Anda di halaman 1dari 9

Pengetian Videografi :

Ilmu yang mempelajari tentang proses merencanakan, merekam dan menyunting rangakaian peristiwa (gambar) dan alat untuk mengambil/merekam gambar disebut kamera HAND OUT MATERI VIDEOGRAFI/ SINEMATOGRAFI Mengapa perlu mempelajari editing [film]?. Harusnya ini menjadi salah satu pertanyaan utama saat kita terjun di dunia audio-visual. Mempelajari editing berarti membantu kita untuk berfikir editing [editorial thinking]. Editorial thinking berarti saat kita merencanakan atau menyusun shot kita sadar bahwa shot tersebut nanti akan berhubungan dengan shot lain. Dalam hal ini nantinya tiap adegan yang akan diolah dalam editing akan mampu menjadi sebuah kesatuan yang tentunya tersusun dari banyak shot yang ditata sedemikian rupa hingga menjadi satu kesatuan utuh. 1. Pengertian Secara singkat, editing bisa diartikan sebagai suatu metode [cara] untuk memilh, menggabungkan dan menata rangkaian shot-shot secara kreatif menjadi satu kesatuan cerita yang utuh yang disampaikan kepada penonton [ complete story telling]. Satu shot dirangkai dengan shot berikutnya menjadi satu scene, scene dirangkai dengan scene lain menjadi satu sequence, dan sequence-sequence dirangkai menjadi cerita yang utuh. Selanjutnya sebelum kita menginjak pada pembahasan mengenai editing dan aspek kreatifnya, maka sudah seharusnya kita membahas mengenai hal yang bersifat teknis mengenai hal-hal yang terkait dengan perihal editing itu sendiri. 2. Analog dan Digital a. Dasar Pembentukan Imaji [gambar] Gambar video dibentuk pada layer [televisi atau monitor] oleh pensil elektronik yaitu elektron yang diinisiasi oleh penembak elektron pada rangkaian teknis perangkat televisi. Dibalik layar televisi atau monitor dijejali dengan elemen gambar yang peka cahaya [pixel] yang bercahaya pada saat ditabrak oleh elektron seperti disebut diatas. Penembak elektron menembakkan elektron pada layar seperti sistem scanning dengan jalur tertentu [dari kiri ke kanan seperti kita membaca] garis, demi garis. Jika tembakan itu lemah maka titik pada elemen peka cahaya akan bercahaya lemah, demikian sebaliknya sesuai dengan kekuatan tembakan elektron. Proses ini hampir sama dengan display lampu hias yang berkelap kelip di jalanan saat acara khusus atau iklan, hanya saja lampu yang berkelip ukurannya sangat kecil. b. Dasar Pembentukan warna pada Display Video Semua warna yang indah yang kita lihat di layar, bahkan yang hitam putih, merupakan campuran dari 3 warna dasar subtraktif, yaitu Merah, Hijau dan Biru. Tergantung dari seberapa keras pixel dihantam oleh elektron, pixel-pixel tersebut menyala dengan berbagai intensitas. Campuran dari intensitas tersebut yang akan menghasilkan bermacam-macam warna. Karena itu pula, setiap garis/ jalur yang di scan oleh elektron mengandung ketiga pixel Merah, Hijau dan Biru. Kombinasi dan campuran ketiga pixel dengan kekuatan tembakan elektron yang berbeda membentuk imaji seperti yang kita lihat di layar.

