Anda di halaman 1dari 40

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

MAHASISWA APOTEKER UNIVERSITAS ANDALAS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT MUHAMMAD HOESIN PALEMBANG CASE REPORT STUDI BANGSAL SYARAF STROKE ISKHEMIK ENDOKARDITIS

PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2013

NAMA ANGGOTA
DESI FAJARINI, S.Farm 1241012069 FUTRI MAYANKSARI, S.Farm 1241012082 SEPTIANI MARTHA, S.Farm 1241012107 WENI SEPTARIZA, S.Farm 1241012116 WINDA SEPTIANA, S.Farm 1241012117

ILUSTRASI KASUS
A. IDENTITAS PASIEN No MR Nama Pasien Alamat Agama : 694292 : Mrs. S : Desa Toman (Muba) : Islam

Jenis Kelamin
Umur Ruangan

: Perempuan
: 54 Tahun : Kamar 4 bed 2

Dokter yang merawat


Farmasis

: Dr.Dwi Asep
:

B. Riwayat Penyakit Sekarang : 4 hari SMRS saat sedang istirahat tiba-tiba penderita mengalami kelemahan lengan dan tungkai kiri, saat serangan nyeri kepala, mulut

mengot, bicara pelo


C. Keluhan Umum Lemah anggota gerak lengan dan tungkai kiri sejak 21 hari SMRS.

Sakit darah tinggi (+) 2 bulan. Sesak bila berbaring, aktivitas tidur dengan
>2 bantal. D. Sejarah Pengobatan / Pembedahan yang telah dialami Pasien pernah pemasangan kateter dan obat-obat antihipertensi tapi pasien tidak tau obat apa yang diberikan.

E. Diagnosa DK: Hemiparese sinistra flaccid tipe sentral N VII XII

DT : Cortex selebri
DE : Susp emboli celebri F. Riwayat Penyakit Sebelumnya Sakit darah tinggi sejak 2 bulan yang lalu G.Riwayat Penyakit Keluarga Tidak Ada

Tgl Hemoglobin RBC WBC Hematokrit Trombosit LED Eosinofil Neutrofil Batang Limfosit Monosit Kolesterol Total Kolesterol LDL Kolesterol HDL Asam Urat Kalsium Klor D-dimer

7/2 5,06 16,5 36 97 35 15 1 13 10 148 109 23 6,4 10,7 108 11,7

Data Laboratorium 11/2 17/2 Normal 10,9 10 12-16 g/dl 4.3 15,4 32 142 42 17 1 12 12 12 10 21,4 31 160 49 10 4,2-4,87 jt/mm3 4,5-11,0 38-44 Vol% 150-450 rb/mm3 <38 mm/jam 1-6% 2-6% 25-40% 2-8% <200 <150 >65 <5,7 8,4-9,7 98-107 2-8%

Hasil Hb Rendah Eritrositosis, Leukositosis. Hematokrit Rendah Trombositopenia, Peningkatan LED Eosinofilia Neutropenia Limfopenia Monositosis Normal Normal Rendah Hiperurisemia Hiperkalsemia Tinggi Tinggi

H.Pemeriksaan Penunjang :

Echo : Vegetasi dikatub aorta


ECG : Sinus takikardia. T wave abnormality consider anterolateral ischemia. Abnormal ECG

Data Hasil Pemeriksaan Fisik & Data Penunjang lain


Tanggal 7 Feb 2013 8 Feb 2013 9 Feb 2013 10 Feb 2013 11 Feb 2013 12 Feb 2013 13 Feb 2013 14 Feb 2013 15 Feb 2013 16 Feb 2013 17 Feb 2013 18 Feb 2013 19 Feb 2013 20 Feb 2013 21 Feb 2013 TD 120/80 130/80 130/80 120/80 130/80 120/70 130/80 120/70 130/80 130/90 100/80 100/80 120/70 100/70 100/70 100/90 60/palpasi 60/palpasi 100/70 50/40 Nadi 80 98 79 78 82 88 82 78 86 88 84 80 84 72 72 80 120 Filiformis 120 112 Pernapasan 20 24 24 20 24 24 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 38 40 32 30 Suhu 36,4 38,1 37,2 36,6 36,6 36,6 36,7 36,8 36,5 36,5 36,5 36 36,7 36,7 36,8 36,7 37,8 Febris Afebris

