Anda di halaman 1dari 76

TUGAS PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES (KLASIFIKASI PROSES PRODUKSI)

OLEH RAHMAN SONOWIJOYO 130421036

PROGRAM STUDI EKSTENSI DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA


MEDAN
2013/2014

Klasifikasi Proses Produksi


A) FORMING : proses pembentukan B) MACHINING : proses permesinan C) JOINING : proses penyambungan D) HEAT TREATMENT : perlakuan panas E) SURFACE TREATMENT : perlakuan permukaan

A) FORMING (1) HOT FORMING : proses pembentukan panas (a)Casting / Foundry : pengecoran logam (b)Molding : pencetakan non logam (2) COLD FORMING : proses pembentukan dingin : material tdk dlm keadaan cair/lunak (a)Sheet metal forming : pembentukan pelat logam (b)Non-sheet

B) MACHINING (1) CONVENTIONAL MACHINING : proses permesinan konvensional (a)Lathe : bubut / turning (b)Milling : frais (c)Shaping/Scraping : skrap (d)Drilling : pelubangan & Boring, dll. (2) UNCONVENTIONAL MACHINING : proses Permesinan non-konvensional (a)EDM (b)USM

C) JOINING (1)Permanen (tdk utk dibongkar/dilepas) Welding : pengelasan Brazing (2)Semi permanen Paku keling Pasak / pena (3)Non-permanen (bisa dilepas/disambung ulang) Mur & baut

D) HEAT TREATMENT a)Hardening : mengeraskan (logam) b)Anealing c)Tempering : menyeragamkan struktur d)Normalizing : e)Spheroidizing : agar butiran/struktur menjadi bulat f)Dll.

MECHINING

I. Mesin Milling

1. Pengertian Mesin Millling


Mesin milling adalah mesin suatu mesin perkakas yang menghasilkan sebuah bidang datar dimana pisau/cutter berputar pada tempat yang tetap dan benda kerja bergerak melakukan pemakanan. Prinsip kerja mesin milling adalah gerakan rotasi teratur yang terdapat pada alat potong atau cutter sedangkan benda kerja diam. Benda kerja tersebut bergerak ke arah cutter sehingga terjadi penyayatan benda kerja oleh cutter. Pada saat alat potong (cutter) berputar, gigi-gigi potongnya menyentuh permukaan benda kerja yang dijepit pada ragum meja mesin frais sehingga terjadilah pemotongan/ penyayatan dengan kedalaman sesuai penyetingan sehingga menjadi benda produksi sesuai dengan gambar kerja yang dikehendaki. Pemakanan pada proses milling terjadi karena ada kontak antara benda kerja dan mata alat potong yang tajam, kontak ini berupa gaya yang berbentuk gerakan putar alat potong yang akan menghasilkan sayatan terhadap benda kerja.

2. Gerakan-gerakan Mesin Milling dan Arah Pemakanan


Pada mesin milling ada tiga gerakan mesin milling saat bekerja ketika melakukan pemakanan pada benda kerja, gerakan tersebut antara lain :

Main motion Gerakan ini adalah gerakan berputarnya cutter atau alat potong pada sumbunya. Dengan gerakan ini sisi potong cutter akan memotong benda kerja secara terus menerus. Untuk melakukan gerakan ini maka spindle harus

terpasang dengan baik (tidak kocak atau tidak bergetar) pada bantalan mesin. Feed motion Gerakan ini adalah gerakan meja mesin untuk melakukan penyayatan secara teratur dan konstan guna mencapai ukuran yang diinginkan. Gerakan ini dapat dilakukan menggunakan spindle-spindle dengan roda pemutar untuk

menggerakkan meja mesin. Gerakan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: a. Manual, dilakukan oleh tangan operator dengan cara memutar hadel yang ada pada mesin, terletak pada sumbu x. Gerakannya ke arah kanan dan kiri. b. Otomatis, ditimbulkan oleh putaran motor yang diteruskan oleh pulley ataupun roda gigi ke meja kerja. Gerakan secara otomatis ini akan menghasilkan permukaan benda kerja menjadi lebih baik dibandingkan dengan manual karena gerakan pemakanannya yang konstan. Adjusting motion Gerakan yang dilakukan oleh operator atau mesin untuk mencapai kedalaman pemotongan atau pemakanan yang kita inginkan. Dengan kata lain dibutuhkan ketelatenan dan ketelitian yang tinggi dari operator untuk melakukan gerakan ini agar dihasilkan benda kerja yang halus dan presisi, ini berlaku untuk pengoperasian secara manual,sedangkan jika kita menyeting mesin secara otomatis, maka kita tinggal mengawasi proses pengerjaan itu, karena mesin secara otomatis akan bergerak sesuai kedalaman yang diinginkan.

Selain gerakan mesin milling, pada mesin milling juga terdapat arah pemakanan yakni: a. Conventional milling

Pada pemakanan tipe ini mula-mula cutter akan mengenai benda kerja sedikit demi sedikit sebelum semua gigi memotong, gigi akan mengenai pemukaan benda kerja maka akan timbul getaran dan tenaga potong akan mengangkat cenderung

benda kerja. Arah pemakanan cutter berlawanan arah dengan

gerakan pemakanan. Conventional milling (up-cut) memiliki beberapa sifat dan karakteristik antara lain:

- Beban pemakanan dari minimum ke maksimum. - Hasil permukaan kurang baik sebab pada beban maksimum akan terjadi hentakan. - Umur pakai cutter kurang lama karena terdapat gesekan sisi potong sebelum menyayat. - Benda kerja harus terpegang kuat supaya tidak terangkat. - Bisa dipakai untuk semua jenis mesin.

b. Climbing milling

Pada pemakanan type ini cutter akan mengenai bagian yang paling tebal dan benda kerja akan menerima tekanan cutter dengan kuat. Proses ini cocok untuk mengerjakan benda kerja yang tipis atau pemotongan, dengan syarat mesin harus dirancang sedemikian rupa sehingga spindle meja tidak mempunyai spelling. Kalau syarat diatas tidak terpenuhi, benda kerja akan tertarik kearah cutter (tertekan kebawah). Climbing (down-cut) milling memiliki beberapa sifat dan karakteristik antara lain: - Beban pemakanan dari maximum ke minimum

- Tidak ada hentakan sehingga hasil permukaan halus - Benda kerja aman / tidak terangkat - Dapat untuk mengerjakan benda-benda yang tipis - Mesin yang dipakai harus kokoh & tidak kocak - Cutter akan lebih awet

3. Bentukan yang bisa dikerjakan Mesin Milling Mesin milling adalah mesin yang bisa menghasilkan berbagai bentukan, antara lain: a. Bidang rata datar b. Bidang rata miring menyudut c. Bidang siku d. Bidang sejajar e. Alur lurus atau melingkar f. Segi beraturan atau tidak beraturan g. Pengeboran lubang ( drilling) h. Memperbesar lubang i. Roda gigi lurus. j. Roda gigi helik. k. Roda gigi payung. l. Roda gigi cacing. m. Nok/eksentrik. n. Ulir yang memiliki kisar/pitch yang besar dan lain-lain. o. Membuat permukaan yang miring p. Membuat permukaan spiral q. Membuat permukaan silindris

4. Bagian bagian Mesin Milling dan Fungsinya

1. Spindle utama Merupakan bagian yang terpenting dari mesin milling. Tempat untuk mencekam alat potong. Di bagi menjadi 3 jenis : a. Vertical spindle b. Horizontal spindle c. Universal spindle

2. Meja / table Merupakan bagian mesin milling, tempat untuk clamping device atau benda kerja. Di bagi menjadi 3 jenis : a. Fixed table b. Swivel table c. Compound table

3. Motor drive Merupakan bagian mesin yang berfungsi menggerakkan bagian bagian mesin yang lain seperti spindle utama, meja ( feeding ) dan pendingin ( cooling ). Pada mesin milling sedikitnya terdapat 3 buah motor : a. Motor spindle utama b. Motor gerakan pemakanan ( feeding )

c. Motor pendingin ( cooling )

4. Tranmisi Merupakan bagian mesin yang menghubungkan motor penggerak dengan yang digerakkan. Berdasarkan bagian yang digerakkan dibedakan menjadi 2 macam yaitu : a. Transmisi spindle utama b. Transmisi feeding Berdasarkan sistem tranmisinya dibedakan menjadi 2 macam yaitu : a. Transmisi gear box b. Transmisi v blet 5. Knee Merupakan bagian mesin untuk menopang / menahan meja mesin. Pada bagian ini terdapat transmisi gerakan pemakanan ( feeding ). 6. Column / tiang Merupakan badan dari mesin. Tempat menempelnya bagian bagian mesin yang lain. 7. Base / dasar Merupakan bagian bawah dari mesin milling. Bagian yang menopang badan / tiang. Tempat cairan pendingin. 8. Control Merupakan pengatur dari bagian bagian mesin yang bergerak. Ada 2 sistem kontrol yaitu : a. Mekanik b. Electric

Selain bagian-bagian utama tersebut, mesin milling juga memiliki aksesoris yang berguna untuk membantu proses pengerjaan benda kerja. Asesoris mesin milling antara lain:

No 1 Gear box

Nama Asesoris

Fungsi Untuk pembuatan differential.

