Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia yang merupakan sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang

mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras, kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya. Karbohidrat dalam bentuk gula dan pati melambangkan bagian utama kalori total yang dikonsumsi manusia dan bagi kebanyakan kehidupan hewan, seperti juga bagi berbagai kehidupan mikroorganisme. Karbohidrat juga merupakan pusat metabolisme tanaman hijau dan organisme fotosintetik lainnya yang menggunakan energi solar untuk melakukan sintesa karbohidrat dari CO2 dan H2O. Sejumlah besar pati dan karbohidrat lain yang dibuat oleh fotosintesa menjadi energi pokok dan sumber karbon bagi sel non-fotosintetik pada hewan, tanaman dan dunia mikrobial. Pati merupakan karbohidrat yang tersebar dalam tanaman terutama tanaman berklorofil. Bagi tanaman, pati merupakan cadangan makanan yang terdapat pada biji, batang dan pada bagian umbi tanaman. Banyaknya kandungan pati pada tanaman tergantung pada asal pati tersebut, misalnya pati yang berasal dari biji beras mengandung pati 5060% dan pati yang berasal dari umbi singkong mengandung pati 80 %. Polisakarida mempunyai fungsi metabolik selain fungsi strukturil dalamtumbuhan dan hewan. Pati sebagai akhir proses hotosintesa disimpan

dalam tumbuhan, sedangkan glikogen disimpan dalamhewan dan bakteri. Pati dan glikogen adalah polimer dari D-glukosa yang terikat melalui ikatan glikosidik, dengan berat molekul bervariasi dari beberapa ribu sampai jutaan. Pada umumnya karbohidrat merupakan zat padat berwarna putih yang sukar larut dalam pelarut organik tetapi larut dalam air. Berdasarkan penjelasan dan uraian diatas, maka penting untuk melakukan praktikum dengan judul Uji karbohidrat pada pati. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada praktikum uji karbohidrat pada pati yaitu 1. Bagaimana mengidentifikasi karbohidrat dengan uji benedict ? 2. Bangaimana mengidentifikasi karbohidrat dengan uji iodin ? C. Tujuan Praktikum Tujuan pada praktikum uji karbohidrat pada pati yaitu : 1. Untuk mengidentifikasi karbohidrat dengan uji benedict 2. Untuk mengidentifikasi karbohidrat dengan uji iodin D. Manfaat Praktikum Manfaat pada praktikum Hidrolisis Pati dengan Asam yaitu 1. Agar dapat mengidentifikasi karbohidrat dengan uji benedict 2. Agar dapat mengidentifikasi karbohidrat dengan uji iodin

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Karbohidrat merupakan komponen esensial semua organisme dan zat yang paling banyak penyusun sel. Fungsi karbohidrat adalah sebagai sumber energy (glukosa, pati, glikogen), membentuk struktur sel (glikoprotein), struktur penunjang tanaman (selulosa), penyusun cangkang Crustacea (kitin), komponen asam nukleat. Glukosa merupakan sumber utama dalam metabolisme penghasil energi sel (Wulandari, dkk., 2012 dalam Murray, 2003). Karbohidrat kompleks merupakan karbohidrat yang terbentuk oleh

hampir lebih dari 20.000 unit molekul monosakarisa terutama glukosa. Di dalam ilmu gizi, jenis karbohidrat kompleks yang merupakan sumber utama bahan makanan yang umum dikonsumsi oleh manusia adalah pati (starch). Pati yang juga merupakan simpanan energi di dalam sel-sel tumbuhan ini berbentuk butiranbutiran kecil mikroskopik dengan berdiameter berkisar antara 5-50 nm. Di alam, pati akan banyak terkandung dalam beras, gandum, jagung, biji-bijian seperti kacang merah atau kacang hijau dan banyak juga terkandung di dalam berbagai jenis umbi-umbian seperti singkong, kentang atau ubi (Irawan M. Anwari, 2007). Polisakarida disusun oleh banyak sekali molekul-molekul monisakarida. Polisakarida dalam bahasa makanan berfungsi sebagai penguat tekstur (selulosa, hemiselulosa, pectin dan lignin) dan sebagai sumber energy (pati, glikogen,

fruktan). Polisakarida merupakan molekul-molekul monosakarida yang dapat berantai lurus atau bercabang dan dapat dihidrolisis dengan enzim-enzim yang spesifik keryanya (Risnoyatiningsih, 2011 dalam Winarno, 1984).

Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan -glikosidik. Berbagai macam pati tidak sama sifatnya, tergantung dari panjang rantai C-nya serta lurus atau bercabang rantai molekulnya. Pati terdiri dari 2 fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi yang tidak larut yang disebut amilopektin. Amilosa mempunyai struktur lurus dengan ikatan (1,4) D-glukosa, sedangkan amilopektin mempunyai cabang dengan ikatan (1,4) d-glukosa sebanyak 4-5% dari berat total (Risnoyantiningsi, 2011). Uji gula pereduksi adalah suatu pemeriksaan kolirimetrik yang didasarkan pada prinsip bahwa suatu oksidasi selalu disertai oleh reduksi. Apabila karbon anomerik pada suatu gula mengalami oksidasi, senyawa lain akan tereduksi. Apabila senyawa yang tereduksi membentuk warna, intensitas warna dapat digunakan untuk menentukan jumlah gula yang mengalami oksidasi. Gula yang mengalami oksidasi disebut gula pereduksi karena menyebabkan senyawa lain tereduksi (Marks, dkk., 2003).

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum Uji Karbohidrat pada pati dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 November 2013, pukul 15.00 - 17.00 WITA. Bertempat di laboratorium Zoologi, Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari. B. Alat dan Bahan 1. Alat Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum uji karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum Hidrolisis Pati dengan Asam No Nama Alat Kegunaan 1. Tabung reaksi Untuk mereaksikan larutan 2. Rak tabung reaksi Untuk meletakkan tabung reaksi 3. Gelas ukur Tempat mengukur volume larutan 4. Gelas kimia Untuk meletakkan tabung reaksi yang akan dipanaskan 5. Penangas air Untuk memanaskan larutan 6. Pipet tetes Untuk mrngambil larutan dalam jumlah kecil

2. Bahan Bahan yang digunakan pada praktikum uji karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum Hidrolisis Pati dengan Asam No Nama Bahan Kegunaan 1. Larutan Pati 1% Sebagai bahan yang dihidrolisis 2. Aquadest Untuk melarutkan pati 3. Larutan bendict Untuk menguji adanya amilum 4. Larutan iodine Untuk menguji adanya amilum 5. HCL 6M Sebagai larutan asam kuat untuk hidrolisis pati 6. NaOH 6M Sebagai larutan basa kuat untuk hidrolisis pati

C. Prosedur kerja Prosedur kerja pada praktikum Uji Karbohidrat sebagai berikut : 1. Uji Benedict Tabung I - 5 ml benedict - 8 tetes larutan gula - Mengocok larutan Tabung II - 5 ml benedict - 8 tetes laruta pati - Mengocok larutan
- Memasukan dalam penangas airmendidih

selama 3 menit - Mendinginkan larutan - Mengamati perubahan warna Hasil Pengamatan

2. Uji iodin Tabung I - 3 ml larutan pati - 2 tets agquades Tabung II - 3 ml larutan pati - 2 tets HCL 6 N Tabung III - 3 ml larutan pati - 2 tetes laruta NaOH

- Mengocok larutan - Menambahkan larutan iodin - Memanaskan larutan - Mendinginkan larutan - Mengamati perubahan warna Hasil pengamatan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan 1. Uji Benedict Hasil pengamatan pada praktikum Uji Benedict Karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil pengamatan Uji Benedict Karbohidrat

Tabung I

Jenis Perlakuan

Sebelum

Hasil pengamatan Sesudah

5 mL benedict + 8 tetes larutan gula dikocok masukkan dalam penangas air selama 3 menit didinginkan diamati perubahan Keterangan : warna

Keterangan :

Larutan Larutan berwarna berwarna biru, biru, setelah sebelum dipanaskan dipanaskan II 5 mL benedict + 8 tetes larutan pati dikocok masukkan dalam penangas air selama 3 menit didinginkan diamati perubahan warna Keterangan :

Keterangan :

Larutan Larutan berwarna berwarna biru, biru, setelah sebelum dipanaskan dipanaskan

2. Uji Iodin Hasil pengamatan pada Uji Iodin Karbohidrat dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil pengamatan pada Uji Iodin Karbohidrat

Tabung I

Jenis Perlakuan 3 mL larutan pati + 2 tetes aquades dikocok ditambahkan iodin dipanaskan didinginkan diamati perubahan warna

Hasil pengamatan Sebelum Sesuda h

Keterangan :

