Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bimbingan (guidence) berasal dari kata Guide, bermakna menuntun, mengarahkan, menunjukan dan mempedomani, dapat dilihat dari persfektif teori dalam ilmu bimbingan dan konseling, Guide,berarti mengarahkan (to direct),memandu (to pilot),mengelola ( to manage) dan menyetir (to steer). Konseling berarti kontak atau hubungan timbal balikantara dua orang (konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, yang didukung oleh keahlian dan dalam suasana yang laras dan integrasi berdasarkan norma-norma yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien. Bimbingan dan Konseling merupakan layanan kepada peserta didik (student servics), layanan untuk membantu mengoptimalkan

perkembangan peserta didik. Layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik akan optimal jika difokuskan pada pengembangan pribadi,sosial dan pemcahan masalah individual. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan adalah memahami siswa secara keseluruhan. Dalam hai ini, guru dituntut untuk mengetahui asal usul dan kepribadian setiap siswa agar guru dapat memperoleh cara untuk menghadapi siswa yang bermasalah. Maka dari itu perlu adanya pengumpulan data terhadap siswa. Dengan data yang lengkap, guru akan dapat memberikan layanan bimbingan kepada siswa secara tepat atau terarah. Oleh karena itu, saya sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi guru melakukan observasi ini untuk mengetahui bimbingan untuk menghadapi siswa yang bermasalah tersebut. Selain itu juga, observasi ini saya lakukan sebagai penyelesaian tugas dari Bapak Moh. Iqbal Mabruri S.Psi.,M.Si. selaku dosen mata kuliah Bimbingan Konseling.

B. Profil Sekolah dan Profil BK SMK Negeri 11 Semarang 1. Profil

Nama Sekolah No. Statistik NPSN Tipe Sekolah Alamat Sekolah Kode pos Kelurahan Kecamatan Kabupaten / Kota Provinsi Web / email Telepon / HP / Fax Status Nilai Akreditasi

: : : : : : : : : : :

SMK N 11 SEMARANG 551036304001 20328963 A Jl. Cemara Raya Banyumanik Semarang 50267 Padangsari Banyumanik Kota Semarang Jawa Tengah www.smkn11smg.net / smkn11smg@yahoo.co.id : (024) 7472008/Fax. (024) 7472008 : Sekolah Negeri : A

2. Sejarah SMK Negeri 11 Semarang SMK N 11 Semarang adalah salah satu sekolah menengah kejuruan negeri di Jawa Tengah yang mengembangkan Program Studi Keahlian; Teknik Grafika dan Teknik Komputer dan Informatika (TKI). Kompetensi Keahlian yang ada meliputi : 1. Persiapan Grafika (Pre Press) 2. Produksi Grafika (Press & post Press) 3. Multimedia 4. Animasi.

Sekolah ini didirikan pada tahun 1990, berdasarkan Keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor : 0389/0/1990 dengan nama SMT Grafika Negeri Semarang dan mendapat NNS : 551036304001. Pada tahun 1997 berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor : 036/0/1997 tentang perubahan nomor klatur SMKTA menjadi SMK, SMT Negeri Grafika Semarang berubah menjadi SMK N 11 Semarang hingga sekarang. Perkembangan terkini SMK N 11 Semarang termasuk dalam kelompok SMK SBI INVEST (Sekolah Bertaraf Internasional Indonesian Vocational Education Strengtening). Untuk Kompetensi Keahlian Persiapan Grafika dan Produksi Grafika pada tanggal 13 Oktober 2006 telah terakreditasi dengan nilai A, sedangkan Kompetensi Keahlian Multimedia pada tanggal 12 Desember 2007 juga terakreditasi dengan nilai A. Perkembangan terkini SMK N 11 Semarang termasuk dalam kelompok SMK SBI INVEST (Sekolah Bertaraf Internasional Indonesian Vocational Education Strengtening) dan bersertifikat ISO 9001 : 2000 dengan nomor ; 01 100 075842.

