Anda di halaman 1dari 21

Bismillahirrohmanirrokhim.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan taufiq dan hidayahnya, selalu mendengarkan segala pinta penulis dan yang telah memberikan petunjuk besar pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Implementasi Metode Qiroati Dalam Menigkatkan Kemampuan Baca Tulis Al -Quran di TPQ AlHidayah Sumberagung Munjungan Trenggalek, ini dengan baik dan benar serta tepat pada waktu yang ditentukan. Sholawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepada beliau Nabi agung Muhammad SAW. yang telah membawa petunjuk kebenaran seluruh umat manusia yaitu Ad-Din Al-Islam yang kita harapkan syafaatnya di dunia akhirat. Penulisan skripsi ini penulis selesaikan dengan baik berkat dukungan, motivasi, petunjuk dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Bapak Drs. H. SyafiI, M.HI., selaku Ketua STIT Sunan Giri Trenggalek yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian dan mengumpulkan data sebagai bahan penulisan laporan penelitian ini 2. Bapak Imam Maksum, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing yang dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan tanggung jawab telah banyak memberi saran dan dorongan demi kesempurnaan dan terselesaikannya penyusunan skripsi ini. 3. Keluarga besar TPQ Al-Hidayah Sumberagung Munjungan Trenggalek yang telah memberikan bantuan fasilitas kepada penulis untuk mengadakan penelitian guna penyusunan skripsi ini. 4. Seluruh sahabat penulis yang telah menjadi motivator demi selesainya penyusunan skripsi ini, semoga amal baik mereka diterima Allah SWT dan mendapat balasan yang berlipat ganda. Amiin. Kendatipun demikian, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik konstrukif dari para pembaca yang budiman. Akhirnya, penulis berharap agar skripsi ini dapat mendatangkan manfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya baik di dunia dan akhirat. Amiin. Trenggalek, Jumadil Mei 1430 Penulis, 2009 M H

Awal

DAFTAR

ISI

HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGAJUAN ii HALAMAN PERSETUJUAN iii HALAMAN PENGESAHAN iv HALAMAN PERSEMBAHAN v HALAMAN MOTTO vi KATA PENGANTAR vii DAFTAR ISI viii DAFTAR TABEL x ABSTRAK xvii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah 5 C. Tujuan Penelitian 5 D. Kegunaan Penelitian 6 E. Ruang lingkup dan Pembatasan Penelitian 7 F. Sistematika Pembahasan 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Macam- Macam Metode Pembelajaran Baca-Tulis Qur'an...... 10 B. Kelebihan Qiroati Dengan Metode Lain16 C. Metode Qiroati 1. Latar Belakang Timbulnya Qiroati.. 17

2. Pengertian Metode Qiroati .......... 21 3. Tujuan Pengajaran Metode Qiroati . 21 4. Prinsip-Prinsip Dasar Qiroari... 22 5. Metode Penyampaian Qiroati... 24 D. Baca Tulis Al-Quran 1. Pengertian Al-Quran 30 2. Urgensi Pembelajaran Al-Quran Bagi Anak 34 E. Implementasi Motode Qiroati dalam maningkatkan k emampuan baca-tulis al-quran ........ 38 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Pendekatan .. 54 B. Kehadiran Peneliti .. 55 C. Lokasi Penelitian .. 56 D. Sumber Data .. 56 E. Prosedur Pengumpulan Data .. 57 F. Teknik Analisis Data .. 59 G. Pengecekan Keabsahan Temuan .. 62 H. Tahap-tahap Penelitian .. 63 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Latar Belakang Obyek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya TPQ Al-Hidayah .... 65 2. Visi, Misi dan Tujuan Berdirinya TPQ Al-Hidayah 67 3. Jenjang Pendidikan dan Kurikulum TPQ AlHidayah ..... 69 4. Struktur Organisasi Kepengurusan TPQ AlHidayah... 70 5. Keadaan Ustadzah dan Santri TPQ AlHidayah ..... 72 6. Aktifitas Santri TPQ AlHidayah ....... 74 7. Program Penunjang TPQ Hidayah .... 76 8. Keadaan Sarana dan Prasarana TPQ AlHidayah .... 77 B. Penyajian Data 1. Bagaimana Implementasi metode qiroati di TPQ AlHidayah. 79 2. Upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca tulis Al-quran di TPQ AlHidayah..... 83 3. Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung santri dalam melaksanakan baca Quran. 86 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Bagaimana Implementasi metode qiroati di TPQ AlHidayah .... 92 B. Upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca tulis al-quran di TPQ AlHidayah ..... 93 C. Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung santri dalam melaksanakan baca Quran. 97 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan 102 B. Saran-saran 103 DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR TABEL TABEL 4.1 Jadwal materi tambahan TKQ-TPQ Al- Hidayah 4.2 Data asatidzah TKQ-TPQ Al- Hidayah 4.3 Jumlah santri mulai tahun 1999-2008 4.4 Jadwal kegiatan santri TKQ-TPQ Al- Hidayah 4.5 Program penunjang

70 72 74 76 77

DAFTAR Lampiran I Lampiran II Lampiran III Lampiran IV Lampiran V Lampiran VI Lampiran VII Lampiran VIII Lampiran IX Lampiran X Lampiran XI Lampiran XII Lampiran Lampiran Lampiran XV ABSTRAK Surat Surat Pedoman Pedoman Pedaman Pedoman Truktur Struktur Nama Silabus Jurnal Daftar XIV Daftar Permohonan Izin wawancara wawancara kepada kepada Kepala Ustadzah TPQ TPQ Bimbingan

LAMPIRAN Skripsi Penelitian AlHidayah AlHidayah Observasi Dokumentasi Hidayah Kurikulum Kelas Materi Ustadzah Kelas Konsultasi Penelitian gambar

Lembaga Ustadzah Kelas

TPQ Qiroati dan

Al-

Tes XIII Surat

Kenaikan Bukti Keterangan

Thohirin, 2009, Implementasi Metode Qiroati Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Quran (di TPQ AlHidayah Sumberagung Munjungan Trenggalek) Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Trenggalek, Pembimbing I : Bapak Drs. H. Mahsunudin, M.Ag, Pembimbing II : Bapak Drs. H. Imam Daroni, MM. Al-quran adalah pedoman umat muslim di dunia ini diwajibkan bagi kita semua untuk Balajar membaca dan menulis al-quran. Seharusnya anak didik membaca dan menulis al -quran itu sejak kecil karena sangat penting pada fase awal guna memahami isi kandungan alQuran., namun yang terjadi pada saat ini banyak sekali yang kurang bisa membaca dalam al-quran. Dalam meningkatkan baca al-quran banyak sekali metode baca quran cepat dan praktis yang di gunakan yaitu metode qiroaiti, metode baghdadiyyah, metode, al-barqy, matode iqro dan sebagainya. Metode qiroaty merupakan metode lebih menekankan pada bacaan yang praktis dan cepat, untuk metode qiroati dalam mengajarnya harus ditashih terlebih dahulu dan mendapatkan syahadah. Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang diangkat oleh peneliti yaitu bagaimana penerapan metode qiroati di TPQ, upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca tulis Al-Quran, factor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat santri dalam melaksanakan baca tulis al-quran. Mengacu pada konteks penelitian diatas, tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan metode qiroati di TPQ, untuk mengetahui upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca tulis Al-Quran, untuk mengetahui factor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat santri dalam melaksanakan baca tulis alquran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya deskriptif, dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu gejala tertentu. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menganalisa data digunakan metode deskriptif kualitatif, yakni uraiannya berdasarkan pada gejala-gejala yang tampak. Agar hasil penilaian berjalan dengan baik, maka proses analisa data tersebut dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, reduksi data yaitu penggolongan dan pemusatan data-data yangsudah diperolehdilapangan untuk mempermudah peneliti dan data yang diperoleh juga valid, kedua penyajian data yaitu mengumpulkan data secara tersusun dengan memberi kemungkinan adanya kesimpulan dan tindakan, ketiga verivikasi yaitu penarikan kesimpulan yang memberikan analisis pada puncak. Dengan rancangan penelitian seperti yang dijelaskan, peneliti memperoleh hasil bahwa pertama penerapan metode qiroati adalah sebelum pelaksanaan metode qiroati ini diterapkan yang dilakukan oleh para ustadzah yaitu harus mendapatkan syahadah terlebih dahulu dan dengan deres tiap malam serta menyediakan media yang akan digunakan, dalam penerapan metode qiroati ini pada setiap jilidnya terdapat materi pelajaran dan cara mengajarnya, selain itu juga terdapat pokok pelajaran di setiap jilidnya, menggunakan strategi klasikal

dan individual. Kedua upaya yang dilakukan dalam meningkatkan baca tulis al-quran adalah adanya Diklat tentang pembelajaran / media pembelajaran / manajemen TPQ, Training ustadzah professional, Magang dilembagalembaga, Kerjasama dengan lembaga TPQ lain. Dalam bacaan qiroati akan dinilai setiap hari dan dicatat hasil yang telah di capai santri, setelah qiroati dlaksanakan maka santri menulis qiroati 1/2 halaman, diadakannya imtihan setiap tahun dan diadakannya imtas bagi yang sudah lulus gharib. Ketiga faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan baca tulis al-quran adalah: faktor pendukung setiap ustadzah yang mengajar sudah ditashih terlebih dahulu, santri yang masuk tepat waktu, santri aktif dan rajin, menggunakan sarana dan prasarana yakni tersedianya media pembelajaran dan alat peraga. Sedangkan faktor penghambatnya adalah seringnya ganti-ganti ustadzah disetiap pertemuan dikarenakan kesibukan ustadzah, santri yang sering absent karena kesibukannya seperti les dan kegiatan ekstra diluar jam sekolah, sarana dan prasarananya kurang memadai seperti keterbatasan kelas, dan kurangnya meja belajar. Kata kunci : Metode Qiroati ; Baca Tulis Al-Quran