Keterangan :

Larutan keruh, Larutan bening, setelah sebelum dipanaskan dipanaskan II 3 mL larutan pati + 2 tetes HCl dikocok ditambahkan iodin dipanaskan didinginkan diamati perubahan warna Keterangan : Keterangan : Larutan keruh, Larutan bening, setelah sebelum dipanaskan dipanaskan III 3 mL larutan pati + 2 tetes NaOH dikocok ditambahkan iodin dipanaskan didinginkan diamati perubahan warna

Keterangan: Larutan bening, sebelum dipanaskan

Keterangan: Larutan bening kekuningan, setelah dipanaskan

B. Pembahasan Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya seperti bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbagai aktivitas fisik seperti berolahraga atau bekerja. Karbohidrat dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida merupakan sakar (gula) sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi unit lebih kecil walaupun dalam suasana lunak sekalipun. Gula yang paling banyak terdapat dialam, seperti ribosa, glukosa, fruktosa, dan manosa adalah rangkaian gula. Oligosakarida terdiri dari dua atau lebih monosakarida yang digabungkan oleh suatu ikatan kovalen. Polisakarida mengandung banyak unit

monosakarida yang berikatan glikosida. Beberapa berfungsi antara lain sebagai bentuk penyimpan karbohidrat. Polisakarida penyimpan paling penting adalah pati dan glikogen. Salah satu karbohidrat yang banyak terkandung pada makanan yaitu polisakarida yang berupa pati/amilum. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin. Amilosa terdiri atas 250-300 unit

D-

-glikosidik, jadi molekulnya

merupakan rantai terbuka. Amilopektin juga terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan 1,4-glikosidik dan sebagian lagi ikatan 1,6-glikosidik. Adanya ikatan 1,6-glikosidik ini menyebabkan terjadinya cabang, sehingga molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin lebih besar daripada molekul amilosa karena terdiri atas lebih dari 1.000 unit glukosa. Butir-butir pati tidak larut dalam air dingin tetapi apabila suspensi dalam air dipanaskan, akan terbentuk suatu larutan koloid yang kental. larutan koloid ini apabila diberi larutan iodium akan berwarna biru. Warna biru tersebut disebabkan oleh molekul amilosa yang membentuk senyawa. Amilopektin dengan iodium akan memberikan warna ungu atau merah lembayung. (McGilvery&Goldstein, 1996) Pati dalam percobaan ini diperoleh dari ubi kayu yang telah dihaluskan dan disaring, kemudian disuspensikan hinggga berbentuk serbuk berwarna putih. Pengamatan kali ini menggunakan sisa pati pada praktikum sebelumnya, dilakukan untuk menghidrolisis karbohidrat menggunakan HCl 2N. berdasarkan teori Bronsted Lowry, dikatakan bahwa hidrolisis merupakan proses protolisis yang melibatkan molekul air dan proteolit lemah yang bermuatan. Larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl tidak berwarna, membentuk kabut jika terkena udara lembab, baunya sangat menusuk dan sangat asam. HCl pekat yang murni

berupa cairan tidak berwarna, sedangkan yang teknis berwarna agak kuning karena mengandung feri. Penambahan larutan HCl berfungsi sebagai pemberi suasana asam pada larutan amilum. Pada larutan dengan penambahan HCl menyebabkan terjadinya reaksi antara amilum dengan iod. Reaksi ini membentuk warna biru pada larutan. Langkah awal yang dilakukan adalah membuat larutan benedict dengan dua perlakuan berbeda, yaitu pada tabung I ditambahkan 5 mL benedict dan 8 tetes gula, sedangkan pada tabung II ditambahkan 5 mL benedict dengan 8 tetes larutan pati. Setelah itu, dikocok dan dipanaskan selama 3 menit. Tujuan dari pemanasan ini adalah untuk menghomogenkan larutan serta mempercepat proses reduksi bahan yang diamati. Lalu larutan didinginkan agar reaksi berjalan stabil, karena apabila terlalu panas kemungkinan akan ada komponen senyawa yang rusak atau habis menguap. Pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Endapat yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa (McGilvery & Goldstein, 1996). Pada praktikum yang telah dilakukan diperoleh warna dari hasil reaksi antara larutan pati dengan pereaksi benedict yaitu berwarna biru hal ini kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya kemampuan Pereaksi Benedict dalam pengujian amilum dalam larutan pati.

