Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan Pustaka

Sesak Nafas Akibat Batuk dan Pilek

Beatrix Flora E.Siregar 10.2010.220 D1 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731 Jakarta ouw_there@yahoo.co.id

PENDAHULUAN

Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk , otot interkosta , bronkus , bronkiol , alveolus dan diafragma .Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea .Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan kepada peparu .Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol .Alveolus mempunyai penyesuaian berikut untuk memudahkan pertukaran gas : diliputi kapilari darah yang banyak, dinding sel yang setebal satu sel ( dinding sel yang nipis ) , permukaan yang luas dan lembap. Di mana tujuan tersebut adalah untuk memahami struktur organ pernafasan.

Sistem pernapasan dibentuk oleh beberapa struktur. Seluruh struktur tersebut terlibat dalam proses respirasi eksternal yaitu proses pertukaran oksigen (O) antara atmosfer dan darah serta pertukaran karbondioksida (CO) antara darah dan atmosfer.1 Respirasi eksternal adalah proses pertukaran gas antara darah dan atmosfer sedangkan respirasi internal adalah proses pertukaran gas antara darah sirkulasi dan sel jaringan. Respirasi internal (pernapasan selular) berlangsung di seluruh sistem tubuh. 1 Struktur Sistem pernapasan Struktur yang membentuk sistem pernapasan dapat dibedakan menjadi struktur yang makro dan mikro. Struktur makro terdiri dari struktur utama (principal structure), dan struktur pelengkap (accessorry structure). Struktur mikro dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian konduksi dan respirasi. 1 Bagian konduksi, terdiri atas rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis. Bagian konduksi berfungsi untuk menyiapkan udara yang masuk, maksudnya adalah sebelum memasuki paru, udara inspirasi dibersihkan dan dilembabkan oleh mukosa yang dilapisi epitel respirasi khusus. Saat menghirup udara, terdapat vibrisa (rambut khusus) di fosa nasal yang berfungsi menahan partikel-partikel besar (debu). Partikel halus serta gas akan terperangkap dalam lapisan mukus, mukus bersama dengan sekret serosa berfungsi melembabkan udara yang masuk dan melindungi pelapis alveolar yang halus dan lembut agar tidak kekeringan. Udara yang masuk menjadi hangat oleh jalinan vaskular superfisial yang luas. Sedangkan bagian respirasi merupakan tempat berlangsungnya pertukaran gas yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus.2 Bila dilihat dari struktur makro, Struktur utama sistem pernapasan adalah saluran udara pernapasan yang terdiri dari jalan napas dan saluran napas, serta paru (parenkim paru). Sedangkan struktur pelengkap sistem pernapasan berupa pembentuk dinding toraks, diafragma, dan pleura. 1 Struktur utama sistem pernapasan Saluran udara pernapasan dibagi menjadi dua, yaitu saluran udara pernapasan bagian atas dan saluran udara pernapasan bagian bawah. Saluran pernapasan bagian atas atau jalan pernapasan ada tiga, diantaranya. 3
2

Hidung Hidung, merupakan pintu masuk pertama udara yang kita hirup. Udara masuk dan keluar sistem pernapasan melalui hidung, yang terbentuk dari dua tulang hidung dan beberapa kartilago. Hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan yang dibungkus jaringan ikat dan kulit. Terdapat dua pintu pada dasar hidung yang disebut dengan nares (lubang hidung) yang dipisahkan oleh septum nasal di bagian tengahnya. Septum nasal dibagi dua, yaitu vestibulum nasi ( terletak di belakang nares anterior) dan fosa nasalis (daerah belakang vestibulum nasi). 2,3 Pada vestibulum nasi terdapat banyak kelenjar sebasea, kelenjar

keringat selain vibrisa dan epitel berlapis gepeng tanpa lapis tanduk dan berubah menjadi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet sebelum masuk fosa

nasalis. Lapisan mukosa hidung adalah sel epitel bersilia dengan sel goblet yang menghasilkan lendir. Udara yang

melewati rongga hidung dihangatkan oleh plexus venosus yang terdapat di bawah epitel konka nasalis inferior (swell bodies). kavum Yang nasi menjaga adalah
Gambar 1.1 Hidung dan sinusitis

