Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN ACARA 2

PETA KERJA UNTUK EVALUASI TATA LETAK AWAL

KELOMPOK A6 ANGGOTA Febriana Kumala D. Arief Maharani Riska Dian Nur L. Devira Setyastuti Co. Ass Ciptaning Cahyaningrum 11/311492/TP/09950 11/311591/TP/09963 11/311902/TP/09980 11/312278/TP/10006

LABORATORIUM SISTEM PRODUKSI JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peta kerja merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas. Melalui peta ini dapat dilihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu bahan mulai dari masuk ke pabrik (berbentuk bahan baku), yang menggambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan, sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap atau merupakan bagian dari suatu produk lengkap. Pembuatan peta kerja sangat penting karena berdasarkan peta kerja yang dibuat dapat dianalisis tata letak suatu industri yang menjadi objek kajian, misal pada objek kajian tersebut proses yang terjadi belum efektif dan efisien misal dalam hal proses operasi, aliran proses serta diagram aliran bahan. Peta proses operasi mencakup semua proses yang terjadi pada bahan yang diolah dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Peta aliran proses menggambarkan proses operasi namun lebih lengkap. Pada peta aliran proses, terdapat proses transportasi dan delay. Sedangkan diagram alir menggambarkan aliran perpindahan bahan yang terjadi dalam industri tersebut. Oleh sebab itu praktikan melakukan analisis terhadap peta kerja agar dapat dilakukan evaluasi terhadap tata letak dari industri yang dijadikan sebagai objek kajian praktikan. Dengan membuat peta kerja dari tata letak awal industri tersebut, maka praktikan dapat melakukan evaluasi tata letak awal yang sudah ada sehingga diharapkan tata letak industri yang menjadi objek kajian dapat menjadi lebih baik.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum tata letak dan penanganan bahan acara 2 yang berjudul Peta Kerja untuk Evaluasi Tata Letak Awal adalah: 1. Praktikan dapat membuat peta kerja seperti peta proses operasi, peta aliran proses, diagram aliran (bagan tali), peta dari-ke, berdasarkan proses produksi yang terjadi, lengkap dengan data peralatan dan waktu proses. 2. Praktikan dapat mengevaluasi tata letak berdasarkan peta kerja yang dibuat. 3. Praktikan dapat menganalisis kelebihan dan kekurangan tata letak yang ada sekarang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Peta kerja merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dengan jelas, dimana dapat digunakan untuk berkomunikasi secara luas, melalui peta kerja ini kita dapat sekaligus memperoleh informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki metode kerja khususnya kerja produksi

(Sutalaksana,1979). Peta proses operasi adalah peta yang menggambarkan urutan operasi yang dilalui suatu produk. Peta proses operasi memperlus peta rakitan dengan menambahkan setiap operasi ke dalam gambaran grafis pola aliran pertama yang telah dikembangkan. Keuntungan dan kegunaan peta proses operasi adalah (Hadiguna, 2008): a. Mengombinasikan lintasan produksi dan peta rakitan, sehingga memberikan informasi yang lebih lengkap. b. Menunjukan operasi yang harus dilakukan setiap komponen. c. Menunjukan urutan operasi tiap komponen. d. Menunjukan urutan fabrikasi dan rakitan tiap komponen. e. Menunjukan kerumitan nisbi fabrikasi tiap komponen. f. Menunjukan hubungan tiap komponen. g. Menunjukan panjang nisbi lintasan fabrikasi dan ruang yang dibutuhkan. h. Menunjukan titik tempat komponen memasuki proses. i. Menunjukan tingkat kebutuhan sebuah rakitan. j. Membedakan antara komponen yang dibeli dan dibuat. k. Membantu perencanaan tempat kerja mandiri. Peta proses operasi (operation process chart) umumnya digunakan untuk menggambarkan urut-urutan kerja khusunya untuk kegiatan-kegiatan yang produktif sja seperti operasi dan inspeksi. Dengan kata lain, pada peta proses operasi, akan menunjukkan langkah-langkah secara kronologis dari semua operasi inspeksi, waktu longgar dan bahan baku yang digunakan di dalam satu proses manufacturing yaitu

dimulai dari datangnya bahan baku sampai ke proses pengemasan (packaging) dari produ jadi yang dihasilkan. Diagram aliran pada dasarnya persis sama dengan peta aliran proses. Hanya saja penggambarannya dilakukan di atas gambar layout dari fasilitas kerja. Tujuan pokok dalam pembuatan flow diagram adalah untuk mengevaluasi langkah-langkah proses dalam situasi yang lebih jelas, di samping tentunya bisa dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan di dalam desain layout fasilitas produksi yang ada. Peta aliran proses adalah suatu peta yang akan menggambarkan semua aktivitas baik produktif maupun tidak produktif yang terlibat dalam proses pelaksanaan kerja (Wignjosoebroto, 1993). Peta Proses Operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkahlangkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan (Ulrich, 2000). Jadi, dalam suatu peta proses operasi yang dicatat hanyalah kegiatan-kegiatan operasi dan pemeriksaan saja. Peta Proses Operasi juga disebut garis bagan proses. Bagan proses operasi memberikan pandangan dari seluruh proses dengan hanya merekam kegiatan utama dan inspeksi yang terlibat dalam proses. Peta Proses Operasi hanya menggunakan dua symbol yaitu operasi dan inspeksi. Peta Proses Operasi sangat membantu untuk (Kumar, 2006): a. Memvisualisasikan urutan lengkap dari operasi dan pemeriksaan dalam proses b. Mengetehui di mana operasi yang dipilih cocok untuk rincian ke dalam seluruh proses c. Dalam Peta Proses Operasi, representasi grafis dari poin di mana bahan diperkenalkan ke proses serta apa operasi dan inspeksi akan ditampilkan pada tampilan peta proses operasi tersebut. Diagram Alir (flowchart) adalah gambar dari rangkaian langkah-langkah dari sebuah proses (Sprankle, 2006). Grafis yang disajikan berupa gambar-gambar notasi yang setiap bentuk memiliki arti tersendiri. Beberapa notasi diagram alir yang umum digunakan untuk pemrograman ditunjukkan oleh Tabel 1.

Ada dua kemungkinan yang menimbulkan perlunya penilaian tata letak (Anonim, 2013): 1. Evaluasi tata letak yang ada dengan tujuan mencari peluang perbaikan. 2. Evaluasi terhadap tata letak alternative untuk suatu masalah atau proyek tunggal. Tetapi untuk melakukan evaluasi dibutuhkan perlakuan-perlakuan yang mencakup: 1. Kriteria yang dikembangkan pada awal proses tata letak. 2. Kriteria tata letak atau ukuran yang menentukan tata letak yang baik.