2 3 4 5

Gears Horizontal head Cover Drawbar shocket spanner

Sebagai pasangan gears box Head untuk proses milling horizontal. Penutup head Mengencangkan drawbar

Collet

Sebagai pasangan dari collet arbor

Hook spanner

Mengencangkan collet arbor

8 9

T-spanner for chuck Single and spanner 13-17-19

Mengencangkan fixture chuck Mengencangkan bolt & nut

10 11

Drawbar Handle vice

Pengikat arbor Mengencangkan BK pada vice

12

Ellen Key

Mengencangkan imbus screw

13

Shocket spanner for shell and mill

Mengencangkan shell and mill cutter

14 15

Hard jaws Paint brush

Pasangan fixture chuck Membersihkan chip/benda kerja

5. Jenis-jenis Mesin Milling


Berdasarkan posisi spinde, mesin milling terbagi menjadi : a. Mesin milling horizontal Mesin milling yang posisi kepala atau spindlenya sejajar dengan permukaan meja mesin dan digunakan untuk melakukan pemotongan benda kerja dengan arah mendatar.

b.

Mesin milling vertical Mesin milling yang posisi kepala atau spindle-nya tegak lurus dengan permukaan dari meja mesin.

c.

Mesin Milling Universal Mesin Milling yang posisi spindle-nya bisa dirubah-rubah sesuai dengan kebutuhan. Mesin frais yang dapat digunakan pada posisi tegak (vertikal) dan mendatar (horizontal) dan memiliki meja yang dapat digeser/diputar pada kapasitas tertentu.

Gambar Mesin milling universal

Berdasarkan pengoperasian : a. Mesin Milling Manual Mesin milling manual memiliki karakteristik sebagai nerikut: Gerak pemakanannya digerakkan oleh operator secara manual Permukaan hasil pemotongan kurang baik Alat potong tidak tahan lama Kekocakan eretan biasanya besar

Gambar Mesin Milling Manual

b. Mesin Milling Semi Otomatis Mesin ini memiliki karakteristik: Mesin ini gerakan eretannya(feedshaft) sudah dihubungkan dengan motor Permukaan hasil pemotongan lebih baik Getaran berkurang Alat potong lebih tahan lama Efisiensi lebih tinggi

Gambar Mesin milling semi otomatis

Mesin Milling Otomatis Mesin ini gerakan pemakanannya dikontrol oleh program Permukaan hasil pemotongan bisa ditingkatkan sampai N6 Efisiensi bisa dimaksimalkan lagi Bisa digunakan untuk Proses Climbing Kemampuan Alat potong bisa sampai 100 %

Berdasarkan fungsi penggunaannya, antara lain : 1. Mesin milling copy

Merupakan mesin milling yang digunakan untuk mengerjakan bentukan yang rumit atau tidak beraturan. Maka dibuat master / mal yang dipakai sebagai referensi untuk membuat bentukan yang sama. Mesin ini dilengkapi 2 head mesin yang fungsinya sebagai berikut : a. Head yang pertama berfungsi untuk mengikuti bentukan masternya. b. Head yang kedua berfungsi memotong benda kerja sesuai bentukan masternya. Antara head yang pertama dan kedua dihubungkan dengan menggunakan sistem hidrolik. Sitem referensi pada waktu proses pengerjaan adalah sebagai berikut : a. Sistem menuju satu arah, yaitu tekanan guide pada head pertama ke arah master adalah 1 arah. b. Sistem menuju 1 titik, yaitu tekanan guide tertuju pada satu titik dari master.

2. Mesin milling hobbing

Merupakan mesin milling yang digunakan untuk membuat roda gigi / gear dan sejenisnya ( sprocket dll ). Alat potong yang digunakan juga spesifik, yaitu membentuk profil roda gigi ( Evolvente ) dengan ukuran yang presisi. 3. Mesin milling gravier

Merupakan mesin yang digunakan untuk membuat gambar atau tulisan dengan ukuran yang dapat diatur sesuai keinginan dengan skala tertentu.

4. Mesin milling planer

Merupakan mesin yang digunakan untuk memotong permukkan ( face cutting ) dengan benda kerja yang besar dan berat. 5. Mesin milling CNC

Merupakan mesin yang digunakan untuk mengerjakan benda kerja dengan bentukan bentukan yang lebih komplek. Meruapakan penggangi mesin milling copy dan gravier. Semua control menggunakan sistem electronic yang komplek ( rumit ). Dibutuhkan operator yang ahli dalam menjalankan mesin ini. Harga mesin CNC ini sangat mahal.

A.Alat Potong ( Cutter)

1. Material Cutter Dalam menggunakan mesin milling, selain material benda kerja, kita juga harus memperhatikan material cutter yang akan digunakan. Material alat potong sangat beragam berdasarkan sifat bahan yang dikandungnya. Sifat dasar bahan yang dipakai pada cutter antara lain: o Keras dan kuat tetapi tidak getas o Tahan terhadap panas yang tinggi o Tahan aus o Ulet tidak rapuh

Berikut adalah material yang digunakan untuk membuat cutter: High Carbon Steel Bahan cutter yang paling lunak dengan daya tahan panas terhadap panas hingga 220oC. Biasannya digunakan untuk mengerjakan material yang lunak seperti kayu atau plastik. Kecepatan potongnya mencapai 0.15 m/s. High Speed Steel (HSS) Material ini tahan terhadap panas hingga 600oC. Biasanya sering dilapisi dengan titanium agar tidak cepat aus. Kecepatan potongnya dapat mencapai 0.8 1.8 m/s.

Cast Alloy Material ini dapat tahan pada temperatur sampai dengan 760oC. Kecepatan potong material mampu 60% lebih cepat dari kecepatan potong High Speed Steel. Cemented Carbide (Cermet) Material ini lebih keras dibanding High Speed Steel. Kecepatan potongnya dapat mencapai 150 m/min. Harga menjadi lebih mahal. Ceramic Terbuat dari Alumunium Oxide (Al2O3) sehingga menjadi sangat padat dan keras, kecepatan potongnya dapat mencapai 600 m/min. Tahan terhadap temperatur yang tinggi. Diamond Material alami yang paling keras. Bahan ini untuk proses super finishing dan pengerjaan presisi. Tahan terhadap suhu hingga 900oC.

2. Jenis-jenis cutter milling a. Jenis cutter berdasarkan fungsinya, dapat dibagi menjadi: 1). End Mill Cutter Adalah milling cutter yang paling umum digunakan dan biasanya digunakan untuk mengerjakan benda kerja dengan bentukan dasar persegi, step, slot (bentuk alur persegi).

2). Shell End Mill Cutter Penggunaannya alat potong ini sama dengan End Mill Cutter, hanya saja diameternya lebih besar sehingga ideal untuk material dengan permukaan dan slott yang lebar.

3). Disc Cutter Yaitu milling cutter yang fungsinya untuk membuat alur atau slot.

4). Prisma Cutter Yaitu milling cutter yang digunakan untuk membuat alur bersudut. Sudut yang dibentuk mengikuti sudut dari cutter tersebut.

5). Dove Tail Milling Cutter Digunakan untuk membuat alur ekor burung, sering disebut juga cutter ekor burung.

6). T-slot cutter Untuk membuat alur berbentuk T.

7). Ball Nose Cutter Mempunyai fungsi yang sama dengan End Mill Cutter hanya ujungnya berbentuk radius.

8). Radius Cutter Digunakan untuk membuat alur ataupun bentukan-bentukan radius.

9). Modul Cutter Digunakan untuk pembuatan roda gigi.

10). Single Lip Cutter Untuk bentukan-bentukan / profil khusus, misal: slot radius, slot trapesium, slot segitiga, dll.

11). Insert Tip Milling Cutter Milling cutter dimana mata potongnya berbentuk tip-tip kecil, yang bisa diganti apabila tumpul.

b. Berdasarkan kekerasan material yang akan dikerjakan, pada cutter terdapat tiga macam type cutter antara lain: 1). Tipe H (keras)

Digunakan untuk material yang mempunyai keuletan sampai 100 kpmm2.