22 Feb 2013

23 Feb 2013

Alergi / intoleran Allergen Reaksi

Permasalahan sosial yang berhubungan dengan obat Alcohol : Coffein :-

Biaya pengobatan

- Ada Tidak

Muntah

Jamkesmas

Tembakau : -

KERTAS KERJA FARMASI MASALAH YANG TERKAIT DENGAN OBAT


JENIS NO PERMASALAHAN ANALISA MASALAH PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN OBAT KOMENTAR /REKOMENDASI 1. Ada obat tanpa indikasi medis, paracetamol tetap diberikan padahal demam sudah turun. 2. Tidak ada permasalahan 3. Tidak ada permasalahan

1 Korelasi antara 1. Adakah obat tanpa indikasi 1. Ada Permasalahan : terapi obat-dengan medis? 1,2,3 penyakit 2. Adakah pengobatan yang 2. Tidak ada tidak dikenal? permasalahan 3. Adakah kondisi klinis yang tidak diterapi? dan apakah kondisi tersebut membutuhkan terapi obat ? 2 Pemilihan yang sesuai

obat 1. Bagaimana pemilihan obat? 1. Ada 1. Pilihan utama Apakah sudah efektif dan Permasalahan : untuk indikasi 1,2,3 merupakan obat terpilih pada vegetasi adalah 2. Tidak ada kasus ini? penisilin G dan permasalahan 2. Apakah pemilihan obat gentamisin injeksi tersebut relative aman? namun pada terapi 3. Apakah terapi obat dapat ini digunakan ditoleransi oleh pasien? ceftriaxone

3 Regimen dosis

1. Dosis captopril pada terapi 1. Apakah dosis, frekwensi 1. Ada ini 3x25mg, Permasalahan : dan cara pemberian sudah direkomendasikan dosis 1,2,3 mempertimbangkan 2x25mg karena TD pasien 2. Tidak ada efektifitas keamanan dan normal (120/80 mmHg) permasalahan kenyamanan serta sesuai Dosis allopurinol juga di dengan kondisi pasien? rekomendasikan dari dosis 2. Apakah jadwal pemberian efektif minimum yaitu dosis bisa memasikmalkan 1x100mg. efek terapi, kepatuhan , Beberapa sediaan tablet meminimaIkan efek kurang efektif karena pasien samping,interaksi obat, susah menelan. dan regimen yang 2. Krn sediaan tablet susah komplek? ditelan menyebabkan pasien 3. Apakah lama terapi sesuai malas minum obat, sehingga dengan indikasi ? tingkat rendah. kepatuhan sngt

4 Duplikasi terapi 1. Apakah terapi

ada

duplikasi 1.Ada Permasalahan : 1 2. Tidak ada permasalahan

3. Lama terapi sesuai indikasi Tidak ada duplikasi terapi

Lanjutan,,
5 Alergi obat atau 1. Apakah pasien alergi atau intoleran 1. Ada intoleran terhadap salah satu obat (atau bahan Permasalahan : kimia yang berhubungan dengan 1,2 pengobatanya)? 2. Tidak ada 2. Apakah pasien telah tahu yang harus permasalahan dilakukan jika terjadi alergi serius?
1.Pasien tidak mengalami alergi pd terapi pengobatan 2.Pasien telah diberi informasi untk segera memberitahukan kpd petugas medis jika terjadi alergi serius.

Efek merugikan 1. Apakah ada gejala / permasalahan obat medis yang diinduksi obat?