BAB PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Al Quran merupakan Kalamullah (kitab suci) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai mujizat yang terbesar, dimana didalamnya terdapat pedoman dalam mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki. Maka kewajiban setiap muslim di seluruh penjuru dunia untuk membaca, menghayati, serta mengamalkannya. Keterampilan membaca al-Quran atau lebih dikenal dengan istilah mengaji merupaka n keterampilan penting pada fase awal guna memahami isi kandungan al-Quran. Mengaji juga memiliki keterkaitan erat dengan ibadah-ibadah ritual kaum kuslim, seperti pelaksanaan shalat, haji dan kegiatan-kegiatan berdoa lainnya. Dalam pelaksanaan sholat atau haji misalnya, tidak sah hukumnya bila menggunakan bahasa selain bahasa al-Quran (Bahasa Arab). Pentingnya kemampuan dasar ini ditegaskan oleh Ibnu Sina bahwa ketrampilan membaca Al-Quran merupakan prioritas pertama dan utama dalam pendidikan islam. Pendapat tersebut ditegaskan pula oleh Ibnu Khaldun bahwa pengajaran Al-Quran merupakan pondasi utama pengajaran bagi disiplin ilmu. Imam Suyuti mengatakan,mengajarkan alquran kepada anak -anak merupakan salah satu diantara pilarpilar islam, sehingga mereka bisa tumbuh diatas fitrah. Begitu juga cahaya hikmah akan terlebih dahulu termasuk ke dalam hati mereka sebelum dikuasai oleh hawa nafsu dan di nodai oleh kemaksiatan dan kesesatan. Adapun hadits Nabi yang menyatakan tentang belajar Al-Qur'an adalah : ) ( "Sebaik-baik kamu adalah mempelajari al-qur'an dan mengajarknnya" (HR. Bukhaori Muslim). Selain hadits adapun ayat tentang baca tulis al-qur'an adalah terdapat pada surat al-Alaq ayat 1-5, yang berbunyi:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". Ayat tersebut adalah wahyu yang pertama kali diturunkan, yang mana tersurat dari sini adalah perintah membaca. Untuk bisa membaca maka harus dilakukan dengan proses belajar. Dalam hal ini, bacaan yang fundamental adalah Al-Qur'an. Dialah yang pertama-tama harus dibaca, maka harus ada upaya untuk belajar kitab suci ini. Apalagi belajar Al-Qur'an otomatis harus mengamalkan prinsip membaca, sebagaimana dalam lanjutan ayat pertama, yaitu " (membaca) dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan ". Berdasarkan pada ayat dan hadits tersebut maka sudah jelas bahwasannya kita dianjurkan untuk belajar membaca dan menulis. Di dalam buku Petunjuk Teknis dan Pedoman Pembinaan baca tulis al-quran dinyatakan bahwa tujuan baca tulis al-quran adalah menyiapkan anak didiknya agar menjadi generasi muslim yang Qur'ani, yaitu generasi yang mencintai Al-Qur'an, menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan dan sekaligus pandangan hidupnya sehari-hari. Dengan

berpedoman pada Al-Qur'an maka mereka akan selalu berjalan dijalan yang benar. Supaya dalam kegiatan belajar al-quran dapat berjalan dengan lancar, maka banyak sekali solusi yang digunakan yaitu dengan metode-metode cara cepat baca quran diantaranya adalah dengan menggunakan Metode Iqro, Tilawati, Qiroati, Baghdadiyah, Nahdliyah, Al Barqy dan lain-lain. Namun disini yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah menggunakan metode Qiroati. Sebelum menggunakan metode qiroati di TPQ Al-Hikmah menggunakan metode Iqro. Karena dengan menggunakan metode Iqro hasilnya dianggap kurang memuaskan. Metode Qiroati merupakan metode yang lebih menekankan pada pendekatan ketrampilan proses membaca secara cepat dan tepat, baik pada makhorijul khurufnya maupun bacaan tajwidnya, sehingga akan diperoleh hasil pengajaran yang efektif tahan lama dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi kemampuan anak didik. Untuk mengajar Metode Qiroati ini tidak sembarang orang yang mengajar karena sebelum mengajar para Ustadzustadzahnya di tasyhih terlebih dahulu sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan benar. Kualitas ustadzahnya dalam membaca al-quran selalu terpantau karena ada tadarrus bersama. Selain itu dalam metode ini juga terdapat petunjuk membacanya pada setiap jilidnya sehingga para siswa yang aktif dalam membaca sedangkan guru hanya membimbing dan membenarkan bacaan yang salah. Jadi, dalam implementasi metode ini siswa yang lebih banyak aktif sehingga akan selalu ingat dengan apa yang dipelajarinya karena para ustadz-ustadzahnya tidak memindahkan halaman sebelum siswa itu benar-benar bisa membaca dengan makhroj yang baik dan benar. TPQ Al-Hidayah merupakan taman pendidikan al-quran yang ada di Kecamatan Munjungan, TPQ ini bertempat di pondok pesantren Nurul Ulum. TPQ Al-Hidayah merupakan salah satu TPQ yang menggunakan metode qiroati dalam kegiatan belajar mengajarnya karena metode Qiroati merupakan metode cepat dan tepat dalam membaca al-quran, selain itu metide qiroati ini disiplin dalam penerapannya, bahkan metode ini banyak sekali strategi yang digunakan supaya dapat mencapai hasil yang maksimal. Berdasarkan uraian tersebut, maka sangat penting dilakukan suatu penelitian oleh penulis mengenai "IMPLEMENTASI METODE QIROATI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QURAN di TPQ AlHidayah ". B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat di rumuskan adalah : 1. Bagaimana Implementasi metode qiroati di TPQ AlHidayah? 2. Upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca-tulis quran di TPQ Al- Hidayah? 3. Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung santri dalam melaksanakan baca-tulis Quran di TPQ AlHidayah? C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian Dari informasi rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan: Untuk mengetahui Bagaimana Implementasi Metode qiroati di TPQ Al- Hidayah Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca quran di TPQ Al -

1) 2) Hidayah. 3) Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung santri dalam melaksanakan baca Quran di TPQ AlHidayah Hasil dari penelitian ini di harapkan dapat berguna : 1. Bagi Lembaga Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk mendorong semua sivitas akademik untuk menerapkan baca alquran dengan sebaik-baiknya dengan tujuan supaya dapat membaca al-quran dengan tajwid yang baik dan fasih. 2. Bagi Sekolah Hasil penelitian dapat dijadikan sebagi masukan atau sumbangan pemikiran yang konstruktif dalam usaha memperlancar baca quran. 3. Bagi Penulis Dapat menambah wawasan dan pengalaman baru yang nantinya dapat dijadikan sebagai modal dalam mengatasi baca quran sesuai dengan pembelajaran pendidikan agama islam, terutama ketika terjun dalam suatu lembaga. D. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah Untuk memperoleh data yang relevan dan memberikan arah pembahasan pada tujuan yang telah

dirumuskan, maka ruang lingkup penelitian akan diarahkan pada sekitar penerapan metode qiroati dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Quran. Yang meliputi: 1. Implementasi Metode qiroati di TPQ AlHidayah, meliputi: a. Persiapan ustadzah dalam melaksanakan metode qiroati b. Kegiatan proses belajar mengajar c. Hasil penilaian penggunaan metode Qiroati 2. Upaya apa yang dilakukan guru dalam meningkatkan baca Quran di TPQ Al - Hidayah, meliputi: a. Peningkatan persiapan b. Peningkatan kegiatan belajar mengajar c. Peningkatan hasil penilaian 3. Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung santri dalam melaksanakan baca Quran di TPQ AlHidayah, meliputi: a. Dukungan dan hambatan persiapan pelaksanaan metode qiroati b. Dukungan dan hambatan kegiatan proses belajar mengajar c. Dukungan dan hambatan hasil penilaian E. Penegasan Istilah Untuk mempermudah pemahaman dan menghindari kesimpang siuran pengertian, maka perlu adanya penegasan istilah judul skripsi ini sesuai dengan fokus yang terkandung dengan tema pembahasan, antara lain : 1. Metode Qiroati Metode Qiroati adalah suatu metode yang digunakan untuk baca Al-Quran yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan qoidah ilmu tajwid. 2. Baca Tulis Quran Baca artinya : melihat, memperhatikan serta memahami isi dari yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Tulis atau menulis adalah membuat huruf. AL-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhamma d saw melalui malaikat jibril secara berangsung-angsur supaya mudah di fahami serta menjadikan pedoman umat islam.

F.

Sistematika Pembahasan Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai isi penelitian ini maka pembahasan dalam skripsi ini di bagi menjadi VI BAB. Uraian sistematika pembahasan yang terkandung dalam masing-masing BAB disusun sebagai berikut: BAB I, merupakan pendahuluan yang berfungsi sebagai pengantar informasi penelitian yang terdiri dari latar belakang masalah, Fokus penelitian, tujuan penelitian dan Kegunaan penelitian, penegasan istilah judul, ruang lingkup dan pembatasan penelitian serta sistematika pembahasan. BAB II, Berisi tentang kajian yang terdiri dari macam- macam metode pembelajaran baca-tulis qur'an, latar belakang, pengertian, tujuan, prinsip-prinsip dasar, metode penyampaian, dan pengertian Baca tulis Al-Quran, pentingnya pembelajaran Quran serta implementasi metode qiroati. BAB III, Berisi tentang metode penelitian yang terdiri dari Pendekatan dan Jenis Penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, Sumber Data, ,prosedur pengumpulan data, Analisis Data, Pengecekan Keabsahan Data dan Tahap-tahap Penelitian. BAB IV, Berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari, latar belakang obyek penelitian tentang latar belakang berdirinya TPQ Al- Hidayah, visi,misi dan tujuan, jenjang pendidikan dan kurikulum, struktur organisasi kepengurusan, keadaan ustadzah dan santri, aktivitas santri, program penunjang, keadaan sarana dan prasarana. BAB V, berisi tentang pembahasan hasil penelitian tentang implementasi metode qiroati, faktor -faktor yang yang menghambat dan mendukung santri serta usaha-usaha yang dilakukan dalam meningkatkan baca quran. BAB VI, Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian.

