Anda di halaman 1dari 16

MAKALA BHP

Isu etik budaya dan agama dalam gender dan reproduksi

Anggota : Mirza Radiani Lusiananda ( 081.0211.064) Putu Tatia Indah (081.0211.095) Dea Anenta V. (081.0211.056) Ratu Ayu ( 081.0211.123) Deasy Umi HS (081.0211.091) Imaniar Swariandina (081.0211.035) Tito Ramadhani (081.0211.026) Firdia O. (081.0211.080) Ratri Puspitaningrum (081.0211.072) Putra Sang Fajar (081.0211.093) Leonard Philipus ( 081.0211.081)

KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, serta nikmat sehat dan nikmat iman sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Isu etik budaya dan agama dalam gender dan reproduksi sesuai dengan yang kami harapkan. Makalah ini kami ajukan sebagai tugas yang telah diberikan kepada kami. Dalam menyelesaikan makalah ini kami banyak menghadapi kesulitan, namun berkat Ridho-Nya dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. Oleh sebab itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dan mendukung kami dalam

menyelesaikan makalah ini. Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Semoga amal dan kebaikan semua pihak mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Dan semoga segala bentuk bantuan yang kami terima tidak di sia-siakan.Kami menyadari bahwa hasil penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami memohon maaf atas kesalahan yang terdapat di dalamnya. kami pun mengharapkan saran ataupun kritik yang membangun untuk menuju semoga ke yang ini lebih dapat baik lagi. Akhir bagi kata kita kami yang

mengharapkan membacanya.

makalah

bermanfaat

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta , mei 2009

PENDAHULUAN

Seperti kita telah ketahui sendiri akhir-akhir ini permasalahan gender sendiri telah membuat setiap kita berpikir dan tertarik untuk membicarakannya serta membahasnya.karena bagi budaya kita yaitu budaya timur masalah gender sendiri memiliki tembap yang sangat sensitive untuk dibicarakan karena sebagian dari kita masih menganggap hal tersebut sangat lah tebu untuk dibahas. Oleh sebab itu sebaiknya sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya kita mengerti dahulu pengertian serta segala sesuatu yang berhubungan dengan gender. Pengertian Gender dan Jenis kelamin Gender bukanlah jenis kelamin. Gender dan jenis kelamin, keduanya membicarakan laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin (sex) secara umum dipergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, sedangkan gender mengidentifikasi konstruksi sosialbudaya tentang laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, gender bukanlah tentang perempuan, tetapi tentang laki-laki dan perempuan. Dengan demikian isu gender berkait dengan relasi laki-laki dan perempuan. Dalam kamus Bahasa Indonesia, Sex juga berarti jenis kelamin (1983), lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormone dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologi lainnya, sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya (Lindsey,1990). Menurut Nassarudin Umar (2000), study gender menekankan perkembangan aspek maskulinitas atau feminitas seseorang, sedangkan study

sex lebih menekankan perkembangan aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki dan perempuan. Adapun kodrat cenderung mengakomodir kedua jenis perbedaan tersebut, baik seks maupun gender. Gender sebagai suatu konstruksi sosial merupakan isu yang dinamis dan berkembang sejalan dengan pemikiran manusia tentang kehidupan sosial yang diinginkannya, khsusnya dalam mencapai keadilan sosial (social justice). Oleh karena itu, gender hanyalah salah satu isu dalam keadilan sosial. Perbedaan gender (gender different) terjadi oleh karena dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, dan dikonstruksikan secara sosial dan budaya melalui kehidupan agama maupun Negara, yang pada akhirnya sering dianggap sebagai ketentuan Tuhan. Perbedaan yang terus dilakukan dengan upaya sengaja membedakan akan makin memperluas kesenjangan gender (gender gap). Analisis gender dan persepsi ketidakadilan Konsep penting yang perlu dipahami dalam membahas masalah perempuan adalah membedakan antara konsep jenis kelamin [sex] dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan antara konsep sex dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender [gender differences] dan ketidakadilan gender [gender inequalities] serta kaitannya terhadap ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep sex dan gender sangat diperlukan dalam membahas masalah ketidakadilan sosial. Maka sesungguhnya terjadi keterkaitan antara persoalan gender dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya.

Pemahaman terhadap konsep gender sangat diperlukan mengingat dengan konsep ini telah lahir suatu analisis gender. Analisis gender dalam sejarah pemikiran manusia tentang ketidakadilan sosial dianggap suatu analisis baru, disbanding dengan analisis sosial lainnya, sesungguhnya analisis gender tidak kalah mendasar, malah analisis gender justru ikut mempertajam analisis kritis yang ada. Misalnya analisis kelas yang dikembangkan oleh karl Marx ketika melakukan kritik terhadap sistem kapitalisme, akan lebih tajam jika pertanyaan gender juga dikemukakan. Demikian halnya analisis kritis lain seperti analisis hegemony ideology dan kebudayaan yang dikembangkan oleh Gramsci, merupakan kritik terhadap analisis kelas yang dianggap sangat sempit. Dalam analisis bentuk apa pun, tanpa mempertanyakan gender terasa kurang mendalam. Dalam bidang epistemoligi dan riset, misalnya: Analisis kritis (Critical Theory) dari penganut aliran Frankfurt yang menekuni pada perkembangan akhir dari masyarakat. Kapitalisme dan dominasi epistemology positivisme terasa kurang mendasar justru karena tidak ada pertanyaan gender dalam kritik mereka. Lahirnya feminist epistemology dan riset epistemology adalah penyempurnaan dari kritik Frankfurt dengan adanya pertanyaan gender. Demikian pula analisis wacana (Discourse analysis) yang berangkat dari pemikiran Fucoult dan Althuser, yaitu merupakan kritik terhadap semangat reduksionisme dan anti pluralisme dari keseluruhan analisis di bawah pengaruh zaman modernisme. Tanpa analisis gender kritik mereka kurang mewakili semangat pluralisme yang diimpikan. Dengan demikian analisis gender merupakan analisis kritis yang mempertajam dari analisis kritis yang sudah ada.