Mempunyai sudut potong besar. Sudut spiral 25o. Jumlah giginya banyak. Pemakanan tiap giginya kecil.

2). Tipe N (normal)

Digunakan untuk baja biasa yang mempunyai keuletan sampai 80 kpmm2.

Sudut potongnya tidak begitu besar. Sudut spiral 30o. Jumlah giginya lebih sedikit. Pemakanan tiap giginya lebih besar.

3). Tipe W (lunak)


Digunakan untuk bahan yang lunak. Sudut potongnya kecil. Sudut spiral 35o. Jumlah giginya sedikit. Pemakanan tiap giginya besar.

c. Berdasarkan kontruksi permukaan cutter, cutter dibagi menjadi tiga macam antara lain: 1). Solid cutter Seluruh giginya menjadi satu dengan body atau gigi potongnya berasal dari material asal/bodynya 2). Typed solid cutter Seperti halnya solid cutter, hanya giginya saja yang terbuat dari cemented carbide atau stelite tipis yang dipasang pada body dengan cara dibrassing sehingga harga cutter dapat ditekan. 3). Inserted teeth cutter Gigi cutter dipasang pada body yang terbuat dari material yang tidak mahal dan pisau potong dipegang secara mekanikal dan bila giginya

patah/gempil dapat diganti dengan mudah.

d. Berdasarkan cara pencekamannya cutter dibagi menjadi tiga macam antara lain: 1). Arbor type cutter Jenis ini pada tangkainya dilengkapi dengan lubang atau alur pasak. Alur ini berguna untuk pemasangan pada arbor mesin milling sehingga cutter terpasang dengan kuat. 2). Shank type cutter Cutter ini terdiri dari tangkai yang menjadi satu dengan alat potongnya. tangkai tersebut bisa silindris atau tirus. 3). Facing type cutter Cutter ini dipegang dengan mengunakan short arbor dan untuk pemakanan permukaan yang rata.

e. Berdasarkan arah putarannya cutter dibagi menjadi dua macam antara lain : 1) Right hand rotational cutter Cutter ini dalam pengunaannya berputar berlawanan arah dengan arah jarum jam, dan cutter type ini banyak digunakan.

2) Left hand rotational cutter Cutter ini dalam pemakaiannya berputar searah jarum jam, dan cutter ini jarang dipakai sehingga sulit didapatkan dipasaran.

f. Berdasarkan pemakaiannya cutter dibagi menjadi dua macam antara lain: 1) Roughing cutter Cutter yang alur spiralnya terputus untuk mengurangi gaya potong yang besar ketika proses roughing. 2) Finishing cutter Cutter yang alur spiralnya tidak terputus dan hanya dipakai untuk proses finishing dengan depth of cut yang kecil dan menuntut kehalusan.

g. Berdasarkan bentuk bodynya cutter dibagi menjadi dua macam antara lain: 1). Shell cutter - Pada tengah cutter terdapat lubang tembus yang telah distandarisasi / sesuai dengan diameter arbor dan pemegangnya. - Cutter ini tidak mempunyai tangkai - Biasanya digunakan untuk milling horizontal. - Gigi potongnya terdapat pada keliling diameter luar (bodynya) 2). Shank cutter - Tidak berlubang tetapi pejal - Tangkainya bisa silindris atau tirus yang telah distandarisasi dengan tirus arbor. - Biasanya digunakan untuk pemillingan yang ringan. - tidak boleh untuk membuat lubang layaknya bor karena pada pusat cutter bisa memotong, kecuali bagi mata dua dan mata tiga karena pusat cutter bisa memotong.

h. Berdasarkan pola alur cutter dapat dibagi dalam tiga macam antara lain: 1). Pola alur lurus Cocok dipakai untuk pengerjaan material dengan hasil sayatan pendek-pendek dan chips akan mudah keluar. 2). Pola alur miring/spiral

Terdapat dua macam yaitu spiral kiri dan spiral kanan, biasanya dipakai untuk benda kerja besar dan pemakanan yang tebal. 3). Pola alur profil Biasanya dipakai untuk membuat permukaan khusus/profil, misalnya gear, radius, ulir dll. Cutter ini dapat diasah tetapi hanya pada permukaan potongnya saja, karena apabila bagian lain yang diasah dapat mengakibatkan perubahan bentuk profil dari cutter.

C. Sistem Pencekaman
Mesin milling memiliki kriteria baik dalam hal sistem pencekaman alat potong maupun benda kerja, agar dapat membentuk hasil pengerjan yang optimal ddan menjaga keselamatan kerja. Berikut ini kriteria system pencekaman mesin milling: 1. Jenis jenis pencekaman benda kerja a) Vice atau Tanggem Fixed vice / tanggem adalah penjepit tetap yang tidak bisa dirubah atau diputar posisinya. Harus tegar dan kuat supaya dapat menahan penetrasi gaya akibat proses pemotongan. Mudah dan cepat untuk penyetelan pencekaman benda kerja maupun alat potong.

Swivel Vice adalah pencekam benda kerja yang bisa diputar kearah mendatar.

Compount Vice adalah tanggem yang dapat diputar kearah mendatar dan vertikal.

b) Rotary Table Rotary table adalah alat bantu untuk membuat profil radius dan memperbesar lubang (boring).

Gambar Rotary Table

c) Fixture Chuck Fixture chuck adalah alat yang digunakan untuk pemegang benda kerja yang berbentuk silindris atau segi banyak beraturan.

Gambar 3.5 Fixture chuck

d) Clamp + Bolt and Nut Clamp + Bolt and Nut adalah alat untuk mencekam benda kerja yang tidak dapat dicekam dengan alat bantu yang umum. Dengan kata lain alat pencekam bendabenda berbentuk khusus.

Gambar 3.6 Clamp,Nut, dan Bolt

e) Dividing Head / Diferential Head Dividing head / diferential head adalah alat yang digunakan untuk melakukan proses pembagian sudut benda kerja dengan tepat.

Gambar 3 Dividing Head

2. Jenis jenis pencekaman alat potong a. Side Lock Arbor Side lock arbor adalah komponen yang digunakan untuk mencekam alat potong yang berbentuk silindris dengan diameter tertentu.

b. Sleeve Arbor Sleeve arbor adalah alat yagn digunakan untuk mencekam alat potong yang bertangkai tepar.

c. Shell-Mill Arbor Shell-mill arbor adalah alat yang digunkan untuk mencekam End Mill Cutter.

d. Collet Arbor Collet arbor adalah alat yang berfungsi untuk mencekam alat potong yang bertangkai silindris.

e. Drill Chuck Drill chuck adalah alat yang digunakan hanya untuk mencekam Twist Drill yang bertangkai silindris.

Gambar 3.13 Drill Chuck f. Boring Head Arbor Boring head arbor adalah alat yang digunakan untuk memperbesar lubang dengan ukuran yang lebih presisi.

g. Horizontal Arbor Horizontal arbor adalah alat yang digunakan khusus untuk proses milling horizontal, cutter yang dipakai berjenis plain mill cutter.

D. PUTARAN MESIN
Rumus putaran mesin: N = 1000 x CS Dx Keterangan: N CS D = Kecepatan Putaran (rpm) = Cutting Speed (m/menit) = Diameter benda kerja (mm) = 3,14

Tabel Kecepatan Putaran Alat Potong

Selain kecepatan putaran mesin, kecepatan potong pun menjadi hal yang harus diperhatikan sebelum memulai pengerjaan dengan mesin mlling.

Pada kecepatan potong ada beberapa hal yang mempengaruhi kecepatan antara lain: 1. Material alat potong / ketajaman 2. Material benda kerja 3. Kedalaman pemakanan 4. Jenis pencekaman 5. Jenis pengerjaan 6. Kondisi Mesin 6. Penggunaan zat aditif (coolant)

Tabel Kecepatan Potong

E.

SOP ( STANDARD OPERATION PROCEDURE ) Sebelum memulai pengerjaan dengan mesin miling maka hal yang harus diperhatikan

adalah standard operation procedure (sop). SOP adalah langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum memulai bekerja dengan mesin milling, agar kondisi mesin dan segala hal yang berkaitan dengan mesin milling dapat diketahui dan berjalan dengan baik serta meminimalisir terjadinya kecelakaan pada saat bekerja dengan mesin atau lebih kepada aspek safety sang operator. SOP yang dilakukan terdiri dari perawatan mesin yang dilakukan secara berkala,yaitu perawatan harian,perawatan mingguan,dan perawatan bulanan. SOP juga meliputi beberapa hal diantaranya proses inventarisasi, langkah SOP dan cleaning mesin. SOP dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi mesin, memelihara keawetan mesin, dan menjaga agar mesin dalam kondisi yang baik pada saat pengerjaan. Proses Inventarisasi Langkah awal yang harus kita lakukan sebelum memulai pengerjaan dengan mesin milling adalah inventarisasi. Inventarisasi adalah proses pengecekan kembali peralatan dan segala atribut mesin, apakah terjadi kehilangan atau kerusakan. Hal yang harus dilakukan pada saat inventarisasi - Cek apakah semua aksessoris pada mesin sudah lengkap sesuai yang tertera pada tabel yang diberikan instruktur.