BAB KAJIAN

II TEORI

A. Macam-Macam Metode Pembelajaran BacaTulis Al-Qur'an Dalam meningkatkan baca tulis Al-Qur'an, banyak sekali metode yang digunakan. Metode-metode tersebut di ciptakan supaya mudah dan cepat dalam belajar membaca Al-Qur'an, metode-metode tersebut adalah: 1. Metode Baghdadiyah Metode ini merupakan metode yang paling lama diterapkan digunakan di Indonesia, metode yang diterapkan dalam metode ini adalah: a) Hafalan Sebelum materi diberikan, santri terlebih dahulu diharuskan mengahafal huruf hijaiyah yang berjumlah 28. b) Eja Sebelum membaca tiap kalimat santri harus mengeja tiap bacaan terlebih dahulu, contoh: alif fatkhah a (), ba' fatkhah ba ( ) c) Modul Siswa yang dahulu menguasai materi dapat melanjutkan pada materi selanjutnya tanpa maenunggu teman yang lain. d) Tidak variatif Metode ini hanya dijadikan satu julid saja.

e)

Pemberian contoh yang absolute Dalam memberikan bimbingan pada santri, guru memberikan contoh terlebih dahulu kemudian diikuti oleh santri. Metode ini sekarang jarang sekali ditemui, dan berawal metode inilah kemudian timbulah beberapa metode yang lain. Dilihat dari cara mnegajarnya metode ini membutuhkan waktu yang lama kerena mengunggu santri hafal huruf hijaiyah dulu baru diberikan materi Metode ini mempunyai kelemahan dan kelebihan, kelebihannya yaitu: 1. Santri akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi santri sudah hafal huru-huruf hijaiyah. 2. Santri yang lancer akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak menunggu teman yang lain. Kelemahan dari metode ini adalah: 1. Membutuhkan waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah dahulu dan harus dieja. 2. Santri kurang aktif karena harus mengikuti ustadz-ustdzahnya dalam membaca. 3. Kurang variatif karena hanya menggunkan satu jilid saja. 2. Metode Al-Barqy Metode ini ditemukan oleh Drs. Muhadjir Sulthan, dan disosialisasikan pertama kali sebelum tahun 1991, yang sebenarnya sudah dipraktekkan pada tahun 1983. Metode ini tidak disusun beberapa jilid akan tetapi hanya dijilid dalam satu buku saja. Pada metode ini lebih menekankan pada pendekatan global yang bersifat struktur analitik sistetik, yang dimaksud adalah penggunaan struktur kata yag tidak mengikuti bunyi mati (sukun). Metode ini sifatnya bukan mengajar, namun mendorong hingga gurunya: tut wuri handayani dan santri dianggap telah memiliki persiapan dengan pengetahuan tersedia. Dalam perkembangannya Al Barqy ini menggunakan metode yang diberi nama metode lembaga (kata kunci yang harus dihafal) dengan pendekatan global dan bersifat analitik sistetik. Dan lembaga tersebut adalah: a) A-DA-RA-JA b) MA-HA-KA-YA c) KA-TA-WA-NA d) SA-MA-LA-BA Secara teoritis, metode ini apabila diterapkan pada anak kelas IV SD hanay memerlukan waktu 8 jam, bahkan bagi anak SLTA keatas hanya cukup 6 jam, sedangkan jika buku Al Barqy diterapkan pada anak TK dengan cara bermain, maka dapat memicu kecerdasan. Adapun fase yang harus dilalui dalam metode Al-Barqy, antra lain: 1) Fase analitik, yaitu guru memberikan contoh bacaan yang berupa kata-kata lembaga dan santri mengikutinya sampai hafal, dilanjutkan dengan pemenggalan kata lembaga dan terakhir evaluasi yaitu dengan cara guru menunjukkan huruf secara acak dan santri membacanya. 2) Fase sistetik, yaitu satu huruf digabung dengan yang lain hingga berupa suatu bacaan, misalnya: Menjadi: 3) Fase penulisan, yaitu santri menebali tulisan yang berupa titik-titik 4) Fase pengenalan bunyi a-i-u, yaitu pengenalan pada tanda baca fathah, kasroh dan dhommah () 5) Fase pemindahan, yaitu pengenalan terhadap bacaan atau bunyi arab yang sulut, maka didekatkan pada dengan pendekatan bunyi-nbunyi Indonesia yang berdekatan, misalnya: , dengan pendekatan . 6) Fase pengenalam mad, yaitu mengenalkan santri pada bacaan-bacaan panjang. 7) Fase penganalan tanda sukun, yaitu mengenalkan bacaan-bacaan yang bersukun. 8) Fase pegenalan tanda syaddah yaitu mengenalkan bacaan-bacaan yang bersyaddah (bunyi dobel) 9) Fase pengenalan huruf asli yaitu mengenalkan huruf asli (tanpa kharokat) 10) Fase pengenalan pada huruf yang tidak dibaca, yaitu mengenalkan santri huruf yang tidak terdapat tanda saksi (harokat) atau tidak dibaca, misalnya: 11) Fase pengenalan huruf yang musykil, yaitu mengenalkan huruf yag biasa dijumpai di al-qur'an, misalnya: (yang bergaris bawah dibaca pendek) 12) fase pengenalan menyambung, yaitu mengenalkan santri pada huruf-huruf yang disambung diawal, ditengah dan di akhiir. 13) Fase pengenalan tanda waqof, yaitu mengenalkan pada tanda-tanda baca seperti yang sering ditemui di al

qur'an. Adapun kelemahan dan kelebihan metode ini adalah : Kelemahan: a. Siswa tidak aktif karena cara membacanya harus mengikuti ustdzahnya terlebih dahulu. b. Tidak variatif karena hanya terdapat satu jilid saja. c. Dalam pengenalan tajwidnya kurang. d. Tidak dikenalkan pada huruf mati (sukun) Kelebihan: a. Siswa akan mudah hafal dan mengingat karena dalam membacanya harus mengikuti cara membaca ustadzah sampai hafal, kemudian setelah hafal ustadzah menunjukkan huruf secara acak. b. Dikenalkan bacaan yang musykil yang sering dikumpai pada bacaan Al-Quran 3. Metode Iqro' Metode ini disusun oleh H. As'ad Humam, di Yogyakarta. Metode Iqro' ini disusun menjadi 6 jilid sekaligus dan ada pula yang dicetak menjadi 1 jilid. Dimana dalam setiap jilidnya terdapat petunjuk mengajar dengan tujuan untuk memudahkan setiap anak didik yang akan menggunakannya, maupun ustadz / ustadzah yang akan menerapkan metode tersebut kepada santri. Adapun kelemahan dan kelebihan metode ini adalah a) Kelebihan: 1) Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif, melainkan santri yang dituntut untuk aktif. 2) Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama-sama), prifat (penyemakan secara individual), maupun cara yang esistensi (santri yang lebih tinggi jilidnya dapat menyimak bacaa temannya yang berjilid rendah). 3) Komunikatif, artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan perhatian, sanjungan dan penghargaan. 4) Asistensi. Santri yang lebih tinggi pelajarannnya dapat membantu menyimak santri lain. 5) Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya, boleh dengan sitem tadarrus, secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang lainnya menyimak. 6) Bukunya mudah didapat di toko-toko. b) Kelemahan: 1) Bacaan-bacaan tajwid tidak kenalkan sejak dini 2) Tidak ada media belajar 3) Tidak dianjurkan untuk menggunakan irama murottal. 4) Untuk mengajar metode ini tidak perlu ditashih terlebih dahulu. 4. Metode Qiro'ati Metode Qiroati ini adalah metode yang disusun oleh H. Dahlan Zarkasyi di semarang tahun 1989, awalnya metode ini terdapat 10 jilid kemudian diringkas menjadi 6 jilid dan ditambah lagi satu jilid untuk Bacaan-bacaan ghorib. Untuk bisa mengajarkan metode ini maka seorang guru harus ditasyhih terlebih dahulu karena dengan tashih ini maka dalam mengajar tidak sembarang orang dan dapat berpegaruh terhadap santri yaitu supaya bacaan yang diamalkan fasih dan megetahui bacaan-bacaan ghoribnya. B. Kelebihan Qiroati Dengan Metode Lain Metode qiro'ati ini dipilih karena dianggap mempunyai kelebihan dibandingkan dengan metode-metode yang lain, sehingga dapat menghasilkan peningkatan kemampuan baca tulis al-qur'an, diantaranya yaitu: 1. Sebelum mengajar metode Qiroati para ustadz/ustdzahya harus ditashih terlebih dahulu karena buku qiroati ini tidak dijual belikan dan hanya untuk kalangan sendiri yang sudah mendapat syahadah. 2. Dalam penerapannya banyak sekali metode yang digunakan. 3. Dalam metode ini terdapat prinsip untuk guru dan murid. 4. Setelah ngaji Qiroati santri menulis bacaan yang sudah dibacanya. 5. Pada metode ini setelah hatam 6 jilid meneruskan lagi bacaan-bacaan ghorib. 6. Dalam mengajar metode ini menggunakan ketukan, jadi dalam membaca yang pendek dibaca pendek. 7. Jika santri sudah lulus 6 jilid beserta ghoribnya, maka ditest bacaannya kemudian setelah itu santri

mendapatkan

syahadah.

