Anda di halaman 1dari 56

ALUR PASIEN ICU

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

ALUR PASIEN MASUK DAN KELUAR ICU RS LAIN INSTALASI RAWAT JALAN UGD INSTALASI RAWAT INAP

EVALUASI OLEH DOKTER ICU Diantar INDIKASI ( - ) DITOLAK MASUK ICU Dijemput Baik Indikasi keluar ( + ) Status Quo / Vegetatif Meninggal Dijemput TETAP DIRAWAT / RUJUK / PULANG APS KAMAR JENAZAH PINDAH RUANG

MASUK ICU KELOLA INTENSIF : Pengobatan dan perawatan intensif Dokter ICU ( Intensifis ) Perawat Mahir Konsultan ( Konsultatif ke SMF lain )

Catatan : Diantar / dijemput s/d pintu keluar / masuk ICU Pasien dari luar mengikuti ketentuan dari Rumah Sakit

PENERIMAAN PASIEN ICU

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di ICU yang mengalami kegawatan. Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu waktu agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan pemantauan intensif sesuai dengan kondisi yang dialami pasien. 1. 2. 3. Pasien dirawat di ICU harus memenuhi persyaratan / indikasi yang telah ditentukan. Dokter jaga ICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi tersebut. Penolakan pasien masuk ICU hanya oleh konsulen ICU yang bertanggung jawab saat itu. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD, IMC, RR ) memberi tahu terlebih dahulu ke ICU bahwa akan ada pasien masuk dan dokter ICU sendiri memberi persetujuan. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed ICU dilengkapi dengan status pasien dan trolley emergency. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang lengkap. Memasang oksigen, bed side monitor, ventilator ( jika diperlukan ) Mengganti pakaian pasien dengan pakaian ICU Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan dan suhu. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil, fungsi motorik, dll. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang sebelumnya. Memasang dan atau mengalirkan dower khateter, NGT, drain, dll. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium. Melaporkan dokter ICU jika terjadi perubahan. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata tertib ICU. Membuat Renpra. 2

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

1.

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

14. Memasukkan data pasien ke register rakam medik ( RM ). 15. Memberi terapi sesuai program. 16. Mengadakan komunikasi dengan keluarga pasien minimal sekali dalam sehari ( terutama pada waktu kunjungan keluarga ). UNIT TERKAIT 1. 2. 3. 4. 5. 6. IGD Rawat Inap IBS IRJ RHD Instal Jang Diagnostik

PEMINDAHAN PASIEN DARI ICU KE RAWAT INAP

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu prosedur memindahkan pasien dari ICU pada pasien yang kondisinya sudah terbebas dari kegawatan. 1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah tidak memerlukan lagi fasilitas ICU dapat dilanjutkan di ruang rawat inap biasa. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan perawatan di rawat inap berkesinambungan dengan pengobatan dan perawatan di ICU, agar dapat dicegah berulangnya kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.

TUJUAN

2.

KEBIJAKAN

Pemindahan pasien dari ICU ke rawat inap dilakukan oleh petugas ruang dan dilakukan timbang terima di ICU. 1. 2. 3. 4. 5. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari ICU dan meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk menjemput pasien dari ICU. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan sarat sarat tranportasi pasien. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap, yang di serah terimakan adalah : a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien. b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan deteksi dini apabila timbul kegawatan kembali. c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik yang sudah selesai maupun yang belum. Terapi dan perawatan lanjutan sesuai dengan pengantar dari dokter ICU. Memberikan pesan agar menghubungi ICU kembali apabila terdapat hal hal yang belum jelas atau atau terjadi kegawatan ulang. Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung jawab perawat dan dokter ruang rawat inap.

PROSEDUR PELAKSANAAN

6. 7.

8.

UNIT TERKAIT

Ruang Rawat Inap 4

RESUSITASI JANTUNG PARU

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu tindakan emergensi untuk mengatasi keadaan henti jantung dan atau henti nafas. Menyelamatkan kehidupan : 1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau respirasi melalui pengenalan dan intervensi segera. 2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi melalui RJP. 3. Memberikan oksigenasi kepada otak, jantung dan organ organ vital lainnya serta mengembalikan fungsi jantung dan ventilasi yang normal. Memenuhi kebutuhan oksigenasi 1. 2. 3. 4. 5. Pastikan adanya henti nafas dan atau henti jantung. Mintalah pertolongan. Posisikan pasien terlentang. Pasang pengalas keras. Atur posisi penolong : a. Penanganan airway ( posisi pada bagian atas kepala ) b. Penanganan sirkulasi ( posisi bagian samping bahu kanan pasien ) c. Penyedia obat ( posisi dekat dengan emergensi troli ) d. Leader 6. Beri bantuan nafas dengan ambubag 7. Lakukan kompresi jantung ( 30 : 2 ) 8. Berikan obat obat emergensi sesuai ketentuan. 9. Lakukan tindakan sesuai algoritm. 10. Jika berhasil siapkan untuk penanganan lebih lanjut. 11. Dokumentasikan tiap langkah kegiatan. Instalasi farmasi.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

UNIT TERKAIT

TERAPI OKSIGEN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Terapi O2 merupakan salah satu terapi pernafasan dalam mempertahankan oksigenasi. 1. 2. 3. Mengatasi keadaan hipoksia Menurunkan kerja pernafasan Menurunkan beban kerja otot jantung ( miocard )

TUJUAN

Indikasi : 1. Pasien dengan kadar O2 yang diketahui melalui hasil AGD / BGA. 2. Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh berrespon terhadap keadaan hipoksia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernapasan, serta adanya kerja otot otot tambahan pernapasan. 3. Pasien dengan peningkatan kerja jantung dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang lebih kuat. 4. Pada pasien selama dan sesudah pembedahan. Kontra Indikasi : 1. Mutlak tidak ada. 2. Untuk PPOM berat pemberian O2 dimulai dengan 2 LPM dinaikkan secara bertahap. KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN Memenuhi kebutuhan oksigen Persiapan alat : 1. Sentral oksigen, tabung O2, manometer set, flow meter, humidifier. 2. Catheter nasal / kanul nasal / sungkup muka sederhana / sungkup muka dengan kantong udara / sungkup muka dengan parsial rebreathing. Langkah langkah : 1. Kateter nasal / Kanul nasal : a. Cuci tangan. b. Memberi tahu pasien. 6

c. d. e.

f. g.

h.

i. j. k. l. m.

Isi tabung humufider dengan water for irigation batas yang tertera. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen / sentral oksigen. Cek fungsi flow meter dan humufider dengan memutar pangatur konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara dalam tabung flow meter. Menghubungkan kateter nasal / kanul nasal dengan flow meter. Alirkan oksigen ke : Kateter nasal dengan aliran antara 1 6 lt/mnt. Kanul nasal dengan aliran antara 1 6 lt/mnt. Cek aliran kateter nasal / kanul nasal dengan menggunakan panggung tangan untuk mengetahui ada tidaknya aliran oksigen. Pasang alat kateter nasal / kanul nasal pada klien. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir sesuai yang di inginkan. Cuci tangan. Rapikan peralatan kembali. Dokumentasikan pada status klien.

2. Sungkup muka partial rebreathing. a. Cuci tangan. b. Memberi tahu pasien. c. Isi tabung humidifier dengan water for irigation setinggi batas yang tertera. d. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen / sentral oksigen. e. Cek fungsi flow meter dan humidifier dengan memutar konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara dalam tabung flow meter. f. Menghubungkan sungkup muka partial rebreathing dengan flow meter. g. Alirkan oksigen ke sungkup muka partial rebreathing dengan aliran udara 8 12 lt/mnt. h. Cek aliran oksigen ke sungkup dengan cara menutup sungkup dengan salah satu tangan dan amati aliran oksigen yang masuk ke dalam kantong. i. Pasang alat sungkup muka partial rebreathing pada klien. j. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir sesuai dengan yang diinginkan. k. Cuci tangan. l. Rapikan peralatan kembali. m. Dokumentasikan pada status klien. 3. Hal hal yang harus diperhatikan : a. Bandingkan hasil PaO2, SaO2, SpO2 klien sebelum dan sesudah pemberian O2. b. Kaji dan bandingkan status pernapasan sebelum dan sesudah pemberian O2. c. Cek kulit dan membran mukosa klien. d. Cek kepatenan alat. e. Observasi adanya keluhan terutama mual dan muntah. f. Tanyakan kenyamanan terhadap terapi O2. Instalasi Farmasi. Sijangmed. 7

UNIT TERKAIT

1. 2.

