Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Fobia adalah ketakutan yang kuat dan abnormal seseorang terhadap suatu objek ataupun situasi tertentu (Fenomena). Biasanya Fobia terjadi pada masa kanak-kanak, walaupun bisa juga terjadi saat dewasa. Penyebab fobia belum diketahui dengan pasti, Namun fobia berkembang dari pengalaman tidak menyenangkan dimasa kanak-kanak yang berhubungan dengan sesuatu yang menakutkan. Pengalaman ini lalu tersimpan dalam memori; dan ketika ada faktor pencetusnya, ketakutan itu akan muncul kembali. Misalnya, orang yang pernah digigit anjing ketika kecil mungkin akan memiliki fobia terhadap semua jenis anjing yang ditemuinya ketika ia dewasa, dan reaksinya bisa semakin bertambah parah seiring perjalanan waktu. Fobia juga bisa terjadi karena seseorang mengasosiasikan suatu benda dengan hal lain. Itulah sebabnya, benda-benda kecil yang tidak berbahaya bisa jadi sumber ketakutan luar biasa bagi seorang penderita fobia. Jadi objek yang membuat dia takut sekarang itu sebenarnya hanya simbol dari benda lain atau situasi tertentu, Misalnya, orang yang memiliki pengalaman traumatis terhadap ular, dikemudian hari ia menjadi ketakutan ketika melihat tas, sepatu atau benda lain dengan motif kulit ular. Atau, ada orang fobia terhadap dodol berbungkus plastik karena bentuk bungkusan dodol menyerupai pocong, yaitu sumber ketakutan sebenarnya. Fobia bahkan bisa terjadi pada beberapa orang dalam sebuah keluarga. Namun, fobia tidak ada hubungannya dengan faktor genetik atau keturunan. Munculnya fobia pada beberapa anggota keluarga Adalah hasil proses indentifikasi. Sehingga Anak melihat perilaku orang tuanya, yang kemudian ditangkap oleh alam bawah sadar, dan akhirnya muncul dalam perilaku si anak seharihari. Anak menganggap memang begitulah seharusnya cara menghadapi sebuah masalah. Anak yang tidak terlatih menghadapi masalah dengan benar akan lebih mudah mengalami trauma ketika berhadapan dengan pengalaman yang menimbulkan ketakutan luar biasa, yang berkembang menjadi fobia. Sehingga orang tua perlu mengarahkan anak menghadapi ketakutan dengan benar dan tidak menakut-nakuti anaknya dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan tidak nyata, seperti setan, genderuwo dan sebagainya. Misalnya, ketika anak takut masuk kamar yang gelap, orangtua menemani dan menunjukan tidak ada hal yang perlu ditakuti. Atau, jika anak

takut pergi ke dokter gigi, kenalkan anak pada alat-alat yang di pakai oleh kedokteran sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan. Saat anak ingin naik tangga yang tinggi, jangan melarangnya sambil menyebutkan bahaya dan risikonya, tetapi justru jelaskan cara naik tangga benar agar terhidar dari bahaya. Orang yang paling rentan mengalami fobia adalah mereka yang daya tahannya lemah hal-hal dilingkungan sekitar yang bagi orang lain biasa saja, diterima oleh orang yang mentalnya lemah sebagai suatu pengalaman traumatis yang akhirnya menjadi fobia. Namun,orang dengan daya tahan mental kuat pun harus tetap waspada. Karena orang sesehat apa pun bisa mengalami trauma, jika stressor dari lingkungan sangat kuat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI Fobia berasal dari bahasa Yunani yaitu Fobos yang berarti ketakutan. Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak irasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari objek, aktifitas / situasi yang ditakuti. Reaksi fobia menyebabkan gangguan pada kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupannya. Fobia dibedakan dalam tiga jenis menurut jenis objek atau situasi ketakutan yaitu agorafobia, fobia spesifik, dan fobia sosial. Fobia spesifik adalah suatu rasa takut yang kuat dan persisten pada suatu objek atau situasi. Fobia sosial disebut juga gangguan kecemasan sosial adalah rasa takut yang berlebihan terhadap penghinaan dan rasa malu dalam berbagai lingkungan sosial.

