Anda di halaman 1dari 6

Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses pencampuran (mixing) dan pendesakan (displacement) bubur semen (slurry)

melalui casing sehingga mengalir ke atas melewati annulus di belakang casing sehingga casing terikat ke formasi . Pada umumnya penyemenan bertujuan untuk melekatkan casing pada dinding lubang bor, melindungi casing dari masalah-masalah mekanis sewaktu pemboran berlangsung (seperti torsi yang tinggi dan lain-lain), melindungi casing dari fluida formasi yang bersifat korosif dan untuk memisahkan zona yang lain di belakang casing. Penyemenan merupakan faktor yang paling penting dalam operasi pemboran sehingga dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan permasalahan secara mekanis sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya.

KASUS 1. SISTEM PENYEMENAN CASING

Anullus

Anullus

200 m h

Pipa Casing yang memiliki jari-jari r ini masuk ke dalam sumur bor dan ingin dilakukan semenisasi, dan ditempatkan pada kolom disamping pipa yang biasa disebut dengan Anullus. Agar proses penyemenan bisa dilakukan sampai mencapai ketinggian h, kita bisa menggunakan tekanan hidrostatik pada casing, sehingga semen dapat terdistribusi secara merata di kedua kolom Anullus setinggi h.

Persamaan Hidrostatik

Ket : PH Semen h g : Tekanan Hidrostatik (N / m2) : Massa Jenis Semen (Kg / m3) : Ketinggian Semen Pada Anullus (m) : Percepatan Gravitasi ( m /s2)

Seberapa banyak semen (Kg) yang digunakan untuk melakukan penyemenan juga dapat kita hitung menggunakan persamaan hidrostatik diatas.

Sedangkan untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk melakukan penyemenan pada anullus : Semakin besar tekanan hidrostatik PH yang diberikan pada casing, maka akan mempercepat aliran semen ke daerah Anullus. Dengan menggunakan perhitungan debit semen Q yang mengalir ke Anullus :

KASUS 2. PENGEBORAN RESERVOIR GAS Karakterisitik Gas Pada Sumur Gas merupakan jenis fluida yang dapat dimampatkan dari tekanan dan temperatur gas itu sendiri. Untuk mengetahui perilaku gas pada sumur dapat kita gunakan persamaan gas ideal :

KOLAM LUMPUR

Anullus Anullus

Injeksi Lumpur

Driller 200 m h

Pada kasus kedua ini, pengeboran dilakukan hingga kedalaman tertentu, dimana pada ketinggian tertentu tersebut ditemukan sumber gas. Proses pengeboran ini akan selalu di injeksikan lumpur atau air, hal ini dilakukan agar material tanah tidak mengganggu proses drill dan memudahkan kita untuk mengangkat material tersebut dan membuangnya ke kolam pembuangan lumpur. Ketika mencapai sumber gas, maka gas tersebut akan naik ke atas. 1. Yang harus dilakukan dalam proses pengeboran ialah dengan mengetahui terlebih dahulu jenis pengoboran yang dilakukan. Ada dua jenis pengeboran, yaitu eksplorasi dan eksploitasi. Variabel yang menjadi perhitungan salah satu contohnya, dimulai dari perhitungan ketinggian atau kedalaman pengeboran. Seiring dengan penambahan kedalaman, tentu semakin dalam tekanannya semakin tinggi. Untuk pengeboran eksploitasi, menentukan letak pengeboran berdasarkan referensi dari hasil pengeboran sumur sekitar yang sudah menghasilkan atau berproduksi. Sementara itu, pengeboran eksplorasi berdasarkan hasil data seismik, topografi, patahan serta sifat kandungan yang berada di dalam lapisan bumi, apakah ada lapisan batubara, lapisan basement (lapisan keras), lapisan scale (lapisan sisik) dan lain sebagainya. Sehingga ketika bertemu dengan lapisanlapisan tersebut dapat diketahui berapa perkiraan kekuatan tekanan yang berada di masing-masing lapisan. Selanjutnya pada proses pengeboran, agar tekanan di bawah tidak lebih tinggi, distabilkan menggunakan mud (lumpur) yang dikondisikan sesuai dengan kondisi permukaan atau formasi lapisan yang akan ditembus. 2. Yang menyebabkan terjadinya penyemburan gas meliputi beberapa

