudah disediakan, menghindari pembakaran sampah. I. Follow up pasien Tanggal 30 November 2012 S O : sesak nafas, batuk berdahak, mengi, lemas : KU tampak sesak nafas, komposmentis Tanda vital T : 140/90 mmHg N : 95 x/menit Status lokalis : Paru Inspeksi : Simetris, retraksi intercosta (-), retraksi substernal (-), gerakan paru simetris, benjolan (-), trauma (-), R S : 24 x/menit : 37,7 0C

lesi (-), otot-otot bantu pernafasan (+) Palpasi : Nyeri tekan (-), ketinggalan gerak (-), vokal fremitus paru kanan = kiri Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri, batas paru hepar SIC VI LMCD Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi : : Ictus cordis tampak di SIC V 2 jari lateral LMCS Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari lateral LMCS, kuat angkat (-) Perkusi : Batas jantung kanan atas SIC II LPSD Batas jantung kiri atas SIC II LPSS Batas jantung kanan bawah SIC IV LPSD Batas jantung kiri bawah SIC V 2 jari lateral LMCS Auskultasi A P : S1>S2, reguler-reguler, murmur (-), gallop (-) : Suara dasar vesikular, RBK (-/-), wheezing(+/+)

: Status asmatikus :Terapi medikamentosa, non medikamentosa dan hindari faktor pencetus

Tanggal 31 November 2012 S O : sesak nafas berkurang, batuk berdahak, mengi : KU tampak sesak nafas, komposmentis

Tanda vital T : 120/90 mmHg N : 78 x/menit Status lokalis : Paru Inspeksi : Simetris, retraksi intercosta (-), retraksi substernal (-), gerakan paru simetris, benjolan (-), trauma (-), lesi (-), otot-otot bantu pernafasan (+) Palpasi : Nyeri tekan (-), ketinggalan gerak (-), vokal fremitus paru kanan = kiri Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri, batas paru hepar SIC VI LMCD Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi : : Ictus cordis tampak di SIC V 2 jari lateral LMCS Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari lateral LMCS, kuat angkat (-) Perkusi : Batas jantung kanan atas SIC II LPSD Batas jantung kiri atas SIC II LPSS Batas jantung kanan bawah SIC IV LPSD Batas jantung kiri bawah SIC V 2 jari lateral LMCS : Suara dasar vesikular, RBK (-/-), wheezing(+/+) R S : 18 x/menit : 36,5 0C

Auskultasi A P

: S1>S2, reguler-reguler, murmur (-), gallop (-)

: Status asmatikus. :Terapi medikamentosa, non medikamentosa dan hindari faktor pencetus.

J.

Flow sheet pasien Nama : Ny. S

Diagnosis : Status Asmatikus Hari/ Tanggal Selasa 30/10/ 2012 Sesak nafas, batuk berdahak, lemas, mengi. KU: tampak sesak TD : 140/90 Suhu: 37,7 C Nadi: 96x/mnt RR: 24x/mnt Status asmatikus
1. Infus RL 16 tetes/menit selang Dextrose tetes/menit 2. O2 2-4 liter per menit 3. Nebulizer (dexametasone dan seling 5% dengan 16

Subjektif

Objektif

Assessment

Plan

Status lokalis : Thorax : Paru : Suara dasar vesikuler, wheezing (+/+), ronki (-/-) Jantung : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-)

fenoterol hidrobromida) 4. Salbutamol 2mg 3x1 tab sehari 5. Aminofilin 10ml drip 6. Ambroxol syrup 3x1 tab sehari

7. Dexametasone injeksi
8. Bufacaril 3x1 tab

0,5ml

Rabu 31/10/20 12

Sesak nafas berkurang, batuk berdahak, mengi.

KU : tampak sesak TD : 120/90 Suhu: 36,5 C Nadi: 78x/mnt RR: 18x/mnt

Status asmatikus

1. Infus RL 16 tetes/menit selang dextrose tetes/menit 2. Salbutamol sehari 3. Aminofilin 10ml drip 2mg 3x1 seling 5% dengan 16

Status lokalis : Thorax : Paru : Suara dasar vesikuler, wheezing (+/+), ronki (-/-) Jantung : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-)

