Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase pra operasi. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengkajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Status kesehatan fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukung dan mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usia penuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. !leh karena itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan operasi.

BAB II PERSIAPAN PRA OPERASI PADA OPERASI ANESTESI UMUM

I.

PERSIAPAN PRA OPERASI Pasien yang akan menjalani anestesia dan pembedahan baik elektif maupun darurat

harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesia dan pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesia. Kunjungan pra anestesia pada bedah elektif umumnya dilakukan "-# hari sebelumnya, sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat. $ujuan kunjungan pra anestesia%
".

&empersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain

#.

&erencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai keadaan fisik dan kehendak pasien. Dengan demikian komplikasi yang mungkin terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.

'.

&enentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik, dalam hal ini dipakai klasifikasi (S( )American Society of Anesthesiologists* sebagai gambaran prognosis pasien secara umum."

II.

PERSIAPAN FISIK

(. Status Kesehatan +isik secara ,mum Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi anamnesis mengenai identitas pasien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga dan pemeriksaan fisik lengkap, antara lain
2

status hemodinamika, status kardio-askular, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain. Anamnesis (namnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri )autoanamnesis* atau melalui keluarga pasien )alloanamnesis*. Dengan cara ini kita dapat mengadakan pendekatan psikologis serta berkenalan dengan pasien. .ang harus diperhatikan pada anamnesis%
".

/dentifikasi pasien, misal % nama, umur, alamat, pekerjaan, dll. Pasien dengan usia yang terlalu muda )bayi anak-anak* dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun. Sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum maturnya semua fungsi organ.

#.

0iwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat menjadi penyulit dalam anestesia, antara lain% a. Penyakit alergi b. Diabetes mellitus c. Penyakit paru-paru kronik% asma bronkial, pneumonia, bronkitis d. Penyakit jantung dan hipertensi% infark miokard, angina pektoris, dekompensasi kordis e. Penyakit hati f. Penyakit ginjal Pada pasien yang menderita penyakit kardio-askular, diabetes, PP!K, dan insufisiensi ginjal menjadi lebih sukar terkait dengan pemakaian energi kalori untuk penyembuhan primer. Dan juga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi. Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus yang tidak terkontrol, bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama
3

pembiusan akibat 1at anestesi. (tau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuat pasca operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. 2ahaya lain yang mengancam adalah asidosis atau glukosuria.
'.

0iwayat penyakit keluarga, untuk mengetahui apakah ada penyakit keturunan yang dapat diderita oleh pasien.

3.

0iwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin menimbulkan interaksi )potensiasi, sinergis, antagonis, dll* dengan obat-obat anestetik. &isalnya, kortikosteroid, obat antihipertensi, obat-obat antidiabetik, antibiotika golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti digitalis, diuretika, obat anti alergi, tran4uili1er, monoamino oksidase inhibitor, bronkodilator.

5.

0iwayat operasi dan anestesia yang pernah dialami di waktu yang lalu, berapa kali dan selang waktunya. 0iwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal, atau sesak napas pasca bedah, sehingga kita dapat merancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Kita harus pandai-pandai memilah apakah cerita pasien termasuk alergi atau efek samping obat. 2eberapa peneliti menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah di masa lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu ' bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang. Selain itu perlu diketahui apakah pasien pernah mengalami komplikasi pasca bedah seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah.

6.

Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesia seperti% a. &erokok7 pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan -askular, terutama terjadi aterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan darah sistemiknya. Perokok berat )di atas #8 batang per hari* dapat mempersulit induksi anestesia karena merangsang batuk-batuk, sekresi jalan nafas yang banyak atau memicu atelektasis dan pneumonia pasca bedah. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan "-# hari sebelumnya untuk eliminasi nikotin yang mempengaruhi sistem kardiosirkulasi dan menghindari adanya 9!
4

dalam darah, dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkan kerja silia jalan pernapasan dan "-# minggu untuk mengurangi produksi sputum. b. (lkohol7 pecandu alkohol umumnya resisten terhadap obat-obat anestesia khususnya golongan barbiturat. /ndi-idu dengan riwayat alkoholik kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah sistemik, seperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko pembedahan. Kasus kecelakaan lalu lintas seringkali dialami oleh pemabuk. c. &eminum obat-obat penenang atau narkotik. ,ntuk mengurangi rasa gelisah dan takut yang mungkin ada pada pasien atau orang tuanya, perlu diberi penerangan tentang tindakan apa yang akan dilakukan serta perawatan pasca bedahnya, terutama bila pasien direncanakan dirawat di unit terapi intensif. Dokter harus dapat memberi penerangan ini secara berhati-hati, kalau perlu untuk mengurangi perasaan gelisah dan takut pasien diberi sedasi pada malam hari sebelum dilakukan pembedahan." Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan dengan teliti, bila terdapat indikasi dilakukan konsultasi dengan bidang keahlian lain seperti ahli penyakit jantung, paru, penyakit dalam untuk mendapat ekspertise yang memadai tentang pasien tersebut. Pemeriksaan fisik rutin meliputi pemeriksaan tinggi, berat, suhu badan, keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda anemia, tekanan darah, frekuensi nadi, pola dan frekuensi pernapasan. Pemeriksaan rutin dilakukan secara sistematik tentang keadaan umum tentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien. Perhatian khusus dan terarah ditujukan pada%
". #. '.

Keadaan psikis% gelisah, takut, kesakitan Keadaan gi1i% malnutrisi dan obesitas $anda-tanda penyakit saluran pernapasan% batuk-batuk, sputum kental atau encer, sesak nafas, tanda-tanda sumbatan jalan nafas atas, bising mengi )wheezing*, hemoptisis, dll.

3.

$anda-tanda penyakit jantung dan kardio-askular% dispneu atau ortopneu, sianosis, jari clubbing, nyeri dada, edem tungkai, hipertensi, anemia, syok, murmur.

5.

Sistem-sistem% &ulut% gigi palsu, gigi goyah, gigi menonjol, lapisan tambahan pada gigi, kebersihan mulut &andibula% sikatriks, fraktur, perhatikan sendi temporomandibula, dagu kecil, trismus Hidung% obstruksi jalan nafas oleh polip, tonsil, dan hipertrofi adenoid, perdarahan, dan de-iasi septum :eher% pendek panjang, struma, sikatriks, mobilitas dari sendi-sendi ser-ikal

Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. :eher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
6.

Kulit% perabaan hangat, dingin, berkeringat, tanda-tanda infeksi di regio -ertebrae lumbalis atau sakralis

;.

Sistem persyarafan% hemiparesis atau paralisis, distrofi otot, neuropati perifer, hidrosefalus"

2. Status <utrisi Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah )albumin dan globulin* dan keseimbangan nitrogen. Kondisi malnutrisi dan obesitas kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan dibandingkan dengan orang normal dengan gi1i baik terutama pada fase penyembuhan. Pada orang malnutrisi maka orang tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. <utrisi-nutrisi tersebut antara lain adalah protein, kalori, air, -itamin 9, -itamin 2 kompleks, -itamin (, -itamin K, 1at besi dan seng )diperlukan untuk sintesis protein*.

Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gi1i buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi )terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu*, demam, dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian. Pada pasien yang mengalami obesitas, selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. !leh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan berat badan7 pasien bernafas tidak optimal saat berbaring miring dan karenanya mudah mengalami hipo-entilasi dan komplikasi pulmonal pasca operasi. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan kardio-askular, endokrin, hepatik dan penyakit biliari lebih sering terjadi pada pasien obes.# 9. Keseimbangan 9airan dan =lektrolit Keseimbangan cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal. >injal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anestesi. ?ika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. <amun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguria anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.#

D. Pembersihan dan Pengosongan Saluran 9erna 0efleks laring mengalami penurunan selama anestesia. 0egurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani anestesia. ,ntuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral )puasa* selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Hal ini dilakukan untuk menghindari aspirasi paru akibat isi lambung selama anestesi.'

Aspirasi Pulmonal (lasan utama dilakukan puasa yaitu untuk mencegah aspirasi paru akibat isi lambung selama pasien sedang dalam keadaan teranestesi. (spirasi sejumlah '8-38 ml dapat menyebabkan kegawatan dan kematian sewaktu operasi. !leh karena itu, puasa dilakukan untuk mengurangi -olume isi lambung sebanyak mungkin. 2eberapa faktor dapat memudahkan aspirasi isi lambung, di antaranya anestesi tidak adekuat, kehamilan, obesitas, gangguan jalan nafas, operasi gawat darurat )waktu puasa lebih singkat*, lambung penuh, dan perubahan motilitas gastrointestinal. Perpanjangan masa puasa dapat menurunkan morbiditas jika terjadi aspirasi.3 Kondisi Lambung Selain puasa, antasid diberikan malam sebelum operasi atau pada pagi hari jika operasi dilakukan siang hari, dan diberikan lagi # jam sebelum operasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pH asam lambung, sehingga dapat menurunkan kerusakan akibat aspirasi pulmonal yang mungkin terjadi. H# reseptor blocker dapat digunakan pada pasien dengan risiko tinggi aspirasi pulmonal dan diberikan pada inter-al yang sama dengan antasid. >astroparesis )perlambatan pengosongan lambung* dapat terjadi akibat gangguan metabolik )misalnya diabetes mellitus yang tidak terkontrol*, penurunan motilitas lambung )misalnya akibat trauma kepala*, dan obstruksi pilorik )misalnya pada stenosis pilorik*. Perlambatan pengosongan lambung biasanya hanya mempengaruhi pengosongan lambung dari makanan berselulosa tinggi seperti sayuran. Pengosongan lambung dari cairan seperti air dan kopi biasanya hanya terpengaruh pada perlambatan pengosongan lambung tahap lanjut. $erkadang, gastroesofageal refluks dapat terjadi akibat perlambatan pengosongan lambung dari makanan padat, tapi pengosongan cairan tidak terpengaruh. Peningkatan tekanan intraabdominal )misalnya pada kehamilan dan obesitas* memudahkan terjadinya regurgitasi. !bat-obatan tertentu seperti opiat dapat menyebabkan perlambatan bermakna pada pengosongan lambung, sama halnya dengan trauma.3 Waktu Puasa Minimum @aktu puasa minimum sebelum operasi telah banyak dibahas. (hli-ahli anestesi dari /nggris berpendapat bahwa pasien baiknya mulai puasa sejak tengah malam. American Society of Anesthesiologists )(S(* merekomendasikan acuan waktu minimum puasa sebelum operasi. (cuan ini dibuat berdasarkan penelitian yang menunjukkan bahwa minum cairan jernih # jam sebelum operasi menurunkan aspirasi pulmonal dibandingkan pasien yang puasa
8