EPIDEMIOLOGI Diperkirakan 5 10 % dari seluruh populasi mengalami gangguan ini. Gangguan yang ditimbulkan dari fobia, apabila tidak dihiraukan, dapat menyebabkan munculnya gangguan cemas lainnya, gangguan depresi, dan gangguan yang berhubungan dengan penggunaan obat terlarang dan alkhohol. Fobia spesifik lebih sering dijumpai dibandingkan dengan fobia sosial. Gangguan ini paling sering dialami perempuan dan kedua tersering pada pria. Prevalensi 6 bulan fobia spesifik berkisar antara 5 10 / 100 orang. Rasio wanita berbanding laki laki adalah 2 : 1, walaupun rasio untuk fobia terhadap darah, injeksi dan cedera berkisar antara 1 : 1. Puncak onset fobia spesifik darah-suntikan-sakit berkisar antara 5 9 tahun. Sedangkan puncak onset fobia

situasional berkisar pada umur 20. Umumnya objek penyebab rasa takut adalah hewan, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dan kematian.

Prevalensi untuk fobia sosial berkisar antara 3 13 %. Untuk prevalensi 6 bulannya berkisar antara 2 3 / 100 orang dimana kaum perempuan lebih sering mengalami fobia sosial dibandingkan pria, namun pada studi klinis seringkali ditemukan kebalikannya. Puncak onset fobia sosial adalah pada masa remaja, namun berkisar antara usia 5 hingga 35 tahun.

ETIOPATOGENESIS Prinsip-prinsip umum pada fobia terdiri dari faktor psikoanalitik dan faktor perilaku. Faktor Psikoanalitik Teori Sigmund Freud menyatakan neurosis fobik, merupakan penjelasan analitik untuk fobia spesifik dan fobia sosial. Rasa cemas adalah sinyal untuk menyadarkan ego, bahwa dorongan terlarang di alam bawah sadar yang akan memuncak dan untuk menyadarkan ego untuk melakukan mekanisme pertahanan melawan daya insting yang mengancam. Fobia merupakan hasil konflik yang terpusat pada masalah masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan. Jika tindakan represi untuk mencegah cemas gagal, sistem ego seseorang akan mengaktifkan mekanisme pertahanan yang berupa mengalihkan ( displacement ), dimana masalah yang tidak selesai dari masa kanak-kanak akan dialihkan kepada objek atau situasi yang memiliki kemampuan untuk membangkitkan rasa cemas. Objek atau situasi tersebut menjadi simbol dari masalah yang dahulu dialaminya ( Symbolization ). Mekanisme pertahanan ego terhadap rasa cemas terdiri dari tiga hal, yakni represion, displacement, dan symbolization. Sehingga rasa cemas tersebut teratasi dengan membentuk phobic neurosis. Pada agoraphobia atau erythrophobia, rasa cemas diduga datang dari rasa malu yang mempengaruhi superego. Setiap orang dilahirkan dengan tingkat temperamen yang berbeda yang menyebabkan mereka dapat menangani stimuli stress dari luar dengan cara yang berbeda. Dalam memunculkan fobia, diperlukan tingkat stress yang cukup, seperti kekerasan dalam rumah tangga, terkucilkan dari kehidupan sosial sampai kehilangan orang yang dicintai.