kelembaban

campuran sekret di glandula nasalis yang terletak pada lamina propria. 2,3 Saat menghirup udara bakteri dan partikel polusi udara akan terjebak dalam lendir. Silia pada lapisan mukosa secara kontinu menyapu lendir kearah faring. Sebagian besar lendir akan tertelan dan setiap bakteri yang ada akan dihancurkan oleh asam hidrklorida dalam getah lambung. Kemoreseptor penghidu (indera pembau) terletak di epitel olfaktorius, epitel olfaktorius merupakan daerah khusus membran mukosa yang ada di pertengahan kavum nasi dan permukaan konka nasalis superior. Mukosa pada hidung berwarna coklat kekuningan. Yang berperan agar epitel olfaktorius lembab adalah sekret kelenjar bowman. 2,3
3

Rongga nasal (kavum nasi) yang berhubungan dengan tulang tengkorak disebut sinus paranasal yang fungsinya untuk meringankan tulang tengkorak dan memberikan resonansi suara. Sinus paranasal mengandung lebih sedikit sel goblet. Yang termasuk sinus paranasalis adalah sinus frontalis, sinus maxilaris, sinus ethmoidalis dan sinus sphenoidalis. 3 Rongga hidung berhubungan dengan bagian atas nasofaring melalui choanae (nares posterior). Rongga ini berhubungan dengan rongga nasal melalui saluran kecil yang juga dilapisi oleh membran mukosa. Karena saluran kecil tersebut sempit maka ia mudah tersumbat selama proses inflamasi dan infeksi. Lendir dan cairan lainnya menjadi terperangkap dan menumpuk di dalam sinus yang tersumbat, sehingga menimbulkan tekanan yang sangat nyeri. Kondisi itu dikenal dengan sinusitis. 3 Faring Faring atau tenggorok adalah tuba muskular yang terletak di posterior rongga nasal dan oral dan di anterior vertebra servikalis. Secara deskriptif, faring dapat dibagi menjadi tiga segmen, setiap segmen dilanjutkan oleh segmen lainnya, nasofaring, orofaring, dan laringofaring. 3 Bagian nasofaring, paling atas adalah

yang

terletak

dibelakang

rongga nasal. Nasofaring berhubungan dengan nares internal dan ostium kedua tuba auditorius (osteum faringeum), yang memanjang ke telinga tengah. Adenoid atau tonsil faringeal terletak pada dinding posterior nasofaring, yaitu nodulus limfe yang mengandung makrofag. Nasofaring adalah saluran yang hanya dilalui oleh udara, tetapi bagian faring lainnya dapat dilalui baik oleh udara maupun makanan, namun tidak untuk keduanya pada saat yang bersamaan. 3
Gambar 1.2 Faring (Pharynx)

Bagian faring yang dapat dilihat ketika bercermin dengan mulut terbuka lebar adalah orofaring, terletak dibelakang mulut. Pada dinding lateralnya terdapat tonsil palatina yang juga nodulus limfe. Tonsil adenoid dan lingual pada dasar lidah, membentuk cincin jaringan limfatik mengelilingi faring untuk menghancurkan patogen yang masuk ke dalam mukosa. Laringofaring merupakan bagian paling inferior dari faring. Laringofaring membuka ke arah anterior ke dalam laring dan ke arah posterior ke dalam esofagus. Kontraksi dinding muskular orofaring dan laringofaring merupakan bagian dari refleks menelan. 3 Laring Laring terdiri atas kartilago, pita suara, otot dan ligamentum; semuanya menjaga agar jalan napas terbuka selama bernapas dan menutup ketika sedang menelan. Laring merupakan saluran udara yang bersifat sphincter dan juga organ pembentuk suara atau tempat pita suara, salah satu fungsinya yaitu berbicara. Berbicara adalah saluran pendek yang menghubungkan faring dengan trakea. Laring memungkinkan udara mengalir di dalam saluran tersebut dan mencegah benda padat agar tidak masuk ke dalam trakea. Dinding laring dibentuk oleh tulang rawan (kartilago) dan bagian dalamnya dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Kartilago laring terdiri atas sembilan buah yang tersusun sedemikian rupa sehingga memberntuk struktur seperti kotak dan satu sama lainnya dihubungkan oleh ligamen. Kartilago laring yang terbesar adalah kartilago tiroid, yang teraba pada permukaan anterior leher (biasanya terdapat pada pria, yang disebut dengan buah jakun). 3 Pita suara terletak di kedua sisi glotis. Selama bernapas, pita suara tertahan dikedua sisi glotis sehingga udara dapat masuk dan keluar dengan bebas dari trakhea. Selama berbicara otot-otot instrinsik laring menarik pita suara menutupi glotis, dan udara yang dihembuskan akan menggetarkan pita suara untuk menghasilkan bunyi yang selanjutnya diubah menjadi kata-kata. Saraf kranial motorik yang mempersarafi faring untuk berbicara adalah nervus vagus dan nervus aksesorius. 3 Saluran pernapasan bawah dibagi menjadi dua, yaitu trakhea, bronkhus dan bronkiolus. 3 Trakhea Trakhea terletak setelah laring dan memanjang kebawah setara dengan vertebra torakalis ke-5. Ujung trakea bagian bawah bercabang menjadi dua bronkus
5