C. 1.

Metode Qiroati Latar Belakang Timbulnya Qiroati Sebelum adanya Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKQ), pendidikan Al-Quran di Indonesia masih menggunakan sistem pengajian anak-anak di musholah, langgar, masjid bahkan dirumah -rumah. Metode pengajarannya dengan menggunakan turutan, yakni Al-Quran juz 30 yang dilengkapi dengan petunjuk membaca Al-Quran. Metode ini disusun oleh ulma dari baghdad, sehingga metode ini dikenal dengan nama Qoidah Baghdadiyah. Qoidah ini telah terbukti menciptakan ulama -ulama besar yang ahli dalam bidang Al-Quran. Namun pada saat ini mayoritas umat Islam, khususnya anak-anak mulai enggan mengaji dengan menggunakan turutan, karena dianggap kurang praktis dan efisien, terutama bagi mereka yang ingin bisa membaca Al-Quran lebih cepat dan praktis. Melihat gejala seperti ini, banyak para ulama mencoba mencarikan atau menyajikan alternatif yang lebih menarik dan memudahkan anak-anak dalam belajar membaca Al-Quran. Tetapi alternatif yang ditawarkan selalu mengalami kegagalan, karena tidak dada bukti keberhasilanya. Di samping itu juga ada suatu pandangan atau kesepakatan yang tidak tertulis, bahkan kalau mengajar mengaji harus mamakai turutan. Sehingga metode baru yang ditawarkan hanya dipandang sebelah mata. Pada pertengahan tahun 1986 umat Islam dibuat lega dengan adanya metode atau model pengajian anakanak yang baru, yakni pendidikan Al-Quran anak-anak untuk usia 4 6 tahun yang dirinyis oleh Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy Semarang. Karena pendidikannya seperti Taman Kanak-kanak umum, maka lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Taman Kanak-kanak Al-Quran (TKQ). Keberadaan TKQ ini tidak terlepas dari usaha Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy dalam mencari metode belajar membaca Al-Quran yang telah dirintis dan diuji coba sejak tahun 1963. Pada tahun 1963 Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy mulai mengajar ngaji kepada anak-anaknya dan anak-anqak tetangganya dengan menggunakan turutan. Akan tetapi ternyata hasilnya kurang memuaskan, dimana nak-anak hanya mengahfal saja. Jika petang Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy mengajar ngaji, sedangkan pada siang harinya berdagang . pada saat berkesempatan mengambil barang diluar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Pekalongan, yogyakarta dan kota-kota lainnya, beliau selalu menyempatkan diri untuk meneliti dan mengamati pengajian anak-anak yang ada di mushalla, langgar dan masjid setempat. Teryata hasilnya tidak jauh baerbeda dengan yang dialami beliau. Berdasarkan rasa tidak puas dengan hasil dari mengaji dengan kitab turutan itu, maka beliau mencoba menyusun metode baru yang lebih efektif dan efisien. Akhirnya berkat inayah, hidayah dan rahmah dari Allah SWT, Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy berhasil menyusun metode praktis belajar membaca Al-Quran yang tersusun menjadi sepuluh jilid. Atas saran dua orang ustadz, yakni ustadz Joened dan ustadz Sukri Taufiq metode ini diberi nama Metode Qiroaty, yang berarti inilah bacaan Al-Quranku yang tartil. Metode Qiroati ini langsung mengajarkan bunyi huruf, yaki huruf-huruf yang berkharokat tanpa dieja dan mengenalkan nama-nama huruf secara acak serta langsung memasukkan bacaan yag bertajwid secara praktis bukan teoritis. Melihat keberhasilan Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy dengan metode Qiroatinya pada tahun 1966, H. Jafar, seorang ulama semarang, mengajak beliau sowan kepada K.H. Arnawi Kudus untuk menunjukkan buku qiroatinya. Dan Alhamdulillah, setelah diteliti dan dikoreksi, mendapat restu beliau. Setelah mendapat restu K.H Arwani buku Qiroati mulai dikenalkan kepada masyarakat semarang sekitarnya. Pada bulan Mei 1986, Ust. H. Dahlan Salim Zarkasy diajak oleh salah satu wali murid, sukito, untuk silaturrahim dan menyaksikan Ponpes Al-Quran Anak-anak Mambaul Hisan di Sedayu Gresik, yang berdiri pada tahun 1965 yang diasuh K.H. Muhammad. Beliau merasa prihatin melihat anak-anak kecil di bawah umur 7 tahun, yang terpisah dari orang tuanya, dan semestinya anak-anak tersebut masih membutuhkan kasih sayang mereka. Akan tetapi dalam mengaji bacaan Al-Quran mereka kurang tartil. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau dapat menyimpulkan bahwa anak di bawah usia balita mampu diajarkan membaca Al-Quran.

Sepulang dari gresik, selama sebulan tepatnya di bulan Ramadhan, ust. H. Dahlan Salim Z, menyusun kembali buku Qiroati untuk usia taman kanak-kanak yang diambil dari qiroati 10 jilid. Kemudian dibukalah pendidikan Al-Quran untuk anak-anak usia 4-6 tahun pada tanggal 1 juli 1986. inilah Taman Kanak-Kanak pertama di Indonesia. Kemudian atas saran KH. Hilal Syaban yang juga direstui oleh KH. Turmudzi Taslim, TKQ tersebut diberi nama Roudlotul Mujawwidin. Sebenarnya awal berdirinya merupakan percobaan, mengkinkah anak-anak usia TK(4-6 tahun) mampu membaca Al-Quran. Pada hari pertama pembukaan, jumlah muridnya 26 anak dan tempat pendidikannya meminjam rumah Adr. Ir. Abdullah, Kampung Wotprau 77, Semarang. Setelah berjalan kurag lebih 3 bulan, jumlah muridnya mencapai 70 anak. Proses belajar mengajar berlangsung setiap sore selama 1 jam, mulai jam 16.00 sampai 17.00 WIB. Sekalipun berdirinya TKQ merupakan percobaan dengan rencana 4 tahun hatam 30 juz, diluar dugaan ternyata dalam 2 tahun, tepatnya 1 juli 88 telah menghatamkan yang pertama sebanyak 20 siswa putra/putri. Khatam dengan bacaan tajwid dan ghorib. Lahirnya TKQ Roudlotul Mujawwidin ini mendapat sambutan yang sangat menggembirakan, sehingga di beberapa tempat berdiri pula lembaga-lembaga pendidikan Al-Quran Di Indonesia. Selain itu, di negara jiran mulai berdiri pula TKQ dengan menggunakan metode Qiroati Malaysia, Serawak, Singapura, Brunai Darussalam dan Thailand. 2. Pengertian Metode Qiroati Metode qiroati adalah suatu metode membaca Al-Quran yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan qoidah ilmu tajwid. Metode Qiroati merupakan metode yang yang bisa dikatakan metode membaca al-qur'an yang ada di Indonesia, yang terlepas dari pengaruh arab. Metode ini pertama kali disusun pada tahun 1963, hanya saja pada waktu itu buku metode qiroati belum disusun secra baik. Dan hanya digunakan untuk mengajarkan anaknya dan beberapa anak disekitar rumahnya, sehingga sosialisasi metode qiroati ini sangat kurang. Berasal dari metode qiroati inilah kemudian banyak sekali bermunculan metode membaca al-qur'an seperti metode Iqro', metode An-Nadliyah, metode Tilawaty, metode Al-Barqy dan lain sebagainya. Diawal penyusunan metode qiroati ini terdiri dari 6 jilid, dengan ditambah satu jilid untuk persiapan (par-TK), dan dua buku pelengkap dan sebagai kelanjutan dari pelajaran yang sudh diselesaikan, yaitu juz 27 serta ghorib Musykilat (kata-kata sulit). 3. Tujuan Metode Qiroati Tujuan metode Qiroati adalah: a. Menjaga kesucian dan kemurnian Al-Quran dari segi bacaan yang sesuai dengan qoidah ilmu tajwid. Firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 9:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya Firman dan b. c. d. 4. Allah Bacalah dalam Al surat Quran itu Al-Muzammil dengan ayat 4:

perlahan -lahan.

Menyebar luaskan ilmu membaca Al-Quran Memberi peringatan kembali kepada guru ngaji agar lebih berhati-hati dalam mengajar Al-Quran. Meningkatkan kualitas pendidikan Al-Quran.

Prinsip-prinsip Dasar Qiroati Demi lebih efektif dan efisiennya metode Qiroati, prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh ustadz/dzah dan santri adalah: a. Prinsip yang harus dipegang oleh guru 1. Daktun (tidak boleh menuntun) Dalam hal ini ustadz-ustadzah hanya menerangkan pokok pelajaran, memberikan contoh yang benar, menyuruh

santri membaca sesuai dengan contoh menegur bacaaan yang salah, menunjukkan kesalahan bacaan dan memberitahukan seharusnya bacaan yang benar. 2. Tiwagas (teliti, waspada dan tegas) Teliti artinya dalam memberikan contoh atau menyimak ketika santri membaca jangan sampai ada yang salah walaupun sepele. Waspada artinya dalam memberikan contoh atau menyimak santri benar-benar diperhatikan ada rasa sambung dari hati ke hati. Tegas artinya dalam memberikan penilaian ketika menaikkan halaman atau jilid tidak boleh banyak toleransi, raguragu atau pun segan, penilaian yang diberikan benar-benar obyektif. b. Prinsip yang harus dipegang oleh santri 5. CBSA+M : Cara Belajar Santri Aktif dan Mandiri Santri dituntut keaktifan, kosentrasi dan memiliki tanggung jawab terhadap dirinya tetntang bacaan Al-Qurannya. Sedangkan ustadz-ustadzah sebagai pembimbing, monivator dan evaluator saja. Menurut Zuhairini fenomena adanya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) perlu dipertimbangkan untuk lebih mengembangkan potensi-potensi siswa secara individual. Dalam hal ini guru bertugas memberikan bimbingan dan pengarahan kepada siswa secara aktif. Untuk itu dalam CBSA diharapkan yang aktif tidak hanya siswanya tetapi juga gurunya. 6. LCTB : Lancar Tepat Cepat dan Benar Lancar artinya bacaannya tidak ada yang mengulang-ulang. Cepat artinya bacaannya tidak ada yang putus-putus atau mengeja. Tepat artinya dapat membunyikan sesuai denganbacaan dan dapat membedakan antara bacaan yang satu dengan laiannnya. Benar artinya hukum-hukum bacaan tidak ada yang salah. 5. : a. Metode Penyampaian Qiroati Ada baiknya sebelum kita membahas metode Qiroati, lebih dahulu kita ketahui kunci-kuncinya, antara lain Praktis Artinya