sejak tengah malam. 2erikut acuan yang direkomendasikan untuk waktu puasa sebelum operasi% Puasa Makan Puasa Minum

Umur

A6 bulan

3 jam

# jam

6-'6 bulan

6 jam

' jam

B'6 bulan )termasuk dewasa* 6 jam

# jam

Pada pembedahan darurat pengosongan lambung dapat dilakukan lebih aktif dengan cara merangsang muntah, memasang pipa nasogastrik atau memberi obat yang menyebabkan muntah seperti apomorphin, dll. 9ara-cara ini tidak menyenangkan untuk pasien sehingga jarang sekali dilakukan. Puasa yang cukup lama pada kasus akut kadang-kadang tidak menjamin lambung kosong secara sempurna, misanya pada stres mental yang hebat, kehamilan, rasa nyeri, atau pasien D&. Pemberian obat pencahar umumnya dilakukan pada laparotomi eksplorasi. Komplikasi penting yang harus dihindari karena puasa adalah hipoglikemia atau dehidrasi, terutama pada bayi, anak, dan pasien geriatrik."

=. Pencukuran Daerah !perasi Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. &eskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada lengan. $indakan pencukuran )scheren* harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien diberikan kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman. Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi. 2iasanya daerah sekitar alat kelamin )pubis*
9

dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. &isalnya % apendektomi, herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur femur, hemoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.#

+. Personal Hygiene Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.# >. Pengosongan Kandung Kemih Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk pengosongan, tindakan kateterisasi juga diperlukan untuk obser-asi balance cairan.#

H. :atihan Pra !perasi 2erbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti % nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. :atihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain % ". :atihan nafas dalam #. :atihan batuk efektif '. :atihan gerak sendi ". :atihan <afas Dalam

10

:atihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan -entilasi paru dan oksigenasi darah setelah anestesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. :atihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut % C Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang. C :etakkan tangan diatas perut C Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat. C $ahan nafas beberapa saat )'-5 detik* kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut. C :akukan hal ini berulang kali )"5 kali* C :akukan latihan dua kali sehari pra operasi. #. :atihan 2atuk =fektif :atihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi pasien terutama pasien yang mengalami operasi dengan anestesi umum.Pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranestesi, sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan karena terasa banyak lendir kental di tenggorokan. :atihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setelah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara % C Pasien condong ke depan dari posisi duduk atau setengah duduk, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk. C Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam )'-5 kali* C Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengandalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada
11

tenggorokan. C Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi. C ,langi lagi sesuai kebutuhan. C ?ika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk. '. :atihan >erak Sendi :atihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Pasien keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setelah operasi. 2anyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus )peristaltik usus* sehingga pasien akan lebih cepat kentut flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. $ujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis -ena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. /nter-ensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga ange of Motion )0!&*. :atihan perpindahan posisi dan 0!& ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.#

III.

PERSIAPAN PENUNJANG Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan

pembedahan. $anpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak mungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan laboratorium, radiologi, maupun pemeriksaan lain seperti =K>, dan lain-lain.#

12

Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien, dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anestesi berperan untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. ,ntuk itu dokter anestesi juga memerlukan berbagai macam pemeriksaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan )bleeding time* dan masa pembekuan )clotting time* darah pasien, elektrolit serum, hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan =K>.# Dokter menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi adanya kelainan yang dapat meningkatkan morbiditas atau mortalitas pasca operasi. Pada usia lanjut, terutama di atas ;8 tahun, biasanya memerlukan waktu rawat inap lebih lama dan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Sebagian besar indi-idu dalam kelompok umur ini memiliki banyak penyakit penyerta, sehingga tidak diketahui pasti apakah komplikasi pasca operasi terjadi sekunder akibat penyakit penyerta atau karena faktor umur.5 Di bawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum operasi )tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien, tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien*. Pemeriksaan penunjang tersebut antara lain% (. Pemeriksaan :aboratorium Pemeriksaan laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai. 2anyak fasilitas kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah )Hb, leukosit, hitung jenis leukosit, golongan darah, masa pembekuan, masa perdarahan* dan urinalisis.'

Hitung darah lengkap complete blood cell )929* count


o

Sangat dianjurkan untuk memeriksakadar hemoglobin pra operasi, jika pasien memiliki riwayat anemia atau mengantisipasi kehilangan darah selama operasi. Suatu studi menunjukkan anemia ringan pra operasi atau polisitemia meningkatkan resiko mortalitas '8 hari pasca operasi dan gangguan jantung pada laki-laki usia lanjut yang menjalani operasi besar.

:eukosit
13

Pre-alensi leukopenia atau leukositosis berat sangat jarang dan biasanya tidak banyak mempengaruhi penanganan pasien.

(nalisa gas darah dan elektrolit


o

Pada pasien ileus obstruktif atau bedah mayor. 2iasanya pemeriksaan elektrolit tidak dianjurkan untuk bedah elektif pada pasien sehat.

Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal.

Kreatinin
o o

Pada sekitar D.EF pasien usia 36-68 tahun, kadar kreatinin meningkat Pasien dengan insufisiensi renal ringan sampai sedang biasanya asimtomatik, akan tetapi mempunyai peningkatan resiko morbiditas dan mortalitas pasca operasi. !leh karena itu, pemeriksaan fungsi ginjal dianjurkan pada semua pasien usia di atas 38 tahun, terutama jika terdapat hipertensi dan penggunaan obat-obatan nefrotoksik.

>lukosa darah
o

9enderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur, sehingga #5F pasien di atas 68 tahun memiliki kadar gula darah puasa di atas "#8 mg d:.

Pada pasien diabetes mellitus misalnya, perlu dilakukan pemeriksaan kadar gula darah. Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak. Pemeriksaan kadar gula darah biasanya dilakukan dengan puasa "8 jam )puasa jam "8 malam dan diambil darahnya jam E pagi* dan juga dilakukan pemeriksaan kadar gula darah # jam PP )post prandial*.

Hanya pada operasi tertentu, misalnya bedah -askular dan coronary artery bypass grafting )9(2>*, pasien dengan diabetes memiliki peningkatan resiko pasca operasi. !leh karena itu, pemeriksaan kadar gula darah rutin tidak dianjurkan, kecuali pasien memiliki resiko tinggi diabetes )obesitas, steroid, riwayat keluarga* atau akan menjalani operasi bedah -askular bypass.

+ungsi hepar
14

o o

$erutama pada pasien ikterus >angguan fungsi hepar dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas pasca bedah.

Karena kebanyakan peningkatan en1im aminotransferase berat biasanya simtomatik, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan ikterus. Pemeriksaan pra operatif rutin tidak dianjurkan pada indi-idu sehat.

Hemostasis
o

?ika tidak ada riwayat perdarahan pada pasien bedah elektif, waktu perdarahan, prothrombin time )P$*, dan acti!ated partial thromboplastin time )aP$$* biasanya tidak ada kelainan.

,rinalisis ),(*
o

,rinalisis terutama ditujukan untuk mendeteksi penyakit ginjal asimtomatik atau infeksi saluran kemih. ,ntuk mendeteksi insufisiensi renal, pengukuran kreatinin serum dianjurkan pada semua pasien bedah elektif di atas 38 tahun, walaupun tidak diketahui pasti hubungan antara infeksi saluran kemih asimtomatik dengan infeksi luka bedah.

Darah samar feses


o

Studi analisis menunjukkan tidak ada keuntungan dari pemeriksaan rutin darah samar feses

Pemeriksaan pada sumsum tulang jika penyakit terkait dengan kelainan darah.5

2. Pemeriksaan Pencitraan Pemeriksaan radiologi yang dilakukan sesuai indikasi misalnya% foto thoraks )terutama untuk bedah mayor*, foto abdomen, foto tulang )daerah fraktur*, ,S>, 9$ Scan, &0/, 2<!-/GP, 0enogram, 9ystoscopy, &ammografi, 9/: )9olon in :oop*, =K> )untuk melihat adanya iskemia miokard*, =9H!, ==>, dan lain-lain. Pada usia pasien di atas 58 tahun ada anjuran pemeriksaan =K> dan foto toraks.#

15

=lektrokardiografi )=K>*
o

Pre-alensi abnormalitas =K> pada pasien bedah elektif sehat berkisar "3F sampai 5'F dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.