(bronkhi) kanan dan kiri. Percabangan bronkhus kanan dan kiri dikenal sebagai karina (carina). Trakhea tersusun atas 16-20 kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat pada dinding trakhea dan berfungsi untuk melindungi jalan udara. Kartilago ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya kolaps atau ekspansi (meregang) berlebihan akibat perubahan tekanan udara yang terjadi dalam sistem pernapasan. Bagian terbuka dari bentuk C kartilago trakhea saling berhadapan secara posterior ke arah esofagus dan disatukan oleh ligamen elastis dan otot polos. Bagian trakea yang mengandung tulang rawan disebut pars kartilagenia, dan bagian trakea yang mengandung otot disebut pars membranasea. 3 Bronkhus Bronkhus mempunyai struktur yang sama dengan trakhea. Bronkhus kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan arahnya hampir vertikal dengan trakea. Sebaliknya, bronkhus kiri lebih panjang, lebih sempit, dan sudutnya pun lebih runcing. Sebagai akibat dari perbedaan anatomi ini adalah bila benda asing secara tidak sengaja terhirup biasanya akan tersangkut pada bronkhus kanan. Cabang yang semakin lama semakin kecil atau percabangan yang paling kecil disebut dengan bronkiolus. Pada dinding bronkiolus tidak terdapat kartilago. Keadaan ini menjadi penting secara klinis dalam asma. Bronkiolus yang paling kecil berakhir dalam kumpulan alveoli- kantung udara di dalam paru-paru. Fungsi percabangan bronkhial untuk memberikan saluran bagi udara antara trakhea dan alveoli. Sangat penting untuk menjaga agar jalan udara ini tetap terbuka dan bersih. Bronkiolus terminal bercabang menjadi bronkiolus respiratorius, generasi pertama yang memiliki alveoli pada dindingnya. Bronkiolus respiratorius kemudian bercabang menjadi duktus alveolaris dan sakus alveolaris, yang seluruh dindingnya terdiri dari alveoli. Bronkiolus terminalis mengandung sel clara, sel-selnya tidak memiliki silia, pada bagian apikalnya terdapat kelenjar sekretorik dan digunakan untuk mensekresi glikosaminoglikan yang mungkin melindungi lapisan bronkiolus. Setiap bronkious terminalis bercabang menjadi 2 atau lebih bronkiolus respiratorius yang berfungsi sebagai daerah peralihan antara bagian konduksi dan bagian respirasi dari sistem pernapasan. Mukosa bronkiolus respiratorius identik dengan yang ada pada bronkiolus terminalis kecuali dindingnya yang diselingi oleh banyak alveolus. Makin ke distal bronkiolus respiratorius, jumlah alveolus kedalam dinding bronkiolus makin banyak disebut dengan duktus alveolaris. 2,3