- Tuliskan pada selembar kertas apabila ada aksessoris yang hilang ataupun yang rusak. - Simpan aksessoris mesin sesuai tempat yang telah diberikan agar mempermudah pada saat kita akan mengunakannya. - Bersihkan aksessoris yang masih kotor dari minyak dan chips - Laporkan kepada instruktur apabila ada penyimpangan pada mesin atau kerusakan yang vital. - Laporkan kepada instruktur apabila sudah selesai dalam inventarisasi Proses inventarisasi dilakukan setiap kali kita akan bekerja dengan mesin milling. Invetarisasi dilakukan sebelum kita memulai bekerja dan sesudah kita bekerja.

. Langkah SOP Dibawah ini akan disajikan tabel SOP ( Standard Operation Procedure ) STANDARD OPERATION PROCEDURE No URUTAN KERJA 1 Bersihkan STANDARD , SIKLUS handle, Setiap sebelum mulai kerja ketinggian - diatas lower level Setiap (olie eretan) - diatas garis merah ( olie head ) 3 Periksa ketinggian Diatas lower level Setiap sebelum mulai kerja 4 Gunakan clamping Memakai system yang baik Sebelum Bila gunakan block Memakai kain perlu paralel sebelum mulai kerja pagi Jenis olie: turalik 52 Jenis olie : Tonna 68 / Tellus 46 pagi Gunakan coolant yang tersedia KETERANGAN pagi Memakai lap / majun kain

mesin Meja

dari olie debu dan handwheel bersih chips 2 Periksa

level olie ( ada 2 tempat)

permukaan coolant

vice/pencekam yang mulai sesuai benda kerja pengerjaan

Bersihkan arbor, dan

vice, Bersih dari debu atau Sebelum alat chips mulai

lap dan rabaan

potong 6

pengerjaan

jari secara

Periksa kondisi alat Alat potong tajam Sebelum dan Periksa potong dan bebas retakan sesudah dipasang pada arbor visual

Periksa benda kerja

material Sesuai gambar kerja

tuntutan Sebelum mulai pengerjaan

Check

ukuran

dan jenis material

Gunakan Rpm dan Sesuai dengan jenis Pada feedrate yang benar

saat Dilihat dari tabel CS (kec. Potong)

material benda kerja pemotongan dan alat potong material

Pergantian Rpm

-ubah belt

kedudukan Bila dengan pada

perlu Rpm : I 500 saat Rpm : I I 400

mengendurkan belt proses disamping sesuai tabel spindle berhenti - belt harus sejajar atas- bawah 10 Perawatan alat dan Alat kerapihan dalam ukur selalu Setiap saat keadaan -alat ukur tidak ditumpuk -pisahkan antara alat ukur & alat potong 11 Ukur hasil proses Ukuran milling tuntutan sesuai Selama proses Pengukuran milling dilakukan saat harus mesin

bersih dan terpisah dari benda lain

mesin DIAM / TIDAK BERPUTAR 12 Keselamatan kerja Terhindar kecelakaan kerja dari Selama proses -memakai milling kacamata safety shoes dan

-jangan memegang benda selama kerja proses

berlangsung 13 Cleaning mesin Mesin, MTC dan Sesudah besih selesai dan memakai -gunakan untuk membersihkan chips -bersihkan lap / majun beri lapisan pada mesin dgn kuas

lingkungan dari chips

tumpukan benda lain mesin (olie, coolant)

minyak bagian

yang tidak dicat

Langkah- langkah SOP diatas harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, misalnya rusaknya mesin pada saat proses pengefraisan berjalan atau kehabisan coolant dalam pengerjaan. Hal-hal ini tidak perlu terjadi, apabila kita telah dengan benar mengikuti langkah standard operation procedure yang ada. Cleaning Mesin Cleaning mesin dilakukan setelah kita selesai bekerja dengan mesin milling. Cleaning mesin terdiri dari : Sebelum membersihkan mesin pastikan mesin dalam keadaan mati dan semua alat potong serta benda kerja telah dilepas dari mesin. Bersihkan mesin dari chips yang masih menempel pada bagian mesin dengan mengunakan kuas, serta chips yang ada di bak penampungan dengan karet pembersih. Keringkan bagian-bagian mesin dari coolant dengan kain lap/majun. Berikan tipis pelumas pada bagian mesin yang tidak tertutup oleh cat. Masukan coolant yang ada dibak kedalam bak penampungan coolant dengan karet pembersih. Bersihkan bak dari sisa-sisa coolant yang masih ada dengan lap/kain majun.

Bersihkan lantai dari chips dan coolant dengan pel atau sapu Bersihan meja kerja dari alat-alat yang telah digunakan, masukan kedalam lemari penyimpanan. Kunci lemari mesin dan kembalikan kunci ke key box Buang chips yang terkumpul dan kain lap yang telah digunakan kedalam tong yang telah disediakan sesuai jenisnya ( kain dibuang pada tong yang khusus buat kain dan chips pada tong yang khusus logam )

I. MESIN TURNING
A. Pengertian Mesin Bubut adalah suatu Mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan. Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir. Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. Roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi dari ulir metrik ke ulir inci. Sedangkan proses bubut (turning) ialah suatu proses permesinan dengan prinsip benda kerja berputar lalu dipotong oleh alat potong dengan arah gerakan melintang maupun memanjang dengan kedalaman tertentu dan kecepatan pemakanan tertentu baik secara otomatis ataupun manual, biasanya bentuk benda kerja yang dihasilkan silindris. Selanjutnya, perputaran benda kerja pada porosnya ditimbulkan oleh alat pencengkam (chuck) yang diletakan di spindle utama, spindle utama sebagai penerus gerakan poros utama mesin yang dihubungkan dengan elektromotor melalui sabuk antara.

Pada umumnya ukuran mesin bubut dapat diperoleh melalui perhitungan jarak terjauh center kepala lepas dengan center kepala tetap dan tinggi sumbu mesin bubut dengan bed mesin.
B. Gerakan Utama dalam Mesin Bubut

Pada proses gerakannya mesin bubut memiliki tiga gerakan utama yang saling berhubungan dan harus terpenuhi ketiga-tiganya, artinya jika salah satu dari gerakan ini tidak terpenuhi maka tidak akan pernah terjadi proses pemakanan pada benda kerja oleh mesin bubut itu sendiri. Berikut 3 gerakan utama mesin bubut :
a) Main motion (gerakan berputar) adalah gerakan putaran utama atau gerakan berputarnya benda kerja pada porosnya (rotasi benda kerja) yang memiliki satuan rotation per minutes (RPM). b) Feed motion (gerakan pemakanan) adalah gerakan dari alat potong (cutting tools) yang pada mesin bubut disebut dengan pahat, dimana gerakannya berupa gerakan arah pemakanan dari pahat itu sendiri seperti arah melintang, memanjang dengan kecepatan potong tertentu. c) Adjusting motion (gerakan kedalaman) adalah gerakan pahat yang dapat menentukan kedalaman pemakanan(depth of cut) terhadap benda kerja.

C. Tipe Pengerjaan dalam Mesin Turning Pada proses pengerjaannya mesin bubut memiliki dua tipe yang berbeda yakni :
a) Inside turning adalah proses pengerjaan mesin bubut pada bagian dalam benda kerja. b) Outside turning adalah proses pengerjaan mesin bubut pada bagian luar benda kerja.

Namun kedua tipe pengerjaan ini memiliki hasil bentukan bentukan yang sama, berikiut ini tipe tipe pekerjaan yang dapat dikerjakan pada mesin bubut yakni sebagai berikut :

Memanjang ialah proses pembubutan dilakukan dengan gerakan pahat horizontal terhadap titik sumbu benda kerja. Melintang ialah proses pembubutan dilakukan dengan gerakan pahat vertikal terhadap titik sumbu benda kerja. Konus ialah proses pembubutan dilakukan dengan gerakan pahat horizontal dengan kedalaman yang terus berubah selama pengerjaan (makin mengecil / membesar). Profil ialah proses pembubutan dilakukan dengan menggunakan pahat yang khusus untuk membuat bentukanan bentukan khusus seperti tapper dan sebagainya. Ulir ialah proses pembubutan dilakukan dengan menggunakan pahat khusus untuk pembuatan ulir.