Pemeriksaan =K> pra operatif dilakukan untuk mengidentifikasi pasien resiko tinggi dengan infark miokardium atau aritmia. &endeteksi infark miokardial asimtomatik merupakan penemuan klinis yang sangat bermakna, karena banyak penelitian menunjukkan hubungan antara infark miokardium pra operasi dengan mortalitas sewaktu pembedahan. Suatu studi menunjukkan bahwa #5F dari ;8E infark miokard terdeteksi dengan =K>. Selain itu, ritme lain selain sinus, termasuk di antaranya kontraksi -entrikular prematur berulang memiliki resiko bedah lebih tinggi. !leh karena itu, =K> rutin dianjurkan pada semua pasien usia di atas 38 tahun yang menjalani bedah elektif.

Kematian akibat gangguan kardio-askular lebih banyak terjadi pada pasien dengan =K> abnormal dibandingkan pasien dengan hasil =K> normal.

Pemeriksaan =K> pra operasi memberikan informasi mengenai karakteristik klinis, jenis pembedahan, dan unsur prognostik.

+oto thoraks
o

Kejadian abnormalitas foto thoraks meningkat seiring dengan bertambahnya umur.

+oto thoraks hanya dianjurkan pada pasien di atas 68-;8 tahun kecuali jika dicurigai menderita penyakit jantung atau paru.5

Pemeriksaan khusus lainnya% =K> pada anak Spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru ,ntuk pemeriksaan khusus yang lebih mendalam, misalnya ekokardiografi atau kateterisasi jantung diperlukan konsultasi dengan ahli-ahli bidang lain sehingga persiapan dan penilaian pasien dapat dilakukan lebih baik."
16

9. 2iopsi $indakan biopsi yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. 2iopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor ganas jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.#

Pemeriksaan pra operasi rutin )pra operatif skrining* pada pasien sehat yang menjalani bedah elektif tidak dianjurkan. Pada pasien demikian dilakukan strategi pemeriksaan selektif, seperti yang telah dijelaskan di atas, yang dianggap aman dan hemat biaya. (namnesis dan pemeriksaan fisik tetap merupakan hal utama yang harus dilakukan. 2erdasarkan hasil penelitian, dianjurkan pemeriksaan pra operasi di bawah ini%

Kadar hemoglobin atau 929 count pada operasi besar dengan kemungkinan kehilangan banyak darah Kadar kreatinin serum pada pasien usia di atas 38 tahun =K> pada pasien usia di atas 38 tahun +oto thoraks pada pasien usia di atas 68 tahun

Strategi pemeriksaan ini dianjurkan untuk pasien sehat dan asimtomatik yang menjalani bedah elektif. Pasien dengan suspek penyakit jantung atau paru atau yang menjalani operasi besar memerlukan pemeriksaan tambahan.5

IV.

PERSIAPAN MENTAL / PSIKIS

Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi
17

fisiknya. $indakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis. 9ontoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan ketakutan antara lain% ". Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan. #. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda." Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula, akan tetapi sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. 2erbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain % a. $akut nyeri setelah pembedahan b. $akut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal )body image* c. $akut keganasan )bila diagnosis yang ditegakkan belum pasti* d. $akut cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lan yang mempunyai penyakit yang sama. e. $akut menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas. f. $akut mati saat dibius tidak sadar lagi. g. $akut operasi gagal. Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti% meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan, gerakangerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, sering berkemih. ,ntuk mengurangi dan mengatasi kecemasan pasien, dapat ditanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain % C Pengalaman operasi sebelumnya

18

C Pengertian pasien tentang tujuan alasan tindakan operasi C Pengetahuan pasien tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang. C Pengetahuan pasien tentang situasi kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi. C Pengetahuan pasien tentang prosedur )pra, intra, post operasi* C Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setelah operasi, seperti % latihan nafas dalam, batuk efektif, 0!&, dll. Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap. Hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari minggu yang lalu. !leh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga orang terdekat pasien. Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan katakata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.# V. PERSIAPAN PEN ULIT ANG AKAN TERJADI

Penyakit Kardio-askular

0esiko serius $erapi oksigen dan pemantauan =K> harus diteruskan sampai pasca operasi. Hat anestesi membuat jantung sensitif terhadap kerja katekolamin yang dilepaskan. Selanjutnya dapat terjadi kemunduran hemodinamik dan dapat terjadi aritmia, takikardi -entrikular sampai fibrilasi -entrikular.

Pada pasien dengan gagal jantung perfusi organ menjadi buruk. (mbilan gas dan uap ihalasi terhalangi.

19

Pada pasien hipertensi, terapi antihipertensi harus diteruskan sepanjang operasi. 2ahaya hipertensi balik dengan resiko gangguan kardio-askular setelah penghentian obat jauh lebih berat diandingkan dengan resiko karena meneruskan terapi.

Penyakit Pernafasan

Penyakit saluran nafas dan paru-paru mempengaruhi oksigenasi, eliminasi karbondioksida, ambilan gas-gas inhalasi dan meningkatkan insidens infeksi pascaoperasi.

2ronkospasme berat yang mengancam jiwa kadang-kadang timbul pada pasien asma atau pecandu nikotin.

Penundaan operasi elektif pada pasien yang menderita infeksi saluran nafas atas karena efek obat sedati-e dan atropine, dan penurunan respons imunologi yang terjadi karena anestesi umum dapat meningkatkan resiko infeksi pada pascaoperasi

Diabetes &ellitus Hampir semua obat anestesi bersifat meningkatkan glukosa darah. Penderita diabetes yang tidak stabil seharusnya tidak dianestesi untuk pembedahan elektif, kecuali jika kondisi bedah itu sendiri merupakan penyebab ketidakstabilan tersebut. Penyakit Hati &etabolisme obat-obatan anestesi akan terganggu akibat adanya gagal hati. !batobatan analgesik dan sedatif juga menjadi memiliki masa kerja yang panjang karena metabolisme oleh otak juga berubah karena penyakit hati. (nestesi pada pasien ikterus mempunyai dua resiko nyata. Pertama adalah perdarahan akibat kekurangan protrombin. 0esiko yang kedua adalah gagal ginjal akibat bilirubin yang berakumulasi pada tubulus renalis.6

VI.

INFORM !ONSENT
20

Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien, hal lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung gugat, yaitu inform consent. 2aik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis, operasi sekecil apapun mempunyai resiko. !leh karena itu setiap pasien yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan dilakukan tindakan medis )pembedahan dan anestesi*. &eskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi tidak dapat dihindari dan merupakan satu-satunya pilihan bagi pasien. Dan dalam kondisi nyata, tidak semua tindakan operasi mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi pasien. 2ahkan seringkali pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi. $entunya hal ini terkait dengan berbagai faktor seperti% kondisi nutrisi pasien yang baik, cukup istirahat, kepatuhan terhadap pengobatan, kerjasama yang baik dengan dokter dan tim selama dalam perawatan. /nform consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum, maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. (rtinya apapun tindakan yang dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. Pasien maupun keluarganya sebelum menandatangani surat pernyataan tersebut akan mendapatkan informasi yang detail terkait dengan segala macam prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan yang akan dijalani. ?ika petugas belum menjelaskan secara detail, maka pihak pasien keluarganya berhak untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham. Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena jika tidak maka penyesalan akan dialami oleh pasien keluarga setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga.#

VII.

PEMERIKSAAN STATUS ANESTESI

Kebugaran untuk Anestesia Pembedahan yang elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.' Perencanaan Anestesia
21

Setelah pemeriksaan fisik dilakukan dan memperoleh gambaran tentang keadaan mental pasien beserta masalah-masalah yang ada, selanjutnya dibuat rencana mengenai obat dan teknik anestesia yang akan digunakan. &isalnya pada diabetes mellitus, induksi tidak menggunakan ketamin yang dapat menimbulkan hiperglikemia. (tau premedikasi untuk pasien dengan riwayat tirotoksikosis tidak memakai atropin. Pada penyakit paru kronik, mungkin operasi lebih baik dilakukan dengan teknik analgesia regional daripada anestesia umum mengingat kemungkinan komplikasi paru pasca bedah. Dengan perencanaan anestesia yang tepat, kemungkinan terjadinya komplikasi sewaktu pembedahan dan pasca bedah dapat dihindari." Menentukan Prognosis 2erdasarkan status fisik pasien pra anestesia, (S( membuat klasifikasi yang membagi pasien ke dalam 5 kelompok atau kategori sebagai berikut% (S( "% Pasien dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi (S( #% pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit bedah maupun penyakit lainnya. 9ontohnya% pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien apendiksitis akut dengan leukositosis dan febris (S( '% pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan karena berbagai penyebab. 9ontoh% pasien apendiksitis perforasi dengan septikemia, atau pasien ileus obstruksi dengan iskemia miokardium (S( 3% pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. 9ontoh% pasien dengan syok atau dekompensasi kordis (S( 5% pasien tak diharapkan hidup setelah #3 jam walaupun dioperasi atau tidak. 9ontohnya% pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok hemoragik karena ruptura hepatik. Klasifikasi (S( juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat )= I emergency*, misalnya (S( / = atau /// =."

