Anda di halaman 1dari 42

http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2010/08/makalah-toxoplasmosis.html BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh toxoplasma gondii . toxoplasma adalah parasit protozoa dengan sifat alami dengan perjalanan dapat akut atau menahun , simtomatik maupun asimtomatik. Di Indonesia prevalensi zat anti T . gondii yang positif pada manusia berkisar antara 2% dan 63% . Pada umumya prevalensi zat anti yang positif meningkat dengan umur, tidak ada perbedaan antara wanita dan pria .Didataran tinggi prevalensi lebih rendah, sedangkan didaerah tropik prevalensinya lebih tinggi. Keadaan toxoplasmosis disuatu daerah dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kebiasaan makan daging yang kurang matang. Toxoplasmosis yang tidak dideteksi secara dini dan tidak ditangani serius dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut yang lebih berbahaya seperti meningitis , abortus pada janin bahkan sampai menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu sebagai mahasiswa kesmas unsoed mempunyai peran yang penting dalam memberikan informasi dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat sehingga berkontribusi dalam meminimalkan kemungkinan timbulnya komplikasi Berdasarkan fenomena tersebut penulis merasa tertarik untuk memberikan informasi dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat terutama ibu hamil demi pencegahan penyakit toxoplasmosis. B.Tujuan 1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Parasitologi Kesehatan. 2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang Bahaya Toxoplasmosis. 3. Memberikan informasi tentang Pengaruh Toxoplasmosis Terhadap Ibu Hamil. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Toxoplasmosis. Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi oleh parasit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang dapat menimbulkan radang pada kulit, kelenjar getah bening, jantung, paru, ,mata, otak, dan selaput otak. Toxoplasmosissendiri merupakan penyakit zoonosis yang tersebar luas di seluruh dunia dengan prevalensi yang tinggi pada burung dan mamalia termasuk manusia. Kucing merupakan sumber infeksi bagi manusia. Parasit ini termasuk subfilum Sporozoa, kelas Toxoplasma dan merupakan salah satu genus dari ordo Toxoplasmida. Toxoplasma gondii terdpat di dalam sel-sel dari system retikulo-endotel dan juga di dalam sel-sel parenkim. Terdapat 2 macam bentuk dari Toxoplasma yaitu bentuk intraseluler dan bentuk ekstraseluler bulat atau lonnjong, sedang bentuk ekstraseluler seperti bulan sabit yang langsing, dengan ujung yang satu runcing sedang lainnya tumpul. Ukuran parasit micron x 4-6 mikron, dengan inti terletak di ujung yang tumpul. Jumlah parasit dalam darah akan menurun dengan terbentukya antibodi namun kista Toxoplasma yang

ada dalam jaringan tetap msih hidup. Kista jaringan ini akan reaktif jika terjadi penurunan kekebalan. Infeksi yang terjadi pada orang dengan kekebalan rendah baik infeksi primer maupun infeksi reaktivasi akan menyebabkan terjadinya Cerebritis, Chorioretinitis, pneumonia, terserangnya seluruh jaringan otot, myocarditis, ruam makulopapuler dan atau dengan kematian. Toxoplasmosis yang menyerang otak sering terjadi pada penderita AIDS. Infeksi primer yang terjadi pada awal kehamilan dapat menyebabkab terjadinya infeksi pada bayi yang dapat menyebabkan kematian bayi atau dapat menyebabkab Chorioretinis, kerusakan otak disertai dengan klasifikasi intraserebral, hidrosefalus, mikrosefalus, demam, ikterus, ruam, hepatosplenomegasli, Xanthochromic CSF, kejang beberapa saat setelah lahir. B.Kejadian Toxoplasmosis. Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang secara alam dapat menyerang manusia, ternak, hewan peliharaan yang lain seperti hewan liar, unggas dan lain-lain. Kejadian toxoplasmosis telah dilaporkan dari beberapa daerah di dunia ini yang geografiknya sangat luas. Survei terhadap kejadian ini memberi gambaran bahwa toxoplasmosis pada suatu daerah bisa sedemikian hebatnya hingga setiap hewan memperlihatkan gejala toxoplasmosis. Survei yang telah diadakan di Amerika Serikat. Data positif didasarkan kepada penemuan serodiagnostik dari beberapa hewan peliharaan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:

Pada manusia penyakit toxoplasmosis ini sering terinfeksi melalui saluran pencernaan, biasanya melalui perantaraan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar atau makan daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi dengan penyakit toxoplasmosis. Penyakit ini juga sering terjadi pada sejenis ras kucing yang berbulu lebat dan warnanya indah yang biasanya disebut dengan mink, pada kucing ras mink penyakit toxoplasmosis sering terjadi karena makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging segar (mentah) dan sisa-sisa daging dari rumah potong hewan. C.Etiologi Toxoplasmosis. Toxoplasmosis sendiri ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili babesiidae. Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada berbagai organ tubuh. Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat atau oval, jarang ditemukan dalam darah perifer, tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, pam-pam, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya. Perkembangbiakan toxoplasma terjadi dengan membelah diri menjadi 2, 4 dan seterusnya, belum ada bukti yang jelas mengenai perkembangbiakan dengan jalan schizogoni. Pada preparat ulas dan sentuh dapat dilihat dibawah mikroskop, bentuk oval agak panjang dengan kedua Ujung lancip, hampir menyerupai bentuk merozoit dari coccidium. Jika ditemukan diantara sel-sel jaringan tubuh berbentuk bulat dengan ukuran 4 sampai 7 mikron. Inti selnya terletak dibagian ujung yang berbentuk bulat. Pada preparat segar, sporozoa ini bergerak, tetapi peneliti-peneliti belum ada yang berhasil memperlihatkan

flagellanya. Toxoplasma baik dalam sel monocyte, dalam sel-sel sistem reticulo endoteleal, sel alat tubuh viceral maupun dalam sel-sel syaraf membelah dengan cara membelah diri 2,4 dan seterusnya. Setelah sel yang ditempatinya penuh lalu pecah parasit-parasit menyebar melalui peredaran darah dan hinggap di sel-sel baru dan demikian seterusnya. Toxoplasma gondii mudah mati karena suhu panas, kekeringan dan pembekuan. Cepat mati karena pembekuan darah induk semangnya dan bila induk semangnya mati jasad inipun ikut mati. Toxoplasma membentuk pseudocyste dalam jaringan tubuh atau jaringan-jaringan tubuh hewan yang diserangnya secara khronis. Bentuk pseudocyste ini lebih tahan dan dapat bertindak sebagai penyebar toxoplasmosis. D.Siklus Hidup dan Morfologi Toxoplasmosis. Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, clan Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit. Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10-100 um. Kista penting untuk transmisi aan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan clikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halos kucing tersebut. E.Cara Penularan Toxoplasmosis Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa, tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii. Melihat cara penularan diatas maka kemungkinan paling besar untuk terkena infeksi toxoplamosis gondii melalui makanan daging yang mengandung ookista dan yang dimasak kurang matang. Kemungkinan ke dua adalah melalui hewan peliharaan. Hal ini terbutki bahwa di negara Eropa yang banyak memelihara hewan peliharaan yang suka makan daging mentah mempunyai frekuensi toxoplasmosis lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. F. Patologi dan Gambaran klinik Pada manusia dewasa dengan daya tahan tubuh yang baik biasanya hanya memberikan gejala minimal dan bahkan sering tidak menimbulkan gejala. Apabila menimbulkan gejala, maka gejalanya tidak khas seperti : demam, nyeri otot, sakit tenggorokan,kadang-kadang nyeri dan ada pembesaran kelenjar limfe servikalis posterior, supraklavikula dan suboksiput. Pada infeksi berat, meskipun jarang, dapat terjadi

sakit kepala, muntah, depresi, nyeri otot, pnemonia, hepatitis, miokarditis, ensefalitis, delirium dan dapat terjadi kejang. Sesudah terjadi penularan, parasit dengan perantara aliran darah akan dapat mencapai berbagai macam organ misalnya otak, sumsum tulang belakang, mata, paru-paru, hati, limpa, sumsum ulang, kelenjar limfe dan otot jantung. Gejala-gejala klinik pada toksoplasmosis pada umumnya sesuai dengan kelainan patologi yang terjadi yang dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu gejala-gejala klinik pada toksoplasmosis congenital dan toksoplasmosis didapat. Gejala klinik toksoplasmosis congenital. Kelainan yang terjadi pada janin pada umumnya sangat berat dan bahkan bias fatal oleh karena parasi tersebar di berbagai organ-organ terutama pada system susunan sarafnya. Kelainan yang terjadi sangat jelas terlihat dan yang patognomonik dan indikatif adalah kalsifikasi serebral, korioretinitis, hidrosefalus atau mikrosefalus dan psikomotor. Kalsifikasi serebral dan korioretinitis merupakan gejala yang paling penting untuk menentukan diagnosis toksoplasmosis congenital. Gejala klinik toksoplasmosis di dapat. Pada toksoplasmosis didapat, berbagai kelainan organ dan jaringan dapat terjadi yaitu pada jaringan serebrospinal yang mengakibatkan ensefalomielopati, hidrosefalus, kalsifikasi serebral dan korioretinitis, kelainan limfatik berupa limfadenitis disertai dengan demam, kelainan pada kulit yang berupa ruam kulit makulopapuler yang mirip ruam kulit pada demam tifus, kelainan pada paru-paru yang berupa pneumonia interstisial, pada jantung terjadi miokarditid dan terjadi pula pembesaran hati dan limpa. Kelainan-kelainan pada jaringan serebrospinal umumnya menyerang bayi dan anak-anak sedangkan kelainan limfatik menyerang anak berumur antara 5-15 tahun. G. Diagnosis Diagnosis untuk Toxoplasmosis sendiri dibagi menjadi 2 yaitu : Diagnosis Klinik Toksoplasmosis hendaknya wajib dicurigai bila didapatkan klasifikasi serebral pada ventikulogram dan korioretinitis ditemukan pada pemeriksaan mata. Apalagi jika didapatkan kelainan-kelainan yang berupa hidrosefalus, mikrosefalus, mikroptalmus, pneumonitis, miokarditid, adenopati, hepatomegali atau splenomegali. Diagnosis Spesifik Diagnosis spesifik ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan Toxoplasma gondii yang berasal dari hasil biopsy aau pengambilan cairan dari organ dan jaringan penderita. Inokulasi hewan-hewan percobaan (tikus, mamot atau hamster) dengan hasil biopsy organ dan jaringan dapat meningkatkan hasil pemeriksaan. H.Pencegahan Toxoplasmosis Tindakan yang perlu dilakukan dalam mencegah penyakit toxoplasmosis adalah sebagai berikut : 1. Daging yang akan dikonsumsi hendaknya daging yang sudah diradiasi atau yang sudah dimasak pada suhu 150F (66C),sedangkan pada daging yang dibekukan mengurangi infektivitas parasit tetapi tidak membunuh parasit. 2. Ibu hamil yang belum diketahui telah mempunya antibodi terhadap toxoplasma gondi, dianjurkan untuk tidak kontak dengan kucing dan tidak membersihkan tempat sampah. Pakailah sarung tangan karet dan cucilah tangan selallu setelah bekerja dan sebelum makan.

3. Apabila memelihara kucing, maka sebaiknya kucing diberikan makanan kering, makanan kaleng atau makanan yang telah dimasak dengan baik dan jangan biarkan membru makanan sendiri. 4. Cucilah tangan baik-bai sebelum makan dan sesudah menjamah dagin mentah atau setelah memegang tanah yang terkontaminasi kotoran kucing. 5. Awasi kucing liar, jangan biarkan kucing tersebut membuang kotoran ditempat bermain anak-anak I.Pengobatan Toxoplasmosis Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi ke dua obat ini secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam foist. Dosis yang dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25-50 mg per hari selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000-6.000 mg sehari selama sebulan. Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka dianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama pengobatan. Trimetoprimn juga temyata efektif untuk pengobatan toxoplasmosis tetapi bila dibandingkan dengan kombinasi antara pyrimethamine dan trisulfapyrimidine, ternyata trimetoprim masih kalah efektifitasnya. Spiramycin merupakan obat pilihan lain walaupun kurang efektif tetapi efek sampingnya kurang bila dibandingkan dengan obat-obat sebelumnya. Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4 kali pemberian. Beberapa peneliti menganjurkan pengobatan wanita hamil trimester pertama dengan spiramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau 3 minggu kemudian disusul 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang seling sampai sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis jelas dan terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toxoplasmosis.

