Anda di halaman 1dari 3

Servisitis Gonorrhea Penyebab Cervicitis gonorrhea adalah peradangan pada dinding rahim (cervix) yang disebabkan oleh bakteri

N.gonorrhea yang merupakan bakteri gram negatif. Patophysiology: Cervicitis disebabkan oleh infeksi bakteri menular seksual. Infeksi pada serviks dapat menyebabkan terjadi peradangan dan bisa disertai dengan vulvovaginitis. Cervicitis dengan discharge mucopurulen adalah diagnosis klinis, satu biasanya ditandai dengan kerapuhan dari leher rahim, discharge mukopurulen dari os, dan peningkatan jumlah polimorf di sekret endoserviks. Infeksi yang menyebar ke atas dapat menyebabkan endometritis, salpingitis, abses tuboovarian, atau perihepatitis. Kadang-kadang, kondisi tersebut dapat disebabkan oleh variabel lain selain PMS. Penyebab lain yang mungkin adalah adanya respon terhadap perangkat yang dimasukkan ke dalam daerah pinggul (yaitu cervical cap, pessary, diaphragm) atau alergi terhadap spermisida atau lateks kondom (Adler et al 2004). Gejala Wanita yang mengalami cervicitis biasanya tidak mengalami gejala, hanya ditemukan discharge berwarna kekuningan, putih, atau abu-abu. Pasien biasanya mengalami erythema pada cervix dan keluar discharge, namun pasien tidak merasakan adanya keluhan. Pada beberapa kasus pasien dapat mengalami adanya rasa tertekan dan tidak nyaman pada area pelvic. Selain itu pasien mengalami rasa sakit saat berhubungan seksual (Chandran 2008).

Gambar 4. Cervicitis Gonorrhea. Discharge yang tampak pada endoservik. Diagnosis Pemeriksaan discharge dengan mikroskop biasanya menunjukkan lebih dari 5 leukosit per bidang daya tinggi. Kebanyakan pedoman merekomendasikan praktek ambang 10-30 polymorphonuclear (PMN)

leukosit per bidang daya tinggi untuk mendukung diagnosis cervicitis mukopurulen dan DGNI positif. Pengecatan Gram dari cervical mucopus akan menunjukkan bakteri Gram negative diplococcus. Kultur pada media Thayer-Martin yang dimodifikasi adalah standar kriteria untuk mengkonfirmasikan gonorrheae. Enzyme-linked immunosorbent assay or direct fluorescent antibody testing sering digunakan untuk mendeteksi infeksi klamidia. DNA probe dengan sensitivitas 90-97% juga tersedia untuk mendeteksi simultan organisme gonococcal dan klamidia (Chandran 2008). Treatment Pasien diberikan antibiotik dengan pilihan salah satu dari (Chandran 2008): Cefixime 400 mg orally in a single dose, Ceftriaxone 125 mg IM in a single dose, Ciprofloxacin 500 mg orally in a single dose, Ofloxacin 400 mg orally in a single dose, Levofloxacin 250 mg orally in a single dose, Azithromycin 1 g orally in a single dose, Doxycycline 100 mg orally twice a day for 7 days. Seperti terapi jenis SDV yang lain, sebaiknya pengobatan dilakukan pada pasangan berhubungan seks, dan juga abstinence hingga sembuh total. Servisitis Non Gonorrhea Servisitis yang disebabkan oleh bakteri selain N. gonorrhea digolongkan ke dalam sevisitis non gonorrhea. Gejala yang muncul pada servisitis non gonorrhea sama dengan servisitis gonorrhea. Yang membedakan adalah, pada pemeriksaan laboratorium ditemukan sel PMN sejumlah >30 buah dan DGNI negatif. Memang, Sindroma Discharge Vagina adalah penyakit yang relatif mudah disembuhkan. Namun alangkah lebih baiknya jika kita mencegah penularan SDV. Pencegahan SDV dapat ditempuh dengan cara (Mansjoer et al 2000) : 1. Melakukan perilaku seksual yang aman. Pilihan perilaku seksual yg aman: A = abstinence. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah . B = be faithful. Setia pada pasangan. C = condom. Gunakan condom saat berhubungan seksual. Mengganti hubungan seks penetratif berisiko tinggi dengan hubuangan seks non-penetratif berisiko rendah. Perilaku berisiko tinggi misalnya perilaku yang menyebabkan seseorang terpapar dengan darah, semen, cairan vagina yang tercemar mikroba penyebab SDV). 2. Menyampaikan perlunya mengubah perilaku seksual kepada pasangan. 3. Mendukung keputusan perubahan perilaku seksual yg dipilih, misalnya program peningkatan penggunaan condom. Referensi : Adler, M, Cowan, F, French,P, Mitchell, H, Richens, J 2004, ABC of Sexually Transmitted Infections, Fifth Edition, BMJ Books, London.

Ainbinder, SW, Ramin, SM, & DeCherney, AH. 2007, Current Medical Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology, McGraw-Hill, New York. Chandran, L 2008, Pediatric Cervicitis, in Emedicine, accessed 3 March 2011, from Cunningham, FG, Gant, NF, Leveno, KJ, Gilstrap,LC, Hauth, JC, & Wenstrom, KD 2003, Obstetri Williams Ed.21, EGC, Jakarta. Darmani, EH 2008, Hubungan antara pemakaian AKDR dengan Kandidiasis vagina di RSUD Pirngadi Medan tahun 2002, USUe-repository, Medan. Djuanda, A, 2007, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Mansjoer, A 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FK UI. Jakarta. Morgan, G and Haminton, C 2003, Obstetric dan Ginekologi, EGC, Jakarta. Munzila, S and Wiknjosastro, GH 2007, Pemeriksaan pH dan LEA Vagina dengan Dipstick sebagai Metoda Penapisan Vaginosis Bakterial dalam Kehamilan, Gynecology Indonesia, vol. 31, no. 3, p 134, viewed 6 March 2011, from Patel, V, Pednekar, S, Weiss, H, Rodrigues, M, Barros, P, Nayak, B, Tanksale, V, West, B, Nevrekar, P, Kirkwood, BR, Mabey, D 2005, Why do women complain of vaginal discharge? A population survey of infectious and pyschosocial risk factors in a South Asian community , International Journal of Epidemiology, vol. 34, no. 4, pp 853-862, viewed on 6 March 2011 from Pudjiati, Satiti Retno, 2011, Infeksi Menular Seksual, Yogyakarta.