Anda di halaman 1dari 14

Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (Run-off River Micro Hydro Power Plant) Studi Kasus : Sungai Jeneberang,

Sulawesi Selatan
Disusun Oleh : Dito Wijanarko 18010054

Program Studi Teknik Tenaga Listrik Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung

A. Informasi Umum Sungai Jeneberang adalah sungai yang terletak di Sulawesi Selatan. Sungai ini berasal dari mata air di Gunung Bawakaraeng (2.833 dpl), dengan permuaraannya ada di Selat Makassar. Sungai ini melintasi kota-kota besar berikut : Ujung Pandang, Malino, Bili-Bili, dan Sungguminasa. Panjang totalnya adalah sekitar 90 km, dengan total luas tangkapannya adalah 727 km2. Curah hujannya bervariasi sepanjang aliran sungai ini. Adapun, daerah sungai yang akan kita manfaatkan hanya sebahagiannya saja. Pemaparan lebih lanjut dapat dilihat pada sub-bab berikut.

B. Informasi Khusus (daerah sungai yang akan dibendung) Daerah sungai ini secara umum merupakan daerah pebukitan. Ketinggiannya bervariasi, tetapi rata-rata adalah 500900 m dpl. Daerah sungai kita ini berada pada sekitaran kelurahan Malino, kecamatan Tinggimoncong, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jarak Malino dari Makassar kurang lebih 90 km. Malino sudah terkenal sebagai kota wisata, sehingga menuju kesana kini tidak terlalu sulit, cukup dua jam dengan mobil dari Makassar. Jalan daratnya sudah tersedia dengan sangat baik, secara umum medannya berkelok-kelok, menyusuri lembah-lembah di kanan/kiri jalan. Adapun akses pelabuhan yang terdekat tentu dari Makassar, yaitu Pelabuhan Soekarno-Hatta. Dari pelabuhan ke kota Makassar, dihubungkan dengan jalan tol (Jalan Tol Reformasi), sehingga tidak perlu khawatir akses dari pelabuhan ke kota akan sulit. Selanjutnya, dari Makassar ke Malino, tinggal mengikuti jalan yang sudah ada. Makassar pun juga memiliki Bandara Sultan Hasanuddin, bila diinginkan pengiriman komponen dilakukan melalui jalur udara.

C. Gambar-gambar

Gambar 1 : Gambaran umum sungai Jeneberang pada peta Sulawesi Selatan (yang dilingkar hitam)

Page 2 of 14

Gambar 2 : Peta kontur daerah sungai yang akan dibendung

Gambar 3 : daerah sungai yang dibendung. Jalur yang meliuk menandakan sungainya, sementara jalur lurus menandakan penstock nya.

Koordinat bendung : S : 5 17 03,97, E : 119 51 34,13 Koordinat power house : S : 5 16 50,21 , E : 119 51 23,65

Page 3 of 14

Gambar 4 : profil elevasi penstock.

Elevasi (head kotor) = 152 m Head bersih = 129 m

Gambar 5 : Peta Catchment Area. Catchment Area nya adalah 318,3 Km2

Page 4 of 14

Gambar 6 : Kurva Durasi dari 1974-1994

Gambar 7 : Kurva Durasi Bulanan (diambil pada tahun 1998)

Page 5 of 14

Gambar 8 : Data pos pengamatan curah hujan

Gambar 9 : Grafik curah hujan jangka panjang (1958 1996)

Page 6 of 14

Gambar 10 : Tabulasi keterangan umum sungai Jeneberang

Gambar 11 : Data pos pengamatan debit sungai Stasiun yang kita ambil adalah stasiun Parangloe, dengan Debit rata-rata adalah 28,9 m3/s.

D. Analisis 1. Analisis Ekonomi Panjang Penstock kita adalah 565 m, dengan elevasinya adalah 152 m. Asumsi head bersih sebesar 140 m adalah dari rugi-rugi pada saluran penstock ini sebesar 8 %. Kemudian, penentuan debit air sungai. Data debit yang kita ambil adalah dari stasiun Parangloe, ini dikarenakan letak geografis stasiun relatif lebih dekat dengan daerah sungai yang dibendung. Berikut dilampirkan analisis perhitungan dari file excel (terlampir, satu folder) : Page 7 of 14

Data Pembangkit

Efisiensi

Debit Daya/unit Head (m3/s) (MW) 95% 140 28,9 37,67

Daya total (1 Unit) (MW) 37,67

Waktu Operasi (Jam/Hari) 8

Energi (MWH/th) 109.991

Generating

Data Ekonomi SBBI Bunga Pinjaman 1 Dollar Harga Beli Listrik/kwh Harga Jual Listrik/kwh Hasil PLTA Jeneberang Pumping Generating Pendapatan/1000 OM IRR Bank Interest Investasi (Dollar) /MW Investasi (Rupiah) /MW

