Anda di halaman 1dari 14

BAB I STATUS PASIEN

1.1 Identitas Nama Jenis Kelamin Usia Agama Status Pekerjaan Alamat MRS Medical Record : Eddy Y. : Laki-laki : 71 tahun : Islam : Menikah : Supir truk : Palawija kelurahan Sako, Palembang : 4 Juli 2013 : 740861

1.2 Anamnesis Keluhan Utama: Timbul benjolan di lipat paha kanan yang dapat masuk ke rongga perut.

Riwayat Perjalanan Penyakit : Sejak 5 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh timbul benjolan di lipat paha kanan. Benjolan berukuran sebesar kelereng. Benjolan dapat masuk kembali ke rongga perut. Benjolan timbul ketika penderita berjalan jauh, mengangkat benda berat, mengejan dan menghilang ketika istirahat atau berbaring. Benjolan tidak terasa nyeri. Pasien tidak mengeluh mual, muntah. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien merasa benjolan di lipat paha kanan semakin membesar, sebesar buah jeruk. Benjolan masih dapat masuk kembali ke rongga perut. Benjolan timbul di saat pasien berjalan, mengedan, dan batuk. Pasien lalu berobat ke RSMH Palembang.

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat operasi prostat sekitar 6 bulan yang lalu di RSK Charitas Palembang Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat sakit yang sama dalam keluarga disangkal

1.3 Pemeriksaan Fisik a. Status generalikus: Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Temperatur Kepala : Kompos mentis : 150/80 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit : 36,8 C : Konjongtiva Pucat: -/Sklera Ikterik -/Pupil : isokor, refleks cahaya +/+ Leher Kelenjar-kelenjar Thorax Abdomen Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior Genitalia b. Status Lokalis Regio abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : Datar : Lemas : Timpani : JVP (5-2) cmHg : tidak ada pembesaran : tidak ada kelainan : lihat status lokalis : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : lihat status lokalis

Auskultasi

: Bising usus (+)

Regio inguinalis dekstra Inspeksi Palpasi : tampak benjolan, warna sama dengan sekitar : teraba massa, seukuran telur ayam, konsistensi kenyal,

mobile, batas atas tidak tegas, nyeri tekan (-), finger tip test teraba massa pada daerah medial ujung jari, vasalva test (+).

Regio Genitalia Eksterna Inspeksi : Genitalia eksterna sudah di sirkumsisi, ukuran skrotum

dekstra sama dengan sinistra Palpasi : Skrotum dekstra teraba 1 testis Skrotum sinistra teraba 1 testis Test transluminasi skrotum sinistra dan dekstra (-)

1.4 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (tanggal 21 mei 2013) Hb Ht Leukosit : 14,5 g/dl (Normal: 12-16 g/dl) : 43 vol % (Normal : 37-43 vol %) : 7.100/mm3 (Normal : 5.000-10.000/mm3)

Trombosit Diff. Count Kimia klinik

: 292.000/mm3 (Normal :200.000-500.000/mm3) : 0/7/0/47/38/8

Gula darah sewaktu : 74 mg/dl

1.5 Diagnosis Banding Hernia Inguinalis Dekstra Reponibel Hidrokel

1.6 Diagnosis Kerja Hernia Inguinalis Dekstra Reponibel

1.7 Tatalaksana - Edukasi - Rencana hernioraphy - Konsul PDL

1.8 Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : Bonam : Bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek

atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi dari hernia tersebut. 2.2 Klasifikasi Hernia diklasifikasikan menurut berbagai dasar: Klasifikasi hernia berdasarkan terjadinya: 1) Hernia kongenital, merupakan hernia bawaan yang terjadi pada saat bayi berada dalam kandungan dan menetap sampai bayi lahir. 2) Hernia akuisita, merupakan hernia dapatan, yang umumnya terjadi akibat faktor peningkatan tekanan intra abdomen. Klasifikasi hernia berdasarkan letaknya: 1) Hernia diafragma 2) Hernia inguinalis 3) Hernia umbilikalis 4) Hernia femoralis Klasifikasi hernia berdasarkan sifatnya: 1) Hernia reponibel, bila isi kantong hernia dapat keluar masuk ke dalam rongga. 2) Hernia irreponibel, bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan lagi ke dalam rongga. 3) Hernia akreta, bila terjadi perlekatan antara isi kantong pada peritoneum kantong hernia dan tidak disertai nyeri ataupun tanda sumbatan usus.