3. Perbandingan atas modal (ROI) dari fasilitas baru. Pada dasarnya peta-peta bisa dibagi kedalam dua kelompok besar berdasarkan kegiatannya, yaitu (Anonim, 2013): 1. Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja keseluruhan. 2. Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat. Dalam hal ini tentunya kita harus bisa membedakan antara kegiatan kerja keseluruhan dan kegiatan kerja setempat. Disebut keseluruhan jika melibatkan sebagian besar atau semua sistem kerja yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Sementara yang dimaksud dengan kegiatan kerja setempat, apabila hal itu menyangkut hanya satu sistem kerja saja yang biasanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Peta aliran proses (flow process chart) menunjukkan urutan operasi., pemeriksaan, transportasi, menunggu, dan penyimpanan yang terjadiselama proses. Berisi informasi untuk menganalisis tiap komponen atau assembly. Berguna untuk mengetahui aliran bahan mulai masuk proses sampai aktivitas akhir, mengetahui jumlah kegiatan yang dialami bahan selama proses, alat melakukan perbaikan proses atau metode kerja, serta memberi informasi waktu penyelesaian proses (Anonim, 2013). Keuntungan utama dari penggambaran peta aliran proses ini adalah langkahlangkah proses baik yang bersifat produktif (operasi dan inspeksi) ataupun tidak produktif (transportasi, menunggu, dan menyimpan) . Dengan peta aliran proses maka akan dapat diperoleh keuntungan atas perbaikan proses, antara lain (Anonim, 2013): 1. Mengurangi operasi-operasi yang tidak perlu atau mengkombinasikannya dengan operasi yang lain. 2. Mengurangi aktivitas handling yang tidak efisien. 3. Mengurangi jarak perpindahan material dari satu operasi ke operasi yang lain. 4. Mengurangi waktu yang terbuang percuma karena kegiatan yang tidak produktif seperti menunggu atau transportasi.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Pembuatan PPO Pada baris teratas ditulis Peta Proses Operasi, diikuti informasilain seperti nama obyek, nama pembuat peta, tanggal dipetakan, nomor peta

Bahan yang akan diproses ditulis diatas garis horizontal. Jika bahan lebih dari satu, bahan utama atau bahan yang mengalami operasi terbanyak digambarkan di bagian paling kanan kertas.

Digambarkan dengan garis menurun, menunjukkan adanya operasi dan inspeksi yang dialami dengan menggunakan lambang lingkaran dan bujur sangkar. Disebelah kanan lambang lingkaran atau bujur sangkar, dituliskan informasi nama operasi/inspeksi, kondisi operasi, mesin yang digunakan atau stasiun kerja yang melaksanakan operasi/inspeksi. Disebelah kiri lambang bulatan atau bujur sangkar, dituliskan waktu yang diperlukan.

Bahan tambahan yang mengalami operasi/inspeksi digambarkan di sebelah kiri bahan utama/bahan dengan proses terpanjang.

Bahan tambahan yang tidak mengalami operasi (dibeli langsung dipakai) digambarkan langsung di titik bahan tersebut bergabung.

Penomoran kegiatan operasi atau inspeksi dilakukan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi atau inspeksi yang terjadi.

Setelah PPO selesai dibuat, dituliskan ringkasan jumlah kegiatan operasi dan inspeksi

B. Pembuatan PAP Formulir PAP dibuat seperti contoh

Diisi sesuai dengan kegiatan yang diamati

Aliran bahan/orang yang diamati ditentukan

Kolom sebelah kanan dilengkapi dengan data seperti : jarak perpindahan, jumlah orang terlibat, waktu yang dibutuhkan, metode perpindahan, frekuensi pemindahan, nomor departemen, dan lain-lain.

Dilanjutkan ke seluruh proses

Dalam penentuan langkah, diharuskan mengikuti satu orang atau satu obyek saja

Peta dikaji untuk kemungkinan perbaikan

C. Pembuatan Diagram Alir

Dengan menggunakan dengan denah yang sudah diperoleh di acara 1, aliran bahan yang ada diatas denah tersebut digambarkan

Dibuat dengan memindahkan lambang-lambang pada peta aliran proses ke dalam diagram aliran, dari awal sampai akhir proses.

Lambang-lambang dihubungkan dengan garis untuk menunjukkan lintasan perjalanan bahan

Pengamatan dilakukan : Lokasi kritis : banyak garis yang berpotongan yang menggambarkan lintasan pemindahan bahan yang padat Perpindahan bolak-balik (back-tracking)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Peta Proses Operasi (terlampir) 2. Peta Aliran Proses (terlampir) 3. Diagram Alir (terlampir) B. Pembahasan Pada praktikum acara 2 Tata Letak Penanganan Bahan dengan judul Peta Kerja Untuk Evaluasi Tata Letak Awal ini bertujuan untuk dapat membuat peta kerja seperti peta proses operasi, peta aliran proses, diagram aliran (bagan tali), peta dari-ke, berdasarkan proses produksi yang terjadi, lengkap dengan data peralatan dan waktu proses, dapat mengevaluasi tata letak berdasarkan peta kerja yang dibuat dan menganalisis kelebihan dan kekurangan tata letak yang ada sekarang. Objek dalam peta kerja ini adalah proses pembuatan kerupuk yang berada di Jalan Janti Gg. Nuri 66 Gedong Kuning, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Peta kerja merupakan suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas. Dalam peta ini dapat dilihat semua langkah atau kejadian oleh suatu benda kerja dari mulai masuk pabrik (berbentuk bahan baku) kemudian menggambarkan semua langkah yang dialami seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan, sampai akhirnya produk jadi, baik produk lengkap atau merupakan bagian dari suatu produk lengkap. Pada dasarnya, semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan, dengan demikian peta ini merupakan alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga mempermudah dalam perencanaan perbaikan kerja.