Interaksi dan Kontraindikasi

1. Apakah ada interaksi obat dengan obat? Apakah signifikan secara kilnik? 2. Apakah ada interaksi obat dengan makanan? Apakah bermakna secara klinis? 3. Apakah ada interaksi obat dengan data laboratorium?Apakah bermakna secara klinis? 4. Apakah ada pemberian obat yang kontra indikasi dengan keaadaan pasien?

1. Ada Tidak ada permasalahan Permasalahan : 1 2. Tidak ada 1. Captopril-asetosal 1. Ada efek captopril Permasalahan : Captopril-spironolakton 1,2,3,4 hiperkalemia 2. Tidak ada Asetosal-allopurinol permasalahan
toksisitas allopurinol Asetosal-ranitidin efek samping mual pd sal. cerna akibat penggunaan asetosal 2. Captopril-makanan absorbsi Simvastatin-buah/jus anggur toksisitas

Daftar DRP Pengobatan


Nama Obat Aspilet Tepat Indikasi Tepat Obat Tepat Pasien Tepat Dosis Waspada Efek Samping Tukak lambung dicegah dengan PPI atau AH2 Konstipasi

B1, B6, B12 Ozid Kaptopril Simvastatin

x
x

Batuk Kering
Sakit Kepala, Konstipasi Alergi pada kulit Ekstrapiramidal dan Hipertensi orthistatik Hiperkalemia Trombositosis Diare Konstipasi Takikardia Takikardia -

Allopurinol Haloperidon

Spironolakton Paracetamol Ceftriaxone Inj Citicolin Inj Ranitidin Dopamin Dobutamin 1 amp IVFD RL gtt 20

LEMBAR KERJA KONSELING DAN PEMBERIAN INFORMASI YANG DIBERIKAN

KONSELING Menjelaskan kepada keluarga pasien betapa pentingnya kepatuhan mengkonsumsi obat demi tercapainya tujuan terapi Memberikan informasi tentang penggunaan obat (sebelum atau sesudah makan) Menginformasikan kepada pasien tentang efek samping yang mungkin terjadi.

TINJAUAN PENYAKIT

Stroke Iskemik
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal atau global yang timbul akibat gangguan aliran darah diotak (bukan oleh karena tumor atau trauma kepala). Klasifikasi stroke iskemik : 1. Stroke iskemik tipe emboli 2. Stroke iskemik tipe trombosis Stroke iskemik terjadi karena hilangnya suplai darah ke salah satu bagian otak dan mengakibatkan terjadinya ischemic cascade. ischemic cascade adalah suatu rangkaian reaksi biokimia yang terjadi setelah sel atau jaringan aerob mengalami iskemi. Stroke juga dikenal sebagai serangan serebrovaskuler (CVA), yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terhenti. Hal ini akan menyebabkan kematian sel dalam beberapa menit. Kerusakan otak akibat stroke bisa berlanjut hingga beberapa hari setelah serangan

Patofisiologi Stroke Iskemik

Endokarditis
Endokarditis adalah infeksi permukaan endokardial yang biasanya meliputi dinding ventrikel, katup-katup jantung, dinding arteri besar, septum, yang ditandai dengan mudah terjadinya aggregasi dari trombin dan platelet yang disebut vegetasi. Etiologi : Streptococcus dan staphylococcus merupakan penyebab lebih dari 80% kasus. Pada pasien pecandu obatobatan yang menyuntik melalui intravena dan pasien dengan katup buatan/katup yang telah cacat, insidennya lebih tinggi. Masuknya kuman tersebut dapat melalui oropharynx, kulit, saluran kencing, penyalahgunaan obat melalui parental nasokomial.

