Anda di halaman 1dari 4

Kronologis Kasus Pada Film Film ini berkisah tentang bagaimana usaha Clyde Shelton (Gerard Buttler) menemukan

keadilan untuk kematian istri dan anaknya. Namun, persoalanya tidak semudah yang dipikirkan oleh Shelton. Jaksa yang bertugas untuk mengawal kasus Shelton yaitu Ni k !i e (Jamie Fo"") kesulitan untuk men ari bukti. Bukti#bukti yang didapat tidak ukup untuk men$erat tersangka, Claren e %arby dan !upert &mes, dengan 'onis mati. !i e (Jaksa (enuntut) lalu membuat berkas se ara terpisah dengan harapan salah satu pelaku akan berperan sebagai saksi bagi tersangka lainnya. )a berhasil. %arby kemudian mengambil peran itu dengan bersaksi bahwa pelaku pembunuhan adalah &mes. %arby pun mendapatkan kompensasi bahwa ia tidak akan dihukum mati. *engetahui hal tersebut membuat Shelton ke ewa karena ia melihat dengan $elas bahwa pelaku pembunuhan sebenarnya adalah %arby. )a lalu menga$ukan protes kepada !i e. !i e pun menyadari apa yang dilakukannya akan tetapi persoalannya adalah bukan apa yang diketahui oleh Shelton namun apa yang dapat dibuktikan di pengadilan. +ntuk itulah ia melakukan negosiasi. (utusan pengadilan akhirnya keluar. %arby dihukum kurang lebih , tahun sedangkan &mes di 'onis mati. -emudian, sepuluh tahun setelah putusan pengadilan, Shelton mempela$ari seluk#beluk hukum. %engan modal demikian, ia men oba untuk memperbaiki hukum melalui aranya sendiri. Skenario pun ia buat dengan matang. Bermula dengan mensabotase pelaksanaan 'onis mati &mes dan merekam pembunuhan %arby, ia seolah ingin menyerahkan diri untuk ditangkap dan diadili. Shelton akhirnya berhasil ditangkap. Namun, !i e #sebagai Jaksa (enuntut# kembali mengalami kesulitan untuk mendapatkan bukti untuk mendakwa Shelton. (ada saat itulah !i e mengulangi perbuatanya dengan melakukan negosiasi kepada Shelton dengan mengharapkan pengakuan pembunuhan. %engan lugas Shelton mengulangi apa yang pernah diu apkan !i e sepuluh tahun lalu kepadanya, .this is not about what you know, this is what you an pro'e in ourt./

Analisa
1

%alam sebuah penanganan perkara, penggunaan saksi mahkota memang dilakukan apabila terdapat dua terdakwa atau lebih yang melakukan pembunuhan kemudian berkas perkara pidana tersebut dipisah0splitsing oleh Jaksa (enuntut +mum dalam hal (embuktian didalam persidangan di pengadilan, agar masing#masing terdakwa saling memberikan kesaksian yang memberatkan satu sama lain, inilah yang disebut sebagai saksi *ahkota. (raktik ini diikuti dengan plea bargaining, yaitu $aksa memberi tuntutan hukuman yang ringan bagi terdakwa yang berperan sebagai saksi mahkota. (arktik ini memang sangat dikenal dalam Criminal Justi e System di &merika Serikat. %alam hal pembuktian merupakan bagian yang terpenting dalam a ara pidana yang dimana hal pembuktian tersebut untuk men$atuhkan putusan oleh seorang hakim bahwa terdakawa tersebut bersalah atau tidak serta dapat $uga untuk meringankan atau memperberat sanksi pidana yang harus di $atuhkan oleh seorang hakim kepada terdakwa. %alam hal ini hak asasi seorang manusia (terdakwa) dipertaruhkan oleh karena itu terdapat banyak kemungkinan dimana seseorang yang didakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasar alat bukti yang ada dan dengan dilandasi oleh keyakinan hakim yang ternyata tidak benar. %alam men ari kebenaran materiil itu tidaklah mudah karena alat bukti yang tersedia menurut undang#undang saat ini sangatlah relati'e. Sistem peradilan di )ndonesia dalam tahap pembuktian menggunakan beberapa ma am alat bukti yang sah menurut pasal 123 ayat (1) -+4&(, yaitu5 -eterangan saksi, yang bernilai sebagai bukti ialah yang sesuai dengan pasal 1 angka 67 -+4&(5 saksi yang melihat sendiri, mendengar sendiri, mengalami sendiri, dan meyebut alas an dari penyertaan. -eterangan ahli, yang sesuai dengan pasal 1 angka 62, yaitu keterangna yang diberikan seorang ahli yang memiliki keahlian khusus tentang hal apa yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. &lat bukti surat, yang sah menurut undang#undang ialah surat yang dibuat atas sumpah $abatan atau surat yang dikuatkan dengan sumpah.
2