Peta kerja adalah alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas sekaligus mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja. Lewat peta kerja dapat diketahui semua langkah kegiatan atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja mulai dari bahan masuk pabrik kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya. Berdasarkan kegiatannya, peta kerja dibagi dalam 2 kelompok, yaitu : 1. Peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja secara keseluruhan: a. Peta Proses Operasi (OPC) b. Peta Aliran Proses (FPC) c. Peta Proses Kelompok Kerja (GPC) d. Assembly Chart (AC) e. Diagram Aliran (FD) 2. Peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat: a. Peta Pekerja dan Mesin b. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan Peta Proses Operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkahlangkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan sejak dari awal sampai menjadi produk jadi utuh dengan menyertakan informasi seperti waktu yang digunakan per operasi, bahan yang digunakan, alat yang digunakan, dan operasi serta inspeksi yang dilakukan. Peta proses kerja menjadi acuan dalam melakukan perancangan tata letak pabrik baru dan pembuatan kerja lainnya, sebagai contoh peta aliran proses. Dalam peta proses operasi, hanya kegiatan yang produktif yang digambarkan, dan semua bahan baku yang digunakan dalam proses produksi dibuat dalam satu peta proses operasi. Peta Aliran Proses suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu, dan penyimpanan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung, serta di dalamnya memuat pula informasiinformasi yang diperlukan untuk analisis seperti waktu yang dibutuhkan dari jarak perpindahan. Pada prinsipnya peta aliran proses hampir sama dengan peta proses

operasi. Perbedaannya hanyalah pada peta aliran proses terdapat kegiatan transportasi dan penundaan (delay) disertai dengan waktu jarak perpindahannya, sedangkan pada peta proses operasi hanya terdapat proses operasi dan inspeksi serta diakhiri dengan penyimpanan. Peta aliran proses dibuat untuk tiap jenis bahan baku sehingga setiap satu bahan baku yang mengalami proses atau inspeksi memiliki satu peta aliran proses. Diagram Aliran merupakan diagram yang menggambarkan langkah-langkah yang digambarkan diatas tata letak yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses. Aktivitas pergerakan suatu material atau orang dari suatu tempat ketempat berikutnya dinyatakan oleh garis aliran dalam diagram tersebut. Arah aliran digambarkan oleh anak panah kecil pada garis aliran tersebut. Tujuan adalah untuk mengevaluasi langkah-langkah proses dalam situasi yang jelas serta dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan didalam desain layout fasilitas produksi yang ada. Dalam diagram aliran ini , hal yang dapat diamati adalah lokasi kritis yaitu diketahui dengan banyaknya garis potong yang menggambarkan lintasan perpindahan bahan yang terdapatnya perpindahan bolakbalik atau disebut dengan Back-Tracking. Peta proses operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkahlangkah proses yang akan dialami bahan-bahan baku mengenai urutan-urutan operasi dan pemeriksaan dari tahap awal sampai menjadi produk jadi atau komponen, dan memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk menganalisis lebih lanjut seperti waktu, material, tempat, alat, dan mesin yang digunakan. Informasi-informasi yang diperoleh dari peta proses operasi memiliki beberapa manfaat antara lain : 1. Mengetahui kebutuhan terhadap mesin dan anggarannya. 2. Memperkirakan kebutuhan terhadap bahan baku dengan memperhitungkan efisiensi tiap operasi dan pemeriksaan. 3. Menentukan tata letak pabrik. 4. Melakukan perbaikan cara kerja yang sedang digunakan. 5. Melatih cara kerja 6. Mengetahui jumlah dan urutan operasi yang harus dilakukan terhadap bahan.

7. Mengidentifikasi kesulitan yang mungkin timbul dalam aliran produksi. Peta proses operasi dapat digambarkan dengan baik apabila menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Membuat judul Peta Proses Operasi dan identifikasi nama obyek, nama pembuat peta, tanggal dipetakan, nomor peta, dan nomor gambar. 2. Material yang digunakan ditempatkan di atas garis horizontal, yang menunjukkan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses. 3. Garis vertikal, menunjukkan adanya operasi dan atau inspeksi yang dialami dengan menggunakan lambang lingkaran dan bujur sangkar. Di sebelah kanan lambang lingkaran atau bujur sangkar, tuliskan informasi nama

operasi/inspeksi, kondisi operasi, mesin yang digunakan atau stasiun kerja yang melaksanakan operasi/ inspeksi. Di sebelah kiri lambang bulatan atau bujur sangkar , tuliskan waktu yang diperlukan. 4. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi. 5. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi. 6. Produk yang biasanya paling banyak memerlukan operasi, harus dipetakan terlebih dahulu dan berarti dipetakan dengan garis vertikal di sebelah kanan halaman kertas. 7. Setelah PPO selesai dibuat, dituliskan ringkasan jumlah kegiatan operasi dan inspeksi. Peta proses operasi dalam pembuatan kerupuk terdiri dari 20 operasi, 18 inspeksi dan 1 penyimpanan. Proses operasi berlangsung selama 1155 menit (19 jam 25 menit). Operasi pertama ialah penimbangan tepung kanji sebagai bahan baku kerupuk yaitu sebanyak 60 Kg, diikuti dengan adanya inspeksi (inspeksi pertama), inspeksi yang dimaksud disini ialah ada pemeriksaan akan berat tepung kanji yang akan di pakai dalam proses pembuatan kerupuk, apakah massa yang dibutuhkan sudah sesuai atau belum. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan.

Operasi ke-2, penimbangan bawang sebanyak 5 Kg sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kerupuk dengan menggunakan timbangan. Terdapat inspeksi (inspeksi ke2) dalam operasi ke-dua ini, yaitu memeriksa massa bawang yang akan dipakai, apakah sudah sesuai. Operasi ke-3, penimbangan ikan laut sebanyak 4 Kg yang juga berperan sebagai bahan tambahan dengan menggunakan timbangan. Ada inspeksi (inspeksi ke-3) dalam operasi ini, pemeriksaan akan massa ikan laut yang di pakai untuk di campur dengan tepung kanji sebanyak 60 Kg. Operasi ke-4, penimbangan garam sebanyak 16 Kg sebagai bahan tambahan dengan menggunakan timbangan. Terdapat inspeksi (inspeksi ke-4) dalam operasi ini, pemeriksaan akan massa garam apakah sudah sesuai atau belum. Operasi ke-5, penimbangan penyedap rasa sebagai bahan tambahan juga. Terdapat inspeksi (inspeksi ke-5) dalam operasi ini, adanya pemeriksaan akan massa penyedap rasa yang digunakan. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan. Kemudian Operasi ke-6, pengukuran volume air sebesar 300 liter dengan menggunakan gelas ukur. Terdapat inspeksi (inspeksi ke-6) dalam operasi ini, inspeksi mengenai volume air yang dipakai apakah sudah cukup atau belum untuk melemaskan adonan. Operasi ke-7, perebusan air dilakukan selama 90 menit. Dalam proses perebusan ini melibatkan operasi dan inspeksi (inspeksi ke7), inspeksi akan mendidihnya air. Masuk ke dalam proses pembuatan kerupuk, langkah-langkah pembuatan kerupuk adalah sebagai berikut: 1. Melakukan penimbangan bahan baku dan bahan tambahan dengan menggunakan timbangan, dalam hal ini melibatkan proses operasi dan inspeksi. 2. Melakukan pencampuran antara bahan baku dengan bahan tambahan dalam bak pencampuran, proses ini merupakan operasi ke-8. Pada pencampuran bahan tidak melibatkan inspeksi melainkan hanya operasi. Operasi pencampuran bahan ini berlangsung selama 15 menit. 3. Bahan-bahan di aduk secara manual selama 30 menit, melibatkan operasi dan inspeksi. Langkah 3 ini merupakan operasi ke-9 dan terdapat inspeksi