VIII. OBAT"OBATAN PRA MEDIKASI


22

Pra medikasi ialah pemberian obat "-# jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesia di antaranya% ". &eredakan kecemasan dan ketakutan #. &emperlancar induksi anestesia '. &engurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus 3. &eminimalkan jumlah obat anestetik 5. &engurangi mual-muntah pasca bedah 6. &enciptakan amnesia ;. &engurangi isi cairan lambung E. &engurangi refleks yang membahayakan Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seseorang dihadapkan pada situasi yang tidak pasti. &embina hubungan yang baik dengan pasien dapat membangun kepercayaan dan menentramkan hati pasien. !bat pereda kecemasan bisa digunakan dia1epam per oral "8-"5 mg beberapa jam sebelum induksi anestesia. ?ika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid misalnya petidin 58 mg intramuskular. 9airan lambung #5 ml dengan pH #,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. ,ntuk meminimalkan kejadian tersebut dapat diberikan antagonis reseptor H# histamin misalnya oral simetidin 688 mg atau oral ranitidin "58 mg "-# jam sebelum jadwal operasi . ,ntuk mengurangi mual-muntah pasca bedah sering ditambahkan premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol #,5-5 mg atau ondansetron #-3 mg.' Pemberian antibiotik profilaksis 0esiko tinggi % J J J J J /nfeksi atau kontaminasi berat Penurunan imunitas )penggunaan immunodeprassan, pembedahan berat dan lama, infeksi -irus, contoh% H/G* ,sia lanjut Keadaan atau penyakit tertentu )diabetes mellitus, anemia, malnutrisi, obesitas* Pemasangan prosthesis
23

J J J J

2edah ortopedi )osteosintesis* 2edah pada trauma multipel 2edah -ascular 2edah jantung

2erbagai antibiotik membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk mencapai kadar dalam darah yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan kuman. Kadar ini biasanya '-3 kali kadar hambat minimal. !leh karena itu, antibiotik profilaksis biasanya diberikan secara parenteral. ,ntuk mencapai kadar antibiotik di jaringan yang cukup tinggi pada waktu dilakukan pembedahan, antibiotik profilaksis harus diberikan "-# jam prabedah, dilanjutkan dengan "-# kali pemberian pasca bedah.; I#.
". #.

PERSIAPAN PADA HARI OPERASI Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan >igi palsu, bulu mata palsu, cincin, gelang harus ditanggalkan dan bahan kosmetik seperti lipstik, cat kuku harus dibersihkan agar tidak mengganggu pemeriksaan selama anestesia, misalnya sianosis.

'.

Kandung kemih harus kosong, bila perlu dilakukan kateterisasi. ,ntuk membersihkan jalan nafas, pasien diminta batuk kuat-kuat dan mengeluarkan lendir jalan nafas.

3.

Penderita dimasukkan ke dalam kamar bedah dengan memakai pakaian khusus, diberikan tanda atau label, terutama untuk bayi. Periksa sekali lagi apakah pasien atau keluarga sudah memberi i1in pembedahan secara tertulis )informed consent*.

5.

Pemeriksaan fisik yang penting dapat diulang sekali lagi di kamar operasi karena mungkin terjadi perubahan bermakna yang dapat menyulitkan perjalanan anestesia, misalnya hipertensi mendadak, dehidrasi atau serangan akut asma

6.

Pemberian obat premedikasi secara intramuskular atau oral dapat diberikan K-" jam sebelum dilakukan induksi anestesia atau beberapa menit bila diberikan secara intra-ena."

#.

PERSIAPAN PASIEN DI KAMAR OPERASI

24

Persiapan operasi dilakukan terhadap pasien dimulai sejak pasien masuk ke ruang perawatan sampai saat pasien berada di kamar operasi sebelum tindakan bedah dilakukan. Persiapan di ruang serah terima diantaranya adalah prosedur administrasi, persiapan anestesi dan kemudian prosedur draping. Di dalam kamar operasi, persiapan yang harus dilakukan terhadap pasien yaitu berupa tindakan draping yaitu penutupan pasien dengan menggunakan peralatan alat tenun )disebut % duk* steril dan hanya bagian yang akan di incisi saja yang dibiarkan terbuka dengan memberikan 1at desinfektan seperti po-ide iodine "8F dan alkohol ;8F.# Men"aga #alan $apas Pada setiap pasien harus diperhatikan kemudahan untuk bernapas dengan cara menyesuaikan letak kepala dan badan dengan kelainan yang diderita. >erak leher untuk mengangguk dan mengadah serta menoleh harus leluasa agar aliran udara ke jalan napas dapat ditolong dengan mudah. Pengisapan lendir dari rongga hidung dan mulut dikerjakan berulang-ulang. Penderita penyakit paru menahun dan gagal napas akut memerlukan pemeriksaan gas darah arteri untuk menilai faal oksigenasi )P!#* dan -entilasi )P9!#* ?alan napas diperiksa untuk menyingkirkan radang akut. +aringitis akut, tonsillitis akut, dan rhinitis akut mudah menyebarkan kuman secara desenden ke paru dan mengakibatkan pneumonia karena pada waktu anestesia, refleks batuk hilang. Karena itu pembedahan efektif harus ditunda sampai radang akut ini sembuh.;

#I.

ANESTESI Pada setiap pembedahan diperlukan upaya untuk menghilangkan nyeri. Keadaan itu

disebut anestesia. Dalam upaya menghilangkan nyeri, rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan. Kondisi optimal ini mencakup empat unsur dasar yang masing-masing dicapai melalui tehnik dan sedian tersendiri. =mpat unsur dasar anestesia % Unsur Dasar &enghilangkan nyeri !ara Sediaan analgetik

25

J J J

&enghilangkan kesadaran )berbagai tingkat* Penghambatan refleks -egetatif Pelemasan otot

J J J

Sediaan anestesik melalui inhalasi atau intra-ena Sediaan simpatolitik Sediaan pelemas otot lurik

Peranan anestesia bagi pembedahan adalah melindungi penderita dari akibat operasi yang memberi dampak jasmaniah maupun rohaniah. Pembedahan berarti bahwa penderita dihilangkan kesadarannya , dilukai, dan dibuka. (nestesia umum dilakukan dengan anestetik yang diberikan secara inhalasi atau secara parenteral. Pada anestesi inhalasi, obat masuk melalui pernapasan ke paru-paru, berdifusi di al-eoli masuk ke dalam darah dan diedarkan ke otak. ?ika kadar di otak telah mencapai kadar efektif, penderita menjadi tidak sadar, tidak merasa nyeri, dan refleks hilang. ?ika dosis ditingkatkan lagi, tahapan anestesia menjadi makin dalam. Kedalaman anestesia ini dibagi menjadi beberapa tingkat. $ahapan stadium yang jelas dan mudah diikuti adalah yang dibuat oleh guedel unbtuk anestesia dengan eter. Dengan tahapan sebagai berikut % Stadium / 7 (nalgesi Kesadaran belum hilang Stadium // 7 =ksitasi Penderita sudah tidak sadar lagi, namun menunjukkan gejala kegelisahan, pernapasan menjadi kurang teratur dan ireguler. 2ola mata bergerak ke kiri dan ke kanan secara tidak teratur, sedangkan pupil melebar. $anda ini merupakan kunci perbedaan antara stadium narkose yang ringan ini dengan pelebaran pupil yang tidak menunjukkan refleks cahaya pada stadium /G. Stadium /// 7 $oleransi atau narkose Pembedahan bisa dilakukan. Kelemasan otot mulai dari kaudal di otot dinding perut, naik melalui otot interkostal hingga ke diafragma )ner-us frenikus 3-6*. 0efleks kelopak mata, konjungti-a, kornea, hipersekresi, dan refleks pupil terhadap cahaya berturut-turut hilang. Pupil melebar sampai maksimal. Stadium /G 7 .aitu pelemasan atau kelumpuhan otot pernapasan.
26

0efleks pupil terhadap cahaya menghilang dan pernapasan difragma berhenti.;

#I.a. ANESTESIA INHALASI $erdapat banyak macam alat yang bisa dipakai untuk memberikan anestesia dengan cara inhalasi. $eknik anestesia inhalasi dapat dikelompokkan menjadi teknik terbuka, setengah terbuka, tertutup, dan setengah tertutup, berdasarkan ada tidaknya napas ulang dan ada tidaknya penjerat 9!#. %eknik %erbuka Pada kelompok ini dapat dikatakan tidak terjadi napas ulang dan tidak terdapat penjerap 9!# pada sistem peralatan anestesia yang dipakai. Karena gas inhalasi dan ekshalasi tidak bercampur, alat yang diperlukan hanya sederhana dan murah. Konsentrasi gas anestetik yang dihisap tepat sesuai dengan yang kita berikan dan tahanan pernapasan yang diakibatkan oleh peralatan adalah kecil. $erutama pada anak, teknik ini dapat menyebabkan pengeringan jalan napas dan hipothermi pada pembedahan yang lama karena kehilangan uap air dan panas tubuh melalui paru-paru. 9ontoh teknik ini adalah teknik eter tetes terbuka menggunakan masker kasa tanpa penutup. %eknik Setengah %erbuka Pada teknik ini tidak terdapat penjerat 9!# pada alat dan terjadi napas ulang sebagian. Pada fase ekspirasi udara sebgaian keluar ke atmosfer dan sebagian masuk ke saluran inspirasi yang kemudian akan dihisap lagi pada fase inspirasi. %eknik %ertutup dan Setengah %ertutup Pada teknik setengah tertutup, gas ekspirasi sebagian keluar ke atmosfer, sedangkan sebagian lagi masuk ke dalam saluran inspirasi yang kemudian akan dihisap lagi pada waktu inspirasi. Pada pipa saluran ekshalasi tedapat suatu tabung penjerap 9! # . Pemberian udara segar sebaiknya mengandung oksigen yang cukup. Dengan mengatur besar kecilnya aliran gas segar dan katup gas buang pada alat anestesia, besar kecilnya napas ulang dapat diatur. <amun demikian terdapat pula segi yang merugikan, yaitu memerlukan pemantauan konsentrasi gas anestesia yang diisap, peralatan anestesia yang dipakai menjadi tidak

