Anda di halaman 1dari 21

Permendagri 13 Permendagri 59

Pasal 123 A
Tidak diatur sebelumnya (1) Pada SKPKD disusun DPA-SKPD dan DPA-PPKD
(2) DPA-SKPD memuat program/kegiatan yang
dilaksanakan oleh PPKD selaku SKPD;
(3) DPA-PPKD digunakan untuk menampung:
a. Pendapatan yang berasal dari dana perimbangan dan
pendapatan hibah;
b. Belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan
keuangan, dan belanja tidak terduga;
c. Penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan daerah.
(4) Format DPA-PPKD tercantum dalam Lampiran B.I.b
peraturan menteri ini.
 Permendagri 13/2006 memungkinkan
dilaksanakannya kegiatan lanjutan
dengan menggunakan SILPA (yang
belum dialokasikan) sebagai sumber
pendanaan.
 Harus dipastikan bahwa kegiatan yang
di-DPAL-kan benar-benar kegiatan yang
memenuhi syarat, baik formil maupun
materiil
 Maka, proses verifikasi menjadi penting
dalam penetapan DPAL
 Revisi pasal 138 mempertegas
beberapa persyaratan tentang
kegiatan lanjutan
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 138 Pasal 138
(1) Beban belanja langsung pelaksanaan kegiatan (1) Pelaksanaan kegiatan lanjutan sebagaimana
lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 dimaksud dalam Pasal 137 huruf b didasarkan pada
huruf b didasarkan pada DPA-SKPD yang telah DPA-SKPD yang telah disahkan kembali oleh PPKD
disahkan kembali oleh PPKD menjadi DPA Lanjutan menjadi DPA Lanjutan SKPD (DPAL-SKPD) tahun
SKPD (DPAL-SKPD) tahun anggaran berikutnya. anggaran berikutnya.

(2) Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi (2) Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi
DPAL-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPAL-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Kepala SKPD menyampaikan laporan akhir realisasi Kepala SKPD menyampaikan laporan akhir realisasi
pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun
keuangan kepada PPKD paling lambat pertengahan keuangan kepada PPKD paling lambat pertengahan
bulan Desember tahun anggaran berjalan. bulan Desember tahun anggaran berjalan.

(3) Jumlah anggaran yang disahkan dalam DPAL-SKPD (3) Jumlah anggaran dalam DPAL-SKPD dapat disahkan
setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian sebagai setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap:
berikut:
a. sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD a. sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD
dan/atau belum diterbitkan SP2D atas kegiatan yang dan/atau belum diterbitkan SP2D atas kegiatan yang
bersangkutan; bersangkutan;
b. sisa SPD yang belum diterbitkan SP2D; dan b. sisa SPD yang belum diterbitkan SPP, SPM atau
SP2D; atau
c. SP2D yang belum diuangkan. c. SP2D yang belum diuangkan.
(4) DPAL-SKPD yang telah disahkan sebagaimana (4) DPAL-SKPD yang telah disahkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dijadikan dasar dimaksud pada ayat (1) dapat dijadikan dasar
pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan
penyelesaian pembayaran. penyelesaian pembayaran.
Tidak diatur sebelumnya (4a) Pekerjaan yang dapat dilanjutkan dalam bentuk
DPAL memenuhi kriteria:
a. pekerjaan yang telah ada ikatan perjanjian kontrak
pada tahun anggaran berkenaan; dan
b. keterlambatan penyelesaian pekerjaan diakibatkan
bukan karena kelalaian pengguna anggaran/barang
atau rekanan, namun karena akibat dari force major.