3. Visi dan Misi SMK Negeri 11 Semarang a. Visi Mewujudkan SMK yang mampu menciptakan sumber daya manusia yang professional dan berbudi pekerti luhur b. Misi 1. Menjadi SMK yang mandiri. 2. Menyiapkan tenaga terampil di Bidang Grafika. 3. Menyiapkan tenaga terampil di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Multimedia dan Animasi) 4. Membentuk tamatan yang berkepribadian unggul dan mampu mengembangkan diri. 5. Menyiapkan wirausahawan yang handal dan professional

4. Kebijakan Mutu 1. SMK Negeri 11 Semarang bertekad untuk memberikan layanan pendidikan yang mampu menghasilkan tamatan yang profesional dan berbudi pekerti luhur 2. Meningkatkan optimalisasi sumber daya sekolah, khususnya pada tiap program keahlian, sehingga akan tercipta lingkungan pendidikan yang edukatif, kompetitif dan kekeluargaan 3. Melakukan perbaikan-perbaikan secara berkesinambungan di setiap aspek sekolah untuk meningkatkan dan menjaga mutu sekolah yang inovatif, kompetitif, partisipatif, dan akuntabel 4. Untuk mewujudkan kebijakan diatas, Kepala Sekolah, Guru dan seluruh warga sekolah memiliki komitmen yang kuat dalam menjaga konsistensi pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000 yang telah diperbaharui dengan ISO 9001:2008.

5. Tujuan Bimbingan Konseling SMK Negeri 1 Semarang a. membantu peserta didik (siswa asuh) SMK Negeri 11 Semarang dalam memandirikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. b. membantu peserta didik (siswa asuh) SMK Negeri 11 Semarang dalam mewujudkan kehidupan efektif sehari-hari (KES). c. membantu peserta didik (siswa asuh) SMK Negeri 11 Semarang : memiliki keyakinan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya memiliki nilai dasar humaniora untuk menerapkan

kebersamaan dalam kehidupan menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik serta beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan dan atau berkarya

mengalih gunakan kemampuan akademik dan keterampilan berkarya untuk berkeluarga di masyarakat lokal, nasional, regional, dan internasional

menghargai dan berekspresi seni mengembangkan pola hidup berdasarkan nilai-nilai

kebersihan, kesehatan rohani, dan kebugaran jasmani berpartisipasi dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dan memiliki pemahaman dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan tinggi/lanjut dan mampu memilih jenis jurusan serta fakultas yang diinginkan sesuai kemampuan, bakat, dan minat yang dimilikinya.

5. Struktur organisasi

Keterangan Kepala Sekolah Koordinator BK Staff BP/BK : Drs. H. Ahmad Ishom, M.Pd : Budi Utoyo, S.Psi : 1. Hendri Putro W, S.Pd. 2. Siti Nurhayati, S.Pd 3. Nugrahaning Dyah R, S.Psi 4. Diana Ismawati P, S.Psi 5. Nizar Rahmawanty, S.Psi 6. Tutik Kartiningsih, S.Psi 7. Sudi Harzuni, S.Pd

C. Perumusan Masalah 1. Apakah layanan BK di SMK Negeri 11 Semarang sudah terlaksana secara optimal? 2. Bagaimanakah koordinasi yang terjalin diantara pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling di SMK Negeri 11 Semarang? 3. Kendala apa yang ada dalam pelaksanaan BK di SMK Negeri 11 Semarang? 4. Anggaran untuk pelaksanaan BK diperoleh dari mana?

BAB II TEMUAN HASIL PENDATAAN

A. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SMK Negeri 11 Semarang

Kegiatan bimbingan dan konseling di SMK Negeri 11 Semarang dilaksanakan dalam bentuk kontak langsung melalui proses

pembelajaran/pembimbingan klasikal di kelas secara terjadwal yaitu 1 jam (45 menit)/minggu baik kelas X, XI, maupun XII. Disamping itu juga melalui tatap muka langsung di ruang bimbingan secara individual maupun kelompok baik klien yang datang sendiri maupun Guru Pembimbing menggunakan hak panggil. Kegiatan tanpa kontak langsung melalui informasi brosur, kunjungan rumah, konferensi kasus maupun alih tangan kasus. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan program tahunan, program bulanan, program mingguan, dan program harian yang dibuat oleh guru BK dan disahkan oleh kepala sekolah. Untuk program tahunan, materi bidang pengembangan yang dimasukan didalamnya adalah bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir. Kegiatannya juga meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan penyaluran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layananan

komunikasi, layanan mediasi, aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Sebagian besar, yang dipermasalahkan siswa tersebut adalah seputar kelanjutan sekolah di perguruan tinggi dan keluhan-keluhan selama belajar di kelas. Menurut keterangan yang didapat, siswa memang sebagian besar melakukan konseling pada jam istirahat ataupun sebelum masuk sekolah

dan juga setelah pulang sekolah. Bisa juga pelaksanaan konseling dilakukan di luar sekolah seperti di rumah siswa yang bersangkutan ataupun rumah guru BK itu sendiri.