TINJAUAN OBAT

A. ASPILET
Kelas Terapi Mekanisme Kerja Analgesik Non Narkotik Aspirin bekerja dengan mengasetilasi enzim prostaglandin H2 endoperoxide synthase (PGHS) & menghambat kerja enzim COX secara permanen. COX-1 umumnya ada di semua sel termasuk platelet. Aspirin relatif selektif menghambat COX-1 & sedikit COX-2. PGH2 dala platelet & endotel vaskular memproduksi tromboxan A2 (bertanggung jawab dalam agregasi platelet dan vasokonstriksi) & prostacyclin (bertanggung jawab dalam menghambat agregasi platelet & vasodilatasi) sehingga dosis sangat bervariasi. Efek pada darah : Menghambat fase kedua agregasi platelet & mencegah pelepasan adenosin diphosphate (ADP) dari platelet & faktor 4 platelet. Antitrombotik : Menghambat sintesa prostaglandin di vena. Aspirin dosis rendah dapat mencegah trombosis dengan cara menghambat secara selektif sintesa PGHS & tromboxan A2 Pengobatan dan pencegahan angina pectoris, thrombosis (agregasi platelet), infark miokard akut setelah stroke.

Indikasi

LANJUTAN..
Dosis Pengobatan Angina stabil kronis : Dosis : 75-325mg/hari segera setelah didiagnosa (kecuali ada kontraindikasi aspirin) CAD & MI : Pencegahan : 160-325mg/hari, dimulai paling lama 24 jam setelah MI terjadi kemudian diteruskan selama 30 hari paling sedikit Transient Ischemic Attacks & Acute Ischemic Stroke : Untuk mengurangi resiko berulangnya TIA, stroke, kematian : 50 - 325mg/hari AIS : 160-325mg/hari dimulai dalam waktu 48 jam setelah stroke terjadi, dilanjutkan hingga 2-4 minggu. Pencegahan AIS sekunder adalah dengan dosis rendah.

Interaksi Obat

Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) Makanan & susu :Menurunkan efek merugikan terhadap saluran cerna

Penggunaan bersama antasid atau antagonis H2 dapat mengurangi efek tersebut.


Obat ini dapat mengganggu hemostatis pada tindakan operasi dan bila diberikan bersama heparin atau antikoagulan oral dapat meningkatkan resiko perdarahan.

B. VITAMIN B1, B6, B12

Kelas Terapi Mekanisme Kerja

Vitamin B kompleks Sebagai co-enzim dari karboksilase, suatu enzim esensial pada metabolisme karbohidrat (proses dekarboksilasi) dan pembentukan bio-energi dan insulin.

Indikasi

Gejala kekurangan vitamin neurotropik, gangguan neurologis, morning sickness, anemia, kelelahan usia tua.

Dosis Pengobatan Interaksi Obat

Dewasa 2-3 kali sehari Pemberian vit.B6 dosis tinggi dapat mengurangi kerja levodopa

C. OZID (Komposisi: Omeprazole)


Kelas Terapi Mekanisme Kerja Obat Untuk Saluran Cerna Omeprazol merupakan penghambat pompa proton yang selektif dan irreversible. Omeprazol menekan sekresi asam lambung dengan menghambat sistem enzim Hidrogen-

Kalium ATPase pada permukaan sel parietal.


Efek penghambatan ini terkait dengan dosis. Penghambat pompa proton dapat meningkatkan risiko infeksi gastrointestinal karena efek penekanan sekresi asam Indikasi Tukak duodenum, tukak lambung, refluks esofagitis, erosif ulseratif, sindrom Zollingerellison Tukak duodenum, tukak lambung, refluks esofagitis, erosif ulseratif 20mg 1x/hari selama 2-4 minggu. Sindrom Zollinger-ellison 60mg 1x/hari. Kasus berat 20-120mg 1-2x/hari. Interaksi Obat Omeprazol memperpanjang eliminasi Diazepam, Warfarin dan Fenitoin atau obat lain yang mengalami metabolisme oleh cytochrome P-450-mediated oxidation di hati. Omperazol mengurangi absorpsi Ketoconazol, Itraconazol, dimana absorpsinya tergantung pada pH asam lambung. Pada penggunaan bersama Voriconazol, konsentrasi plasma kedua obat ini dapat

Dosis Pengobatan

meningkat dan direkomedasikan untuk mengurangi dosis Omeprazol

D. CITIKOLIN

Kelas Terapi

Psikofarmaka.Anti psikosis

Mekanisme Kerja

Memodulasi metabolisme fosfolipid membran sel serta memperbaiki


kadar neurotransmiter.