MONITOR SATURASI OKSIGEN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Monitor saturasi oksigen merupakan tekhnik monitoring non invasive untuk mengukur saturasi oksigen arteri dan fungsi hemoglobin, nilai normal 97 99 % Diagnostik : 1. Menilai data dasar saturasi oksigen yang merupakan bagian pengakajian oksigenasi. 2. Deteksi dini terhadap perubahan saturasi yang sering berubah terutama pada keadaan kritis. 3. Mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas oksigenasi pasien seperti suction, reposisi, merubah konsentrasi O2. Memenuhi kebutuhan oksigen. 1. 2. Persiapan alat : Pulse oximeter beserta sensornya. Cara kerja : a. Cuci tangan. b. Lokasi tempat sensor dibersihkan dari darah / kotoran lain. c. Pilih sensor yang tepat sesuai lokasi tempat sensor. d. Sambungkan oximeter dengan menekan tombol power on / off. e. Set alarm secara tepat dan cek fungsi lainnya. f. Untuk mematikan tekan kembali tombol power on / off. g. Sambungkan sensor lempeng / klip pada tangan / kaki / telinga. Hal hal yang harus diperhatikan : Lokasi tempat penempatan sensor. a. Sensor klip ditempatkan pada jari telunjuk tangan atau telinga. b. Sensor lempeng di tempatkan pada jari jari, ibu jari kaki, hidung. Sijangmed. Laboratorium.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

3.

UNIT TERKAIT

1. 2.

ASISTENSI INTUBASI

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN TUJUAN

Suatu tindakan memasukkan pipa endotrachea ke dalam trachea. 1. 2. 3. Membebaskan jalan nafas. Untuk pemberian pernafasan mekanik. Untuk mempermudah penghisapan sekresi.

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Memenuhi kebutuhan oksigen. Persiapan alat : 1. Laringoscope dengan bilah yang sesuai. 2. Magills untuk membantu memasukkan pipa. 3. Maudrin ( bila ada kesulitan saat memasukkan tube ) 4. OTT / NTT sesuai dengan kebutuhan pasien 5. Xylocain jelly 6. Sarung tangan 7. Obat obatan untuk persiapan intubasi antara lain : Sedasi : midazolam, propofol, pentotal Muscle relaxan : Succinyl cholin, rocuronium, atracurium, vecuronium. 7. Xylocain spray / semprot. 8. Pressure cuff / spuit cuff. 9. Guedell / mayo. 10. Stetoscope. 11. Suction catheter untuk menghisap sekresi. 12. Emergency trolly yang berisi obat obat emergency. 13. Air viva, face mask untuk oxigenasi. 14. Plester / pita untuk fiksasi. 15. Suction dinding / sentral / manual. Cara Kerja : 1. Cuci tangan. 2. Jelaskan prosedur pada pasien. 3. Cek suction sentral dan atur tekanan antara 100 200 mmHg atau suction manual dan sambungkan selang catheter steril. 4. Nilai kesadaran pasien, bila sadar diberitahu. 5. Bersihkan jalan nafas dengan cara suctioning. 6. Sambungkan pasien ke EKG monitor dan ukut tensi, nadi dan pernafasan ulang, saturasi oksigen. 9

7.

Posisi pasien terlentang / flat dan ekstensikan leher pasien ( sesuaikan dengan kondisi pasien ). 8. Bantu tindakan intubasi sesuai dengan tahapannya. 9. Ikat selang trakea / trakeostomi dengan tali / plester. 10. Bereskan peralatan dan dokumentasikan tindakan. Hal hal yang perlu di perhatikan : 1. Keadaan umum pasien, terutama tensi, nadi dan pernafasan, saturasi, oksigen. 2. Monitoring EKG 3. Pengisian cuff ( balon ) 4. Fiksasi 5. Penghisapan sekresi dengan tehnik yang semestinya. UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi Farmasi Sijangmed

10

EXTUBASI

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN TUJUAN

Pengangkatan pipa endotrachea dari trachea. 1. 2. 3. 4. 5. Sebagai tahap akhir proses penyapihan dari ventilator. Pasien sudah tidak mengalami sumbatan ( potensial sumbatan jalan nafas ) Supaya pasien dapat bernafas seperti semula. Dapat berbicara dan menelan seperti biasa. Supaya pasien dapat batuk dengan efektif dan dapat mengeluarkan sputum sendiri.

Indikasi : 1. Pasien sudah kompos mentis dan kooperatif. 2. Tensi nadi dan pernafasan normal. 3. Suhu badan tidak panas karena bila sebelum panas kebutuhan oksigen meningkat dan metabolisme naik. 4. Bisa batuk secara efektif. 5. Hasil thorax foto terakhir keadaannya bersih, tidak ada retensi sputum. 6. Tidak ada gejala hypoxia, hiperkarbi dan tachikardi. 7. Tidal volume cukup. 8. Hasil AGD normal individual. KEBIJAKAN Memenuhi kebutuhan penyembuhan. pengobatan dan membantu proses

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat : 1. Laringoscope 2. Peralatan suction yang lengkap 3. Spuit cuff. 4. Pinset, spirometer 5. Alat alat untuk memberikan pelembaban dan oksigen. misal = O2 + NRM O2 + binasal 6. Peralatan lengkap untuk intubasi Cara kerja : 1. Pertama ukur nadi, tensi, suhu dan pernafasan, kesadaran. 2. Ukur TV pasien 11

3. 4. 5. 6.

Periksa AGD Bila ada instruksi dokter ( misal : dexametason ) Beritahu pasien untuk pengangkatan pipa pernafasan. Lakukan penghisapan sekresi sampai bersih dan cuff dikempeskan. 7. Lepaskan fikasasi tube 8. Waktu pengangkatan tube, suction katheter yang baru harus berada di dalam sambil tube diangkat ( jangan dipakai suction katheter bekas untuk membersihkan mulut ) 9. Selesai pengangkatan tube pasang NRM. 10. Satu jam kemudian periksa AGD ulang. Hal hal yang harus diperhatikan : 1. Terutama keadaan umum pasien. 2. Ukur tensi, nadi dan pernafasan, kesadaran. 3. Perhatikan apakan ada stridor dan kelainan pernafasan lain. UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi farmasi Laboratorium

12

WEANING PADA T PIECE DINDING

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Proses weaning pada T Piece dinding adalah salah satu usaha penyapian dari respirator, dimana pasien langsung dilepas dari alat Bantu tetapi tube masih tetap terpasang. 1. Menghindarkan pasien adri rasa ketergantungannya terhadap alat bantu nafas. Melatih pasien agar dapat bernafas sendiri secara spontan. Diharapkan pasien secara berangsur angsur dapat bernafas seperti sediakala. Mengembalikan pasien pada keadaan semula. pengobatan dan membantu proses

TUJUAN

2. 3. KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan penyembuhan.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat : 1. Spirometri untuk mengukur tidal volume 2. Humidifier untuk O2 dan udara. 3. Slang inspirasi 4. Kantong plastik untuk penampung. 5. Konektor untuk ke tube. Persiapan pasien pada waktu akan melakukan weaning pada T Piece Dinding : 1. Siapkan alat alat yang akan dipakai 2. Jangan melakukan weaning apabila pasien kelihatan lemah karena habis dimandikan, fisioterapi atau habis foto thorax. 3. Terangkan pada pasien dan tenangkan jiwanya bila pasien sebelumnya sudah memakai alat bantu napas dalam jangka lama, karena pasien akan merasa takut untuk di lepas dari alat bantu napas. 4. Atur posisi pasien ( posisi tidur ) supaya pengembangan paru lebih bagus. 5. Terangkan bahwa dengan proses weaning ini akan membantu pasien agar dapat bernafas seperti sedia kala. 6. Sebelum tindakan di kerjakan ambil pemeriksaan analisa gas darah untuk lebih meyakinkan lagi.

13

Cara kerja : 1. Beritahu pasien tentang tindakan apa yang akan di lakukan. 2. Ukur tidal volume. 3. Observasi tanda vital pasien : T, N, P, S 4. Alat alat di cek apakah sudah siap dipakai. 5. Sekresi atau sumbatan lainya dibersihkan 6. Setelah pemasangan selesai pasien di observasi kembali. Hal hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan weaning pada T Piece dinding : 1. Penyakit utama sudah teratasi. 2. Pasien merasa kuat ( tidak lemah ) jalan napas bebas dari sumbatan, apabila pasien dengan trachestomi dalam keadaan baik. 3. Suhu badan normal apabila suhu badan mengalami kenaikan maka kebutuhan O2 akan meningkat. 4. Pasien dapat batuk yang efektif untuk mengeluarkan sekresi. 5. Frekwensi napas kurang dari 30 kali per menit. 6. Tidak ada gejala hypoxia / kebingungan 7. Test fungsi paru normal, tidal volume mencukupi. 8. Hasil pemeriksaan analisa gas darah normal 9. Pasien dapat bernapas secara spontan. UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi farmasi Sijangmed

14

PERAWATAN BALON ( CUFF ) DI ENDOTRACHEA ( ETT ) RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Pengertian balon pipa trachea merupakan cara untuk mempertahankan tekanan pada balon ETT tetap normal ( 15 25 mmHg ) 1. 2. Mempertahankan posisi tube dan oksigenasi jaringan. Mencegah aspirasi dan kerusakan jaringan mukosa sekitar cuff.