B. Sarana Prasarana

Kebutuhan sarana prasarana bimbingan dan konseling di SMK Negeri 11 Semarang sudah mendekati ideal. Sarana prasarana tersebut antara lain : 1. Ruang bimbingan konseling ukuran 7x7 meter terdiri dari : Ruang konseling individu jumlah 2 ruang, dimana setiap ruang terdapat : a. Meja b. Kursi c. Lemari Ruang konseling kelompok Ruangan ini hanya ada 1 dan terletak di tengah ruang BK dimana dilengkapi dengan meja berukuran yang cukup besar daripada yang berada di ruang konseling individu. Di meja ini dilengkapi dengan brosur-brosur universitas. Disinilah juga informasi terbaru dari perguruan tinggi diperoleh. Sehingga banyak siswa kelas XII yang datang bersama-sama untuk melihatnya, seperti yang saya amati ketika saya observasi ke sana. Ruang administrasi Ruang ini digunakan untuk mendukung pelaksanaan himpunan data dan berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi bimbingan konseling. Ruang ini dilengkapi dengan komputer, lemari, dan kursi. Ruangan ini bisa juga digunakan siswa seperti untuk pendaftaran perguruan tinggi. Karena akhir-akhir ini, sebagian besar perguruan tinggi melakukan pendaftaran secara online, dalam hal ini guru BK bisa membantu siswa sekaligus

sehingga pendaftaran bisa lebih cepat daripada dilakukan sendiri oleh siswa.

2. Ruang kerja masing-masing guru pembimbing ditata dengan sistem kotak, dimana guru pembimbing berada di ruangan terpisah dengan personel sekolah lainnya atau berada dalam kotaknya sendiri sehingga lebih kerjanya lebih efektif juga dapat mendukung penerapan asas-asas BK agar lebih terjamin.

3. Prasarana yang dibutuhkan tercukupi antara lain : Buku pribadi siswa Komputer / Laptop Kursi tamu Meja kursi guru pembimbing Meja kursi untuk bimbingan individu/kelompok Lemari / loker Book keper TV Papan bimbingan Alat ungkap (ITP, ATP,DCM,IKMS)

C. Hasil Observasi dan Wawancara 1) Program Kerja Bimbingan dan Konseling Program kerja BK yang ada pada SMK Negeri 11 Semarang dibuat berdasarkan kebutuhan tiap tiap kelas, sehingga masing-masing kelas memiliki program kerja yang berbeda-beda. Program kerja disusun oleh guru BK yang mengampu pada kelas yang bersangkutan. Tiap guru akan mendata kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan kemudian setelah data yang didapat terkumpul maka adak dimasukkan kedalam komputer untuk dihitung sehingga didapatkan prioritas kebutuhan apa saja yeng tergolong

rendah,sedang, tinggi atau pun segera untuk dilakukan. Program kerja dibuat dalam tahunan, bulanan, mingguan dan harian.

2) Anggaran dan sumber dana untuk BK Untuk peningkatan dan pengembangan BK ada beberapa sumber dana. Pertama yaitu sumber dana dari sekolah, kedua dari luar yaitu institusi yang bekerjasama dengan SMK Negeri 11 Semarang, misalnya dari universitas yang bekerja sama tersebut akan memberikan cashback apabila ada dari siswa SMK Negeri 11 yang diterima di institusi atau universitas tersebut. Besarnya cashback tergantung dari kesepakatan yang dileh disetujui atau dibuat sebelumnya. 3) Kegiatan Pendukung Kegiatan pendukung agar bimbingan konseling yang ada berjalan dengan sesuai maka pada SMK negeri 11 Semarang ini sebelum pembuatan program kerja maka akan dilakukan tes kebutuhan terlebih dahulu. Selain itu di SMK Negeri 11 Semarang ini memiliki beberapa alat ungkap atau instrument yang berguna dalam mengetahui psikologis tiap siswa, seperti Inventori Tugas Perkembangan (ITP), Analisis Tugas Perkembangan (ATP), Daftar Cek Masalah (DCM), dan Identifikasi Kebutuhan dan Permasalahan Siswa (IKMS). 4) Pihak yang terlibat dalam Bimbingan dan Konseling Selain guru BK, dalam pelaksanaan bimbingan konseling di SMK Negeri 11 Semarang juga melibatkan beberapa pihak seperti guru mata pelajaran, wali kelas, kepala sekolah, dan juga dengan TU ( Tata Usaha). Untuk guru mata pelajaran berkaitan dengan perkembangan siswa dalam memahami pelajaran. Wali kelas berperan dalam membantu mengumpulkan data tentang siswa. Jadi setiap wali kelas memiliki data-data pribadi siswa yang berkaitan dengan latar belakang, prestasinya, dan kondisi belajar di kelas. Selain itu, bersama dengan guru BK, kepala sekolah ikut serta