: langsung (tidak dieja) Contoh : baca, A-BA (bukan Alif fatha A, Ba fatha BA), dan dibaca pendek. Jangan di baca panjang Aa Baa, atau Aa Ba atau, A Baa b. Sederhana Artinya : kalimat yang dipakai menerangkan usahakan sederhana asal dapat difahami, cukup memperhatikan bentuk hurufnya saja, jangan menggunakan keterangan yang teoritis/devinitif. Cukup katakan : Perhatikan ini ! Bunyinya = BA Cukup katakan : Perhatikan titiknya !. ini BA, ini TA, dan ini TSA. Dalam mengajarkan pelajaran gandeng, jangan mengatakan : ini huruf didepan, ditengah atau dibelakang, contohnya seperti : / - Cukup katakan : semua sama bunyinya, bentuknya memang macam-macam. Yang penting dalam mengajarkan Qiroaty adalah bagaimana anak biasa membaca dengan benar. Bukan masalah otak-atik tulisan, oleh karena itu disini tidak diterangkan tentang huruf yang bisa di gandeng dan yang tidak. Sederhana saja ! c. Sedikit Demi Sedikit, Tidak Menambah Sebelum Bisa Lancar Mengajar Qiroati tiudak boleh terburu-buru, ajarkan sedikit demi sedikit sal benar, jangan menambah pelajaran baru sebelum bisa dengan lancar, bacaan terputus-putus. Guru yang kelewat tolenransi terhadap anak degan mengabaikan disiplin petunjuk ini akibatnya akan berantakan, sebab pelajaran yang tertumpuk dibelakag menjadai beban bagi anak, ia justru bingung dan kehilangan gairah belajar. Jika disuruh mengulang dari awal jelas tidak mungkin, ia akan malu, dan akhirnya ia akan enggan pergi belajar. Guru yang disiplin dalam menaikkan pelajaran hasilnya akan menyenangkan anak itu senduiri, msemakin tinggi jilidnya semakin senang, karena ia yakin akan kemampuannya, dan insyaallah akan tambah semangat menuntaskan pelajarannya. Disiplin ini memang mengundang reaksi besar baik dari santri maupun dari wali santri, oleh karenanya guru dituntutdapat berpegang teguh, tidak kehilangan cara dengan mengorbankan disiplin tersebut. Disinilah perlu adanya seni mengajar itu. d. Merangsang Murid Untuk Saling Berpacu Setelah kita semua tau mengajarkan Qiroaty tidak boleh menambah pelajaran baru sebelum bisa membaca dengan benar dan cepat, maka cara yang tepat adalah menciptakan suasana kompetisi dan persaingan

sehat dalam kelas, cara ini insya Allah akan memacu semangat dan mencerdaskan anak. KH. Dahlan telah merintis agar terjadi suasana ini dalam sekolah dengan terbaginya buku Qiroaty dalam bentuk berjilid, karena seara otomatis setiap anak naik jilid semangat dan gairah ikut kembali baru pula. Kenaikan kelas sebaikya diadakan beberapa bulan sekali dengan menggunakan standar pencapaian pelajaran Qiroaty, karena dengan demikian anak yang tertinggal dalam kelas akan malu dengan sendirinya. e. Tidak Menuntun Untuk Membaca Seorang guru cukup menerangkan dan membaca berulang-ulang pokok bahasan pada setiap babnya sampai anak mampu membaca sendiri tanpa dituntun latihan di bawahnya. Metode ini bertujuan agar anak faham terhadap pelajrannya, tidak sekedar hafal. Karena itu guru ketika mengetes kemampuan anak boleh dengan cara melompat-lompat, tidak urut mengikuti baris tulisan yang ada. Apabila dengan sangat terpaksa guru harus dengan menuntun, maka dibolehkan dalam batas 1 sampai 2 kata saja. Metode ini pada awal dekade 1980 an, oleh kalangan pendidikan dikenal dengan istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). f. Waspada Terhadap Bacaan Yang Salah Anak lupa terhadap pelajaran yang lalu itu soal biasa dan wajar, anak lupa dan guru diam itulah yang tidak wajar. Terlalu sering anak membaca salah saat ada guru dan gurunya diam saja, maka bacaan salah itu akan dirasa benar oleh murid, dan salah merasa benar itulah bibit dari salah kaprah. Maka agar ini tidak terus menerus terjadi dalam bacaan Al-Quran, maka harus waspada setiap ada anak baca salah tegur langsung, jangan menunggu sampai bacaan berhenti. Kewaspadaan inilah cara satu-satunya memberatas salah kaprah itu. Keberhasilan guru mnegajar tertil dan fashih adalah tergantug pada peka atau tidaknya guru mendengar anak baca salah. g. Driil (bisa karena biasa) Metode drill banyak tersirat pada buku Qiroaty, adapun yang secara khusus menggunakan metode ini adalah pada pelajaran : 1. Ghorib 2. Ilmu tajwid 3. Hafalan-hafalan Biarpun tanpa ada kewajiban menghafal di rumah, insyaallah dengan metode drill ini semua pelajaran hafalan akan hafal dengan sendirinya. Selain metode diatas agar proses belajar mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan, maka harus memakai strategi mengajar. Dalam mengajar al-quran dikenal beberapa macam strategi. h. Strategi mengajar secara umum (global) 1. Individual atau privat Santri bergiliran membaca satu persatu, satu atau dua halaman sesuai dengan kemampuannya 2. Klasikal-individual sebagian waktu digunakan guru untuk menerangkan pokok-pokok pelajaran secara klasikal sekedar 2 atau 3 halaman. Dan sebagian lagi untuk individual 3. Klasikal baca simak strategi ini digunakan untuk mengajarkan membaca dan menyimakk bacaan Al-Quran orang lain. Dasar yang digunakan adalah firman Allah SWT di surat Al-Arof ayat 204 :

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat i. Strategi mengajar secara khusus (detail) Agar kegiatan belajar mengajar Al-qauran dapat berjalan dengan baik sehingga tercapai keberhasilan yang maksimal maka perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut : 1. Guru harus menekan kelas, dengan memberi pandangan menyeluruh terhadap semua santri sampai semuanya tenang, kemudian mengucapkan salam dan membaca doa iftitah. 2. Pelaksanaan pelajaran selama satu jam ditambah 15 menit untuk variasi (doa-doa harian, bacaan sholat, doa ikhtitam atau hafalan-hafalan lainnya). 3. Usahakan setiap anak mendapat kesempatan membaca satu persatu. 4. Wawasan dan kecakapan anak harus senantiasa dikembangkan dengan sarana dan prasarana yang ada.

5. Perhatian guru hendaknya menyeluruh, baik pada anak yang maju membaca maupun yang lainnya. 6. Penghayatan terhadap jiwa dan karakter anak sangat penting agar anak tertarik dan bersemangat untuk memperhatikan pelajaran. Jika ada yang diam terus dan tidak mau membaca maka guru harus tetap membujuknya dengan sedikit pujian. 7. Motivasi berupa himbauan dan pujian sangat penting bagi anak, terutama anak Pra TK. Anak jangan selalu dimarahi, diancam atau ditakut-takuti. Tapi kadang kala perlu dipuji dengan kata-kata manis, didekati serta ucapan dan pendapatnya ditanggapi dengan baik. 8. Guru senantiasa menanti kritik yang sifatnya membangun demi meningkatkan mutu TKQ. Jangan cepat merasa puas. 9. Jaga mutu pendidikan dengan melatih anak semaksimal mungkin. 10. Idealnya untuk masing-masing kelas/jilid terdiri dari : a. Pra Taman Kanak-kanak : 10 anak b. Jilid I : 15 anak c. Jilid II Al-Quran : 20 anak Masing-masing dengan seorang guru. 11. Agar lebih mudah dalam mengajar, sebaiknya disediakan alat-alat peraga dan administrasi belajar mengajar di dalam kelas, antara lain : a. Buku Data Siswa b. Buku Absensi Siswa c. Kartu/Catatan Prestasi Siswa (dipegang siswa) d. Dan lain-lain

D. Baca Tulis Al-Quran 1. Pengertian Baca Tulis Al-Quran Kata Baca dalam Bahasa Indonesia mengandung arti : melihat, memperhatikan serta memahami isi dari yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Dalam literature pendidikan Islam, istilah baca mengandung dua penekanan, yaitu: tilawah dan qiriah. Istilah tilawah mengandung makna mengikuti (membaca) apa adanya baik secara fisik maupu mengikuti jejak dan kebijaksanaan, atau membaca apa adanya sesuai dengan aturan bacaan yang benar dan baik. Sedangkan qiroati mengandung makna menyampaikan, menelaah, membaca, meneliti, mengkaji, mendalami, mengetahui cirri-ciri, atau merenungkan, terhadapbacaan-bacaan yang tidak harus berupa teks tertulis. Makna baca tidak sekedar tilawah tapi juga qiroah. Tulis atau menulis artinya membuat huruf (angka) dengan pena (pensil) atau kapur. Dalam literature pendidikan Islam, pemahaman tentang tulis dapat dikembangkan ke dalam dua aspek, yaitu: tulis dalam arti khath dan kitabah. Khath mengandung makna menulis dengn benar dan baik. Sedangkan Kitabah mengandung makna menulismewasiatkan atau mewajibkan. Sedangkan Al-Quran artinya adalah firman Allah yang ditirunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril untuk dibaca, difahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia (kitab suci umat islam). Dalam bukunya M. Hasbi Ash Shiddieqy mendefinisikan bahwa Al-Quran menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Al-Quran adalah mashdar yang diartikan dengan arti isim maful, yaitu maqru : yang dibaca. Didalam Al-Quran sendiri ada pemakaian kata Quraan dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17, 18 surat (75) Al Qiyaamah:

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah b acaannya itu. Menurut istilah ahli agama ialah nama bagi kalamulaah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw

yang ditulis dalam mushhaf. Definisi Al-Quran menurut Khodijatushsholihah dalam bukunya bahwa Al -Quran adalah kalamullah yang mujiz diturunkan kepada penitup para Nabi dan para Rasul, dengan perantaraan yang dapat dipercaya yaitu Jibril As. Yang ditulis didalam mushhaf dan dinukilkan kepada kita dengan mutawatir, yang diperintah membacanya yang diawali dengan surah Al Fatihah dan diakhiri dengan surah an nas. Dan dihukumi ibadah bagi yang membacanya. Pengertian Al-Quran disini mempunyai beberapa perselisihan bagi para ulama mengemukakan pendapatnya, diantaranya adalah: a. Pendapat Asy SyafiI yaitu lafadz Al-Quran yang ditarifkan dengan Al, tidak berhamzah (tidak berbunyi An) dan bukan diambil dari suatu kalimat lain tidak dari Qorotu sama dengan aku telah baca. Kalimat itu nama resmi bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. b. Pendapat yang dinukilkan dari Al Asyary dan beberapa golongan lain, yaitu : lafadz Quran diambil dari lafadz qarana yang berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kemudian lafadz Quran itu dijadikan kalam Allah yang diturunkan kepada nabinya. Dinamai wahyu Tuhan dengan Al Qur an, mengingat bahwa surah-srahnya, ayat-ayat dan huruf-hurufnya, beriring-iring dan yang satu digabung dengan yang lain c. Pendapat Al Farra, yaitu lafadz Quran diambil dari qara -in (karinah-karinah), mengingat bahwa ayatayat quran itu satu sama yang lainnnya benar membenarkan. Dan kemudian dijadikan nama resmi bagi kalam yang diturunkan itu. Dan kata Qur-an itu dibaca dengan bunyi Qur-an bukan Quran, ketiga-tiga pendapat ini tidak memberi hamzah. d. Pendapat Az Zajaj yaitu Quran itu seimbang dengan Fulan. Yakni harus dibaca dengan bunyi Quran (dengan berhamzah). Diambil dari kalimat qari yang berarti mengumpulkan. Dan dinamai kalamullah dengan quran, karena dia mengumpulkan beberapa surat, atau mengumpulkan saripati kitab -kitab yang telah lalu. e. Pendapat Al Lihyany dan segolongan ulama bahwa lafadz Quran itu bermana yang dibaca masdar (yang dima;nakan dengan isim maful. Karena Al-Quran itu di baca dinamailah dia Al-Quran), pendapat ini yang terkenal. Dari beberapa definisi Al-Quran diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian al -quan itu adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril dengan berangsur-angsur, dan bagi siapa saja (umat islam) yang membacanya maka termasuk ibbadah dan mendapatkan pahala. Dahulu al-quran itu masih berupa lembaran-lembaran namun sekarang sudah dijilid menjadi satu. Walaupun Al-Quran itu sudah berusia sekian ribu tahun, sudah diterjemahkan dengan berbagai bahasa di dunia ini namun keasliannya, huruf dan bahasanya masih tetap utuh sebagaimana keadaan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dari dulu sampai sekarang tak berubah sebutir dzarrahpun, sebagai mana Allah berfirman dalam surat Al Hijr ayat 9 :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. ayat tersebut adalah kalam Allah yang menjamin kemurnian Al-Quran sampai kapanpun dan tak ada yang merubahnya dan Allah yang akan menjaga kemurniannnya. Pentingnya Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Anak Pendidikan dalam islam itu sangat penting sekali, diantara pendidikan yang sangat penting adalah pendidikan al-quran. Pendidikan al-quran ini paling mulia yang dapat diberikan kepada orang tua kepada anaknya, karena al-quran merupakan lambang agama islam yang paling asasi dan hakiki. Dengan memberikan pendidikan al-quran kepada anak, orang tua akan mendapatkan keberkahan dari al-quran. Begitu juga dengan sebaliknya jika orang tua belum memberikan pendidikan al-quran kepada anak, maka orang tua itu berdosa karena belum memenuhi kewajibannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka Rosulullah menegaskan dalam: : "Hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua itu ada tiga: memilihkan nama yang baik ketika baru lahir, mengajarkan kitab al-qur'an ketika muolai bias berpikir, dan menikahkan ketika dewasa." (HR. Ahmad) bisa 2. Al-Ghazali menyatakan, "Anak adalah amanah ditangan ibu bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada sesuatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar

dengan sifat-sifat baik dan akan bahagia dunia dan akhirat. Sebaliknya jika ia dibiasakan dengan tridisi-tradisi buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan, niscaya ia akan hancur dan binasa." Al-Qur'an mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap jiwa manusia secara umum yang akan menggerakkannya. Semakin jernih suatu jiwa, maka semakin berpengaruh pula pengaruh Al-Qur'an terhadapnya. Anak adalah manusia yang paling jernih, fitrahnya masih bersih, dan setanpun terhalang untuk menggodanya. Anak tak ubahnya sebagai kertas putih bersih tanpa noda, karena setiap bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah (membawa tauhid dan iman). Jadi setiap perbuatan yang dilakukan itu tergantung pada didikan orang tuanya dimasa kecil, dan orang tua inilah yang akan menjadikan anak tersebut Muslim, Nasrani, Yahudi atau Majusi. Masa anak-anak adalah masa pembentukan watak dan dapat menjadin kebiasan sampai dewasa, jika dimasa kecilnya ditanamkan tentang keagamaan dan budi pekerti yang luhur maka kelak sewaktu ia dewasa akan terbentuk insan yang akan berpengaruh pada jiwanya hal-hal yang yang baik, seperti rajin beribadah, patuh terhadap orang tua dan lain-lain. Bila yang tertanam sebaliknya maka anak tersenut akan malas untuk beribadah, angkuh, dan sebagainya. Para ulama mengatakan bahwa ada penyakit berbahaya yang biasa hinggap pada anak kecil yang disebut dengan penyakit "junuyus shaba" kegilaan masa kecil, yaitu suatu kecenderung buruk, noda hitam kedurhakaan dan bibit kesesatan pada anak. Penyakit ini biasanya menjangkit pada anak-anak yang tidak ditanamkan pendidikan baik sejak dini. Untuk menghindari penyakit tersebut sekalihus melestarikan fitrah dan keianannya, maka satu-satunya dasar islam yang anggun adalah melalui usaha menanamkan pada anak pendidikan yang berorientasi pada kecintaan terhadap al-qur'an sejak dini. Sebagaimana Ibnu Kholdun, Ibnu sina dan al-Ghazali, beliau bertiga menekankan pentingnya anak-anak dididik AlQur'an. Dengan menanamkan kecintaan anak terhadap AL-Qur'an sejak dini, maka kecintaan itu akan bersemi pada masa dewasanya kelak, mengalahkan kecintaan anak terhadap hal yang lain, karena masa anak-anak itulah masa pembentukan watak yang utama. Pendidikan Al-Qur'an pada anak ini memang sudah diterapkan sejak dini, yaitu sebelum usi 4-6 tahun, anak sebenarnya sudah didik al-qur'an, hanya saja tehniknya informal, misalnya memperdengarkan bacaan-bacaan ayart al-qur'an, melatih mengeja huruf hijaiyah, serta kegiatan pra membaca lainnya kepada anak. Menurut pakar psikologi pendidikan, menjelang usia dua tahun, anak mulai mempunyai kemampuan untuk memberi atau mengenal nama benda-benda. Sementara sejak genap berusia tiga tahun anak telah memiliki kesiapan untuk membaca. Pada usia dini tersebut, anak memang suka menirukan apa yang telah diajarkan/diucapkan orang tuanya. Bila orang tua mengajarkan anak dengan mengejakan huruf-huruf hijaiyah secara berulang-ulang maka akan terekam pada anak tersebut. Karena pada usia inilah ingatan anak sangat tajam sehingga bisa diingat pada waktu dewasa. Begitu juga jika diajarkan yang sebaliknya dengan kata-kata yang kotor. Dunia anak adalah dunia bermain, ada bahaya yang sangat besar jika jika orang tua atau pendidik al-qur'an mengabaikan hal ini. Hendaknya anak diberikan kesempatan untuk bermain, karena jika anak itu disuruh untuk belajar terus maka anak tersebut bisa stress, jemu dan merasa terkekang sehingga anak itu akan mencari cara untuk bisa bebas. Orang tua itu seharusnya tidak membiarkan bermain terus menerus juga tidak menyuruhnya belajar terus dan tidak disuruh untuk bekerja yang diluar kemampuannnya sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk bermain, akan tetapi anak itu diberikan motivasi dan dukungan serta pengarahan mana yang baik dan benar serta dengan kasih sayang . Selain menyeru mendidik anak membaca Al-Qur'an, Rosulullah saw juga menekankan penting mendidik anak menulis huruf-huruf al-qur'an. Anak diharapkan memiliki kemampuan menulis Al-Qur'an dengan baik dan benar dengan cara imla' dikte atau setidak-tidaknya dengan cara menyalin dari mushaf. Sebagai mana yang kita ketahui dalam wahyu yang turun pertama dan kedua itu menggambarkan pengtingnya qalam (alat tulis dan cetak) berikut kegiatan tulis menulis. Dalam hal tersebut sebahaimana firman Allah yang tertera dalam wahyu yang pertama turun yaitu surah al-alaq ayat 4