TUJUAN

Indikasi : Dilakukan pada pasien yang terpasang pipa trachea atau pipa tracheostomy dengan cuff. KEBIJAKAN 1. 2. 1. Pemenuhan kebutuhan oksigen Pemenuhan kebutuhan keamanan. Persiapan : Persiapan alat : a. Personalia : 1 orang perawat. b. Perlengkapan : o Cuff inflator ( portex ) o Selang konektor ( dipakai untuk monitoring tekanan cuff secara kontinyu ) Cara kerja : Pengisian balon ETT : a. Cuci tangan b. Suctioning pasien dan suruh pasien untuk batuk c. Sambungkan katup pilot balon dengan alat cuff inflator, kempeskan cuff dengan menekan tombol merah sampai mencapai nilai nol. d. Untuk pengisian balon ETT, pompakan alat cuff inflator dengan memijat balon karret inflator sampai mencapai angka dibawah tanda merah ( 30 mmHg ) kemudian turun sedikit sampai pada angka normal ( tekanan normal 15 25 mmHg )

PROSEDUR PELAKSANAAN

2.

15

3.

Monitoring tekanan balon ETT ( Cuff ) secara terus menerus: a. Cuci tangan. b. Sambungkan katup pilot balon dari pipa tracheostomy atau endotracheal ke slang konektor. c. Sambungkan ujung slang konektor lainnya ke alat cuff inflator. d. Pompakan cuff inflator secara cepat sampai batas nilai normal ( tanda hijau 15 25 mmHg ) kemudian lepaskan. e. Gunakan pengait belakang cuff inflator untuk menempatkan cuff inflator pada tempat yang aman dan untuk dimonitor.

Perhatian : 1. Untuk mengempeskan balon ETT, tekan tombol merah untuk menurunkan tekanan. 2. Pada tekanan cuff diatas 25 mmHg dapat menyebabkan iskhemik jaringan sekitar cuff. UNIT TERKAIT 1. 2. Sijangmed Bagian anestesi.

16

SPIROMETRI INTENSIF

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Terapi latihan pernafasan dengan menggunakan alat ukur untuk menambah kemampuan inspirasi pernapasan pasien. Terapi untuk mencegah atelektesis, meningkatkan oksigenasi dan expansi paru. Pemenuhan kebutuhan oksigen. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cuci tangan Beri tahu pasien Persiapkan pasien dan beri posisi yang nyaman ( lebih diutamakan posisi duduk atau semi fowler ) Instruksikan pasien untuk meletakkan selang spirometri di mulut dan tarik nafas dalam selama 3 detik. Instruksikan pasien untuk expansi secara lambat dan bernapas secara normal kembali. Instruksikan pasien untuk nafas dalam kembali dan usahakan agar kekuatan inspirasi bertambah 100 ml 250 ml tiap kali nafas dalam. Setelah volume maximum tercapai instruksikan pasien untuk latihan napas dalam 10 kali. Anjurkan pasien untuk latihan ini minimal 3x /hari. Bereskan peralatan dan dokumentasikan tindakan. Instalasi farmasi Poli paru

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

7.

8. UNIT TERKAIT 1. 2.

17

PENGUKURAN VOLUME TIDAL DAN TEKANAN NEGATIF INSPIRASI RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Merupakan cara untuk mengukur kapasitas tidal paru dan tekanan negatif inspirasi pasien saat bernapas dengan menggunakan alat ukur. 1. 2. 3. 4. Mengevaluasi kekuatan otot otot pernafasan pasien. Mengevaluasi adekuasi volume tidal Mengkaji kemampuan napas spontan, misalkan pada pasien post operasi. Menentukan apakah pasien memerlukan intubasi dengan dan atau menggunakan ventilator mekanik.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen. Persiapan alat : Spirometer portable ( respirometer portable ) Langkah langkah : 1. Cuci tangan 2. Sambungkan konektor ke jalan napas pasien. 3. Hubungkan spirometer portable ke jalan napas pasien. 4. Anjurkan pasien untuk napas dalam sebisa mungkin, dan 0 kan spirometer dan suruh pasien untuk mengeluarkan napas. 5. Untuk menempatkan jarum pada titik 0 tekan tombol yang berwarna putih. 6. Untuk mengunci hasil pengukuran yang di dapat, tekan tombol merah. 7. Untuk mengembalikan jarum pengukuran setelah penguncina ( menekan tombol merah ) tekan tombol hijau sehingga spirometer dapat untuk mengukur kembali.

UNIT TERKAIT

Instalasi farmasi.

18

FISIOTERAPI DADA

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu tindakan yang diberikan pada penderita dengan jalan latihan bernapas, menepuk daerah dinding dada, menggetarkan daerah dinding dada serta menghisap sekresi yang dikeluarkan untuk memperlancar pernapasan. 1. 2. 3. 4. 5. Untuk mempertahankan, memperbaiki dan mencapai ke efektifan dari seluruh bagian paru. Mencegah kolaps dari pada paru yang disebabkan karena terhambatnya sekresi untuk keluar. Menghindarkan terjadinya komplikasi, misal : bronkopneumonia. Untuk mempertahanan kelancaran sirkulasi darah. Untuk mencegah atropi otot otot.

TUJUAN

Indikasi : 1. Pasien dengan ventilator 2. Pasien dengan retensi sputum / reflek batuk, tidak baik namun tidak aktif. 3. Pasien tidak aktif. Kontra indikasi : 1. Pasien dalam keadaan shock 2. Relatif : fraktur iga 3. Pasien dengan TIK meningkat 4. Pasien dengan miocard infark KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN Memenuhi kebutuhan oksigen. Cara kerja : 1. Cuci tangan. 2. Beritahu pasien. 3. Jika pasien sadar anjurkan pasien untuk latihan napas dalam dengan cara memegang perut pasien dengan kedua tangan kemudian tarik napas dalam lewat hidung, tahan, kemudian keluarkan lewat mulut. Lakukan tindakan tersebut minimal 10 kali, jika pasien masih mampu lakukan lagi dalam 1 periode ( 10 x ). 4. Auskultasi seluruh lapang paru. 19

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

13. 14. 15.

Posisikan pasien tidur dengan miring kiri atau kanan. Tempatkan handuk diatas dada pasien. Lakukan penepukan / claping dengan kedua tangan di seluruh lapang paru dalam waktu 1 3 menit. Lakukan vibrasi saat pasien ekspirasi dalam waktu 1 3 menit. Lakukan claping dan vibrasi pada dada yang satunya dengan lama waktu yang sama. Jika pasien sadar lakukan postural drainage dan posisikan pasien sesuai daerah paru dimana sekret akan dialirkan. Jika pasien mampu batuk efektif anjurkan pasien untuk batuk efektif. Jika pasien tidak mampu batuk efektif lakukan suctioning dengan tekanan 60 100 mmHg untuk bayi, 100 120 mmHg untuk anak anak, 100 300 mmHg untuk dewasa, jika pasien dengan VM berikan O2 100 pre, post dan diantara tindakan suctioning. Catat jumlah, warna dan konsistensi sputum. Kembalikan pasien pada posisi semula. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.

Hal hal yang harus diperhatikan : Didalam melakukan fisioterapi dada harus melihat keadaan umum penderita, sehingga kita dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. Tindakan yang berhubungan dengan fisioterapi dada : 1. Latihan bernapas / breathing exercise 2. Penepukan / clapping 3. Menggetarkan / vibrating 4. Drainage posisi 5. Penghisapan / Suction UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi rehabilitasi medik Sijangmed

20

INHALASI

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Terapi inhalasi adalah terapi penghirupan partikel udara yang mengandung obat selama inspirasi. 1. 2. 3. 1. 2. Hidrasi, dan pembersihan jalan nafas. Mengencerkan sekret. Pemberian obat. Memenuhi kebutuhan oksigen Ada instruksi medis tentang program pemberian terapi inhalasi.

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan : 1. Persiapan alat : a. Hansel mask ( masker inhalasi ) b. Oksigen sentral / tabung c. Flow meter yang berisi air d. Obat bronkodilator ( misal : ventolin, bisolvon, solution, alupent ) e. Aqua for injection 2. Persiapan pasien : a. Jelaskan tujuan dan langkah prosedur kepada pasien / keluarga. b. Posisikan pasien semi fowler. Langkah langkah : 1. Cuci tangan 2. Tempatkan obat bronkodilator pada reservoar masker ( pada obat tertentu memerlukan pengenceran dengan aqua for injection ) 3. Sambungkan selang oksigen ke flow meter, alirkan oksigen 6 8 lt/menit. 4. Cek adanya penguapan obat, bila ada letakkan masker menutupi mulut dan hidung pasien. 5. Instruksikan pasien untuk nafas dalam dalam, lambat sambil menghirup partikel uap obat sampai obat habis. 6. Observasikan pengembangan dada pasien, lakukan auskultasi. 7. Setelah obat habis, lepaskan masker dan anjurkan pasien 21

8.

untuk membatukkan sekret yang ada atau dilakukan penghisapan dengan lembut. Monitoring adanya sesak napas dan perubahan tanda vital selama terapi.