(5) Format DPAL-SKPD sebagaimana tercantum dalam (5) Format DPAL-SKPD sebagaimana tercantum dalam
Lampiran B.III peraturan menteri ini. Lampiran B.III peraturan menteri ini.
 Permendagri 13/2006 memberikan
desentralisasi kepada SKPD untuk
mengelola penatausahaan pendapatan
 Perlu penyederhanaan dalam proses
pertanggungjawaban fungsional ke
BUD, sehingga tercipta proses yang
lebih efisien
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 189 Pasal 189
(3) Bendahara penerimaan dalam melakukan (3) Bendahara penerimaan dalam melakukan
penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
menggunakan: menggunakan:
a. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah); a. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah);
b. surat ketetapan retribusi (SKR); b. surat ketetapan retribusi (SKR);
c. Surat tanda setoran (STS); c. Surat tanda setoran (STS);
d. surat tanda bukti pembayaran; dan d. surat tanda bukti pembayaran; dan
e. bukti penerimaan lainnya yang sah. e. bukti penerimaan lainnya yang sah.
(4) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib (4) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib
mempertanggungjawabkan secara administratif atas mempertanggungjawabkan secara administratif atas
pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya
dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban
penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya. tanggal 10 bulan berikutnya.

(5) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib (5) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib
mempertanggungjawabkan secara fungsional atas mempertanggungjawabkan secara fungsional atas
pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya
dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban
penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya. tanggal 10 bulan berikutnya.

(6) Laporan pertanggungjawaban penerimaan (6) Laporan pertanggungjawaban penerimaan


sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5)
dilampiri dengan: dilampiri dengan:
a. buku kas umum; a. buku kas umum;
b. buku pembantu per rincian objek penerimaan; b. dihapus;
c. buku rekapitulasi penerimaan harian; dan c. buku rekapitulasi penerimaan bulanan; dan
d. bukti penerimaan lainnya yang sah. d. bukti penerimaan lainnya yang sah.
 SPD berfungsi sebagai alat BUD untuk
memberitahukan ketersediaan dana
kepada SKPD
 Maka, penerbitan SPD sangat
tergantung kondisi keuangan yang
dikelola BUD
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 197 Pasal 197
(1) Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan (1) Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan
berdasarkan SPD atau dokumen lain yang berdasarkan SPD atau dokumen lain yang
dipersamakan dengan SPD. dipersamakan dengan SPD.
Tidak Diatur Sebelumnya (1a) Penerbitan SPD sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan perbulan, pertriwulan, atau persemester
sesuai dengan ketersediaan dana.
(2) Format SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (2) Format SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran D.VI peraturan menteri ini. tercantum dalam Lampiran D.VI.a peraturan menteri
ini.
 Uang persediaan diberikan kepada
setiap bendahara SKPD sebagai uang
muka kerja
 Uang persediaan diberikan sekali di
awal tahun anggaran sebesar jumlah
yang telah ditetapkan oleh Kepala
Daerah
 Pada tingkat Pemda, penyerahan uang
persediaan merupakan reklasifikasi
rekening dari rekening BUD menjadi
rekening bendahara pengeluaran
 Uang persediaan dapat digunakan untuk
belanja-belanja beberapa kegiatan
 Ketika UP mencapai batas minimal
tertentu, dapat dilakukan penggantian UP
 Bukti-bukti belanja disampaikan pada saat
pengajuan GU
 SPM yang diterbitkan sekaligus
merupakan pengesahan atas bukti-bukti
belanja tersebut
 Dilakukan kapan saja pada saat uang
persediaan mencapai batas minimal
tertentu
 Tidak perlu dilampiri oleh SPJ bulanan
(administratif/fungsional)
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 200 Pasal 200
(1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU
dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk
memperoleh persetujuan dari pengguna memperoleh persetujuan dari pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK- anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-
SKPD dalam rangka ganti uang persediaan. SKPD dalam rangka ganti uang persediaan.
(2) Dokumen SPP-GU sebagaimana dimaksud pada (2) Dokumen SPP-GU sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri dari: ayat (1) terdiri dari:
a. surat pengantar SPP-GU; a. surat pengantar SPP-GU;
b. ringkasan SPP-GU; b. ringkasan SPP-GU;
c. rincian SPP-GU; c. rincian penggunaan SP2D-UP/GU yang lalu;
d. surat pengesahan laporan pertanggungjawaban d. bukti transaksi yang sah dan lengkap;
bendahara pengeluaran atas penggunaan dana SPP-
UP/GU/TU sebelumnya;
e. salinan SPD; e. salinan SPD;
f. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh f. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh
pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang
menyatakan bahwa uang yang diminta tidak menyatakan bahwa uang yang diminta tidak
dipergunakan untuk keperluan selain ganti uang dipergunakan untuk keperluan selain ganti uang
persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa
BUD; dan BUD; dan
g. lampiran lain yang diperlukan. g. lampiran lain yang diperlukan.
(3) Format surat pengesahan laporan (3) Dihapus.
pertanggungjawaban bendahara pengeluaran
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d
tercantum dalam Lampiran D.VII peraturan menteri
ini.
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 216 Pasal 216
(1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM (1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM
yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan
tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam peraturan perundang- yang ditetapkan dalam peraturan perundang-
undangan. undangan.
(2) Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan (2) Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan
SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab
pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.

