Anda di halaman 1dari 8

22

BAB IV DASAR PENEGAKKAN DIAGNOSIS DAN DASAR RENCANA PENATALAKSANAAN

4.1

DASAR PENEGAKKAN DIAGNOSIS Mual dan muntah merupakan gejala dan tanda yang sering menyertai

gangguan gastrointestinal,demikian juga dengan penyakit-penyakit lain. Muntah dianggap penting karena karena menjadi indikator berbagai keadaan, seperti obstruksi usus, infeksi, nyeri, penyakit metabolic, kehamilan, penyakit labirin dan vestibular, substansi emetik eksogen seperti racun, uremia atau gagal ginjal, penyakit radiasi, kondisi psikologis, migren, infark miokard, dan sinkop sirkulatorik. Mual dan muntah dapat terjadi akibat banyak jenis penyakit sehingga penting untuk membedakan antar gejala-gejala yang khas. Gejala yang timbul dalam beberapa jam atau hari dapat menunjukkan adanya infeksi akut, penyakit peradangan, atau kehamilan. Mual dan muntah yang berlansung selama beberapa minggu dapat menunjukan adanya penyebab obstruktif, karsinogenik, atau psikogenik. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah waktu mual dan muntah, kaitan dengan makanan, isi dan bau muntah, dan gejala yang terkait seperti nyeri, penurunan berat badan, demam, menstruasi, massa abdomen, ikterik, sakit kepala, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi penegakkan diagnosis dan pengobatannya. Muntah juga dapat menyebabkan timbulnya penyulit yang mengancam jiwa karena berkaitan dengan system saraf simpatis dan otonom. Mual dan muntah juga berpengaruh pada cairan dan elektrolit tubuh.

23

Macam-macam diagnosa dengan keluhan mual, muntah dan nyeri perut :

24

No. 1.

Diagnosa Gastritis

Tanda dan Gejala - Keluhan abdomen yg tidak jelas (anoreksia, berderdawa, mual) - Nyeri panas & pedih pada region epigastrium - Muntah - Perdarahan - Hematemesis

Etiologi - Endotoksin (setelah menelan makanan terkontaminasi) - Kafein - Alcohol - Aspirin - Infeksi H.pylori

2.

Ulkus Peptikum

- Anoreksia - Penurunan berat badan - Nyeri epigastrium intermiten kronis yg secara khas akan mereda setelah menelan antacid - Nyeri biasanya timbul 2-3 jam setelah makan atau ppada malam hari sewaktu lambung kosong - muntah berwarna merah atau seperti kopi

3.

Dispepsia Fungsional

- Nyeri epigastrium disertai nyeri di malam hari - Meteorismus - Mual - Cepat kenyang

- Aktivitas pencernaan peptic oleh getah lambung - Infeksi H.pylori - Sekresi bikarbonat mukosa - Genetik - Stres - Berbagai penyakit (pancreatitis kronis, hiperparatiroidis me, sindrom Zollinger Ellison) - Hipersekresi asam lambung - Infeksi H.pylori - Dismotilitas gastrointestinal - Hipersensitivitas viseral - Infeksi Salmonella thypi

Pemeriksaan Penunjang Gambaran endoskopi : eritema, eksudatif, flat-erosion, raised erosion, perdarahan, edematous ruggae, ditemukan H. pylori. Perubahan histologis berupa degradasi epitel, hyperplasi foveolar, infiltrasi netrifil, inflamasi sel mononuclear, folikel limpoid, atropi, intestinal metaplasia, hyperplasia sel endokrin & kerusakan sel parietal. - Serologi positif pada uji napas urea - Pemeriksaan barium radiogram terdapat nodular - Pemeriksaan endoskopi

4.

Thypoid Fever

- Masa inkubasi (101 2 h a r i ) anorexia (tidak nafsu makan),

- Pemeriksaan pHmetri untuk menilai peningkatan sekresi asam lambung - Skintigrafi untuk melihat waktu pengisian lambung - Tes Widal positif

25

rasa malas, sakit kepala bagian depan, lidah kotor, nyeriotot, kadang disertai batuk dan gangguan perut - Masa minggu pertama gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39C40C, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi a n t a r a 8 0 100 kali permenit, denyut lemah, perut kembung, sedangkan diare & s e m b e l i t berganti

4.2

PENATALAKSANAAN A. Terapi Farmakologi 1. Ondansetron Ondansetron adalah derivate carbazalone yang strukturnya
3

berhubungan dengan serotonin dan merupakan antagonis reseptor 5-HT

subtipe spesifik yang berada di CTZ dan juga pada aferen vagal saluran cerna, tanpa mempengaruhi reseptor dopamine, histamine, adrenergik, ataupun kolinergik. Obat ini memilki efek neurologikal yang lebih kecil dibanding dengan Droperidol ataupun Metoklopramid. Ondansetron efektif bila diberikan secara oral atau intravena dan mempunyai bioavaibility sekitar 60% dengan konsentrasi terapi dalam darah muncul tiga puluh sampai enam puluh menit setelah pemakaian. Metabolismenya di dalam hati secara hidroksilasi dan konjugasi dengan glukoronida atau sulfat dan di eliminasi cepat didalam tubuh, waktu