Hal hal yang perlu di perhatikan : Perubahan tanda vital pasien. UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi laboratorium Instalasi farmasi

22

BRONCHIAL WASHING

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Bronchial washing adalah tindakan untuk membantu mengencerkan sekresi yang terdapat pada dinding bronchus dengan menggunakan cairan NaCL 0,9 %, perasat ini dikerjakan pada pasien yang memakai ETT dan TT. 1. 2. 3. 4. Membantu mengencerkan sputum kental, untuk mempermudah mengeluarkan sputum dari paru paru. Mengurangi penumpukan CO2 di paru paru sehingga mencegah obstruksi jalan napas. Mencegah terjadinya bronchopneumonia. Memperlancar sirkulasi dan perfusi keseluruhan jaringan.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Memenuhi kebutuhan oksigen. Persiapan alat : 1. Peralatan oksigenasi self inflating bag. 2. Spuit cuff 3. Cairan NaCL 0,9 % 4. Peralatan suction yang lengkap 5. Pinset, bengkok 6. Ember yang berisi larutan salvon untuk tempat suction kateter bekas. 7. Handuk untuk alas dada. Cara kerja : 1. Sebelum melakukan bronchial washing harus observasi dulu : saturasi, nadi, pernafasan, tekanan darah, monitoring EKG. 2. Berikan oksigenasi dengan konsentasi tinggi melalui air viva. 3. Tuangkan NaCL 0,9 % ke dalam mangkok / wadah yang steril secukupnya lalu hisap dengan spuit 10 cc. 4. Semprotkan cairan NaCL 0,9 % yang ada dalam spuit kedalam bronchus melalui ETT / TT sebanyak 5 cc dan pada waktu memasukkan cairan, posisi pasien disebut flower / ditinggikan. 5. Lakukan secepatnya pemompaan dengan air viva beberapa kali supaya cairan menyebar pada bagian bagian bronchus. 6. Buat posisi drainage ( bila pasien memungkinan ) kemudian lakukan penghisapan secepatnya. 23

7.

Berikan kembali oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui air viva. 8. Perasat ini boleh diulang sampai sekresi benar benar sudah bersih / banyak berkurang. 9. Pada penghisapan terakhir kita kempeskan isi cuff, lamanya pemasangan cuff sesuai dengan diisi kembali secukupnya. 10. Setelah perasat ini selesai cuff diisi kembali secukupnya. 11. Kalau ada ukur volume dengan menggunakan wright spirometer. 12. Alat alat dirapikan kembali. Hal hal yang perlu diperhatikan : 1. Bronchial washing dilakukan sesudah chest fisioterapi. 2. Perawat harus cuci tangan. 3. Dikerjakan sebelum makan 4. Dikerjakan oleh 3 orang perawat : a. Memasukkan cairan NaCL 0,9 % dan melakukan suction. b. Memompa dengan self inflating bag setelah cairan masuk. c. Merubah posisi tempat tidur penderita. UNIT TERKAIT Instalasi farmasi.

24

SUCTIONING

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suctioning merupakan tindakan mengangkat sekresi yang terdapat pada dinding bronchus atau trachea. Tindakan ini dilakukan pada pasien yang terpasang ET, TT. 1. 2. 3. 4. Mengangkat secret yang tidak bisa dikeluarkan sendiri atatu dibatukkan oleh pasien. Mengurangi penumpukan CO2 di paru paru. Mencegah terjadinya bronchopneumonia. Memperlancar sirkulasi dan perfusi ke seluruh jaringan.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen. Persiapan alat : 1. Peralatan oksigenasi : air viva, oksigen + selang. 2. Peralatan suction yang lengkap : suction dinding, selang suction, tubing / kateter suction steril yang sesuai dengan usia dan nomor. 3. Sarung tangan steril atau pinset steril. 4. Ember yang berisi larutan savlon untuk tempat suction kath bekas. 5. Handuk untuk alas dada. Cara kerja : 1. Cuci tangan. 2. Jelaskan prosedur pada pasien. 3. Observasi saturasi, nadi, pernapasan, tekanan darah, dan irama EKG. 4. Berikan oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui air viva atau ventilador. 5. Atur tekanan pada suction, bayi = 60 100 mmHg, Dewasa = 120 200 mmHg. 6. Gunakan sarung tangan atau pinset steril. 7. Pilih kateter suction yang sesuai dengan umur pasien dan ukur ETT / TT ( 1/3 diameter ERR / TT ). 8. Sambungkan kateter suctioning pada selang suction. 9. Lakukan ventilasi dengan air viva 3 x, dengan oksigen 12 15 lt / menit. 10. Masukkan kateter dalam keadaan terbuka, jika ada reflek 25

11. 12. 13. 14.

15. 16. UNIT TERKAIT 1. 2. 3.

trachea angkat katheter 1 2 cm kemudian tutup kateter dan angkat kateter dengan gerakan memutar ( lama tindakan 5 15 detik ) Berikan kembali oksigen dengan konsentrasi tinggi 12 15 lt/menit melalui air viva. Perasat ini boleh diulangi sampai bersih / banyak berkurang. Monitor kembali hemodinamik dan tana vital pasien. Jika akan suction hidung dan mulut lakukan suctioning ETT / TT dahulu sampai selesai, kemudian suctioning hidung dan yang terakhir adalah mulut. Bilas selang kateter dengan air yang asa diember, matikan suction dan buang suction pada ember penampung tersebut. Alat alat dirapikan kembali dan dokumentasikan. Instalasi farmasi Laboratorium Sijangmed

26

PENGAMBILAN DARAH ARTERI

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN TUJUAN

Suatu tindakan pengambilan darah arteri untuk pemeriksaan AGD. 1. 2. 3. Diagnostik Mengetahui oksigenasi dan CO2 Membedakan status keseimbangan asam basa tubuh pasien.

Indikasi : Pemeriksaan AGD diambil pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa. Kontra indikasi : 1. Pasien dengan terapi antikoagulan 2. Riwayat gangguan pembekuan darah 3. Penyakit pembuluh darah perifer yang berat KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN Pemenuhan kebutuhan oksigen Persiapan : 1. Persiapan etiket : a. Nama pasien b. Tanggal dan jam pengambilan c. Pemakaian O2 pada waktu pengambilan AGD 2. Persiapan alat : a. Spuit ukuran 2 cc ( untuk dewasa ), jarum ukuran 23 G b. Karet atau jenis lainnya c. Desinfektan : kapas alkohol 70 % steril d. Heparin Cara kerja : 1. Cuci tangan 2. Spuit terlebih dahulu dibasahi dengan heparin, kemudian heparin dikeluarkan dari spuit. 3. Lakukan Allen test 4. Tentukan tempat penusukan / pengambilan darah arteri 5. Desinfektan daerah tusukan dengan alkohol 70 % steril 6. Darah arteri yang diambil cukup - 1 cc 27

7.

8.

9.

Kemudian setelah cukup, jarum langsung di cabut, dikeluarkan udara yang ada didalam spuit, posisi jarum diatas tegak lurus ( cara mengeluarkan harus hati hati, jangna tercampur dengan udara luar atau memasukkan udara luar ke spuit dapat mempengaruhi hasil, terutama PCO2 ), langsung di tutup dengan karet. Pada arteri bekas tusukan pengambilan langsung di tekan dengan kapas alkohol 70 % steril dalam waktu lebih kurang lima menit dan tekan yang lebih kuat, sampai darah berhenti keluar. Beri etiket kuat, spuit yang berisi darah arteri tersebut kemudian periksa.

Hal hal yang perlu diperhatikan : 1. Lokasi : Arteri radialis ( diutamakan ), arteri brakhialis, arteri femoralis, arteri dorsopedis. 2. Bila darah baru bisa diperiksa setelah lebih dari 15 menit maka darah harus di simpan dulu di lemari es atau termos es, agar komponen darah tidak rusak dan mencapai hasil yang aktual. UNIT TERKAIT 1. 2. Instalasi laboratorium Instalasi Farmasi

28

PENGAMBILAN BAHAN PEMERIKSAAN KULTUR DAN SENSITIVITAS RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu cara pengambilan baik berupa urin, darah, sputum ataupun ujung kateter vena sentral, guna pemeriksaan biakan kuman dan uji sensitivitas antibiotik dari bahan tersebut. Diagnostik : Mencari data pengkajian guna menegakkan diagnosa medis keperawatan. Terapi : Mengevaluasi efisiensi tindakan atau terapi kedokteran / keperawatan. Indikasi : 1. Pasien yang dirawat di ICU selama 3 hari atau lebih. 2. Pasien yang terpasang kateter CVC, peralatan invasif dan non invasif lainnya. 3. Pasien dengan infeksi sistemik atau lokal. 4. Penggunaan antibiotik sebelumnya tidak adekuat. 5. Ada instruksi medis tentang pemeriksaan kultur dan sensitivitas.