D. Jenis-Jenis Mesin Bubut

Jenis mesin bubut pada garis besarnya diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu :

a) Mesin bubut ringan

Mesin bubut ini dimaksudkan untuk latihan dan pekerjaan ringan. Bentuk peralatannya kecil dan sederhana. Dipergunakan untuk mengerjakan benda-benda kerja yang berukuran kecil. Mesin ini terbagi atas mesin bubut bangku dan model lantai, konstruksinya merupakan gambaran mesin bubut bangku dan model lantai, konstruksinya merupakan gambaran mesin bubut yang besar dan berat.

b) Mesin bubut sedang (Medium Lathe)

Konstruksi mesin ini lebih cermat dan dilengkapi dengan penggabungan peralatan khusus. Oleh karena itu mesin ini digunakan untuk pekerjaan yang lebih banyak variasinya dan lebih teliti. Fungsi utama adalah untuk menghasilkan atau memperbaiki perkakas secara produksi.

c) Mesin bubut standar (Standard Lathe)

Mesin ini dibuat lebih berat, daya kudanya lebih besar daripada yang dikerjakan mesin bubut ringan dan mesin ini merupakan standar dalam pembuatan mesin-mesin bubut pada umumnya.

d) Mesin bubut meja panjang (Long Bed Lathe)

Mesin ini termasuk mesin bubut industri yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan panjang dan besar, bahan roda gigi dan lainnya.

Secara prinsip lain mesin bubut dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Mesin bubut centre lathe Mesin bubut ini dirancang utnuk berbagai macam bentuk dan yang paling umum digunakan, cara kerjanya benda kerja dipegang (dicekam) pada poros spindle dengan bantuan chuck yang memiliki rahang pada salah satu ujungnya, yaitu pada pusat sumbu putarnya, sementara ujung lainnya dapat ditumpu dengan center lain.

2.

Mesin Bubut Sabuk.

Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi yang digerakkan sabuk atau puli pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.

3.

Mesin bubut vertical turning and boring milling

Mesin ini bekerja secara otomatis, pada pembuatan benda kerja yang dibubut dari tangan, pekerjaan yang tidak dilakukan secara otomatis hanyalah pemasangan batang-batang yang baru dan menyalurkan produk-produk yang telah dikerjakan, oleh sebab itu satu pekerja dapat mengawasi beberapa buah mesin otomatis dengan mudah.

4.

Mesin bubut facing lathe.

Sebuah mesin bubut terutama digunakan untuk membubut benda kerja berbentuk piringan yang besar. Benda-benda kerjanya dikencangkan dengan cakar-cakar yang dapat disetting pada sebuah pelat penyeting yang besar, tidak terdapat kepala lepas.

5.

Mesin Bubut Turret.

Mesin bubut turret mempunyai ciri khusus terutama menyesuaikan terhadap produksi. Ketrampilan pekerja dibuat pada mesin ini sehingga memungkinkan bagi operator yang tidak berpengalaman untuk memproduksi kembali suku cadang yang identik. Kebalikannya, pembubut mesin memerlukan operator yang sangat terampil dan mengambil waktu yang lebih lama untuk memproduksi kembali beberapa suku cadang yang dimensinya sama. Karakteristik utama dari mesin bubut jenis ini adalah bahwa pahat untuk operasi berurutan dapat disetting dalam kesiagaan untuk penggunaaan dalam urutan yang sesuai. Meskipun diperlukan keterampilan yang sangat tinggi untuk mengunci dan mengatur pahat dengan tepat tapi satu kali sudah benar maka hanya sedikit keterampilan untuk mengoperasikannya dan banyak suku cadang dapat diproduksi sebelum pensettingan dilakukan atau diperlukan kembali.

6.

Mesin bubut Turret Jenis Sadel.

Mempunyai turret yang dipasangkan langsung pada sadel yang bergerak maju mundur dengan turret.

7.

Mesin bubut turret vertikal.

Mesin bubut vertikal adalah sebuah mesin yang mirip Freis pengebor vertikal, tetapi memiliki karakteristik pengaturan turret untuk memegang pahat. Terdiri atas pencekam atau meja putar dalam kedudukan horizontal, dengan turret yang dipasangkan diatas rel penyilang sebagai tambahan, terdapat paling tidak satu kepala samping yang dilengkapi dengan turret bujur sangkar untuk memegang pahat. Semua pahat yang dipasangkan pada turret atau kepala samping mempunyai perangkat penghenti masing-masing, sehingga panjang pemotongan dapat sama dalam daur mesin yang berurutan. Pengaruhnya adalah sama seperti bubut turret yang berdiri pada ujung kepala tetap. Dan mempunyai segala ciri yang diperlukan untuk

memudahkan pemuat, pemegang dan pemesinan dari suku cadang yang diameternya besar dan berat. Pada mesin ini hanya dilakukan pekerjaan pencekaman.

Selain jenis-jenis mesin bubut berdasarkan prinsip dan garis besar yang telah disebutkan diatas ,beberapa varian mesin bubut yang lain seperti:
A. Mesin Bubut Turet Horizontal

B.

Mesin Bubut Turet Horizontal Otomatis

C.

Mesin Bubut Turet Vertikal

D.

Mesin Bubut Stasiun Jamak Vertikal Otomatis

E.

Mesin Bubut Duplikat

F.

Mesin Ulir Otomatis

E.

Bagian-Bagian Mesin Bubut 1. Kepala Tetap (Head Stock)

Kepala tetap atau Head Stock adalah bagian utama dari mesin bubut yang digunakan untuk menyangga poros utama, yaitu poros yang digunakan untuk menggerakkan spindle. Poros utama yang terdapat padaHead Stock tersebut juga digunakan sebagai dudukan roda gigi untuk mengatur kecepatan putaran yang diinginkan. Fungsi rangkaian roda gigi dalam kepala tetap adalah untuk meneruskan putaran motor menjadi putaran spindle.

2. Kepala Lepas (Tail Stock)

Kepala lepas atau Tail Stock adalah bagian dari mesin bubut yang letaknya di sebelah kanan dan dipasang di atas alas atau meja mesin. Bagian ini berfungsi untuk tempat pemasangan senter yang digunakan sebagai penumpu ujung benda kerja dan sebagai dudukan penjepit mata bor pada saat melakukan pengeboran. Tail Stock ini dapat digerakkan atau digeser sepanjang meja mesin, dan dikencangkan dengan perantara mur dan baut atau dengan tuas pengencang. Selain digeser sepanjang alas atau meja mesin, tail stock juga dapat digerakkan maju atau mundur atau arah melintang saat digunakan untuk keperluan pembubutan benda yang konis.

3. Alas Mesin (Bed)

Alas mesin adalah bagian dari mesin bubut yang berfungsi sebagai pendukung serta lintasan eretan (support) dan kepala lepas (head stock). Permukaan alas mesin ini yang rata dan halus dapat mendukung kesempurnaan pekerjaan membubut (kelurusan).

4. Eretan (Support)

Eretan adalah bagian mesin bubut yang berfungsi sebagai penghantar pahat bubut sepanjang alas mesin. Ada tiga jenis eretan, yaitu:
a) Eretan bawah, eretan ini berjalan sepanjang alas mesin. b) Eretan lintang, eretan ini bergerak tegak lurus terhadap alas mesin. c) Eretan atas, eretan ini digunakan untuk menjepit pahat bubut dan dapat diputar ke kanan atau ke kiri sesuai dengan sudut yang diinginkan, khususnya pada saat mengerjakan bendabenda yang berbentuk konis. Eretan ini dapat digerakkan secara manual maupun otomatis.

5. Sabuk pemutar (belt drive)

Suatu tenaga dan putaran dipindahkan oleh gesekan diantara pulley dan belt dari shaft satu ke shaft yang lain. Kekurangan dari penggunaan belt driver (sabuk pemutar) yakni terkadang sabuk yang digunakan bisa slip dari paulinya sehingga rasio kecepatan antara pemutar dan yang diputar berselisih 1 %. Belt yang digunakan pada umumnya berbentuk V dan flat. Bentuk V memiliki tarikan yang bagus dan sangat cocok untuk jarak dekat/pendek. Feed dan adjustment motion dapat dilakukan dengan handel di saddle. Feed otomatis dapat dihubungkan dengan menghubungkan feed shaft yang berputar dari kepala tetap (feed gear box).