27

sederhana, besar, dan lebih mahal, dan tahanan pernapasan lebih besar karena turbulensi aliran udara dalam saluran alat anestesia.; FISIOLOGI SALURAN PERNAFASAN 0espirasi atau pernafasan melibat keseluruhan proses yang menyebabkan pergerakan pasif !# dari atmofser ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakkan pasif 9!# selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfer. 0espirasi terdiri atas proses aktif inspirasi dan proses pasif ekspirasi. Proses inspirasi adalah proses aktif yang melibatkan kontraksi dari diafragma dan otot intercostalis eksternus. Proses dimulai dari diafragma yang ke bawah dan otot intercostalis eksternus yang berkontraksi sehingga iga tertarik ke atas dan lateral. Sternum terdorong ke depan membuat rongga dada membesar sehingga tekanan rongga toraks lebih rendah dari tekanan udara luar dan udara dapat masuk. Proses ekspirasi adalah proses pasif yang dimulai dari berelaksasinya diafragma dan otot intercostalis eksternus sehingga rongga dada mengecil dan tekanan di dalam rongga dada lebih tinggi dari tekanan udara di luar sehingga udara keluar. Proses respirasi ini diatur oleh pusat pernafasan medulla oblongata dan pons.' Pusa$ R%s&irasi Pusat respirasi merupakan kelompok neuron luas terletak di substansia retikuler medula oblongata dan pons terdiri dari pusat apnestik, area pneumotaksis, area ekspiratori dan area inspiratori. Diafragma diiner-asi oleh ner-is frenikus yang keluar dari akar saraf 9'5. $rauma cer-ical diatas 95 aka mengganggu pernafasan spontan karena selain ner-us frenikus juga mengenai saraf interkostal. Perangsangan ner-us -agus akan menyebabkan konstriksi dan sekresi bronkus -ia reseptor muskarinik. Sebaliknya perangsangan terhadap simpatis $"-3 akan menyebabkn dilatasi bronkus -ia reseptor beta-#. Stimulasi reseptor adrenergik alfa-" akan menurunkan sekresi. ' V'(um S$a$ik )an Ka&asi$as Paru ". Golum alun )$idal Golume $G*

28

Golum udara inspirasi atau ekspirasi pada setiap daur nafas tenang. Dewasa L 588 ml. #. Golum cadangan inspirasi )/nspiratory 0eser-e Golume /0G* Golum maksimal udara yang dapat diinspirasi setelah akhir inspirasi tenang. Dewasa L "588 ml. '. Golum cadangan ekpirasi )=kspiratory 0eser-e Golume =0G* Golum maksimal udara yang dapat diekspirasi setelah akhir ekspirasi tenang. Dewasa L "#88 ml. 3. Golum sisa )0esidual Golume 0G* Golum udara yang tersisa dalam paru setelah akhir ekspirasi maksimal. Dewasa L #"88 ml. 5. Kapasitas inspirasi )/nspiratory 9apacity /9* $G M /0G Golum maksimal udara yang dapat diinspirasi setelah akhir ekspirasi tenang. Dewasa L #888 ml. 6. Kapasitas sisa fungsional )+unctional 0esidual 9apacity +09* =0G M 0G Golum udara yang tersisa dalam paru setelah akhir ekspirasi tenang. Dewasa L ''88 ml. 7. Kapasitas Gital )Gital 9apacity G9* /0G M $G M =0G Golum maksimal udara yang dapat diekspirasi dengan usaha maksimal setelah inspirasi maksimal. Dewasa L '#88 ml. 8. Kapasitas paru total )$otal :ung 9apacity $:9* /0G M $G M =0G M 0G Golum udara dalam paru setelah akhir inspirasi maksimal. Dewasa L 5'88 ml.'

P%n*aru+ An%s$%sia &a)a R%s&irasi =fek penekan dari obat anestetik dan pelumpuh otot lurik terhadap respirasi telah dikenal sejak dahulu ketika kedalaman, karakter dan kecepatan respirasi dikenal sebagai tanda klinis yang bermanfaat terhadap kedalaman anestesia.

29

Hat-1at anestetik intra-ena dan abar )-olatil* serta opioid semuanya menekan pernapasan dan menurunkan respons terhadap 9!#. 0espons ini tidak seragam, opioid mengurangi laju pernapasan, 1at abar triklor-etilen meningkatkan laju pernapasan. Hiperkapnia atau hiperkarbia )Pa9!# dalam darah arteri meningkat* merangsang kemoreseptor di badan aorta dan karotis, diteruskan ke pusat nafas, terjadilah nafas dalam dan cepat )hiper-entilasi*. Sebaliknya hipokapnia atau hipokarbia )Pa9!# dalam darah arteri menurun* menghambat kemoreseptor di badan aorta dan karotis dan diteruskan ke pusat napas, terjadilah napas dangkal dan lambat )hipo-entilasi*. /nduksi anestesi akan menurunkan kapasitas sisa fungsional )+09*. &ungkin karena pergeseran diafragma ke atas, apalagi setelah pemberian pelumpuh otot. &engigil pasca anestesi akan meningkatkan konsumsi !#. Pada perokok berat, mukosa jalan nafas mudah terangsang. Produksi lendir meningkat, darahnya mengandung Hb9! kira-kira "8F dan kemampuan Hb mengikat ! # menurun sampai #5F. <ikotin akan menyebabkan takikardia dan hipertensi. ' E,%k Gas K%)ua Dalam kondisi normal hanya !# yang diambil paru dan tidak ada ambilan terhadap nitrogen. 2ila ada gas kedua yang diabsorbsi dengan cepat, seperti < #! masuk ke dalam paru kemudian ambilan gas ini memiliki efek mengkonsentrasikan gas-gas yang tetap berada dalam al-eoli. =fek terhadap !# tidak memiliki kepentingan klinis, tetapi peningkatan kadar 1at-1at anestetik abar )-olatil* akan mempercepat induksi anestesi. Kebalikannya bila pemberian <#! dihentikan, eliminasi gas ini akan mengencerkan gas-gas dalam al-eoli dan menyebabkan hipoksemia jika tidak diberikan tambahan !#.' PEMBAHASAN !bat anestetik inhalasi yang pertama kali digunakan untuk membantu pembedahan adalah <#!. Kemudian menyusul eter, kloroform, etil-klorida, etilen, di-inil-eter, siklopropan, trikloro-etilen, iso-propenil--inil-eter, propenil-metil-eter, fluoroksan, etil--inil-eter, halotan, metoksi-fluran, enfluran, isofluran, desfluran dan se-ofluran. (nestetik inhalasi terdapat dalam bentuk gas, seperti <#! dan siklopropan atau cairan yang mudah menguap seperti eter, halotan, etil klorida, dan trikloretilen.

30

&ekanisme kerja obat anestesi inhalasi sangat rumit masih merupakan misteri dalam farmakologi modern. Pemberian anestetik inhalasi melalui pernafasan menuju organ sasaran yang jauh merupakan suatu hal yang unik dalam dunia anestesiologi. (mbilan al-eolus gas atau uap anestetik inhalasi ditentukan oleh sifat fisiknya% ". (mbilan oleh paru #. Difusi gas dari paru ke darah '. Distribusi oleh darah ke otak dan organ lainya. Hiper-entilasi akan menaikkan ambilan al-eolus, dan hipo-entilasi akan menurunkan ambilan al-eolus. Dalam praktek kelarutan 1at inhalasi dalam darah adalah faktor utama yang penting dalam menentukan kecepatan induksi dan pemulihannya. /nduksi dan pemulihan berlangsung cepat pada 1at yang tidak larut dan lambat pada yang larut. Kadar al-eolus minimal )&inimum (l-eolar 9oncentration &(9* ialah kadar minimal 1at tersebut dalam al-eolus pada tekanan satu atmosfir yang diperlukan untuk mencegah gerakan pada 58F pasien yang dilakukan insisi standar. Pada umumnya immobilisasi tercapai pada D5F pasien, jika kadarnya dinaikkan di atas '8F nilai &(9. Dalam keadaan seimbang, tekanan parsiel 1at anestetik dalam al-eoli sama dengan tekanan 1at dalam darah dan otak tempat kerja obat.5 Konsentrasi uap anestetik dalam al-eoli selama induksi ditentukan oleh% ". Konsentrasi inspirasi Secara teori, jika uap anestetik di dalam jaringan sudah penuh, maka ambilan paru berhenti dan konsentrasi uap inspirasi sama dengan al-eoli. Hal ini dalam praktek tak pernah terjadi. /nduksi makin cepat kalau konsentrasi makin tinggi, asalkan tak terjadi deprasi napas atau kejang laring. /nduksi makin cepat jika disertai oleh <#!. #. Gentilasi al-eolar Gentilasi al-eolar meningkat, konsentrasi al-eolar makin tinggi dan sebaliknya. '. Koefisien darah gas &akin tinggi angkanya, makin cepat larut dalam dara, makin rendah konsentrasi dalam al-eoli dan sebaliknya. 3. 9urah jantung atau aliran darah paru &akin tinggi curah jantung, makin cepat uap diambil darah.
31

5. Hubungan -entilasi perfusi >angguan hubungan ini memperlambat ambilan gas anestetik. ?umlah uap dalam mesin anestesi bukan merupakan gambaran yang sebenarnya, karena sebagian uap tersebut hilang dalam tabung sirkuit anestesi atau ke atmosfir sekitar sebelum mencapai pernafasan.

