Anda di halaman 1dari 4

TUGAS HISTOLOGI MODUL MUSKULOSKELETAL

Disusun Oleh:

1. Irwanda 2. Raynaldo D.Pinem 3. Aseng

I11112042 I11112044 I11112046

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2013

MINERALISASI TULANG Bahan anorganik tulang terdiri dari endapan sejenis kalsium fosfat submikroskopik, yang sangat mirip, namun tidak identik, (Ca10[PO4]6[OH]2). Ada perbedaan pendapat tentang apakah mineral tulang diendapkan sejak awal sebagai kalsium fosfat amorf dan kemudian disusun ulang membentuk kristal hidroksiapatit atau sudah berbentuk kristal sejak awal. Tetapi jelas, bahwa dalam tulang dewasa mineral ituberada dalam bentuk kristal mirip batang langsing sepanjnag 40 nm dan tebal 1,5-3 nm. Kristal itu tidak tersebar merata namun terdapat berulang setiap 60-70nm sepanjang serat kolagen itu.1 Mineral tulang mengandung cukup banyak iion sitrat C6H5O7= dan ion karbonat CO3=.Sitrat dipandang sebagai fase terpisah, terdapat pada permukiman kristal. Tempat karbonat masih diperdebatkan; ia mungkin terdapat pada permukaan kristal atau menggantikan PO4= dalam struktur kristal, atau keduanya. Subtitusi ion F untuk OH dalam kristal apatit itu biasa. Jumlahnya terutama tergantung kandungan flourida dan air minum. Magnesium dan natrium, yang merupakan unsurcairan tubuh normal, juga terdapat dalam mineral tulang yang sampai tingkat tertentu, berfungsi sebagai gudang simpanan unsur ini.1 Mineralisasi dalam matriks tulang dimulai dimana ujung yang berdekatan dengan matriks, osteoblas menyekresikan kolagentipe 1, sejumlah glikoprotein dan proteoglikan. Beberapa faktor tersebut, terutama osteokalsin dan glikoprotein lainnya, mengikat Ca2+dengan afinitas tinggi sehingga meningkatkan konsentrasi setempat ion-ion tersebut. Osteoblas juga melepaskan vesikel matriks berselubung membran yang sangat kecil yang berikatan dengan alkalin fosfatase dan enzim lain. Enzim-enzim tersebut menghidrolisis ion PO4- dari berbagai makromolekul sehingga konsentrasi setempat ion tersebut menjadi tinggi. Konsentrasi ion yang tinggi menyebabkan terbentuknya kristal CaPO4 di vesikel matriks. Kristal terbentuk mengalami mineralisasi selanjutnya dengan massa hidroksiapatit (Ca10[PO4]6[OH]2) kecil yang tumbuh dan mengelilingi serat kolagendan semua makromolekul lain. Akhirnya, massa hidroksiapatit bergabung sebagai suatu matriks tulang yang solid dan konfluen saat klasifikasi matriks selesai.2

OSTEOGENESIS Histogenesis tulang terjadi melalui osifikasi intramembranosa dan osifikasi endokondral. Osifikasi intramembranosa tumbuh dalam membran mesenkim yang mengandung banyak pembuluh darah dimana sel mesenkim berdifferensiasi melalui osteoblas (mungkin melalui sel-sel osteogenik), yang mulai melepaskan matriks tulang, jadi membentuk trabekula tulang. Ketika trabekula makin lama makin banyak terbentuk dalam daerah yang saling berdekatan, trabekula menjadi saling berhubungan. 3 Ketika trabekula menyatu satu sama lain, maka terbentuklah tulang spongiosa yang akan diperbaharui untuk nantinya menjadi tulang kompakta. Permukaan trabekula ditempati banyak osteoblas. Sering ada jenis sel lainnya yaitu tampak osteoklas. Osteoklas adalah sel yang besar mempunyai banyak inti, berasal dari monosit, terdapat lekukan dangkal pada permukaan trabekula (lacuna Howship) dan fungsi meresorbsi tulang. Melalui kerja sama sel-sel ini dan osteoblas tulang mengalami remodeling. Daerah membran mesenkim uang tidak ikut serta dalam osifikasi akan tetap merupakan unsur tulang yang lunak (periosteum, endoesteum). 3