10

melaksanakan konferensi. Bersiap untuk menerima alih tangan masalah siswa dari guru bidang studi ataupun melakukan alih tangan kepada guru BK bilamana masalah yang dialami siswa sudah tidak bisa ditanganai oleh wali kelas. Kerja sama dengan Tata Usaha (TU) berkaitan dengan beasiswa atau SPP, misalnya siswa tersebut sudah membayar SPP atau belum, atau bila siswa tersebut kurang mampu maka akan mendapatkan bantuan atau beasiswa. Dukungan kepala sekolah dalam implementasi dan penanganan program bimbingan dan konseling di sekolah sangat esensial. Hubungan antara kepala sekolah dan unsur sekolah yang lain sangat berperan penting dalam menentukan keefektifan program BK. Kepala sekolah selaku penanggungjawab seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, juga sebagai anggota dewan pembimbingan yang merupakan petugas utama dalam organisasi dan administrasi program bimbingan memegang peranan penting dan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan, baik sebagai pimpinan sekolah, maupun sebagai dewan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Kepala sekolah mempunyai dua fungsi utama dalam program bimbingan dan konseling di sekolah, yakni : 1. Dalam Mengatur Organisasi Bimbingan Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah secara otomatis memimpin sekolah, sekaligus menyusun dan mengatur program bimbingan konseling, yang dimasukkan ke dalam pelaksanaan program, dan konseling sedemikian rupa agar program tersebut dapat bersatu dan terlaksana bersamaan dengan program pendidikan. Penyusunan itu bisa dengan cara memasukkan informasi-informasi yang ada pada program bimbingan dan konseling dalam pelajaranpelajaran sekolah atau bisa juga dengan mengatur jam-jam khusu untuk program bimbingan dan konseling. Sebagai pimpinan dan juga anggota administrasi sekolah, kepala sekolah juga menyediakan fasilitas dan perlengkapan, diantaranya ruang bimbinga, blangko-

11

blangko, catatan kumulatif, dan sebagainya yang berkenaan dengan program bimbingan dan konseling. Menyediakan ruangan khusus serta perlengkapan bagi pelaksanaan layanan konseling dan mengadakan bahan-bahan lainnya yang diperlukan. 2. Dalam Mengatur Proses Supervisi Kepala sekolah bertanggung jawab dalam program-program penilaian, penelitian dan perbaikan atau peningkatan layanan

bimbingan dan konseling. Ia membantu mengembangkan kebijakan dan prosedur-prosedur bagi pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolahnya. Selain itu, kepala sekolah juga melakukan pengawasan dengan mengamati setiap proses pembelajaran di kelas. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi program layanan yang telah dijalankan, sehingga selalu ada perubahan menuju ke arah yang lebih baik untuk program besoknya. 5) Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan BK Kendala kendala yang dihadapi oleh guru bimbingan dan konseling di SMK Negeri 11 Semarang antara lain : a. Dengan guru mata pelajaran Setiap guru mata pelajaran memiliki sifat dan karakter masing masing, maka guru BK harus dapat memahami perbedaan karakter tersebut agar tidak terjadi konflik interes dengan siswa itu sendiri maupun konflik dengan teman sejawat. Sehingga posisi BK yaitu ditengah-tengah atau netral.

12

6) Dokumen terkait hasil observasi

13

BAB III KAJIAN TEORI

Program bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya guru pembimbing maupun berbagai aspek yang terlingkup dalam program merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan. Tafsiran yang mempersamakan konseling dengan kegiatan mengajar, akan menyerahkan tanggung jawab konseling itu sepenuhnya kepada guru, sedangkan peranan konselor itu sepenuhnya kepada guru, sedangkan peranan konselor hanya mengkoordinasikan pelayanan konseling dan penyelenggaraan latihan bagi guruguru mengenai pelayanan konseling di sekolah yang bersangkutan. (Miller, 1961:171). Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa konseling itu dapat dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai keahlian khusus sebagai konselor. Mereka hanya mengemukakan beberapa syarat tertentu yang tidak terlalu mengikat. C.G Wrenn berpendapat bahwa : Konseling adalah relasi pribadi yang dinamik antara dua orang yan g berusaha memecahkan sebuah masalah dengan mempertimbangkannya bersamasama, sehingga pada akhirnya orang yang lebih muda atau orang yang mempunyai kesulitan yang lebih banyak di antara keduanya, dibantu oleh yang lain untuk memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan diri sendiri (Wrenn, 1951: 59). J.P Adams mengemukakan batasan konseling sebagai berikut : Konseling adalah relasi timbal balik diantara dua orang individu, dimana yang seorang (ialah konselor berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan masalahmasalah yang dihadapinya pada saat ini pada waktu yang akan datang. (Adam, 1965 :1).