TUJUAN

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan penyembuhan.

pengobatan

dan

membantu

proses

PROSEDUR PELAKSANAAN

KULTUR DAN SENSITIVITAS DARAH 1. Persiapan alat dan bahan : a. Spuit 5 cc b. Alkohol 70 % steril c. Botol kultur / batek d. Kapas / kassa steril e. Torniquet / karet pembendung 2. Cara kerja : a. Cuci tangan dan persiapkan alat. b. Instruksikan pasien untuk meletakkan tangan dan pilih vena yang baik untuk ditusuk. c. Letakkan torniquet diatas tempat penusukkan. d. Lihat dan palpasi vena dan bersihkan daerah tersebut dengan alkohol 70 % kemudian keringkan. e. Tekan vena yang akan ditusuk dengan jari., kemudian 29

f. g. h. i.

tusuk dibawahnya dengan ketinggin 5 350, masukkan jarum kedalam vena. Lepaskan torniquet. Arsipkan spuit sampai didapat darah minimal 5 cc. Tarik jarum dan tekan daerah tusukan dengan kassa steril selama 2 4 menit. Masukkan darah tersebut sebanyak 5 cc kedalam botol kultur / batek.

Catatan : Tindakan ini dilakukan dengan tehnik steril. KULTUR DAN SENSITIVITAS SPUTUM 1. Persiapan alat : a. Sarung tangan steril b. Mucus extractor steril ( selang suction dengan kontainer ) atau jika tidak tersedia dengan selang suction steril dan spuit steril 10 cc. c. Peralatan suction. d. Personal : 2 orang perawat. e. Lokasi : suctioning melalui endotrakeal tube, tracheostomy tube, hidung. f. NaCL 0,9 % steril, 2 6 cc. 2. Cara kerja : a. Cuci tangan b. Hidupkan mesin suction c. Beri oksigen 100 % d. Gunakan sarung tangan steril, tangan kiri memegang selang dari alat suction. e. Instruksikan perawat lain untuk memegang selang dari alat suction. f. Instruksikan perawat lain untuk membuka mucus extractor dan pegang dengan tangan dan jaga tetap steril. g. Instruksikan perawat lain untuk memegang ET / ETT dan membuka jalan nafas pasien ( jika menggunakan ventilator atau oksigen, dilepas terlebih dahulu ) h. Masukkan selang mucus refractor ke dalam jalan nafas dalam keadaan menghisap dan setelah sampai diatas karina sedot sputum secara perlahan dengan arah memutar. i. Jika sputum sulit diangkat karena sputum sangat kental atau sedikit, terlebih dahulu beri NaCL 0,9 % 2 cc, kemudian di bagging dengan O2 100 %, baru dilakukan penghisapan. j. Jika selang mikus refractor tidak cukup panjang atau terlalu besar, dapat dilakukan penghisapan dengan selang suction steril yang sesuai kemudian selang dipotong dengan gunting steril dan dimasukkan ke dalam spuit 10 cc steril. k. Jika sudah didapat sputum dalam extractor, ikat kedua selangnya dan siap dikirimkan. l. Turunkan konsentrasi oksigen sesuai dosis semula. Hal hal yang harus diperhatikan : Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril.

3.

30

KULTUR DAN SENSITIVITAS URINE : 1. Persiapan alat : bahan a. Spuit steril 10 cc 2 buah b. Alkohol 70 % atau betadin c. Kassa steril d. Sarung tangan steril e. Klem f. Bengkok 2. Cara kerja : a. Klem kateter urine 1 jam b. Cuci tangan dan persiapan alat c. Gunakan sarung tangan d. Bersihkan ujung kateter dengan alkohol 70 % atau betadine e. Aspirasi urine sebanyak 10 cc dengan spuit steril untuk bahan kultur f. Alat alat dibereskan dan tangan Hal hal yang harus diperhatikan : Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril

3.

KULTUR DAN SENTIVITAS KATETER CVP 1. Persiapan alat : a. Sarung tangan steril b. Alkohol 70 % c. Spuit steril 10 cc d. Forceps steril e. Gunting steril f. Bengkok 2. Cara Kerja : a. Cuci tangan, alat disiapkan b. Bersihkan kulit disekitar tusukan dan daerah tusukan dengan alkohol 70 % tidak dengan betadine c. Tarik kateter dengan forceps steril, hindari ujung kateter mengenai kulit. d. Kateter bagian distal ( ujung ) dipotong sepanjang 5 cm dengan gunting steril dan dimasukkan ke dalam spuit dan dikirim ke mikrobiologi. Instalasi laboratorium Instalasi Farmasi

UNIT TERKAIT

1. 2.

31

CHALLENGE TEST

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Penambahan cairan extra untuk meningkatkan volume cairan tubuh / preload yang tidak identik dengan tekanan atrium kanan sebagai testing atas keadaan hemodinamik. Untuk mengukur kekurangan / deficit cairan melalui tekanan vena sentral. Indikasi : Hypovolemik oleh karena kehilangan banyak cairan atau darah atau juga oleh karena pemberian obat obatan vasodilator. Kontra indikasi : Dekompensasi jantung Edema paru ( relatif ) Ada instruksi medis untuk melakukan challenge test. Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit. 1. 2. Persiapan alat : cairan koloid / kristaloid Cara kerja : a. Memberikan cairan melalui infus selama 10 menit b. Bila : CVP < 8 cm H2O guyur cairan ( RL ) 200 cc c. Bila : CVP 8 14 cm H2O guyur cairan ( RL )100 cc d. Bila : CVP > 14 cm H2O guyur cairan ( RL ) 50 cc Hal hal yang harus diperhatikan : a. Bila CVP naik 0 2 cm H2O coba guyur sebanyak jumlah semula b. Bila CVP naik 2 5 cm H2O guyur dosis c. Bila CVP naik 5 cm H2O tidak perlu

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

3.

UNIT TERKAIT

Instalasi Farmasi

32

KOREKSI ALBUMIN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Menambahkan sejumlah albumin ke dalam tubuh untuk mencapai kadar normal albumin ke dalam darah ( nilai normal : > 2,5 gr % ) Untuk mengikat dan membawa sari makanan dan kompertemen yang lain dalam tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan fungsi tubuh / faal tubuh. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu penyembuhan. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy albumin. 1. proses

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

2.

3.

Persiapan a. Pasien dipasang infus b. Cairan albumin c. Jarum udara Cara kerja a. Cuci tangan kemudian beritahu pasien b. Cek kondisi dan tanggal kadaluarsa albumin c. Cairan albumin dipasang dan dihubungkan ke infus set d. Pasang jarum udara pada tutup botol albumin e. Atur tetesan infus, kecepatan infus max 2 cc/mnt atau 4 jam/btl. f. Monitor pasien adanya reaksi alergi pada albumin g. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan. Hal hal yang harus diperhatikan Perhitungan kebutuhan albumin : ( D A ) ( BW x 40 ) x 2 = x gr alb 100 D : Desired Albumin Level ( Level albumin yang diinginkan ) A : Actual Albumin Level ( Level albumin yang ada )

UNIT TERKAIT

Instalasi Farmasi dan Laboratorium

33

KOREKSI KALIUM

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Memberikan sejumlah kalium ke dalam tubuh untuk mencapai kadar normal kalium dalam darah ( nilai normal : 3,5 5,5 mEq/ml ) Untuk mencegah terjadinya gangguan listrik jantung dan gangguan sistemik lain. 1. 2. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan Ada Instruksi medis tentang pemberian therapy. Hitung kekurangan kalium dengan rumus = Delta K x BB x Encerkan KCl dalam D5% ( Pengenceran disesuaikan ) atau jika memakai syringe pump tidak perlu diencerkan. Biarkan KCl dalam cairan D5% drip / dalam syringe pump. Sambungkan selang infus / perfusor yang berisi KCl pada CVC atau vena besar, hindari pemberian pada vena kecil. Atur kecepatan pemberian max 20 mEq kcl/jam, pemberian konstan. Apabila defisit > 30 mEq KCl, berikan dalam cairan 150 cc D5 % selama 2 jam. Monitor nadi, tekanan darah dan cek adanya phlebitis / terbakarnya vena. Labeling KCl pada infus set / perfusor. Dokumentasikan pemberian dan rapihkan peralatan. Instalasi farmasi Instalasi Laboratorium

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

UNIT TERKAIT

1. 2.

34

PEMAKAIAN SYRINGE DAN INFUS PUMP

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Merupakan alat pengontrol pemberian infuse secara volume yang menggunakan tekanan positif dalam mengalirkan cairan ke tubuh pasien ( Non Gravitasi ) Untuk dapat memberikan volume cairan dan dosis obat pada pasien dengan tepat. Indikasi : 1. Pemberian cairan atau obat obatan secara infus dengan kecepatan yang konstan dan akurat. 2. Memfiltrasi obat obat / cairan. 3. Pemberian cairan atau obat obat dalam jumlah yang sangat kecil. 4. Pemberian infus jangka lama. Pemenuhan kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit. Cara kerja pemakaian syringe pump : 1. Cek instruksi dokter tentang cairan atau obat obatan yang akan diberikan. 2. Cuci tangan. 3. Oplos obat dan tempatkan obat atau cairan pada syringe ukuran 20, 30, 50 ml sesuai dengan kebutuhan khusus untuk perfusor Braun gunakan syringe Braun 50 cc. 4. Sambungkan syringe ke tube / selang syringe. 5. Sambungkan perfusor ke sumber listrik. 6. Tekan tombol ON / OFF pada bagian belakang perfusor untuk menghidupkan alat ( pada layar akan tampak pengaman FT syringe type printer setelah alat berfungsi ) 7. Lepaskan knop putar, letakkan syringe dan kunci knop putar. 8. Sambungkan selang syringe ke jalur intra vena. 9. Tentukan kecepatan pemberian obat / cairan dengan menekan tombol angka sesuai nilai yang diinginkan, kemudian tekan tombol START / STOP, kemudian tekan tombol C sampai tampak nilai 00,0 di layar. Tekan tombol angka untuk menentukan volume yang akan diberikan kemudian tekan tombol START / STOP. 10. Untuk mematikan alat tekan tombol ON / OFF. 11. Fungsi fungsi spesial : 35

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Suara alarm yang akan berbunyi selama 2 menit.