KESIMPULAN Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasmagondii akan dapat diketahui status penyakit penderita. Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis. DAFTAR PUSTAKA Gandahusada S. Koesharyono C. Prevalensi zat anti toxoplasma gondii pada kucing dan anjing di Jakarta. Penelitian, 1982. Priyana A. Oesman P, Kresno SB. Prevalensi anti Toxoplasma Gondii pada pemelihara kucing atau anjing di Jakarta, 1987. Ressang A.A. Patologi Khusus Veteriner, IFAD Project, Bali 1984. Schurrenberger, P.R. dan William, T.H. Dchtisar Zoonosis Penerbit ITB, Bandung, 1991. Partodihardjo, S. Ilmu Reproduksi Hewan, Penerbit Mutiara. Jakarta, 1980. Priyana, A Oesman P, Kresno SB. Toxoplasmosis Medika No. 12 tahun 14, 1988:

http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/05/makalah-toxoplasmosis.html BAB I PENDAHULUAN Toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini ditransmisikan kemanusia melalui makan makanan daging kurang matang, terutama daging babi atau domba yang terkontaminasi dengan parasit. Kucing merupakan host alami dari parasit ini, dan dapat ditularkan untuk orang melalui kontak dengan tinja kucing. Infeksi tokso paling sering menyebabkan penyakit pada otak dan sumsum tulang belakang, meskipun bagian lain tubuh, termasuk mata, jantung, paru-paru, kulit, hati, dan saluran gastrointestinal (GI) juga dapat terinfeksi. Individu yang memperoleh infeksi toxoplasma dapat memperlihatkan gejala yang tidak signifikan atau self-limiting, ringan sampai moderat (Knapen, 2008). Infeksi toxoplasma yang diperoleh oleh seorang ibu selama kehamilan, memiliki risiko yang signifikan yang merugikan janin. Risiko penularan dari ibu ke janin rendah bila infeksi diperoleh ibu pada tahap awal kehamilan namun hasil dari beberapa kasus menunjukan dapat mengancam hidup janin. Sebaliknya, infeksi diperoleh ibu ketika kehamilan mengakibatkan risiko yang lebih tinggi terhadap penularan janin, hasil klignis khas kurang parah, atau anak bahkan mungkin lahir asimptomatik. Infeksi yang diperoleh 2-3 bulan sebelum konsepsi sangat jarang menimbulkan risiko kerusakan pada janin (Knapen, 2008). Di Amerika Utara, toksoplasmosis pada orang HIV positif biasanya sebuah pengaktifan dari infeksi lama yang awalnya tidak menyebabkan penyakit. Ketika seseorang pertama kali terinfeksi dengan parasit, biasanya tidak ada gejala, dan sistem kekebalan tubuh mampu mengontrol infeksi. Seiring waktu, HIV positif orang kehilangan lebih banyak limfosit CD4+, yaitu sel-sel sistem kekebalan yang membantu untuk mengontrol infeksi. Ketika sel-sel ini hilang, tokso dapat muncul dan menyebabkan penyakit. Orang-orang dengan HIV positif yang telah terkena parasit dan yang jumlah CD4 di bawah 100 beresiko berkembangnya toxoplasmosis (Knapen, 2008). BAB II PERMASALAHAN Tahun 1998 di Guyana Prancis, terdapat 2 kasus toksoplasmosis primer parah yang telah dilaporkan. Namun, selama kurun waktu tahun 1998 sampai 2006, terdapat 44 kasus. Semua pasien imunokompeten (tidak Terinfeksi HIV) orang dewasa yang telah dirawat di rumah sakit. Kebanyakan pasien dilaporkan yang berkaitan dengan kegiatan seperti menelan air permukaan, dan mengonsumsi daging yang kurang matang. Dari 44 pasien, 1 meninggal, dan yang lain pulih setelah mendapat pengobatan yang sesuai dengan standar (Carme, 2004). Laporan kasus penyakit toxoplasmosis kongenital di Alabama dan New York kira-kira 10 per 10,000 lahir hidup. Pada tahun1986-1992 di New England dilaporkan 1 per 10.000 lahir hidup. Sumber lain menyebutkan rata-rata 1 per 4.000 lahir hidup. Infeksi terjadi melalui plasenta selama trimester kedua dan ketiga, tetapi sering terjadi pada trimester pertama. Pada suatu studi 13% dari infeksi kongenital pada infants terinfeksi selama trimester pertama dan 80% menjadi suatu penyakit, sebanyak 29%

terinfeksi pada trimester kedua dan 30% dari infant memiliki penyakit. Separuh dari infant terinfeksi selama trimeter ke tiga dan 70-90% memiliki infeksi subklinis. Infeksi juga dapat ditemukan pada seseorang dengan immunocompromise. Pada suatu studi, Toxoplasma encephalitis terjadi pada 25% pasien AIDS dan 84% berakibat fatal (Institute for International Cooperation in Animal, 2005). Tahun 2003 tepatnya pada akhir Desember 2003 terjadi wabah toksoplasmosis sampai pertengahan Januari 2004 yang melibatkan 11 kasus di antara 38 penduduk desa di Suriname dekat perbatasan Guyana Perancis. Dari 11 pasien: 2 kasus bawaan dan mematikan, 9 kasus terjadi pada orang dewasa imunokompeten (Carme, 2004). Tahun 2002 sampai 2004, akumulasi kejadian toksoplasmosis kongenital untuk Inggris dan Wales diperkirakan 3,4/100.000 kelahiran hidup, dengan gejala yang paling umum di antara kelahiran hidup menjadi retinochoroiditis dan / atau kelainan intracranial dengan atau tanpa gangguan perkembangan. Berdasarkan berbagai studi yang dilaporkan, risiko rata-rata transmisi pada trimester pertama diperkirakan 10-15%, meningkat menjadi 70-80% pada trimester ketiga (Standards Unit, Department for Evaluations, Standards and Training Centre for Infections, 2010). Survey serologi menunjukan bahwa 3-80% pada orang dewasa sehat telah terpapar Toxoplasma gondii. Infeksi tersebut berupa asimtomatik sebesar 80-90% pada wanita tidak hamil dan seseorang dengan immunocompetent. Kasus paling banyak adalah sporadik tetapi kejadian podemiknya, biasanya berhubungan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi dan pada seseorang dengan immunosuppresan (Standards Unit, Department for Evaluations, Standards and Training Centre for Infections, 2010). BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Tanda dan Gejala Pada individu imunokompeten yang tidak hamil, infeksi toxoplasma gondii biasanya tanpa gejala. Sekitar 10-20% pasien mengembangkan limfadenitis atau sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan ruam. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa meniru mononukleosis menular. Gejala biasanya dapat hilang tanpa pengobatan dalam beberapa minggu ke bulan, meskipun beberapa kasus dapat memakan waktu hingga satu tahun. Gejala berat, termasuk myositis, miokarditis, pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan refleks parah, hemiplegia dan koma, tapi jarang. Ensefalitis, dengan gejala sakit kepala, disorientasi, mengantuk, hemiparesis, perubahan refleks dan kejang, dapat menyebabkan koma dan kematian. Nekrosis perbanyakan parasit dapat menyebabkan beberapa abses dalam jaringan saraf dengan gejala lesi. Chorioretinitis, miokarditis, dan pneumonitis juga terjadi. Penularan Toksoplasmosis tidak secara langsung ditularkan dari orang ke orang kecuali dalam rahim (Institute for International Cooperation in Animal Biologics, 2005). Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005): 1) Toxoplasma pada orang yang imunokompeten Hanya 10-20% dari infeksi toksoplasma pada orang imunokompeten dikaitkan dengan tanda-tanda penyakit. Biasanya, pembengkakan kelenjar getah bening (sering di leher). Gejala lain bisa termasuk

demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam makulopapular dan sakit tenggorokan. 2) Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya, pasien dengan AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin melibatkan otak dan sistem syaraf, menyebabkan ensefalitis dengan gejala termasuk demam, sakit kepala, kejang-kejang dan masalah penglihatan, ucapan, gerakan atau pemikiran. manifestasi lain dari penyakit ini termasuk penyakit paru-paru, menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan miokarditis dapat menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia. 3) Toxoplasma Okular Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada remaja dan dewasa muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi kongenital tanpa gejala atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat atau sebelum kehamilan sehingga menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala saat lahir, namun sebagian besar akan mengembangkan pembelajaran dan visual cacat atau bahkan yang parah, infeksi yang mengancam jiwa di masa depan, jika tidak ditangani. 4) Toksoplasmosis pada wanita hamil Kebanyakan wanita yang terinfeksi selama kehamilan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya dapat menularkan infeksi ke janin. Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan terjadi ketika bayi baru lahir, tergantung pada tahap kehamilan saat infeksi ibu terjadi. Pada kondisi tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan menyebabkan abortus spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan stillbirths juga dapat dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Tanda dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia, dan kehilangan sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh. 5) Toxoplasmosis kongenital Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang paling mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-tandanya yaitu demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning (menguningnya kulit dan mata), sebuah kepala yang sangat besar atau bahkan sangat kecil, ruam, memar, pendarahan, anemia, dan pembesaran hati atau limpa. Mereka yang terinfeksi selama trimester terakhir biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis okular atau penundaan perkembangan di kemudian hari. B. Diagnosa Meskipun insiden infeksi toksoplasmosis tinggi, diagnosis klinis jarang dilakukan karena tanda klinis dari toxoplasmosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya. Uji laboratorium biasanya digunakan untuk diagnosis. Hanya mendeteksi antibodi yang spesifik saja tidak cukup karena banyak manusia dan binatang memiliki titer antibodi. Sebuah infeksi baru dapat menjadi pembeda dengan deteksi peningkatan jumlah antibodi (seroconversion) dari isotypes yang berbeda (IgG, IgM, IgA) atau dari sirkulasi. Deteksi parasit yang bebas (takizoit) pada kombinasi dengan gejala klinis dapat mengkonfirmasikan suatu infeksi, sebagai contoh pada biopsi atau abortion material. Deteksi kista jaringan (hanya seperti antibodi saja) tidak mengkonfirmasi infeksi aktif. Identifikasi Toxoplasma gondii dalam darah atau cairan tubuh (Medows, 2005) 1. Isolasi T. gondii dalam darah atau cairan tubuh (misalnya, CSF, cairan ketuban) dengan inokulasi kultur

jaringan. 2. Fluorescent antibodi atau tachyzooites pewarnaan immunoperoxidase. 3. Reaksi berantai polimerase (PCR) untuk deteksi T. gondii DNA. 4. Serologi a) ELISA untuk mendeteksi IgG, IgM, IgA atau antibodi IgE b) IFA deteksi IgG atau IgM. IgM spesifik tes yang dilakukan bila diperlukan untuk menentukan waktu infeksi, misalnya dalam sebuah pregnansi. Sebuah tes negatif yang kuat IgM menunjukkan bahwa infeksi ini tidak baru, tetapi tes IgM positif sulit untuk menginterpretasikan. IgM spesifik toksoplasma dapat ditemukan hingga 18 bulan setelah infeksi akut dan positif palsu yang umum. c) Uji aviditas imunoglobulin G. d) Immunosorbant aglutinasi untuk IgM atau IgA. e) Uji Sabin-Feldman dye, hemaglutinasi tidak langsung, aglutinasi lateks, aglutinasi dimodifikasi dan fiksasi komplemen. 5. Pencitraan Radiologi a) Computed Tomography (CT) atau radiologi dapat menunjukkan toksoplasmosis otak, USG dapat digunakan pada janin dan kalsifikasi atau ventrikel membesar dalam otak bayi baru lahir. b) CT atau MRI dapat menunjukkan beberapa kontras, bilateral meningkat ("cincin-lesi") dalam otak. C. Etiologi Toksoplasmosis disebabkan oleh agen infeksi Toxoplasma gondii suatu protozoa intraseluler coccidian pada kucing, masuk dalam famili Sarcocystidae dan kelas sporozoa. Parasit ini terdiri dari empat bentuk yaitu Oocycts yang terdiri sporozoid dan terdapat di tinja, Takizoid yang secara cepat memperbanyak diri pada jaringan organisme, Brandizoit yang memperbanyak diri secara lambat pada jaringan, dan kista jaringan yang ditemukan pada otot dan sistem saraf pusat yang terdiri dari barandizoit yang tidak aktif (Knapen, 2008).

Hospes definitif dari T. Gondii adalah kucing dan jenis felines. Hanya felines yang mengandung parasit pada jalur intestinal, dimana fase seksual dari siklus hidup sangat berpengaruh, yang menghasilkan ekskresi dari oocysts pada feces untuk 10-20 hari atau bisa lebih lama. Hospes intermediet dari T. gondii adalah domba, kambing, tikus, babi, lembu, ayam, dan birung; semua dapat membawa fase infektif (cystozoite atau brandyzoite) dari T. gondii adalah kista pada jaringan, terutama otot dan otak. Cysts jaringan menunjukkan keadaan lamanya periode, kemungkinan selama kehidupan binatang (Knapen, 2008).

T. gondii mengalami siklus reproduksi aseksual disemua spesies. Kista jaringan atau oocyst larut selama digesti, mengahasilkan bradizoit atau sporozoit, yang masuk ke lamina propria pada usus kecil dan mulai untuk memperbanyak diri sebagai takizoid. Takizoid dapat menyebar pada jarinngan eksternal dengan waktu singkat melalui limfa dan darah. Mereka dapat masuk pada beberapa sel dan memperbanyak diri.

Sel dari host akhirnya pecah dan menghasilkan takizoid masuk ke sel yang baru. Ketika host berkembang menjadi resisten, kira-kira 3 minggu setelah infeksi, takizoid mulai menghilang dari dalam jaringan dan menjadi bentuk resting brandizoid dalam kista jaringan (Knapen, 2008). Kista paling sering ditemukan pada otot skeletal, otak, dan miocardium. Mereka umumnya tidak menyebabkan reaksi pada host dan dapat bertahan hidup. Pada Felidae sebagai host devinitif, parasit secara serempak mengalami siklus replikasi seksual. Setelah ingesti, beberapa brandizoit memperbanyak diri dengan sel epitel pada usus kecil. Setelah beberapa siklus replikasi aseksual, brandizoit mulai siklus seksual (gametogoni), yang menghasilkan bentuk unsporulated oocyst. Oocyst dihasilkan pada feces and sporulat pada lingkungan. Sporulasi terjadi kira-kira 1 sampai 5 hari pada kondisi yang ideal, tapi dapat terjadi pada beberapa minggu. Setelah sporulasi, oocyst terdiri dari dua sporocysts dengan empat sporozoites. Kucing biasanya menghasilkan oocyts pada satu sampai dua minggu (Knapen, 2008).