Indikasi

Stadium akut penurunan kesadaran karena trauma serebral, bedah otak, stadium kronik, gangguan saraf/psikiatri karena apopleksi,

Dosis Pengobatan

trauma kepala dan bedah otak Kondisi akut 250-500mg IV drip/bolus inj 1-2x/hari
Kondisi kronik 100-300mg IM / IV 1-2x/hari Gangguan serebrovaskuler sampai dengan 1000 mg IM/IV

E. RANITIDIN (ranitidine HCl)


Kelas Terapi Mekanisme Kerja Obat Untuk Saluran Cerna Menghambat secara kompetitif histamin pada reseptor H2 sel-sel parietal lambung, yang menghambat sekresi asam lambung; volume lambung dan konsentrasi ion hidrogen berkurang.Tidak mempengaruhi sekresi pepsin, sekresi faktor intrinsik yang distimulasi oleh penta-gastrin, atau serum gastrin Indikasi Terapi jangka pendek dan pemeliharaan untuk tukak lambung, tukak duodenum, tukak ringan aktif, refluks gastroesofagus dan esofagitis erosive, kondisi hipersekresi patologis. Sebagai bagian regimen multiterapi H. Dosis Pengobatan pylori untuk mengurangi risiko kekambuhan tukak. 1 tab 2/hr,pagi dan malam Injeksi iv bolus intermiten 50mg dilarutkan dengan 20 ml NaCl 0,9% diberikan untuk 5 menit 6-8 jam.intermiten iv infus 50mg dilarutkan dengan dextrosa 5% untuk membuat larutan 100 ml diberikan selama 15-20 menit 6-8 jam Interaksi Obat Makanan tidak mengganggu absorpsi ranitidin. Meningkatkan efek/toksisitas siklosporin (meningkatkan serum kreatinin), gentamisin (blokade neuromuskuler), glipizid, glibenklamid, midazolam (meningkatkan konsentrasi), metoprolol, pentoksifilin, fenitoin, kuinidin, triazolam.Mempunyai efek bervariasi terhadap warfarin. Antasida dapat mengurangi absorpsi ranitidin. Absorpsi ketokonazol dan itrakonazol berkurang; dapat mengubah kadar prokainamid dan ferro sulfat dalam serum, mengurangi efek nondepolarisasi relaksan otot,cefodoksim, sianoklobalamin (absorpsi berkurang), diazepam dan oksaprozin, mengurangi toksisitas atropin. Penggunaan etanol dihindari karena dapat menyebabkan iritasi mukosa lambung.

F. CATOPRIL
Kelas Terapi Mekanisme Kerja Antihipertensi Inhibitor kompetitif terhadap ACE angiotensin, converting enzym, mencegah pengubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat; menurunkan level angiotensin II yang menyebabkan peningkatan aktivitas plasma renin dan menurunkan sekresi aldosteron. Indikasi Dosis Pengobatan Interaksi Obat Hipertensi, gagal jantung Dosis awal 12,5mg 2-3x/hari, dititrasi sampai dengan 25mg 2-3x/hari Diuretik :Efek hipotensi captopril meningkat bila diberikan bersama diuretik; dosisharus disesuaikan. Reaksi hipotensi yang parah dan insufisiensi renal yang dapat balik (reversible) dapat terjadi, terutama pada pasien-pasien dengan cairan dan/ atau natrium yang kurang.Diuretik hemat kalium (spironolakton, amiloride, triamteren), dan suplemen kalium, harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang mendapatkan captopril; data yang terbatas menunjukkan gangguan fungsi ginjal dapat terjadi. Antasid, Pemberian bersamaan antasid dan captopril dapat menurunkan bioavailabilitas dari captopril s/d 40-45%.