Faktor Perilaku John B. Watson memiliki hipotesis mengenai fobia, dimana fobia muncul dari rasa cemas dari stimuli yang menakutkan yang muncul bersamaan dengan stimuli kedua yang bersifat netral. Jika dua stimuli dihubungkan bersamaan, stimuli netral tersebut bisa membangkitkan kecemasan oleh dirinya sendiri. Contohnya pada seseorang yang fobia dengan kucing, dahulu ia pernah dicakar oleh kucing, dimana cakaran tersebut merupakan stimuli yang menakutkan, sedangkan kucing tersebut merupakan stimuli yang netral, namun karena stimuli tersebut muncul secara bersamaan, sehingga kucing tersebut juga menjadi stimuli yang menakutkan. Teori pembebasan perilaku menyatakan, kecemasan adalah dorongan yang memotivasi organisme melakukan perilaku tertentu untuk menghilangkan pengaruh yang menyakitkan. Teori ini dapat diaplikasikan pada fobia spesifik terhadap situasi tertentu atau fobia sosial, dengan contoh dimana seseorang dapat menghindari berbicara didepan khayalak ramai. Organisme belajar, dengan tindakan tertentu dapat menghilangkan stimulus yang mendatangkan kecemasan Penghindaran tersebut menjadi gejala yang stabil karena efektif dalam melindungi seseorang dari kecemasan fobik Berikut ini etiopatogenesis fobia spesifik dan fobia sosial : Fobia Spesifik Pembentukan fobia spesifik muncul karena proses pemasangan objek spesifik atau situasi tertentu dengan perasaan takut dan panik. Kecenderungan nonspesifik untuk merasakan takut dan cemas membentuk efek back group, misalnya pada suatu keadaan tertentu seperti mengemudi bila dihubungkan dengan kecelakaan, akan menyebabkan seseorang mengalami asosiasi permanen antara mengemudi dengan kecelakaan. Mekanisme asosiasi lain antara objek fobik dan emosi fobik adalah modelling, dimana seseorang mengamati reaksi orang lain dan pengalihan informasi, seseorang diperingati tentang bahaya tertentu misalnya ular berbisa Hasil studi menemukan jikalau seseorang dengan fobia spesifik tersebut memiliki anggota keluarga tingkat satu memiliki fobia dengan jenis yang sama. Sehingga faktor genetik juga memiliki peran dalam fobia spesifik, contohnya pada fobia terhadap darah-suntikan-sakit yang tampak nyata terkait dengan keluarga.

Fobia Sosial Penelitian melaporkan jika beberapa anak kemungkinan memiliki faktor keturunan berdasarkan inhibisi perilaku yang konsisten. Hal ini cukup sering pada anak-anak dengan orang tua yang memiliki gangguan serangan panik, dan mungkin berkembang menjadi pemalu yang parah saat dewasa. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh lingkungan didikan keluarga yang tertutup, kurang perduli, dan terlalu protektif mengenai anak mereka. Beberapa hal kecil dapat menjadi indikator dari sifat seseorang, seperti seseorang yang berkuasa mungkin cenderung berjalan dengan dagu terangkat dan melakukan kontak mata, dibandingkan dengan seseorang yang dikalahkan sering berjalan dengan kepala tertunduk dan jarang melakukan kontak mata. Secara spesifik, penggunaan obat antagonis reseptor -adrenergik ( propanolol ) untuk fobia kinerja contohnya berbicara di depan publik. Seseorang dengan fobia kinerja biasanya melepaskan lebih banyak norepinephrine atau epinephrine, secara sentral maupun perifer, dibandingkan orang-orang non-fobik, atau orang-orang tersebut lebih sensitif terhadap stimulasi kadar adrenergik yang normal. Pengamatan bahwa mono amine oxidase inhibitor (MAOI) yang lebih efektif dibandingkan obat-obatan tricylcic pada terapi fobia sosial menyeluruh, diduga jikalau aktivitas dopaminergik berhubungan dengan patogenesis gangguan fobia sosial. Faktor genetik diduga memiliki keterkaitan dengan fobia sosial. Anggota keluarga tingkat pertama pada seseorang dengan gangguan fobia memiliki kecenderungan untuk mengalami fobia sosial sebanyak tiga kali lebih sering dibandingkan dengan yang tidak.