Oocysts memiliki daya tahan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan dan dapat tetap infeksius selama 18 bulan pada air, cuaca panas, dan tanah yang basah. Mereka tidak dapat bertahan dengan baik pada tanah yang gersang dan iklim dingin. Kista jaringan dapat infeksius selama berminggu-minggu pada darah di suhu kamar, dan pada daging selama daging tersebut dapat dimakan dan kurang matang. Takizoid lebih rentan dan dapat bertahan pada tubuh selama berhari-hari dan di seluruh aliran darah selama 50 hari pada suhu 4oC. Pada manusia, periode inkubasi terjadi selama 10 sampai 23 hari setelah menkonsumsi daging yang terkontaminasi dan 5 sampai 20 hari setelah terpapar kucing yang terinfeksi (Knapen, 2008). Infeksi transplasenta pada manusia terjadi ketika wanita hamil yang dengan cepat mengedarkan takizoit dalam sirkulasi darah. Biasanya infeksi primer. Anak-anak dapat terinfeksi oleh ingesti infeksi oocysts dari tempat makan yang kotor, tempat bermain dan halaman tempat kucing defekasi. Infeksi dapat didapat dari makan makanan mentah, atau kurang matang yang terinfeksi (daging babi atau domba,dan lebih jarang pada daging sapi) yang terdapat di kista jaringan, atau ingesti dari infeksi oocysts pada makanan atau minuman yang terkontaminasi feces kucing. Infeksi dapat terjadi pada tranfusi darah atau transplantasi organ dari pendonor yang terinfeksi. Selama invasi akut parasit Toxoplasma (proliferatif fase, takizoit), ada kerusakan ringan jaringan utama (Nekrosis). Histologi menunjukkan infiltrasi inflammatori terdiri sel bulat dengan parasit bebas dan pembentukan kista di perbatasan. Mungkin karena kombinasi dari respon kekebalan seluler dan humoral, parasit dipaksa menjadi tahap beristirahat (kista jaringan). Toksoplasmosis laten ini yang ditandai oleh kista kurang lebih bulat dengan dinding yang tegas (Knapen, 2008). Sejak parasit toxoplasma tidak menunjukkan preferensi jenis sel, tanda-tanda klinisnya adalah variabel.

Orang dewasa punya cukup kekebalan untuk melawan infeksi dan infeksi yang paling jauh melanjutkan tanpa gejala klinis. Kadang-kadang parasitemia adalah terlihat ketika kronis (laten) infeksi yang diaktifkan kembali. Perhatian khusus harus diberikan ketika infeksi laten muncul lagi karena imunosupresi. Hal ini dapat merupakan hasil dari lain infeksi (virus), atau dari pengobatan jangka panjang dengan kortikosteroid atau cytostatics. Ketika gejala-gejala klinis terjadi setelah akut, mengakuisisi infeksi toksoplasmosis, sebagian besar tanda-tanda jelas adalah limfadenitis, demam dan malaise. Dalam kasus yang jarang terjadi hepatitis yang parah, splenitis, pneumonia, polymyositis atau bahkan meningoensefalitis dapat terjadi (Knapen, 2008). D. Pencegahan Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin, 2000): 1. Mendidik ibu hamil tentang langkah-langkah pencegahan: a. Gunakan iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan. Pembekuan daging tidak efektif untuk menghilangkan Toxoplasma gondii. b. Ibu hamil sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak dengan kucing. Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tangan setelah kerja dan sebelum makan. 2. Makanan kucing sebaiknya kering, kalengan atau rebus dan mencegah kucing tersebut berburu (menjaga mereka sebagai hewan peliharaan dalam ruangan) 3. Menghilangkan feses kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses kucing dapat dibakar atau dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah memegang material yang berpotensial terdapat Toxoplasma gondii. 4. Cuci tangan sebelum makan dan setelah menangani daging mentah atau setelah kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran kucing. 5. Control kucing liar dan mencegah mereka kontak dengan pasir yan digunakan anak-anak untuk bermain. 6. Penderita AIDS yang telah toxoplasmosis dengan gejala yang parah harus menerima pengobatan profilaksis sepanjang hidup dengan pirimetamin, sulfadiazine dan asam folinic. E. Pengobatan Wanita yang memiliki toxoplasmosis selama hamil adalah pengobatan secara rutin. Miskipun efikasinya msih menjadi perdebatan, pengobatan dini dapat menghambat kecepatan prosesinfeksi dan perkembangnya pada anak (Gnansia, 2003). a. Sebelum 30 minggu, jika toxoplasma tidak terdeteksi dengan cairan amniotik dan jika test ultra soun normal, maka menggunakan spiramycin dengan 9 juta UI per hari sampai persalinan. Jika toxoplasma terdeteksi pada cairan amniotik fluid dan jika test ultrasound normal, maka menggunakan pyrimethamine dan sulfonamides, bersama dengan folic acid. Pada kasus cerebral microcalcifications atau hydrocephaly didiagnosis dengan ultrasound, seebuah penghentian kehamilan dapat diajukan ke orangtua (Gnansia, 2003). b. Setelah 30 minggu, resiko transmisi transplasenta tinggi, maka pengobatan menggunakan pyrimethamine dan sulfonamides (Gnansia, 2003). c. Ketika lahir, meskipun tidak ada bukti transmisi toxoplasma melalui through the placenta, infeksi congenital tidak dapat dihilangkan. Hal tersebut kemudian dipastikan untuk menguji kelahiran baru

dengan transfontanellar ultrasonography dan ophthalmologic surveillance. Jika uji klinik dan serologi negatif, tidak ada pengobatan. Infeksi pada anak harus diobati dengan pyrimethamine and sulfonamides selama 12 bulan (Gnansia, 2003). F. Prognosis Suatu bentuk khusus dari toksoplasmosis adalah toksoplasmosis bawaan. Jika seorang wanita terkena toksoplasma saat hamil, uterus dan janin yang belum lahir dapat menjadi terinfeksi. Pada kehamilan awal ini dapat menyebabkan cacat parah dari janin yang mengarah ke aborsi atau malformasi yang tidak kompatibel dengan kehidupan segera setelah lahir. Sebuah mayoritas infeksi bawaan namun tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun setelah lahir, sebelum gejala klinis yang terkait dengan bawaan toksoplasmosis ditemukan (keterbelakangan mental, cacat mata) (Knapen, 2003). Penyakit ini dapat menimbulkan kematian walaupun kasusnya sangat jarang ditemukan. Jika dilakukan pengobatan yang adekuat maka, penyakit ini dapat sembuh (Carme, 2004).

BAB IV PENUTUP 1. Toksoplasmosis disebabkan oleh agen infeksi Toxoplasma gondii suatu protozoa intraseluler coccidian pada kucing, masuk dalam famili Sarcocystidae dan kelas sporozoa. 2. Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis tanpa gejala. pasien mengembangkan limfadenitis atau sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan ruam. myositis, miokarditis, pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan wajah, perubahan refleks parah, hemiplegi, koma, dan ensefalitis. 3. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara Isolasi, pewarnaan immunoperoxidase, PCR, serologi, dan pencitraan radiologi. 4. Pencegahan dapat dilakukan dengan pendidikn pada ibu hamil, memperhatikan makanan kucing, menghilangkan feses kucing, PHBS, kontrol kucing liar, dan pengobatan profilaksis pada penderita AIDS. 5. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberi Pyrimethamine (Daraprim) Sulfadiazine dan asam folinik. 6. Prognosis Toxoplasmosis adalah dapat menimbulkan cacat dan kematian, namun dapat disembuhkan dengan pengobatan yang adekuat. DAFTAR PUSTAKA Carme, B. et all. 2004. Severe Acquired Toxoplasmosis Caused by Wild Cycle of Toxoplasma gondii, French Guiana.http://www.cdc.gov/eid/conteent/15/4/ pdfs/656.pdf. Diakses pada tanggal 9 Mei 2011. Chin, James. 2000. Control of Communicable Diseases Manual. An Official Report of The American Public Health Association.

Gnansia, Robert. 2003. Congenital Toksoplasmosis. Orphanet Encyclopedia http://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-toxo. Diakses pada tanggal 9 Mei 2011. Institute for International Cooperation in Animal Biologics. 2005.Toxoplasmosis. www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/toxoplasmosis.pdf. Diakses tanggal 9 Mei 2011. Medows, RM. 2005. Toxoplasmosis Fact Sheet. Georgia Departement Of Community Health. http://www.health.state.ga.us/pdfs/epi/zvbd /Toxoplasmosis%20FS.pdf. Diakses tanggal 9 Mei 2011. Standards unit, department for evaluations, standards and training centre for infections.2010. Investigation of Toxoplasma Infection in Pregnancy. http://www.hpa-standardmethods.org.uk/documents/qsop/pdf/qsop59 .pdf. Diakses tanggal 9 Mei 2011. Knapen, Van; Overgaauw, P.A.M. 2008. Toxoplasmosis. http://www.fecava. org/files/EJCAP%2018-3%20p242-245%20Toxoplasmosis.pdf. Diakses tanggal 9 Mei 2011. Jones, Effrey; Lopez, Adriana; Wilson, Marianna. 2003. Congenital Toxoplasmosis. http://www.maternofetal.net/PDF/TOXOcongenita.pdf. Diakses tanggal 9 Mei 2011.

http://www.go4healthylife.com/articles/428/1/Toksoplasmosis/Page1.html Definisi Toksoplasmosis merupakan infeksi parasit yang menyebabkan gejala-gejala seperti flu. Organisme yang bisa menyebabkan toksoplasmosis, yaitu Toxoplasma gondii, adalah salah satu parasit yang paling umum. Sebagian besar orang yang terkena parasit ini tidak pernah menunjukkan tanda dan gejala-gejala. Namun bagi bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi dan orang yang memiliki masalah dengan sistem imunitas, toksoplasmosis bisa menyebabkan komplikasi yang amat serius. Jika Anda sehat, umumnya tak membutuhkan terapi apa pun untuk toksoplasmosis. Jika Anda hamil atau memiliki imunitas rendah, obat tertentu bisa membantu mengurangi keparahan infeksi. Pendekatan terbaik tentu saja dengan pencegahan. Gejala

Toksoplasmosis merupakan infeksi parasit yang menyebabkan gejala-gejala seperti flu. Organisme yang bisa menyebabkan toksoplasmosis, yaitu Toxoplasma gondii, adalah salah satu parasit yang paling umum. Sebagian besar orang yang terkena parasit ini tidak pernah menunjukkan tanda dan gejala-gejala. Namun bagi bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi dan orang yang memiliki masalah dengan sistem imunitas, toksoplasmosis bisa menyebabkan komplikasi yang amat serius. Jika Anda sehat, umumnya tak membutuhkan terapi apa pun untuk toksoplasmosis. Jika Anda hamil atau memiliki imunitas rendah, obat tertentu bisa membantu mengurangi keparahan infeksi. Pendekatan terbaik tentu saja dengan pencegahan. Yang sering terjadi, seseorang tidak mengetahui dirinya terpapar toksoplasmosis, meskipun sejumlah orang mungkin mengalami gejala-gejala toksoplasmosis serupa dengan flu atau mononucleosis, seperti: Nyeri tubuh Pembengkakan kelenjar getah bening Sakit kepala Demam Kelelahan Kadang-kadang radang tenggorokan Jika seseorang hidup dengan HIV/AIDS, menerima kemoterapi atau baru-baru ini menjalani transplantasi organ, dia akan punya kemungkinan mengalami tanda dan gejala infeksi toksoplasmosis berat, termasuk: Sakit kepala Kebingungan Koordinasi yang lemah

Kejang Masalah paru-paru yang mungkin menyerupai tuberkulosis atau pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis carinii, sebuah infeksi oportunis yang terjadi pada penderita AIDS. Penglihatan kabur disebabkan oleh peradangan hebat di bagian retina (ocular toxoplasmosis) Tanda pada bayi Sebagian besar perempuan yang terkena toksoplasmosis tidak memiliki tanda atau gejala penyakit, namun jika seseorang mulai terinfeksi pertama kali sebelum atau selama kehamilan, ada peluang 30% ibu meneruskan infeksi kepada bayinya (congenital toxoplasmosis), bahkan meskipun dia tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit tersebut.
Etiologi Toxoplasma gondii (T. gondii) adalah organism parasit sel tunggal yang dapat menginfeksi sebagian besar hewan dan burung. Namun karena organisme ini hanya bisa reproduksi seksual hanya pada kucing liar atau peliharaan sebagai inang parasit. Siklus kehidupan kompleks T. gondii dimulai saat kucing makan buruan yang terinfeksi, biasanya tikus atau burung. Kucing juga dapat terinfeksi jika makan daging mentah, daging yang terkontaminasi atau makan kotoran tanah yang terinfeksi. Sekali dimakan, T. gondii akan menempel di dinding usus halus kucing, membentuk sel-sel tahap awal yang disebut oocysts yang tidak akan musnah di feses, biasanya untuk periode dua hingga tiga minggu. Sedikit kotoran kucing mungkin mengandung jutaan oocysts. Bahkan kucing yang sehat tidak akan menanggalkan oocysts setelah memulai tahap akut. Dalam beberapa hari saja, oocysts akan berkembang menuju pematangan, menjadi sel-sel yang sangat menular yang dalam kondisi tertentu dapat bertahan di tanah dalam beberapa bulan. Jika mereka termakan oleh binatang lain, secara cepat mereka akan berkembang di dalam inang, bahkan membentuk sel-sel inaktif yang tinggal terutama di otak atau otot. Biasanya inang hewan baru ini umumnya bebas gejala-gejala dan tidak akan mengekskresikan oocysts, namun masih dapat mentransmisikan parasit ke predator lain yang memakannya. Apa yang terjadi pada manusia Pola yang terbangun pada hewan kurang lebih sama dengan yang terjadi pada manusia. Setelah seseorang terinfeksi T. gondii, parasit ini membentuk cysts (kista) yang akan berefek di semua bagian tubuh, namun kerap kali berdampak pada otak dan otot, termasuk jantung. Jika seseorang sehat, sistem imunitas tubuh akan menjaga jarak dengan parasit, umumnya mereka akan inaktif di dalam tubuh manusia. Tubuh memberikan kekebalan sehingga seseorang tidak akan terinfeksi parasit lagi. Namun jika pertahanan tubuh melemah karna penyakit atau pengobatan tertentu, infeksi bisa menjadi aktif kembali, menuntun pada terjadinya komplikasi serius. Meskipun seseorang tidak dapat menangkap bentuk toksoplasmosis dari orang dewasa atau anak yang terinfeksi, seseorang bisa terinfeksi jika melakukan kontak dengan:

Kotoran kucing yang mengandung parasit. Seseorang mungkin secara tidak sengaja menelan parasit jika menyentuh mulut setelah berkebun, membersihkan kandang atau menyentuh apapun yang mungkin kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi. Kucing yang mendapatkan makanan dengan berburu atau doyan makanan mentah biasanya menjadi tempat favorit T. gondii. Menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Biri-biri, babi dan rusa umumnya mudah terinfeksi oleh T. gondii. Kadang-kadang, produk susu yang tidak dipasteurisasi juga berpotensi mengandung kista. Walau tidak umum, air juga bisa terkontaminasi T. gondii. Gunting dan pisau yang terkontaminasi. Peralatan dapur yang kerap digunakan kontak dengan daging mentah dapat menjadi sarang parasit kecuali jika peralatan ini kerap dicuci dengan air panas dan sabun secara menyeluruh. Sayur dan buah yang tidak dicuci dan terkontaminasi. Permukaan buah dan sayur mungkin mengandung jejak parasit. Agar aman, cucilah buah dan sayur secara menyeluruh, khususnya jenis buah dan sayur yang dimakan mentah. Transfusi darah transplantasi organ yang terinfeksi. Untuk kasus yang jarang, toksoplasmosis dapat ditularkan melalui tranasplantasi organ atau transfusi darah.

Komplikasi

Toksoplasmosis merupakan infeksi parasit yang menyebabkan gejala-gejala seperti flu. Organisme yang bisa menyebabkan toksoplasmosis, yaitu Toxoplasma gondii, adalah salah satu parasit yang paling umum. Sebagian besar orang yang terkena parasit ini tidak pernah menunjukkan tanda dan gejala-gejala. Namun bagi bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi dan orang yang memiliki masalah dengan sistem imunitas, toksoplasmosis bisa menyebabkan komplikasi yang amat serius. Jika Anda sehat, umumnya tak membutuhkan terapi apa pun untuk toksoplasmosis. Jika Anda hamil atau memiliki imunitas rendah, obat tertentu bisa membantu mengurangi keparahan infeksi. Pendekatan terbaik tentu saja dengan pencegahan. Yang sering terjadi, seseorang tidak mengetahui dirinya terpapar toksoplasmosis, meskipun sejumlah orang mungkin mengalami gejala-gejala toksoplasmosis serupa dengan flu atau mononucleosis, seperti: Nyeri tubuh Pembengkakan kelenjar getah bening Sakit kepala Demam Kelelahan Kadang-kadang radang tenggorokan Jika seseorang hidup dengan HIV/AIDS, menerima kemoterapi atau baru-baru ini menjalani transplantasi organ, dia akan punya kemungkinan mengalami tanda dan gejala infeksi toksoplasmosis berat, termasuk:

Sakit kepala Kebingungan Koordinasi yang lemah Kejang Masalah paru-paru yang mungkin menyerupai tuberkulosis atau pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis carinii, sebuah infeksi oportunis yang terjadi pada penderita AIDS. Penglihatan kabur disebabkan oleh peradangan hebat di bagian retina (ocular toxoplasmosis) Tanda pada bayi Sebagian besar perempuan yang terkena toksoplasmosis tidak memiliki tanda atau gejala penyakit, namun jika seseorang mulai terinfeksi pertama kali sebelum atau selama kehamilan, ada peluang 30% ibu meneruskan infeksi kepada bayinya (congenital toxoplasmosis), bahkan meskipun dia tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit tersebut. Risiko dan tingkat keparahan infeksi pada bayi kerap kali bergantung kepada kapan infeksi terjadi saat kehamilan. Bayi akan mendapatkan risiko terkena toksoplasmosis jika ibu terinfeksi pada trimester ketiga, risiko minimal jika terinfeksi pada kehamilan trimester pertama. Di sisi lain, semakin awal infeksi terjadi pada kehamilan, berakibat makin serius pada bayi di masa mendatang. Infeksi awal berakhir dengan keguguran atau janin meninggal dalam kandungan, dan anak-anak yang berhasil bertahan dilahirkan dengan masalah serius seperti: Kejang Pembesaran hati dan limpa Muncul warna kekuningan pada kulit dan putih pada mata (jaundice) Infeksi mata parah Hanya sedikit bayi yang terkena toksoplasmosis yang menunjukkan gejala dari penyakit tersebut saat lahir. Malahan, sejumlah bayi baru lahir yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit sampai mereka dewasa. Tanda dan gejala-gejala tersebut termasuk: Kehilangan pendengaran Keterbelakangan mental Infeksi mata serius yang dapat menuntun pada kebutaan. Kapan harus ke dokter? Seseorang yang hidup dengan HIV atau AIDS, hamil atau mengira sedang hamil, bicarakan kepada dokter untuk melakukan pengujian. Tada-tanda dan gejala-gejala toksoplasmosis berat, seperti penglihatan kabur, linglung, atau kehilangan koordinasi, membutuhkan perawatan medis secepat mungkin, khususnya jika sistem kekebalan tubuh melemah. Toxoplasma gondii (T. gondii) adalah organism parasit sel tunggal yang dapat menginfeksi sebagian besar hewan dan burung. Namun karena organisme ini hanya bisa reproduksi seksual hanya pada kucing liar atau peliharaan sebagai inang parasit. Siklus kehidupan kompleks T. gondii dimulai saat kucing makan buruan yang terinfeksi, biasanya tikus atau burung. Kucing juga dapat terinfeksi jika makan daging mentah, daging yang terkontaminasi atau makan kotoran tanah yang terinfeksi. Sekali dimakan, T. gondii akan menempel di dinding usus halus kucing, membentuk sel-sel tahap awal yang disebut oocysts yang tidak akan musnah di feses,

biasanya untuk periode dua hingga tiga minggu. Sedikit kotoran kucing mungkin mengandung jutaan oocysts. Bahkan kucing yang sehat tidak akan menanggalkan oocysts setelah memulai tahap akut. Dalam beberapa hari saja, oocysts akan berkembang menuju pematangan, menjadi sel-sel yang sangat menular yang dalam kondisi tertentu dapat bertahan di tanah dalam beberapa bulan. Jika mereka termakan oleh binatang lain, secara cepat mereka akan berkembang di dalam inang, bahkan membentuk sel-sel inaktif yang tinggal terutama di otak atau otot. Biasanya inang hewan baru ini umumnya bebas gejala-gejala dan tidak akan mengekskresikan oocysts, namun masih dapat mentransmisikan parasit ke predator lain yang memakannya. Apa yang terjadi pada manusia Pola yang terbangun pada hewan kurang lebih sama dengan yang terjadi pada manusia. Setelah seseorang terinfeksi T. gondii, parasit ini membentuk cysts (kista) yang akan berefek di semua bagian tubuh, namun kerap kali berdampak pada otak dan otot, termasuk jantung. Jika seseorang sehat, sistem imunitas tubuh akan menjaga jarak dengan parasit, umumnya mereka akan inaktif di dalam tubuh manusia. Tubuh memberikan kekebalan sehingga seseorang tidak akan terinfeksi parasit lagi. Namun jika pertahanan tubuh melemah karena penyakit atau pengobatan tertentu, infeksi bisa menjadi aktif kembali, menuntun pada terjadinya komplikasi serius. Meskipun seseorang tidak dapat menangkap bentuk toksoplasmosis dari orang dewasa atau anak yang terinfeksi, seseorang bisa terinfeksi jika melakukan kontak dengan: Kotoran kucing yang mengandung parasit. Seseorang mungkin secara tidak sengaja menelan parasit jika menyentuh mulut setelah berkebun, membersihkan kandang atau menyentuh apapun yang mungkin kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi. Kucing yang mendapatkan makanan dengan berburu atau doyan makanan mentah biasanya menjadi tempat favorit T. gondii. Menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Biri-biri, babi dan rusa umumnya mudah terinfeksi oleh T. gondii. Kadang-kadang, produk susu yang tidak dipasteurisasi juga berpotensi mengandung kista. Walau tidak umum, air juga bisa terkontaminasi T. gondii. Gunting dan pisau yang terkontaminasi. Peralatan dapur yang kerap digunakan kontak dengan daging mentah dapat menjadi sarang parasit kecuali jika peralatan ini kerap dicuci dengan air panas dan sabun secara menyeluruh. Sayur dan buah yang tidak dicuci dan terkontaminasi. Permukaan buah dan sayur mungkin mengandung jejak parasit. Agar aman, cucilah buah dan sayur secara menyeluruh, khususnya jenis buah dan sayur yang dimakan mentah. Transfusi darah transplantasi organ yang terinfeksi. Untuk kasus yang jarang, toksoplasmosis dapat ditularkan melalui tranasplantasi organ atau transfusi darah. Jika sistem imunitas tubuh kuat, tampaknya seseorang tak akan mengalami komplikasi toksoplasmosis, meskipun pada orang lain yang dinyatakan sehat bisa saja mengalami infeksi mata. Namun jika sistem imunitas tubuh lemah, khususnya orang dengan HIV/AIDS, toksoplasmosis dapat menuntun pada terjadinya ayan dan penyakit yang mengancam keselamatan jiwa seperti

encephalitis, sebuah infeksi otak serius. Pada orang yang hidup dengan AIDS, encephalitis yang tidak tertangani sebagai imbas toksoplasmosis bisa berakibat fatal. Kekambuhan penyakit merupakan keprihatinan konstan pada orang dengan imunitas rendah yang mengidap toksoplasmosis. Anak-anak yang membawa toksoplasmosis sejak lahir bisa menderita cacat, termasuk kehilangan pendengaran, kebutaan dan keterbelakangan mental.

Diagnosis Sebagian besar ibu hamil tidak secara rutin menjalani pemeriksaan toksoplamosis. Tanpa pemeriksaan khusus, toksoplasmosis kerap kali sulit didianosis sebab tanda dan gejala, bila ada, kurang lebih mirip dengan penyakit umum lainnyas seperti flu dan mononukleosis. Tes pada kehamilan Jika dokter menduga seseorang mengalami infeksi, dia akan menjalani sejumlah tes darah untuk pengecekan antibodi terhadap parasit. Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh system imunitas tubuh dalam merespon hadirnya benda asing seperti virus, bakteri, parasit, obat dan toksin/racun. Karena tes antibodi sulit untuk diinterpretasikan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan bahwa semua hasil positif harus dikonfirmasi oleh laboratorium yang khusus mendiagnosis toksoplasmosis. Apa arti hasil tes Kadang-kadang seseorang diuji lebih awal saat tubuh belum punya kesempatan memproduksi antibodi. Pada kasus ini, tesnya bisa saja negatif, bahkan meski seseorang telah terinfeksi. Jika dokter masih merasa curiga, tes dapat diulang beberapa minggu lagi. Pada sebagian besar kasus, tes toksoplasmosis negatif bisa berarti seseorang memang tidak pernah terinfeksi toksoplasmosis dan untuk itu tidak kebal terhadap penyakit tersebut. Jika seseorang memiliki risiko tinggi, disarankan untuk melakukan tindakan pencegahan sehingga tidak menjadi terinfeksi di belakang hari. Hasil tes yang positif di sisi lain tidak berarti seseorang terinfeksi secara aktif. Dalam sejumlah kasus ini sebagai pertanda seseorang pernah terinfeksi suatu waktu dan sekarang menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Tes lanjutan dapat membantu menentukan infeksi yang telah terjadi, bergantung pada jenis antibody dalam darah, dan apakah level antobodi ini naik atau turun. Hal ini penting khususnya jika seseorang sedang hamil atau hidup dengan HIV/AIDS. Tes pada bayi Jika seseorang tengah hamil dan baru saja mengalami infeksi toksoplasmosis, langkah selanjutnya adalah menentukan apakah si jabang bayi juga terinfeksi. Tes dokter mungkin akan merekomendasikan sejumlah hal termasuk: Amniocentesis. Prosedur ini dapat dilakukan secara aman setelah usia kehamialn 15 minggu. Dokter menggunakan jarum halus untuk mengangkat sejumlah kecil cairan dari kantung berisi cairan di sekeliling fetus (kantung amnion). Tes lemudian dilakukan pada cairan tersebut untuk menguji bukti

adanya toksoplasmosis. Tes ini mengandung sedikit risiko terjadinya keguguran. Ibu hamil mungkin mengalami komplikasi minor seperti kram, keluarnya cairan atau iritasi saat jarum disisipkan. Scan Ultrasound. Uji ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan citra janin di dalam kandungan. Detail ultrasound tidak dapat mendiagnosis toksoplasmosis, meskipun dapat menunjukkan apakah janin menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis saat lahir, ultrasound dengan hasil negative tidak dapat mengesampingkan kemungkinan infeksi. Untuk alasan inilah, bayi baru lahir membutuhkan pengamatan menyeluruh setelah dilahirkan dan diikuti tes darah selama tahun pertama kehidupannya. Tes pada kasus berat Jika seseorang menderita penyakit yang mengancam jiwa, seperti toxoplasmic encephalitis, dia mungkin membutuhkan satu atau lebih tes pencitraan untuk menguji lesi atau cysts pada otak. Hal ini termasuk: Magnetic resonance imaging (MRI). Tes ini menggunakan laadang magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambar penampang silang di kepala dan otak. Selama prosedur ini, pasien berbaring di dalam mesin berbentuk seperti donut besar yang dikelilingi kawat mengandung magnet yang berfungsi mengirim dan menerima gelombang radio. Dalam merespon gelombang radio ini, tubuh memproduksi faint signals yang ditangkap oleh kawat-kawat dan memprosesnya menjadi gambar oleh komputer. MRI merupakan prosedur noninvasif dan tidak berisiko terhadap kesehatan. Biopsi otak. Untuk kasus yang jarang, khususnya jika seseorang tidak merespon terhadap terapi, seorang dokter ahli bedah akan mengambil contoh kecil jaringan dari otak. Contoh jaringan ini kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengecek kehadiran kista toksoplasmik.