(inspeksi ke-8). Inspeksi apakah bahan telah tercampur secara merata dilakukan. 4. Setelah itu, adonan masuk ke dalam proses penggilingan dengan mesin giling yang melibatkan operasi dan inspeksi. Penggilingan merupakan operasi ke-10 dan ada inspeksi (inspeksi ke-9) akan tekstur adonan, apabila tekstur sudah sesuai maka masuk ke dalam proses selanjutnya. Tekstur yang dimaksud adalah sampai adonan menjadi kalis.Proses penggilingan berlangsung selama 40 menit. 5. Pengepresan adonan dilakukan dengan mesin pres, melibatkan operasi (operasi ke-11) dan inspeksi (inspeksi ke-10). Ketebalan yang diinginkan ialah 1 cm, inspeksi dilakukan untuk memeriksa ketebalan adonan yang dihasilkan oleh mesin pres. Apabila adonan terlalu tebal maka pengepresan diulang sebanyak 3 kali pengulangan. 6. Pencetakan kerupuk dengan menggunakan alat pencetak Bossan dilakukan selama 60 menit. Dalam langkah ini melibatkan operasi (operasi ke-14) dan inspeksi (inspeksi ke-13). Adonan dicetak dengan mesin Bossan, ketika hasil cetakan tersebut tidak bagus yaitu kerupuk yang dihasilkan tipis maka dilakukan pemisahan. Bentuk cetakan yang tidak bagus (tipis) diletakkan di bak khusus yang nantinya akan diolah kembali. 7. Hasil cetak yang bagus masuk kedalam proses pengukusan yang melibatkan operasi (operasi ke-15) dan inspeksi (inspeksi ke-14). Pengukusan dilakukan dengan menggunakan ketel uap selama 5 menit. Selama pengukusan dilakukan pemeriksaan akan suhu ketel uap. 8. Penjemuran dilakukan secara manual selama 7 jam. Penjemuran ini dilakukan dengan bantuan sinar matahari, selama penjemuran melibatkan operasi (operasi ke-16) dan inspeksi (inspeksi ke-15). Kerupuk yang dijemur akan diperiksa apakah sudah kering atau belum secara manual. 9. Pengovenan dilakukan untuk mengurangi kadar air kerupuk yang telah dijemur sehingga benar-benar kering. Pengovenan dilakukan menggunakan oven selama 3 jam bahan bakarnya bukan kayu melainkan menggunakan LPG

dan proses pengovenan ini melibatkan operasi (operasi ke-17) dan inspeksi (inspeksi ke-16). Inspeksi dilakukan untuk melihat apakah kerupuk sudah cukup kering atau belum, dan sekaligus dilakukan perollingan, seperti kerupuk yang tadinya diatas di pindah ke bagian bawah, dsb, ini dilakukan supaya semua kerupuk dalam oven keringnya merata. 10. Penimbangan kerupuk dilakukan sebelum dilakukan penggorengan.

Penimbangan dengan timbangan melibatkan operasi (operasi ke-18) dan inspeksi (inspeksi ke-17). Pekerja yang menimbang kerupuk memeriksa apakah kerupuk yang ditimbang sudah sesuai dengan yang diminta atau belum. Penimbangan kerupuk biasanya untuk sekali timbang mencapai 100 kerupuk. 11. Melakukan penggorengan secara manual selama 3 jam dengan minyak goreng dan bahan bakarnya ialah kayu bakar. Terdapat operasi (operasi ke-19) dan inspeksi (inspeksi ke-18) dalam proses penggorengan. Dilihat apakah kerupuk sudah matang dan tidak terlewat matang. 12. Penirisan dilakukan untuk mengurangi kadar minyak pada kerupuk. Penirisan ini berlangsung 1 menit dalam sekali penggorengan dan hanya melibatkan operasi (operasi ke-20). 13. Dilakukan penyimpanan kerupuk, baik dalam rombong atau dalam plastik. Peta aliran proses pada pembuatan kerupuk yang kami kunjungi memiliki beberapa aliran proses menurut bahan-bahannya. Bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan kerupuk adalah tepung tapioka atau tepung kanji, bawang putih halus, ikan laut, garam, penyedap dan air, sehingga apabila dijumlahkan terdapat 6 peta aliran proses. Menurut aliran proses dari keseluruhan bahan, tepung kanji memilik aliran proses yang sangat panjang. Hal ini disebabkan oleh tepung kanji yang merupakan bahan utama dari proses pembuatan kerupuk ini, sedangkan bahan yang lain merupakan bahan tambahan. Jadi peta aliran proses bahan tambahan lebih pendek bila dibandingkan dengan peta aliran proses bahan utama. Peta aliran proses pertama adalah pengolahan bahan tepung kanji dengan aliran yang ada saat ini. Tepung tapioka atau tepung kanji yang sudah ada di lokasi

penyimpanan dipersiapkan terlebih dahulu. Proses persiapan bahan ini memiliki elemen pekerjaan berupa operasi saja. Hal ini dikarenakan pada proses persiapan bahan, tidak terjadi adanya pengukuran ataupun penghitungan, yang terjadi hanyalah mempersiapkan bahan, Kemudian setelah tepung tapioka sudah siap, maka dilakukan pemindahan bahan dari lokasi penyimpanan ke lokasi penimbangan. Pada proses ini ditandai dengan simbuk panah yang berarti transportasi. Transportasi dari lokasi penyimpanan menuju lokasi penimbangan dilakukan secara manual karena jarak antara lokasi penyimpanan dan penimbangan yang sangat berdekatan. Selain itu kedua lokasi tersebut masih dalam satu ruangan. Jarak antara lokasi penyimpanan dengan lokasi penimbangan adalah 1,5 meter dengan waktu tempuh kurang lebih 15 detik untuk satu kali transportasi. Tepung tapioka yang sudah siap di lokasi penimbangan langsung ditimbang. Proses penimbangan ini ditandai denga simbol lingkaran dan persegi empat sama sisi yang berarti operasi dan inspeksi. Terjadinya operasi dan inspesksi dalam satu elemen pekerjaan karena proses penimbangan membutuhkan operasi dari pekerja serta pengecekan ukuran bahan baku yang ditimbang. Pengecekan ini dilakukan untuk menghindari adanya takaran bahan yang salah sehingga mempengaruhi hasil akhir dari kerupuk tersebut. Jumlah tepung tapioka yang ditimbang adalah 60 kilogram dengan waktu 90 detik. Timbangan yang digunakan pada proses ini adalah timbangan yang berukuran besar yang biasanya digunakan untuk mengukur beras. Setelah tepung tapioka ditimbang dan massanya sudah sesuai dengan kebutuhan produksi, kemudian tepung tapioka tersebut dipindahkan menuju bak pencampuran. Proses ini merupakan proses transportasi yang ditandai dengan tanda panah. Jarak antara lokasi penimbangan dengan bak pencampuran adala 2 meter dengan waktu tempuh 120 detik dan massa yang sama yaitu 60 kilogram. Proses pemindahan dilakukan secara manual karena lokasinya yang berdekatan dan masih dalam satu ruangan, sehingga proses transportasinya pun berlangsung dengan cepat. Tepung tapioka yang sudah berada dalam bak