Unit fungsi paru atau alveoli rata-rata berjumlah sekitar 300 sampai 500 juta di dalam paru-paru pada rata-rata orang dewasa. Fungsinya adalah sebagai satu-satunya tempat pertukaran gas antara ingkungan eksternal dan aliran darah. Jumlah alveoli yang sangat banyak memberikan area permukaan yang sangat luas sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas. Setiap paru mempunyai area permukaan internal sekitar 80 kali lebih besar dari luas permukaan tubuh eksternal atau sekitar 70 m2 . 3 Struktur alveoli sangat efisien untuk mendukung terjadinya difusi gas. Setiap alveolus terdiri atas ruang udara mikroskopik yang dikelilingi oleh dinding yang tipis, yang memisahkan satu alveolus dengan alveolus lainnya, dan dari kapiler didekatnya. Dinding ini terdiri atas satu lapis epitel skuamosa. Diantara sel epitel terdapat sel-sel khusus yang menyekresi lapisan molekul lipid seperti deterjen yang disebut surfaktan. Surfaktan normalnya melapisi permukaan dalam dinding alveolar, bersamaan dengan selapis tipis cairan encer. Cairan ini dibutuhkan untuk menjaga agar permukaan alveolar tetap lembab, yang penting untuk terjadinya difusi gas melalui dinding alveolar. Air dalam cairan ini mengeluarkan tenaga atraktif yang kuat disebut tekanan permukaan, yang menyebabkan dinding alveolar tertarik dan kolaps ketika udara meninggalkan bilik alveolar selama ekspirasi. Surfaktan melawan tekanan ini, dengan memungkinkan alveoli mengembang kembali dengan cepat setelah ekspirasi. Tanpa surfaktan, tekanan permukaan akan menjadi demikian besar sehingga membutuhkan upaya muskular yang sangat besar untuk mengembangkan kembali alveoli. Misalnya bayi prematur yang lahir sebelum mencapai kehamilan bulan ketujuh dimana paruparu bayi tersebut belum cukup matur sehingga bayi yang dilahirkan ini mengalami kesulitan bernapas (tidak dapat bernapas spontan). 3

Struktur pelengkap sistem pernapasan Struktur pelengkap sistem pernapasan berupa pembentuk dinding toraks, diafragma, dan pleura. 1 Dinding toraks dibentuk oleh tulang, otot dan kulit. Tulang yang membentuk rongga dada terdiri dari tulang iga (12 buah), vertebra torakalis (12 buah), sternum (1 buah), clavicula (2 buah) dan skapula (2 buah). Otot pembatas rongga dada terdiri dari. 1 Otot ekstremitas superior
7

M. pektoralis mayor, M. pektoralis minor, M. serratus anterior, M. subklavius. Otot anterolateral abdominal M.abdominal oblikus eksternus, M. rektus abdominis Otot toraks intrinsik M. interkostalis eksterna, M.interkostalis interna, M.sternalis, M. toraksis transversus. Selain sebagai pembentuk dinding dada, otot skelet juga berfungsi sebagai otot pernapasan. Otot-otot pernapasan dibedakan menjadi otot untuk inspirasi, yang mencakup inspirasi utama dan tambahan, serta otot untuk ekspirasi tambahan. 1 Otot inspirasi utama (principal), yaitu (1) M. interkostalis eksterna, (2) M. interkatilaginus parasternal, (3) otot diafragma. Otot inspirasi tambahan (accessory respiratory posterior.1 Ekspirasi memerlukan kerja otot diantaranya M.interkostalis interna, muscle) disebut juga sebagai otot bantu napas, yaitu M.

Sternokleidomastoideus, (1) M.scalenus anterior, (2) M.scalenus medius, (3) M.scalenus

M.interkatilaginus parasternal, M.rektus abdominis, M.oblikus abdominis eksternus. Otot-otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur pernapasan saat berbicara, menyanyi, batuk, bersin, dan untuk mengedan saat buang air besar serta saat bersalin. 1 Diafragma adalah suatu septum berupa jaringan muskulotendinosus yang memisahkan rongga toraks dengan rongga abdomen. Dengan demikian, diafragma menjadi dasar dari rongga toraks. 1 Pleura, dibentuk oleh jaringan yang berasal dari mesodermal. Pembungkus ini dapat dibedakan menjadi Pleura viseralis yang melapisi paru dan Pleura parietalis yang melapisi dinding dalam hemitoraks. Diantara kedua pleura tersebut terdapat suatu rongga pleura, tapi tidak berupa rongga namun ruang potensial. Pada keadaan normal, rongga pleura berisi cairan pleura dalam jumlah yang sangat sedikit, rongga tersebut sangat tipis dan hanya berupa lapisan pleura yang melapisi kedua belah pleura agar tidak saling bersinggungan. 1 Paru-paru Paru terdiri dari dua bagian yaitu paru kanan dan paru kiri. Paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru kiri mempunyai dua lobus. Lapisan yang membatasi antara lobus
8