Tulang baru yang terbentuk adalah tulang primer atau tulang tenunan, karena susunan seratserat kolagennya tidak teratur seperti pada tulang yang lebih tua. Kerjasama antara osteoblas dan osteoklas bekerja menggantikan tenunan tulang dengan tulang sekunder atau tulang dewasa. 3 Osifikasi endokondral berperan dalam pembentukan tulang panjang dan tulang pendek, berdasarkan adanya tulang rawan hilain yang digunakan sebagai cetakan di dalam mana tulang terbentuk. Sebaliknya, lingkar tulang subperiosteal dibentuk (melalui osifikasi membranosa) di sekeliling sekat dari cetakan tulang rawan. Lingkar tulang ini bertambah lebar dan panjangnya. Kondrosit di tengah cetakan tulang rawan mengalami hipertrofi dan menyerap kembali beberapa matriksnya, sehingga lakuna melebar dan beberapa lakuna menjadi satu. Kondrosit yang hipertrofi, selanjutnya membantu kalsifikasi tulang rawan, degenerasi dan mati. Ruang yang baru terbentuk disebuk oleh kuncup periosteal (terdiri atas pembuluh darah, sel-sel mesenkim dan sel osteogenik). Sel osteogenik berubah menjadi osteoblas dan sel-sel ini melepaskan matriks tulang pada tulang rawan yang mengalami kalsifikasi. Ketika lingkar subperiosteal tulang makin tebal dan panjang, osteoklas menyerap kompleks tulang rawan yang kalsifikasi, menyisakan ruang yang membesar, nantinya merupakan rongga sumsum tulang (yang akan ditempati sel-sel sum-sum tulang). Seluruh proses osifikasi menyebar dari pusat osifikasi primer dan akhirnya seluruh cetakan tulang rawan digantikan dengan tulang, membentuk diafisis tulang panjang. Pembentukan diafisis tulang (pusat osifikasi sekunder) terjadi melalui cara baru sehingga pelapis tulang rawan dapat dipertahankan di permukaan sendi. Pertumbuhan memanjang dari tulang panjang terjadi karena adanya adanya lempeng epifisis yang terletak di antara epifisis dan diafisis. 3 Di pusat osifikasi sekunder, tulang rawan tetap ada pada 2 daerah: tulang rawan sendi, yang tetap ada seumur hidup dan tidak ikut dalam pertumbuhan memanjang tulang, dan tulang rawan epifisis, yang juga disebut lempeng epifisis, yang menghubungkan epifisis dengan diafisis. Tulangtulang epifisi bertanggung jawab atas pertumbuhan memanjang tulang, dan tidak terdapat lagi pada orang dewasa, yang menjadi sebab terhentinya pertumbuhan tulang pada saat dewasa. 4 Penutupan epifisis mengikuti urutan kronologis sesuai tulang yang bersangkutandan akan tuntas saat berumur 20 tahun. Pemeriksaan kerangka yang sedang tumbuh dengan sinar X memungkinkan orang menetapkan usia tulang seseorang, dengan memperhatikan epifisis mana yang terbuka dan yang sudah tertutup. Begitu epifisis sudah menutup, pertumbuhan memanjang tulang tidak dimungkinkan lagi, meskipun pelebaran tulang masih mungkin terjadi.4 Tulang rawan epifisis dibagi dalam 5 zona, yaitu: 4 1. Zona Rihat/Istirahat (Resting zone): Terletak pada lempeng epifisis, terdiri atas tulang rawan hialin tanpa perubahan morfologi dalam sel. 2. Zona Proliferasi: Terletak pada daerah matafisis, kondrosit cepat membelah dan tersusun dalam kolom-kolom sel secara parallel terhadap sumbu panjang. 3. Zona Hipertrofi tulang rawan: mengandung kondrosit besar yang sitoplasmanya telah menimbun glikogen. Matriks yang telah diresorpsi hanya tersisa berupa septa tipis diantar kondrosit 4. Zona Kalsifikasi: Kondrosit mati, septa tipis matriks tulang rawan mengalami kalsifikasi (pengapuran) dengan mengendapnya hidroksi apatit. 5. Zona Osifikasi: muncul tulang endokondral, sel-sel osteogenik masuk bersama jaringan ikat dan pembuluh darah yang terus tumbuh menembus periosteum dan mengisi kolom lacuna bekas kondrosit. Sel osteogenik ini kemudian menjadi osteoblast yang tersusun berderet-deret sepanjang tepian balok tulang rawan.

SUMBER: 1. 2. 3. 4. Don W.Fawcett. 2002. Buku Ajar Histologi Edisi 12. EGC: Jakarta Anthony L.Mescher. 2011. Histologi Dasar Jonqueira Teks & Atlas Edisi 12. EGC: Jakarta Gartner LP, Hiatt JL. 2007. Buku Ajar Histologi Edisi 3. Jakarta :EGC Junqueira, L.C dan Jose C. 2007. Histologi Dasar Teks dan Atlas Ed.10. EGC. Jakarta.