penampung, kemudian dilakukan proses pencampuran dengan bahan tambahan dengan berat 25 kilogram dan 300 liter air. Jadi jumlah massa total setelah ditambah dengan bahan tambahan adalah 85 kilogram ditambah 300 liter air. Proses

pencampuran bahan baku dengan bahan tambahan dilakukan di dalam bak pencampuran dengan lama proses pencampuran selama 30 menit. Hal yang menyebabkan proses pencampuran dilakukan sedikit lama adalah untuk menghindari terjadinya penggumpalan bubur adonan, menjaga agar adonan tercampur merata, menghindari terjadinya cipratan bubur yang masih panas ke operator pengaduk dan menghindari terjadinya tumpahan-tumpahan bahan pada saat proses pencampuran. Apabila hal ini terjadi, maka skala produksi dapat berkurang serta berbahaya pula bagi operator. Setelah bubur adonan telah jadi, kemudian dilakukan proses transportasi dari bak pencampur ke mesin penggiling. Proses transportasi ini dilakukan secara manual dengan bantuan ember kecil. Ember kecil digunakan untuk membantu proses pengambilan dari bak yang kemudian ditransportasikan menuju mesin penggiling. Jarak antara bak pencampur dengan mesin penggiling adalah 1,25 meter dan waktu yang diperlukan untuk memindahkan bubur kanji ke dalam mesin penggiling adalah 5 menit. Alat ini dipilih karena apabila menggunakan ember yang besar, operator akan membutuhkan tenaga yang ekstra kemudian operator juga akan mudah mengalami kelelahan. Sehingga ember yang dipilih adalah ember kecil, meskipun perlu melakukan proses transportasi bubur adonan berulang kali, namun operator merasa nyaman untuk membawanya sehingga pekerja tidak mengalami kelelahan dalam jangka waktu yang cepat. Selain itu, dapat menghindari cedera otototot ketika membawa bubur adonan dalam ukuran yang kecil-kecil. Kemudian proses berikutnya adalah penggilingan bubur kanji, penggilingan ini dilakukan hingga adonan menjadi kalis. Untuk mendapatkan adonan yang kalis dan siap untuk dicetak membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk satu kali penggilingan. Proses ini mengalami oprasi penggilingan serta inspeksi pengecekan kekaliasan adonan. Adonan yang sudah kalis dipindahkan ke meja tunggu secara manual dengan bantuan karung. Proses pemindahan ini berlangsung selama kurang lebih 3 menit dengan jarak tempuh sekitar 2 meter. Proses pemindahan ini cukup lama karena sulitnya mengeluarkan adonan yang masih menempel dari mesin penggiling. Proses pemindahan adonan yang sudah kalis ini dinamakan proses transportasi yang disimbolkan dengan gambar berbentuk panah. Adonan yang sudah berada dalam meja

tunggu mengalami sedikit penundaan. Hal ini disebabkan kecepatan antara mesin pencetak dan mesin penggiling yang berbeda, sehingga untuk menunggu mesin pencetak selesai mencetak adonan yang sudah selesai digiling mengalami waktu penundaan. Pada waktu penundaan, adonan yang sudah kalis diberi perlakuan dengan menutup adonan dengan karung atau plastik. Hal ini dilakukan untuk menghindari kontaminasi produk serta untuk menghindari adanya pengembangan produk yang tidak sesuai. Ketika mesin pencetak akan selesai mencetak, adonan yang berada di meja tunggu segera dilakukan pemindahan ke mesin pengepressan. Jarak antara meja tunggu dengan mesin pengepressan adalah 1 meter sehingga waktu tempuhnya lebuh singkat yaitu 1 menit. Proses pemindahan adonan dari meja tunggu ke mesin pengepres merupakan proses transportasi yang ditandai dengan simbol panah. Adonan yang sudah berada di mengepresan langsung dipress hingga ketebalan 1 cm. Pengepresan ini dibantu dengan mesin pengepres yang dikerjakan oleh 2 operator. Operator pertama yang menekan adonan agar masuk ke mesin pengepress, operator kedua mengambil hasil pengepresan dari bawah. Waktu yang diperlukan untuk satu kali pengepresan kurang lebih 2,5 menit. Untuk proses ini memang cukup singkat karena mesin sudah diatur sedemikian rupa untuk mengepres pada ketebalan 1 cm dengan cepat. Pengepresan ini mengalami dua proses, yaitu opersai pengepresan serta inspeksi pengejekan ketebalan. Setelah adonan memiliki ketebalan yang sesuai maka adonan dilakukan pemindahan dari mesin pengepres ke mesin pencetak. Jarak antara mesin pengepres dengan mesin pencetak memiliki jarak yang berbeda-beda, karena ada 2 mesin pencetak yang beroprasi namun jaraknya tidak berdekatan. Untuk mesin pencetak besar memiliki jarak 1,25 meter dengan waktu tempuh untuk mengisi mesin cetakan hingga penuh adalah 1,5 menit. Sedangkan untuk mesin pencetak 2 yang memiliki jarak 5 meter memerlukan waktu sektar 3 menit untuk mengisi mesin pencetak dengan adonan sampai penuh. Pemindahan adonan yang telah dipress ke mesin penceratan mengalami proses transportasi yang dilambangkan dengan lambang panah. Adonan yang sudah siap di dalam mesin pencetak langsung dilakukan proses pencetakan. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 40 menit untuk satu kali adonan. Pada saat proses pencetakan, sebelum adonan keluar dari mesin pencetak,