disebut fisura. Lobus paru terbagi menjadi beberapa segmen paru. Paru kanan mempunyai sepuluh segmen paru sedangkan paru kiri mempunyai delapan segmen paru. Setiap segmen terdiri atas banyak lobulus, yang masing-masing mempunyai bronkhiole, arteriole, venula, dan pembuluh limfatik. Sebagai organ, fungsi paru-paru adalah tempat terjadinya pertukaran gas antara udara atmosfir dan udara dalam aliran darah. 3 Bagian dasar setiap paru terletak diatas diafragma. Bagian apeks paru (ujung superior) terletak setinggi klavikula. Pada permukaan tengah dari setiap paru terdapat identasi yang disebut dengan hillus. Hillus adalah tempat bronkhus primer dan masuknya arteri serta vena pulmonari ke dalam paru. Bagian kanan dan kiri paru terdiri atas percabangan saluran yang membentuk pohon bronkhial, jutaan alveoli dan jaring-jaring kapilernya, dan jaringan ikat. 3 Dua lapis membran serosa mengelilingi setiap paru dan disebut sebagai pleura. Lapisan terluar disebut pleura parietal yang melapisi dinding dada dan mediastinum. Lapisan dalamnya disebut pleura viseral yang mengelilingi paru dan dengan kuat melekat pada permukaan luarnya. Rongga pleural ini mengandung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel serosa di dalam pleura. Cairan pleural melicinkan permukaan kedua membran pleura untuk mengurangi gesekan ketika paru-paru mengembang dan berkontraksi selama bernapas. Jika cairan yang dihasilkan berkurang atau membran pleura membengkak, akan terjadi suatu kondisi yang disebut pleurisi dan terasa nyeri karena membran pleura saling bergesekan satu sama lain ketika bernapas. 3
Gambar 1.3 Paru atau bronkus

Mekanisme pernapasan Respirasi dapat didefinisikan sebagai gabungan aktivitas mekanisme yang berperan dalam proses suplai O2 ke seluruh tubuh dan mengeluarkan CO2 dari hasil metabolisme. Secara garis besar pernapasan dalam (internal) dan pernapasan luar (eksternal). 4 Pernapasan dalam (internal) yaitu pertukaran gas antara organel sel (mitokondria) dan medium cairnya. Hal tersebut menggambarkan proses metabolisme intraseluler yang meliputi
9

konsumsi O2 (digunakan untuk oksidasi bahan nutrisi) dan pengeluaran CO2 (terdapat dalam medium cair / sitoplasma) sampai menghasilkan energi. 5 Pernapasan luar (eksternal) yaitu pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh. Proses respirasi eksternal mencakup empat langkah yaitu. 5 Udara secara bergantian dimasukkan ke dan dikeluarkan dari paru sehingga udara dapa ditukarkan antara atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantung udara (alveolus) paru. pertukaran ini dilaksanakan oleh tindakan mekanis bernapas atau ventilasi. Kecepatan ventilasi diatur untuk menyesuaikan aliran udara antara atmosfer dan alveolus sesuai kebutuhan metabolik tubuh akan penyerapan O2 dan pengeluaran CO2. 6 Mekanisme ventilasi simulai dari proses inspirasi. Selama inspirasi, udara bergerak dari luar ke dalam trakhea, bronkhus, bronkhiolus dan alveoli. Selama ekspirasi, gas yang terdapat dalam alveolus prosesnya berjalan seperti inspirasi dengan alur terbalik. Faktor fisik yang mempengaruhi keluar masuknya udara dari dan ke paru-paru merupakan gabungan dari ventilasi mekanik yang terdiri atas perbedaan tekanan udara, resistensi jalan udara dan komplian paru-paru. 5 Perbedaan tekanan udara terjadi pada saat inspirasi, diafragma berkontraksi tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara tertarik melalui trakea, bronkhus hingga ke alveoli. Sedangkan pada saat ekspirasi normal, diafragma relaksasi dan paru-paru mengempis, menyebabkan tekanan alveoli melebihi tekanan di atmosfer, sehingga udara terdesak keluar dari paru-paru menuju atmosfer. Resistensi jalan udara terjadi karena peningkatan tekanan dari cabang bronkhus yang diakibatkan adanya benda asing dalam saluran napas sehingga udara yang masuk ke dalam alveolus terhambat. Komplian paru-paru, kemampuan paru untuk mengembang dan mengempis, saat inspirasi paru-paru mengembang dan saat ekspirasi paru-paru mengempis. 5 Bergeraknya gas O2 dan CO2 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Dalam alveoli, O2 melintasi membran alveoli-kapiler dari alveoli ke darah karena adanya perbedaan PO2 yang tinggi di alveoli (100 mmHg) dan tekanan pada kapiler yang lebih rendah (PO2 40 mmHg), CO2 berdifusi dengan arah berlawanan akibat perbedaan tekanan PCO2 darah 45 mmHg dan di alveoli 40 mmHg. Proses difusi dipengaruhi oleh faktor ketebalan, luas permukaan, dan komposisi
10