c. Analog dan Digital Sistem analog memproses dan merekam dari sinyal kontinyu yang berfluktuasi sama persis seperti sumber sinyal yang asli. Sebagai gambarannya, garis yang terbentuk akan bersifat linier [lurus] atau sinusoidal. Sebaliknya semua komputer dan video digital berbasis pada kode biner yang menggunakan pemahaman 0 dan 1 untuk melakukan interpretasi pada data. Hal ini mengakibatkan pembacaan sinyal dikonversi menjadi nilai yang pasti. Hal ini berarti input yang bersifat analog akan dikonversi menjadi deretan tangga yang disampelkan menjadi nilai-nilai yang pasti untuk nantinya diterjemahkan. c.1. Kode Biner Basis yang dipakai oleh komputer dan video digital adalah kode biner yang menggunakan nilai 0 dan 1 untuk membuat penilaian dan interpretasi nilai. Digit biner, atau bit berfungsi layaknya saklar, jika on maka bernilai 1 dan sebaliknya. Jadi sistem nomer berbasis 2, 0 dan 1. Digit biner merupakan angka terkecil untuk informasi yang dapat diproses komputer. Satu bit mewakili atau menjelaskan keberadaan 2 level, yaitu 0 dan 1, Dua bit merangkum 4 level [22], tiga bit merangkum 8 level [23] dan seterusnya hingga dengan satu grup dari 8 bit [28] disebut sebagai byte. c.2. Proses Digital Proses digitalisasi dari data/informasi sinyal video analog adalah melalui 4 tahapan yaitu - Anti-aliasing : Pada langkah ini frekuensi yang ekstrem dari sinyal yang tidak penting untuk sampling di filter/ disaring - Sampling : Pada tahap ini jumlah titik dari sinyal di seleksi dan dipilih untuk kemudian dijadikan acuan untuk membangun tangga-tangga sebagai nilai digital dengan jarak interval yang sama - Quantizing : Langkah ini adalah untuk membangun tangga-tangga digital, dan menempatkan titik acuan pada posisi yang pasti. Masing-masing anak tangga akan mendapatkan angka desimal yang khusus yang menandakan ketinggiannya. Quantizing 8 bit mengandung angka maksimum 256 anak tangga [28] - Coding : Pengkodean juga disebut encoding, merupakan langkah untuk merubah angka ketinggian dari hasil quantizing menjadi angka dalam kode biner. c.3. Keuntungan digital Kenapa lebih memilih dengan cara digital?, Dengan cara digitalisasi ini akan lebih menguntungkan dalam kaitannya dengan - Masalah aspek rasio - Kualitas - Kompatibilitas dengan komputer dan fleksibilitas - Transport sinyal dan sistem kompresi d. Aspek Rasio Adalah proporsi lebar:tinggi dari layar. - Aspek rasio televisi analog dan televisi tradisional biasanya adalah 4:3, juga biasa disebut dengan 1,33:1 - Aspek rasio Televisi digital adalah 16:9 atau juga bisa disebut dengan aspek rasio 1,78:1

3. Sistem Storage dalam Perekaman Video a. Recording berbasis Tape/ pita Video tape recording hampir sama dengan audio tape recording. Impuls elektronik dari sinyal video dan sinyal suara direkam [ditulis] dan disimpan dalam sistem penyimpanan magnetis pada lapisan oksida besi yang ada pada pita kaset. Pada sistem ini pita kaset perekam terbagi menjadi 1 video track, 2 audio track dan 1 control track yang berfungsi penting pada saat dimainkan [playback] atau saat sinkronisasi dengan kecepatan putar dan kecepatan rekam sekaligus juga esensial bagi proses editing kaitannya dengan time code. Media perekam berbasis tape/ pita yang utama analog adalah: - Betacam SP : akurat dengan performa yang akurat dan superior, dengan lebar pita 0,5 inchi, biasa dipakai di stasiun kepenyiaran dan kualitas perekaman gambar yang bagus dengan 4 track untuk audio. - S-VHS : kaset ini sering dipergunakan di news room dengan durasi yang cukup panjang - Hi8 : sebetulnya bukan nama, tetapi mengacu pada ukuran pita 8 mm, dapat merekam hingga 120 menit - VHS : merekam sinyal dalam mode NTSC, relatif murah Media perekam berbasis tape/ pita yang utama digital adalah: - DVCPRO : produksi panasonic dengan ukuran pita 6,55 mm dengan partikel pita metal yang dapat merekam hingga 2 jam - DVCAM : produksi Sony untuk menyaingi DVCPRO, mempunyai panjang pita bervariasi hingga perekaman 3 jam - DV : ekonomis dan banyak dipergunakan terutama untuk news rooom karena ukurannya yang portable - Betacam SX : pengembangan Betacam SP yang menggunakan pita dengan lebar 0,5 inchi. b. Recording berbasis Disk Perekaman berbasis disk tentu berbeda dengan pita karena jenis data sudah tentu berbeda. Semua penyimpanan data video non pita berbasis sama, yaitu menyimpan data dalam bentuk digital dengan file yang spesifik yang bisa diidentifikasi oleh komputer dan bisa diakses secara acak. Penyimpanan dengan sistem ini ada beberapa macam: - Hard Disk - Portable Hard Disk - Electronic Still Store system - Digital video chart machine - Read/Write Optical Discs 4. Standar Video Dalam kaitannya dengan video, penerapan standar untuk video juga ditetapkan dengan perbedaan yang khusus. a. NTSC (National Television Standard Comitte), dikembangkan pada tahun 1950, yang mendefinisikan standar video yang dibuat sampai 525 garis scan horizontal setiap 1/30 detik. Standar ini digunakan di Amerika Serikat dan Jepang serta Canada dan Mexico serta Korea.

