Anda di halaman 1dari 24

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013

Kisah Bayi ED Yang Meninggal, Karena Tranfusi Darah Yang Terburu-buru

Kupang - Malpraktik juga terjadi pada bayi ED yang masih berusia 10 bulan. Bayi ED merupakan anak dari pasangan Pendeta Johnson Dethan dan Many Lynn Dethan. Kejadian yang menimpa ED terjadi pada tanggal 9 Februari 2012. Waktu ED mengalami sakit. Setelah menunggu selama 1 hari, ED dibawa ke dokter oleh Johnson dan Many Lynn. Tapi, dokter yang memeriksa ED beranggapan kalau ED hanya terkena pilek dan flu biasa dan dokter memberikan ED obat yang ia racik sendiri. Walau pun sudah diberikan obat, ED belum juga sembuh. Bahkan, ada bercak darah keluar dari dubur atau anusnya. Selain itu juga, ED mengalami muntah-muntah. Karena anaknya yang tak kunjung sembuh, ED dibawa oleh Johnson ke dokter dan meminta dokter untuk memeriksa keadaan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Setelah diperiksa, ED dinyatakan terkena disentri oleh dokter tersebut. Karena ED tidak dapat meminum ASI dari ibunya, Johnson dan istri mendesak dokter untuk membawa ED ke rumah sakit. Setelah mendapat izin dari dokter, Johnson membawa anaknya ke rumah sakit umum Kupang dan dilakukan pemeriksaan oleh dr. M. Dokter tersebut malah mengatakan kalau anaknya bukan disentri, tapi mengalami invaginasi. Ususnya masuk ke dalam usus. Lalu, ia membawa kembali anaknya ke dokter semula yang mengatakan kalau anaknya terkena disentri dan mengatakan kepada dokter tersebut kalau anaknya bukan disentri tapi invaginasi. Dokter itu lalu menelepon dokter bedah, dr. D, untuk memeriksa anaknya. Lalu dokter tersebut mengatakan kalau itu memang invaginasi.
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 1

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Yang lebih membuat Johnson kaget adalah dokter tersebut mengatakan kalau disentrilah yang menyebabkan invaginasi. Johnson sangat percaya apa yang dikatakan oleh dokter karena ia tidak mengerti prosedur kesehatan dan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Setelah melakukan cek laboratorium, ternyata tidak ada bakteri atau pun virus yang menunjukkan kalau anak itu terkena disentri. Pihak keluarga meminta agar anaknya dibawa ke Rumah Sakit Umum Kupang, tapi dokter malah menyarankan kalau anaknya melakukan operasi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang. Istrinya sempat menanyakan apakah di rumah sakit tersebut ada ruang ICU nya atau tidak, dokter malah mengatakan kalau ia biasa melakukan hal itu. Pada saat di rumah sakit, anaknya harus melakukan pengecekkan darah karena harus segera dioperasi. Anehnya, menurut tes golongan darah di Labolatorium Prodia, anaknya memiliki darah dengan golongan B. Padahal, saat dicek di PMI golongan darah anaknya O. Pada tanggal 12 Februari 2012 dilakukanlah operasi. Tiba-tiba saja HB bayi ED turun dan membutuhkan transfusi dari. Namun, transfusi darah yang dilakukan oleh para suster dengan cara injeksi. Darah sebanyak 100 CC dimasukkan ke dalam vena anaknya dalam waktu yang cukup cepat hanya 15 menit. Padahal infus saja dilakukan harus pelan-pelan apalagi ini transfusi darah. Semuanya harus dilakukan pelan-pelan. Setelah selesai melakukan tindakan itu, mata anaknya terbalik. Dan ternyata benar, anaknya meninggal di tempat dan keluar darah dari mulut. Sangat disayangkan, tak ada dokter jaga di rumah sakit. Lalu ia berusaha menghubungi dokter rumah sakit tersebut.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013

Omongan Dokter Saya sudah biasa melakukan operasi, Sering berakibat Fatal
Untuk meyakinkan pasien, biasanya dokter sering mengeluarkan kalimat sakti "Saya sudah biasa melakukan itu". Tapi tak jarang kalimat itu sering berakibat fatal. "Saya sudah biasa kok melakukan operasi usus buntu, ibu pergi ke pasar pun ibu bisa kena usus buntu akut," kata seorang dokter bedah umum dr. D di Rumah Sakit Medika Permata Hijau yang berbicara ke Oti Puspa Dewi , ibunda Raihan (10 tahun) sebelum dilakukan Operasi usus buntu pada September 2012. Karena mendapat jaminan seperti itu, sang Ibu yang semula ragu akhirnya merelakan anaknya dioperasi usus buntu oleh sang dokter. Tapi setelah operasi itu, si anak tak pernah sadar lagi hingga sekarang atau sudah koma selama 3 bulan. Begitu juga yang terjadi pada bayi ED asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ketika bayi perempuan berusia 10 bulan itu sakit pihak Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang mengatakan si bayi harus dilakukan operasi invaginasi. Namun orangtua ED yang bernama Johnson Dethan dan Marilynn Dethan menyangsikan kemampuan rumah sakit dan bertanya apakah ada ruang ICU. "Memang disini ada ruang ICU kok sampai berani ambil tindakan operasi". Lalu si dokter menjawab 'Sudah biasa kok dilakukan operasi'," cerita Johnson di gedung DPR, ketika rapat dengar pendapat dengan Komisi IX, Selasa (15/1/2013). Karena sudah diyakinkan biasa melakukan operasi akhirnya orangtua ED mempercayakan anaknya dioperasi. Tapi yang terjadi kemudian si anak kekurangan darah dan ketika dilakukan transfusi prosesnya sangat cepat. Untuk darah 100 CC dimasukkan ke dalam vena bayi ED dalam waktu yang cukup cepat hanya 15 menit akibatnya ED meninggal dunia. Dalam pertemuan tersebut pihak DPR berharap agar rumah sakit lebih hati-hati dan bertanggungjawab atas proses yang tidak sesuai standar. DPR juga melihat jika terbukti malpraktik harusnya rumah sakit itu bertanggung jawab. Salah seorang anggota DPR sempat mengingatkan agar dokter jangan sesumbar dengan mengatakan Saya sudah biasa melakukan itu. Karena jika berakibat fatal, pernyataan itu akan selalu dipegang pihak keluarga sebagai bukti keluarga rela dokter melakukan tindakan karena sudah biasa.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013

