Anda di halaman 1dari 19

Okta Sadinri Dessy Susanti Dwi Rahmawati Yolanda Kholila Okdatami

Proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dari penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan laporan keuangan berupa Neraca dan Laporan Laba Rugi pada setiap tahun pajak berakhir sesuai dengan undang-undang No. 16 tahun 2000

Pencatatan yaitu pengumpulan data secara teratur tentang peredaran bruto dan atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenakan pajak yang bersifat final. Pencatatan dapat dilakukan oleh WP Orang Pribadi yang diperkenankan norma perhitungan penghasilan neto, yaitu WP Orang Pribadi yang peredaran brutonya di bawah 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) diperkenankan menggunakan norma perhitungan penghasilan neto berdasarkan pencatatan.

Diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa indonesia Pencatatan dalam 1 tahun harus diselenggarakan secara kronologis Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara progam aplikasi online wajib pajak, harus disimpan selama 10 tahun di tempat tinggal wajib pajak atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/ atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/ atau yang dikenakan pajak yang bersifat final.

Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan yang dikerjakan secara teratur tentang catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang Bagi WP yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/ atau tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha dan/ atau tempat usaha yang bersangkutan Selain menyelenggarakan pencatatan di atas, Wajib Pajak Orang Pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan harus mencatat peredaran atau penerimaan bruto, dan penghasilan yang bukan objek pajak dan/ atau penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final, dengan bentuk dan tata cara sebagaimana yang ditetapkan dalam keputusan direktur jenderal pajak Wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas harus mencatat penghasilan bruto dan penghasilan yang bukan objek pajak dan/ atau penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final, dengan bentuk dan tata cara sebagaimana yang ditetapkan dalam keputusan direktur jenderal pajak.

Tujuan pembukuan adalah untuk mempermudah: Pengisian SPT Perhitungan penghasilan kena pajak Penghitunga PPN dan PPnBM Mengetahui posisi keuangan dan hasil kegiatan usaha/ pekerjaan bebas

Tujuan pencatatan adalah untuk mempermudah: Pengisian SPT Penghitungan penghasilan kena pajak Penghitungan PPN dan PPnBM

Buku-buku, catatan-catatan, dokumendokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara progam aplikasi online wajib pajak, harus disimpan selama 10 tahun di indonesia dengan ketentuan : WP orang pribadi, di tempat kegiatan atau tempat tinggal WP badan, di tempat kedudukan

Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. Perubahan tahun buku dan perubahan metode pembukuan harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak.

Wajib pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang selain rupiah adalah: Wajib pajak dalam rangka penanaman modal asing Wajib pajak dalam rangka kontrak karya Wajib pajak dalam rangka kontrak bagi hasil Bentuk usaha tetap Wajib pajak yang berafiliasi dengan perusahaan induk di luar negeri

Pembukuan yang diselenggarakan oleh wajib pajak bersifat rahasia. Pada saat dilakukan pemeriksaan oleh pihak pemeriksa pajak, maka kerahasiaan/ kewajiban untuk merahasiakan pembukuan itu ditiadakan/ gugur

Pasal 39 undang-undang KUP, yaitu barang siapa dengan sengaja: Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak memperhatikan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lainnya, atau Tidak menyimpan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara progam aplikasi online di indonesia. Sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar.

Pencatatan wajib dilakukan oleh: Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan penghasilan neto berdasarkan pasal 14 ayat (2) undangundang pajak penghasilan Wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas

Koreksi fiskal yaitu Penyesuaianpenyesuaian yang harus dilakukan oleh Wajib Pajak yang disebabkan adanya perbedaan pengakuan penghasilan dan atau biaya antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan menurut pajak.

Koreksi Fiskal Positif Koreksi fiskal positif terjadi jika ada penyesuaian pos-pos neraca/ rugi laba yang menyebabkan jumlah laba bersih sebelum pajak pada laporan keuangan fiskal menjadi lebih besar dibandingkan dengan laporan keuangan komersial

Koreksi Fiskal Negatif. Tentu saja koreksi fiskal negatif berkebalikan dengan koreksi fiskal positif. Koreksi fiskal negatif ini terjadi jika penyesuaian-penyesuaian tersebut menyebabkan laba menurut pajak menjadi lebih kecil apabila dibandingkan dengan laba menurut laporan komersial