Anda di halaman 1dari 4

Imunisasi DPT Combo a.

Pengertian Menurut Ranuh (2005), Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu sehingga tidak terserang penyakit tersebut dan apabila terserang penyakit tersebut tidak berakibat fatal. Menurut Ranuh (2005), Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga apabila kelak terjadi ia terpajang pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit Pemerintah menciptakan vaksin kombinasi Difteri, Pertusis, Tetanus dan Hepatitis B yang disebut vaksin DPT Combo. Vaksin ini lebih efisien, praktis, ekonomis dan aman. Dengan demikian cakupan imunisasi akan lebih mudah dan cepat tercapai. Vaksin DPT Combo dibuat dari toksin untuk tetanus dan difteri, bakteri yang dilemahkan untuk pertusis dan rekayasa genetika dari DNA Recombinan untuk hepatitis B (Depkes,2008). Difteria adalah suatu penyakit mendadak oleh kuman corynebacterium diphteriae. Penyebarannya adalah melalui kontak fisik dan pernafasan. Pertusis adalah penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Penyebarannya adalah melalui percikan ludah (droplet infection) yang keluar dari batuk atau bersin. Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke orang tetapi melalui kotoran yang masuk ke dalam luka. Hepatitis B (penyakit kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penularan penyakit adalah dari darah, suntikan yang tidak aman saat transfusi darah, dan hubungan seksual. b. Tujuan

Imunisasi DPT Combo adalah imunisasi yang bertujuan untuk mencegah 4 penyakit sekaligus, yaitu dipteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B.

c. Cara pemberian Cara pemberian imunisasi DPT Combo adalah melalui injeksi intramuscular. Suntikan diberikan pada paha tengah luar secara intramuscular dengan dosis d. Tanda dan Gejala Penyakit Difteri memiliki beberapa gejala seperti demam lebih kurang 380C, mual muntah, sakit waktu menelan dan terdapat putih keabu-abuan di faring, laring atau tonsil, leher membengkak seperti leher sapid dan sesak nafas disertai bunyi (stridor) (Depkes,2006). Pertusis memiliki tanda dan gejalanya adalah batuk, pilek dengan hidung berair dan disertai panas, batuk tidak hilang walaupun minum obat. Batuk lebih sering pada malam hari, batuk terjadi beruntun dan pada akhir batuk menarik nafas panjang terdengar suara hup (whoop) yang khas, biasanya disertai muntah (Depkes,2006). Tetanus memiliki gejala kejang-kejang baik pada tubuh maupun otot mulut sehingga mulut tidak bisa dibuka, sulit menelan dan kekakuan pada leher dan tubuh. Tanpa pengobatan yang tepat dan segera anak dapat meninggal (Depkes,2006). 0,5 cc

Hepatitis B pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada adalah merasa lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu. Urine menjadi kuning, dan kotoran menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat jelas pada mata ataupun kulit.

e. Efek samping

Pemberian imunisasi DPT Combo memberikan efek samping ringan dan berat, efek ringan seperti terjadi pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan dan demam, sedangkan efek berat yaitu bayi menangis hebat karena kesakitan selama kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, kejang, shock. 1. Demam Kebanyakan anak akan menderita demam pada sore hari setelah mendapat imunisasi DPT Combo, tapi panas ini akan sembuh 1 2 hari. Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat. 2. Rasa sakit di daerah suntikan Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak. 3. Peradangan Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril karena sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak steril, sterilisasi kurang lama, dan pencemaran oleh kuman. f. Indikasi Alergi terhadap mono vaksin, misalnya makanan dan obat-obatan. g. Kontraindikasi Kelainan neurologis dan terlambat tumbuh kembang, anak yang sakit, ada riwayat kejang, penyakit degeneratif, pernah sebelumnya divaksinasi DPT Combo menunjukkan: anafilaksis, ensefalopati, kejang, renjatan, hiperpireksia, tangisan/teriakan hebat (Depkes,2002). h. Jadwal dan umur pemberian

Pemberian vaksin DPT Combo dilakukan tiga kali mulai bayi umur 2 bulan sampai 12 bulan dengan interval 4-6 minggu. Imunisasi ini diberikan 3 kali karena pemberian pertama antibodi dalam tubuh masih sangat rendah, pemberian kedua mulai meningkat, dan pemberian ketiga diperoleh cakupan antibodi. Daya proteksi vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-90 %, daya proteksi vaksin tetanus 90-95%, akan tetapi daya proteksi vaksin pertusis masih rendah yaitu 50-60%. Oleh karena itu anak-anak masih berkemungkinan untuk terinfeksi batuk seratus hari atau pertusis, tetapi lebih ringan (Depkes,2002). Jadwal Pemberian Imunisasi DPT Combo : DPT Combo I : Diberikan mulai umur 2 bulan. DPT Combo II : Interval 4-6 minggu setelah DPT Combo I. DPT Combo III : Interval 4-6 minggu setelah DPT Combo II. i. Kekebalan Tidak ada vaksin yang bisa 100 persen melindungi atau menimbulkan kekebalan. DPT Combo misalnya, punya daya lindung sekitar 80-90 persen. Jadi masih ada 10-20 persen yang tak terlindung. Di sisi lain, bukan berarti jika imunisasi DPT Combo I tidak menimbulkan demam lalu harus segera diulang lagi. Pengulangan baru bisa dilakukan sekurang-kurangnya 1 tahun sejak pemberian terakhir DPT Combo dasar. Jadi, tetap harus melewati tahap DPT Combo II dan III dulu (Depkes,2002).