Salah Transfusi Darah, Bayi WNA Tewas di NTT


Kasus ini sudah dilaporkan ke Kedutaan Besar Kanada di Indonesia VIVAnews - Komisi Nasional Perlindungan Anak menginvestigasi dugaan malpraktek Elija Dethan (10 bulan), balita berkebangsaan Kanada di RS Dedari Kupang, yang meninggal Senin 12 Februari 2012 lalu. Kasus ini sudah dilaporkan ke Kedutaan Besar Kanada di Indonesia. "Kedutaan memantau kasus ini. Sebenarnya Kedutaan akan mengambil alih penangananya namun karena Mabes Polri sudah menurunkan tim sehingga kedutaan hanya memantau," kata Johnson Dethan, orangtua korban dalam keterangan pers di Kupang, NTT, Sabtu 18 Februari 2012. Dalam keterangan pers ini dihadiri kedua orangtua korban, Johnson Dethan dan Marilin Dethan Deboer, Pengurus Yayasan Lembaga Perlindungan Anak, dan Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Aris Merdeka Sirait. Menurut Johnson, bila dalam penyelidikan keluarga tidak mendapatkan keadilan maka pemerintah Kanada akan mengambil langkah diplomasi yang lebih serius. Dia menuturkan, anaknya meninggal dunia beberapa menit setelah mendapat transfusi darah dari petugas medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Dedari Kupang, Senin malam. Keluarga didampingi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) telah melaporkan manajemen rumah sakit ke Polres Kupang Kota. Hasil pemeriksaan tim medis awal, anaknya menderita penyakit disentri sehingga harus dioperasi.

"Anak saya kemudian dibawa ke RS Dedari untuk menjalani operasi Selasa siang. Setelah operasi, anak saya membaik. Namun setelah transfusi darah, berselang 2 sampai 5 menit anak saya kejang-kejang lalu meninggal," kata Johnson. "RS melakukan transfusi darah karena alasan anak saya HB-nya hanya 7,5," kata dia. Sementara, Aris Merdeka Sirait mengatakan hasil investigasi sementara

membuktikan, korban meningal dunia karena adanya perbedaan golongan darah saat transfusi. "Diduga ada kesalahan transfusi darah yang berdampak pada tewasnya korban," kata Aris. Hasil pemeriksaan laboraorium Prodia Kupang, golongan darah korban O, tetapi hasil pemeriksaan RS Dedari golongan darah korban B. "Komnas mendesak agar izin RS Dedari Kupang ditinjau kembali karena kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia," lanjutnya. Dokter forensik Mabes Polri, Ajun Komisaris Besar Polisi Adang Asyar yang dihubungi terpisah mengatakan, hasil otopsi baru akan diberitahukan keluarga pekan depan. Otopsi akan disampaikan setelah sejumlah organ tubuh termasuk darah korban diteliti di laboraturium forensik Mabes Polri Jakarta.
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 4

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Sementara, pemilik RS Dedari Kupang, Sahadewa mengatakan, pihaknya menyerahkan kasus tersebut ke aparat kepolisian. Namun, dia membantah telah melakukan malpraktek, "Karena malpraktek harus penuhi empat unsur yakni kesengajaan, kerugian, hubungan langsung dan prosedur. Belum bisa dikatakan kasus ini adalah malpraktek," kata Sahadewa.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013


Topik: Etik Tanggal (kasus): 12 Februari 2012 Tangal presentasi: Persenter: dr. Bimanda Rizki Nurhidayat Pendamping: dr. Yuliawaty Soetio dr. Sofie Giantari Tempat presentasi: Obyektif presentasi: Keilmuan Diagnostik Neonatus Bayi Keterampilan Manajemen Anak Remaja Penyegaran Masalah Dewasa Tinjauan pustaka Istimewa Lansia Bumil

Deskripsi: Dugaan adanya malpraktik yang dilakukan oleh Paramedis di Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang akibat adanya kelalaian dan tidak hati-hati dalam melaksanakan tindakan tranfusi darah sebelum operasi yang menyebabkan anak meninggal dunia. Tujuan: mempelajari dan menyikapi masalah etik yang dapat terjadi terkait dengan kejadian pasca tranfusi darah Bahan bahasan: Cara membahas: Data pasien: Tinjauan pustaka Diskusi Riset Kasus E-mail No registrasi: Telp: Terdaftar sejak: Audit Pos

Presentasi dan diskusi

Nama: Bayi ED usia 10 bulan

Nama klinik: Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang Data utama untuk bahan diskusi:

Kasus

9 Februari 2012 Anak bernama bayi ED usia 10 bulan, anak dari pasangan Pendeta Johnson Dethan dan Many Lynn Dethan mengalami sakit.