Pencegahan Meskipun terapi efektif sudah tersedia untuk toksoplasmosis, semua pengobatan memiliki efek samping dan kemungkinan tidak melindungi janin di dalam kandungan. Untuk alasan itulah pendekatan terbaik adalah melalui pencegahan. Tindakan pencegahan berikut ini akan membantu: Gunakan sarung tangan saat berkebun atau memegang tanah. Berkebun bisa berfungsi sebagai pelepasan stres, namun juga dapat membuat seseorang terpapar toksoplasmosis. Kenakan sarung tangan saat bekerja di luar ruangan, kemudian cuci tangan secara menyeluruh dengan sabun dan air, khususnya saat hendak menyiapkan makanan. Hindari makan daging mentah atau setngah matang. Daging, khususnya biri-biri, babi dan sapi, dapat mejadi inang organisma toksoplasma. Jangan mencicip daging sebelum matang sempurna. Hindari makan daging mentah. Setelah mengolah daging mentah, cucilah peralatan dapur secara benar dengan air panas dan sabun untuk mencegah kontaminasi silang terhadap makanan lain. Cuci tangan dengan benar setelah mengolah daging mentah. Cuci atau kupas buah dan sayur. Jika memungkinkan, gunakan sabun khusus buah dan sayur untuk mencucinya, terutama jika buah dan sayur yang dimakan mentah. Atau, sikat dan bersihkan buah dan sayur dengan benar. Hindari minum susu tanpa pasteurisasi. Sus dan produk susu yang tidak dipasteurisasi mungkin mengandung parasit toksoplasma.

Tutupi kotak pasir. Jika memiliki anak, tutupilah tempat sampah saat mereka bermain. Kucing mungkin buang kotoran di tempat sampah tersebut. Bagi pencinta kucing Jika seseorang hidup bersama dengan orang HIV/AIDS, atau ibu hamil atau yang tengah merencanakan kehamilan, sebaiknya mulai peduli mengenai toksoplasmosis. Jika menyingkirkan kucing sama sekali tidak mungkin, lakukan sejumlah langkah sederhana berikut agar hewan peliharaan dan keluarga samasama sehat: Usahakan kucing tetap sehat. Jagalah agar kucing hanya bermain di dalam ruangan dan berilah makanan kering atau makanan kaleng, bukan daging mentah. Kucing bisa terinfeksi dari makanan yang mentah atau tidak dimasak sempurna yang mengandung parasit. Jangan memeilihara kucing jalanan. Sebagian besar kucing tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi toksoplasma, dan meskipun mereka dites untuk toksoplasmosis, butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasilnya. Minta orang lain membersihkan kandang kucing. Jika hal ini tak mungkin dilakukan, selalu kenakan sarung tangan saat membersihkan kandang kucing, kemudian cuci tangan dengan sabun dan air hangat. Gantilah tempat sampah setiap hari jadi jika terjadi sekresi oocysts tidak akan punya waktu menjadi menular. Bersihkan kandang kucing dengan air panas, cairan kimia disinfektan tidak efektif terhadap T. gondii, jangan meletakkan kandang kucing di dapur atau membiarkan kucing berkeliaran di dapur.

http://www.odhaindonesia.org/content/toksoplasmosis

Toksoplasmosis
Submitted by admin on Sat, 03/03/2007 - 12:08

Infeksi Oportunistik

Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit hidup dalam organisme hidup lain (induknya) dan mengambil semua nutrisi dari induknya. Parasit tokso sangat umum ditemukan pada tinja kucing, sayuran mentah dan tanah. Kuman ini juga umumnya ditemu dalam daging mentah, terutama daging babi, kambing dan rusa. Parasit tersebut dapat masuk ke tubuh waktu anda menghirup debu. Hingga 50 persen penduduk terinfeksi tokso. Sistim kekebalan tubuh yang sehat dapat mencegah agar tokso tidak mengakibatkan penyakit ini. Tokso tampaknya tidak menular dari manusia ke manusia. Penyakit yang paling umum diakibatkan tokso adalah infeksi pada otak (ensefalitis). Tokso juga dapat menginfeksikan bagian tubuh lain. Tokso dapat menyebabkan koma dan kematian. Risiko tokso paling tinggi waktu jumlah CD4 di bawah 100. Gejala pertama tokso termasuk demam, kekacauan, kepala nyeri, disorientasi, perubahan pada kepribadian, gemetaran dan kejang-kejang. Tokso biasanya didiagnosis dengan tes antibodi terhadap T. gondii. Perempuan hamil dengan infeksi tokso juga dapat menularkannya pada bayinya. Tes antibodi tokso menunjukkan apakah anda terinfeksi tokso. Hasil positif bukan berarti anda menderita penyakit ensefalitis tokso. Namun, hasil tes negatif berarti anda tidak terinfeksi tokso. Pengamatan otak (brain scan) dengan computerized tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI scan) juga dipakai untuk mendiagnosis tokso. CT scan untuk tokso dapat mirip dengan pengamatan untuk infeksi oportunistik yang lain. MRI scan lebih peka dan mempermudah diagnosis tokso.

Bagaimana cara mengobati tokso?


Tokso diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua obat ini dapat melalui sawar-darah otak. Parasit tokso membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat pemakaiannya. Dosis normal obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-5g sulfadiazin per hari.

Kedua obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan anemia. Orang dengan tokso biasanya memakai kalsium folinat (semacam vitamin B) untuk mencegah anemia. Kombinasi obat ini sangat efektif terhadap tokso. Lebih dari 80 persen orang menunjukkan perbaikan dalam 2-3 minggu. Tokso biasanya kambuh setelah peristiwa pertama. Orang yang pulih dari tokso seharusnya terus memakai obat antitokso dengan dosis pemeliharaan yang lebih rendah. Jelas orang yang mengalami tokso sebaiknya mulai terapi antiretroviral (ART) secepatnya, dan bila CD4 naik di atas 200 lebih dari enam minggu, terapi tokso sudah diselesaikan dan bila tidak ada gejala tokso lagi, terapi pemeliharaan tokso dapat dihentikan.

Bagaimana cara memilih pengobatan tokso?


Jika anda didiagnosis tokso, dokter anda kemungkinan akan meresepkan pirimetamin dan sulfadiazin. Kombinasi ini dapat menyebabkan penurunan pada jumlah sel darah putih, dan masalah ginjal. Juga sulfadiazin adalah obat sulfa. Hampir separo orang yang memakainya mengalami reaksi alergi. Ini biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam. Reaksi alergi dapat ditangani dengan proses desensitisasi. Pasien mulai dengan dosis obat yang sangat rendah, dan dosis ditingkatkan berangsur-angsur sehingga mereka dapat menahan dosis penuh. Orang yang tidak tahan terhadap obat sulfa dapat memakai klindamisin untuk mengganti sulfdiazin dalam kombinasi.

Apakah tokso dapat dicegah?


Cara terbaik untuk mencegah tokso adalah dengan menggunakan obat anti-HIV yang manjur. Kita dapat dites untuk mengetahui apakah anda terinfeksi tokso. Jika belum terinfeksi, anda dapat mengurangi risiko infeksi dengan menghindari memakan daging atau ikan mentah, dan memakai sarung tangan dan masker jika anda membersihkan kandang kucing, dan cuci tangan dengan sempurna setelahnya. Jika jumlah CD4 anda di bawah 100, anda sebaiknya memakai obat untuk mencegah penyakit tokso aktif. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 biasanya memakai kotrimoksazol untuk mencegah PCP. Obat ini juga melindungi anda dari tokso. Jika anda tidak tahan memakai kotrimoksazol, dokter anda dapat meresepkan obat lain.

Kesimpulan
Toksoplasmosis merupakan infeksi oportunistik yang serius. Jika anda belum terinfeksi tokso, anda dapat menghindari risiko terpajan infeksi dengan tidak memakan daging atau ikan mentah, dan ambil kewaspadaan lebih lanjut jika anda membersihkan kandang kucing. Anda dapat memakai obat anti-HIV yang manjur untuk menahan jumlah CD4. Ini kemungkinan akan mencegah masalah kesehatan diakibatkan tokso. Jika jumlah CD4 anda turun di bawah 100, anda sebaiknya bicara dengan dokter tentang pemakaian obat untuk mencegah penyakit tokso. Jika anda mengalami kepala nyeri, disorientasi, kejang-kejang, atau gejala tokso lain, anda harus langsung menghubungi dokter. Dengan diagnosis dan pengobatan dini, tokso dapat diobati secara efektif. Jika anda mengalami penyakit tokso, sebaiknya anda terus memakai obat antitokso untuk mencegah penyakitnya kambuh.

http://emedicine.medscape.com/article/344706-overview

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa obligat intraseluler, Toxoplasma gondii , yang namanya berasal dari bentuk sabit dari parasit (toxon adalah Yunani untuk "arc"), serta nama hewan pengerat Afrika Utara di mana ia diamati, Ctenodactylus. gundi pertama T gondii merupakan salah satu parasit protozoa yang paling sukses, melainkan menginfeksi sel bernukleus hampir semua hewan berdarah hangat. Some species of felines are the definitive host for sexual reproduction of the parasite; however, asexual reproduction occurs in secondary hosts, such as rodents, livestock, birds, and humans, culminating in the formation of tissue cysts, which persist for the lifespan of the secondary host. Beberapa spesies kucing adalah inang definitif untuk reproduksi seksual parasit, namun, reproduksi aseksual terjadi pada host sekunder, seperti tikus, ternak, burung, dan manusia, yang berpuncak pada pembentukan kista jaringan, yang bertahan selama jangka hidup dari sekunder host. Human infection usually occurs via the oral or transplacental route. Manusia Infeksi biasanya terjadi melalui rute oral atau transplasenta. Consumption of raw or undercooked meat that contains viable tissue cysts (principally lamb and pork), direct ingestion of oocysts from contaminated soil and water, and consumption of unwashed vegetables are common sources of infection. Konsumsi daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan layak (terutama domba dan babi), menelan langsung ookista dari tanah dan air yang terkontaminasi, dan konsumsi sayuran dicuci merupakan sumber umum infeksi. Infection has also been reported in individuals who drink unpasteurized goat's milk. Infeksi juga telah dilaporkan pada orang yang minum susu kambing yang tidak dipasteurisasi. Transplacental infection may occur if the mother acquires the parasite acutely or if a latent infection is reactivated during immunosuppression. transplasental infeksi dapat terjadi jika ibu memperoleh parasit akut atau jika infeksi laten diaktifkan kembali selama imunosupresi. Fetal infection usually occurs in the third trimester, but more severe sequelae may ensue if the fetus is contaminated in the first trimester. Infeksi janin biasanya terjadi pada trimester ketiga, namun gejala sisa lebih parah dapat terjadi jika janin terkontaminasi pada trimester pertama. It is important to differentiate patients with clinical infection from those who are simply seropositive for T gondii via exposure to toxoplasmosis . Sangat penting untuk membedakan pasien dengan infeksi klinis dari mereka yang hanya seropositif untuk T gondii melalui paparan toksoplasmosis . In adults, most T gondii infections are subclinical, but severe infection can occur in patients who are immunocompromised, such as those who have acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) and malignancies. Pada orang dewasa, kebanyakan infeksi T gondii yang subklinis, tetapi infeksi berat dapat terjadi pada pasien yang immunocompromised, seperti mereka yang telah memperoleh immunodeficiency syndrome (AIDS) dan keganasan. Affected organs include the gray and white matter of the brain (as shown in the images below), retinas, [1] alveolar lining of the lungs (where the infection may mimic Pneumocystis carinii infection), heart, and skeletal muscle. organ yang terkena dampak meliputi materi abu-abu dan putih otak (seperti terlihat pada gambar di bawah), retina, [1] lapisan alveolar dari paru-paru (dimana infeksi dapat meniru infeksi Pneumocystis carinii), jantung, dan otot rangka. AIDSassociated Toxoplasma encephalitis results from reactivation of chronic latent infection in more

than 95% of patients. AIDS-dikaitkan Toxoplasma ensefalitis hasil dari reaktivasi infeksi laten kronis di lebih dari 95% pasien.