membran, koefisien difusi O2 dan CO2, serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. Dalam difusi gas ini, organ pernapasan yang berperan penting adalah alveoli dan darah. Adanya perbedaan tekanan parsial dan difusipada sistem kapilerdan cairan interstisial akan menyebabkan pergerakan O2 dan CO2 yang kemudian akan masuk pada zona respirasi untuk melakukan difusi respirasi. 5 Transportasi gas Adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Masuknya O2 ke dalam sel darah merah yang bergabung dengan hemoglobin kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisanya 3% ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel. 5 Pernapasan manusia dibedakan menjadi pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada terjadi melalui fase inspirasi dan ekspirasi yang melibatkan rusuk dan otot antar tulang rusuk. Pernafasan Perut melibatkan diafragma dan ototnya dan tidak melibatkan rusuk dan otot antar tulang rusuk. 7 Mekanisme pernapasan dada, dibagi menjadi fase inspirasi dan fase ekspirasi diantaranya. 7 1. Fase Inspirasi pernapasan dada Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternum) berkontraksi sehingga rongga dada membesar akibatnya tulang rusuk terangkat (posisi datar), Paru-paru mengembang dan volumenya menjadi besar, sedangkan tekanan udara dalam paruparu menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar sehingga udara luar masuk ke paru-paru. 7 2. Fase ekspirasi pernapasan dada Rongga dada mengecil karena otot antar tulang rusuk relaksasi, tulang rusuk menurun. Akibatnya, tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara luar sehingga udara dapat keluar dari paru-paru. 7 Mekanisme pernapasan perut, dibagi menjadi fase inspirasi dan fase ekspirasi diantaranya7 1. Fase inspirasi pernapasan perut Otot diafraghma berkontraksi sehingga posisi diafragma dari melengkung menjadi mendatar, paru-paru dapat mengembang akibatnya tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar sehingga udara luar dapat terhirup masuk.
7

2. Fase ekspirasi pernapasan perut

11

Otot diafraghma relaksasi sehingga posisi yang tadinya mendatar kembali melengkung, paru-paru mengempis. Akibatnya, tekanan udara di paru-paru lebih besar dibandingkan tekanan udara luar sehingga udara dalam rongga dada akan keluar dari paru-paru. 7

Volume dan kapasitas paru Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. Nilai volume paru mernperlihatkan suhu tubuh standar dan tekanan ambien serta diukur dalam milimeter udara. 6 1. Volume a. Volume tidal (Tidal volume, VT) adalah volume udara yang masuk atau keluar paru selama satu kali bernapas. Nilai rerata pada kondisi istirahat berkisar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan. 6 b. Volume cadangan inspirasi (Inspiratory reserve volume, IRV) adalah volume udara tambahan yang dapat secara maksimal masuk ke paru-paru dengan inspirasi maksimum di atas inspirasi tidal. IRV dicapai oleh kontraksi maksimal diafragma, otot interkostalis eksterna, dan otot inspirasi tambahan. IRV berkisar 3.300 ml pada laki-laki dan 1.900 ml pada perempuan. 6 c. Volume cadangan ekspirasi (Expiratory reserve volume, ERV) adalah volume udara tambahan yang dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidal normal. ERV biasanya berkisar 1.200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada perempuan. 6 d. Volume residual (Residual volume, RV) adalah volume udara sisa dalam paruparu setelah melakukan ekspirasi kuat. Volume residual penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernapasan. Rata-rata volume ini pada laki-laki sekitar 1.200 ml dan pada perempuan 1.000 ml. 6 2. Kapasitas a. Kapasitas residual fungsional (Functional residual capacity, FRC) adalah jumlah udara di dalam paru-paru pada akhir ekspirasi normal (FRC = ERV + RV). Kapasitas tersebut bermakna untuk mempertahankan kadar O2 dan CO2 yang relatif stabil di alveoli selama proses inspirasi dan ekspirasi. Nilal rataratanya adalah 2.200 ml. 6
12

b.