6. Apron

Pada mesin bubut, apron dipasang di saddle. Apron membawa pengontrol seperti lever (pengungkit), handwheel (roda kemudi) dan lain lain. Apron membawa mekanisme yang mengubah putaran dari feed shaft menjadi gerakan memanjang dan melintang.
7. Lead screw

Gambar 2.g Leadscrew dan feedshaf pada mesin bubut Pada dasarnya lead screw hanya dipakai untuk membuat ulir. Bentuknya dari kepala tetap memanjang hingga tailstock, lead screw digerakan melalui gear box. Apabila half nut (mur setengah) yang mencengkam lead screw dihubungkan oleh engegement lever, maka lead screw menggerakan eretan dengan arah memanjang.
8. Feed shaf

Feed shaft terletak dibawah ulir pengarah (lead screw) yang berfungsi untuk menyalurkan daya dari kotak pengubah cepat untuk menggerakan mekanisme apron dalam arah melintang atau memanjang.

9. Chip pan

Bagian ini berfungsi sebagai tempat pembuangan chip yang dihasilkan dari pemotongan benda kerja.

10. Ways

Gambar 2.h Ways pada mesin bubut

Ways merupakan jalur tempat dudukan tailstock dan carriage bergerak memanjang menuju headstock.
11. Tool post

Pada mesin bubut digunakan tempat dudukan pahat bubut melalui alat bantu tool holder. Bentukan tool post itu sendiri berupa gabungan dua gear.

F.

Macam-macam aksesoris pada mesin bubut:

No 1

Nama aksesoris Centering tool

Fungsi Alat bantu refrensi pada setting tool

Gambar

Centre extention

Alat tambahan penumpu pada live center

Chip hook

Membersihkan chip di mesin

Collet

Mencengkam benda kerja dengan dimensi (ukuran) tertentu

Coolant can

Tempat cairan pendingin

Cover

Pelindung saat proses between centre

Dead centre

Menumpu benda kerja pada spindle

Drawbar for collet Pengikat collet pada spindle

Drill chuck

Mencengkam TD, reamer, CD dll

10

Driver plate

Memutar lathe dog

11

Face plate

Mencengkam benda kerja yang tak beraturan

12

Follow rest

Menompang benda kerja yang panjang

13

Lathe dog

Mencengkam benda kerja saat sistem between centre

14

Live centre

Menompang benda kerja pada tailstock

15

Oil gun

Melumasi niple-niple mesin

16

Oil tube

Melumasi bagian mesin

17

Quick clamp for tool holder

Mencengkam tool holder pada tool post

18

Rubber

Membersihkan chip pada chip pan

19

Special tool holder

Mencengkam tool square shank yang besar

20

Spanner for tool holder

Mengencangkan baut pada tool holder

21

Spanner for universal chuck

Mengencangkan / mengunci jaws pada universal chuck

22

Spanner for quick clamp

Mengencangkan / mengunci baut pada quick clamp

20

Steady rest

Menompang benda kerja yang panjang saat facing

21

Stopper bintang

Alat bantu pada saat refrensi atau pencengkaman

22

Support clamp for ISO 7 HSS

Dikombinasikan dengan tool holder for ISO 7

23

Tool holder for ISO 7 HSS

Mencengkam tools bentuk pipih

24

Tool holder for square shank

Mencengkam tool square shank

25

V Block

Dikombinasikan dengan tool holder for cylindrical shank

G.

Pahat Bubut

Pahat bubut pada proses pembubutan digunakan untuk memotong atau mengurangi benda kerja. Pahat bubut yang digunakan dalam proses pemotongan harus sesuai dan tepat, oleh sebab itulah harus dapat dipilih dan dibedakan setiap jenis proses yang dilakukan seperti roughing, finishing, borring, thread cutting dan sebagainya. Selain itu pada umunya setiap kemampuan dan umur pahat bubut berbeda beda hal ini tegantung dari jenis dasar material, bentuk sisi potong dan pengasahan dari pahat itu sendiri. Jenis material pahat bubut juga akan mempengaruhi kecepatan RPM pada mesin yang akan dibahas pada pembahasan mengenai perhitungan RPM mesin bubut. Untuk menghasilkan pengerjaan yang optimal dan tahan lama maka harus memperhatikan sifat sifat bahan dasar (material) pahat bubut, berikut beberapa kriteria yang harus dimiliki bahan pahat bubut:
Keras, dalam artian bahan material yang digunakan harus lebih keras dari bahan benda kerja yang dipotong supaya sisi potong pahat bubut mampu memotong benda kerja dengan baik. Ulet, supaya sisi potong pahat tidak mudah patah atau gumpil. Tahan panas, supaya ketajaman sisi potong tidak mudah aus ataupun rusak. H. Bahan HSS, Carbide brazed, insert Bahan HSS

Pahat bubut jenis HSS (High Speed Steel) dibuat dari bahan baja alloy tool steel, yaitu baja yang mengandung karbon, kromium, vanadium, dan molybdonum. Macam-macam dari alloy tool steel ini ada pada baja paduan tinggi dan juga ada baja paduan rendah.

HSS adalah baja paduan tinggi, yang mana akan menghasilkan permukaaan yang halus pada benda kerja untuk pahat finishingnya. Pahat finishing titik dengan sisi potong yang bulat dan pahat finishing datar dengan sisi potong datar. Dalam perlakuannya, pahat finishing selain digerinda pada awal juga harus digosok dengan oil stone secara hati hati karena hal ini akan mempengaruhi permukaan benda kerja yang di kerjakan. Disamping itu harus diketahui bahwa pahat finishing dengan bahan HSS umumnya mudah dibentuk namun juga tidak tahan panas.
Carbide brazed

Pada umumnya jenis pahat dengan carbide brazed digunakan untuk proses pemakanan kasar dalam waktu sesingkat mungkin. Oleh sebab itu pahat ini harus dibuat kuat selain itu bentukan pahat ini beragam bisa lurus ataupun bengkok sedangkan menurut letak sisi potong utamanya, pahat dapat dibedakan menjadi dua yaitu pahat kanan dan pahat kiri.
Insert

Pada dasarnya pahat ini memiliki kesamaan fungsi serta bentuk dengan pahat berbahan carbide brazed hanya saja bahan yang digunakan pada pahat ini merupakan baja paduan antara tungsten dan molybdenum serta cobalt dan carbon. Sedangkan dari ujung penyayatnya hingga tangkainya terbuat dari cermented carbide. Ada dua tipe jenis pahat ini, yaitu :
a) Pahat roughing (pahat kasar) dengan bahan carbide brazed

Pada umumnya jenis pahat dengan carbide brazed digunakan untuk proses pemakanan kasar dalam waktu sesingkat mungkin. Oleh sebab itu pahat ini harus dibuat kuat selain itu bentukan pahat ini beragam bisa lurus ataupun bengkok sedangkan menurut letak sisi potong utamanya, pahat dapat dibedakan menjadi dua yaitu pahat kanan dan pahat kiri.
b) Pahat finishing (pahat halus) dengan bahan HSS

HSS adalah baja paduan tinggi, yang mana akan menghasilkan permukaaan yang halus pada benda kerja untuk pahat finishingnya. Pahat finishing titik dengan sisi potong yang bulat dan pahat finishing datar dengan sisi potong datar.
I. Jenis pahat

Pahat pada mesin bubut merupakan tool utama dalam proses pengerjaan benda karena melalui pahat pahat inilah akan diadakannya pemotongan pada benda kerja, oleh sebab itulah selain memilki jenis material yang sesuai dengan fungsinya dan beragam, pahat pada mesin bubut yang digunakan untukk memotong atau mengurangi benda kerja juga memilki berbagai jenis yang memilki fungsi dan cara pengguanaan yang berbeda. Berikut ini beberapa jenis pahat bubut beserta fungsi dan gambarnya yang dijelaskan pada tabel 2.b

Tabel 2.b Jenis jenis pahat beserta fungsi No 1 Jenis Pahat ISO 1 Carbide Fungsi Untuk pembubutan memanjang dengan plan angle 75 Gambar

ISO 2 Carbide

Untuk pembubutan memanjang dengan plan angle 45

ISO 3 Carbide

Untuk pembubutan memanjang dan melintang dengan plan angle 93

ISO 4 Carbide

Untuk pembubutan memanjang dengan kedalaman pemakanan yang kecil dengan plan angle 0

ISO 5 Carbide

Untuk pembubutan melintang dengan plan angle 0

ISO 6 Carbide

Untuk pembubutan memanjang dengan plan angle 90

ISO 7 Carbide

Untuk pembubutan melintang dengan plan angle 0

ISO 8 Carbide

Untuk memperbesar lubang pada proses pembubutan dengan plan angle 75 Untuk lubang tembus

ISO 9 Carbide

Untuk memperbesar lubang pada proses pembubutan dengan plan angle 92, Untuk lubang tidak tembus

J.