4) Hernia inkarserata, bila isi kantong hernia terjepit oleh cincin hernia, sehingga tidak dapat dikembalikan lagi, akibatnya terjadi gangguan pasase dan tanda-tanda sumbatan usus. 5) Hernia strangulata, bila terjadi gangguan vaskularisasi dari mulai bendungan sampai nekrosis, pada saat isi hernia terjepit oleh cincinnya.

Anatomi pintu canalis inguinalis

2.3

Anatomi Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus

yang merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis m.tranversus abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubicum, kanal ini dibatasi oleh anulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponeurosis MOE. Atapnya ialah aponeurosis MOE, dan dasarnya ialah ligamentum inguinale. Kanal berisi funikulus spermatikus pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita. Hernia inguinalis dapat dibedakan menjadi direk dan indirek. Hernia inguinalis direk, disebut juga hernia inguinalis medialis, isi hernia menonjol langsung melalui trigonum Hesselbach (daerah yang dibatasi oleh, inferior: ligamentum inguinale, lateral: vasa epigastrika inferior, medial: tepi m.rectus abdominis). Dasar trigonum Hesselbach ini dibentuk oleh fasia tranversa yang diperkuat oleh aponeurosis m.tranversus abdominis yang terkadang tidak sempurna, sehingga daerah ini potensial menjadi lemah. Hernia jenis ini jarang mengalami strangulasi, karena cincin hernia longgar. Pada hernia inguinalis indirek atau hernia inguinalis lateralis, isi hernia keluar dari rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus, yang terletak lateral dari vasa epigastrika inferior. Dari anulus inguinalis internus, hernia masuk ke kanalis inguinalis, dan jika berlanjut dapat keluar ke anulus inguinalis

eksternus. Jika cukup panjang, hernia dapat keluar menuju skrotum. Kantong hernia akan berada di dalam m.cermaster, terletak anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain dalam funikulus spermatikus. 2.4 Etiologi Hernia inguinalis dapat terjadi akibat anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia, namun lebih banyak pada pria dibanding wanita. Pada orang sehat, ada tiga mekanisme yang mencegah terjadinya hernia, yaitu: struktur kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur MOI yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi, dan adanya fasia tranversa yang kuat dan menutupi trigonum Hesselbach. Ini disebut shutter mechanism, dan gangguan pada mekanisme ini dapat menimbulkan hernia. Faktor yang dianggap berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peningkatan tekanan intra abdomen, dan kelemahan dinding perut akibat usia. Prosesus vaginalis paten adalah prosesus vaginalis yang tetap terbuka walaupun testis sudah turun. Namun untuk terjadi hernia, faktor ini biasanya disertai faktor lain seperti anulus yang cukup lebar atau tekanan intra abdomen yang tinggi. Karena pada neonatus 90% prosesus vaginalis tetap terbuka, dan pada bayi 1 tahun 30% prosesus vaginalis belum menutup, akan tetapi kejadian hernia pada usia ini hanya beberapa persen. Tekanan intra abdomen yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering mencetuskan hernia. Kelemahan dinding perut karena usia menyebabkan insiden hernia meningkat seiring bertambahnya usia. Faktor lain seperti genetik juga dapat menyebabkan hernia.