NSAID, Pemberian captopril bersamaan dengan NSAID dapat menurunkan respon penurunan tekanan darah dari captopril dan beberapa data menyatakan kombinasi ini dapat menurunkan fungsi ginjal yang akut.Tekanan darah dan fungsi ginjal harus dimonitor.
Interaksi obat dengan makanan : Captopril sebaiknya diminum saat perut kosong (1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan) untuk memaksimalkan absorpsi.

G. SIMVASTATIN
Kelas Terapi Mekanisme Kerja Obat Kardiovaskuler Simvastatin adalah turunan metilasi dari lovastatin yang bekerja secara kompetitif menghambat 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reduktase, enzim yang sangay berperan dalam katalisasi biosntesis colesterol. Indikasi Menurunkan kolesterol LDL dan total pada hiperkolesterol primer, jika tidak responsif dengan diet dan terapi non farmakologi lain

Dosis Pengobatan

Dosis awal 10mg/hari pada sore hari, hiperkolesteremia ringan-sedang 5mg/hari, maks 40
mg/hari Efek Cytochrome P450: substrat CYP3A4 (mayor); menghambat CYP2C8/9 (lemah), 2D6 (lemah) Meningkatkan efek/toksisitas : resiko myopathy/rhabdomyolyis dapat meningkat dengan pemberian bersama senyawa penurun lipid yang dapat menyebabkan rhabdomyolysis (gemfibrozil, turunan asam fibrat atau niasin pada dosis = 1 g/ hari),atau selama penggunaan bersama inhibitor CYP3A4 kuat . Inhibitor CYP3A4 dapat meningkatkan efek/kadar simvastatin;contoh inhibitor meliputi: antifungi golongan azol, klaritromisin, diklofenak, doksisiklin, eritromisin, imatinib, isoniazid, nefazodon, nicardipin, propofol, inhibitor protease, kuinidin, telitromisindan verapamil. Dalam jumlah besar ( > 1 quart/hari, 1 quart = 0,9463 L), jus grapefruit dapat meningkatkan serum konsentrasi simvastatin, meningkatkan risiko rhabdomyolysis. Pada umumnya penggunaan

Interaksi Obat

bersama dengan inhibitor CYP3A4 tidak direkomendasikan;

H. ALLOPURINOL
Kelas Terapi Mekanisme Kerja Antipirai Menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urine. Penghambat kerja enzim xantin oksidase yang mengkatalisasi perubahan hipoxantin menjadi xantin & perubahan xantin menjadi asam urat yang pada akhirnya menurunkan konsentrasi asam urat dalam serum & urin. Alopurinol dan metabolit primernya oksipurinol menghambat xantin oksidase. Alopurinol menghambat secara kompetitif xantin oksidase pada konsentrasi rendah dan merupakan inhibitor non kompetitif pada konsentrasi tinggi.

Indikasi

Pirai primer &sekunder : Hyperuricemia karena penggunaan chemoterapi "Recurrent Renal


Calculi". Lain-lain : Menurunkan hiperuricemia sekunder akibat ke-kurangan glucose-6phosphatedehydrogenase, "Lesch-Nyhan syndrome", "Polycythemia vera", "Sarcoidosis", pemakaian thiazid & ethambutol. Untuk mengurangi konsentrasi asam urat sampai <6mg/dl

Dosis Pengobatan

Dewasa: dosis awal 100-300 mg/hari. Pemeliharaan:200-600 mg/hari, kondisi ringan 100200mg/hari, kondisi sedang:300-600mg. Kondisi berat:700-900mg/hari. Maximum dosis tunggal 300mg sehari 900mg

LANJUTAN..

Interaksi Obat

Obat antineoplastik : Dosis 300-600mg dapat meningkatkan toksisitas azathioprin dan mercaptopurin. Dosis obat antineoplastik harus diturunkan 25-33%.

Obat yang meningkatkan konsentrasi asam urat seperti diuretik, pirazinamid, diazoxide,
alkohol & mecamylamine, dosis allopurinol harus dinaikkan. Ampisilin & amoxisilin : Potensiasi efek alergi aminopenisilin. Diuretik & zat urikosurik : Zat urikosurik meningkatkan efek allopurinol (aditif).Diuretik seperti tiazid : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas.

Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis)

Antasid : Allopurinol gagal untuk menurunkan konsentrasi asam urat darah ketika
diberikan pada waktu yang sama seperti aluminium hidroksida. Namun, jika allopurinol diberikan 3 jam sebelum aluminium hidroksida.

Alkohol Potensi peningkatan konsentrasi asam urat serum Mungkin perlu meningkatkan dosis allopurinol

I. CEFTRIAKSON (cefriaxon Na)

Kelas Terapi Mekanisme Kerja

Anti Infeksi Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan berikatan dengan satu atau lebih ikatan protein - penisilin (penicillin-binding proteins-PBPs) yang selanjutnya akan menghambat tahap transpeptidasi sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri sehinggamenghambat biosintesis dinding sel. Bakteri akan mengalami lisis karena aktivitas enzim autolitik (autolisin dan murein hidrolase) saat dinding sel bakteri terhambat.

Indikasi

Infeksi saluran nafas bawah serius,infeksi kulit,infeksi kulit dan sendi,infeksi abdomen,infeksi saluran kemih bawah dan ginjal,infeksi GO yang tidak lengkap,minginitis,infeksi peri-op

Dosis Pengobatan Interaksi Obat

pembedahan Dosis dan anak >12 tahun 1-2 gr/hr tergantung dari keberatan infeksi,max 4gr/hr dibagi dalam 2 dosis Chephalosporin : menigkatkan efek antikoagulan dari derivat kumarin(Dikumarol dan Warfarin) Agen urikosurik: (Probenesid, Sulfinpirazon) dapat menurunkan ekskresi sefalosporin, monitor efek toksik.

J. SPIRINOLAKTON

Kelas Terapi

Diuretik

Mekanisme Kerja

Spironolakton berkompetisi dengan aldosteron pada reseptor di tubulus ginjal distal,


meningkatkan natrium klorida dan ekskresi air selama konversi ion kalium dan hidrogen, juga dapat memblok efek aldosteron pada otot polos arteriolar.

Indikasi

Hipertensi primer, hiperaldosteronisme, kondisi edema, dengan CHF ansietas, ascites, sindrom nefrotik, hipokalemia

Dosis Pengobatan Interaksi Obat

Kondisi edema dan hipokalemia 25-100 mg/hari, hipertensi esensial 50-100 mg Resiko hiperkalemia meningkat karena ACE-i, penghambatan klirens dari digoksin, dapat meningkatkan efek dari obat antihipertensi lain

Kolestiramin dapat menyebabkan asidosis hiperkloremik pada pasien sirosis, hindari


penggunaannya secara bersamaan.

K. HALLOPERIDOL

Indikasi

Menenangkan keadaan mania pasien psikosis yang karena hal tertentu tidak dapat diberi fenotiazin Haloperidol memperlihatkan antipsikosis yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit manik depresif dan skizofrenia. Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang mengalami eksitasi. Efek sedatif haloperidol kurang kuat dibanding dengan CPZ, sedangkan efek haloperidol terhadap EEG menyerupai CPZ yakni memperlambat dan menghambat jumlah gelombang teta. Haloperidol menghambat sistem dopamin dan hipotalamus, juga menghambat muntah yang ditimbulkan oleh apomorfin. Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak. Menekan pelepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis. Haloperidol dapat meningkakan efek amfetamin, betabloker tertentu, benzodiazepin tertentu, kalsium antagonis, cisaprid, siklosporin, dekstrometorfan, alkaloid ergot, fluoksetin, inhibitor HMG0CoA reductase tertentu. Haloperidol dapat meningkatkan efek antihipertensi, SSP depresan, litium, trazodon dan antidepresan trisiklik. Efek haloperidol meningkat oleh klorokuin, propranolol, sulfadoksin-piridoksin, anti jamur azol, chlorpromazin, siprofloksacin, klaritromisin, delavirdin, diklofenak, doksisiklin, aritromisin, fluoksetin, imatinib, isoniasid, mikonazol.