Perlakuan selanjutnya adalah uji iodin dengan menggunakan 3 tabung yang masig-masing ditambahkan 3 mL pati, dengan 2 tetes aquades pada tabung I, 2 tetes HCl pada tabung II dan 2 tetes NaOH pada tabung III. Setelah itu ditambahakan iodin dan dipanaskan. Tujuan dari porses pemanasan larutan ini bertujuan untuk menghomogenkan larutan dan dapat mereduksi cepat bahan yang akan diamati. Lalu larutan didinginkan agar reaksi berjalan stabil, karena apabila terlalu panas kemungkinan akan ada komponen senyawa yang rusak atau habis menguap. Cara teresbut digunakan untuk mengamati kandungan karbohidrat pada bahan yang diamati. Pati terdiri atas dua komponen yang dapat dipisahkan yaitu amilosa dan amilopektin (Harborne 1987). Kedua jenis pati ini mudah dibedakan berdasarkan reaksinya terhadap iodium, yaitu amilosa berwarna biru dan amilopektin berwarna kemerahan. Hasil pengamatan pada ketiga perlakuan tabung I, II dan III diperoleh untuk tabung I dan II sebelum dipanaskan larutan nampak keruh dan setelah dipanaskan larutan bening. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan ini baik tabung I dan II larutan tidak mengandung karbohidrat atau amilosa dan kemungkinan lain penyebab tidak berubahnya warna yaitu kurangnya kemampuan pereaksi iodin akibat penyimpan yang sudah terlalu lama. Sedangkan pada perlakuan tabung III, setelah dipanaskan larutan berwarna bening kekuningan. Hal ini

menunjukkan bahwa pada perlakuan III ini larutan mengandung karbohidrat atau amilosa, yang ditandai dengan adanya perubahan warna.

V. PENUTUP

A. Simpulan Simpulan pada praktikum Uji Karbohidrat adalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi karbohidrat dengan uji benedict adalah dengan penambahan larutan bendict ke dalam larutan gula dan pati, apabila terjadi perubahan warna menunjukan adanya gula pereduksi. Pada pengamatan yang diperoleh tidak menunjukkan adanya gula pereduksi karena tidak terjadi perubahan warna larutan. 2. Mengidentifikasi karbohidrat dengan uji iodin adalah dengan penambahan larutan iodin ke dalam larutan gula dan pati dengan NaOH, HCl dan aquades, apabila terjadi perubahan warna menunjukan adanya karbohidrat. Pada pengamatan yang diperoleh tabung I dan II tidak menunjukkan adanya karbohidrat karena tidak terjadi perubahan warna larutan, sedagkan pada tabung III menunjukkan adanya karbohidrat karena terjadi perubahan warna. B. Saran saran yang dapat saya sampaikan pada praktikum uji karbohidrat yaitu agar praktikan lebih memperhatikan semua prosedur yang diberikan oleh asisten agar saat praktikum praktikan dapat memahami dengan jelas praktikum yang sedang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Endah Wulandari, Tami Idiyanti, Ernawati Sinaga, 2012, Limbah Molas : Pemanfaatan sebagai Sumber Karbohidrat untuk Perkembangbiakan Mikroorganisme, Valensi 02 (05), Hal: 82. Hidayat B, Widodo YR, Wirawati CU, 2006, Pengaruh Jenis Ubi Kayu terhadap Karakteristik Tepung Ubi Kayu (Cassava Flour) yang Dihasilkan, Laporan Penelitian Hibah Kompetisi Pemda Propinsi Lampung Tahun Anggaran 2006. Irawan M. Anwari, 2007, Polton Sports Sciencce and Performance Lab, Karbohidrat, Sports Science Brief 01 (03), Hal: 02-03. Murray RK, Granner DK dan Rodwell VW, Harpers illustrated Biochemistry, 27 th edition, United Stated : McGraw-Hill. 2003, Hal:14. Risnoyatiningsih Sri, 2011, Hidrolisis Pati Ubi Jalar Kuning menjadi Glukosa secara Enzimatis, Jurnal Tehnik Kimia, 05 (02), Hal: 418. Marks, Dawn B., Marks, Allan D., Smith, Colleen M., 2003, Biokimia Kedokteran Dasar, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Winarno, 1995, Enzim Pangan, Gramedia Utama, Jakarta. Yusrin, 2010. proses hidrolisis onggok dengan variasi asam Pada pembuatan ethanol.