Anda di halaman 1dari 3

4. Reklamasi dan Ameliorisasi. Untuk dapat dimanfaatkan, sebagian besar daerah rawa harus direklamasi dengan cara : a.

Membangun jaringan reklamasi rawa b. Mengeringkan rawa c. Menimbun rawa. Membangun jaringan irigasi rawa dimaksudkan untuk membuang air yang berlebih dan memberi suplesi air yang sesuai dengan yang dibutuhkan dengan membuat saluran yang dapat berfungsi sebagai saluran drainasi pada saat air surut dan suplesi pada saaat air pasang, ataupun membuat jaringan saluran drainasi dan suplesi yang terpisah Mengeringkan rawa diartikan menurunkan muka air hingga elevasi tertentu sehingga tanah dapat dimanfaatkan untuk budidaya pertanian. Penurunan muka air akan memberi kesempatan terjadinya oksidasi dan suasana aerobe di lapisan tanah permukaan yang dapat memberikan kemungkinan pematangan tanah. Menimbun rawa dilakukan apabila lahan tersebut sangat rendah sehingga apabila akan dibangun suatu bangunan tertentu, keberadaan genangan akan membahayakan stabilitas dan keamanan bangunan. Penimbunan rawa yang luas untuk keperluan pertanian akan sangat tidak feasible. Reklamasi daerah rawa akan terdiri atas 4 langkah penting serta 4 kondisi yang mengikutinya. 1. Penurunan elevasi muka air tanah. Pada semua daerah rawa, baik yang mengandung tanah sulfat masam maupun gambut, penurunan muka air tanah sangat dibutuhkan terutama untuk menunjang proses pematangan tanah, memberi ruang tumbuhnya akar, dan proses oksidasi pirit. Elevasi muka air tanah tersebut sebaiknya dapat diatur hingga kedalaman tertentu, sehingga kenaikan elevasi muka air tanah, dalam waktu yang diinginkan, dapat dicegah. 2. Peningkatan Kemampuan Infiltrasi Air. Kemampuan infiltrasi air ke dalam tanah ditentukan oleh struktur dan tekstur tanah, kemampuan tanah meresapkan (porositas) serta kedalaman air tanahnya. 3. Pelindihan dan pengenceran bahan toxic dari dalam tanah

Pemberian air dalam jumlah yang cukup, baik berasal dari air irigasi maupun dari air hujan, dan memberikan kesempatan air untuk meresap dalam tanah akan melindih keasaman dan kegaraman yang ada di dalam tanah yang dapat menjadi bahan toxic bagi tanaman. Pelindihan yang berlebihan akan berakibat pada ikut larutnya nutrisi yang ada di dalam tanah terutama nitrat. 4. Pengelolaan tanah yang cerdas. Reklamasi tentunya tidak hanya mengandung arti mengeringkan atau menimbun rawa, namun akibat dari pengeringan dan penimbunan rawa tersebut harus diantisipasi agar bekas daerah rawa tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Menurut Dradjat dkk (1986) penurunan muka air tanah karena proses pengeringan akan mengubah kondisi tanah dari reduce condition menjadi kondisi teroksidasi. Di daerah rawa pada proses tersebut akan terjadi proses oksidasi ferrosulfides menjadi ferri oxides dan sulfuric acid yang akan meningkatkan keasaman, proses transformasi mineral tanah dengan pelepasan kation K+, Na+, Mg+2 , Ca+2 , Fe+2 , Fe+3 , Al+3 , yang akan meningkatkan daya hantar listrik, proses oksidasi bahan organik yang mendadak dan akan mengakibatkan hilangnya bahan organik dan hilangnya kelembaban tanah sehingga terjadi subsidence. Gambaran besarnya daya hantar listrik atau Electric Conductivity (EC) yang baik untuk pertanian dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Klasifikasi sanilitas air untuk keperluan pertanian. Class C1 EC*106 100-250 TSS in ppm 60-160 Characteristics Low salinity hazard; water can be used for most crops on most soils C2 250-750 160-480 Moderate salinity hazard; water can be used with moderate leaching for most crops C3 750-2250 480-1440 Medium-high salinity hazard; water for use on soils with moderate/ poor permeability and crops with moderate/good salt tolerance; leaching is required. C4 2250-4000 1440-2560 High salinity hazard; water for use on wellpermeable soils with salt-tolerant crops; special leaching requirements must be met. 2

C5

4000-6000 2560-3840

Very high salinity hazard; water generally undersirable for irrigation; to be used only on highly permeable soils with frequent leaching and with highly soil-tolerant crops.

C6

Above 6000

Above 3840

Excessive salinity hazard; water unsuitable for irrigation unless under very special conditions

Source: U.S. Salinity Laboratory; Modified by Thorne and Peterson (1964)

Mengingat pengaruh pengeringan atau penurunan muka air tanah tersebut, maka dalam proses reklamasi rawa perlu dilakukan pengendalian penurunan muka air tanah yang terkendali. Oksidasi untuk proses pematangan tanah hanya diperlukan hingga lapisan yang dibutuhkan untuk pertanian. Lapisan dibawahnya sebaiknya tetap dijaga pada kondisi tereduksi (tergenang). Proses oksidasi yang berlebihan akan mengakibatkan terjadinya oksidasi pirit (FeS) yang berlebihan dan memproduksi bahan toxic (asam sulfur dan kation-kation) yang banyak dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengencerkan dan mencucinya. Pencucian dan pengenceran bahan toxic tersebut dapat memanfaatkan air hujan yang jatuh ke lahan ataupun dengan memanfaatkan luapan air sungai pada waktu air pasang. Untuk itu diperlukan suatu tata saluran yang memungkinkan terjadinya proses pencucian dan pengenceran yang baik. Selain proses pencucian tersebut, disarankan juga untuk memperbaiki tanah dengan memberi amelioran (kapur tohor/ CaCO3) untuk mengikat ion H+ sehingga dapat menetralisir keasaman. Sebagai gambaran, kapur tohor yang dibutuhkan untuk memperbaiki keasaman tanah sulfat masam ini adalah sebesar 20 hingga 30 ton per hektar.