2.5

Gambaran Klinis Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha

yang timbul pada waktu mengedan, batuk atau mengangkat beban berat dan menghilang waktu istirahat atau baring. Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi sering menangis, gelisah dan kadang perut kembung harus dipikirkan kemungkinan terjadinya hernia strangulata. Pada inspeksi diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha, skrotum atau labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien diminta untuk mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau keadaan asimetri dapat dilihat. Palpasi dilakukan pada saat kelihatan ada benjolan hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi. Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak, kadang cincin hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis yang melebar. Pada hernia insipien tonjolan hanya dapat dirasakan menyentuh ujung jari di dalam kanalis inguinalis dan tidak menonjol keluar. Pada bayi dan anak-anak kadang tidak terlihat adanya benjolan pada waktu menangis, mengedan dan batuk. Palpasi tali sperma perlu dilakukan dengan membandingkan yang kiri dengan yang kanan. Kadang didapatkan tanda sarung tangan sutera. 2.6 Diagnosis Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel, keluhan satu-satunya adalah munculnya benjolan di daerah inguinalis terutama pada saat batuk, bersin, mengejan atau mengangkat benda berat. Lalu benjolan tersebut dapat menghilang saat penderita berbaring. Keluhan nyeri dapat menyertainya walaupun jarang, disebabkan mekanisme nyeri viseral karena regangan mesenterium saat satu segmen usus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri ini dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilikal. Nyeri yang disertai mual muntah dapat timbul jika telah terjadi inkarserasi dan strangulasi.

Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi atau tidak. Jika tidak dapat direposisi, diagnosis ditegakkan atas dasar ada tidaknya batas atas benjolan, dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus. Hernia inguinalis lateralis muncul sebagai tonjolan berbentuk lonjong, karena keluar melalui dua pintu (anulus inguinalis internus dan eksternus), sedangkan hernia inguinalis medialis berbentuk tonjolan bulat, karena langsung keluar melalui satu celah yaitu trigonum Hesselbach. Hernia inguinalis medialis hampir selalu disebabkan oleh peningkatan tekana intra abdomen dan kelemahan dinding perut bagian trigonum Hesselbach. Oleh karena itu, hernia ini kerap muncul bilateral, khususnya pada pria tua. Selain itu hernia jenis ini jarang berpotensi inkerserasi/ strangulasi karena cincinnya yang besar. Pada hernia yang dapat direposisi, saat jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien dapat diminta mengejan, jika yang menyentuh hernia adalah ujung jari pemeriksa, berarti itu adalah hernia inguinalis lateralis; jika yang menyentuh hernia adalah bagian sisi jari, berarti hernia tersebut adalah medialis. Cara ini disebut finger tip test. 2.7 Penatalaksanaan Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan memakai semacam korset penyangga untuk mempertahankan agar isi hernia yang telah direposisi tidak keluar kembali. Cara ini tidak menyembuhkan, dan harus dipakai seumur hidup. Cara ini juga tidak dapat dilakukan pada hernia inkarserata atau strangulata yang mutlak dilakukan operasi. Operasi merupakan satu-satunya pengobatan rasional hernia inguinalis. Prinsip pembedahan hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplasti. Herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlekatan, kemudian direposisi. Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkuat anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah residif dibandingkan herniotomi. Herniotomi saja sering dilakukan

10

pada anak-anak penderita hernia kongenital, karena faktor penyebabnya hanya prosesus vaginalis paten, sedangkan anulus inguinalis internusnya cukup elastis dan dinding belakang kanalis inguinalis cukup kuat. 2.8 Komplikasi Komplikasi hernia tergantung dari keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantung hernia pada hernia irreponibilis, ini dapat terjadi kalau isis hernia terlalu besar. Disini tidak muncul gejala klinis kecuali berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh karena cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang menyebabkan obstruksi. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan cincin makin bertambah sehingga peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat. Kalau isi hernia berupa usus dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, peritonitis jika terjadihubungan dengan rongga perut. Gambaran klinis hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa. Bila terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi, terjadi keadaan toksik akibat gangren dan gambaran klinis menjadi lebih komplek dan sangat serius. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat di tempat hernia, nyeri akan menetap karena rangsang peritoneal.