4. Ambroxol syrup 3 x 1 sehari 5. Bufacaril 3x1 tab

BAB III IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA

A. Fungsi Holistik 1. Fungsi Biologis Keluarga terdiri dari anak pasien (Nn. R. 30 tahun), Pasien (Ny. S, 60 tahun), Pasien tinggal serumah dengan anak perempuanya, sehingga keluarga ini merupakan nuclear family dengan jumlah anggota keluarga dua orang. Pasien mengalami sesak nafas baru pertama kali. Sesak nafas dirasa semakin memberat sehingga meganggu tidur pasien. 2. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dan keluarga secara umum terjalin cukup baik. Pasien selalu membicarakan masalahnya, termasuk masalah kesehatan dengan anakanak dan menantunya. Anak perempuanya selalu menemani setiap waktu. 3. Fungsi Sosial Dalam bersosialisasi dengan lingkungan, pasien tergolong aktif. Beberapa kegiatan diikuti oleh pasien, seperti rapat RT, arisan dan pengajian. Hubungan pasien dengan tetangga sekitar cukup baik. Pasien sering berkumpul dengan tetangga hanya sekedar untuk mengobrol jika ada waktu luang. 4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari Ny. S sebagai petani, dengan penghasilan Rp. 250.000, 00 perbulan. Walaupun berada pada kelas ekonomi menengah kebawah, namun dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Ekonomi juga dibantu oleh anak perempuanya yang tinggal serumah dengan pasien yang juga bekerja sebagai petani. B. Fungsi Fisiologis (A.P.G.A.R Score) Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R Score dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0. A.P.G.A.R

Score dilakukan pada masing-masing anggota keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 = baik. Penilaian A.P Tabel 3.1. Nilai APGAR dari Ny. S. (Pasien) A.P.G.A.R Ny. R Hampi r selalu Kadan gkadang Hampi r tidak pernah

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total nilai skor APGAR Ny. S adalah 9 Tabel 3.2. Nilai APGAR dari Nn. R (Anak pasien) A.P.G.A.R Tn. S Hampi r selalu Kadan gkadang Hampi r tidak pernah

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total nilai skor APGAR Nn. R adalah 10 A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (9+10)/ = 9,5 Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik Secara keseluruhan total poin dari skor APGAR keluarga pasien adalah 19, sehingga rata-rata skor APGAR dari keluarga pasien adalah 9,5. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien berada dalam keadaan baik. C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M) Fungsi patologis dari keluarga Ny. S dinilai dengan menggunakan S.C.R.E.E.M sebagai berikut : Tabel 3.4. Nilai SCREEM dari keluarga pasien Sumber Social Patologi Interaksi yang baik antara anggota keluarga juga dengan Ket -

masyarakat sekitar. Keluarga pasien sering mengikuti kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekitar tempat tinggal Cultural Keluarga pasien sering mengikuti acara-acara yang bersifat hajatan, yasinan, dan lain lain. Menggunakan bahasa jawa dalam percakapan sehari hari Pasien aktif mengikuti kegiatan pengajian yang berada dilingkungan tempat tinggalnya. Ekonomi keluarga berada pada kelas menengah kebawah, sehingga hanya cukup untuk memenuhi keutuhan sehari- hari. -

Religion

Economic

Education Pendidikan pasien dan anaknya tergolong rendah. Mereka hanya tamatan SD. Mereka juga kurang paham terhadap cara hidup sehat. Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga menggunakan pelayanan puskesmas dan menggunakan kartu Jamkesmas untuk berobat.

Keterangan : 1. Economic (+) artinya ekonomi keluarga pasien masih tergolong rendah, namun untuk memenuhi kebutuhan primer masih bisa tercukupi. 2. Education (+) artinya keluarg Ny. S masih memiliki pengetahuan yang kurang, khususnya mengenai permsalahan kesehatan Kesimpulan : Dalam keluarga Tn. S fungsi patologis yang positif adalah fungsi Fungsi Ekonomi dan Edukasi. D. GENOGRAM Alamat : Suro RT 4 RW 4 Kec : Kalibagor

Kab : Banyumas Prop : Jawa Tengah Bentuk Keluarga : Nuclear Family Genogram keluarga Ny. S sebagai berikut :

60 th

Ny. S

Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Tinggal dalam satu rumah : Pasien penderita diare akut

Gambar 3.1. Genogram Keluarga Ny. S

E. Pola Interaksi Keluarga

Ny. S

Nn. R

Keterangan :

hubungan baik Gambar 3.2. Pola Interaksi Keluarga Ny. S

Kesimpulan : Hubungan antara Ny. S dengan anak perempunnya Nn. R yang tinggal serumah cukup harmanis.