CC

Pakai untuk pengguna external

Gambaran / memberi informasi mengenai cairan yang telah masuk Cara kerja pemakaian infus pump : 1. Cek instruksi dokter tentang obat / cairan yang akan diberikan. 2. Cuci tangan 3. Sambungkan infus set kebotol infus dan isi infus set dengan cairan tersebut untuk menghilangkan udara kemudian klem infus set ( gunakan infus set / intravix khusus untuk infus pump jika menggunakan infusomat Braun ). 4. Buka infus pump, masukkan chamber drop ( bilik tetesan dari infus set ) kedalam sensor tetesan dari infus pump ( khusus untuk infusomat braun ). 5. Sambungkan infus pump ke sumber listrik. 6. Gunakan tombol ON / OFF untuk menyalakan alat. 7. Sambungkan set infus ke pasien. 8. Tetapkan kecepatan pemberian tetesan dengan menekan tombol angka ( lihat nilainya pada layar infus pump ) 9. Gunakan tombol start / stop untuk memulai pemberian infus. 10. Jika alarm berbunyi tekan tombol alarm ( ) yang dapat berbunyi selama 2 menit. 11. Jika ingin merubah / membatalkan cairan yang akan diberikan tekan tombol start / stop kemudian tekan tombol C sampai tampak angka 0000 pada layar atas. Kemudian tekan tombol untuk menentukan kecepatan pe,berian cairan yang baru. 12. Untuk mematikan alat ini tekan dan tahan tombol ON / OFF. Fungsi Khusus : 1. Layar bawah yang akan menginformasikan data jika tombol dibawah ini difungsikan. 2. Tombol ml ( volume ) digunakan untuk memasukkan data volume cairan yang akan diberikan. 3. Tombol time, digunakan untuk memasukkan data waktu yang dibutuhkan untuk pemberian cairan, caranya : tekan tombol time, kemudian tekan tombol angka untuk menentukan waktu yang dibutuhkan ( Jika waktu yang dibutuhkan 3 jam, 30 menit maka tekan angka 330 sedangkan jika waktu yang dibutuhkan 1 jam 7 menit maka tekan angka 107 ). 4. Tombol ml/h, digunakan untuk memastikan volume cairan yang diberikan perjamnya. 5. Tombol fungsi / model khusus, digunakan untuk fungsi : a. Stand By b. Seleksi obat c. Model CC d. Adanya tekanan karena sumbatan e. Kontrol tetesan f. Kapasitas akumulator g. Mengunci data UNIT TERKAIT Sijangmed

36

PEMANTAUAN TEKANAN INVASIF

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Pemantauan tekanan invasif adalah pengukuran secara langsung tekanan darah atau cairan terhadap dinding dari suatu ruangan atau pembuluh. Untuk mengukur tekanan dari pasien dan memproduksi signalnya secara visual pada layar monitor dengan distorsi yang minimal. Monitoring sesudah menjalani operasi besar dan selama kondisi kritis. Pemantauan arteri secara invasif Daerah pemasangan kateter arteri : 1. Arteri Radialis 2. Arteri Brakhialis 3. Arteri Femoralis. Persiapan alat : 1. Tranduser 2. Holter tranduser 3. Monitor tekanan 4. Diafragma dome 5. Flush device 6. Pressure bag 7. Cairan Nacl 0,9 % 8. Cairan anti septik 9. Kapas alkohol 10. Sarung tangan steril 11. Kassa steril 12. Benang, jarum 13. Administration set 14. Manometer line 15. Three Way Stop Cock 16. Kateter angiocath 17. Xylocain 2 % 18. Heparin 19. Spuit 2,5 cc, 1 cc 20. Salep anti septik 21. Gunting 37

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

22. 23. 24. 25.

Plester Spalk Duk steril Bengkok

Langkah langkah : 1. Kerjakan dengan cara aseptis. 2. Lakukan desinfeksi di daerah pemasangan dengan cairan antiseptik. 3. Pasang duk steril 4. Anesthesi dengan xylocain 2 % 5. Masukkan dalam arteri secara perkutan, kemudian jarum di tarik biasanya, keteter terletak 4 6 cm dalam arteri. 6. Hubungkan kateter arteri dengan sistem tranduser. 7. Fiksasi kateter kemudian di tutup dengan kassa yang diberi salep anti septik. Hal hal yang perlu diperhatikan : 1. Pantau tekanan arteri setiap jam atau setiap ada perubahan. 2. Ganti sistem tranduser setiap 24 jam 3. Kalibrasi setiap 4 jam atau setiap ada perubahan posisi. 4. Observasi adanya komplikasi. Komplikasi : 1. Thrombosis 2. Kehilangan darah 3. Emboli udara 4. Infeksi sistemik 5. Spasme arteri 6. Hematom UNIT TERKAIT Instalasi farmasi.

38

PEREKAMAN EKG

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/2

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu tindakan merekam perubahan potensial listrik jantung dengan menggunakan alat elektrokardiograf. Dengan EKG dapat diketahui : 1. Penyakit jantung koroner. 2. Gangguan irama jantung / aritmia. 3. Hipertropy dari atrium dan ventrikel 4. Gangguan elektrolit ( hipokalemia dan hiperkalemia ) 5. Efek obat jantung ( digitalis ) Pemenuhan kebutuhan penyembuhan. pengobatan dan membantu proses

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan penderita : 1. Penerangan tujuan pemeriksaan. 2. Reaksi selama pemeriksaan : a. Hindari gerakan gerakan anggota tubuh. b. Tidak diajak bicara. 3. Persiapan sebelum pencatatan. Kulit dibersihkan dari lemak dan rambut. Persiapan alat : 1. Mesin EKG. 2. Kertas Grafik / Kertas EKG. 3. Plat ekstremitas elektrode 4. Jelly 5. Tissue 6. Tempat tidur 7. Pena / spidol Cara kerja : 1. Cuci tangan 2. Siapkan peralatan dan lingkungan, jaga privasi pasien. 3. Jelaskan prosedur pada pasien 4. Instruksikan pasien tidur refleks ( tangan, tungkai tidak bersentuhan ) 5. Instruksikan pasien tidak menyentuh tepi tempat tidur. 6. Pasang flat dan elektroda pada dada pasien dengan ketentuan : 39

a. b. c.

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

14. UNIT TERKAIT 1. 2.

Kabel merah ( R ) : Pasang di tangan kanan ( RA ) Kabel kuning ( K ) : Pasang di tangan kiri ( LA ) Kabel hijau ( F ) : Pasang di tungkai kiri ( RL ), kabel dapat dipasang lain bila ada petunjuk khusus dari alat EKG yang di pakai. d. Kabel hitam ( G ) : Pasang ditungkai kanan (Grounding) e. V1 : Ruang Intercostal IV garis sternal kanan. f. V2 : Ruang Intercostal IV garis sternal kiri. g. V3 : Di tengah antara V2 dan V4 h. V4 : Ruang Intercostal V garis mid clavcula. i. V5 : Setinggi V4 garis axila depan kiri. j. V6 : Setinggi V4 garis axila tengah kiri. k. V7 : Setinggi V4 axila belakang kiri. l. V8 : Setinggi V4 garis spacula kiri m. V9 : Setinggi V4 garis columna vertebra kiri. n. V3R : Sama seperti V3 tapi sebelah kanan. Mesin di ON kan : untuk pemanasan Mulai kalibrasi. Pilih lead selector diputar pada hantaran : I, II, III, Arf, Avf, VI sampai V6 min direkam 3 4 QRS kompleks. Setelah selesai kalibrasi kembali. Lepaskan kabel dan electrode dari tubuh pasien bersihkan tubuh pasien dari jeli / air. Jika perlu : voltage diperkecil atau diperbesar ( beri tanda sebelum dan sesudahnya dengan kalibrasi ) Beri : a. Nama lead masing masing. b. Nama pasien c. Tanggal dan jam pembuatan. d. Nama pembuat perekaman. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan. Instalasi farmasi Sijangmed.

