Anda di halaman 1dari 17

HAK WANITA DALAM BIDANG PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

oleh:
Mulya Haryadi Nurana Sekar Lestari Wahyu Woliyono Ahmad Luthfi Firdaus Andy Setyadi 1006661790 1006661821 1006661954 100686894 1006686995

Kasus
Malala Yousafzai merupakan seorang gadis remaja

16 tahun dan seorang aktivis pendidikan bagi perempuan yang berasal dari kota Mingora, Pakistan. Malala mulai aktif memperjuangkan pendidikan terutama bagi anak perempuan sejak tahun 2009, diawali dengan blog yang ia tulis di bawah situs BBC. Pada saat itu, Taliban mengeluarkan dekrit yang melarang anak perempuan bersekolah, bahkan menghancurkan sekolah-sekolah khusus perempuan. Pada tanggal 9 Oktober 2012, dia ditembak di bagian kepala dan leher oleh prajurit Taliban sebagai akibat dari usaha pembunuhan yang dilakukan Taliban kepadanya, Malala selamat namun terluka berat.

Pihak Taliban mengaku bertanggung jawab atas

usaha pembunuhan tersebut. Pihak Taliban menganggap Malala sebagai ancaman, karena Malala dari dulu lantang menyuarakan keadilan pendidikan bagi kaum perempuan, bagi Taliban hal tersebut tidak dapat diterima karena menurut mereka tidak sesuai dengan syariat Islam. Lebih lanjut pihak Taliban menganggap Malala sebagai antek kaum kafir barat, dan mata-mata barat dengan mempropagandakan kebudayaan dan pendidikan barat.

Analisis berdasarkan Konvensi melawan Diskriminasi dalam Pendidikan


Pasal 3 huruf b mengamanatkan bahwa dalam

rangka menghilangkan dan mencegah diskriminasi dalam pendidikan, negara memastikan, dengan peraturan perundangundangan apabila diperlukan, bahwa tidak ada diskriminasi dalam penerimaan siswa pada institusi pendidikan.

Dalam kasus ini, negara Pakistan tidak dapat

memberikan kepastian mengenai ketiadaan diskriminasi dalam penerimaan siswa pada institusi pendidikan (sekolah). Diskriminasi ini terutama dilakukan terhadap anak perempuan. Bahkan Taliban yang bukan merupakan pihak yang berwenang dapat melakukan diskriminasi terhadap perempuan yang hendak memperoleh pendidikan.

Analisis berdasarkan DUHAM


DUHAM Pasal 26 ayat (1), bahwa setiap orang

berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma, setidak-tidaknya untuk tingkatan sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka bagi semua orang, dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama oleh semua orang, berdasarkan kepantasan.

Analisis berdasarkan CEDAW


Hal ini sangat bertentangan dengan Pasal 10

CEDAW yang menyatakan bahwa seorang wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal mendapatkan pendidikan. Pasal 10 huruf f CEDAW menekankan pengurangan tingkat putus sekolah bagi perempuan dan menyelenggarakan programprogram bagi remaja putri dan perempuan yang meninggalkan sekolah sebelum tamat.

Namun bukannya mengurangi tingkat putus

sekolah, Malala Yousafzai malah tidak bisa meneruskan pendidikannya dan nyawanya terancam karena menyuarakan hak pendidikan bagi anak perempuan.

Analisis berdasarkan Kovenan tentang Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya


Pasal 13 ayat (2) Kovenan tentang Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, menyatakan Negara Pihak dalam kovenan ini mengakui bahwa untuk mengupayakan hak tersebut secara penuh:
a. Pendidikan dasar harus diwajibkan dan tersedia secara cuma-cuma bagi semua

orang;
b. Pendidikan lanjutan dalam berbagai bentuknya, termasuk pendidikan teknik dan

kejuruan tingkat lanjutan pada umumnya, harus tersedia dan terbuka bagi semua orang dengan segala cara yang layak, dan khususnya melalui pengadaan pendidikan Cuma-Cuma secara bertahap;
c. Pendidikan tinggi juga harus tersedia bagi semua orang secara merata atas

dasar kemampuan, dengan segala cara yang layak, khususnya melalui pengadaan pendidikan Cuma-Cuma secara bertahap;
d. Pendidikan mendasar harus sedapat mungkin didorong atau ditingkatkan bagi

orang-orang yang belum mendapatkan atau belum menyelesaikan pendidikan dasar mereka;
e. Pengembangan suatu sistem sekolah pada semua tingkatan harus secara aktif

diupayakan, suatu sistem beasiswa yang memadai harus dibentuk dan kondisikondisi materiil staf pengajar harus terus menerus diperbaiki

Analisis Kasus Menurut Peraturan Pakistan


Sampai pada saat terjadinya tragedi percobaan

pembunuhan Malala, Pakistan tidak memiliki peraturan yang mengatur mengenai sistem pendidikan, terutama akses untuk mendapatkan pendidikan. Peraturan terkait pendidikan hanya terdapat pada Article 25A dari Constitution of Pakistan. Pakistan juga tidak mempunyai peraturan yang mengatur tentang perlindungan dan hak anak maupun wanita.