Nun, Firman

demi Allah

kalam dalam

dan surah

apa al-Qalam

yang pada

mereka ayat

tulis pertama

demi

kalam dan apa yang mereka tulis Dari kedua ayat tersebut sudah jelas bahwa selain kewajiban belajar membaca al-qur'an juga wajib untuk

menulis. Sesungguhnya dalam kegiatan tulis menulis al-qur'an terdapat syi'ar agama islam. Menggalakkan tradisi ini pada anak, berarti ikut serta menggemakan syiar agama Islam. Atas dasar ini, orang tua dan para pendidik tidak boleh mengabaikan aspek pengajaran menulis huruf-huruf alqur'an pada anak-anak. Jika orang tua wajib untuk mendidik membaca al-qur'an, maka orang tua juga wajib untuk memberikan didikan menulis kepada anaknya. E. Implementasi Metode Qiroaty Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur'an Dalam implementasi metode qiroati untuk meningkatan kemampuan baca tulis Al-Quran disini metode qiroati terdapat pokok-pokok pada setiap jilidnya, selain itu juga diterangkan bagaimana cara penerapannya dalam mengajar pada setiap jilidnya. Hal tersebut akan diterangkan lebih rinci sebagai berikut: 1) Pokok-pokok Pelajaran Qiroati JILID I Hal. Pokok Pelajaran 1-28 Pengenalan baca - dengan dua atau tiga kelompok huruf, cara bacanya cepat dan tepat, tidak boleh panjang, lambat atau putus. 31 Ini ini juga 32 Ini ini juga 33 Ini ini juga , ini 34 Ini ini juga , Ini 35 Ini ini juga , ini Ini ini juga , ini ini juga 36 Ini ini juga 37 Ini ini juga 38 Ini ini ini ini juga 49 Ini ini ini ini ini juga 40 Ini Ini juga JILID II Hal. Pokok Pelajaran F. Coret diatas namanya Fathah bersuara A, coret dibawah namanya kasroh bersuara I bukan e. 6 Harokat seperti koma ( )namanya dhummah bersuara u bukan o 11 Coret dua diatas( ) namanya fathahtain atau fathah tanwin bersuara an 13 Coret dua dibawah ( ) namanya kasrohtain atau kasroh tanwin bersuara in bukan en 16 Harokat seperti koma berekor ( ) namanya dlummahtain atau dlummah tanwin bersu ara un bukan on 20 Ini ini ini juga 23 Setiap fathah diikuti alif dibaca panjang 33 Setiap fathah berdiri dibaca panjang seperti fathah diikuti alif. 36 Setiap kasroh diikuti ya sukun dibaca panjang seperti fathah diikuti alif. 40 Setiap dlummah diikuti wawu sukun dibaca panjang seperti fathah diikuti alif 42 namanya : huruf fawaatichus suwar. JILID III Hal. Pokok Pelajaran 1 Setiap dlummah diikuti wawu sukun ada alif atau tidak ada alifnya dibaca sama panjangnya. 2 Fathah berdiri, kasroh berdiri dan dlummah terbalik, dibaca sama panjangnya. 4 Setiap lam sukun suaya ditekan membacanya. 6 Setiap alif lam sukun dibaca seperti lam sukun. 10 semua huruf bersukun supaya ditekan membacanya. 18 Dihalaman ini fawaatichus suwar dibaca sesuai huruf aslinya (belum bertajwid) 19 Dlummah diikuti wawu sukun dibaca panjang bersuarau uu

25 26 28 31 35 37 JILID Hal. 1 3

fathah diikuti wawu sukun dibaca pendek bersuara Baca (mim sukun) Am Im Um, ( sin sukun) As Is Setiap membaca Alif Lam Sukun Alif Fathah Fathah diikuti wawu sukun dibaca pendek, bersuara Fathahdiikuti ya sukun juga dibaca pendek bersuara Ra sukun didahului fathah atau dlummah dibaca Ra sukun didahului kasrah dibaca Setiap membaca hamzah sukun Ain sukun bawah garis dibaca seperti

5 7 12 13 19 23 25 30 lama. 32 Setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan hruf mum, suaranya berubah menjadi mim sukun, dan dibaca dengung yang lama disertai bibir terkatub. 36 Setiap nun sukun / tanwin bertemu lam suaranya ditukar dengan lam sukun dan tidak boleh dibaca dengung. 39 Setiap nun sukun atau tanwin bertemu dengan Ra, suaraya ditukar dengan Ra sukun dan tidak boleh dibaca dengung. JILID V Hal. Pokok Pelajaran 1 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf wawu, suaranya masuk ke huruf wawu dan dibaca dengung. 2 Setiap kalimat yang diwaqofkan, huruf terahirnya dibaca mati. 5 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengn huruf Ya, suaranya masuk kehuruf Ya dan dibaca dengung. 6 Setiap fathahtain atau fathah berdiriwaqofnya dibaca fathah dan panjang 1 alif. 8 Lafadz Allah didahului kasroh dibaca tarqiq atau tipis Lafadz Allah didahului fathah atau dlummah dibaca tafhim atau tebal 11 Sebelum huruf terahir dibaca panjang waqofnya dibaca panjang1, 2 atau 3 alif Sebelumhuruf terahir di baca pendek waqofnya dibaca pendek. 12 Nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf Ba, suaranya berubah menjadi mim sukun dan dibaca dengung disertai bibir terkatub. 14 Mim sukun tidak boleh dibaca dengung kecuali mim sukun bertemu dengan huruf Ba, harus dibaca dengung yang lama. 16 Setiap Ba sukun, Dal sukun harus dibaca qolqolah atau memantul. 18 Setiap jam sukunharus dibaca qolqolqh atau memantul 23 Ta Marbuthoh berkharaokat apa saja, jika diwaqofkan suaranya berubah menjadi Ha sukun. 24 Setiap Qof sukun harus di baca qolqolah atau memantul. 28 Setiap Tho sukun harus dibaca qolqolah atau memantul 34 Setiap ada nun kecil diatas harus dibaca jelas tidak boleh dibaca dengung. 38 Setiap ada layar diatas bertyemu tasydid, supaya dibaca 3 alif / 6 harokat. JILID VI

AU bukan AO Us, dan seterusnya. supaya berhati -hati. AU bukan AO AI bukan AE tebal (mecucu) tipis (mencibir). supaya berhati-hati. halaman 25 IV Pokok Pelajaran Setiap nun sukun harus dibaca dengung Cara membaca fawaatichus suwar ada empat : 1. Dibaca sesuai huruf aslinya 3. Dibaca menurut tajwidnya 2. Dibaca menurut hrokatnya 4. Dibaca tanpa pputus suaranya Setiap tanwin harus dibaca dengung seperti dengungnya nun sukun. Setiap ada tanda layar diatas, supaya dibaca panjang 21/2 alif atau lima harokat. Setiap nun bertasydid harus dibaca dengung yang lama Setiap mim bertasydid harus dibaca dengung yang lama Setiap huruf bertasydid selain mim dan nun membacanya harus ditekan Setiap Alif Lam di ikuti huruf bertasydid, maka alif lamnya tidak dibaca. Dlummah diikuti wawu tak bersukun dibaca pendek Semua mim sukun dibaca jelas, kecuali mim sukun bertemu dengan mim harus dibaca dengung yang

Hal. Pokok Pelajaran 1 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah tidak boleh dibaca dengung. 5 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah, Cha tidak boleh dibaca dengung 8 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah, Cha, Kho tidak boleh dibaca dengung 12 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah, Cha, Kho, Ain tidak boleh dibaca dengung 15 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah, Cha, Kho, Ain, Ghoin tidak boleh dibaca dengung 19 Nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf Hamzah, Cha, Kho, Ain, Ghoin Ha tidak boleh dibaca dengung 22 Setiap ada ILLA (), supaya dibaca washol (terus) Semus tulisan ANA, Na-nya dibaca pendek. 2) Cara Mengajar Qiroati QIROATI JILID I A. Materi Pelajaran : 1. Bacaan huruf-huruf berkharakat fatkhah yang di baca secara langsung tanpa mengeja. 2. Nama-nama huruf hijayyah; dari Alif s.d Ya 3. Bacaan huruf berangkai dalam satu suku kata secara lancar B. Cara mengajar : 1. Cara mengajar halaman 1 s.d 30 adalah sama. Dibaca langsung , tanpa mengeja. Membacanya dengan cepat, tidak putus-putus. Agar siswa cepat dan lancar dalam membaca, guru bisa membantu dengan irama ketukan. Sekiranya para siswa belum lancer atau belum faham, dapat dilakukan upaya sebagai berikut : Langkah pertama : Memberi contoh bacaan , menunjuk bacaan huruf satu persatu mulai dari yang mudah dahulu, kemudian selanjutnya secara acak, begitu pula untuk bacaan huruf-huruf yang lain s.d , jika perlu. Langkah kedua : Jika siswa sudah memahami masing-masing huruf, maka siswa di suruh mencoba membaca rangkaian dua huruf dan agar lancar membaca bantulah dengan ketukan. Langkah ke tiga : Jika siswa sudah lancer membaca dua rangkaian , maka selanjutnya siswa diperkenankan mencoba membaca rangkaian tiga huruf. Sekali lagi bantulah dengan ketukan. 2. Pelajaran didalam kotak, baris paling bawah pada setiap halaman adalah termasuk yang harus dibaca oleh siswa, yakni pelajaran nama-nama huruf hijayyah. Cara mengajarnya ialah dengan membaca secara berkelompok. Setelah memahami baru kemudian secara acak ditunjuk satu persatu huruf tersebut. 3. Cara mengajar dari halaman 31 s.d 40 adalah sama, yakni membaca huruf-huruf yang disambung. Siswa diminta agar memperhatikan jumlah titik dan letak titiknya, serta memperhatikanbentuk tulisan hurufnya 4. Pada halam 44 siswa harus lancer membaca dalam rangkaian kalimat yang terdiri dari tiga suku kata. QIROATI JILID 2 A. Materi Pelajaran 1. Membaca huruf-hurf hijayyah berkharakat : kasroh, dhommah, tanwin (fatkhah, kasroh, dhommah). 2. Pengenalan nama-nama kharokt dan engka arab. 3. Bacaan mad (panjang), yakni mad thabi'I (panjang satu alif atau dua harokat). B. Cara mengajar 1. Cara mengajar Qiroati jilid 2 hampir sama dengan jilid satu, untuk bacaan-bacaa huruf berkharokat kasroh, dhommah dan tanwin, bias dibantu dengan ketukan irama yang cepat. 2. Pada bacaan-bacaan mad (panjang), sebaikya boleh dibaca melebihi panjangnya 1 alif (tingkat bacaan tahqiq, biasa digunnakan dalam belajar mengajar) : hal ini untuk melatih dan membiasakan pada bacaan panjang. Pada bacaan ini guru harus lebih waspada dalam menyimak bacaan para siswanya. QIROATI JILID 3 A. Materi Pelajaran : 1. Bacaan mad thabii yang belium diajarkan di jilid 2.