10 Februari 2012 Bayi ED oleh orang tuanya dibawa ke dokter dan setelah diperiksa, kemudian oleh dokter dinyatakan bahwa pasien hanya mengalami batuk dan flu lalu diberi obat.

11 Februari 2012 Bayi ED belum juga sembuh, bahkan, ada bercak darah keluar dari dubur atau anusnya. Selain itu juga, bayi ED mengalami muntah-muntah. Karena tidak ada perubahan pasien dibawa ke dokter lagi, dan dilakukan pemeriksaan. Kemudian oleh dokter, bayi ED dinyatakan mengalami disentri dan orang tua pasien mendesak dokter membawa ke RS karena tidak bisa meminum ASI
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 6

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 dari ibunya. Setelah mendapat izin dari dokter, Johnson membawa anaknya ke rumah sakit umum Kupang dan dilakukan pemeriksaan oleh dr. M. Dokter tersebut malah mengatakan kalau anaknya bukan disentri, tapi mengalami invaginasi. Ususnya masuk ke dalam usus. Lalu, ia membawa kembali anaknya ke dokter semula yang mengatakan kalau anaknya terkena disentri dan mengatakan kepada dokter tersebut kalau anaknya bukan disentri tapi invaginasi. Dokter itu lalu menelepon dokter spesialis bedah yang bernama dr. D, untuk konsultasi dan memeriksa anaknya. Lalu dokter tersebut mengatakan kalau itu memang invaginasi. Yang lebih membuat Johnson kaget adalah dokter tersebut mengatakan kalau disentrilah yang menyebabkan invaginasi. Johnson sangat percaya apa yang dikatakan oleh dokter karena ia tidak mengerti prosedur kesehatan dan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Setelah melakukan cek laboratorium, ternyata tidak ada bakteri atau pun virus yang menunjukkan kalau anak itu terkena disentri. Pihak keluarga meminta agar anaknya dibawa ke Rumah Sakit Umum Kupang, tapi dokter malah menyarankan kalau anaknya melakukan operasi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari Kupang.. Pada saat di rumah sakit, anaknya harus melakukan pengecekkan darah karena harus segera dioperasi. Anehnya, menurut tes golongan darah di Prodia, anaknya memiliki darah dengan golongan B. Padahal, saat dicek di PMI golongan darah anaknya O.

12 Februari 2012 Bayi ED akan menjalani operasi. Kemudian tiba-tiba saja HB bayi ED turun dan membutuhkan transfusi dari. Namun, transfusi darah yang dilakukan oleh para suster dengan cara injeksi. Darah sebanyak 100 CC dimasukkan ke dalam vena anaknya dalam waktu yang cukup cepat hanya 15 menit. Setelah selesai melakukan tindakan itu, mata anaknya tiba-tiba terbalik dan keluar darah dari hidung, lalu tidak sadarkan diri, kemudian beberapa saat kemudian bayi ED dinyatakan meninggal dunia.

16 Februari 2012 Komisi Nasional Perlindungan Anak menginvestigasi dugaan malpraktek Elija Dethan (10 bulan), balita berkebangsaan Kanada di RS Dedari Kupang, yang meninggal Senin 12 Februari 2012 lalu. Kasus ini sudah dilaporkan ke Kedutaan Besar Kanada di Indonesia.

18 Februari 2012
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 7

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Diadakan keterangan pers yang dihadiri kedua orang tua korban, Johnson Dethan dan Marilin Dethan Deboer, Pengurus Yayasan Lembaga Perlindungan Anak, dan Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Aris Merdeka Sirait, kemudian diberikan keterangan bahwa, "Kedutaan memantau kasus ini. Sebenarnya Kedutaan akan mengambil alih penangananya namun karena Mabes Polri sudah menurunkan tim sehingga kedutaan hanya memantau," kata Johnson Dethan, orangtua korban dalam keterangan pers di Kupang, NTT. Menurut Johnson, bila dalam penyelidikan keluarga tidak mendapatkan keadilan maka pemerintah Kanada akan mengambil langkah diplomasi yang lebih serius.

Keluarga didampingi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) telah melaporkan manajemen rumah sakit ke Polres Kupang Kota.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Aris Merdeka Sirait mengatakan hasil investigasi sementara membuktikan, korban meningal dunia karena adanya perbedaan golongan darah saat transfusi. Hasil pemeriksaan laboraorium Prodia Kupang, golongan darah korban O, tetapi hasil pemeriksaan RS Dedari golongan darah korban B.

Dokter forensik Mabes Polri, Ajun Komisaris Besar Polisi Adang Asyar menyatakan bahwa hasil otopsi baru akan di informasikan kepada pihak keluarga secepatnya. Otopsi akan disampaikan setelah sejumlah organ tubuh termasuk darah korban diteliti di laboraturium forensik Mabes Polri Jakarta.