Cara setting pahat

Sebelum berbicara jauh tentang mesin bubut, cara penyetelan pahat adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil dari proses pengerjaan itu sendiri seperti kesentrisan pahat terhadap benda kerja, kecang atau tidaknya tool holder mencengkam pahat dan lain sebagainya.

Selain itu hal ini juga berkaitan langsung dengan keselamatan operator mesin karena misalkan pahat tidak dalam kondisi yang erat maka akan menyebabkan gaya yang diberikan benda kerja tidak mampu ditahan oleh pahat menyebabkan pahat terlepas dari tool holder dan melayang. Berikut cara penyetelan (setting) pahat yang benar :
Buka pengunci yang ada di tool holder for square shank. Masukan pahat pada tool holder for square shank dan kunci pengikat pahat yang ada di tool holder for square shank. Pasangkan pahat yang sudah siap di tool holder for square shank, pada quick clamp for tool holder. Pasangkan live centre pada tailstock. Samakan titik center centering tool dengan live centre, disebut center apabila kedua ujung tool tersebut bertemu. Centerkan pahat yang telah dipasang dengan centering tool yang sudah center dengan live centre, disebut center apabila kedua ujung tool tersebut bertemu.

Yang harus diperhatikan bahwa jangan pernah memasang pahat pada saat mesin sedang beroperasi.

K.

Sistem pencengkaman pada bubut

Chuck Pencengkaman dengan sistem chuck adalah sistem pencengkaman dengan menggunakan tools disebut chuck yang ditempelkan langsung pada spindle mesin bubut. Dalam sistem pencengkaman dengan chuck, terdapat dua pembagian yakni:
Universal chuck

Yakni sistem pencengkaman benda kerja yang memiliki satu titik pusat. Dimana saat mngencangkan maupun mengendurkan chuck, jaws (komponen pada titik sudut pencengkam) bergerak bersama. Hal ini lah yang menyebabkan center pada universal chuck tetap dan tidak bergeser. Keunggulan sistem pencengkaman chuck dengan universal chuck ini adalah benda yang dicengkam langsung pada titik pusatnya,

pencengkaman akan lebih mudah, cepat dan praktis serta memiliki keakurasian yang baik. Sedangkan kelemahannya adalah sistem pencengkamannya hanya dapat dilakukan pada benda kerja yang dengan satu center saja.

Gambar 2.i Universal dan indefendent chuck pada sistem pencengkaman chuck

Indefendent chuck

Sistem pencengkaman chuck dengan indefendent chuck ini biasanya digunakan pada proses pembubtan eksentrik (titk sumbu yang lebih dari satu titik pada satu benda kerja), dan benda kerjanya berbentuk kotak, ataupun tak beraturan dan sebagainya. Jaw pencengkam pada indefendent chuck bergerak bebas satu sama lain (tidak bergerak secara bersama). Keunggulannya dibandingkan dengan universal chuck adalah pencengkamannya sangatlah kuat karena gerakan jaw bisa diatur satu persatu namun indefendent chuck juga memiliki kekurangan yakni pencengkaman benda kerjanya tidak langsung pada centernya dan pennyetelan benda kerja menggunakan waktu yang lama. Chuck center Pencekaman dengan metode chuck centre, biasanya digunakan untuk proses pembubutan benda kerja yang panjang & kesentrisan yang baik, ataupun untuk proses lain yang menghasilkan gaya pemakanan yang besar dan bisa berpengaruh terhadap hasil pembubutan. Dalam melakukan pencengkaman pada chuck center untuk menompang benda kerja tidak hanya menggunakan chuck pada headstock juga menggunakan live centre pada tailstock.

Gambar 2.j Sistem pencengkaman chuck center

Between center

Gambar 2.k sistem pencengkaman between center

Pada prinsipnya pencengkaman dengan between center memiliki kesamaaan dengan chuck center yakni pencengkaman dengan menopang benda kerja di headstock dan tailstock hanya saja tool yang digunakan pada between center lebih banyak serta tidak

menggunakan chuck dibandingkan dengan chuck center. Berikut alat-alat yang digunakan pada pencengkaman ini yakni driving plate, dead centre sleeve, dead centre, lathe dog dan live centre yang memilki fungsi berbeda-beda dan dapat dilihat di tabel. Adapun keunggulan dari sistem pencengkaman between center yakni menjamin kesentrisan hasil pembubutan hingga 0.02 mm sedangkan kelemahannya tidak mampu memakan depth of cut yang besar (hanya untuk finishing). Face plate

Sistem pencengkaman benda kerja dengan face plate memiliki kelebihan yakni dapat mencengkam benda kerja yang tidak beraturan ataupun benda kerja yang tidak simetris akan tetapi kelemahannya adalah dalam penyetelannya membutuhkan waktu yang lama. Sama halnya pada sistem pencengkaman yang lain, pencengkaman face plate biasanya menggunakan alat bantu, adapun alat alat tersebut berupa klem, baut pengikat, balancer (angle plate atau rod), pararel block.

Gambar 2.l Contoh sistem pencengkaman dengan face plate

Collet Sistem pencengkaman benda kerja menggunakan collet memiliki kelebihan yakni kesentrisan benda kerja yang dihasilkan cukup baik dan proses pencengkamannya cepat hanya saja memilki kelemahan diameter benda kerja yang dicekam sangat terbatas serta bentuk benda kerja harus silindris. Sedangkan alat bantu yang digunakan sistem pencengkaman collet sesuai dengan namanya yakni collet.
L. Perhitungan putaran mesin bubut

Kecepatan putaran mesin Pada saat kita akan menggunakan mesin bubut melakukan pemakanan pada benda kerja banyak hal yang harus kita perhatikan mulai dari hal yang kecil hingga hal yang sangat besar pengaruhnya pada hasil pengerjaan benda kerja. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah kecepatan dari putaran mesin bubut itu sendiri. Kecepatan putaran mesin bubut dapat diketahui dengan melakukan perhitungan pada sebelumnya, untuk dapat melakukan perhitungan maka kita harus mengetahui mulai dari jenis material benda kerja dan alat potong yang akan kita gunakan hingga diameter dari benda kerja tersebut baik yang awal sampai hasilan diameter yang diinginkan. Dari data-data tersebut maka barulah dapat menghitung kecepatan putaran mesin yang diperlukan dengan menggunakan rumus berikut ini :

n Cs d

: kecepatan putaran mesin (rpm) : kecepatan potong (cutting speed) (m/min) : selisih diameter awal dengan diameter yang akan dihasilkan

Kecepatan potong (cutting speed) Kecepatan potong adalah kecepatan benda kerja yang ditunjukan pada suatu titik yang berputar dalam satuan waktu. Artinya jika benda kerja berputar satu kali maka panjang yang dilewati oleh pahat bubut adalah sama dengan keliling dari dari benda kerja tersebut. Kecepatan potong dan kecepatan putaran mesin bubut adalah dua hal yang tak mungkin terpisahkan keduanya akan saling berpengaruh terhadap satu sama lain, hal ini menunjukan bahwa kecepatan potong memiliki pengaruh yang besar terhadap proses pemakan pada mesin bubut. Ketika akan melakukan pemotongan kasar maka harus digunakan kecepatan pemakanan yang besar namun dengan putaran mesin yang lambat, sebaliknya ketika akan melakukan pemakan halus (finishing) maka digunakan kecepatan pemakanan yang lambat namun dengan putaran mesin yang cepat. Selanjutnya, dalam menentukan kecepatan potong yang akan dilanjutkan untuk menentukan putaran mesin, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan karena berpengaruh terhadap kecepatan potong yakni :
Kekerasan material benda kerja yang akan diproses pada mesin bubut Jenis alat potong yang akan digunakan Tingkat kehalusan yang dikendaki Ukuran tatal yang terpotong

Dalam penetuannya kecepatan potong tidak dapat dipilih secara asal atau sembarangan, oleh sebab itulah kecepatan potong harus ditentukan sesuai dengan tabel yang dikeluarkan oleh ISO sebagai acauan standar dan umum.

Berikut ini adalah kecepatan potong dari beberapa material terhadap logam:
Cutting speed B kp/mm2 Carbide Description HSS Brazed St. 37, SS41, MS St. 36, S45C, S50C, 760 St. 70 Assab 709, 708, SCM 440 Durex WZ / Assab M4 Sp. K5, XW10 Veresta V, DF2, SK3 Sp. KNL, XW 41 Assab 8407, SKD 61 Cast iron 200 HB Cast iron 200-205 HB Brass Al Alloy 37 50 60 70 70 90 90 100 70 75 65 75 60 15 25 35 40 Low carbon steel Medium carbon steel High carbon steel High tensile strength Tool steel wrought (shock resistence) Cold work tool steel Cold work tool steel Cold work tool steel Hot work tool steel Grey cast iron Grey cast iron Pearlitic Non ferrous Non ferrous 36 40 30 36 22 30 21 27 27 32 27 32 23 26 23 26 27 32 27 42 24 36 40 80 80 150 120 110 100 125 90 100 100 130 110 130 85 97 85 97 105 125 110 130 42 100 45 100 100 200 Insert 145 190 120 160 110 140 120 160 120 160 100 120 100 120 125 160 120 160 102 123 100 120 120 220

Material

M.