26

paruhnya adalah 3-4 jam pada orang dewasa sedangkan pada anak-anak dibawah 15 tahun antara 2-3 jam. Efek samping yang sering timbul pada dosis terapi adalah sakit kepala dan konstipasi, lemas, peningkatan enzim hati. Aritmia jantung dan AV blok telah dilaporkan setelah pemakaian Ondansetron dan Metoklopramid. Iskemia jantung akut yang berat telah dilaporkan pada pasien tanpa kelainan jantung. Kontraindikasi Ondansetron adalah selain pada pasien yang

hipersensitivitas terhadap obat ini, juga pada ibu hamil ataupun yang sedang menyusui karena mungkin disekresi dalam asi. Pasien dengan penyakit hati mudah mengalami intoksikasi, tetapi pada pasien yang mempunyai kelainan ginjal agaknya dapat digunakan dengan aman. Dosis Ondansetron 4-8 mg IV sangat efektif, sedangkan sebagai profilaksis dosis 1-8 mg IV sangat efektif. 2. Ranitidin Ranitidin merupakan salah satu jenis obat dari golongan antagonis reseptor AH2. Ranitidin menghambat reseptor AH2 secara selektiv dan reversible. Peransangan sekresi AH2 akan meransang sekresi asam lambung, sehingga pada pemberian ranitidine asam lambung dihambat. Rantidin efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat penyembuhannya. Dengan dosis lebih kecil umumnya dapat membantu mencegah kambuhnya tukak duodenum. Insiden efek samping ranitidine rendah dan umumnya berhubungan dengan penghambatan reseptor H2. Beberapa efek samping lain tidak berhubungan dengan penghambatan reseptor. Efek samping ini natara lain nyeri kepala, pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam kulit, pruritus, kehilangan libido dan impoten. 3. Rocer (Omeprazol) Omeprazol merupakan salah satu jenis obat dari golongan penghambat pompa proton (PPI). Penghambat proton proton merupakan penghambat

27

sekresi asam lambung lebih kuat dari AH2. Obat ini bekerja di proses terakhir produksi asam lambung, lebih distal dari AMP. Produksi asam lambung terhenti 80%-90%, setelah penghambatan pompa proton tersebut. Penghambatan berlansung lama antara 24-48 jam dan dapat menurunkan sekresi asam lambung basal atau akibat stimulasi, lepas dan jenis peransangnya histamine, asetilkolin atau gastrin. Bioavailabilitasnya akan menurun sampai dengan 50% karena pengaruh makanan. Oleh sebab itu sebaiknya diberikan 30 menit sebelum makan. Indikasi penghambat pompa proton sama dengan AH2 yaitu pada penyakit peptic. Efek samping yang umum terjadi adalah mual, nyeri perut, kostipasi, flatulence dan diare. Dilaporkan pula terjadi myopati subakut, artralgia, sakit kepala dan ruam kulit. Omeprazol tersedia sebagai kapsul 10 mg dan 20 mg, diberikan 1 kali/hari. Penggunaan terlama obat ini adalah 8 minggu. 4. Librax (Klidinum bromide 2,5 mg, Klordiazepoksid 5 mg, 279 mg karbohidrat) Klidinum merupakan salah satu obat dari golongan antikolinergik. Antikolinergik digunakan untuk menghambat motilitas lambung dan usus. Terutama dipakai pada ulkus peptikum dan sebagai pengobatan simtomatik pada berbagai keadaan misalnya disentri, colitis, diverkulitis dan kolik karena obat atau sebab lainnya. Klidinum biasanya tersedia dalam kombinasi dengan penenang. Klordiazepoksid merupakan salah satu obat dari golongan aniansietas. Antiansietas terutama berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit psikoneurosis dan berguna untuk terapi tambahan penyakit somatic dengan ciri ansietas dan ketegangan mental 5. Progesic (Parasetamol 500 mg) Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu

menghilngkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek antiinflamasinya sangat lemah. Parasetamol merupakan penghambat

28

biosentesis prostaglandin yang lemah. Efek iritasi, erosi dan lambung tidak terlihat, demikian juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asam basa. Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Indikasi parasetamol digunakan sebagai analgesik dan antipiretik. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena kemungkinan mengakibatkan nefropati analgesik. Efek samping yang ditimbulkan seperti reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritema atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/5 mL. Dosis parasetamol untuk dewasa 300 mg-1 gr perkali, dengan makimum 4 gr per hari. Penggunaanya diberikan maksimal 6 hari. 6. Propepsa (Sukralfat 500 mg) Sukralfat bekerja sebagai sawar terhadap HCl dan pepsin ini turatama efektif terhadap tukak duodenum. Karena suasana asam perlu untuk mengaktifkan obat ini, pemeberian bersama AH2 atau antasidmenurunkan biovailabilitas. Sukralfat sama efektifnya dengan simetidin untuk pengobatan tukak lambung dan tukak duodenum. Efek samping yang ditimbulkan dan yang paling sering terjadi adalah konstipasi. Karena sukralfat mengandung alumunium, penggunaan pada pasien gagal ginjal harus hati-hati. Data keamanannya pada wanita hamil belum ada jadi sebaiknya tidak digunakan. Sukralfat dapat mengganggu absorpsi tetrasiklin, warfarin, fenitoin dan digoksin, sehingga dianjurkan untuk diberikan dengan interval 2 jam. Sukralfat juga menurunkan bioavailabilitas siprofloksasin dan

29

norfloksasin, sehingga untuk menghindari kegagalan pengobatan dengan antibiotika ini, jangan diberikan secara bersamaan. Dosis untuk dewasa pada kasus tukak duodenum dan tukak peptic 1 gr, 4 kali sehari dalam keadaan lambung kosong (1 jam sebelum makan). 7. RA (Ringer Asering) Ringer asering dapat digunakan pada keadaan dehidrasi (syok

hipovolemik dan asidosis), gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma. Komposisi: Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq K 4 mEq Cl 109 mEq Ca 3 mEq Asetat (garam) 28 mEq

B. Terapi Non-farmakologi 1. Diet makan rendah serat selama keluhan mual dan muntah masih terjadi. 2. Minum air putih minimal 2 L gelas per hari. 3. Hindari makan makanan pedas, asam, santan dan makanan yang sulit dicerna.