Pemilik RS Ibu dan Anak Dedari Kupang, Sahadewa mengatakan, pihaknya menyerahkan kasus tersebut ke aparat kepolisian. Namun, dia membantah telah melakukan malpraktek, dengan mengatakan bahwa, "Karena malpraktek harus penuhi empat unsur yakni kesengajaan, kerugian, hubungan langsung dan prosedur. Belum bisa dikatakan kasus ini adalah malpraktek,"

Tinjauan Pustaka

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 A. Tranfusi Darah Definisi Transfusi Darah Transfusi darah telah menjadi faktor utama dalam memperbaiki dan mempertahankan kualitas hidup bagi pasien-pasien penderita kanker, gangguan hematologi, dan cedera yang berhubungan dengan trauma dan pasien-pasien yang telah menjalani prosedur bedah mayor. Transfusi darah mencakup pemberian infus seluruh darah atau suatu komponen darah dari satu individu (donor) ke individu lain (resipien) meskipun transfuse darah penting untuk mengembalikan homeostasis, transfusi darah dapat membahayakan. Banyak komplikasi dapat ditimbulkan oleh terapi komponen darah, contohnya reaksi heolitik akut yang kemungkinan mematikan, penularan penyakit infeksi (hepatitis, AIDS) dan reaksi demam. Kebanyakan reaksi transfusi yang mengancam hidup diakibatkan oleh identifikasi pasien yang tidak benar atau pembuatan label sampel darah atau komponen darah yang tidak akurat, menyebabkan pemberian darah yang tidak inkompatibel. Pemantauan pasien yang menerima darah dan komponen darah dan pemberian produk-produk ini adalah tanggung jawab keperawatan. Komponen darah harus diberikan oleh personel yang kompeten, berpengalaman, dan dilatih dengan baik dan mengikuti pedoman organisasi dan badan-badan yang telah diakreditasi dalam memberikan terapi komponen darah.

Prosedur Transfusi Darah Untuk mencegah kemungkinan kontaminasi pada specimen darah, digunakan praprosedur dan prosedur yang steril, terampil dan teliti. Berikut ini adalah tahapannya :

Praprosedur 1. Periksa kembali apakah pasien telah menandatangani inform consent. 2. Teliti apakah golongan darah pasien telah sesuai. 3. Lakukan konfirmasi bahwa transfusi darah memang telah diresepkan. 4. Jelaskan prosedur kepada pasien. 5. Saat menerima darah atau komponen darah a. Periksa ulang label dengan perawat lain untuk meyakinkan bahwa golongan ABO dan RH nya sesuai dengan catatan. b. Periksa adanya gelembung darah dan adanya warna yang abnormaldan pengkabutan. Gelembung udara menunjukan adanya pertumbuhan bakteri .
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 9

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Warna abnormal dan pengkabutan menunjukan hemolisis. c. Periksa jumlah dan jenis darah donor sesuai dengan catatan resipien. 6. Periksa identitas pasien dengan menanyakan nama pasien dan memeriksa gelang identitas. 7. Periksa ulang jumlah kebutuhan dan jenis resipien. 8. Periksa suhu, denyut nadi, respirasi dan tekanan darah pasien sebagai dasar perbandingan tanda-tanda vital selanjutnya.

Prosedur 1. Pakai sarung tangan yang dianjurkan oleh universal precaution yang menyatakan bahwa sarung tangan harus dikenakan saat prosedur yang memungkinkan kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya. 2. Catatlah tanda vital sebelum memulai transfusi. 3. Jangan sekali-sekali menambahkan obat kedalam darah atau produk lain. 4. Yakinkan bahwa darah sudah harus diberikan dalam 30menit setelah dikeluarkan dari pendingin. 5. Bila darah harus dihangatkan, maka hangatkanlah dalam penghangat darah in-line dengan system pemantauan. Dan darah tidak boleh dihangatkan dalam air atau oven microwave. 6. Gunakan jarum ukuran 19 atau lebih pada vena. 7. Gunakan selang khusus yang memiliki filter darah untuk menyaring bekuan fibrin dan bahan partikel lainnya. 8. Jangan melubangi kantung darah. 9. Untuk 15 menit pertama, berikan transfusi secara perlahan-tidak lebih dari 5 ml/menit. 10. Lakukan observasi pasien dengan cermat akan adanya efek samping. 11. Apabila tidak terjadi efek samping dalam 15 menit, naikkan kecepatan aliran kecuali jika pasien beresiko tinggi mengalami kelebihan sirkulasi. 12. Observasi pasien sesering mungkin selama pemberian transfusi. a. Lakukan pemantuan ketat selama 15-30 menit ntuk mendeteksi adanya tanda reaksi atau kelebihan beban sirkulasi. b. Lakukan pemantauan tanda vita dengan interval teratur. 13. Perhatikan bahwa waktu pemberian tidak melebihi jam karena akan terjadi peningkatan resiko poliferasi bakteri.
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 10

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 14. Siagalah terhadap adanya tanda reaksi samping : a. Kelebihan beban sirkulasi. b. Sepsis. c. Reaksi febris. d. Reaksi alergi atau anafilaktik. e. Reaksi hemolitik akut.

Resiko Tranfusi Darah Risiko transfusi darah sebagai akibat langsung transfusi merupakan bagian situasi klinis yang kompleks. Jika suatu operasi dinyatakan potensial menyelamatkan nyawa hanya bila didukung dengan transfusi darah, maka keuntungan dilakukannya transfusi jauh lebih tinggi daripada risikonya. Sebaliknya, transfusi yang dilakukan pasca bedah pada pasien yang stabil hanya memberikan sedikit keuntungan klinis atau sama sekali tidak menguntungkan. Dalam hal ini, risiko akibat transfusi yang didapat mungkin tidak sesuai dengan keuntungannya. Risiko transfusi darah ini dapat dibedakan atas reaksi cepat, reaksi lambat, penularan penyakit infeksi dan risiko transfusi masif.