T1-weighted axial brain magnetic resonance image at the level of the basal ganglia in a 24-year-old man with human immunodeficiency virus infection. T1-tertimbang resonansi magnetik otak aksial gambar pada tingkat ganglia basal dalam tahun pria 24 dengan infeksi human immunodeficiency virus. The image shows hypointense lesions in the region of the thalami (arrows) caused by toxoplasmosis. Gambar menunjukkan lesi hypointense di wilayah dari talamus (panah) yang disebabkan oleh toksoplasmosis.

T1-weighted axial brain magnetic resonance image at the level of the upper lateral ventricles in a 24year-old man with human immunodeficiency virus infection (same patient as in the previous image). T1tertimbang resonansi magnetik otak aksial gambar pada tingkat ventrikel lateral atas dalam tahun pria 24 dengan infeksi human immunodeficiency virus (pasien yang sama seperti pada gambar sebelumnya). The image shows a hypointense mass compressing the right lateral ventricle (arrow) . Gambar menunjukkan massa hypointense menekan ventrikel lateral kanan (panah).

Transaxial contrast-enhanced computed tomography scan in a 24-year-old man with human immunodeficiency virus infection and central nervous system toxoplasmosis (same patient as in the previous 2 images). Disempurnakan dihitung tomografi kontras Transaxial scan di tahun pria 24 dengan infeksi human immunodeficiency virus dan sistem saraf pusat toksoplasmosis (pasien yang sama seperti pada gambar sebelumnya 2). This image was obtained after the patient received 20 days of treatment, with resultant clinical improvement, and shows a low-attenuating mass with minor peripheral ring enhancement. Gambar ini diperoleh setelah pasien menerima pengobatan 20 hari, dengan peningkatan resultan klinis, dan menunjukkan-menghaluskan massa rendah dengan perangkat tambahan cincin kecil. Note the reduction in the mass effect. Perhatikan pengurangan efek massa.

T2-weighted coronal magnetic resonance image at the level of the insulae in a patient with human immunodeficiency virus infection and central nervous system toxoplasmosis (same patient as in the previous 3 images). T2-tertimbang koronal citra resonansi magnetik di tingkat insulae dalam pasien dengan infeksi human immunodeficiency virus dan sistem saraf pusat toksoplasmosis (pasien yang sama seperti pada gambar sebelumnya 3). The image shows large, bilateral hyperintense lesions (almost symmetrically placed on either side of the third ventricle and/or lateral ventricle) (arrows). Gambar menunjukkan besar, lesi hyperintense bilateral (hampir simetris ditempatkan di kedua sisi ventrikel ketiga dan / atau ventrikel lateral) (panah). Note the slight mass effect on the right lateral ventricle (V). Perhatikan efek massa sedikit pada ventrikel lateral kanan (V).

Congenital toxoplasmosis may be associated with anomalies such as microcephaly, microphthalmia, hydranencephaly, hydrocephalus secondary to aqueduct stenosis, porencephalic cyst, and periventricular calcification. Kongenital toxoplasmosis mungkin berhubungan dengan anomali seperti microcephaly, microphthalmia, hydranencephaly, hidrosefalus sekunder untuk saluran air stenosis, kista porencephalic, dan kalsifikasi periventricular.

Preferred examination Pemeriksaan yang dipilih


Magnetic resonance imaging (MRI) is considered superior to computed tomography (CT) scanning in the detection of brain toxoplasmosis. Magnetic Resonance Imaging (MRI) dianggap unggul computed tomography (CT) scanning mendeteksi toksoplasmosis otak. The administration of intravenous (IV) contrast material with either modality improves the diagnostic yield and accuracy. Pemberian intravena (IV) bahan kontras dengan modalitas baik meningkatkan hasil diagnostik dan akurasi. However, ultrasound remains the pillar of intrauterine imaging. [2] Namun, USG tetap menjadi pilar pencitraan kontrasepsi. [2]

Limitations of techniques Keterbatasan teknik


Because patients who are immunocompromised are susceptible to a variety of opportunistic infections and malignancies, identifying a single cause that is responsible for the patient's symptoms is often difficult with imaging findings. Karena pasien yang kekebalannya rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan keganasan, mengidentifikasi penyebab tunggal yang bertanggung jawab untuk gejala-gejala pasien sering sulit dengan temuan pencitraan. However, because toxoplasmosis is a treatable condition, therapy is started immediately, and the scan is repeated in 1-2 weeks. Namun, karena toksoplasmosis adalah kondisi diobati, terapi dimulai segera, dan scan diulang dalam 1-2 minggu. A positive response to therapy is judged by the regression in size of all lesions. Sebuah respon positif terhadap terapi dinilai oleh regresi dalam ukuran semua lesi. For excellent patient education resources, visit eMedicine's Brain and Nervous System Center . Untuk sumber daya pendidikan yang sangat baik pasien, kunjungi eMedicine's Brain dan Nervous System Center . Also, see eMedicine's patient education article Brain Infection . Juga, lihat pasien pendidikan's eMedicine artikel Brain Infeksi .

Computed Tomography
CT scans of the brain may show single (30%) or multiple nodular lesions. CT scan otak bisa menunjukkan tunggal (30%) atau lesi nodular ganda. More commonly, following the IV administration of contrast medium, CT scan studies demonstrate thin-walled cavitating lesions with ring enhancement. Lebih umum, setelah pemberian IV medium kontras, CT scan lesi studi menunjukkan kavitasi berdinding tipis dengan peningkatan cincin. Edema of the surrounding white matter is often depicted as well. Edema substansi putih sekitarnya sering digambarkan juga. Toxoplasmosis has a propensity to involve the basal ganglia. Toksoplasmosis memiliki kecenderungan untuk melibatkan ganglia basal. Approximately 75% of the nodules are located in the basal ganglia, but others are scattered throughout the brain at the gray matterwhite matter junction. Sekitar 75% dari nodul berada di ganglia basal, tetapi yang lain tersebar di seluruh otak di persimpangan materi-materi abu-abu putih. In addition, lesions may occur within the cerebellum, brainstem, and spinal cord. Selain itu, lesi dapat terjadi di dalam batang otak, otak kecil, dan sumsum tulang belakang. When the dose of contrast agent is doubled and CT scanning

is delayed, the detection rate significantly improves. Ketika dosis agen kontras dua kali lipat dan CT scan tertunda, tingkat deteksi secara signifikan meningkatkan. Hemorrhage and calcification may occur following medical treatment, although ring calcification has been described on CT scans at the time of first diagnosis. Perdarahan dan kalsifikasi dapat terjadi setelah perawatan medis, meskipun kalsifikasi cincin telah dijelaskan pada CT scan pada saat diagnosis pertama. However, ring calcification is rare in acquired disease compared with congenital disease. Namun, kalsifikasi cincin jarang terjadi pada penyakit diperoleh dibandingkan dengan penyakit bawaan. Concomitant cerebral atrophy is seen in approximately one third of patients; this is presumably the result of the direct cellular damage caused by the human immunodeficiency virus (HIV). Bersamaan atrofi otak terlihat di sekitar sepertiga pasien, ini mungkin akibat dari kerusakan sel langsung disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). In 1994, Fellner et al described a case of unilocular toxoplasmosis that simulated intracerebral tumor in a patient without evidence of AIDS. [10] The patient had a single, tumorlike lesion in the right parietal lobe, as shown on CT scan and MRI. Pada tahun 1994, Fellner dkk menggambarkan kasus toksoplasmosis unilocular bahwa tumor intraserebral disimulasikan pada pasien tanpa bukti AIDS. [10] Pasien memiliki tumorlike, lesi tunggal di lobus parietalis kanan, seperti terlihat pada CT scan dan MRI. During neurosurgical intervention, no tumor was found; however, the final diagnosis was based on histopathology. Selama intervensi bedah saraf, tumor tidak ditemukan, namun diagnosis akhir didasarkan pada histopatologi. In the congenital form of toxoplasmosis, CT scans may reveal diffuse hydrocephalus that is associated with multiple, irregular, nodular, cystlike or curvilinear calcifications in the periventricular areas and the choroid plexus. Dalam bentuk kongenital toksoplasmosis, CT scan dapat mengungkapkan hidrosefalus difus yang berhubungan dengan kalsifikasi banyak, tidak teratur, nodular, cystlike atau lengkung di daerah periventricular dan pleksus koroid. The lesions are bilateral and vary from a few millimeters to 2 cm, and there may be associated hydrocephalus. Lesi secara bilateral dan bervariasi dari beberapa milimeter sampai 2 cm, dan mungkin ada terkait hidrosefalus. The skull vault may be thickened with opposed or overlapping sutures. Kubah tengkorak dapat dikentalkan dengan jahitan bertentangan atau tumpang tindih. The characteristic sign of CNS toxoplasmosis is the asymmetrical target sign, which is detectable on CT and MRI scans, although MRI is more sensitive. Tanda karakteristik toksoplasmosis SSP adalah tanda target asimetris, yang terdeteksi pada CT dan MRI scan, meskipun MRI lebih sensitif. This asymmetrical target sign represents a ring-enhancing abscess, which contains other similar ring-enhancing abscesses as well as similarly enhancing, eccentric nodules in the abscess cavity. Tanda ini target asimetris merupakan abses cincin meningkatkan, yang berisi abses lain cincin-sama meningkatkan serta juga meningkatkan, nodul eksentrik di rongga abses. A study of 31 patients with congenital toxoplasmosis showed a clear relationship among the CNS lesions observed on computed tomography (CT) scans, neurologic deficit, and the date of maternal infection. Sebuah studi dari 31 pasien dengan toksoplasmosis kongenital menunjukkan hubungan yang jelas antara lesi SSP diamati pada scan computed tomography (CT), defisit neurologis, dan tanggal infeksi ibu. CT scan findings in these infants are characteristic,

depending on the timing of maternal infectionnamely, was the mother infected and and did she undergo seroconversion before the 20th week of gestation, was she infected during weeks 20-30 of gestation, or was she infected and did she undergo seroconversion after the 30th week of gestation? CT scan temuan dalam bayi adalah karakteristik, tergantung pada waktu infeksi ibuyaitu, adalah ibu yang terinfeksi dan dan dia menjalani serokonversi sebelum minggu ke-20 kehamilan, dia terinfeksi selama 20-30 minggu kehamilan, atau ia terinfeksi dan dia menjalani serokonversi setelah 30 minggu usia kehamilan?

Magnetic Resonance Imaging


Toxoplasmosis is the most common cerebral mass lesion encountered in HIV-infected patients, and its incidence has increased markedly since the beginning of the AIDS epidemic. Toksoplasmosis adalah lesi massa otak yang paling umum ditemui pada pasien terinfeksi HIV, dan insiden telah meningkat secara nyata sejak awal epidemi AIDS. There are occasionally unusual appearances of CNS toxoplasmosis that make diagnosis by standard imaging techniques difficult or impossible. Ada kadang-kadang penampilan yang tidak biasa toksoplasmosis SSP yang membuat diagnosis dengan teknik pencitraan standar sulit atau tidak mungkin. The advent of MR spectroscopy has increased the ability to differentiate between various CNS lesions. Munculnya spektroskopi MR telah meningkatkan kemampuan untuk membedakan antara berbagai lesi SSP. On T1-weighted precontrast MRIs, the lesions are hypointense relative to brain tissue (as demonstrated in the image below). Pada MRI precontrast T1-tertimbang, lesi secara hypointense relatif terhadap jaringan otak (seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah). On T2-weighted MRIs, the foci of infection are usually hyperintense, but they can occasionally be isointense to hypointense. Pada MRI T2-tertimbang, dengan fokus infeksi biasanya hyperintense, tetapi mereka kadang-kadang bisa isointense untuk hypointense.

Nonenhanced T1-weighted images in a patient infected with human immunodeficiency virus and cerebral toxoplasmosis. T1-tertimbang gambar Nonenhanced pada pasien terinfeksi dengan human immunodeficiency virus dan toksoplasmosis cerebral. These images show hypointense, asymmetrical, bilateral periventricular/basal ganglial lesions. Gambar-gambar ini menunjukkan hypointense, asimetris, bilateral periventricular / lesi ganglial basal.

Active lesions are often surrounded by edema. lesi aktif sering dikelilingi oleh edema. Focal nodular or ring enhancement (as shown in the images below) occurs in approximately 70% of patients after gadolinium enhancement. perangkat tambahan Focal nodular atau cincin (seperti

terlihat pada gambar di bawah) terjadi pada sekitar 70% dari pasien setelah peningkatan gadolinium. The lesions are rarely hemorrhagic; thus, MRI findings depend on the hemorrhagic stage of evolution. Lesi hemoragik jarang, dengan demikian, temuan MRI tergantung pada tahap hemorrhagic evolusi.