5,75% 9,50% Rp 9.749 Rp 600 Rp 679

Biaya/th Rp Rp 74.637.909.383 Rp 74.637.909 Rp 6.717.412 8% 12% $ 850.000,00 Rp 8.286.650.000,00

Page 8 of 14

Tahun

Penjualan

Depresiasi

Diskon pajak 30% dalam 6 tahun

PKP

Posisi Hutang Rp (312.143.687) Rp (267.551.731) Rp (222.959.776) Rp (178.367.821) Rp (133.775.866) Rp (89.183.910) Rp (44.591.955) (Rp0)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Rp 74.637.909 Rp 76.503.857 Rp 78.416.454 Rp 80.376.865 Rp 82.386.287 Rp 84.445.944 Rp 86.557.092 Rp 88.721.020 Rp 90.939.045 Rp 93.212.521 Rp 95.542.834 Rp 97.931.405 Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (31.214.369) Rp (15.607.184) Rp (15.607.184) Rp (15.607.184) Rp (15.607.184) Rp (15.607.184) Rp (15.607.184) Rp 27.816.356 Rp 29.682.304 Rp 31.594.901 Rp 33.555.312 Rp 35.564.733 Rp 37.624.391 Rp 55.342.724 Rp 57.506.651 Rp 59.724.676 Rp 61.998.153 Rp 95.542.834 Rp 97.931.405

Pengeluaran PKP Akhir OM Rp 6.717.412 Rp 6.885.347 Rp 7.057.481 Rp 7.233.918 Rp 7.414.766 Rp 7.600.135 Rp 7.790.138 Rp 7.984.892 Rp 8.184.514 Rp 8.389.127 Rp 8.598.855 Rp 8.813.826 Angsuran Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Rp (44.591.955) Bunga (9,5%) Rp (29.653.650) Rp (25.417.414) Rp (21.181.179) Rp (16.944.943) Rp (12.708.707) Rp (8.472.471) Rp (39.711.837) Rp (33.441.718) Rp (27.120.753) Rp (20.747.669) Rp (14.321.163) Rp (7.839.901) Rp 18.540.907 Rp 65.491.543 Rp 67.909.190 Rp 70.387.279 Rp 104.141.689 Rp 106.745.232

Page 9 of 14

Pajak Penghasilan 0,28

Pendapatan

Rp (11.119.314) Rp (9.363.681) Rp (7.593.811) Rp (5.809.347) Rp (4.009.926) Rp (2.195.172) Rp 5.191.454 Rp 18.337.632 Rp 19.014.573 Rp 19.708.438 Rp 29.159.673 Rp 29.888.665 Arus Kas (IRR) PV Rp (312.143.687) Rp (17.514.985) Rp (9.240.299) Rp (2.491.369) Rp 2.959.832 Rp 7.310.319 Rp 10.730.090 Rp 24.855.110 Rp 46.464.158 Rp 42.601.795 Rp 39.058.601 Rp 38.320.956 Rp 35.070.518

Rp (312.143.687) Rp (19.616.783) Rp (11.591.031) Rp (3.500.195) Rp 4.657.353 Rp 12.883.280 Rp 21.179.295 Rp 54.946.729 Rp 115.043.543 Rp 118.138.132 Rp 121.310.086 Rp 133.301.362 Rp 136.633.896 Arus Kas Bank NPV Rp (312.143.687) Rp (329.658.672) Rp (338.898.971) Rp (341.390.340) Rp (338.430.508) Rp (331.120.189) Rp (320.390.099) Rp (295.534.989) Rp (249.070.832) Rp (206.469.037) Rp (167.410.436) Rp (129.089.479) Rp (94.018.961) PV Rp (312.143.687) Rp (18.550.149) Rp (10.364.809) Rp (2.959.723) Rp 3.724.068 Rp 9.741.471 Rp 15.143.604 Rp 37.151.745 Rp 73.556.193 Rp 71.427.708 Rp 69.357.455 Rp 72.069.324 Rp 69.854.428 NPV Rp (312.143.687) Rp (330.693.836) Rp (341.058.645) Rp (344.018.368) Rp (340.294.300) Rp (330.552.829) Rp (315.409.225) Rp (278.257.480) Rp (204.701.287) Rp (133.273.579) Rp (63.916.124) Rp 8.153.201 Rp 78.007.629 5,75%