alas dari mesin pencetak dilapisi dengan strimin silikon yang nantinya bermanfaat untuk memudahkan dalam pemindahan adonan, proses penyortiran, serta proses pemetikan. Pencetakan ini mengalami dua proses, yaitu operasi pencetakan itu sendiri serta inspeksi pengecekan kecepatan serta ketebalan. Setelah adonan keluar dari mesin pencetak dan membentuk kerupuk, maka dilakukan proses sortasi. Adonan disortir berdasarkan bentuk dan kelayakan hasil cetakan. Proses ini dilakukan secara manual dan dilakukan oleh 1 operator. Penyortiran ini memiliki satu operasi saja, yaitu inspeksi mengecek ukuran kerupuk setelah dicetak. Kemudian setelah dilakukan proses penyortiran, kerupuk dipindahkan dari lokasi pencetakan ke lokasi pengukusan. Jarak antara mesin cetak 1 dengan mesin pengukusan adalah 2 meter dan antara mesin cetak 2 ke mesin pengukus adalah 3 meter dengan watu tempuh 40 detik untuk satu kali pengangkutan. Kerupuk yang sudah berada di mesin pengukusan segera dikukus dengan ketel uap selama 5 menit. Kemudian kerupuk dikeluarkan dan dipindahkan kelokasi penataan kerupuk di alas jemur. Tahapan pemindahan ini merupakan proses transportasi yang dilambangkan dengan simbol panah. Kemudian kerupuk dilakukan penataan di atas alas bambu yang kegiatan ini merupakan operasi penataan. Kerupuk yang sudah tertata rapi kemudian dijemur. Industri kerupuk ini memiliki dua lokasi penjemuran, lokasi penjemuran pertama berjarak 10,6 meter sedangkan lokasi penjemuran kedua adalah 15 meter. Kemudian kerupuk dijemur di dibawah sinar matahari, proses ini merupakan proses operasi penjemuran. Kerupuk yang dijemur tadi, lalu dibawa ke lokasi pemetikan dengan jarak dari lokasi penjemuran 1 adalah 4,5 meter dan lokasi penjemuran 2 adalah 22 meter. Kerupuk yang masih menempel pada strimin-strimin tersebut dilakukan pemetikan secara manual. Tahapan ini dinamakan operasi pemetikan yang dilambangkan dengan simbol lingkaran. Kemudian kerupuk kembali dijemur di lokasi penjemuran. Kerupuk mengalami proses transportasi dari lokasi pemetikan ke lokasi penjemuran. Yang kemudian dilanjutkan dengan proses operasi penjemuran di bawah sinar matahari. Total waktu yang diperlukan untuk melakukan proses penjemuran di bawah sinar matahari adalah 7 jam Setelah kerupuk cukup kering, kerupuk dipindahkan ke mesin pengovenan untuk melakukan proses berikutnya. Proses transportasi ini dilakukan

secara manual. Lalu kerupuk dilakukan proses pengovenan selama kurang lebih 3 jam. Tahapan pengovenan merupakan operasi pengeringan serta inspeksi pengecekan tingkat kekeringannya. Kerupuk yang telah selesai dioven kemudian mengalami proses tnasportasi menuju lokasi penimbangan. Proses transportasi ini dilakukan secara manual dengan jarak antara lokasi pengovenan dengan lokasi penimbangan bahan setengah jadi adalah 2 meter. Lalu kerupuk ditimbang menggunakan timbangan. Tahapan ini merupakan operasi penimbangan dan inspeksi pengecekan ukuran. Kerupuk yang telah selesai ditimbang kemudian dipindahkan ke lokasi penggorengan dengan jarak 5 meter dan waktu tempuh 40 detik. Kemudian kerupuk digoreng menggunakan 2 wajan, wajan pertama dengan minyak manas dan wajan kedua dengan minyak sangat panas. Kedua wajan ini saling menempel sehingga tidak memiliki jarak, selain itu proses penggorengan juga dalam 1 waktu. Untuk memperoleh kerupuk yang matang, renyah, dan berwarna purih, diperlukan waktu 1 menit untuk satu kali penggorengan. Kerupuk yang sudah selesai digoreng kemudian ditiriskan dalam waktu 1 menit. Tahapan penggorengan ini merupakan proses operasi penggorengan serta inspeksi pengecekan tingkat kematangan kerupuk. Apabila penirisan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka akan merusak tekstur dari kerupuk tersebut. Proses penirisan ini hanya melewati operasi penirisan saja. Kemudian kerupuk dipindahkan ke plastik atau rombong dengan cara manual dan berjarak kurang lebih 5 meter dari lokasi penirisan. Peta aliran proses kedua adalah pengolahan bawang putih. Bawang putih yang sudah halus dipersiapkan terlebih dahulu di dalam baskom. Tahap persiapan ini mengalami proses operasi yang dilambangkan dengan bentuk lingkaran. Bawang putih yang sudah siap di dalam baskom dilakukan pemindahan dari lokasi persiapan ke lokasi penimbangan. Jarak lokasi persiapan dengan lokasi penimbangan adalah 22 meter dengan waktu tempuh 1,5 menit. Tahapan pemindahan ini merupakan proses transportasi yang ditandai dengan dimbol panah. Pemindahan bawang putih dilakukan secara manual dengan bantuan baskom yang berisi bawang putih tadi. Bawang putih yang sudah halus tadi ditimbang dengan massa 5 kilogram menggunakan timbangan besar dengan waktu 20 detik. Tahapan penimbangan ini

dinamakan proses operasi penimbangan serta inspeksi pengecekan ukuran. Proses operasi penimbangan ditandai dengan simbol lingkaran sedangkan inspeksi pengecekan ukuran dilambangkan dengan simbaol persegi empat sama sisi. Bawang putih yang massanya sudah mencapai 5 kilogram segera dipindahkan ke bak pencampuran. Tahapan pemindahan ini dinamakan proses transportasi yang ditandai dengan lambang panah. Jarak antara lokasi penimbangan dengan bak penampung adalah 2 meter. Kemudian bawang putih dicampur dengan bahan baku yaitu tepung kanji serta bahan tambahan lain. Pencampuran bawang putih ini melewati dua proses, yaitu proses operasi pencampuran yang dilambangkan lingkaran dan inspeksi pengengecekan kekentalan bubur kanji yang dilambangkan persegi empat sama sisi. Peta aliran proses berikutnya adalah ikan laut. Ikan laut yang sudah halus dipersiapkan terlebih dahulu di dalam baskom. Tahap persiapan bahan tambahan berupa ikan laut merupakan proses operasi yang ditandai dengan lambang lingkaran. Ikan laut yang sudah siap dilakukan pemindahan dari lokasi persiapan ke lokasi penimbangan. Tahapan pemindahan ini ditandai dengan proses transportasi yang ditandai dengan simbol panah. Jarak antara tempat persiapan dengan lokasi penimbangan adalah 22 meter dengan waktu tempuh 1 menit. Setelah ikan laut berada di timbangan, ikan laut langsung ditimbang menggunakan timbangan. Kegiatan penimbangan merupakan tahapan dari proses operasi penimbangan dan inspeksi pengecekan massa ikan laut. Untuk menimbang ikan laut dengan massa 4 kilo gram membutuhkan waktu 2 menit. Ikan laut yang sudah siap langsung dipindahkan dari lokasi penimbangan ke lokasi bak pencampur. Jarak antara lokasi penimbangan dengan bak pencampur adalah 2 meter dengan waktu tempuh 20 detik. Waktu tempuh pemindahan ini cukup singkat karena jarak yang pendek dan massa yang kecil bila dibandingkan dengan bahan baku (tepung kanji). Tahapan pemindahan ini merupakan proses transportasi yang di lambangkan dengan simbol panah. Ikan laut yang sudah adadi dalam bak pencampur langsung dilakukan proses pencampuran dengan bahan baku (tepung kanji) dan bahan tambahan lain. Ketika adonan dicampur, adonan mengalami operasi pencampuran dan inspeksi pengecekan hingga bubur kanji