14

Menurut W.W. Dyer dan J.Vriend (1997 :18-20) mengemukakan ciri-ciri konseling sebagai berikut : a. Keberhasilan konseling ditandai oleh adanya perubahan positif pada diri konseli. b. Konseli merupakan pihak yang paling penting diantara mereka yang terlibat dalam konseling. c. Konselor tidak dapat berbuat hanya dengan kemampuan yang dimilikinya secara alamiah menurut gayanya sendiri, melainkan perlu menggunakan kemampuan yang dipelajarinya secara sengaja. d. Konseling merupakan pekerjaan yang sulit tetapi bermanfaat, yang dilakukan oleh dua orang individu dalam suatu relasi khusus. e. Ada hubungan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan yang dilakukan. f. Konselor adalah seorang yang terampil dalam melakukan kegiatan bantuan dan melakukan relasi antara pribadi. Apabila ia tidak mampu untuk itu, maka ia tidak akan produktif, bahkan akan berbahaya bagi konseli. g. Perubahan tingkah laku konseli yang berlangsung dengan sendirinya itu bukanlah merupakan sesuatu yang misterius, melainkan suatu proses yang wajar. h. Setiap konseli hidup dalam dunianya sendiri, dalam jalan pikirannya sendiri. Data mengenai konseli adalah unik, pribadi, dan mempunyai arti dan nilai pribadi yang khusus pula. Pendidikan di sekolah menengah kejuruan merupakan lanjutan dari pendidikan di sekolah menengah pertama, dan permulaan bagi pendidikan dan kehidupan selanjutnya. Sebagai sekolah lanjutan, maka sekolah menengah pertama hendaknya dapat meningkatkan dasar-dasar perkembangan yang telah dicapai di sekolah menengah kejuruan. Dan sebagai persiapan bagai pendidikan dan kehidupan, maka sekolah menengah hendaknya dapat mempersiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan terjun ke dalam masyarakat.

15

Kehidupan sosial di sekolah menengah kejuruan ditandai dengan kehidupan interaksi sosial yang lebih luas dan heterogen jika dibandingkan dengan situasi di sekolah dasar. Di samping itu sekolah menengah kejuruan merupakan persiapan ke arah spesialiasi dalam bidang akademis dan profesi. Dalam perkembangan intelektual, pada masa remaja terjadi perkembangan dan kematangan intelektual, dan hal ini berkaitan erat dengan perkembangan berpikir. Dari sudut perkembangan karir, masa remaja sedang berada pada tahap pemilihan karir yang bersifat tentatif pada tingkat SMP yang kemudian menuju pemilihan yang realistik pada tingkat SMK. Dari uraian di atas maka layanan bimbingan di sekolah menengah kejuruan mempunyai peranan yang sangat penting. Dengan adanya diferensiasi perkembangan dan spesialisasi akademis, maka perhatian kepada aspek pribadi siswa tidak dapat dilakukan sepenuhnya oleh para guru. Oleh karena itu, diperlukan pihak tertentu yang dapat memberikan bantuan terhadap aspek-aspek pribadi tertentu yang dapat memberikan bantuan terhadap aspek-aspek pribadi tertentu khususnya aspek nonintelektual. Pihak yang dimaksud adalah petugas bimbingan. Hal ini berarti bahwa layanan bimbingan di sekolah menengah kejuruan harus diprogram secara khusus dan terarah. Sherter dan stone (1980) telah mengkonseptualisasikan dan

mengkategorisasikan tujuan-tujuan konseling sebagai suatu sistem klasifikasi dengan tiga jenis yaitu tujuan yang bersifat kognitif, tujuan yang bersifat afektif, dan tujuan yang bersifat tingkah laku yang nampak.