Sebagian besar gas anestetik dikeluarkan lagi oleh badan lewat paru. Sebagian lagi dimetabolisir oleh hepar dengan sistem oksidasi sitokrom P358. Sisa metabolisme yang larut dalam air dikeluarkan melalui ginjal.' A. N-O >as ini hampir tidak berbau, tidak mudah terbakar sehingga digunakan untuk kombinasi dengan anestesik lain yang tidak memilii khasiat analgesik, seperti halotan, enfluran, dan isofluran.;

B. E$%r .Di"%$i("%$%r/ 9airan ini tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar, dan mudah meledak, lebih-lebih jika digunakan bersama !# , dan berbau merangsang. Selain itu sekresi bronkus dan ludah meningkat dengan pramedikasi atropine 8,5 mg, " jam sebelumnya. =ter menyebabkan mual dan muntah, baik oada waktu induksi maupun pada saat pemulihan kesadaran melalui mekanisme rangsangan lambung dan efek sentral. 2atas keamanan sangat lebar. Sampai tahapan dalam, penderita tetap dapat bernapas spontan meskipun reaksi pusat pernapasan terhadap 9!# menurun. =ter menyebabkan -asodilatasi pembuluh darah otak sehingga aliran darah dan tekana intracranial meningkat. Karena itu sebaiknya tidak diberikan pada penderita dengan rudapaksa kepala, kontusio serebri dan tekanan intracranial meninggi.;

!. Ha('$an

32

9airan ini tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar, atu meledak. /nduksi cepat terutama pada anak. $idak melemaskan otot lurik, kecuali otot masseter. Halotan sangat kuat menyebabkan deprasi sirkulasi karena kontraksi otot jantung menurun dan -asodilatasi. Dosis berlebih mudah menyebabkan henti jantung.;

D. E$i( K('ri)a 9airan jernih mudah menguap, tidak berbau merangsang, dan tidak mengiritasi mukosa jalan napas. /nduksi berlangsung sangat cepat, yaitu #-' menit dan stadium eksitasi tidak terlihat nyata. 2atas keamanan sangat sempit, karena itu sebaiknya dibatasi hanya untuk induk pada orang dewasa sehat tanpa kelainan sistemik.; E. Is',(uran

/sofluran )foran, aeran* merupakan halogenasi eter, dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna, tidak eksplosif, tidak mengandung 1at pengawet, dan relatif tidak ralut dalam darah tapi cukup iritatif terhadap jalan nafas sehingga pada saat induksi inhalasi sering menimbulkan batuk dan tahanan nafas. Proses induksi dan pemulihannya relatif cepat dibandingkan dengan obat-obat anestesi inhalasi yang ada pada saat ini tapi masih lebih lambat dibandingkan dengan se-ofluran. /sofluran pada dosis anestetik atau sub anestetik menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran darah otak dan tekanan intrakranial. Peninggian aliran darah otak dan tekanan intrakranial ini dapat dikurangi teknik anestesia hiper-entilasi, sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak. /sofluran juga merupakan isomer enfluran dengan efek-efek samping yang minimal. /nduksi dan masa pulih anestesia dengan isofluran cepat. /. Sifat +isik

33

//.

+armakodinamik Susunan Saraf Pusat 2erbeda dengan enfluran, obat ini tidak menimbulkan perubahan pada gambaran ==> seperti NepileptiformO yang merupakan pradisposisi terhadap akti-itas kejang pada stadium dalam anestesia. Pada dosis anestesi tidak menimbulkan -asodilatasi dan perubahan sirkulasi serebrum serta mekanisme autoregulasi aliran darah otak tetap stabil. Kelebihan lain yang dimiliki oleh isofluran adalah penurunan konsumsi oksigen otak. Sehingga dengan demikian isofluran merupakan obat pilihan untuk anestesi pada kraniotomi, karena tidak berperngaruh pada tekanan intrakranial, mempunyai efek proteksi serebral dan efek metaboliknya yang menguntungkan pada tekhnik hipotensi kendali. Sistem Pernafasan Seperti anestesia inhalasi yang lain, isofluran juga mendeprasi pernafasan. Golume tidal dan frekuensi nafas dapat menurun, menimbulkan dilatasi bronkus sehingga baik untuk kasus-kasus penyakit paru obstruktif menahun dan asthma bronkial. Sistem Kardio!askular

34

=fek terhadap deprasi jantung dan curah jantung minimal, dibandingkan dengan enfluran dan halotan. Pada beberapa pasien menyebabkan takikardia. Dapat menurunkan tekanan darah arteri dengan cara menurunkan resistensi perifer total, karena itu dapat digunakan kombinasi dengan tehnik hipotensi kendali dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan koroner. &tot &enurunkan tonus otot rangka melalui mekanisme deprasi pusat motorik pada serebrum, sehingga dengan demikian berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot non depolarisasi. @alaupun demikian, masih diperlukan obat pelumpuh otot untuk mendapatkan keadaan relaksasi otot yang optimal terutama pada operasai laparatomi. /sofluran mempunyai efek relaksasi otot yang baik dan berpotensiasi dengan obat relaksan. Pada kasus obstetri, isofluran pada le-el anestesia tidak menimbulkan relaksasi uterus sehingga tidak menambah perdarahan. <amun /sofluran dengan konsentrasi B"F terhadap uterus hamil menyebabkan relaksasi dan kurang responsif jika diantisipasi dengan oksitosin, sehingga dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan. Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi sampai sepertiga dosis biasa jika menggunakan isofluran. 'ati dan (in"al Pada dosis anestesi, isofluran menurunkan aliran darah ginjal dan laju fitrasi glomerulus sehingga produksi urin berkurang, akan tetapi masih dalam batas normal. Karena metabolisme yang minimal dari isofluran ini sehingga tidak menimbulkan efak hepatotoksik maupun nefrotoksik.

///.

+armakokinetik /soflurane mengurangi sensiti-itas nyeri )analgesia* dan melemaskan otot-otot. &ekanisme dimana anestesi umum menghasilkan keadaan anestesi tidak jelas dipahami, tetapi mungkin melibatkan interaksi dengan situs reseptor ganda untuk mengganggu transmisi sinaptik. Hampir seluruhnya dikeluarkan melalui udara ekspirasi, hanya 8,#F dimetabolisme di dalam tubuh. Konsentrasi metabolitnya sangat rendah, tidak cukup untuk menimbulkan gangguan fungsi ginjal.
35

/soflurane mengikat reseptor >(2(, dan reseptor reseptor glutamat glisin, dan juga menghambat konduksi di saluran kalium diaktifkan. /nhibisi >lycine membantu menghambat fungsi motor, sementara ikatan reseptor glutamat meniru efek <&D(. /ni mengaktifkan ($Pase kalsium melalui peningkatan fluiditas membran, dan mengikat ke subunit D sintase ($P dan <(DH dehidrogenase. Selain itu, sejumlah anestesi umum mengganggu junction, yang dapat berkontribusi terhadap tindakan anestesi. /G. /ndikasi Keuntungan anestesi dengan isofluran antara lain irama jantung yang stabil dan tidak terangsang oleh adrenalin endo maupun eksogen. 2angun dari anestesia cepat yang menguntungkan untuk operasi rawat jalan. Pemakaian terhambat oleh harga yang mahal. G. Penggunaan Klinik Sama seperti halotan dan enfluren, isofluren digunakan terutama sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan anestesi umum. Disamping efek hipnotik, juga mempunyai efek analgetik ringan dan relaksasi ringan. ,ntuk mengubah cairan isofluran menjadi uap, diperlukan alat penguap )-apori1er* khusus isofluran. G/. Dosis ,ntuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah #-'F bersama-sama dengan <#!. ,ntuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan konsentrasinya berkisar antara "-#,5F, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 8,5-"F. G//. Keuntungan dan Kerugian Keuntungannya adalah induksi cepat dan lancar, tidak iritatif terhadap mukosa jalan nafas, pemulihannya lebih cepat dari halotan, tidak menimbulkan mual muntah, dan tidak menimbulkan menggigil serta tidak mudah meledak atau terbakar. Penilaian terhadap pemakaian isofluran saat ini adalah bahwa isofluran tidak menimbulkan guncangan terhadap fungsi kardio-skuler, tidak megubah sensiti-itas otot jantung terhadap katekolamin, sangat sedikit yang mengalami pemecahan dalam tubuh dan tidak menimbulkan efek eksitasi SSP. Kelemahannya adalah batas keamanan sempit )mudah terjadi kelebihan dosis*, analgesia dan relaksasinya kurang, sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain. G///. $oksisitas $eonatus gap