b. PAL (Phase Alternate Line), digunakan di Eropa (kecuali Perancis) termasuk Indonesia, Australia, dan China, dengan 625 garis scan dengan frame rate 25 frame per second. c. SECAM (Sequential Couleur Avec Memoire ), merupakan standar yang digunakan di Perancis dengan 25 frame per second. d. HDTV (High Definition Television), merupakan standar baru yang mencapai 1080 garis scan aktif (dari total 1125) dengan aspek rasio 16:9 5. Basic Editing System Sistem Editing dasar yang dapat dijelaskan dalam proses editing adalah: a. Linear editing Merupakan editing analog ataupun digital yang berbasis tape/ pita. Sehingga pemilihan shot bersifat non random [tidak bisa memilih shot secara acak]. Editing dalam sistem ini bisa menggunakan sumber dalam berbagai variasi yaitu: a.1 Single source system a.2 Expanded single source system a.3 Multiple source system b. Non Linear Editing Sistem editing ini memperkenankan akses secara random [acak] terhadap shot yang akan diedit. Informasi audio dan video disimpan dalam bentuk data digital yang bisa diakses dan dikelola secara acak dan bebas yang menggunakan sistem storage berbasis disk. 6. Editing Mode Mode editing dikenal ada dua macam yaitu: a. Online editing Secara sederhana, online editing bisa dijelaskan sebagai kegiatan editing untuk kepentingan cepat, atau untuk kepentingan on air. b. Offline Editing Offline editing bisa berarti kegiatan editing dengan membuat perencanaan secara kasar, biasanya proses editing menghasilkan yang disebut sebagai rough cut untuk selanjutnya dilakukan proses lanjutan untuk menghasilkan editing final. 7. A-B Roll dan A-B Rolling a. A-B Rolling Terdiri dari 2 player [ A dan B ] dan 1 recorder. Dua sumber materi editing menyuplai materi visual secara simultan untuk kemudian dipilih shot yang diseleksi dengan menggunakan video switcher [ini menjadi cirinya]. Misalnya sumber A menyediakan shot-shot master dan sumber B menyediakan shotshot Close Up. Dari hal ini diketahui bahwa antara sumber A dan sumber B harus dilakukan sinkronisasi time code. Konsekuensinya, sumber audio hanya berasal dari 1 sumber. b. A-B Roll Pada mode editing ini ada perangkat edit controller yang merupakan perangkat antara source [A dan B] dan perangkat recorder. Perangkat ini merupakan pengganti switcher pada mode A-B Rolling. Pada A-B Rolling,

switching dilakukan secara simultan dan cepat melalui switcher. Sedangkan pada A-B Roll, edit controller melakukan hal yang lebih presisi dengan kemampuan untuk bisa mengakses kedua source sekaligus tidak harus kedua source dijalankan secara simultan karena pengkodean sudah dilakukan dengan edit controller. 8. Editing Non Linier Editing non linier selalu berbasis disk, dengan pengelolaan data digital dengan menggunakan software terkait dengan editing video. Kembali menjadi perhatian khusus mengenai perbedaan fundamental antara linier editing dan non liniear adalah, bahwa pada sistem linier adalah pengkopian dari sumber video tape ke video tape yang lain, sedangkan non linier memperkenankan akses secara acak terhadap materi editing, jadi seperti pengelolaan manajemen file. a. Proses editing - Proses pengerjaan pekerjaan editing selalu dimulai dengan proses capture, yaitu proses pemasukan/perekaman informasi data analog atau digital dari audio dan video kedalam komputer. - Logging, yaitu proses pencatatan identifikasi shot dan take yang dilakukan pada tape sumber. Hal ini dilakukan untuk membantu melokalisir posisi dari shot tertentu tanpa harus melakukan preview berulang-ulang. Ini juga berfungsi untuk membantu untuk memanage file pada saat pengolahan dengan software. Longging berisi informasi mengenai : nomer kaset nomer scene dan take nomer timecodep ilihan pengambilan [good/not good atau choose] informasi sound, dan keterangan shot atau adegan - Rough cut - Proses editing final - Mixing, merupakan proses untuk mencampur materi audio dan disinkronkan dengan materi video. Track audio sendiri terdiri atas track original sound, track untuk sound effect, track untuk background sound [termasuk musik] dan IT Track. b. Sistem Kompresi Sistem kompresi ditujukan untuk mengurangi kuantitas data sambil tetap mempertahankan hasil rekonstruksi dari data aslinya. Proses tersebut adalah dengan mengurangi atau membuang informasi yang tidak berguna [redundan] sehingga data atau informasi yang terkirim adalah data atau informasi yang penting saja. Sebagai contoh, sudah dijelaskan bahwa semua data dalam sistem digital dirubah menjadi data digital, contohnya data audio untuk durasi selama 1 detik membutuhkan ruang sebesar 1,4 Mb. Untuk video dengan sistem NTSC 480 pixel x 480 lines x 30 frame/ second membutuhkan ruang sebesar 168 MB untuk durasi 1 detik, jadi total ruang yang dibutuhkan untuk audio dan video sepanjang 1 detik adalah kurang lebih 170 Mb, artinya ruang untuk durasi sepanjang 1 jam akan membutuhkan sekitar 612 Gbit atau 76 Gbyte. c. CODEC Merupakan singkatan dari compression-decompression, merupakan perangkat lunak kecil yang ada dalam perangkat lunak sistem yang melakukan tugas untuk kompresi dan dekompresi dengan cara yang berbeda pada tiap tipe media digital. CODEC berisi algoritma perangkat lunak tingkat tinggi yang berfungsi pada saat kita membuat video digital