16

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara di atas, SMK N 11 Semarang telah memiliki program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada para siswa. Sekolah ini juga dilengkapi dengan ruang BK, yang terdiri dari 2 ruang konseling individu, dan 1 ruang konseling kelompok. SMK N 11 Semarang memiliki 1 orang Koordinator BK yaitu Budi Utoyo, S.Psi dan memiliki 7 guru Bimbingan dan Koseling, yaitu Hendri Putro W, S.Pd, Siti Nurhayati, S.Pd, Nugrahaning Dyah R, S.Psi, Diana Ismawati P, S.Psi, Nizar Rahmawanty, S.Psi, Tutik Kartiningsih, S.Psi, Sudi Harzuni, S.Pd. Jenis program pelayanan BK di SMK N 11 Semarang antara lain program tahunan, program semesteran, program bulanan, program mingguan, dan program harian. Program tahunan meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas, program semesteran meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan, program bulanan meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran, program mingguan meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan, dan program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. Penyusunan/ pembuatan program pelayanan Bimbingan dan

Konseling di SMK N 11 Semarang didasarkan pada kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Substansi program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor. Adapun secara umum program BK tersebut untuk memberikan bimbingan dan pelayanan terhadap siswa baik bimbingan pribadi, belajar, sosial dan karier. Jenis layanannya meliputi layanan orientasi,

17

informasi,

penempatan,

penyaluran,

penguasaan

konten,

konseling

perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi. Adapun kegiatan pendukungnya meliputi himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan kepustakaan, dan alih tangan kasus. SMK N 11 Semarang menggunakan pola 17+ dalam pelayanan BK. Perencanaan pelayanan BK mengacu pada program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, harian. Di lihat dari kondisi tersebut pihak sekolah telah berpartisipasi aktif dan berusaha untuk meengkapi fasilitas agar bisa melayani siswa dan membantu siswa memcahkan masalahnya. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait. Pelaksanan kegiatan pelayanan BK dilaksanakan didalam jam pembelajaran dan diluar jam pembelajaran sekolah. Di SMK N 11 Semarang pelaksanaan layanan BK sudah cukup berjalan lancar. Pelaksanaan layanan klasikal sudah berjalan sesuai program karena ada jam masuk kelas. Untuk jenis layanan yang lain menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Pelayanan BK sejauh ini berjalan jika siswa mempunyai masalah saja baru konsultasi ke BK. Fenomena yang terjadi, BK ramai saat menjelang ujian akhir nasional/ saat kelas XII akan meninggalkan Sekolah menengah kejuruan dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Banyak siswa berbondong-bondong mencari informasi tentang perguruan tinggi yang bagus. Bahkan hampir setiap hari mereka ke ruang BK. Terutama pada saat jam istirahat, atau pada saat kelas mereka kosong. Ada juga yang berkonsulatasi setelah lulus SMK mau meneruskan sekolah atau memilih untuk bekerja. Banyak terjadi di sekolah-sekolah, BK hanya ramai pada saat dan kondisi tertentu. Disinilah peran BK muncul. BK membantu mengembangankan kehidupan pribadi, perencanaan dan

pengembangan karir, serta fungsi pengentasan. Semua kegiatan tidak dapat terlaksana dengan sempurna, pasti dalam pelaksanaannya terdapat kendalakendala, seperti halnya pelaksanaan pelayanan BK di SMK N 11 Semarang.

18

Kendala yang dihadapi, masih banyak siswa yang malu konsultasi/ konseling ke BK secara sukarela dan bila home visit ke rumah siswa, terhambat dengan berbagai kondisi, seperti waktu dan medan. Ada siswa yang rumahnya jauh dan kadang kala masih sulit mencari waktu antara siswa dan pihak sekolah untuk bisa mengadakan bimbingan dan konsultasi. Masih ada bapak, ibu guru dan siswa yang beranggapan bahwa BK seperti polisi di sekolah. Orang tua ataupun siswa biasanya menganggap peran guru bimbingan dan Konseling adalah menangani siswa yang bermasalah saja, padahal tugas dan peran guru Bimbingan dan Konseling bukan hanya menyelesaikan masalah siswa yang bermasalah.. Kesalahpahaman yang beredar di kalangan siswa masih sulit untuk di hilangkan. Butuh proses untuk menghilangkan kesalahpahamn-kesalahpahaman tersebut. Pihak Bk harus pandai-pandainya mencari cara agar siswa tidak beranggapan seperti itu. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam analisis adalah menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan, baik keberhasilan dari segi proses maupun hasil. Keberhasilan proses dapat dilihat dari respon dan keterlibatan siswa dalam mengikuti kegiatan. Sedangkan keberhasilan hasil dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan perilaku siswa sebelum mengikuti dan setelah mengikuti kegiatan. Berikut ini dijabarkan beberapa kondisi yang sesuai dengan kegiatan yang telah terprogram dalam program tahunan, semseteran, bulanan, mingguan, dan harian . Persiapan Pelaksanaan Program Persiapan pelaksanaan program yang telah dirancang dalam program di sekolah telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan nyata. Hal ini dibuktikan dengan selalu disiapkannya satuan layanan/kegiatan setiap minggunya untuk menjadi acuan dalam membimbing di kelas. Sarana penunjang dengan berbagai alat dan perlengkapannya sudah termasuk lengkap. Selain itu, layanan ini sudah termasuk efektif karena para pelaksanaanya, dalam hal ini guru pembimbing selain mempersiapkan