40

KOREKSI Na BIKARBONAT

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Menambah sejumlah Na Bikarbonat ke dalam tubuh untuk mencapai nilai normal Na Bikarbonat dalam darah. Nilai normal = 22 26 Untuk memperbaiki keseimbangan asam basa dalam darah. 1. 2. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan. Ada instruksi dari medis tentang pemberian therapi. Hitung kekurangan buffer tubuh dengan rumus = 1/3 x BB X BE ( base defisit ). Berikan setengah dosis atau sesuai instruksi dokter ( dosis maksimal dewasa 100 mEq/ hari ) Jika Na Bikarbonat dalam kemasan 25 cc = 25 mEq, sedot obat tersebut dengan spuit sesuai dengan jumlah yang dikehendaki kemudian campurkan dengan cairan pengencer dalam plabot atau masukkan dalam botol / plabot steril tanpa pengenceran. Jika obat dalam kemasan botol siap pakai ( produk 100 cc = 100 mEq ) cek dan tentukan jumlah yang akan diberikan. Sambungkan kemasan obat dengan CVC atau vena besar. Atur tetesan pemberian, berikan minimal dalam waktu 30 menit dan tidak dibolus. Monitor tensi, nadi, pernafasan sert akeadaan pasien secara keseluruhan. Dokumentasikan pemberian obat dan rapikan peralatan. Instalasi farmasi. Laboratorium.

TUJUAN KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. 2. 3.

4. 5. 6. 7. 8. UNIT TERKAIT 1. 2.

41

PEMBERIAN DOPAMIN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu pemberian obat dopamine dengan dosis tertentu dengan menggunakan syringe pump. 1. 2. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitit otot jantung ( inotropik jantung ) Memperbaiki fungsi ginjal.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dopamine. Persiapan alat : 1. Obat dopamine 200 mg 2. Spuit 50 cc : 2 3. Extention tube 1 4. D5% RL atau Nacl 5. Syringe pump Cara kerja : 1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam hitungan ml/jam 2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau vena besar. 3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus / perfusor. 4. Monitor hemodinamik pasien. 5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg DOPAMIN 200 mg / 50 cc 1 cc = 200 mg/50 = 4 mg = 4000 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam 4000 2 meg = ............cc / jam 3 meg = ............cc / jam 4 meg = ............cc / jam 5 meg = ............cc / jam 6 meg = ............cc / jam 7 meg = ............cc / jam 8 meg = ............cc / jam 9 meg = ............cc / jam 10 meg = ............cc / jam TTD Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg DOPAMIN 400 mg / 50 cc 1 cc = 400 mg/50 = 8 mg = 8000 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam 8000 2 meg = ............cc / jam 3 meg = ............cc / jam 4 meg = ............cc / jam 5 meg = ............cc / jam 6 meg = ............cc / jam 7 meg = ............cc / jam 8 meg = ............cc / jam 9 meg = ............cc / jam 10 meg = ............cc / jam TTD

42

UNIT TERKAIT

1. 2.

Instalasi Farmasi. Sijangmed

43

PEMBERIAN DOBUTAMIN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP
PENGERTIAN TUJUAN

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839 Suatu pemberian obat dobutamine dengan dosis tertentu dengan menggunakan syringe pump. 1. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitas otot jantung ( inotropik jantung ) 2. Memperbaiki fungsi ginjal. 1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan. 2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dobutamin. Persiapan alat : 1. Obat dobutamin 250 mg 2. Spuit 50 cc : 2 3. Extention tube 1 4. D5% RL atau Nacl 5. Syringe pump Cara kerja : 1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam hitungan ml atau tetesan. 2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau vena besar. 3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus / perfusor. 4. Monitor hemodinamik pasien. 5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg DOBUTAMIN 250 mg / 50 cc 1 cc = 250 mg/50 = 5 mg = 5000 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam 4000 2 meg = ............cc / jam 3 meg = ............cc / jam 4 meg = ............cc / jam 5 meg = ............cc / jam 6 meg = ............cc / jam 7 meg = ............cc / jam 8 meg = ............cc / jam 9 meg = ............cc / jam 10 meg = ............cc / jam TTD Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg DOBUTAMIN 500 mg / 50 cc 1 cc = 500 mg/50 = 10 mg = 10000 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam 8000 2 meg = ............cc / jam 3 meg = ............cc / jam 4 meg = ............cc / jam 5 meg = ............cc / jam 6 meg = ............cc / jam 7 meg = ............cc / jam 8 meg = ............cc / jam 9 meg = ............cc / jam 10 meg = ............cc / jam TTD

KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

44

UNIT TERKAIT

1. 2.

Instalasi Farmasi. Sijangmed

45

PEMBERIAN ADRENALIN

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP
PENGERTIAN TUJUAN KEBIJAKAN

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839 Suatu pemberian obat adrenalin dengan dosis tertentu dengan menggunakan syringe pump. 1. Untuk meningkatkan retensi vascular. 2. Untuk meningkatkan kontraktilitas jantung. 1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan. 2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy adrenalin. Persiapan alat : 1. Obat adrenalin 1 mg / ampul, diperlukan 4 ampul. 2. Spuit 50 cc : 2 3. Extention tube 1 4. D5% RL atau Nacl 5. Syringe pump Cara kerja : 1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam hitungan ml /jam. 2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau vena besar. 3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus / perfusor. 4. Monitor hemodinamik pasien. 5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg ADRENALIN 4 mg / 50 cc 1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 0,1 meg = 0,1 x BB X 60 = ....... cc / jam 80 0,2 meg = ............cc / jam 0,3 meg = ............cc / jam 0,4 meg = ............cc / jam 0,5 meg = ............cc / jam 0,6 meg = ............cc / jam 0,7 meg = ............cc / jam 0,8 meg = ............cc / jam 0,9 meg = ............cc / jam 1 meg = ............cc / jam TTD Nama Pasien : ............................. BB : .......................Kg ADRENALIN 8 mg / 50 cc 1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit 0,1 meg = 0,1 x BB X 60 = ....... cc / jam 160 0,2 meg = ............cc / jam 0,3 meg = ............cc / jam 0,4 meg = ............cc / jam 0,5 meg = ............cc / jam 0,6 meg = ............cc / jam 0,7 meg = ............cc / jam 0,8 meg = ............cc / jam 0,9 meg = ............cc / jam 1 meg = ............cc / jam TTD

PROSEDUR PELAKSANAAN

46

UNIT TERKAIT

1. 2.

Instalasi Farmasi. Sijangmed

47

UJI AIR

RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN TUJUAN

Uji air adalah suatu test absorbsi terhadap gastro intestinal Untuk mengetahui fungsi absorbsi dan peristaltik usus, indikasi : 1. Pada penderita dengan penurunan kesadaran. 2. Pada penderita setelah di puasakan pada waktu tertentu. 3. Pada penderita yang sesudah dilakukan tindakan operasi. 4. Pada penderita yang terpasang ventilasi mekanik invasif. Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektolit. Persiapan : 1. NGT 2. Spuit 50 cc 3. Air putih ( Dextrose 5 % ) 4. Lap Makan Langkah langkah : 1. Cek posisi NGT 2. Aspirasi isi lambung 3. Berikan pada : a. Jam I 30 ml air putih ( Dextrose 5 % ) b. Jam II 30 ml air putih ( Dextrose 5 % ) c. Jam III 30 ml air putih ( Dextrose 5 % ) d. Jam IV 30 ml air putih ( Dextrose 5 % ) 4. - Klem NGT, tunggu 1 jam aspirasi, bila jumlah residu > 60 ml, tunda enteral, jika Jumlah residu < 60 ml coba enteral 25 ml / jam selama 4 jam. - Klem NGT, tunggu 1 jam aspirasi, bila = cairan aspirasi > 50 ml, stop enteral. Jika cairan aspirasi < 50 ml, teruskan enteral. 5. Tingkatkan enteral sesuai kebutuhan.

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

UNIT TERKAIT

1. 2.

Instalasi gizi Instalasi farmasi.