a. Reaksi Akut Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfusi atau dalam 24 jam setelah transfusi. Reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang-berat dan reaksi yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus, urtikaria dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna kemerahan di kulit, urtikaria, demam, takikardia, kaku otot. Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh hipersensitivitas sedangberat, demam akibat reaksi transfusi non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit), kontaminasi pirogen dan/atau bakteri. Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri dada, nyeri di sekitar tempat masuknya infus, napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea. Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah, hipotensi (turun 20% tekanan darah sistolik), takikardia (naik 20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas. Reaksi ini disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan, anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi. Hemolisis intravaskular akut
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 11

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Reaksi hemolisis intravaskular akut adalah reaksi yang disebabkan inkompatibilitas sel darah merah. Antibodi dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang inkompatibel. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan risiko. Penyebab terbanyak adalah inkompatibilitas ABO. Hal ini biasanya terjadi akibat kesalahan dalam permintaan darah, pengambilan contoh darah dari pasien ke tabung yang belum diberikan label, kesalahan pemberian label pada tabung dan ketidaktelitian memeriksa identitas pasien sebelum transfusi. Selain itu penyebab lainnya adalah adanya antibodi dalam plasma pasien melawan antigen golongan darah lain (selain golongan darah ABO) dari darah yang ditransfusikan, seperti sistem Idd, Kell atau Duffy. Jika pasien sadar, gejala dan tanda biasanya timbul dalam beberapa menit awal transfusi, kadang-kadang timbul jika telah diberikan kurang dari 10 ml. Jika pasien tidak sadar atau dalam anestesia, hipotensi atau perdarahan yang tidak terkontrol mungkin merupakan satusatunya tanda inkompatibilitas transfusi. Pengawasan pasien dilakukan sejak awal transfusi dari setiap unit darah. Kelebihan cairan Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru. Hal ini dapat terjadi bila terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau penurunan fungsi ginjal. Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronik dan memiliki penyakit dasar kardiovaskular. Reaksi anafilaksis Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin dalam plasma merupakan salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu. Selain itu, defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis sangat berat. Hal itu dapat disebabkan produk darah yang banyak mengandung IgA. Reaksi ini terjadi dalam beberapa menit awal transfusi dan ditandai dengan syok (kolaps kardiovaskular), distress pernapasan dan tanpa demam. Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan agresif. Cedera paru akut akibat transfusi (Transfusion-associated acute lung injury = TRALI) Cedera paru akut disebabkan oleh plasma donor yang mengandung antibodi yang melawan leukosit pasien. Kegagalan fungsi paru biasanya timbul dalam 1-4 jam sejak awal transfusi, dengan gambaran foto toraks kesuraman yang difus. Tidak ada terapi spesifik, namun diperlukan bantuan pernapasan di ruang rawat intensif. b. Reaksi Lambat
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 12

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Reaksi hemolitik lambat Reaksi hemolitik lambat timbul 5-10 hari setelah transfusi dengan gejala dan tanda demam, anemia, ikterik dan hemoglobinuria. Reaksi hemolitik lambat yang berat dan mengancam nyawa disertai syok, gagal ginjal dan DIC jarang terjadi. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium antibodi sel darah merah dalam plasma pasien dan pemilihan sel darah kompatibel dengan antibodi tersebut. Purpura pasca transfusi Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi yang jarang tetapi potensial

membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita. Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan penting terutama bila hitung trombosit 50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien. Penyakit graft-versus-host Komplikasi ini jarang terjadi namun potensial membahayakan. Biasanya terjadi pada pasien imunodefisiensi, terutama pasien dengan transplantasi sumsum tulang; dan pasien imunokompeten yang diberi transfusi dari individu yang memiliki tipe jaringan kompatibel (HLA: human leucocyte antigen), biasanya yang memiliki hubungan darah. Gejala dan tanda, seperti demam, rash kulit dan deskuamasi, diare, hepatitis, pansitopenia, biasanya timbul 10-12 hari setelah transfusi. Tidak ada terapi spesifik, terapi hanya bersifat suportif. Kelebihan besi Pasien yang bergantung pada transfusi berulang dalam jangka waktu panjang akan mengalami akumulasi besi dalam tubuhnya (hemosiderosis). Biasanya ditandai dengan gagal organ (jantung dan hati). Tidak ada mekanisme fisiologis untuk menghilangkan kelebihan besi. Obat pengikat besi seperti desferioksamin, diberikan untuk meminimalkan akumulasi besi dan mempertahankan kadar serum feritin <2.000 mg/l.

Resiko Penularan Infeksi Risiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah bergantung pada berbagai hal, antara lain prevalensi penyakit di masyarakat, keefektifan skrining yang digunakan, status imun resipien dan jumlah donor tiap unit darah.8 Saat ini dipergunakan model matematis untuk menghitung risiko transfusi darah, antara lain untuk penularan HIV, virus hepatitis C,
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 13

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 hepatitis B dan virus human T-cell lymphotropic (HTLV). Model ini berdasarkan fakta bahwa penularan penyakit terutama timbul pada saat window period (periode segera setelah infeksi dimana darah donor sudah infeksius tetapi hasil skrining masih negatif).