Kapasitas inspirasi (Inspiratory capacity, IC) adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi (IC = IRV + TV). Kapasitas tersebut menunjukkan banyaknya udara yang dihirup setelah ekspirasi secara biasa. Nilai rata-ratanya adalah 3.500 ml. 6

c. Kapasitas vital (Vital capacity, VC) adalah penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume cadangan ekspirasi (VC = IRV + TV + ERV). Karena diukur dengan spirometer, kapasitas vital merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dengan kuat setelah inspirasi maksimum. Kapasitas vital dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti postur, ukuran rongga toraks, dan komplians paru, tetapi nilai rata-ratanya sekitar 4.500 ml. 6 d. Kapasitas paru total (Total lung capavity , TLC) adalah jumlah total udara yang dapat ditampung dalam paru-paru dan sama dengan kapasitas vital ditambah volume residual (TLC= VC+ RV). Nilai rata-ratanya adalah 5.700 ml. 6

3. Volume ekspirasi kuat dalam satu detik (Forced expiratory volume in one second, FEV1) adalah volume udara yang. dapat dikeluarkan selama detik pertama ekspirasi dalam menentukan VC. Nilai normal VEK1 sekitar 80% KV. 6 4. Volume respirasi menit adalah volume tidal dikalikan jumlah pernapasan per menit. Volume dan kapasitas paru-paru akan menurun bila seseorang berbaring dan meningkat saat berdiri. Penurunan tersebut dikarenakan isi perut menekan ke atas atau ke diafragma, sedangkan volume darah paru-paru justru meningkat. Oleh karna itu, ruangan yang dapat diisi oleh udara dalam paru-paru menjadi berkurang. 4 5. Ruang rugi (anatomical dead space), area disepanjang saluran napas yang tidak terlibat proses pertukaran gas (150 ml). Tidal volume pada pria sejumlah 500 ml, maka yang mengalami pertukaran gas hanya 350 ml karena 150 ml berada di ruang rugi. 4 Transpor O2 dan CO2 Pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida terjadi melalui proses difusi. Proses tersebut terjadi di alveolus dan di sel jaringan tubuh. Proses difusi berlangsung sederhana, yaitu hanya dengan gerakan molekul-molekul secara bebas melalui membran sel dari konsentrasi tinggi atau tekanan tinggi ke konsentrasi rendah atau tekanan rendah.

13

Oksigen masuk ke dalam tubuh melalui inspirasi dari rongga hidung sampai alveolus. Di alveolus oksigen mengalami difusi ke kapiler arteri pori-pori. Masuknya oksigen dari luar (lingkungan) menyebebkan tekanan parsial oksigen (PO2)di alveolus lebih tinggi dibandingkan dengan PO2 di kapiler arteri paru-paru.Karena proses difusi selalu terjadi dari daerah yang bertekanan parsial tinggi ke daerah yang bertekanan parsial rendah, oksigen akan bergerak dari alveolus menuju kapiler arteri paru-paru. Oksigen di kapiler arteri diikat oleh eritrosit yang mengandung hemoglobin sampai menjadi jenuh. Makin tinggi tekanan parsial oksigen di alveolus, semakin banyak oksigen yang terikat oleh hemoglobin dalam darah. Hemoglobin terdiri dari empat sub unit, setiap sub unit terdiri dari bagian yang disebut heme. Di setiap pusat heme terdapat unsur besi yang dapat berikatan dengan oksigen, sehigga setiap molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul oksigen berbentuk oksihemoglobin. Reaksi antara hemoglobin dan oksigen berlangsung secara reversibel (bolak-balik) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, pH, konsentrasi oksigen dan karbon dioksida, serta tekanan parsial. Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke jaringan tubuh yang kemudian akan berdifusi masuk ke sel-sel tubuh untuk digunakan dalam proses respirasi. proses difusi ini terjadi karena tekanan parsial oksigen pada kapiler tidak sama dengan tekanan parsial oksigen di sel-sel tubuh. Di daam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh, oksigen digunakan untuk proses respirasi di dalam mitokondria sel. Semakin banyak oksigen yang digunakan oleh sel-sel tubuh, semakin banyak karbondioksida yang terbentuk dari proses respirasi. hal tersebut menyebabkan tekanan parsial karbondioksida atau (PCO2) dalam sel-sel tubuh lebih tinggi dibandingkan PCO2 dalam kapiler vena sel-sel tubuh. Oleh karenanya karbon dioksida dapat berdifusi dari sel-sel tubuh ke dalam kapiler vena sel-sel tubuh yang kemudian akan dibawa oleh eritrosit menuju ke paru-paru. di paru-paru terjadi difusi CO2 dari kapiler vena menuju alveolus. Proses tersebut terjadi karena tekanan parsial CO2 pada kapiler vena lebih tinggi daripada tekanan parsial CO2 dalam alveolus. Karbondioksida akan dikeluarkan dari tubuh melalui ekspirasi. Karbondioksida dalam eritrosit akan bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Akibatnya terbentuknya asam karbonat, pH darah menjadi asam, yaitu sekitar 4,5. Darah