36

Kekhawatiran dengan keselamatan anestesi umum tertentu telah dilaporkan, khususnya pada ketamin dan isoflurane pada neonatus dan anak-anak karena neurodegeneration signifikan. 0isiko neurodegeneration meningkat pada kombinasi dari agen ini dengan nitrous oPide dan ben1odia1epin seperti mida1olam. +D( dan badan-badan lainnya telah mengambil langkah-langkah untuk menyelidiki masalah ini. )ewasa (danya kekhawatiran sehubungan dengan penurunan kognitif yang berlangsung lama pasca operasi pada orang tua dan hubungannya dengan anestesi. Paparan kultur sel manusia untuk isoflurane telah dilaporkan untuk menginduksi apoptosis dan akumulasi dan agregasi protein amiloid beta dan dijabarkan sebagai penyebab penurunan kognitif pasca operasi yang telah digambarkan sebagai bentuk halus dari demensia. !rang tua yang paling rentan penurunan kognitif untuk pasca-operasi. <amun penelitian tersebut berdasarkan pada penelitian in -itro, yang selanjutnya dalam penelitian -i-o diperlukan untuk menentukan rele-ansi temuan tersebut dalam praktek klinis dan untuk meningkatkan keamanan anestesi. Sebuah model hewan telah menunjukkan bahwa anestesi dengan isoflurane meningkatkan patologi amiloid pada model tikus penyakit (l1heimerQs dan telah terbukti dapat menyebabkan penurunan kognitif pada tikus.'

II.

S%0',(uran

37

Se-oflurane )RtrifluorometilS #,#,#-trifluoro-"-etil eter fluoromethyl*, juga disebut fluoromethyl eter hePafluoroisopropyl, memiliki aroma manis, tidak mudah terbakar, metil isopropil eter yang terfluorinasi digunakan untuk induksi dan pemeliharaan anestesi umum. 2ersama dengan desflurane, se-ofluran menggantikan isoflurane dan halotan pada anestesiologi modern. Se-ofluran sering diberikan dalam campuran nitrous oPide dan oksigen. Setelah desflurane, se-ofluran adalah anestesi -olatile dengan onset dan offset tercepat. &eskipun desflurane memiliki koefisien darah mask karena iritasi yang lebih rendah untuk selaput lendir . Se-ofluran dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna, tidak eksplosif, tidak berbau, stabil di tempat biasa )tidak perlu tempat gelam*, dan tidak terlihat adanya degradasi se-ofluran dengan asam kuat atau panas. !bat ini tidak bersifat iritatif terhadap jalan nafas sehingga baik untuk induksi inhalasi. Se-ofluran fluoromethyl terbentuk dari setidaknya dan juga dua produk 2 P&+= degradasi, senyawa ( gas yang terendah dari anestesi -olatil yang saat ini digunakan, se-ofluran adalah agen yang lebih disukai untuk induksi face

Rfluoromethyl-# ,#-difluoro-"-)trifluorometil* -inil eterS yang juga disebut P/+= )eter pentafluoroisopropenyl* senyawa disebut R",",",','-pentafluoro-#)eter fluoromethyl )fluoromethoPy*-'-methoPypropaneS,

pentafluoromethoPy isopropil* ketika kontak dengan soda kapur dalam alat rebreathing, dimana menyerap karbon dioksida yang telah dikeluarkan, terutama pada temperatur yang lebih tinggi dan ketika soda kapur mengering. Senyawa ( telah terbukti menyebabkan nekrosis ginjal pada tikus. Pada manusia, bukti histologis langsung toksisitas ginjal belum terbukti, meskipun ada dosis-terkait proteinuria, glycosuria dan en1ymuria. Selama anestesi aliran rendah, ketika aliran gas baru lebih rendah menyebabkan penurunan pembilasan dari sirkuit dan peningkatan suhu soda kapur, senyawa ( akan meningkat hingga tingkat klinis signifikan. (kibatnya, se-ofluran kadang-kadang diberikan dengan aliran gas baru minimal # liter per menit, menjadikannya pilihan yang relatif mahal untuk mempertahankan anestesi umum. Hanya dua negara yang saat ini menjaga tingkat aliran wajib minimum #: min, Kanada dan (ustralia. Persaingan generik terbaru di pasar tertentu juga secara signifikan menurunkan biaya unit se-ofluran, sehingga lebih hemat biaya. ,S =n-ironmental Protection (gency )=P(* telah mengklasifikasikan se-ofluran sebagai gas rumah kaca, dengan potensi pemanasan global dari '35. Satu ton se-ofluran dipancarkan adalah setara dengan '35 ton karbon dioksida di atmosfer.
38

Se-ofluran telah terlibat dalam degenerasi saraf pada tikus bayi. Kegiatan ini diduga terjadi melalui blokade reseptor <&D( atau hiperaktif dari neurotransmisi >(2(. Dalam studi ini para peneliti menunjukkan bahwa paparan bayi tikus untuk se-ofluran yang dihirup mengakibatkan defisit belajar dan perilaku sosial yang abnormal. /. Sifat +isik

//.

+armakodinamik Sistem Saraf Pusat =fek deprasinya pada SSP hampir sama dengan isofluran. (liran darah otak sedikit meningkat sehingga sedikit meningkatkan tekanan intrakranial. :aju metabolisme otak menurun cukup bermakna sama dengan isofluran. $idak pernah dilaporkan kejadian kejang akibat se-ofluran. Sistem Kardio!askular Se-ofluran relatif stabil dan tidak menimbulkan aritmia. <ilai ambang arimogenik epinefrin terhadap se-ofluran terletak antara isofluran dan enfluran. $ahanan -askuler dan curah jantung sedikit menurun, sehingga tekanan darah sedikit menurun. Pada ",#-# &(9 se-ofluran menyebabkan penurunan tahanan -askuler sistemik kira-kira #8F dan tekanan darah arteri kira-kira #8F-38F. 9urah jantung akan menurun #8F

39

pada pemakaian se-ofluran lebih dari # &(9. Diabndingkan dengan isofluran, se-ofluran menyebabkan penurunan tekanan darah lebih sedikit. Se-ofluran tidak atau sedikit meyebabkan perubahan pada aliran darah koroner. Dilatasi arresi koroner yang terjadi akibat se-ofluran lebih kecil dibanding isofluran dan tidak menimbulkan efek coronary steal, sehingga se-ofluran aman dipakai untuk penderita penyakit jantung koroner atau yang mempunyai resiko penyakit jantung iskemik, tetapi penelitian pada orang tua di atas 68 tahun, disebutkan bahawa sebaiknya berhati-hati dlaam memberikan se-ofluran konsentrasi tinggi )EF* pada penderita hipertensi dan riwayat penyakit jantung Dpenyakit jantung koroner dan iskemik*. Se-ofluran menyebabkan penurunan laju jantung. &ekanisme ini belum jelas, kemungkinan disebabkan oleh karenna penurunan aktifitas simpatis tanpa perubahan aktifitas parasimpatis. Penelitian-penelitian menyebutkan bahwa penurunan laju jantung tidak sampai menyebabkan bradikardi, tetapi kejadian bradikardi pernah dilaporkan pada bayi. Sistem espirasi Seperti halnya dengan obat anestesi inhalasi yang lain se-ofluran juga menimbulkan deprasi pernapasan yang derajatnya sebanding dengan dosis yang diberikan sehingga -olume tidal akan menurun, tapi frekuensi nafas sedikit meningkat. Pada manusia, "," &(9 se-ofluran menyebabkan tingkat deprasi pernafasan hampir sama dengan halotan dan pada ",3 &(9 tingkat deprasinya lebih dalam daripada halotan. Se-ofluran menyebabkan relaksasi otot polos bronkus, tetapi tidak sebaik halotan. &tot =feknya terhadap otot rangka lebih lemah dibandingkan dengan isofluran. 0elaksasi otot dapat terjadi pada anestesi yang cukup dalam denga se-ofluran. Proses induksi, laringoskopi dan intubasi dapat dikerjakan tanpa bantuan obat pelemas otot. *terus Kontraksi uterus spontan dapat dipertahankan dengan baik dan kehilangan darah minimal. $idak terjadi efek buruk pada bayi dan ibu. Penelitian Sharma dkk, menunjukkan bahwa efek terhadap bayi, perubahan hemodinamik ibu dan efek samping pasca bedah adalah sebanding antara se-ofluran dan isofluran.