kemungkinan. Pertama, pada saat menembus suatu formasi lapisan tertentu, ternyata mengandung tekanan yang relatif tinggi dan kemungkinan formasi tidak seragam. Kedua, lumpur yang digunakan pada saat pengeboran ternyata tidak bisa mengimbangi tekanan dari dalam formasi tadi karena didalamnya ada pore pressure (lubang tekanan) yang terjebak di formasi itu sendiri, membentuk seperti kantung dan begitu kantung yang berisi tekanan tersebut pecah, gas yang ada di pore pressure berpencar secara ekspansif ke atas. Sehingga, tekanan lumpur yang tidak dapat mengimbangi tekanan

formasi yang datang tiba-tiba menyebabkan penyemburan ke atas yang tidak terkendali. 3. Yang harus dilakukan agar gas tidak menyembur keluar adalah

menggunakan mud (lumpur). Penanganan pertama mencegah well problem yang praktis adalah menggunakan mud (lumpur). Kedua blowout preventer yaitu alat secondary yang tujuannya untuk menutup maupun mengalirkan tekanan yang berada di lubang dan diarahkan ke suatu titik agar tekanan yang tidak terkendali di dalam sumur bisa dikendalikan. Salah satu caranya bisa dengan dibakar. Selam proses pengendalian tersebut, kita melakukan secara sequent (berturut-turut) dengan menambahkan aditif, menambah berat lumpur, dan lain sebainya. Sehingga kita bisa melakukan proses netralisasi tekanan sumur yang datang secara tiba-tiba. Penentuan lumpurnya tergantung pada tingkat kedalaman. Semakin dalam sumur, tekanan yang dihasilkan semakin besar. Sehingga, untuk menetralisasinya perlu lupur yang memiliki spesifikasi sama dengan besaran tekanan tadi. Untuk menentukan lumpur yaitu tergantung pada formasi yang dihadapi. Jenisnya bermacammacam. Beberapa komposisi mud yang perlu ditambahkan ditentukan berdasarkan viscositas, keseimbangan asam, temperatur, kandungan atau daya menyerap air, dan lain-lain. 4. Cara mengatasi tekana gas pada titik pusat kick dengan melakukan pemboran miring atau perforasi pada lapisan layer / lithology yang sama dengan cara simulasi injeksi water jetting yaitu dengan menyemprot air dengan tekan tinggi untuk mengurangi efek penyemburan dari bawah yang diikuti penginjeksian kembali lumpur berat. 5. Massa jenis lumpur yang baru didapatkan dari data lumpur / data drilling yang didapat dari hasil pemboran sumur yang dekat. Massa jenis lumpur yang baru tergantung formation pressure dan fracture gradient dari hole section yng sedang dibor. Gunanya untuk hole stability dan mencegah kick / blow out, massa jenis lumpur bor merupakan salah satu sifat lumpur yang sangat penting karena peranannya berhubungan secara langsung dengan fungsi lumpu bor sebagai penahan tekanan formasi. Apabila densitas lumpur bor terlalu besar maka akan hilang ke formasi, sedangkan densitas yang terlalu kecil akan menyebabkan terjadinya kick bahkan semburan liar. Tekanan formasi umumnya adalah sekitar 0,465 psi/ft. Pada tekanan yang normal air

dan padatan pada pemboran telah dapat untuk menahan tekanan formal ini. Alat untuk mengukur densitas lumpur adalah mud balance. 6. Tekanan hidrostatik lumpur dapat dihitung melalui persamaan ini : HP = TVD x MW x 0,52. Ket : HP = Tekanan Hidrostatik (psi), TVD = Kedalaman Vertikal (ft), MW = Densitas lumpur (ppg)

Selain menggunakan metode diatas kita dapat mengontrol gelembung gas dengan menggunakan persamaan di bawah ini :

Ket :

H G TD

= Tinggi gelembung gas (ft) = Gradien gas (0,05 0,15 psi/ft) = Kedalaman Lubang (ft)

CSD = Kedalaman Casing (ft) pm FG pf = Densitas Lumpur (ppg) = Fracture gradient (ppg) = Pore Pressure (psi)