(3) Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan (3) Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan
SP2D mencakup: SP2D mencakup:
a. surat pernyataan tanggung jawab pengguna a. surat pernyataan tanggung jawab pengguna
b. surat pengesahan pertanggungjawaban bendahara b. dihapus;
pengeluaran periode sebelumnya;
c. ringkasan pengeluaran per rincian objek yang disertai c. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap; dan
dengan bukti-bukti pengeluaran yang sah dan
lengkap; dan
d. bukti atas penyetoran PPN/PPh. d. dihapus.
(4) Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan (4) Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan
SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab
pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.
(5) Kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan
SP2D mencakup: SP2D mencakup:
a. surat pernyataan tanggungjawab pengguna a. surat pernyataan tanggungjawab pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran; dan anggaran/kuasa pengguna anggaran; dan
b. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai b. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai
dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan. dalam peraturan perundang-undangan.
 TU digunakan pada kasus-kasus khusus
yang terjadi sedemikian rupa sehingga
akan lebih efisien jika suatu kegiatan
dilaksanakan &
dipertanggungjawabkan terpisah
Permendagri 13 Permendagri 59
Pasal 202 Pasal 202
(1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-TU (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-TU
dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk
memperoleh persetujuan dari pengguna memperoleh persetujuan dari pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK- anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-
SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan. SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan.
(2) Dokumen SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Dokumen SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terdiri dari: (1) terdiri dari:
a. surat pengantar SPP-TU; a. surat pengantar SPP-TU;
b. ringkasan SPP-TU; b. ringkasan SPP-TU;
c. rincian SPP-TU; c. rincian rencana penggunaan TU;
d. salinan SPD; d. salinan SPD;
e. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh e. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh
pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang
menyatakan bahwa uang yang diminta tidak menyatakan bahwa uang yang diminta tidak
dipergunakan untuk keperluan selain tambahan uang dipergunakan untuk keperluan selain tambahan uang
persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa
BUD; BUD;
f. surat keterangan yang memuat penjelasan keperluan f. surat keterangan yang memuat penjelasan keperluan
pengisian tambahan uang persediaan; dan pengisian tambahan uang persediaan; dan

g. lampiran lainnya. g. lampiran lainnya.


(3) Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat (3) Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat
persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan
rincian kebutuhan dan waktu penggunaan ditetapkan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan.
dalam peraturan kepala daerah.
(4) Dalam hal Jana tambahan uang tidak habis (4) Dalam hal dana tambahan uang tidak habis
digunakan dalam 1 (satu) bulan, maka sisa tambahan digunakan dalam 1 (satu) bulan, maka sisa tambahan
uang disetor ke rekening kas umum daerah. uang disetor ke rekening kas umum daerah.

Tidak Diatur Sebelumnya (4a) Ketentuan batas waktu penyetoran sisa tambahan
uang sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dikecualikan untuk:
a. kegiatan yang pelaksanaannya melebihi 1 (satu)
bulan;
b. kegiatan yang mengalami penundaan dari jadwal
yang telah ditetapkan yang diakibatkan oleh peristiwa
di luar kendali PA/KPA;

Anda mungkin juga menyukai