Skrining Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab infeksi tertentu dari donor kepada resipien. Untuk mengurangi potensi transmisi penyakit melalui transfusi darah, diperlukan serangkaian skrining terhadap faktor-faktor risiko yang dimulai dari riwayat medis sampai beberapa tes spesifik. Tujuan utama skrining adalah untuk memastikan agar persediaan darah yang ada sedapat mungkin bebas dari penyebab infeksi dengan cara melacaknya sebelum darah tersebut ditransfusikan. Saat ini, terdapat tiga jenis utama skrining yang tersedia untuk melacak penyebab infeksi,yaitu uji Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA/EIA), uji aglutinasi partikel, dan uji cepat khusus (Rapid Test). Dalam mempertimbangkan berbagai pengujian, perlu disadari data yang berkaitan dengan sensitivitas dan spesifitas masing-masing pengujian. Sensitivitas adalah suatu kemungkinan adanya hasil tes yang akan menjadi reaktif pada seorang individu yang terinfeksi, oleh karena itu sensitivitas pada suatu pengujian adalah kemampuannya untuk melacak sampel positif yang selemah mungkin. Spesifisitas adalah suatu kemungkinan adanya suatu hasil tes yang akan menjadi non-reaktif pada seorang individu yang tidak terinfeksi, oleh karena itu spesifitas suatu pengujian adalah kemampuannya untuk melacak hasil positif non-spesifik atau palsu. ELISA (sering diganti dengan singkatan EIA) merupakan metode skrining yang paling kompleks, tersedia dalam berbagai bentuk dan dapat digunakan untuk deteksi baik antigen maupun antibodi. Bentuk pengujian yang paling sederhana dan paling umum digunakan adalah dengan memanfaatkan antigen virus yang menangkap antibodi spesifik yang berada dalam sampel tes. Skrining untuk antigen dilakukan dengan menggunakan EIA sandwich. Perbedaan antara skrining antigen dan antibodi adalah bahwa skrining antigen menggunakan suatu sandwich antibodi-antigen-antibodi, tidak seperti skrining antibodi yang mencakup sandwich antigen-antibodi-antigen (konjugat). Pengujian aglutinasi partikel melacak adanya antibodi spesifik dengan aglutinasi partikel yang dilapisi dengan antigen yang berkaitan. Aglutinasi partikel telah berkembang dari hemaglutinasi, yang menggantikan sel darah merah pembawa (karier) dengan partikel
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 14

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 pembawa (karier) yang dibuat dari gelatin atau lateks, prinsipnya sama untuk hemaglutinasi dan pengujian untuk aglutinasi partikel. Salah satu manfaat utama tipe pengujian ini adalah tidak diperlukannya peralatan mahal. Pengujian ini tidak memiliki sejumlah tahap yang berbeda, tidak memerlukan peralatan mencuci dan dapat dibaca secara visual. Pengujian cepat khusus (specialized rapid test) bersifat sederhana dan biasanya cepat dilakukan. Tipe ini menggabungkan kesederhanaan pengujian aglutinasi partikel dengan teknologi EIA. Hasil pengujian dinyatakan dalam terminologi reaktif dan non-reaktif yang ditentukan berdasarkan suatu nilai cut-off yang sudah ditentukan. Untuk hasil yang tidak dapat diklasifikasikan secara jelas dinamakan samar-samar (equivocal).

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

15

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Hukum Dunia Kedokteran

Dengan berlakunya UU No. 29 TaHun 2004 tentang Praktik Kedokteran (pasal 64, 66 dan 67)
ETIK ORGANISASI PROFESI

DISIPLIN

KASUS PELAYANAN KESEHATAN

HUKUM

MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA

ADMINISTRASI PERDATA PIDANA

1. Putusan MKDKI Putusan MKDKI dapat berupa: 1. Dinyatakan tidak bersalah 2. Pemberian sanksi disiplin a. Peringatan tertulis b. Rekomendasi pencabutan tanda registrasi atau surat ijin praktik c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan

2. Jalur Penanganan Kasus 1. Jalur Non Litigasi (Penyelesaian diluar pengadilan) - Negosiasi - Mediasi - Konsiliasi Jika anak sakit lanjutkan dengan pengobatan gratis
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 16

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Jika anak cacat atau meninggal santunan (tali asih, bukan pengakuan bersalah) 2. Jalur Litigasi - Pidana - Perdata

3. Perlindungan Hukum Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya (Pasal 27 ayat (1) Undang Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan) Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standard profesi dan Standard Prosedur Operasional (Pasal 50 huruf a Undang Undang No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran) Barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan Undang Undang tidak boleh dihukum (Pasal 50 KUHP) Barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak akan itu, tidak boleh dihukum (pasal 50 ayat (1) KUHP) Pelaksana perlu dilengkapi dengan surat tugas

4. Komunikasi Efektif Dokter Pasien Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus diluruskan. Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negative dapat dihindari. Dokter dapat mengetahui dengan baik kondisi pasien dan keluarganya dan pasien pun percaya sepenuhnya kepada dokter. Kondisi ini amat berpengaruh pada proses penyembuhan pasien selanjutnya. Pasien merasa tenang dan aman ditangani oleh dokter sehingga akan patuh menjalankan petunjuk dan nasihat dokter karena yakin bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kepentingan dirinya. Pasien percaya bahwa dokter tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatannya. Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama. Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh). Dalam pemberian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 17