2. Bacaan huruf-huruf yang dimatikan (bertanda sukun), antara lain : dan bacaan Al Qomariyah, perbedaan dengan dan 3. Dengan mempelajari bacaan huruf-huruf sukun diatas, berarti juga sekaligus menunjukkan makhorijil hurufnya. Selain huruf-huruf sukun yang tersebut di atas, pada beberapa halaman latihan oleh penyusunnya juga diselipkan beberapa huruf sukun yang lain yang hamper sama (berdekatan) dengan huruf-huruf sukun di atas, seperti : dan . disini guru dituntut ketelitian dan kewaspadaannya. 4. Bacaan hafu Lin ) dan ( B. Cara Mengajar 1. Dalam mengajarkan bacaan huruf-huruf bertanda sukun, kita harus menjelaskan kepada siswa bahwa huruf-huruf bertanda sukun harus dibaca jelas dan ditekan membacanya. Dalam membacanya tidak boleh ada tawallud (suara tambahan. Berrbunyi "a" seperti ALLE, ASSE dsb) . atau melamakan bunyi huruf sukunnya. Seperti ALLL, ASSS, dst. Untuk menghindari buyi tawallud, bantulah dengan ketukan ketika membacanya. 2. Untuk mengajarkan perbedaan suara dengan guru agar memberikan contoh secara benar berulang-ulang. Serta melatih da mengingatkan para siswa secara intensif dengan tepat. Demikian pula untuk makhorijul huruf. 3. Dalam menerangkan dan memberi contoh bacaan harfu Lin guru harus hati-hati, misalnya : dibaca LAULA (dengan bibir mecucu) bukan LAOLA dan dibaca dengan cepat, bukan panjang. dibaca LAILA Bukan LAELA dan dibaca dengan cepat. QIROATI JILID 4 A. Materi Pelajaran : 1. Bacaan-bacaan 2. Makharijul huruf a. Ikhfa' haqiqi b. Mad wajib dan mad Jaiz (~) c. Ghunnah ( dan dinaca dengung) d. Adzhar Syafawi dan Idghom Mitsli e. Idghom Bighunnah (untuk dan ) f. Idghom Bilaghunnah ( dan ) yang dbaca pendek. Huruf-huruf bertasydid selain dan , serta bacaan Asy-Syamsyyah. 3. Cara membaca huruf-huruf "awalihus Suwar" (huruf-huruf diawal surat Al-Qur'an). Seperti . dan lain-lain. B. Cara Mengajar : dibaca dengung 1. Dalam mengajarkan bacaan ikhfa' haqiqi, diterangkan bahwa selain (dengungnya ikhfa'). Guru agar berusaha memberikan contoh dengungnya bacaan ikhfa' dengan benar dan memperhatikan kepada para siswa. Di sini guru waspada melihat bibir dan lisan para siswanya terutama pada huruf : dan . 2. Dalam mengajarkan bacaan fawalihus suwar. Guru harus memberi contoh yang benar dan selalu mengingatkan mana yang harus dibaca dengung dan mana yang tidak boleh didengungkan. 3. Dalam mengajarkan Mad Wajib dan Mad Jaiz, diterangkan bahwa setiap ada tanda ~ Dibaca lebih panjang dari biasanya. 4. Untuk mengajarkan bacaan ghunnah (dengung), kita terangkan bahwa setiap dan dibaca dengung yang lama. 5. Sedangkan untuk semua huruf bertasydid selain dan harus dibaca cepat dan ditekan membacanya; bias dibantu dengan satu ketukan. Demikian keterangan : setiap ada (tanda tasdid) tidak dibaca. 6. Pada pokok pelajaran dietrangkan bahwa tidak ada tandanya jangan dibaca; dibaca pendek. 7. Dalam mengajarkan bacaan Idzhar Syafawi dan Idzhom Mitsli, kita terangkan bahwa : setiap dibaca jelas (tidak berdengung), kecuali jika bertemu dengan harus dibaca dengung. bertemu dengan dibaca 8. Untuk mengajarkan bacaan idhom bighunnah ()diterangkan setiap bibir "mingkem" (bibir mengatup) dengan dengung yang lama. 9. Dan untuk menganajarkan bacaan Idgom Bilaghunnah ( ) perlu diterangkan bahwa bertemu dan dibaca dan ( bertasydid) dengan cepat dan ditekan, jangan sampai dibaca terlalu lama.

QIROATI JILID 5 A. Materi Pelajaran : 1. Bacaan-bacaan : Idghom Bighunnah (untuk dan ) Iqlab Ikhfa' Syafawi dan Idzhar Syafawi Lafadz Allah Qolqolah (beserta makharijul hurufnya) Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi Idzhar Halqi (dengan tanda ) 2. Cara menghentikan bacaan (mewaqafkan bacaan), yakni : Waqaf Mad Aridh lissukun (waqaf panjang). Waqaf Pendek Waqaf Mad Thabi'I dan Waqaf Mad Iwadh Waqaf (ta' marbuthoh) 3. Makharijul huruf-huruf : dan 4. Mulai halaman 34, para siswa dapat dilatih membaca surat-surat Al-Qur'an dan latihan membaca lancar Al-Qur'an Juz 27 terbitan Yayasan Pendidikan Al-Qur'an Roudlotul Mujawwidin Semarang. B. Cara Mengajar : 1. Mengajarkan bacaan Idzhom Bighunnah bertemu dibaca bibir "mecucu" ("monyong" bahasa Sunda) disertai dengaung yang lama. bertemu dibaca bibir nyengingis, degang yang lama. 2. Mengajarkan bacaan Iqlab bertemu dibaca bibir terkatup/bibir "mingkem", disertai dengan dengan yang lama. 3. bacaan Ikhfa' Syafawi dan Idzhar Syafawi : Setiap dibaca jelas (tanpa dengung), kecuali jika bertemu dan , dibaca dengan lama. 4. Untuk mengajarkan lafadz Allah perlu contoh dan latihan berulang-ulang secara seksama. 5. Demikian juga dalam mengajarkan bacaan Qolqolah, guru perlu memberi contoh bacaan yang benar secara berulang-ulang, dan berusaha agar siswanya dapat membaca qolqolah secara baik dan benar. 6. Dalam mengajarkan bacaan Mad Lazim Mutsaqol Kalimi, guru memberi contoh beberapa kali dengan menerangkan bahwa "jika ada tanda ~ bertemu dengan tsydid dibaca sangat pajang". 7. Untuk bacaan Idzhar Halqi (adanya tanda ) kita jelaskan "setiap ada tanda " suara nun sukun / Tanwin dibaca dengan jelas (tanpa dengung). 8. Cara mengajar menghentikan bacaan (Waqaf) : Waqaf Mad Aridh Lissukun : jika huruf terakhir didahului atau , maka waqofnya dibaca panjang, bias juga jika sebelum huruf terakhir dibaca panjang, maka waqafnya dibaca panjang. Selain itu, maka waqafnya dibaca pendek. Waqaf Mad 'Iwadh : fatkhak panjang dan fatkhah tanwin waqofnya dibaca panjang 1 Alif.. (ta' marbuthaoh) waqofnya dibaca QIROATI JILID 6 A. Materi Pelajaran : 1. Bacaan Idzhar Halqi 2. Cara membacanya : yang sebaiknya dibaca washal / dibaca terus ha panjang dibaca pendek. 3. Mulai jilid 6 ini para siswa dapat dilatih membaca Al-Qur'an dari juz 1 B. Cara Mengajar : 1. Mengajarkan bacaan idzhar halqi secara bertahab satu persatu kita sentuhkan dan kita terangkan bahwa "setiap nun sukun / tanwin jika beretemu huruf-huruf () dan "harus dibaca jelas tanpa dengung. 2. Dalam mengajarkan bacaan dan guru perlu memberi contoh beberapa kali. 3. Ketika latihan membaca mushhaf Al-Qur'an, para siswa mulai dilatih mengatur nafas dalam membaca AlQur'an, tanpa adanya tanaffus (mengambil nafas ditengah-tengah membaca); dengan cara mewaqafkan bacaan jika nafasnya tidak kuat, dan mengulang bacaan kembali ('ibtida').