TANDA DAN GEJALA Fobia ditandai oleh kesadaran akan kecemasan yang berat ketika pasien terpapar situasi atau objek spesifik. DSM-IV-TR menyatakan bila serangan panik dapat terjadi pada pasien dengan fobia spesifik atau fobia sosial, namun mereka sudah mengetahui kemungkinan terjadinya serangan panik tersebut. Paparan terhadap stimulan tertentu terjadinya serangan panik. dapat mencetuskan

Seseorang yang memiliki fobia akan menghindari stimulus fobianya, bahkan sampai pada taraf yang berlebihan. Contohnya seorang pasien fobia mungkin menggunakan bus untuk

bepergian jarak jauh daripada pesawat terbang. Seringkali, pasien dengan gangguan fobia juga memiliki masalah dengan gangguan penggunaan zat-zat terlarang sebagai upaya pelarian mereka dari rasa cemas tersebut. Selain itu, diperkirakan sepertiga dari seluruh pasien fobia juga memiliki keadaan depresif yang berat. Pada pemeriksaan status mental ditandai dengan adanya ketakutan yang irasional dan ego-distonik terhadap situasi, aktifitas atau objek tertentu. Pasien umumnya menceritakan bagaimana cara mereka menghindari stimulus tersebut. Umumnya pasien dengan fobia juga memiliki gejala depresi.

PEDOMAN DIAGNOSIS Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV ( DSM-IV-TR) Fobia Spesifik Revisi keempat dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-IV-TR), menggunakan isitilah fobia spesifik untuk dicocokkan dengan hasil revisi kesepuluh dari International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems ( ICD-10 ).

DSM-IV-TR 300.29 FOBIA SPESIFIK A. Ketakutan yang jelas dan menetap yang berlebihan atau tidak beralasan, ditandai oleh adanya atau antisipasi dari suatu obyek atau situasi spesifik (misalnya, naik pesawat terbang, ketinggian, binatang, mendapat suntikkan, melihat darah). B. Pemaparan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan respon kecemasan segera, dapat berupa serangan panik yang berhubungan dengan situasi atau predisposisi oleh situasi. Catatan : pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan menangis,

tantrum, diam membeku, atau melekat erat menggendong. C. Orang menyadari bahwa ketakutan adalah berlebihan atau tidak beralasan . Catatan : pada anak-anak, gambaran ini mungkin tidak ditemukan D. Situasi fobik dihindari atau kalau dihadapi adalah dengan kecemasan atau dengan penderitaan yang jelas. E. Penghindaran, kecemasan antisipasi, atau penderitaan dalam situasi yang ditakuti secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas karena menderita fobia. F. Pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6 bulan. G. Kecemasan, serangan panik, atau penghindaran fobik dihubungkan dengan objek atau situasi spesifik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain, seperti Gangguan Obsesif-Kompulsif (misalnya,seseorang takut kotoran dengan obsesi tentang kontaminasi), Gangguan Stres pascatrauma (misalnya,penghindaran stimulus yang berhubungan dengan stresor yang berat0, Gangguan Cemas Perpisahan (misalnya,menghindari sekolah), Fobia Sosial (misalnya,menghindari situasi sosial karena takut merasa malu), Gangguan Panik dengan Agorafobia, atau Agorafobia Tanpa Riwayat Gangguan Panik. Sebutkan tipe : Tipe Binatang Tipe Lingkungan Alam (misalanya, ketinggan, badai, air) Tipe Darah, Injeksi, Cedera Tipe Situasional (misalnya, pesawat udara, elevator, tempat tertutup) Tipe Lainnya (misalnya, ketakutan tersedak, muntah, atau mengidap penyakit ; pada anak-anak, ketakutan pada suara keras atau karakter bertopeng).

Dalam table ini, kriteria A dan B telah disebutkan didalam DSM-IV-TR untuk memberikan kemungkinan jika suatu pajanan terhadap stimulus fobia dapat mencetuskan

serangan panik. Kontras dengan gangguan serangan panik, serangan panik pada fobia spesifik sangat terikat dengan stimulus penyebabnya. Fobia darah-suntikan-sakit dibedakan dari fobia yang lain karena didapatkan respon yang berbeda dari fobia tersebut, yaitu hipotensi yang disusul dengan bradikardi. Penegakan diagnosa fobia spesifik juga harus difokuskan pada benda yang menjadi stimulus fobia. Berikut di bawah ini adalah contoh fobia spesifik yakni :