Mengapa pengungkapan masalah kaum perempuan dengan menggunakan analisis gender sering menghadapi perlawanan atau resistensi, baik dari kalangan kaum lelaki maupun perempuan sendiri? Tidak hanya itu, analisis gender justru sering ditolak oleh mereka yang melakukan kritik terhadap system sosial yang dominan seperti kapitalisme. Untuk menjawab persoalan ini, perlu diidentifikasi beberapa penyebab timbulnya resistensi tersebut,pertama; karena mempertanyakan status kaum perempuan pada dasarnya adalah mempertanyakan system dan struktur yang telah mapan, bahkan mempertanyakan posisi kaum perempuan pada dasarnya menggoncang struktur dan system status quo ketidakadilan tertua yang ada dalam masyarakat. Kedua;Banyak terjadi kesalahan pahaman tentang mengapa masalah kaum perempuandipertanyakan? Kesulitan lain, dengan mendiskusikan soal gender pada dasarnya membahas hubungan kekuasaan yang sifatnya sangat pribadi, yakni menyangkut dan melibatkan individu kita masing-masing serta menggugat preveledge yang kita miliki dan tengah kita nikmati selama ini. Maka pemahaman terhadap konsep gender sesungguhnya merupakan isu mendasar dalam rangka menjelaskan masalah hubungan antar kaum perempuan dan kaum lelaki, atau masalah hubungan kemanusiaan kita. Persoalan lain, kata gender merupakan kata dan konsep asing, sehingga usaha menguraikan konsep gender dalam konteks Indonesia sangatlah rumit dilakukan.

Dahulu kala orang belum banyak tertarik untuk membedakan seks dan gender, karena persepsi yang berkembang di dalam masyarakat mengganggap perbedaan gender sebagai akibat perbedaan seks. Pembagian peran dan kerja secara seksual dipandang sesuatu hal yang wajar. Akan tetapi belakangan ini disadari bahwa tidak mesti perbedaan seks menyebabkan ketidakadilan gender (gender inequality). Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa penggunaan istilah kodrat perempuan yang berkembang dalam masyarakat selama ini tidak sepenuhnya terkait dengan faktor biologis. Persoalan mendasar yang sering muncul adalah: Apakah faktor biologi (kodrati) berperan dalam menentukan perilaku manusia? Apakah perbedaan perilaku laki-laki dan perempuan dapat dijelaskan secara biologis, atau kultur, atau interaksi antara keduanya? Apakah faktor biologis mempunyai efek dan menentukan dalam pembagian peran gender?

ISI
Kesetaraan gender sudah menjadi wacana publik, terutama menyangkut hak, status dan kedudukan perempuan di sektor domestik dan publik. Persoalan kesetaraan gender bukanlah monopoli Indonesia, bahkan negara modern seperti AS juga baru tahun 70-an memberikan perhatian terhadap persamaan hak kaum perempuan. Masalah diskriminasi juga masih tetap muncul hingga sekarang Meskipun masalah kesetaraan gender sudah mendapat perhatian yang luas, dalam realitas empiris banyak perempuan masih mengalami diskriminasi. Oleh karena itu, penyelesaian terhadap masalah ini harus terus dilakukan, baik melalui diseminasi maupun sosialisasi. Sosialisasi dan diseminasi sangat penting untuk dilakukan, sebab tantangan yang dihadapi oleh perempuan tidak hanya dari perspektif agama, tetapi juga budaya

ISU Aborsi kehamilan yang tidak diinginkan Poligami Kawin muda atau pernikahan di bawah umur Khitan pada wanita dalam agama Wanita tidak boleh menjadi pemimpin Wanita dalam dunia pendidikan

PERBEDAAN JENIS KELAMIN - GENDER


JENIS KELAMIN (SEX)
Perbedaan organ biologis laki-laki dan perempuan khususnya pada bagian reproduksi.

GENDER
Perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan hasil konstruksi sosial

Ciptaan Tuhan Bersifat kodrat Tidak dapat berubah Tidak dapat ditukar Berlaku sepanjang zaman & di mana saja

Buatan manusia Tidak bersifat kodrat Dapat berubah Dapat ditukar Tergantung waktu dan budaya setempat

Perempuan : Menstruasi, Hamil, Melahirkan & Menyusui. Laki-laki : Membuahi (spermatozoa)

Keadilan Gender : Berbeda dengan pandangan kaum feminis Barat, kesetaraan gender dalam budaya tertentu seperti di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan agama, biasanya mempertimbangkan perbedaan aspek biologis dan psikologis. Kesetaraan gender lebih mengarah kepada keadilan gender, bukan persamaan yang mengarah kepada penyeragaman. Secara garis besar, setidaknya berkembang dua pemikiran dari para feminis di Indonesia dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Pertama, pendekatan sosiologis yang diimplementasikan

Budaya Minangkabau perempuanlah pemegang seluruh harta warisan dan laki-laki sebagai pemelihara harta warisan itu

Sedangakn baik budaya Jawa dan Bali.laki-lakilah yang menjadi ujung tombak dalam harta warisan karena merekalah kepala keluarga

Perempuan dalam suku Baduy dinikahkan dengan umur 15 tahun atau lebih muda selambat-lambatnya setelah perempuan tersebut mengalami menstruasi dinikahkan dengan pria berusia 20 tahun