Constitution of Pakistan
Article (25)

Equality of citizens.- (1) All citizens are equal before law and are entitled to equal protection of law. (2)There shall be no discrimination on the basis of sex. (3) Nothing in this Article shall prevent the State from making any special provision for the protection of women and children

Article 25A. Right to education.- The State shall provide free and compulsory education to all children of the age of five to sixteen years in such manner as may be determined by law.
Kenyataannya,

akses untuk mendapatkan pendidikan terutama bagi perempuan, masyarakat miskin dan pedesaan sangat sulit didapat.

Analisis Hak Asasi Perempuan


Hak Asasi Perempuan adalah hak yang dimiliki oleh seorang perempuan, baik karena ia seorang manusia maupun sebagai seorang perempuan, dalam khasanah hukum hak asasi manusia dapat ditemui pengaturannya dalam berbagai sistem hukum tentang hak asasi manusia. Teori Peran Laki-Laki dan Perempuan Terdapat dua teori peran laki-laki dan perempuan yang berlawanan, yaitu teori nature dan teori nurture. Bahwa teori nature mengatakan perbedaan peran gender bersumber dari perbedaan biologis laki-laki dan perempuan, sedangkan teori nurture mengatakan perbedaan peran gender antara laki-laki dan perempuan bukan merupakan konsekuensi dari perbedaan biologis yang kodrati, namun lebih sebagai hasil konstruksi manusia, yang dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural. Berikut patokan atau ukuran sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidak adilan atau tidak adalah:

Sterotype, yakni pemberian citra baku kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat; Kekerasan, yakni tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat, atau negara terhadap jenis kelamin lainnya; Beban ganda, yakni beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya; Marjinalisasi, yakni suatu mengakibatkan kemiskinan; proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang

Hak Asasi Perempuan atas Pendidikan dan Pengajaran


Latar Belakang Pendidikan untuk Perempuan Pendidikan adalah sebuah faktor esensial untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan Salah satu bagian dari pendidikan adalah kemampuan perempuan dalam beraksara yang kemudian berdampak pada kemampuannya untuk mengatasi kemiskinan dan pemiskinan dalam bidang kehidupan Kemiskinan, ketidaktahuan atas informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas merupakan indikator buruknya kualitas hidup perempuan

Kesimpulan
Bahwa dengan adanya syarat khusus yang memberatkan

perempuan untuk mendapatkan pendidikan, sangatlah diskriminasi. Dilihat dari peran perempuan itu sendiri, dampak yang timbul daripada aturan ini, serta dari peraturan yang ada. Bahwa dengan menyempitkan syarat seorang perempuan untuk mengajar, dan tidak membebaskan mereka, sangat menghambat proses terjadinya pembelajaran. Bahwa banyaknya peraturan yang di buat tidak mengakomodir hak-hak perempuan, perempuan masih dipandang sebagai wanita yang banyak keterbatasan. Pendidikan pada perempuan sangat diperlukan agar para perempuan dapat meningkatkan produktivitasnya sehinga stigma bahwa wanita merupakan makhluk yang miskin dan bodoh tidak terjadi lagi. Pendidikan dapat menciptakan keadilan bagi perempuan.

Kesimpulan
Pakistan

tidak mempunyai peraturan yang mengatur mengenai pendidikan secara spesifik. Pakistan juga tidak mempunyai peraturan yang mengatur tentang perlindungan dan hak anak maupun wanita. Kondisi sosial masyarakat yang ada di Pakistan juga berpengaruh terhadap pelaksanaan HAM bagi perempuan terutama bidang pendidikan di Pakistan.

Saran
Menjunjung tinggi hak asasi perempuan, dengan

tidak membedakan peranan secara gender. Memberikan persyaratan yang tidak menyinggung gender untuk pendidikan. Mengedepankan manfaat pengajaran daripada teknis pengajaran. Pelaksanaan dan pemenuhan HAM tidak akan berjalan efektif jika tidak ada peraturan yang mendukung buat peraturan. Tegaskan komitmen pemerintah dalam rangka pelaksanaan penegakan HAM. Beri sanksi yang setimpal bagi para pelanggar HAM.