[misalnya] maka codec melakukan kompresi, memainkannya, codec melakukan dekompresi.

sedangkan

saat

kita

d. Lossless dan Lossy Adalah merupakan dua metode kompresi. Lossless compression berarti tidak ada data yang hilang. Contoh format untuk metode ini adalah file GIF [Graphic Interchange Format]. Sebaliknya, lossy compression berarti ada data yang dibuang/ hilang. Contoh untuk format ini adalah JPEG [ Joint Photographic Expert Group] e. Time Code Merupakan sistem pengkodean standard yang dibuat oleh SMPTE [ Society of Motion Picture and Television Engineers] , organisasi yang membuat standar broadcast. Kode ini merupakan kode untuk frame-based, artinya sinyal elektronik direkam pada alamat spesifik pada track di pita kaset untuk membetikan alamat yang spesifik pada tiap-tiap frame. Pembaca time code menterjemahkan sinyal alamat tersebut menjadi angka yang spesifik yang terdiri dari jam, menit, detik, dan frame untuk tiap-tiap frame. Kode ini biasanya disusun dalam bentuk penulisan 00:00:00:00.

9. Tujuan Dasar Proses Editing Seperti dijelaskan diawal, editing bisa diartikan sebagai suatu metode [cara] untuk memilih, menggabungkan dan menata rangkaian shot-shot secara kreatif menjadi satu kesatuan cerita yang utuh yang disampaikan kepada penonton [ complete story telling]. Artinya tujuan dasar dari proses editing adalah sepenuhnya untuk dapat menyampaikan ceritera secara utuh pada penonton, sehingga proses ini mencakup fungsi seleksi [selection], menggabungkan/ menyusun [assembling] dan menata [arranging] elemen-elemen editing. 10. Prinsip 3 Jurus Dalam melakukan pekerjaan editing terdapat prinsip 3 jurus dalam menata gambar dengan cara yang paling sederhana, hal ini berkaitan dengan materi visual dan ukuran shot dari sumber yang akan diedit. Dalam hal ini master yang digunakan untuk nantinya diedit minimal harus mempunyai 3 jenis shot dengan 3 kali pengambilan gambar, yaitu shot master untuk adegan keseluruhan, kemudian shot medium dan shot Close Up untuk adegan dari masing-masing obyek, gambarannya seperti dalam diagram A = Shot master B = Shot Medium C = Shot Close Up D = Hasil Editing

B/C

B/C

D
11. Faktor-faktor dalam Shot Shot merupakan satuan terkecil dari sebuah film utuh , dan shot inilah yang akan diolah menjadi satu kesatuan besar dan utuh dalam editing. Setiap shot mengandung isi. Faktor yang terkandung dalam sebuah shot adalah: a. Faktor manusia atau subyek lain [subyek sinematik] b. Faktor ruang - alami - non alami c. Faktor waktu - waktu fisik [real time] - waktu film [film time] d. Faktor peristiwa dramatis e. Faktor suara - atmosfer - dialog - special effect - musik - narasi 12. Transisi Merupakan perpindahan dari satu shot ke shot yang lain. Secara prinsip dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cut dan dengan menggunakan optical effect. a. Cut Merupakan perpindahan shot secara langsung dan tajam. b. Optical effect Transisi optical effect utama yang sering digunakan dalam editing adalah: - Fade [in dan out] - Dissolve - Flip - Wipe 13. Matched Cut dan Cutaway