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien. Namun disadari bahwa dokter dan dokter gigi di Indonesia belum disiapkan untuk melakukannya. Dalam kurikulum kedokteran dan kedokteran gigi, membangun komunikasi efektif dokter-pasien belum menjadi prioritas. Untuk itu dirasakan perlunya memberikan pedoman (guidance) untuk dokter guna memudahkan berkomunikasi dengan pasien dan atau keluarganya. Melalui pemahaman tentang hal-hal penting dalam pengembangan komunikasi dokter pasien diharapkan terjadi perubahan sikap dalam hubungan dokter-pasien. Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz, 1998). Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi yang digunakan: Disease centered communication style atau doctor centered communication Style. o Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dan gejala-gejala. Illness centered communication style atau patient centered communicationstyle. o Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Di sini termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi kepentingannya serta apa yang dipikirkannya. Dengan kemampuan dokter memahami harapan, kepentingan, kecemasan, serta kebutuhan pasien, patient centered communication style sebenarnya tidak memerlukan waktu lebih lama dari pada doctor centered communication style. Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya menciptakan satu kata tambahan bagi pasien yaitu empati. Empati itu sendiri dapat dikembangkan apabila dokter memiliki ketrampilan mendengar dan berbicara yang keduanya dapat dipelajari dan dilatih. Carma L. Bylund & Gregory Makoul dalam tulisannya tentang Emphatic Communication in Physician-Patient Encounter (2002), menyatakan betapa pentingnya empati ini

dikomunikasikan. Dalam konteks ini empati disusun dalam batasan definisi berikut: 1) Kemampuan kognitif seorang dokter dalam mengerti kebutuhan pasien (a physician cognitive capacity to understand patients needs), 2) Menunjukkan afektifitas/sensitifitas dokter terhadap perasaan pasien (an affective sensitivity to patients feelings),
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 18

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 3) Kemampuan perilaku dokter dalam memperlihatkan/menyampaikan empatinya kepada pasien (a behavioral ability to convey empathy to patient). Sementara, Bylund & Makoul (2002) mengembangkan 6 tingkat empati yang dikodekan dalam suatu sistem (The Empathy Communication Coding System (ECCS) Levels. Berikut adalah contoh aplikasi empati tersebut: Level 0: Dokter menolak sudut pandang pasien o Mengacuhkan pendapat pasien o Membuat pernyataan yang tidak menyetujui pendapat pasien seperti Kalau stress ya, mengapa datang ke sini? Atau Ya, lebih baik operasi saja sekarang. Level 1: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara sambil lalu o A ha, tapi dokter mengerjakan hal lain: menulis, membalikkan badan, menyiapkan alat, dan lain-lain Level 2: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara implicit o Pasien, Pusing saya ini membuat saya sulit bekerja o Dokter, Ya...? Bagaimana bisnis Anda akhir-akhir ini? Level 3: Dokter menghargai pendapat pasien o Anda bilang Anda sangat stres datang ke sini? Apa Anda mau menceritakan l ebih jauh apa yang membuat Anda stres? Level 4: Dokter mengkonfirmasi kepada pasien o Anda sepertinya sangat sibuk, saya mengerti seberapa besar usaha Anda untuk menyempatkan berolah raga o Level 5:Dokter berbagi perasaan dan pengalaman (sharing feelings and experience) dengan pasien. Ya, saya mengerti hal ini dapat mengkhawatirkan Anda berdua. Beberapa pasien pernah mengalami aborsi spontan, kemudian setelah kehamilan berikutnya mereka sangat, sangat, khawatir Empati pada level 3 sampai 5 merupakan pengenalan dokter terhadap sudut pandang pasien tentang penyakitnya, secara eksplisit.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

19

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013

Sumber : Schermerhorn, Hunt & Osborn (1994) 5. Kewajiban dan Hak Pasien Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Paragraf 7 mengatur kewajiban dan hak pasien sebagai berikut: Kewajiban Pasien 1. 2. 3. 4. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Hak Pasien 1. 2. 3. 4. 5. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain (second opinion) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; Menolak tindakan medis; dan Mendapatkan isi rekam medis

Kewajiban dan Hak Dokter Sebagaimana lazimnya suatu perikatan, perjanjian medik pun memberikan hak dan kewajiban bagi dokter. Dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, hak dan kewajiban dokter atau dokter gigi terdapat dalam paragraf 6, yaitu; Kewajiban Dokter/Dokter Gigi
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 20

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; 2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; 3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien meninggal dunia; 4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas mampu melakukannya; 5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Hak Dokter/Dokter Gigi 1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; 2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; 3. 4. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan Menerima imbalan jasa.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

21

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013

Analisa Kasus
Kasus yang terjadi diatas adalah akibat tidak adanya komunikasi efektif antara keluarga pasien dan pihak paramedis. Pasien kemungkinan kurang mendapatkan hak untuk mendapatkan informasi mengenai prosedur tranfusi darah dan resiko yang terjadi akibat tranfusi darah. Kemudian dari informasi yang ada, kemungkinan pihak paramedis tidak melakukan praprosedur dan prosedur tranfusi darah dengan baik dan benar. Pada kasus ini juga terjadi perbedaan pemeriksaan golongan darah saat sebelum tranfusi darah yaitu tes golongan darah di Labolatorium Prodia, bayi ED memiliki darah dengan golongan B. Kemudian, saat dicek di PMI golongan darah anaknya O. Seharusnya saat terjadi perbedaan pada pemeriksaan golongan darah ini pihak paramedis harus melakukan pemeriksaan ulang golongan darah karena ini bisa berakibat fatal saat dilakukan tranfusi darah bila golongan darahnya berbeda dan terjadi resiko cepat saat dilakukan tranfusi darah. Kemudian bisa dilakukan skrining sebelum tranfusi darah bila ada cukup waktu untuk mengurangi resiko saat dilakukan tranfusi darah. Sebelum melakukan tranfusi darah diharapkan paramedis mengkomunikasikan selengkap lengkapnya mengenai: a. Prosedur tranfusi darah dan pendatanganan inform consent b. Penjelasan mengenai resiko tranfusi darah