48

ASISTENSI PEMASANGAN CVC dan PEMANTAUAN CVP RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/3

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Suatu tindakan pemasangan kateter vena sentral dan pengukuran tekanan darah di atrium kanan atau vena kava dengan menggunakan kateter vena. Tekanan vena sentra diukur dalam cm H2O dengan menggunakan manometer air atau dalam mmHg dengan memakai tranduser tekanan. Nilai normal CVP ( nafas spontan ) : - 4 s/d 15 cm H2O - 3 s/d 11 mmHg Untuk mengetahui secara tidak langsung keadaan : 1. Hypovolemik 2. Hypervolemik 3. Gagal jantung 4. Tamponade jantung Indikasi : 1. Mengukur tekanan darah di atrium kanan / vena kava. 2. Parameter volume darah / cairan. 3. Efektivitas jantung sebagai pompa. 4. Keadaan tonus pembuluh darah.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit. Persiapan Daerah pemasangan : 1. Vena jugularis 2. Vena subklavia 3. Vena femoralis 4. Vena antekubital / brakhialis Persiapan alat Untuk pemasangan : 1. Kateter ukuran sesuai daerah pemasangan. 2. Cairan Nacl 0,9 % 3. Infus set 4. Xylocain 2 % 5. Spuit 2,5 cc, 20 cc 6. Cairan antiseptik 49

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Kapas alkohol Kassa steril Duk steril Gunting Standar cairan CVP monometer Three way stopcock Masker, sarung tangan Benang steril dan jarum Bila memakai sistem tranduser siapkan : monitor, tranduser, manometer line, pressure bag 17. Bengkok Untuk pencabutan : 1. Gunting 2. Pinset anatomi 3. Pinset chirrugi 4. Kassa steril 5. Kassa alkohol 6. Plester 7. Sarung tangan steril 8. Bak instrumen 9. Bengkok Langkah langkah pemasangan CVC : 1. Prosedur dikerjakan dengan tekhnik aseptic setelah dokter memakai sarung tangan, bersihkan lokasi penusukan dengan cairan antiseptic. 2. Lakukan lokal anestesi, pasang duk lubang steril. 3. Kepala pasien dimiringkan ke arah yang berlawanan. 4. Dokter melakukan pungsi vena. 5. Jarum intraduser dicabut dan hubungkan kateter dengan cairan dan infus set. 6. Perhatikan tanda perdarahan selama pemasangan. 7. Fikasasi, tutup kassa steril dan salep tutup dengan plester hypavik. 8. Foto thorak untuk mengetahui posisi kateter. Langkah langkah pemantauan CVP : 1. Posisi pasien terlentang, tentukan titik nol dengan membuat garis setinggi atrium kanan yaitu garis mid axillaries daerah intercosta ke 5 atau kurang lebih 5 cm dibawah sternum, kemudian samakan garis atrium kanan dengan titik nol pada manometer dengan water ring. 2. Isi manometer dengan cairan Nacl 0,9 % sambil membuka three way stopcock ke pasien dibuka. 3. Nilai CVP diambil pada keadaan cairan dalam manometer stabil, sambil memperhatikan fluktuasi cairan manometer. 4. Undulasi fluktuasi cairan dalam manometer dipengaruhi irama penafasan. 5. Perubahan nilai CVP harus di interprestasikan sesuai dengan gambaran klinis pasien. 6. Kalibrasi setiap 4 jam atau setiap perubahan posisi pasien. Hal hal yang harus diperhatikan : 1. Pneumothoraks / hemathoraks 2. Dysritmia 3. Infeksi 4. Emboli udara 50

5. 6. 7. UNIT TERKAIT 1. 2.

Thrombophlebitis Tamponade pericard Lesi saraf Instalasi farmasi Instalasi radiologi

51

PENGISIAN DOKUMENTASI MONITORING HARIAN ( FLOW SHEET ) RUMAH SAKIT TK.II 04.05.01 dr. SOEDJONO JL.Urip Sumoharjo No. 48 Magelang Telp.(0293) 363061, 363062 Fax.(0293) 362473

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

PT /

/ 2008

1/1

Tanggal Terbit

Di tetapkan Kepala Rumah Sakit Tk. II 04.05.01

PROSEDUR TETAP

April 2008 dr. Budi Wiranto, Sp. THT Kolonel ckm NRP. 31839

PENGERTIAN

Bagian dari clinical record ( rekam medis ), merupakan kumpulan data komprehensif yang menggambarkan kondisi pasien, kebutuhan perawatan, pelayanan kesehatan yang diberikan dan respon terhadap perawatan. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sarana komunikasi bagi semua staf di IRI Legal proteksi bagi rumah sakit Media pembelajaran bagi staf dan peserta didik di IRI Dasar pemberi asuhan dan pendidikan bagi pasien dan keluarga. Salah satu data kendali mutu dan penelitian. Sebagai dasar perhitungan biaya.

TUJUAN

KEBIJAKAN PROSEDUR PELAKSANAAN

Memenuhi kebutuhan keamanan. 1. a. Masuk : di isi tanggal pasien masuk ke IRI b. Dari : di isi bangsal / instalasi asal pasien sebelum masuk ke IRI c. Keluar : di isi tanggal pasien keluar dari IRI d. Ke : di isi bangsal / instalasi dipasien dipindah dari IRI. Identitas a. No. Dok. Med : di isi rekam medik pasien ( No. RM ) b. Tanggal : di isi tanggal saat instruksi harian dibuat. c. Nama : di isi nama pasien. d. Umur : di isi umur pasien dalam tahun / bulan atau hari. e. Diagnosa : di isi diagnosa medis saat masuk dan selama di IRI. f. Hari ke : di isi hari keberapa pasien di rawat di IRI dihitung mulai pasien masuk IRI. g. Dr. ICU : di isi dokter yang merawat dan bertanggung jawab di IRI. Intake a. Enternal : di isi jenis makanan, jumlah dan cara pemberian / 24 jam b. Volume : di isi volume enteral ( cc ) dalam 24 jam c. Kalori : di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang 52

2.

3.

terkandung dalam diit enteral. d. Protein : di isi jumlah protein yang terkandung dalam diit enteral. e. Parenteral : di isi jenis, jumlah dan cara pemberian nutrisi parenteral dalam 24 jam. f. Volume : di isi volume parenteral ( cc ) dalam 24 jam. g. Kalori : di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang terkandung dalam nutrisi parenteral. h. Protein : di isi jumlah gram protein yang terkandung dalam nutrisi parenteral. 4. Pola ventilasi, di isi jenis ventilasi pasien, yaitu : a. Spontan tanpa / dengan oksigen binasal / NRM / RM beserta alirannya. b. Alat bantu ( ventilasi mekanik ) : jika menggunakan ventilasi mekanik ( ventilator ) harus dituliskan mode yang digunakan dan FiO2. c. Ventilator : di isi merk dan seri ventilator yang digunakan, misalkan : Servo 900 C. Obat a. Enteral / lain lain : di isi nama, dosis, cara dan jadwal pemberian obat dalam 24 jam. b. Parenteral : di isi nama, dosis, cara dan jadwal pemberian obat dalam 24 jam. Laboratorium dan foto thorax : di isi jenis pemeriksaan laboratorium dan rontgen thorax yang di programkan pada hari tersebut. Lain lain : di isi instruksi dokter yang tidak terprogram sebelumnya, misalkan fisiotherapi, brain protection, drassing, balance cairan negatif atau positif. Jam : jelas SSP ( Susunan Saraf Pusat ) a. Kes : di isi kesadaran pasien secara kualitatif ( compos mentis / cm, somnolen, apatis, soporous coma, coma ) b. Pupil : kolom ini diganti menjadi pengisian kesadaran GCS ( Kualitatif ). c. Ref : di isi ukuran pupil dalam bentuk gambar lingkaran atau besar pupil dalam cm serta refleksi pupil terhadap cahaya ( - / + / - / lambat / cepat ). d. GCS : NILAI 1) Buka mata ( E ) a) Spontan 4 b) Respon perintah lisan 3 c) Respon rangsang sakit 2 d) Tidak ada respon 1 2) Respon motorik terbaik ( M ) a) Sesuai perintah b) Terlokasi pada sakit c) Menarik terhadap rangsang sakit d) Fleksi abnormal e) Respon ekstensor f) Tidak respon

5.

6.

7.

8. 9.

6 5 4 3 2 1 53

3)

UNIT TERKAIT

54

TATA CARA / PROSEDUR PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN ( IKP ) No. Dokumen No. Revisi Halaman 1 dari 2 PETUNJUK PELAKSANAAN Tanggal terbit Disetujui, PENGERTIAN Insiden Keselamatan Pasien ( IKP ) adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak diharapkan yang dapat mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien. Kesalahan yang mengakibatkan IKP dapat terjadi pada : 1. Diagnostik : kesalahan atau keterlambatan diagnosis 2. Treatment : kesalahan pada operasi, prosedur atau tes, pelaksanaan terapi 3. Preventive : tidak memberikan terapi profilaktif, monitoring atau follow up yang tidak sesuai pada suatu pengobatan 4. Other : gagal melakukan komunikasi, gagal alat atau sistem lain TUJUAN 1. Terlaksananya sistem pencatatan dan pelaporan insiden keselamatan pasien 2. Diketahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada akar masalah 3. Untuk memperoleh data / angka insiden keselamatan pasien 4. Upaya pencegahan terjadinya kejadian / insiden keselamatan pasien berikutnya 5. Didapatkannnya pembelajaran untuk perbaikan asuhan kepada pasien KEBIJAKAN Surat Penugasan oleh Direktur Rumah Sakit tentang penunjukkan sebagai Tim Keselamatan Pasien RS PROSEDUR 1. Siapapun yang mengetahui / melihat terjadinya IKP terutama dapat melaporkan kepada Sekretariat Tim Keselamatan Pasien 2. Laporan dibuat secara tertulis dengan menggunakan formulir yang tersedia atau dapat membuat laporan di Sekretariat Tim Keselamatan Pasien paling lambat 2 x 24 jam 3. Laporan meliputi : kejadian tidak diharapkan ( KTD ), kejadian nyaris cedera ( KNC / Near Miss ), kejadian sentinel dan lain lain

55

56

Anda mungkin juga menyukai