Acrophobia Agoraphobia Ailurophobia Hydrophobia Claustrophobia Cynophobia Mysophobia Pyrophobia Xenophobia Zoophobia

Takut akan ketinggian Takut akan tempat terbuka Takut akan kucing Takut akan air Takut akan tempat tertutup Takut akan anjing Takut akan kotoran dan kuman Takut akan api Takut akan orang yang asing Takut akan hewan

Fobia Sosial Menurut DSM-IV-TR untuk fobia sosial dinyatakan bahwa fobia sosial dapat diikuti dengan serangan panik. DSM-IV-TR juga menyertakan untuk fobia sosial yang bersifat menyeluruh yang berguna untuk menentukan terapi, prognosis, dan respon terhadap terapi. DSM-IV-TR menyingkirkan diagnosa fobia sosial bila gejala yang timbul merupakan akibat dari penghindaran sosialisasi karena rasa malu dari kelainan mental atau non-mental.

DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Social Phobia A. Ketakutan yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau memperlihatkan perilaku dimana orang bertemu dengan orang asing atau kemungkinan diperiksa oleh orang lain. Ketakutan bahwa ia akan bertindak dengan cara (atau menunjukkan gejala kecemasan) yang akan menghinakan atau memalukan. Catatan : pada anak-anak, harus terbukti adanya kemampuan sesuai usianya untuk melakukan hubungan sosial dengan orang yang telah dikenalnya dan kecemasan hanya terjadi dalam lingkungan teman sebaya, bukan dalam interaksi dengan orang dewasa. B. Pemaparan dengan situasi sosial yang ditakuti hampir selalu mencetuskan kecemasan, dapat berupa seragan panik yang berhubungan dengan situasi atai dipredisposisi oleh situasi. Catatan : pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan menangism tantrumm diam membeku, atau bersembunyi dari situasi sosial dengan orang asing. C. Orang menyadari bahwa ketakutan adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan : pada anak-anak, gambaran ini mungkin tidak ditemukan D. Situasi sosial atau memperlihatkan perilaku dihindari atau kalau dihadapi adalah dengan kecemasan atau dengan penderitaan yang jelas E. Penghindaran, kecemasan antisipasi, atau penderitaan dalam situasi yang ditakuti secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas karena menderita fobia. F. Pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6 bulan. G. Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya, penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain ( misalnya, Gangguan Panik Dengan atau Tanpa Agorafobia, Gangguan Cemas Perpisahan, Gangguan Dismorfik Tubuh, Gangguan Perkembangan Pervasif, atau Gangguan Kepribadian Skizoid). H. Jika terdapat suatu kondisi medis umum atau gangguan mental dengannya misalnya takut adalah bukan gagap, gemetar pada penyakit Parkinson, atau

memperlihatkan perilaku makan abnormal pada Anoreksia Nervosa atau Bulimia Nervosa. Sebutkan Jika : Menyeluruh : jika ketakutan termasuk situasi yang paling sosial (juga pertimbangkan diagnosis tambahan Gangguan Kepribadian Menghindar)

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ) Agorafobia Semua kriteria ini harus dipenuhi untuk : a. Gejala psikologis/otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietas dan bukan merupakan gejala lain yang sekunder seperti waham atau pikiran obsesif. b. Anxietas yang timbul harus terutama terjadi dalam sekurang-kurangnya dua dari situasi berikut : c. Banyak orang Tempat-tempat umum Bepergian keluar rumah Bepergian sendiri

Menghindari situasi fobik harus/sudah merupakan gambaran yang menonjol

Fobia Khas (Terisolasi) Semua kriteria yang dibawah ini untuk diagnosis : a. Gejala psikologis atau otonomik harus merupakan manifestasi primer dari anxietas, dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti waham atau pikiran obsesif. b. Anxietas harus terbatas pada adanya objek situasi fobik tertentu. c. Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.