14

yang bersifat asam dapat melepaskan banyak oksigen ke dalam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh yang memerlukannya. Pemeriksaan difusi gas Pemeriksaan ini mengukur volume oksigen dan gas lain yang melewati sakus alveolus setiap menit. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan difusi gas dari paru ke dalam darah. Pemeriksaan difusi gas ini meliputi: a. Gas darah arteri mengukur volume oksigen dan karbon dioksida di dalam aliran darah. b. Kapasitas difusi karbon monoksida mengukur
6

kemampuan

paru

mendifusikan karbon monoksida ke dalam darah.

Pemeriksaan Fungsi Paru Pemeriksaan fungsi paru digunakan untuk mengevaluasi kerja paru. Permeriksaan ini dapat mengukur kapasitas udara yang dapat ditampung paru, kecepatan paru memidahkan udara keluar dan ke dalam, serta mengukur kualitas paru dalam menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Pemeriksaan ini dapat mendiagnosa berbagai penyakit dan gangguan pada paru dan memeriksa keberhasilan terapi penyembuhan paru. Beberapa pemeriksaan fungsi paru adalah: spirometri, pemeriksaan difusi gas, body plethysmography, pemeriksaan inhalasi, dan exercise stress test.4 A. Spirometri Spirometri adalah pemeriksaan yang paling sering dilakukan. Pemeriksaan ini mengukur volume udara dan kecepatan insiprai-ekspirasi, sehingga pemeriksaan ini dapat digunakan untuk:5 1. Mendiagnosa penyakit paru seperti asma, bronkitis, dan emfisema. 2. Mengetahui penyebab napas pendek. 3. Mengetahui efek iritan terhadap kerja paru. 4. Mengetahui efek samping dan keberhasilan terapi

15

Kesimpulan Sistem pernafasan terdiri daripada hidung,trakea,paru-paru,tulang rusuk,otot interkosta,bronkus, bronkiol, alveolus dan diafragma. Dalam mekanismenya,udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea, dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan kepada paru-paru .kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol. Alveolus mempunyai penyesuaian berikut untuk memudahkan pertukaran gas. Kesimpulan yang dapat diambil dalam makalah ini adalah sistem pernafasan adalah system dalam tubuh yang harus dijaga dan dipelihara, karena jika salah satu organ pernafasan rusak akan mengganggu organ system pernafasan yang lain, karena dengan nafas kita bisa hidup.

Daftar Pustaka

1. Djojodibroto D. Respirologi. Jakarta: EGC, 2009.h.5-10 2. Fawcett DW. Buku ajar histologi. Ed.12. Jakarta: EGC, 2002.h. 629) 3. Asih NGY, Effendy C. Keperawatan medikal bedah:klien dengan gangguan sistem pernapasan. Jakarta: EGC, 2003.h.2-10 4. Somantri I. Keperawatan medikal bedah:asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan. Jakarta: Salemba Medika, 2007.h.11 5. Muttaqin A. Pengantar asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem pernapasan. Jakarta: Salemba Medika, 2008.h.24-31 6. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Ed.6. Jakarta: EGC, 2011.h.497 7. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Ed.3. Jakarta: EGC, 2009.h.521-32.

16