Farmakologi

Mekanisme Kerja

Interaksi

L. PARASETAMOL

Indikasi Dosis

Nyeri ringan sampai sedang dan demam Dewasa&anak>12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bilaperlu, maksimum 4 g per hari. Oral Anak tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) : < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg, 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg, 12-23 bln (8-11 kg)120 mg, 2-3 thn (11-16 kg)160 :

Mekanisme kerja Interaksi obat

Bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat Alkohol, antikonvulsan, isoniazid : Meningkatkan resiko hepatotoksis,

Antikoagulan oral : Dapat meningkatkan efek warfarin, Fenotiazin : Kemungkinan terjadi hipotermia parah

M. DOPAMIN
Kelas Terapi Mekanisme Kerja Obat Kardiovaskuler Menstimulasi reseptor adrenergik dan dopaminergik; dosis yang lebih rendah terutama menstimulsi dopaminergik dan menghasilkan vasodilatasi renal dan mesenterik ; dosis yang lebih tinggi menstimulasi dopaminergic dan beta1-adrenergik dan menyebabkan stimulasi jantung dan vasodilatasi renal ; dosis besar menstimulasi reseptor alfaadrenergik. Syok kardiogenik pada infark miokard atau bedah jantung Infus I.V : (pemberiannya memerlukan pompa infus) : Bayi : 1-20 mcg/kg/menit, infus kontinyu , titrasi sampai respon yang diharapkan. Anak-anak : 1-20 mcg/kg/menit, maksimum 50 mcg/kg/menit, titrasi sampai respon yang diharapkan. Dewasa : 1-5 mcg/kg/menit sampai 20 mcg/kg/menit, titrasi sampai respon yang diharapkan. Infus boleh ditingkatkan 4 mcg/kg/menit pada interval 10-30 menit sampai respon optimal tercapai. Jika dosis > 20-30 mcg/kg/menit diperlukan, dapat menggunakan presor kerja langsung (seperti epinefrin dan norepinefrin). Meningkatkan efek/toksisitas : efek dopamin diperpanjang dan ditingkatkan oleh MAO inhibitor; alpha dan beta-adrenergic blockers, cocaine, anestetik umum, metilldopa,fenitoin, reserpin dan antidepresan trisiklik. Menurunkan efek: Efek antidepresan trisiklik diturunkan jika digunakan bersama dengan dopamin. Efek hipotensif guanetdin hanya berefek sebagian; memerlukan simpatomimetik kerja langsung.

Indikasi Dosis Pengobatan

Interaksi Obat

N. DOBUTAMIN

Kelas Terapi Mekanisme Kerja

Obat Kardiovaskuler Stimulasi reseptor beta1-adrenergic, menyebabkan peningkatan kontraktilitas dan denyut jantung, dengan sedikit efek pada beta2 atau alpha-reseptor

Indikasi

Efek inotropik pada infark, bedah jantung, cardiomyopathies, septic shock dan cardiogenic shock

Dosis Pengobatan

Infus intravena 2,5 sampai 10 mcg/kg/menit, disesuaikan dengan responnya

Interaksi Obat

Meningkatkan efek/toksisitas : anastetik umum (contoh: halothan atau


siklopropan) dan dosis lazim dobutamin menyebabkan aritmia ventrikular pada hewan. Bretylium dapat mempotensiasi efek dobutamin. Beta blocker (nonselective) dapat meningkatkan efek hipertensi, hindari penggunaan secara bersamaan. Kokain dapat menyebabkan aritmia hebat. Guanetidin, inhibitor MAO, metildopa, reserpin dan antidepresan trisiklik dapat meningkatkan respon presor pada simpatomimetik. Menurunkan efek : bloker beta adrenergik dapat menurunkan efek dobutamin dan meningkatkan risiko hipotensi yang berat.