Fobia Sosial Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk suatu diagnosis pasti: Gejala-gejala psikologis, perilaku /otonomik harus merupakan manifestasi primer dari anxietas dan bukan sekundari gejala lain seperti waham / pikiran obsesif Anxietas harus hanya terbatas / menonjol pada situasi sosial tertentu saja Penghindaran dari situasi fobik harus merupakan gambaran yang menonjol

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis fobia harus dapat dibedakan dari ketakutan yang sesuai dan rasa malu yang normal. DSM-IV-TR membantu dalam pembedaan dengan mengharuskan gejala mengganggu kemampuan pasien berfungsi secara tepat. Kondisi medis non-psikiatrik yang dapat mencetuskan fobia berupa penggunaan obat-obat atau zat-zat terlarang, tumor sistem saraf pusat, dan penyakit serebrovaskuler. Skizofrenia merupakan diagnosis banding untuk fobia spesifik dan fobia sosial. Hal ini dikarenakan fobia dapat menjadi salah satu gejala psikosis mereka. Namun berbeda dengan pasien skizofrenia, pasien yang mengalami fobia menyadari ketidaklogisan dari rasa cemasnya dan tidak memiliki imajinasi yang bizar seperti pada psikosis. Dalam penegakan diagnosis banding, harus mempertimbangkan gangguan serangan panik, agoraphobia, dan gangguan pribadi menghindar. Pada kasus-kasus individual, penegakan diagnosisnya cukup sulit, namun secara umum pasien yang mengalami fobia akan segera merasa cemas ketika dihadapkan dengan stimulannya. Dan umumnya pada fobia sosial, pasien akan merasa cemas bila dihadapkan pada situasi yang spesifik. Pasien dengan agoraphobia merasa nyaman dengan adanya orang lain dalam situasi yang menimbulkan kecemasan, berbeda dengan pasien dengan fobia sosial akan semakin merasa cemas. Gejala pada fobia sosial berupa wajah yang kemerahan, kedutan otot, dan rasa cemas yang menyebabkannya ingin segera meninggalkan situasi mencemaskan tersebut.

Diagnosis banding untuk fobia spesifik adalah hipokondriasis, gangguan obsesifkompulsif, dan gangguan kepribadian paranoid. Hipokondriasis dibedakan dimana pasien merasa sudah sakit, sedangkan fobia pasien merasa takut akan terkena penyakit. Pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif, penegakan diagnosis lebih sulit karena untuk membedakan alasan mereka menjauhi stimulan tersebut kadang-kadang kurang jelas. Pasien dengan gangguan kepribadian paranoid akan cenderung menghindari segala macam stimuli dibandingkan dengan fobia spesifik yang akan merasa cemas hanya pada stimuli tertentu. Diagnosis banding untuk fobia sosial adalah gangguan depresif berat dan gangguan kepribadian schizoid. Penghindaran dari segala bentuk sosialisasi akan mengarah pada gangguan depresi berat. Pada gangguan kepribadian schizoid, pasien umumnya tidak ingin berinteraksi dibandingkan takut berinteraksi dengan sosial.

PENATALAKSANAAN Terdapat beberapa macam bentuk terapi, yakni terapi perilaku, psikoterapi dan berbagai modalitas terapi lainnya. Terapi Perilaku Salah satu terapi yang paling sering digunakan dan dipelajari adalah terapi perilaku. Kesuksesan terapi ini bergantung pada : komitmen pasien dengan terapi permasalahan dan tujuan terapi yang jelas berbagai strategi yang dapat digunakan untuk menangani masalah.

Terapi perilaku yang sering digunakan adalah desensitisasi sistematis, dimana pasien dipajankan dengan stimuli-stimuli yang berkekuatan menimbulkan cemas yang paling rendah hingga yang paling kuat. Dengan penggunaan obat-obat antianxietas, hipnosis, dan instruksi relaksasi otot, pasien diajarkan untuk membentuk suatu mekanisme respon yang baru terhadap stimulus-stimulus tersebut. Selain itu,, terdapat terapi perilaku yang lain yakni image flooding,