&lat bukti petun$uk, berdasarkan pasal 122 ayat (1) petun$uk adalah perbuatan, ke$adian atau keadaan karena penyesuaian baik antara yang satu dengan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah ter$adi tindak pidana dan siapa pelakunya. Cara memperolehnya berdasar keterangan saksi, surat, keterangan terdakwa. -eterangan terdakwa, sesuai pasal 128 ayat (1) yaitu keterangan terdakwa ialah apa yang redakwa sampaikan dalam sidang pengadilan tentang perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahuhi sendiri atau ia alami sendiri. %alam hal melakukan pembuktian di persidangan oleh hakim di )ndonesia, tidak terkait pada nilai kekuatan yang berada dalam alat bukti keterangan terdakwa, selain itu $uga harus memenuhi batas minimum pembuktian yang sesuai dengan pasal 128 ayat (3) -+4&(, yaitu .keterangan terdakwa sa$a tidak ukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain/. -emudian, Berdasarkan pada pasal 129 -+4&( putusan yang diambil seorang hakim berlandaskan pada asas keyakinan hakim yang dimana dalam mengambil keputusan seorang hakim $uga memakai keyakinannya yang tidak hanya berdasarkan pada alat bukti sa$a. Perbandingan KUHAP dengan R-KUHAP dalam hal Pembuktian &pabila kita membandingkan dengan !an angan0!e'isi -+4&( yang baru dengan -+4&( yang dipakai hingga dengan saat ini, maka akan ditemukan pasal baru terkait sistem pembuktian dan putusan seperti pasal 173 !#-+4&( yang menyatakan bahwa .4akim dilarang men$atuhkan pidana kepada terdakwa, ke uali apabila hakim memperoleh keyakinan dengan sekurang# kurangnya 6 (dua) alat bukti yang sah bahwa suatu tindak pidana benar#benar ter$adi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya/. :erdapat $uga penambahan pasal dalam hal alat bukti yang sah menurut -+4&( yang sedang berlaku dengan !an angan0!e'isi -+4&( ini, yang sesuai dengan pasal 17, ayat (1) huru; (a) dan huru; (g) yaitu dengan barang bukti yang digunakan terdakwa dalam melakukan tindak pidana serta pengamatan oleh hakim. *aka !# -+4&( tersebut dikaitkan dengan ;ilm tersebut maka barang bukti yang digunakan terdakwa $uga harus dapat di$adikan alat bukti dalam hal pembuktian serta pengamatan oleh seorang hakim yang memutus perkara tersebut haruslah yakin bahwa terdakwa terebut benar#benar bersalah dan
3

harus di$atuhkan putusan yang setimpal dengan perbuatan terdakwa tersebut. -emudian, didalam pasal 12< angka (9) !e'isi -+4&( mengatakan bahwa keterangan yang diberikan oleh 1 (satu) orang saksi tidak ukup membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadnya. (ada !an angan0!e'isi -+4&( yang baru ini terdapat beberapa penambahan pasal baru didalam hal pembuktian yang dimana telah diaturnya mengenai Saksi *ahkota. (ada !an angan0!e'isi -+4&( yang baru di pasal 6<< dinyatakan bahwa salah seorang terdakwa atau tersangka yang peranannya paling ringan dapat di$adikan saksi dalam perkara yang sama dan dapat dibebaskan dari hal tuntutan pidana, bilamana saksi membantu mengungkapkan keterlibatan tersangka lain yang patut dipidana dalam tindak pidana tersebut. (ada ;ilm yang di$adikan sebagai tugas ini, bukan tersangka atau terdakwa yang memiliki peran ringan yang memberikan kesaksian tetapi $ustru pelaku utama yang memberikan kesaksian yang pada akhirnya terdakwa atau tersangka tersebut dengan peran yang ringan itu yang men$adi tumbal dari tawar menawar yang dilakukan antara terdakwa yang berperan sebagai pelaku utama dengan $aksa penuntut umum. :erkait dengan hal pembuktian (asal 6<< ayat (9) !#-+4&( yang menyatakan bahwa penuntut umum menentukan tersangka sebagai saksi mahkota. &pabila dikaitkan dengan pasal 6<< ayat (9) !#-+4&( tersebut dengan ;ilm .=aw &biding Citi>en/ yang terkait dengan hal pembuktian, maka ;ilm tersebut dapat men$adi suatu a uan bagi para aparat penegak hukum yaitu (enuntut +mum yang berada di )ndonesia dalam hal menentukan saksi mahkota pada pembuktian dalam persidangan agar dapat men$erat seorang terdakwa bila terbukti melakukan tindak pidana dan bersalah atas perbuatan. %ikarenakan ke$adian yang sudah pernah dilakukan yang akhirnya meringankan terdakwa dalam hal pembuktian dan mendapatkan sanksinya tidak sesuai dengan perbuatan yang dilakukan oleh terpidana tersebut.