Matched cut merupakan sambungan 2 shot yang secara fisik, kedua shot memiliki inti subyek yang sama namun berbeda type of shot [ukuran shot] atau berbeda angle [sudut pengambilan gambar]. Cutaway merupakan penggabungan 2 shot dimana shot pertama dengan shot berikutnya tidak memiliki hubungan antara subyek intinya secara langsung. 14. Dimensi Editing Keterhubungan antar shot merupakan hal yang hakiki dalam editing. Dalam keterhubungan tersebut erkandung dimensi yang menyertai hubungan antar shot yang mampu menciptakan ruang dan waktu yang berjalan dengan sinergis membentuk wujud film secara utuh. a. Dimensi Grafis Menyatukan 2 shot membentuk suatu persamaan maupun perbedaan. Pada dasarnya jika kita membicarakan hubungan grafis antar shot, kita membicarakan film dari sisi visual. Hal ini nampak sekali pada akhirnya akan membentuk mood film dari segi visual. Elemen ini berkaitan dengan sisi piktorial yang berhubungan dengan seluruh aspek pengadeganan, yaitu lighting, setting, kostum dan sikap dari semua sosok yang terdapat dalam frame. Disamping itu juga menyangkut aspek sinematografi, framing serta mobilitas kamera. Materi grafis bisa diedit untuk meningkatkan kesinambungan maupun kekontrasan secara mendadak. Dengan ini diharapkan editor mampu mempertimbangkan aspek grafis untuk memperkuat story telling dari sebuah film. Hubungan grafis ini bisa dicapai dengan a.1. bentuk a.2. garis a.3. cahaya [nada gelap terang] a.4. warna a.5. gerak [baik subyek maup[un kamera] b. Dimensi Spasial Editing menawarkan suatu cara pada sinema untuk meningkatkan kehadiran ruang secara tidak terbatas. Hal ini karena editing mencakup 2 wilayah ruang dalam realita yaitu realita dan ruang dalam film. Dengan hal ini editing mampu membuat pengetahuan mengenai ruang mampu bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Tujuannya adalah membentuk ruang-ruang yang terpisah membentuk keterhubungan [koeksistensi spasial] c. Dimensi Ritmis Editing membuka kemungkinan mengontrol rangkaian gambar untuk menciptakan ritme atau irama dengan cara mengatur elemen-elemen ritme itu sendiri. Secara umum, hal ini tentu saja kembali pada tujuan untuk memperkuat story telling dari sebuah film. c.1 Dimensi ritmis dari sebuah film dapat dicapai melalui beberapa aspek: Suara [dialog, narasi, atmosphere, musik, sound effect] Gerak [subyek dan kamera] Type of Shot Durasi atau panjang pendeknya shot Metode penyambungan antar shot [cut dan optical effect] c.2 Dari segi ritme film secara fisik dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu: Ritme Internal

Ritme Internal sebuah film merupakan ritme yang terkandung dalam film itu sendiri dan kita bisa merasakannya saat kita menganalisa sebuah film secara keseluruhan dan sebuah shot secara individual. Ritme Eksternal Ritme eksternal sebuah film merupakan ritme yang terbentuk pada saat editing, hal ini terkait dengan pengaturan panjang pendeknya shot, bisa berupa Konstan Tak beraturan [acak] Percepatan [akselerasi] Perlambatan Optical effect dengan memanfaatkan fasilitas transisi dan effect pada software editing

d. Dimensi Temporal Editing dapat mengontrol waktu aksi dalam sebuah film, khususnya film cerita. Editing dapat memberikan kontribusi dalam manipilasi waktu penceritaan dalam sebuah cerita dalam plotnya. Dengan aspek ini, pembuat film dapat mengarahkan penonton untuk membentuk waktu penceritaan. Aspek ini dibagi dalam tiga bagian: d.1 Urutan Urutan dari presentasi cerita dalam film biasanya disampaikan dengan jelas, hal ini seperti menggunakan pola bercerita flashback atau flashforward. Bila pola ini tidak dipersiapkan dari awal dan hanya mengandalkan pada saat editing, maka akan beresiko merusak penceritaan. d.2 Durasi Editing menawarkan fasilitas untuk merubah durasi alamiah dari sebuah film. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: Elipsis [penghilangan waktu], yang dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan menggunakan optical effect, frame kosong dan menggunakan cutaway. Ekspansi [pemanjangan], merupakan kebalikan dari elipsis, dilakukan dengan memanjangkan durasi shot/ aksi dalam bentuk slow motion. d.3 Frekuensi Yang dimaksudkan dengan frekuensi adalah melakukan pengulangan [repetisi] dari sebuah shot. Hal ini dilakukan untuk memperkuat nilai dramatik dari sebuah aksi, yang secara otomatis akan memperkuat penceritaan.