T1-weighted gadolinium-enhanced magnetic resonance image at the level of the fourth ventricle in a 32-year-old patient with human immunodeficiency virus infection. T1tertimbang gadolinium-meningkatkan citra resonansi magnetik pada tingkat ventrikel keempat dalam tahun 32 pasien dengan infeksi human immunodeficiency virus. The image shows a peripheral, right frontoparietal ring-enhancing lesion (arrow). Gambar menunjukkan hak, meningkatkan lesi frontoparietal cincin-perifer (panah). The patient presented with a solitary space-occupying lesion, which was confirmed to be secondary to toxoplasmosis. Pasien disajikan dengan menempati ruang-lesi

soliter, yang dikonfirmasi menjadi sekunder untuk toksoplasmosis. T1weighted axial gadolinium-enhanced magnetic resonance image at the level of the basal ganglia in a 37year-old patient with human immunodeficiency virus infection. T1-tertimbang aksial gadoliniummeningkatkan citra resonansi magnetik di tingkat ganglia basal dalam tahun 37 pasien dengan infeksi human immunodeficiency virus. The image shows 2 complex, ring-enhancing lesions in the basal ganglia on the right, surrounded by notable white matter edema. Gambar menunjukkan 2 kompleks,meningkatkan lesi cincin di ganglia basal di sebelah kanan, dikelilingi oleh materi edema putih terkenal. Additional lesions were noted elsewhere in the brain. Tambahan lesi dicatat di tempat lain di otak. This appearance is typical of central nervous system toxoplasmosis, which has the propensity to involve the basal ganglia. Penampilan ini khas dari sistem saraf pusat toksoplasmosis, yang memiliki kecenderungan

untuk melibatkan ganglia basal. T1-weighted axial gadoliniumenhanced magnetic resonance images at 2 levels through the basal ganglia (same patient as in the previous image). T1-tertimbang aksial ditingkatkan resonansi magnetik gambar-gadolinium 2 tingkat melalui ganglia basal (pasien yang sama seperti pada gambar sebelumnya). These images show 2 complex, ring-enhancing lesions in the basal ganglia on the right, with surrounding notable white matter edema. Gambar-gambar ini menunjukkan 2 kompleks,-meningkatkan lesi cincin di ganglia basal di sebelah kanan, dengan materi sekitarnya edema putih terkenal. This appearance is typical of central nervous system toxoplasmosis, which has the propensity for involvement of the basal ganglia. Penampilan ini khas dari sistem saraf pusat toksoplasmosis, yang memiliki kecenderungan untuk keterlibatan ganglia basal.

As noted earlier, Fellner et al reported the case of patient without evidence of AIDS, who presented with unilocular toxoplasmosis that simulated an intracerebral tumor. [3] Although the patient's CT scans and MRI showed a single, tumorlike lesion in the right parietal lobe, no tumor was found at surgery. Seperti disebutkan sebelumnya, Fellner dkk melaporkan kasus pasien tanpa bukti AIDS, yang disajikan dengan toksoplasmosis unilocular yang mensimulasikan tumor intraserebral. [3] Walaupun's CT scan pasien dan MRI menunjukkan tumorlike, lesi tunggal di lobus parietalis kanan, tumor tidak ditemukan di operasi. On histologic examination, the asymmetrical target sign, which is detectable on CT and MRI scans, was observed, confirming the diagnosis. Pada pemeriksaan histologis, tanda sasaran asimetris, yang terdeteksi pada CT dan MRI scan, diamati, mengkonfirmasikan diagnosis. MR spectroscopy of lymphoma in patients with AIDS has been shown to demonstrate increased lactate and lipid peaks, as well as a prominent choline peak, decreased N-acetyl aspartate, creatine, and myoinositol signals. [4, 5] This pattern differs from that of toxoplasmosis, which typically has elevated lactate and lipid peaks but an absence of the other metabolites. [6] Lymphoma tends to have low apparent diffusion coefficient values; this differs form toxoplasmosis, which typically has significantly greater values than lymphoma lesions. [7] MR spektroskopi limfoma pada pasien dengan AIDS telah ditunjukkan untuk menunjukkan laktat meningkat dan puncak lemak, serta puncak kolin terkemuka, turun-asetil aspartat N, creatine, dan sinyal myoinositol. [4, 5] Pola ini berbeda dari toksoplasmosis, yang biasanya memiliki laktat meningkat dan puncak lipid tetapi tidak adanya metabolit lainnya. [6] Limfoma cenderung memiliki koefisien difusi jelas nilai-nilai yang rendah; berbeda bentuk, toksoplasmosis yang biasanya memiliki nilai secara signifikan lebih besar dari limfoma. lesi ini [7] Gadolinium-based contrast agents (gadopentetate dimeglumine [Magnevist], gadobenate dimeglumine [MultiHance], gadodiamide [Omniscan], gadoversetamide [OptiMARK], gadoteridol [ProHance]) have been linked to the development of nephrogenic systemic fibrosis (NSF) or nephrogenic fibrosing dermopathy (NFD). agen kontras Gadolinium berbasis

(gadopentetate dimeglumine [Magnevist], gadobenate dimeglumine [MultiHance], gadodiamide [Omniscan], gadoversetamide [OptiMARK], gadoteridol [ProHance]) telah dikaitkan dengan pengembangan fibrosis sistemik nephrogenic (NSF) atau dermopathy fibrosing nephrogenic (NFD). For more information, see the eMedicine topic Nephrogenic Systemic Fibrosis . Untuk informasi lebih lanjut, lihat topik eMedicine Nephrogenic Fibrosis sistemik . The disease has occurred in patients with moderate to end-stage renal disease after being given a gadoliniumbased contrast agent to enhance MRI or MRA scans. Penyakit ini terjadi pada pasien dengan sedang sampai stadium akhir penyakit ginjal setelah diberi agen kontras gadolinium berbasis untuk meningkatkan MRI scan atau MRA. NSF/NFD is a debilitating and sometimes fatal disease. NSF / NFD adalah penyakit fatal melemahkan dan kadang-kadang. Characteristics include red or dark patches on the skin; burning, itching, swelling, hardening, and tightening of the skin; yellow spots on the whites of the eyes; joint stiffness with trouble moving or straightening the arms, hands, legs, or feet; pain deep in the hip bones or ribs; and muscle weakness. Karakteristik termasuk bercak merah atau gelap pada kulit, terbakar, gatal, bengkak, pengerasan, dan mengencangkan kulit, bintik-bintik kuning pada bagian putih mata; kekakuan sendi dengan kesulitan bergerak atau pelurus lengan, tangan, kaki, atau kaki; jauh di dalam tulang pinggul atau tulang rusuk sakit, dan kelemahan otot. For more information, see Medscape . Untuk informasi lebih lanjut, lihat Medscape .

Periventricular ependymal enhancement Periventricular ependymal peningkatan


A study by Guerini et al described the importance of periventricular ependymal enhancement in adults, [8] a finding that can signify an underlying pathology that requires prompt medical attention. Sebuah studi oleh dkk Guerini menggambarkan pentingnya peningkatan ependymal periventricular pada orang dewasa, [8] sebuah temuan yang dapat berarti sebuah patologi yang mendasari yang membutuhkan perhatian medis yang segera. The authors reported the pattern of periventricular contrast enhancement, basing the features they noted on the underlying infectious or tumor etiology. Para penulis melaporkan pola peningkatan kontras periventricular, mendasarkan fitur mereka mencatat pada penyebab infeksi atau tumor yang mendasarinya. In addition, the differential diagnosis for each patient was derived from the patient's immune status and response to a trial of therapy, as well as the type of enhancement that was seen on MRI. Selain itu, diagnosis diferensial untuk setiap pasien berasal dari status kekebalan pasien dan respon terhadap uji coba terapi, serta jenis perangkat tambahan yang terlihat pada MRI. The differential diagnosis included tumors (eg, lymphoma, ependymoma, germ cell tumor, or metastases), viral ependymitis (eg, cytomegalovirus, varicella-zoster virus), toxoplasmosis, and bacterial or tuberculous ventriculitis. Diagnosis diferensial meliputi tumor (misalnya, limfoma, ependymoma, sel tumor kuman, atau metastasis), ependymitis virus (misalnya, cytomegalovirus, virus varicella-zoster), toksoplasmosis, dan ventriculitis bakteri atau TB.

T2-weighted images to gauge therapeutic response gambar T2-tertimbang untuk mengukur respon terapi
In a study, Brightbill et al concluded that the appearance of Toxoplasma encephalitis in lesions viewed on T2-weighted MRI scans is so varied that a definitive diagnosis cannot be reached

based on signal-intensity characteristics alone. [9] In fact, it appeared that T2-weighted hyperintensity was pathologically correlated with necrotizing encephalitis, whereas T2-weighted isointensity correlated with organizing abscesses. Dalam sebuah studi, Brightbill dkk menyimpulkan bahwa munculnya ensefalitis toksoplasma di lesi dilihat pada tertimbang MRI scan-T2 sangat bervariasi bahwa diagnosis definitif tidak dapat dicapai berdasarkan intensitas sinyal karakteristik sendiri. [9] Pada kenyataannya, ternyata hyperintensity T2-tertimbang adalah patologis berkorelasi dengan ensefalitis necrotizing, sedangkan isointensity T2 berbobot berkorelasi dengan pengorganisasian abses. Brightbill et al further surmised that in patients receiving medical therapy, it was possible that the T2-weighted MRI appearance of hyperintensity to isointensity could be a transitional change as a function of a positive response to antibiotic treatment. Brightbill et al lebih lanjut menduga bahwa pada pasien yang menerima terapi medis, ada kemungkinan bahwa penampilan T2-MRI tertimbang hyperintensity untuk isointensity bisa menjadi perubahan transisi sebagai fungsi dari respon positif terhadap pengobatan antibiotik. Thus, the signal-intensity change might be a means to determine the effectiveness of medical therapy. Dengan demikian, perubahan sinyalintensitas mungkin menjadi sarana untuk menentukan efektivitas terapi medis. By extrapolation, fluid-attenuated inversion recovery (FLAIR) signal alterations that are easer to evaluate can be used in a similar fashion. Dengan ekstrapolasi, pemulihan inversi cairan-dilemahkan (FLAIR) sinyal perubahan yang easer untuk mengevaluasi dapat digunakan dengan cara yang sama. A FLAIR image is presented below. Gambar FLAIR disajikan di bawah ini.

Axial fluid-attenuated, inversion recovery brain magnetic resonance image in a patient infected with human immunodeficiency virus and cerebral toxoplasmosis. Aksial cairan-dilemahkan, inversi pemulihan gambar magnetik resonansi otak pada pasien terinfeksi dengan human immunodeficiency virus dan toksoplasmosis cerebral. These images show intense signal at the sites of the infection. Gambar-gambar ini menunjukkan sinyal intens di lokasi infeksi.

Prenatal imaging Prenatal imaging


D'Ercole et al concluded that MRI of the fetal brain can be used to confirm or exclude fetal cerebral defects in cases in which the ultrasonographic results are inconclusive or incomplete. [10] D'Ercole et al reviewed 31 cases in which MRI verified ultrasonographic evidence of fetal brain defects. D'Ercole dkk menyimpulkan bahwa MRI otak janin dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau mengecualikan cacat otak janin dalam kasus di mana hasil ultrasonografi yang tidak meyakinkan atau tidak lengkap. [10] D'Ercole et al dikaji 31 kasus di mana MRI diverifikasi ultrasonografi bukti cacat otak janin. Histologic study of the fetus or postnatal radiologic examination confirmed the ultrasonographic evidence in 21 cases; MRI ruled out the ultrasonographic diagnosis in 10 cases (the infants were born healthy); and the MRIs were

normal in 1 case of cerebral toxoplasmosis, in which ultrasonography showed periventricular calcifications. Studi histologis dari janin atau pemeriksaan radiologis setelah melahirkan dikonfirmasi bukti ultrasonografi dalam 21 kasus; MRI dikesampingkan diagnosis ultrasonografi dalam 10 kasus (bayi yang dilahirkan sehat), dan MRI normal dalam 1 kasus toksoplasmosis otak, di mana ultrasonografi menunjukkan periventricular kalsifikasi. Overall, MRI confirmed or further documented the ultrasonographic findings for 20 cases; however, 4 of the 20 cases required fetal autopsy to determine the exact nature of the lesion. Secara keseluruhan, MRI dikonfirmasi atau lebih mendokumentasikan temuan ultrasonografi untuk 20 kasus, namun 4 dari 20 kasus yang diperlukan janin otopsi untuk menentukan sifat yang tepat dari lesi.

Degree of confidence Tingkat kepercayaan


The asymmetrical target sign is highly suggestive of CNS toxoplasmosis, but it is detected in only 30% of patients. Tanda Target asimetris sangat sugestif toksoplasmosis SSP, tetapi hanya terdeteksi pada 30% pasien. Other MRI patterns that are presumably related to the patient's altered immune status are not as specific and may be mimicked by various CNS infections and lymphoma. MRI lain pola yang mungkin berhubungan dengan status diubah kekebalan pasien yang tidak spesifik dan dapat menirukan oleh infeksi berbagai SSP dan limfoma. CNS lymphoma lesions are often solitary, whereas the nodules of CNS toxoplasmosis more often are multiple. lesi limfoma SSP sering menyendiri, sedangkan nodul toksoplasmosis SSP lebih sering ganda. A diagnosis of toxoplasmosis is favored over a diagnosis of lymphoma when more than 3 lesions or slender, ring-enhancing foci are seen or when marked edema is present. Diagnosis toksoplasmosis lebih difavoritkan daripada diagnosis limfoma ketika lebih dari 3 luka atau ramping, fokus meningkatkan cincin terlihat atau ketika ditandai edema hadir. In addition, toxoplasmosis is more common subcortically than lymphoma and seldom affects the corpus callosum. Selain itu, toksoplasmosis lebih umum subcortically dari limfoma dan jarang mempengaruhi corpus callosum. Meningeal or ependymal involvement should provoke a search for other entities, such as lymphoma or other infections. Meningeal atau keterlibatan ependymal harus memprovokasi pencarian untuk entitas lainnya, seperti limfoma atau infeksi lainnya. Although toxoplasmosis meningitis has been described, it is extremely rare. Meskipun meningitis toxoplasmosis telah dijelaskan, hal ini sangat jarang. The degree of perilesional edema is correlated directly with the patient's ability to mount an inflammatory response. Tingkat edema perilesional berkorelasi langsung dengan kemampuan pasien untuk me-mount respons inflamasi. The greater the edema, the greater the inflammatory response, and the better the prognosis. Semakin besar edema, semakin besar respon inflamasi, dan semakin baik prognosis. Edema also correlates with CD4 counts. Edema juga berkorelasi dengan jumlah CD4.