BAB IV IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga 1. Faktor Perilaku

Pasien kurang menerapkan hidup bersih dan sehat dengan baik. Pasien jarang membersihkan rumahnya, sehingga debu yang berada dalam rumah cukup tebal. Setiap harinya, pasien memasak dengan menggunakan tungku dan kayu bakar. Pasien tidak tahu bahwa debu dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu dapat memicu timbulnya asma. Pasien tidak begitu tahu tentang penyakit asma yang dideritanya, sehingga kurang bisa mencegah faktor pencetus apa saja yang perlu dihindari. Selain itu pasien dan keluarganya tidak pernah berolahraga.

2. Faktor Non Perilaku Rumah yang dihuni pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat, banyak debu dilantai dan dinding yang tidak dibersihkan. Rumahnya juga terlihat lembab karena ventilasi yang cukup kurang disetiap ruangan. Pekerjaan pasien sebagai petani juga merupakan faktor risiko terjadinya asma. Setiap harinya pasien pergi kesawah dan kebun yang membuat pasien terpapar oleh debu dan dingin. Status sosial ekonomi pasien yang berasal dari golongan ekonomi menengah keatas, membuat kebutuhan makan pasien tidak terpenuhi dengan baik.

Faktor Perilaku

Faktor non perilaku Sosial ekonomi rendah

Tidak menjaga kebersihan rumah

Kurang mengerti tentang asma Tidak berolahraga Ny. S 60 tahun menderita asma Rumah tidak sehat

Memasak dengan kayu bakar

Pekerjaan petani

Gambar 4.1. Faktor Perilaku dan Non Perilaku

B. Identifikasi Lingkungan Rumah 1. Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 9 x 12 m2. Depan rumah pasien merupakan lahan yang sudah dicangkul dan siap ditanami untuk pertanian. Rumah pasien terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, dan satu dapur. Rumah pasien memiliki atap genting dan dinding dari papan kayu. Lantai rumah pasien terbuat dari ubin, sedangkan dapur berlantai tanah

2. Denah Rumah

9m2

dapur

Lahan pertanian

kamar

kamar

12 m2

Ruang tamu

Gambar 4.2. Denah Rumah Pasien

BAB V DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. Problem List MASTER PROBLEM LIST Prob lem Num ber Approx. Date of Onset Date Problem Recorded Active Problems Inactive/R esolved Problems Date Resolved

30/ 10/2012

3/10/2012

Asma

2 3 1998

3/10/2012 3/10/2012

Alergi dingin (batuk) Benjolan di rahim 1998

4 5

2000 2009

3/10/2012 3/10/2012

Polip DBD

2000 2009

B. Masalah non medis 1. Kurang pengetahuan tentang penyakit asma. 2. Kondisi rumah yang berdebu dan kurang ventilasi 3. Memasak menggunakan tungku kayu bakar 4. Jarang berolahraga

5. Pekerjaan sebagai petani 6. Ekonomi keluarga rendah

C. Diagram Permasalahan Pasien


Pengetahuan tentang penyakit kurang
Kondisi rumah

tidak sehat

Jarang berolahraga

Memasak dengan tungku dan kayu

Ny. S, 60 tahun Menderita asma

Pekerjaan sebagai petani

Ekonomi keluarga menengah kebawah

D. Matrikulasi Masalah Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. No Daftar Masalah P 1. Ny. S. Serta kurang tentang 4 I S 5 SB 2 5 T Mn 5 R Mo Ma 5 5 Jumlah IxTxR 6875

keluarganya pengetahuan penyakit asma. 2.

Rumah Ny. S yang belum mrmenuhi

162

kriteria rumah sehat 3. Ny. S dan keluarga memasak menggunakan kayu bakar. 4. Ny. S Tidak pernah berolahraga. 4 4 1 5 5 5 4 630 tungku 4 5 1 4 4 1 4 360

Keterangan : I : Importancy (pentingnya masalah)

P : Prevalence (besarnya masalah) S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) T : Technology (teknologi yang tersedia) R : Resources (sumber daya yang tersedia)

Mn : Man (tenaga yang tersedia) Mo : Money (sarana yang tersedia) Ma : Material (pentingnya masalah) Kriteria penilaian : 1 2 3 4 5 : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting

E. Prioritas Masalah Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah : 1. Ny. S. serta keluarganya kurang pengetahuan tentang penyakit asma. 2. Ny. S jarang berolahraga 3. Ny. S dan keluarga memasak menggunakan tungku kayu bakar 4. Kondisi lingkungan sekitar rumah Ny. S yang lembab, ventilasi dan sirkulasi udara rumah Ny. S kurang. Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil adalah kurang pengetahuan Ny. S dan keluarganya tentang penyakit asma. Pasien dan keluarga belum mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan kekambuhan penyakit asmanya. F. Rencana Pembinaan Keluarga

1. Tujuan Tujuan Umum Meningkatkan kesehatan penderitan dan anggota keluarga. Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan mengenai asma dan cara penanganan penyakit.

2. Cara Pembinaan Pembinaan dilakukan di rumah pasien dengan cara memberikan edukasi pada penderita dan keluarga. Penyuluhan dan edukasi dilakukan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah diterima oleh pasien dan keluarga.

3. Materi Pembinaan Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel tubuh yang berperan. Faktor risiko asma dibagi menjadi 2 yaitu genetik dan lingkungan : Genetik : 1. Alergi Keadaan genetik yang berhubungan dengan terjadinya asma yaitu alergi. Apabila seseorang telah mempunyai riwayat alergi sebelumnya, maka akan lebih mudah terkena asama. 2. Hiperaktifitas bronkus Hiperaktifitas bronkus merupakan keadaan dimana saluran nafas sensitif terhadap rangsangan ataupun iritan. 3. Obesitas Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya asma, mediator tertentu seperti leptin, berhubungan dengan terjadinya asma. Lingkungan : 1. Alergen dalam rumah Contohnya debu, bintang piaraan. 2. Alergen luar rumah Contohnya serbuk sari, jamur. Faktor lainya : 1. Makanan, seperi susu, telur, udang, kepiting. 2. Alergi obat- obat tertentu, seperti penisilin. 3. Ekspresi emosi berlebihan, misalnya saja stress yang berlebih.

4. Asap rokok. 5. Perubahan cuaca, cuaca yang dingin dan lembab menjadi faktor pencetus. 6. Ekonomi yang rendah. Penanganan serangan asma dirumah : Pengobatan Awal Inhalasi Agonis 2 kerja singkat (salbutamol 5 mg) setiap 20 menit 3 x dalam 1 jam atau Bronkodilator oral

Respon Baik 1. Lanjutkan Agonis 2 kerja inhalasi setiap 3-4 jam untuk 24-48 jam 2. Steroid inhalasi diteruskan dengan dosis tinggi selama 2 minggu, kemudian kembali kedosis sebelumnya 3. Hubungi dokter untuk instruksi selanjutnya 4. Sasaran Pembinaan Sasaran dari pembinaan yang akan dilakukan adalah pasien beserta seluruh anggota keluarga pasien, berjumlah 2 orang. Respon Buruk 1. Tambahkan kortikosteroid oral 2. Agonis 2 diulang 3. Segera ke dokter/RS

5. Waktu dan Tampat Pembinaan Sabtu, 10 November 2012 pukul 09.30 bertempat dirumah pasien desa Suro RT 04 RW 04, Kalibagor, Banyumas. 6. Cara Evaluasi Pembinaan Tanya jawab seputar definisi penyakit, faktor penyebab dan penangan penyakit dirumah. Sebelum edukasi dilakukan pretest kepada pasien dan anaknya yang tinggal serumah. Adapun pertanyaan tersebut adalah 1) Penyakit apakah yang diderita oleh Ny. S? 2) Faktor apasaja yang mempengaruhi munculnya penyakit Ny. S?

3) Bagaimana penanganan dirumah jika kambuh? Ketiga pertanyaan yang telah diajukan, Ny. S sama sekali tidak dapat menjawab. Sedangkan anak perempuannya, Nn. R sedikit dapat menjelaskan tentang faktor yang mempengaruhi penyakit asma. Tabel 5.2 Skoring jawaban pertanyaan (pretest) Pertanyaan 1 2 3 Skor Ny. S X X X 0 Nn. R X X 1

Setelah dilakukan edukasi kepada pasien dan anaknya, kemudian diajukan pertanyaan yang sama sebelum dilakukan edukasi untuk

mengevaluasi apakah penyampaian edukasi dimengerti oleh seluruh anggota keluarga sehingga diharapkan dapat merubah perilaku anggota keluarga.