19

layanan di belakang meja, juga terjun langsung di lapangan menemui objek atau subjek yang akan menjadi sasaran layanan/kegiatan. Hasil observasi saya lah yang menjadi bukti, bahwa banyak murid yang dengan kesadaran dirinya datang menemui pembimbing dan menceritakan keluh kesahnya di sekolah. Hal ini tidak mungkin terjadi jika guru pembimbing hanya duduk diam di meja saja, tentunya sebelumnya beliau sudah mampu melakukan pendekatan pribadi ke tiap-tiap siswa, sehingga siswa sudah merasa nyaman dengan beliau. Konsep dasar bimbingan dan konselingpun tentunya sudah dipahami dan didalami oleh guru pembimbing, karena proses pendekatan itu sendiri tidak akan berhasil jika konsep ini belum bisa didalami. Robinson dan Mahan,Demos juga mengungkapkan bahwa seorang konselor harus efektif dalam memelihara dan berafiliasi dengan konseli sehingga siswa sukarela menyampaikan masalahnya kepada konselor.

Rasio perbandingan konselor dan siswa Beban konselor di sekolah yang dihadapkan dengan kurang lebih 150 siswa belum mengalami pemerataan. Pelaksanaan bimbingan klasikal dengan jumlah siswa yang terlalu banyak berkesan kurang efektif, karena konselor tidak akan bisa menyelami karakteristik siswa dalam kondisi tersebut. Tetapi, di lingkup SMK N 11 Semarang sendiri, banyak siswanya yang atas kesadarannya sendiri menghampiri guru BK untuk berkonsultasi ataupun hanya sekedar bercerita mengenai kondisi belajar di kelas atau di rumah. Dengan kata lain jarak antara pembimbing dan siswa sangatlah dekat. Jadi asas-asas bimbingan konseling seperti keterbukaan,

kesukarelaan sudah berjalan di sana.

Pelaksanaan Layanan konsultasi Pelaksanaan Layanan konsultasi sudah berjalan dengan efektif. Di sekolah sepertinya pandangan akan konselor sebagai polisi sekolah sudah tidak berlaku lagi. Karena menurut penuturan pembimbing di sana,

20

bukanlah tugas BK untuk menghakimi dan memberi punishment siswa yang melanggar tata tertib atau melanggar norma yang berlaku. Tugas BK adalah mengarahkan agar siswa bisa sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Pelaksanaan ini sudah sesuai dengan prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan BK, yakni Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu

membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan. Seseorang yang dipaksakan mempelajari pelajaran-pelajaran yang tidak seimbang dengan kemampuannya, tidak sesuai dengan minat-minat dan apa-apa yang dibutuhkannya, akan mengalami kesukara-kesukaran dalam proses-proses pendidikannya. Prestasi menjadi tidak optimal. Bahkan jika sudah memasuki ranah pekerjaan, sering kali siswa itu sering kali ragu-ragu dan tidak tahu apa yang akan dikerjakannya lebih lanjut.

Pelaksanaan Konseling Individual Pelaksanaan konseling individual sudah optimal terutama dengan adanya ruang konseling individual. Sehingga pada proses konseling siswa akan merasa lebih nyaman sehingga sikap siswa sebagai konseli akan lebih terbuka atas permasalahan yang dialaminya. Kemudian, seperti yang saya dapatkan selama observasi ada daftar hadir dan juga peta siswa yang dibuat sebagai himpunan data bagi pembimbing. Akan tetapi, data yang ada tidak bisa ditunjukkan kepada saya. Hal ini menunjukkan bahwa asas kerahasiaan benar-benar telah dilaksanakan dengan baik di sana.