tercampur merata. Untuk memperoleh bubur kanji yang sesuai standar produksi kerupuk diperlukan waktu selama 30 menit dengan 2 operator. Selanjutnya peta aliran proses pengolahan garam. Garam yang masih di dalam plastik dipersiapkan terlebih dahulu. Tahapan persiapan ini merupakan proses operasi yang ditandai dengan lambang lingkaran. Garam yang sudah siap langsung dipindahkan ke lokasi penimbangan secara manual. Jarak antara lokasi persiapan ke lokasi penimbangan adalah 2 meter dengan waktu tempuh 30 detik. Pemindahan garam dari lokasi penyimpanan ke lokasi penimbangan merupakan proses transportasi yang ditandai dengan simbol panah. Garam langsung ditimbang menggunakan timbangan dengan massa garam 16 kilogram. Tahapan penimbangan ini merupakan proses operasi penimbangan serta inspeksi pengecekan massa garam. Setelah itu

garam dengan massa 16 kilogram langsung dipindahkan ke bak pencampur untuk proses berikutnya. Proses pemindahan merupakan proses transportasi. Jarak antara lokasi penimbangan dengan bak pencampur adalah 1,5 meter dengan waktu tempuh 15 detik. Kemudian garam dicampur dengan bahan baku serta bahan tambahan lain. Proses pencampuran ini membutuhkan waktu selama 30 menit untuk menghasilkan bubur kanji yang baik. Bahan tambahan yang berbentuk kering yang lain adalah penyedap rasa. Peta aliran proses ini diawali dengan persiapan garam. Tahapan persiapan garam ini dinamakan operasi persiapan. Garam yang sudah siap, langsung dipindahkan ke lokasi penimbangan. Jarak lokasi persiapan dengan lokasi penimbangan adalah 22 meter dengan waktu tempuh 1 menit. Kegiatan pemindahan ini dinamakan dengan proses transportasi yang ditandai dengan lambang panah. Penyedap rasa langsung dilakukan proses penimbangan. Pada proses ini kami tidak boleh mengetahui komposisi penggunaan penyedap rasa dan waktu penimbangan. Hal ini dikarenakan komposisi dari penyedap rasa merupakan rahasia dari industri kerupuk tersebut. Setelah dilakukan penimbangan, penyedap rasa dipindahkan dari lokasi penimbangan ke bak pencampuran. Jarak antara lokasi penimbangan dan bak pencampur adalah 1, meter dengan waktu tempuh 15 detik. Kemudian penyedap rasa dicampur dengan

bahan baku dan bahan tambahan lain. Proses pencampuran bahan ini berlangsung selama 30 menit hingga diperoleh bubur kanji yang sesuai. Kemudian peta aliran proses berikutnya adalah air. Air dipersiapkan terlebih dahulu. Kemudian air yang sudah siap dipindahkan dari kran menuju dandang besar untuk proses perebusan. Proses pemindahan ini dilakukan dengan bantuan selang. Jarak antara kran dengan dandang adalah 1,5 dengan waktu 5 menit untuk mendapatkan air dengan volume 300 liter. Proses pemindahan air ini merupakan proses transportasi. Kemudian air direbus sampai mendidih (suhu 100oc), proses perebusan ini dilakukan menggunakan dandang berbahan bakar kayu. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan air mendidih adalah 1,5 jam. Tahapan ini merupakan operasi perebusan dan inspeksi dengan melihat munculnya tanda-tanda air sudah mendidih. Setelah air mendidih, air dipindahkan ke bak pencampur dengan bantuan ember kecil. Proses pemindahan ini dilakukan sedikit demi sedikit karena apabila dipindahkan secara langsung dan dalam skala banyak maka akan membuat adonan yang dicampur akan mudah menggumpal. Setelah melalui proses transportasi, air dicampur dengan bahan baku dan bahan tambahan lain hingga menjadi bubur kanji. Pada peta aliran proses berikutnya dalah peta aliran proses minyak goreng. Minyak goreng sebelum digunakan dipersiapkan terlebih dahulu di dalam drum. Kemudian minyak goreng dipindahkan dari drum ke jerigan dengan bantuan pompa. Minyak goreng yang sudah ada di dalam jerigen langsung dipindahkan ke wajan. Kedua proses pemindahan ini merupakan proses transportasi yang dilambangkan dengan simbol panah. Jarak antara lokasi pemindahan pertama ke pemindahan kedua adalah 2,5 meter dengan waktu tempuh 30 detik. Kemudian minyak goreng dipanaskan untuk menggoreng kerupuk. Untuk memperoleh kerupuk yang siap disajikan diperlukan waktu penggorengan selama 1 menit untuk sekali penggorengan. Kerupuk yang sudah matanglangsung ditiriskan. Pada saat proses penirisan terdapat minyak goreng yang menetes ke bawah yang kemudian dihubungkan ke bak penampung. Pada tahapan ini merupakan proses trasportasi pemidahan minyak goreng dari alat peniris ke bak penampung minyak. Minyak yang sudah terisi penuh