Praprosedur yang harus dilakukan sebelum tranfusi darah: a. Saat menerima darah atau komponen darah Periksa ulang label dengan perawat lain untuk meyakinkan bahwa golongan ABO dan RH nya sesuai dengan catatan. b. Periksa adanya gelembung darah dan adanya warna yang abnormaldan pengkabutan. Gelembung udara menunjukan adanya pertumbuhan bakteri . Warna abnormal dan pengkabutan menunjukan hemolisis.

c. Periksa jumlah dan jenis darah donor sesuai dengan catatan resipien. d. Periksa identitas pasien dengan menanyakan nama pasien dan memeriksa gelang identitas. e. Periksa ulang jumlah kebutuhan dan jenis resipien. f. Periksa suhu, denyut nadi, respirasi dan tekanan darah pasien sebagai dasar perbandingan tanda-tanda vital selanjutnya.

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

22

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Prosedur saat melakukan tranfusi darah: 1. Pakai sarung tangan yang dianjurkan oleh universal precaution yang menyatakan bahwa sarung tangan harus dikenakan saat prosedur yang memungkinkan kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya. 2. Catatlah tanda vital sebelum memulai transfusi. 3. Jangan sekali-sekali menambahkan obat kedalam darah atau produk lain. 4. Yakinkan bahwa darah sudah harus diberikan dalam 30menit setelah dikeluarkan dari pendingin. 5. Bila darah harus dihangatkan, maka hangatkanlah dalam penghangat darah in-line dengan system pemantauan. Dan darah tidak boleh dihangatkan dalam air atau oven microwave. 6. Gunakan jarum ukuran 19 atau lebih pada vena. 7. Gunakan selang khusus yang memiliki filter darah untuk menyaring bekuan fibrin dan bahan partikel lainnya. 8. Jangan melubangi kantung darah. 9. Untuk 15 menit pertama, berikan transfusi secara perlahan-tidak lebih dari 5 ml/menit. 10. Lakukan observasi pasien dengan cermat akan adanya efek samping. 11. Apabila tidak terjadi efek samping dalam 15 menit, naikkan kecepatan aliran kecuali jika pasien beresiko tinggi mengalami kelebihan sirkulasi.

Pada poin-poin diatas (yang berwarna merah) pihak paramedis diduga tidak melakukan prosedur tranfusi darah dengan baik dan benar, yaitu pada kasus ini pihak paramedis melakukan transfusi darah dengan cara injeksi, lalu darah sebanyak 100 CC dimasukkan ke dalam vena anaknya dalam waktu yang cukup cepat dalam waktu 15 menit. Pada kesalahan prosedur inilah terjadi reaksi pada bayi ED yang kemungkinan mengalami syok anafilaktik yaitu mengalami kejang dan muntah darah lalu kemudian meninggal dunia setelah dilakukan tranfusi darah melalui injeksi intravena secara cepat dalam waktu 15 menit tersebut. Seharusnya pada kasus ini pihak paramedis bisa melakukan praprosedur dan prosedur dengan baik dan benar sebelum tranfusi darah dan fakta yang ada pada kasus ini yaitu: Perbedaan pemeriksaan golongan darah bayi ED yang tidak diperhatikan dengan baik Kemungkinan adanya kesalahan prosedur saat melakukan tranfusi darah yang dilakukan oleh pihak paramedis
RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO 23

PORTOFOLIO DOKTER INTERNSHIP KASUS ETIK December 4, 2013 Kesimpulan

1. Perlu selalu diterapkan hubungan dokter atau pihak paramedis dan pasien dengan baik 2. Hak pasien untuk mendapatkan informasi sebelum dilakukan tindakan medis, baik diminta maupun tidak diminta. 3. Penjelasan tindakan kedokteran sekurang - kurangnya mencakup: Tata cara tindakan kedokteran Tujuan dilakukan Alternative tindakan dan resiko Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi

4. Perlunya dilakukan upaya non litigasi seperti mediasi, rekonsiliasi dan negoisasi jika ditemukan sebuah kasus medik. 5. Dilakukan pendampingan saat terjadi kasus karena keluarga pasien dianggap awam terhadap kejadian yang terjadi. Daftar Pustaka:

1. McFarland JG. Perioperative blood transfusion: indications and options. Chest


1999;115:113S-21S.

2. Office of Medical Applications of Research, National Institutes of Health. Perioperative red


blood cell transfusion. JAMA 1988;260:2700-3. 3. WHO. The clinical use of blood: handbook. Geneva, 2002. Didapat dari

URL:http://www.who.int/bct/Main_areas_of_work/Resource_Centre/CUB/English/Handbook. pdf. 4. Carma, L. Bylund & Gregory Makoul, Patient Education & Counseling 48 (2002) 207-216 5. Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 6. Konsil Kedokteran Indonesia. Manual Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Yogyakarta. 2006 7. Schermerhorn, Hunt & Osborn (1994), Managing Organizational Behavior, 5th ed, John Wiley & Sons, Inc, Canada, pp 562 - 578 Hasil pembelajaran: 1. Dapat menerapkan komunikasi efektif antara dokter pasien 2. Dapat menyikapi dengan baik terhadap kasus etik - medik 3. Dapat meminimalisir dan mengantisipasi terjadinya resiko tranfusi darah Catatan:

RSUD WALUYO JATI KRAKSAAN - PROBOLINGGO

24