dimana pasien dipajankan dengan gambar-gambar stimulus cemas sampai pada masa dimana pasien tidak merasakan cemas lagi. Psikoterapi Dahulu psikiater-psikiater percaya bahwa psikoterapi merupakan terapi yang terutama, namun dengan seiring berjalannya waktu, psikiater dihadapkan pada kenyataan bahwa psikoterapi tidak mengurangi kecemasan yang timbul dari respon pasien terhadap stimulus tersebut. Kemudian para psikiater berinisiatif untuk menghimbau pasien menghadapi sumbersumber kecemasannya. Terapi Lainnya Hipnosis, terapi suportif, dan terapi keluarga berguna pada terapi gangguan fobia. Hipnosis digunakan untuk meningkatkan sugesti ahli terapi bahwa objek fobik tidaklah

berbahaya, dan teknik hipnosis diri diajarkan pada pasien sebagai metode relaksasi jika berhadapan dengan objek fobik. Psikoterapi suportif dan terapi keluarga berguna dalam membantu pasien secara aktif menghadapi objek fobik selama pengobatan. Obat-obatan seperti antagonis reseptor -2 adrenergik dapat berguna pada pasien dengan fobia spesifik, benzodiazepine, psikoterapi, atau terapi kombinasi dapat digunakan pada kasus fobia spesifik. Pasien dengan fobia sosial, psikoterapi dan farmakoterapi berguna untuk menangani gangguan fobia sosial. Menggabungkan kedua bentuk terapi diduga meningkatkan efektivitas terapi. Obatobatan yang dapat digunakan pada fobia sosial berupa : Selective Serotonin Reuptake Inhibitor Benzodiazepine Venlafaxine Buspirone

Dalam penanganan penderita fobia, penderita tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri sehingga haruslah dibantu oleh terapis yang kompeten dibidangnya. Banyak sekali terapi yang dapat dilakukan. Berikut adalah beberapa pendekatan terapi yang bisa dilakukan : a. Terapi Pada Agoraphobia 1. Farmakoterapi Obat Trisklik dan Tetrasiklik, Inhibitor Monoamine Oksidasi, SSRI, benzodiazepine adalah efektif untuk pengobatan gangguan panic. Diantara obat Trisklik data yang paling kuat menyatakan bahwa Clomipramine dan Imipramine adalah efektif didalam gangguan panic. Tetapi pengalaman klinis menyatakan bahwa Climipramine dan Imipramine harus dimulai pada dosis rendah 10 mg sehari, dan ditritasi perlahanlahan pada awalnya dengan 10 mg sehari tiap 2-3 hari. Selanjutnya lebih cepat dengan 25 mg sehari tiap 2-3 hari, jika dosis rendah ditoleransi dengan baik. 2. Terapi Kognitif dan Perilaku Yaitu terapi yang efektif untuk gangguan panic, menghasilkan remisi gejala yang berlangsung lama. Dua pusat utama terapi kognitif untuk gangguan panik adalah instruksi tentang kepercayaan salah dari pasien dan informasi tentang serangan panik. Instruksi tentang kepercayaan yang salah berpusat pada kecenderungan pasien untuk keliru menginterpretasikan sensasi tubuh yang ringan sebagai tanda untuk ancaman serangan panik, kiamat atau kematian. Penerapan relaksasi dengan tujuan untuk memasukkan suatu rasa pengendalian pada pasien tentang tingkat kecemasan dan relaksasinya. Melalui penggunaan tehnik yang dibakukan untuk relaksasi otot dan membayangkan situasi yang menimbulkan relaksasi. Pasien belajar tehnik yang dapat membantu mereka melewati serangan panik. Latihan Pernafasan. Tujuan dari latihan pernafasan ini untuk membantu mengendalikan hiperventilasi selama suatu serangan panik.