11

BAB III ANALISA KASUS

Seorang laki-laki, berusia 71 tahun, bertempat tinggal di dalam kota Palembang, beragama Islam, menjalani rawat inap di Departemen Bedah Rumah Sakit Dr. Moh. Hoesin Palembang sejak 4 Juli 2013. Penderita datang berobat ke RSMH dengan keluhan timbul benjolan pada lipat paha kanan. + 6 bulan sebelum masuk rumah sakit, timbul benjolan sebesar kelereng pada lipat paha kanan. Benjolan timbul ketika penderita berjalan jauh, mengangkat benda berat, mengejan dan menghilang ketika istirahat atau berbaring. + 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh benjolan pada lipat paha kanan semakin membesar. Benjolan sebesar telur ayam. Benjolan masih bisa masuk kembali ke rongga perut. Benjolan timbul ketika penderita berjalan jauh, mengangkat benda berat, mengejan dan menghilang ketika istirahat atau berbaring. 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh benjolan di lipat paha kanan terasa nyeri saat berjalan. Benjolan sebesar telur ayam dan dapat keluar masuk sendiri. Benjolan timbul ketika penderita berjalan jauh, mengangkat benda berat, mengejan dan menghilang ketika istirahat atau berbaring. Nyeri (-), Mual (-), muntah (-), demam (-), BAB biasa. Pada pemeriksaan fisik status generalis dalam batas normal. Pada status lokalis di regio ingunalis dekstra, pada inspeksi tampak benjolan sebesar telur ayam, warna kulit sama dengan sekitarnya. Pada palpasi teraba massa, konsistensi kenyal, batas atas tidak tegas, dan dapat dimasukkan ke dalam cavum abdomen, nyeri tekan tidak ada. Transluminasi test negatif. Pada pemeriksaan laboratorium masih dalam batas normal. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien ini didiagnosa dengan hernia inguinalis dekstra reponibel. Dari anamnesis diperoleh informasi bahwa pasien memliki riwayat menderita benign prostat hyperplasia, yang dapat menyebabkan meningkatnya tekanan intraabdomen.
12

Peningkatan tekanan intraabdomen merupakan salah satu etiologi dari hernia inguinalis. Pada finger tip test teraba massa pada bagian medial ujung jari, dapat disimpulkan klasifikasi hernia pada pasien ini, yaitu hernia inguinal medial. Faktor umur juga mendukung terjadinya hernia inguinalis medial. Transluminasi test yang negatif menyingkirkan kemungkinan hidrokel pada pasien ini. Penatalaksanaan pada penderita yaitu dengan operasi. Prognosis pasien ini quo ad vitam dan quo ad functionam adalah bonam.

13

DAFTAR PUSTAKA

Doherty GM. 2003. Current Surgical Diagnosis and Treatment, Twelfth Edition. New York: Lange Medical Publication. Reksoprodjo, Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara De Jong, Wim & R. Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Anonim. Hernia. Diperoleh dari: http://lakshminawasasi.blogspot.com/2006/03/herniaobrolan-ini-lanjutandari-acara.html. Diakses pada: 29 Agustus 2007 Anonim. 2004. Hernia Ingunalis. Diperoleh dari: http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?iddtl=560&idktg=18&UI D=20070829134304222.124.4.28. Diakses pada: 29 Agustus 2007 Anonim. 2007. Hernia. Diperoleh dari: http://susternada.blogspot.com/2007/07/hernia.html. Diakses pada: 29 Agustus 2007 Anonim. Hernia. Diperoleh dari: http://www.geocities.com/situsgratis3in1/artikelkesehatan2.html. Diakses pada: 29 Agustus 2007

14