Pelaksanaan Pengarahan Bakat, Minat Siswa Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa setiap awal tahun selalu diadakan tes bakat dan minat siswa. Seperti yang kita ketahui, bahwa hal tersebut termasuk salah satu layanan bimbingan belajar yaitu untuk mengetahui kemampuan dasar siswa. Atau dengan begitu layanan dalam bidang bimbingan pribadi sudah terpenuhi. Jadi dengan mengetahui kemampuan dasar siswa tersebut, kita bisa melakukan pemantapan

21

pemahaman kepada siswa tentang bakat dan minat pribadi mereka serta penyaluran dan pengembangannya melalui kegiatan yang kreatif dan produktif. Model layanan semacam ini, sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh William M. Proctor dimana model bimbingannya mengenalkan dua fungsi yaitu fungsi penyaluran dan fungsi penyesuaian menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa untuk menyalurkan kemampuan, bakat, minat, dan cita-cita siswa.

Pembinaan Oleh Guru Mata Pelajaran Berdasarkan informasi dari guru mata pelajaran, walaupun beliau memiliki waktu yang singkat dalam mengajar tapi beliau selalu menyelingi dengan motivasi-motivasi membangun agar suasana belajar tidak membosankan dan juga agar semangat siswa selalu stabil. Selain itu, sistem ulangan harian yang dilakukan guru mata pelajaran untuk mengevaluasi siswa juga menjadi langkah yang tepat dan sesuai dengan fungsi bimbingan konseling yaitu fungsi pengentasan. Sesuai dengan fungsi pengetasaan, karena dengan mengetahui hasil dari ulangan harian pertama akan menjadi bahan koreksi dalam pembelajaran berikutnya, apakah harus mengganti metode pengajaran ataupun dengan memberi motivasi tersendiri bagi siswa-siswa yang mendapatkan nilai kurang baik.

22

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penyusunan/

pembuatan

program

pelayanan

Bimbingan

dan

Konseling di SMK N 11 Semarang didasarkan pada kebutuhan peserta didik yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Pelaksanaan layanan BK di SMK N 11 Semarang juga tergolong cukup berjalan lancar. Pelaksanaan layanan klasikal sudah berjalan sesuai program karena ada jam masuk kelas. Untuk jenis layanan yang lain menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan Bk

adalah masih banyak siswa yang malu konsultasi/ konseling ke BK secara sukarela dan bila home visit ke rumah siswa, terhambat dengan berbagai kondisi, seperti waktu dan medan. Masih ada bapak, ibu guru dan siswa yang beranggapan bahwa BK seperti polisi di sekolah. Jenis program Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan

konseling di SMK Negeri 11 Semarang tidak lepas dari peranan berbagai unsur yang ada di sekolah. Selain guru pembimbing atau konselor sebagai pelaksana utama, bimbingan di sekolah juga perlu melibatkan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran, Karyawan Tata Usaha, Orang Tua Siswa, maupun seluruh siswa. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab dalam pelaksanaan BK di sekolah perlu mengetahui dan memeriksa semua kegiatan yang dilakukan oleh guru mata Pelajaran, Wali Kelas, dan guru pembimbing. Tugas-tugas dari pengurus atau staf di sekolah terutama guru mata pelajaran berjalan lancar sehingga proses bimbingan dan konseling dapat berjalan secara maksimal. Target-target yang ingin dicapai terlaksana dengan baik sehingga layanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat berkembang.

23

B. Rekomendasi Bagi Sekolah SMK N 1 Semarang

Faktor kesibukan guru kelas dimana waktu di sekolahnya yang cukup padat dalam mengajar, sehingga kesulitan dalam mengatur waktu dalam pelaksanaan bimbingan bagi siswa. Karena harus memperhatikan kesiapan dari kedua belah pihak untuk menyamakan jadwal yang kosong. Selain itu, dibutuhkan metode-metode yang inovatif untuk mengenalkan program kegiatan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa sehingga paradigma bahwa hanya siswa yang bermasalah yang berususan dengan guru BK bisa dihilangkan.

24

DAFTAR PUSTAKA Zikri Neni Iska, 2011, Pengantar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Kizi Brothers Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta, Remaja Rosdakarya,2006 Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007 McLeod, John. 2006. An Introduction to Counselling. (Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus cetakan ke -3 ). Jakarta : Kencana. Mugiarso, Heru. 2011. Bimbingan dan Konseling. Semarang : Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 Prayitno,H. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta. Priyatno, H.,Anti, Erman. 2005. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Surya.Mohamad, Dasar-Dasar Penyuluhan (Konseling). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi: Jakarta.1988.

25

LAMPIRAN

Program Kerja Bimbingan dan Konseling

26

Rencana Materi Pelayanan BK

27

28

29

DOKUMENTASI

Wawancara dengan Pak Budi Utoyo, S.Psi

Ruangan khusus konseling individu

30

Loker loker khusus untuk menyimpan data

31

Anda mungkin juga menyukai