Pemaparan In Vivo Digunakan sebagai terapi perilaku primer untuk gangguan panik. Tehnik meliputi pemaparan yang semakin besar terhadap stimulus yang ditakuti dengan berjalan waktu pasien mengalami desentisisasi terhadap pengalaman. 3. Terapi Psikososial Terapi keluarga yang digunakan untuk mendidik, mrndukung seringkali bermanfaat. Psikoterapi berorientasi tilikan. Terapi ini bermanfaat dalam pengobatan agoraphobia. Pengobatan memusatkan pada membantu pasien mengerti arti bawah sadar dari kecemasan, simbolisme situasiyang dihindari, kebutuhan untuk merepresi impuls dan tujuan sekunder dari gejala.

b. Terapi Pada Fobia Spesifik Terapi pada fobia spesifik yang paling sering adalah terapi pemaparan, suatu tipe terapi perilaku dengan menggunakan pemaparan stimulus fobic yangserial, bertahap dan dipacu diri sendiri. Ahli terapi mengajari pasien tentang berbagai tehnik menghadapi kecemasan, termasuk relaksasi, control ernafasan dan pendekatan kognitif terhadap gangguan. Aspek kunci dari terapi perilaku yang berhasil adalah komitmen pasien terhadap pengobatan, masalah dan tujuan yang diidentifikasi dengan jelas dan strategi alternative yang tersedia untuk mengatasi perasaan pasien.

c. Terapi Pada Fobia Sosial Pengobatan pada fobia sosial menggunakan psikoterapi dan farmakoterapi. Obat yang dilaporkan efektif dalam pengobatan adalah apralzolam, clonazepam dan SSRI.

Psikoterapi untuk fobia sosial melibatkan suatu kombinasi metode perilaku dan kognitif termasuk terapi ulang kognitif, desentisisasi, session selama latihan dan berbagai tugas pekerjaan rumah.

PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS Belum banyak diketahui tentang prognosis fobia, namun kecenderungan menjadi kronis dan dapat terjadi komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi, penyalahgunaan alkohol, dan obat bila tidak mendapat terapi. Menurut National Institute of Mental Health, 75% orang dengan fobia spesifik dapat mengatasi ketakutannya dengan terapi kognitif perilaku 80% orang dengan fobia sosial membaik dengan farmakoterapi, terapi kognitif perilaku atau kombinasi Agorafobia dengan gangguan panik yang diterapi : o o o o 10-20% 30-40% 50% : bebas gejala untuk waktu yang lama : gejala ringan yang tidak menggangu kehidupa sehari - hari : tidak membaik

Gangguan fobia ditentukan tergantung oda perilaku fobik apakah dapat mengganggu kemampuan seseorang berfungsi, ketergantungan finansial pada orang lain dan gangguan dalam kehidupan sosial, pekerjaan dan akademik.

BAB III KESIMPULAN

Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. Menurut Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV), fobia terbagi 3 : fobia sosial, fobia spesifik, dan agoraphobia adalah sub-kelompok gangguan kecemasan. Fobia adalah kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap eksternal tertentu. Masalah fobia bisa disembuhkan jika ada keinginan yang kuat untuk sembuh oleh pengidap fobia. Orang orang terdekat berusaha untuk tidak menakut nakuti atau terlalu banyak melarang kepada seorang dan harus bepikiran atau berperilaku positif dalam menghadapi segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan anak agar, masalah Fobia itu muncul pada kehidupan anak tersebut setelah dewasa. Karena fobia ternyata sangat merugikan dapat menghambat karir, kehidupan sosial ataupun keluarga Dan menjadi model contoh yang buruk untuk bawahanya jika dia menjadi pemimpin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock, Jack A. Grebb. Gangguan Kecemasan. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri- Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi-7. Jilid2. 1997. Jakarta: Binarupa Aksara. Hal: 47-56. 2. American Psychiatric Association. Social Phobia (Social Anxiety Disorder). Diagnostic and Statistical of Mental Disorder. Edisi-4. 1994. Washington: R.R. Donnelly & Sons Company. Hal: 405-417. 3. http://en.wikipedia.org/wiki/Phobia 4. http://en.wikipedia.org/wiki/Specific_phobia 5. http://en.wikipedia.org/wiki/Social_anxiety_disorder 6. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9861472 7. http://emedicine.medscape.com/article/290854-overview 8. http://emedicine.medscape.com/article/805265-overview