SOP (standart operation procedure)

SOP (standart operation procedure) merupakan langkah langkah atau tata cara dasar dan standar yang harus dilaksanakan pada saat sebelum, sedang dan setelah proses penggunaan suatu alat, mesin, benda ataupun barang yang berkaitan dengan keadaan dari alat, mesin benda ataupun barang yang kita gunakan, serta hal hal yang harus diperhatikan, dilakukan, ataupun tidak dilakukan yang juga berkaitan pada penggunannya.

Pada penggunaan mesin bubut banyak hal yang harus dikuti dalam SOP (standart operation procedure) baik berkaitan dengan perawatan mesin bubut, benda kerja, pahat bubut, aksesoris hingga keselamatan pengguna mesin bubut itu sendiri atau sering disebut dengan safety procedure (prosedur keselamatan kerja) yang akan dibahas pada pembahasan selanjutnya. Berikut ini, akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan SOP pada penggunaan mesin bubut : Proses inventarisasi Proses inventarisasi merupakan salah satu SOP pada saat penggunaan mesin bubut, akan tetapi ineventarisasi ini tidak hanya berkaitan dengan mesin bubut saja karena proses inventarisasi ini secara umunya adalah suatu proses yang berupa mendata alat atau barang yang ada. Hanya saja secara khusus dalam penggunaan mesin bubut proses inventarisasi adalah proses pendataan alat yang ada pada mesin bubut secara terperinci dan jelas didalam bentukan tertulis. Tujuannya agar alat yang digunakan diketahui secara jelas kondisi dan frekuensi penggunaan alat serta ada tidaknya alat yang akan dibutuhkan pada proses (hilang dan lain-lain). Siklus SOP Dalam melaksanakan SOP pada saat menggunakan mesin bubut, selain

memperhatikan hal hal apa saja yang dibutuhkan pada kegiatan tersebut, waktu atau estimasi dari kegiatan tersebut baik secara rutin, berkala ataupun berkelanjutan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan alat dan barang yang digunakan, hal ini juga berkaitan dengan sering atau tidaknya alat yang digunakan karena semakin sering alat tersebut kita gunakan maka harus semakin sering pula alat tersebut kita perlakukan dalam prosedur.

Dalam langkah langkah SOP pada umumnya dapat dilakukan dalam 3 tahap yakni :
Harian

SOP harus dilakukan setiap hari setelah menggunakan mesin dan alat, dapat dilakukan dengan cara melakukan inventarisasi, membersihkan aksesoris mesin, membersihkan kotoran sisa chip, memberikan minyak atau oli pada alat alat kerja agar tidak berkarat atau korosi.

Mingguan

SOP dapat dilakuakan dalam kurun waktu satu kali dalam satu minggu, tahapan ini dilkakukan dengan melakukan pembersihan pada bagian luar mesin, pengecekan mesin seperti baut baut dan sebagainya.
Bulanan

SOP dapat dilakuakan dalam waktu satu bulan sekali, tapan ini dapat berupa membersihkan seluruh bagian dari mesin mulai dari dalam hingga luar mesin, mengecek keadaan roda gigi, mengganti oli atau pelumas pada roda gigi, mengecek keadaan fan belly, mengecek keadaan motor atau dinamo, bagian dalam eretan (carriage) penggantian onderdil dan sebagainya jika diperlukan.

N.

Pembersihan (cleaning)

Pembersihan (cleaning) adalah kegiatan yang harus dilakukan untuk menjaga dan atau merawat mesin maupun alat alat yang digunakan supaya tidak mengalami kerusakan ataupun korosi serta menjaga mesin dan alat hingga mampu atau memiliki waktu pakai yang lama. Proses pembersihan (cleaning) sebaiknya dilakukan sebelum dan setelah

dilakukannya penggunaan mesin dan alat. Pembersihan ini meliputi :


Pembersihan bagian dalam dan luar mesin Pembersihan alat atau aksesoris yang digunakan Memberikan pelumas minyak atau oli pada bagian bagian atau alat yang dianggap penting dan rentan terkontaminasi korosi (karat)

Berikut ini tabel SOP pada penggunaan mesin bubut beserta urutan, standart, siklus dan keterangannya.
No 1 Urutan Lakukan invebtaris Standart Penyimpangan terhadap standart terdata secara aktual 2 Bersihkan mesin dari oli, Meja, eretan, spindel Siklus Harian, sebelum mengoperasikan mesin Harian, sebelum Ket Laporkan jika ada penyimpangan, pada instruktur Dengan kain majun

debu dan chip

bersih dan kering

mengoperasikan mesin

Periksa level oli pada headstock

Diatas lower level

Harian, sebelum mengoperasikan mesin

Jenis oli : tellus 46 (penggantian oli dilakukan tiap 6 bulan)

Beri pelumas pada niple

3-4 kali hingga muncul rembesan (terdapat 8 niple)

Harian, sebelum mengoperasikan mesin Bulanan

Jenis oli : tonna 68 gunakan oli pump

Cek kondisi karet transmisi pada spindel

Harus memilki ketegangan yang baik dan kering

Dengan rabaan tangan dan kain majun

Beri pelumas pada gear dengan grease dan cek kondisi pemasang gear

Gear harus terlumasi grease dan terpasang dengan kekocakan yang cukup

Bulanan

Jenis oli : grease titanium

Gunakan clamping sisten yang diperlukan

Pilih sesuai dengan kebutuhan benda kerja Baut baut pengikat dan pencengkam terikat dengan kuat

Harian, sebelum mengoperasikan mesin

Cek ulang kondisi semua baut pengikat maupun pencengkam

Harian, sebelum mengoperasikan mesin Harian, sebelum mengoperasikan mesin

Dengan rabaan jari dan spanner

Bersihkan chuck, jaws, tailstock, live centresebelum dipasang

Dengan rabaan tangan

10

Gunakan rpm dan feedrate yang sesuai pada saat pengerjaan benda kerja

Menggunakan rumus perhitungan mesin dengan benar

Harian, sebelum mengoperasikan mesin

Lihat tabel Cs dan diameter yang tepat, puataran mesin maks. 1200 rpm

11

Perhatikan keselamatan dan kerapihan kerja

Gunakan kacamata, sepatu safety dan baju kerja

Harian, selama mengoperasikan mesin

Perhatikan sikap kerja, penempatan alat dan keselamatan kerja

12

Cleaning

Mesin, MTC dan lingkungan sekitar bersih Bagian mesin yang tak dicat harus diberi oli tipis Emergency stop harus dalam kondisi aktif

Harian, setelah mengoperasikan mesin

Dengan kuas, kain majun dan karet

Dengan kuas dan oli bekas

Dua tombol emergency aktif

Main switch dalam

Mesin dalam kondisi mati 13 Lakukan inventaris Penyimpangan terhadap standart terdata secara aktual Harian, setelah mengoperasikan mesin

posisi off

Laporkan hasil inventaris pada instruktur

DAFTAR ISI

Klasifikasi Proses Produksi


MECHINING I. Mesin Milling 1. Pengertian Mesin Millling 2. Gerakan-gerakan Mesin Milling dan Arah Pemakanan 3. Bentukan yang bisa dikerjakan Mesin Milling 4. Bagian bagian Mesin Milling dan Fungsinya 5. Jenis-jenis Mesin Milling 6. Sistem Pencekaman 7. PUTARAN MESIN 8. SOP ( STANDARD OPERATION PROCEDURE ) II. MESIN TURNING 1. Gerakan Utama dalam Mesin Bubut 2. Pengertian 3. Tipe Pengerjaan dalam Mesin Turning 4. Jenis-Jenis Mesin Bubut 5. Bagian-Bagian Mesin Bubut 6. Macam-macam aksesoris pada mesin bubut: 7. Pahat Bubut 8. Bahan HSS, Carbide brazed, insert 9. Jenis pahat 10. Cara setting pahat 11. Sistem pencengkaman pada bubut 12. Perhitungan putaran mesin bubut 13. Pembersihan (cleaning) 14. SOP (standart operation procedure)

TUGAS III PROSES PRODUKSI

OLEH RAHMAN SONOWIJOYO 130421036

PROGRAM STUDI EKSTENSI DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA


MEDAN
2013/2014

Anda mungkin juga menyukai