Page 10 of 14

Dari analisis ekonomi ini, dapat kita lihat bahwa nilai NPV akhir akan positif pada tahun ke 11. Proyek PLTA ini, sejauh ini dapat kita katakan feasible, sebab payback periode nya masih jauh dibawah 20 tahun, dan tidak mendekati 15 tahun (keputusan subjektif penulis bahwa PBP proyek pembangkitan tenaga skala ini harus sekurang-kurangnya dibawah 15 tahun, maksimal 20 tahun). Nilai efisiensi pembangkitan sebesar 95% adalah asumsi dari penulis. Beberapa data-data yang butuh penjelasan : 1. OM (Operational Maintenance). Atas dasar analisis dari proyek-proyek PLTA yang pernah penulis temukan, serta dari hasil diskusi di kelas bersama teman-teman, penulis menetapkan bahwa rata-rata besar Operational Maintenance PLTA kurang-lebih selalu 9%. 2. BI Rate (SBBI Suku Bunga Bank Indonesia), paling terbaru adalah sebesar 5,75% (data tanggal 13 April 2013). 3. Depresiasi alat-alat pada proyek ini diperkirakan 10 tahun. 2. Analisis Teknis Pada koordinat bendung (S : 5 17 03,97, E : 119 51 34,13), air tidak akan dimasukkan dahulu kedalam penstock. Akan tetapi, air ini terlebih dahulu harus dilewatkan melalui bangunan sadap (intake)., melalui suatu weir (bendung). Di intake ini terdapat dua bak, yaitu bak pengendap (settling basin) dan bak penenang (forebay). Bak pengendap berfungsi untuk menyaring segala kotoran-kotoran padat dan koloid yang ada sehingga air benar-benar jernih dan tidak mengandung bahan kasar apapun (yang bisa merusak turbin). Adapun setelah itu, dialirkan ke bak penenang. Fungsinya untuk mengatur debit, juga untuk mengendapkan sisa-sisa kotoran yang masih ada. Barulah, air akan dibawa melalui penstock, untuk kemudian dilimpahkan ke turbin di reservoir bawah. Terakhir, air akan dibuang kembali di tailrace, di koordinat yang sama dengan power house (S : 5 16 50,21 , E : 119 51 23,65)

Gambar 12 : ilustrasi proses pembangkitan listrik tenaga air

3. Aspek Legal dan Perizinan Karena pembangkitan listrik ini berbasis kepada tenaga air, maka kita harus memerhatikan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah dalam mengatur sumber daya air. Menurut bapak Mukmin W. Atmopawiro (Dosen Teknik Tenaga Listrik ITB), berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan :

Page 11 of 14

1. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air (SDA). Undang-Undang ini pada intinya mengatur 3 (tiga) isu pokok SDA, yaitu (1) Konservasi sumberdaya air, (2) Pendayagunaan air, dan (3) Pengendalian dayarusak air. 2. Undang-Undang Nornor 30 Tahun 2007 ten tang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nornor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomorn 4746); 3. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3394) sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4628); 5. Keputusan Presiden Nomor 59/P Tahun 2011 tanggal 18 Oktober 2011; 6. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2010 ten tang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 552); 7. Peraturan Menteri Energi dan Sumber daya Mineral Republik Indonesia No. 04 tahun 2012 tentang harga pembelian listrik oleh PT.PLN ( Persero ) dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energy terbarukan skala kecil dan menengah atau kelebihan listrik. Selain itu, masih menurut bapak Mukmin, PT PLN (Persero) selaku penyedia listrik utama di Indonesia, wajib membeli listrik dari pembangkit energi terbarukan (salah satunya PLTA ini), dengan kapasitas maksimal 10 MW. Pembelian ini boleh dari mana saja, tetapi rasanya diutamakan dari BUMN, BUMD, Korporasi Daerah Setempat, BUMS, atau Swadaya Masyarakat lainnya.

Berikut adalah skema perizinannya (masih menurut bapak Mukmin) :

Page 12 of 14

Gambar 13 : Skema perizinan pembangunan PLTA

4. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Analisis ini merupakan analisis pengantar saja, sebab untuk suatu proyek konstruksi, AMDAL wajib dibuat secara komprenesif dan terpisah dari laporan utama. Dalam PLTA ini, ada tiga hal yang perlu kita perhatikan, yaitu saat konstruksi dan saat pengoperasian PLTA.

Tabel 2 : AMDAL pada saat pengoperasian PLTA

Page 13 of 14

Tabel 3 : AMDAL pada saat konstruksi PLTA

Page 14 of 14