di bak penampung atau basok dipindahkan ke wajan untuk melakukan proses penggorengan kembali. Pada saat proses penirisan kerupuk diberi daun bawang secukupnya. Kemudian peta aliran proses pada daun bawang dimulai dengan persiapan di dalam plastik. Daun bawang yang sudah siap di dalam plastik sudah dalam bentuk irisan tipis-tipis. Kemudian daun bawang dipindahkan ke atas kerupuk dengan cara manual. Tahapan proses daun bawang ini hanya berhenti sampai disini saja. Hal ini dikarenakan daun bawang merupakan bahan yang apabila ditambahkan ataupun tidak ditambahkan tidak mempengaruhi harga kerupuk tersebut. Diagram alir pada produksi kerupuk ini dimulai pada lokasi penyimpanan. Setiap bahan baku memiliki lokasi penyimpanan yang berbeda-beda. Pada diagram alir pertama adalah bahan baku yaitu tepung kanji. Tepung kanji disimpan di lokasi penyimpanan yang berjarak 1,5 meter dari lokasi penimbangan. Kemudian dari lokasi penyimpanan tepung kanji menuju lokasi penimbangan. Setelah melakukan penimbangan tepung kanji dipindahkan menuju ke bak penampung. Jarak antara lokasi penimbangan menuju bak pencampur adalah 2 meter. Di bak pencampur, tepung kanji dicampur dengan bahan tambahan lain. Pencampuran seluruh bahan ini hingga memperoleh bubur kanji yang sesuai standar bubur kanji yang ditentukan oleh industri tersebut. Kemudian bubur kanji dipindahkan ke mesin penggiling, jarak bak pencampur dengan mesin penggiling adalah 1,25 meter. Proses penggilingan bubur kanji dilakukan hingga bubur kanji menjadi adonan yang kalis. Lalu adonan tersebut dipindahkan dari mesin penggiling ke meja tunggu dengan jarak 2 meter. Adonan yang sudah berada di meja tunggu kemudian dipindahkan ke mesin pengepresan dengan jarak 1 meter. Adonan yang sudah dipress kemudian dipindahkan ke mesin pencetak. Jarak antara mesin pengepressan ke mesin pencetak adalah 1,25 meter untuk mesin pencetak 1 dan 5 meter untuk mesin pencetak 2. Adonan hasil pencetakan dan sudah mengalami proses penyortiran dipindahkan ke lokasi pengukusan. Jarak antara mesin cetak 1 dengan lokasi pengukusan adalah 2 meter dan mesin cetak 2 dengan lokasi pengukusan adalah 3 meter. Setelah adonan dikukus dipindahkan ke lokasi persiapan penjemuran. Lokasi pengukusan dengan lokasi

persiapan penjemuran berjarak 1,2 meter. Kerupuk yang sudah siap dijemur langsung dipindahkan ke lokasi penjemuran 1 dengan jarak 10,6 meter dan lokasi penjemuran 2 dengan jarak 15 meter. ketika kerupuk sudah dijemur kemudian dilakukan proses pemetikan. Jarak lokasi penjemuran dengan lokasi pemetikan 1 adalah 4,5 meter dan dari lokasi penjemuran 2 adalah 21,1 meter. Setelah kerupuk dipetik kemudian dijemur lagi, kerupuk yang sudah kering kemudian dipindahkan ke lokasi pengovenan dengan jarak tempuh 20 meter dari lokasi penjemuran 1 dan 22 meter dari lokasi penjemuran 2. Kerupuk yang sudah selesai dioven kemudian dipindahkan ke lokasi penimbangan dengan jarak 2 meter. Kemudian kerupuk dipindahkan ke lokasi penggorengan dengan jarak 5 meter, lalu dipindahkan ke lokasi penirisian yang sangat berdekatan dengan lokasi pengorengan. Kerupuk yang sudah ditiriskan langsung dimasukkan ke dalam rombong atau plastik besar dengan jarak kurang lebih 5 meter. Diagram alir berikutnya adalah diagram alir bahan tambahan. Untuk bahan tambahan berupa garam, lokasi penyimpanannya berjarak 2 meter dari lokasi penimbangan. Garam yang sudah ditimbang kemudian dipindahkan ke bak pencampur dengan jarak 1,5 meter. Kemudian proses aliran bahan berhenti di bak pencampuran pada proses pencampuran. Hal ini dikarenakan pada pencampuran bahan, tepung kanji merupakan bahan yang dominan diantara bahan lain. Kemudian untuk bahan tambahan yang berupa bawang putih halus, ikan laut halus dan penyedap rasa disipman di lokasi terpisah. Hal ini dikarenakan ketiga bahan tambahan tersebut memerlukan perlakuan khusus, sehingga lokasi penyimpanannya yang terpisah. Kemudian dari lokasi penyimpanan dipindahkan menuju lokasi penimbangan dengan jarak 22 meter. Ketiga bahan tersebut ditimbang dengan massa yang sesuai dengan standar komposisi bahan baku. Ketika sudah selesai ditimbang, ketiga bahan tambahan tersebut dipindahkan ke bak penampung yang berjarak 1,5 meter. Langkah ini dilakukan sama seperti pada garam, karena bahan baku merupakan bahan yang dominan dibanding dengan bahan tambahan lain. Kemudian untuk diagram alir yang terakhir adalah air. Air diambil dari kran yang kemudian dialirkan dengan selang menuju dandang perebusan dengan jarak 1,5 meter. Setelah air sudah mendidih,

kemudian dipindahkan ke bak pencampur. Proses perlakuan untuk air ini berhenti pada proses pencampuran, karena air merupakan bahan tambahan.

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum acara 2 yang berjudul Peta Kerja untuk Evaluasi Tata Letak Awal, praktikan mampu : 1. Praktikan telah membuat peta kerja seperti peta proses operasi, peta aliran proses, diagram aliran (bagan tali), peta dari-ke, berdasarkan proses produksi yang terjadi, lengkap dengan data peralatan dan waktu proses. 2. Praktikan telah mengevaluasi tata letak berdasarkan peta kerja yang dibuat. 3. Praktikan telah menganalisis kelebihan dan kekurangan tata letak yang ada sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Analisa

Produk

dan

Proses

Manufakturing.

Dalam

http://xa.yimg.com/kq/groups/26924889/166455549/name/BAB+4-2.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pukul 18.05 WIB. Anonim. 2013. Konsep Sistem Produksi Teknik Tata Cara Kerja. Dalam http:// kk.mercubuana.ac.id/files/92037-3-402296844920.doc. Diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pukul 17.35 WIB. Anonim. 2013. Mengevaluasi dan Mewujudkan Tata Letak. Dalam http://id.scribd .com/doc/66949524/Mengevaluasi-Dan-Mewujudkan-Tataletak. Diakses pada tanggal 17 Maret 2013 pukul 17.10 WIB. Anonim. 2013. Peta-peta Kerja. Dalam http://elib.unikom.ac.id/download.php?id= 52222. Diakses pada tanggal 17 Maret 2013 pukul 17.30 WIB. Hadiguna, R. A dan Heri, S. 2008. Tata Letak Pabrik. Yogyakarta: Cv. Andi Offset. Kumar, A dan Suresh. 2006. Production and Operation Management. New Age International (P). Limited. New Delhi. Sprankle, M. 2006. Problem Solving and Programming Concepts. Pearson Education in India. India. Sutalaksana. 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Keluarga Mahasiswa Teknik Industri. Ulrich, Karl T. and Eppinger, Steven D. 2000. Product Design and Development. Boston. Irwin McGraw- Hill Co. New York. Wignjosoebroto, Sritomo. 1993. Pengantar Teknik Industri Jilid 1. Jakarta: PT. GunaWidya.