40

'ati dan (in"al $idak ada laporan tentang hepatotoksisitas klinis pada manusia setelah penggunaan se-ofluran oleh lebih dari dua jua orang sejak tahun "DEE. Se-ofluran menurunkan aliran darah ke hepar paling kecil dibandingkan dengan enfluran dan halotan. (da beberapa bukti, se-ofluran menurunkan aliran darah ke ginjal dan meningkatkan konsentrasi fluoride plasma, tetapi tidak ada bukti hal ini menyebabkan gangguan fungsi ginjal pada manusia. ///. +armakokinetik +iotransformasi Daya larut se-ofluran dalam darah rendah )koefisien partisi darah gas ';T9 8,6'-8,6D* karena itu jumlah se-ofluran minimal yang dibutuhkan untuk dilarutkan dalam darah sebelum tekanan al-eolar parsial berada di dalam keseimbangan dengan tekanan parsial arteri. 2agaimanapun juga terdapat nilai kecepatan dalam darah dan peningkatan konsentrasi al-eolar kearah yang diinginkan. Hampir seluruhnya dikeluarkan untuk melalui udara ekspirasi, hanya sebagian kecil #-'F dimetabolisme dalam tubuh. Konsentrasi metabolitnya sangat rendah, tidak cukup untuk menimbulkan gangguan fungsi ginjal. ,liminasi =liminasi se-ofluran oleh paru-paru kurang cepat dibanding desfluran, tetapi masih lebih cepat dibanding isofluran,enfluran, dan halotan. Se-ofluran mengalami metabolisme di hati )defluoronisasi* kurang dari 5F, membentuk senyawa fluorine, kemudian oleh en1im glucuronyl tansferase diubah menjadi fluoride inorganik dan fluoride organik )hePafluoro isopropanol*, dan dapat dideteksi dalamdarah serta uruin. HePafluoro isopropanol akan terkonjugasi menjadi produk tidak aktif, kemudian diekskresikan lewat urin. $idak ada pengaruh nyata pada fungsi ginjal dan tidak bersifat nefrotoksik. /nduksi se-ofluran lebih cepat dibandingkan dengan isofluran. @aktu untuk mendapatkan konsentrasi 58F dalam al-eoli adalah 3-6 menit untuk isoflurane. (mbilan dan distribusi se-ofluran lebih cepat dari isoflurane dan halotan, namun masi lebih lambat daripada desfluran.

41

0endahnya daya larut se-ofluran memudahkan kecepatan eliminasi paru. <ilai eliminasi adalah kuantitas dari perubahan nilai konsentrasi al-eolar ketika anestesi dihentikan. <ilai eliminasi se-ofluran hampir sama dengan desfluran, tetapi lebih cepat dibandingkan dengan halotan dan isofluran. Se-ofluran dimetabolisme oleh sitokrom P358 #=" menjadi hePafluoroisopropanol, disertai dengan pelepasan fluoride inorganic dan 9!#, hePafluoroisopropanol dengan cepat dikonjugasi oleh asam glukoronat dan dibuang lewat urin. $idak ada jalan lain untuk dimetabolisme. Studi metabolisme in -i-o mengatakan kurang lebih 5F dari dosis se-ofluran akan dimetabolisme. Dosis se-ofluran diatas ',5F muncul di urin sebagai fluoride inorganik. &enurut hasil studi, fluoride mengindikasikan adanya bersihan diatas 58F adalah non-renal )melewati jalan fluoride yang diserap tulang*. &etabolisme se-ofluran '-5F memproduksi peningkatan dalam plasma dan konsentrasi fluoride urin, jarang dihubungkan dengan trauma hepar dan ginjal. Se-ofluran memiliki koefisien pemagian darah dan gas yang rendah dan bagaimanapun juga berhubungan dengan kecepatan onset anestesi dan pasca anestesi. /G. Penggunaan Klinik Sama seperti agen -olatil lainnya, se-ofluran digunakan terutama sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan anestesia umum. Disamping efek hipnotik, juga mempunyai efek analgetik rignan dan relaksasi otot ringan. Pada bayi dan anak-anak yang tidak kooperatif, sangat baik digunakan untuk induksi. ,ntuk mengubah cairan se-ofluran menjadi uap, diperlukan alat penguap )-apori1er* khusus se-ofluran.

G.

Dosis ,ntuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah ',8-5,8F

bersama-sama dengan <#!. ,ntuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara #,8-',8F, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 8,5-"F. G/. Kontra /ndikasi

42

Hati-hati pada pasien yang sensitif terhadap Ndrug induced hyperthermiaO, hipo-olemik berat dan hipertensi intrakranial. G//. Keunggulan Dan Kelemahan Keuntungannya adalah induksi cepat dan lancar, tidak iritatif terhadap mukosajalan nafas, pemulihannya paling cepat dibandingkan dengan agen -olatil lain. Kelemahannya adalah batas keamanan sempit )mudah terjadi kelebihan dosis*, analgesia dan relaksasinya kurang sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain. '

#I.1. ANESTESI PARENTERAL Kadar anestetik dalam darah akan meningkat segera setelah penyuntikan, diikuti dengan kenaikan kadar obat dalam jaringan otak sehingga penderita menjadi tidak sadar. ,ntuk mempertahankan derajat anestesia, kadar dalam darah harus dipertahankan dengan penyuntikan berkala atau diberikan penetesan secara terus-menerus melalui infus karena obat tersebut cepat dimetabolisme di hati dn dikeluarkan lewat ginjal. ?ika pemberian anestetik dihentikan maka kadar dalam darah akan menurun dan terjadi difusi balik dari jaringan otak ke dalam darah sehingga penderita sadar kembali. &akinlama anestesia berlangsung, makin lama juga proses sadar kembali karena jaringan tubuh selain otak juga menjadi jenuh dengan anestetik. Penggunaan anestetik parenteral merupakan pemberian satu arah. Pada anestesia inhalasi, kelebihan dosis dapat dengan mudah dikeluarkan kembali melalui penapasan, sedangkan pada anestesia parenteral diperlukan waktu untuk menunggu proses metabolism obat sehingga dosis perlu diperhitungkan dengan teliti. TIOPENTAL /nduksi intra-ena berjalan cepat, dalam '8-68 mendetik penderita sudah tidak sadar. Pemberian intra-ena harus sdikit demi sedikit dengan dosis '-5 mg kg22, sambil melihat respon penderita yaitu sampai mata tertutup dan refleks bulu mata hilang. Hilangkanya kesadaran disebabkan oleh deprasi korteks. Pada dosis lebih tinggi, deprasi mencapai pusat pernapasan di medulla oblongata dan menyebabkan henti napas. Penderita cepat kembali sadar dalam waktu '-5 menit karena redistribusi obat dari otak ke jaringan lain bukan Karen cepatnya metablisme hati dan ginjal. $hiopental sesuai untuk tindakan singkat. $hiopental juga baik untuk induksi anestesi dengan halotan, tetapi
43

tidak baik untuk eter karena menaikkan kepekaan refleks jalan napas, sedangkan eter merangsang kelenjar di mukosa jalan napas. $iopental tidak berkhasiat analgesik, kurang merelaksasi otot rangka, tidak menyebabkan mual dan muntah. Pengaruhnya pada saluran napas adalah mudah menyebabkan hipo-entilasi sampai apnea, terutama jika ada radang saluran napas karena kepekaan refleks saluran napas meningkat. KETAMIN .K%$a(ar/ 2atas keamanan obat ini sangat lebar, kelebihan dosis hanya menyebabkan tidur lebih lama, tetapi tidak menambah dalamnya stadium anestesia. Dalam keaaan tidak sadar, penderita dapat bergerak-gerak tanpa tujuan, membuka mata, memperlihatkan nistagmus, atau bersuara. Khasiat analgesikanya sangat baik. Pada waktu mulai sadar kembali kadang timbul reaksi gelisah, mimpi yang tidak menyenangkan, atau halusinasi. 0eaksi ini dapat dikrangi dengan gololangan ben1odia1epine. Ketamin justru meningkatkan tonus otot, sehingga obat ini hanya baik untuk pembedahan yang tidak memerlukan relaksasi otot. MIDA2OLAM &ida1olam salah satu golongan ben1odia1epine, digunakan dalam balance anathesia untuk menimbulkan sedasi, etapi digunakan juga sebagai medikasi pra anasthesia karena dapat menimbulkan amnesia retrograd. Sistem kardio-askular relati-e stabil pada pemberian ben1odia1epine, karena itu obat ini banyak dipakai pada penderita gangguan jantung.;

KESIMPULAN

44

$indakan pra operasi merupakan tindakan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif. Persiapan fisik maupun pemeriksaan penunjang serta pemeriksaan mental sangat diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan pasien berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan pra operatif apapun bentuknya dapat berdampak pada tahaptahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara masing-masing bagian yang berkompeten untuk menghasilkan outcome yang optimal, yaitu kesembuhan pasien secara sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

45

". &uhiman, &uhardi7 $haib, 0oesli7 Sunatrio, S. (nestesiologi. ?akarta% 2agian (nestesiologi dan $erapi /ntensif +K,/. #883 #. $ownsend, 9ourtney &. Sabiston $ePtbook of Surgery. ,S(% Saunders. #88;. '. :atief, Said (7 Suryadi, Kartini (7 Dachlan, &. 0uswan. Petunjuk Praktis (nestesiologi. ?akarta% 2agian (nestesiologi dan $erapi /ntensif +akultas Kedokteran ,ni-ersitas /ndonesia. #88;. 3. @ikipedia. Praoperati-e +asting. Rterhubung berkalaS.

http% en.wikipedia.org Praoperati-eU+asting.html. "5 ?anuari #8"". #8"8. 5. =medicine. Preoperati-e >uidelines. Rterhubung berkalaS.

http% emedicine.medscape.com article #E5"D"-o-er-iew. "5 ?anuari #8"". #8"8 6. 9al-aria. Persiapan Pra (nestesi. Rterhubung berkalaS.

http% www.cal-ariatmc.com #8"8 "# persiapan-pra-anestesi.html. "5 ?anuari #8"". #8"8 ;. De ?ong, Sjamsuhidajat. 2uku (jar /lmu 2edah. ?akarta% =>9. #883

46