Tabel 5.3 Skoring jawaban pertanyaan (post-test) Pertanyaan 1 2 3 Skor Ny. S 3 Nn. R 3

Perubahan skor dari prt-est ke post-test menunjukkan bahwa pasien dan anaknya telah mengerti tentang materi yang disampaikan. Dengan ini, diharapkan pasien dan keluarga dapat meningkatkan hidup sehat dan bersih, serta dapat melakukan penangan terhadap penyakit asma apabila terjadi kekambuhan.

7. Pembinaan Keluarga yang telah dilakukan Tanggal Kegiatan yang dilakukan Anggota keluarga yang terlibat Hasil kegiatan Catatan untuk pembinaan selanjutnya 3 November 2010 1. Perkenalan penyampaian maksud dan tujuan. 2. Mengatur pertemuan selanjutnya 10 November 2010 1. Mencari penyebab nafas . 2. Menilai fungsi tahu sesak Pasien dan anak Didapatkan beberapa faktor risiko yang jadwal dan Pasien dan anak Pasien menerima.

berhubungan dengan pasien. Didapatkan gambaran kehidupan pasien hari seharisakit

keluarga pasien. 3. Menilai keadaan

pasien dan keluarga secara menyeluruh. 4. Menilai tinggal tempat dan

lingkungan pasien.

11 November 2010

1.

Pre test pasien dan keluarga lisan. secara

Pasien dan anak

Dengan edukasi yang dilakukan, pengetahuan

2.

Edukasi

tentang

pasien

dan

penyakit asma. 3. Post test pasien dan

anaknya tentang penyakit asma

keluarga lisan.

secara

lebih baik.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Diagnosis Holistik 1. Aspek Personal Reason for encounter: Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 1 hari yang lalu. Idea Concern : pasien berharap penyakitnya segera sembuh. : pasien menginginkan perhatian dari keluarganya untuk mendukung pengobatannya, mendukung dirinya dalam mengendalikan penyakitnya . Expectacy : pasien mempunyai harapan penyakitnya segera sembuh dan dapat beraktifitas dengan normal. Anxiety : pasien takut akan kondisi kesehatannya yang belum

stabil dan pasien khawatir kalau sasak nafasnya akan kambuh kembali. Aspek Klinis Diagnosis Diagnosis Banding : Status asmatikus :Asma bronkial, PPOK, Bronkitis, Gagal jantung kongestif. 2. Aspek Faktor Risiko Internal a. b. Pasien memiliki riwayat alergi dingin. Pasien tidak pernah berolahraga.

c.

Tingkat pengetahuan pasien tentang kesehatan dan kebersihan masih kurang

d.

Tingkat pemahaman dan pengetahuan pasien tentang penyakit asma masih kurang.

3. Aspek Faktor Risiko Eksternal a. b. c. Rumah pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat. Rumah pasien jauh dari tempat pelayanan kesehatan. Pekerjaan pasien sebagai petani.

4. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial Mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit (tidak ada kesulitan). Sehingga skala fungsi sosial Ny. S adalah 1. Saran Untuk mengatasi kasus yang diderita oleh pasien maka : 1. Keluarga harus memberi dukungan sepenuhnya agar pasien dapat berusaha menyembuhkan tanpa putus asa. 2. Menjelaskan bahwa penyakit asma tidak dapat di sembuhkan, tetapi dapat dicegah kejadiannya dengan menghindari alergen, pola hidup sehat dan istirahat cukup. 3. Perbaikan kondisi ventilasi rumah pasien, agar pertukaran udara di dalam rumah pasien lancar. 4. Menghentikan penggunaan memasak menggunakan tungku kayu bakar. 5. Menyarankan pasien untuk berolahraga aerobik minimal 3 kali dalam seminggu selama 30 menit.

DAFTAR PUSTAKA

Mangunrejo,

Hadiarto,

dkk.

2004.

Asma

Pedoman

Diagnosis

dan

Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta : FKUI. Meiyanti. Perkembangan patogenesis dan pengobatan Asma Bronkial. Tersedia di www.univmed.org diakses pada tanggal 1 November 2012. Rengganis, Iris. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Tersedia di isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal diakses pada tanggal 1 November 2012. Sundaru, Heru. 2006. Asma Bronkial. Jakarta :FKUI.