Differential diagnostic problems with CT scanning and MRI Diferensial diagnostik masalah dengan CT scan dan MRI
Miguel et al reviewed the imaging studies of 14 patients with CNS toxoplasmosis in the context of differential diagnostic problems with CT scanning and MRI. [11] Although the findings of these modalities demonstrated low specificity for the CNS mass lesions of patients with AIDS,

the authors noted certain features that were more typical for CNS toxoplasmosis than for other diseases: nearly 95% of the lesions were round and had ring or nodular enhancement; 81.3% involved multiple lesions; 60.2% of lesions were localized to the cerebral cortical or corticomedullary junction, in which 100% of cases had at least 1 lesion; and approximately 35% of the lesions were < 1 cm in diameter. Miguel et al pencitraan mempelajari ditinjau dari 14 pasien dengan toksoplasmosis SSP dalam konteks masalah diagnostik diferensial dengan CT scan dan MRI. [11] Walaupun temuan ini menunjukkan spesifisitas modalitas rendah untuk lesi massa SSP pasien dengan AIDS, penulis mencatat beberapa fitur yang lebih khas untuk toksoplasmosis SSP dibandingkan dengan penyakit lain: hampir 95% dari lesi yang bulat dan memiliki cincin atau perangkat tambahan nodular; 81,3% terlibat beberapa lesi, 60,2% dari lesi yang diterjemahkan ke persimpangan atau corticomedullary kortikal serebral, di mana 100% dari kasus memiliki paling sedikit 1 lesi, dan sekitar 35% dari lesi adalah <1 cm diameter. On nonenhanced CT scans, 91.3% of the lesions were hypoattenuating; on T2-weighted MRIs, 53.4% of the lesions had at least 1 hypointense zone. Pada CT scan nonenhanced, 91,3% dari lesi hypoattenuating; pada MRI T2-tertimbang, 53,4% dari lesi setidaknya 1 zona hypointense. Twenty-nine percent of the observed lesions on the T2-weighted MRIs included the presence of target-shaped lesions with hypointense centers, suggesting the diagnosis of CNS toxoplasmosis. Dua puluh sembilan persen dari lesi diamati pada MRI T2-tertimbang termasuk keberadaan lesi berbentuk target dengan pusat-pusat hypointense, menyarankan diagnosis toksoplasmosis SSP. The authors believed this finding had not been previously reported. Para penulis percaya bahwa temuan ini tidak dilaporkan sebelumnya. Miguel et al also noted that the presence of isoattenuating or hyperattenuating lesions on nonenhanced CT scans or irregularly shaped lesions was uncommon in CNS toxoplasmosis and that the appearance of a solitary lesion per se on CT scanning or MRI was not a good criterion for the differential diagnosis of CNS toxoplasmosis. Miguel dkk juga mencatat bahwa kehadiran isoattenuating atau hyperattenuating lesi pada CT scan nonenhanced atau berbentuk lesi tidak teratur adalah lazim dalam toksoplasmosis SSP dan bahwa munculnya lesi soliter per se pada CT scan atau MRI bukan kriteria baik untuk diagnosis diferensial toksoplasmosis SSP.

Positive predictive value of MRI findings Nilai prediksi positif temuan MRI
In a hospital-based study of 188 consecutive patients who were seropositive for HIV type 1 (HIV-1) and who presented with possible signs or symptoms of first-ever CNS disease, [12] the confirmed diagnoses included cerebral toxoplasmosis (47 patients, 25.0%), HIV-1 encephalopathy (19 patients, 10.1%), progressive multifocal leukoencephalopathy (PML) (9 patients, 4.8%), and cerebral lymphoma (1 patient, 0.5%). Dalam sebuah studi berbasis rumah sakit 188 pasien berturut-turut yang seropositif untuk HIV tipe 1 (HIV-1) dan yang disajikan dengan kemungkinan tanda-tanda atau gejala penyakit yang pernah SSP pertama, [12] diagnosa yang dikonfirmasi termasuk toksoplasmosis otak (47 pasien, 25,0%), HIV-1 encephalopathy (19 pasien, 10,1%), progressive multifocal leukoencephalopathy (PML) (9 pasien, 4,8%), dan limfoma serebral (1 pasien, 0,5%). Nine patients (4.8%) had other conditions. Sembilan pasien (4,8%) memiliki kondisi lain. In 73 (38.8%), the initial CT scans or MRIs showed focal brain lesions, which were assessed prospectively. Dalam 73 (38,8%), CT scan awal atau MRI menunjukkan lesi otak fokal, yang dinilai prospektif.

The positive predictive value for toxoplasmosis was 100% with the combined occurrence of multiple lesions and mass effect or contrast enhancement (23 patients) or in cases in which at least 1 space-occupying or enhancing lesion was located in the basal ganglia or the thalamus (26 patients). Nilai prediktif positif untuk toksoplasmosis adalah 100% dengan kejadian gabungan beberapa lesi dan efek massa atau perangkat tambahan yang kontras (23 pasien) atau dalam kasus di mana lesi minimal 1 ruang-menempati atau meningkatkan terletak di basal ganglia atau talamus ( 26 pasien). Solitary lesions with mass effect or contrast enhancement were also seen (26 patients), and cerebral toxoplasmosis was the cause in 22 patients (84.6%). lesi soliter dengan efek massa atau perangkat tambahan kontras juga terlihat (26 pasien), dan toksoplasmosis serebral adalah penyebab dalam 22 pasien (84,6%). Furthermore, 1 or more nonenhancing, nonmass lesions were present in 8 of the 9 patients with PML; however, this pattern had a predictive value of 47.1% for PML. Selanjutnya, 1 atau lebih nonenhancing, lesi nonmass hadir di 8 dari 9 pasien dengan PML, namun pola ini memiliki nilai prediktif 47,1% untuk PML. The authors concluded that in the epidemiologic context of the study, specific imaging findings in HIV-1-seropositive patients are highly predictive for cerebral toxoplasmosis. Para penulis menyimpulkan bahwa dalam konteks epidemiologi penelitian, temuan pencitraan spesifik pada pasien HIV-1-seropositif sangat prediktif untuk toksoplasmosis otak. However, findings may differ in other parts of the world where cerebral toxoplasmosis may be less prevalent among HIV-1-infected individuals. Namun, temuan mungkin berbeda di bagian lain dunia dimana toksoplasmosis cerebral mungkin kurang umum di antara orang HIV-1-terinfeksi. Recurrences of brain toxoplasmosis have been reported to correlate with persistent contrast enhancement both on CT scanning and on MRI. [13] The demonstration of such areas of persistent contrast enhancement in patients who have received treatment for initial toxoplasmosis may be a valuable sign that they are at risk for recurrence. Rekuren toksoplasmosis otak telah dilaporkan berkorelasi dengan peningkatan kontras terus-menerus baik di CT scan dan MRI. [13] Demonstrasi daerah seperti dari perangkat tambahan kontras persisten pada pasien yang telah menerima pengobatan untuk toksoplasmosis awal mungkin merupakan tanda bahwa mereka berharga berisiko untuk kambuh.

Correlation of MRI findings Korelasi MRI temuan


The pathologic findings of T2- and T1-weighted MRI sequences in cases of HIV infection were assessed in a study of 11 formalin-fixed brains at 0.5 T. [14] The extent of white matter abnormality that was seen on MRI broadly corresponded with the pathologic findings in 2 cases of PML and 1 case each of toxoplasmosis and lymphoma. Temuan patologis dari berbobot dan T1-T2 MRI urutan dalam kasus infeksi HIV dinilai dalam studi dari 11-tetap otak formalin sebesar 0,5 T. [14] Luasnya kelainan materi putih yang terlihat pada MRI secara umum bersesuaian dengan Temuan patologis dalam 2 kasus PML dan masing-masing 1 kasus toksoplasmosis dan limfoma. Overall, however, histologic changes were more frequent than lesions on MRI, including cases in which conventional MRI did not reveal multiple tuberculous granulomas, multinucleate giant cells, microglial nodules, perivascular cuffing, and cytomegaloviral inclusions. Secara keseluruhan, bagaimanapun, perubahan histologis lebih sering dari lesi pada MRI, termasuk kasus di mana MRI konvensional tidak mengungkapkan beberapa granuloma TB, sel raksasa multinukleat, nodul mikroglial, cuffing perivascular, dan inklusi cytomegaloviral. On the other hand, 1 common finding on T2-weighted MRIs in 6 cases

was punctate or patchy hyperintensity in the basal ganglia. Di sisi lain, 1 menemukan umum pada MRI T2-tertimbang dalam 6 kasus adalah hyperintensity belang-belang atau merata di ganglia basal. The corresponding histologic changes included calcification of vessels with widened perivascular spaces and mineralized neurons. Perubahan histologis yang sesuai termasuk kalsifikasi kapal dengan ruang perivascular melebar dan neuron termineralisasi. Revel and associates reported the imaging findings of 5 patients with AIDS who had received a previous diagnosis of, and subsequent treatment for, toxoplasmosis. [15] Nonenhanced CT scans obtained approximately 6 months after the CNS infection showed hyperattenuating lesions. Bersenang-senang dan asosiasi melaporkan temuan pencitraan dari 5 pasien dengan AIDS yang telah menerima diagnosis sebelumnya, dan pengobatan selanjutnya untuk, toksoplasmosis. [15] Nonenhanced CT scan yang diperoleh sekitar 6 bulan setelah infeksi SSP menunjukkan hyperattenuating lesi. MRI was performed in all cases: in 4 of the 5 patients, the hyperattenuating areas on the CT scans were characterized by high signal intensity on the T1weighted MRIs. MRI dilakukan dalam semua kasus: di 4 dari 5 pasien, daerah hyperattenuating pada CT scan dikarakterisasi dengan intensitas sinyal tinggi pada MRI T1-tertimbang. In 2 of the 4 cases, pathologic correlation confirmed hemorrhage. Dalam 2 dari 4 kasus, hubungan patologis dikonfirmasi perdarahan. In the fifth case, pathologic correlation verified the MRI findings that had suggested calcification. Dalam kasus kelima, hubungan patologis diverifikasi temuan MRI yang telah disarankan kalsifikasi. In another study of 12 cases of AIDS, the radiologic (MRI and CT scan) and pathologic findings in the brain were correlated. [16] Balakrishnan et al noted 3 cases each of HIV encephalopathy, primary lymphoma, and toxoplasmosis and 1 case each of cryptococcosis, cytomegalovirus infection, and PML. Dalam studi lain 12 kasus AIDS, radiologis (MRI dan CT scan) dan temuan patologis di otak itu berkorelasi. [16] Balakrishnan dkk tercatat masing-masing 3 kasus ensefalopati HIV, limfoma primer, dan toksoplasmosis dan 1 kasus masing-masing kriptokokosis, infeksi sitomegalovirus, dan PML. MRI was better than CT scanning at clearly depicting the various cranial lesions; on the basis of MRI characteristics, HIV encephalopathy was distinguishable from other lesions, particularly PML. MRI lebih baik dari CT scan di jelas menggambarkan berbagai lesi tengkorak, berdasarkan karakteristik MRI, ensefalopati HIV dapat dibedakan dari lesi lain, terutama PML. Although the basal ganglia were found to be the most common sites of involvement in opportunistic infections and primary lymphoma, reliable distinguishing features among lesions in the basal ganglia were not found, with the exception of a unique appearance for cryptococcal lesions. Meskipun ganglia basal yang ditemukan untuk menjadi situs yang paling umum keterlibatan dalam infeksi oportunistik dan limfoma primer, fitur handal membedakan antara lesi di ganglia basal tidak ditemukan, dengan pengecualian penampilan unik untuk lesi kriptokokus.

False positives/negatives False positif / negatif


False-positive findings may result from lymphoma, other CNS infections (particularly fungal infections), and CNS metastases. Temuan positif palsu dapat mengakibatkan dari limfoma, infeksi SSP lain (terutama infeksi jamur), dan metastasis SSP.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12521559

Departemen Neurologi, Johns Hopkins University Medical School, 600 Utara Wolfe Street, Baltimore, MD 21287, USA. anath1@jhmi.edu anath1@jhmi.edu Abstrak
The choice of drugs for treating cerebral toxoplasmosis is limited. Pilihan obat untuk mengobati toksoplasmosis otak terbatas. There are only three drugs available, and, of these, pyrimethamine and sulfonamide are invariably used in combination. Hanya ada tiga obat yang tersedia, dan, ini, pirimetamin dan sulfonamida yang selalu digunakan dalam kombinasi. Clindamycin is an alternative choice. Clindamycin adalah pilihan alternatif. Another drug, spiramycin, has poor central nervous system penetration, but achieves high concentrations in the placenta, and it is useful for treatment of toxoplasmosis during pregnancy. Obat lain, spiramisin, memiliki penetrasi sistem saraf pusat miskin, tetapi mencapai konsentrasi tinggi dalam plasenta, dan ini berguna untuk pengobatan toksoplasmosis selama kehamilan. Because long-term maintenance therapy is often necessary, particularly in patients with AIDS, a wider choice of antibiotics is urgently necessary, because of potential problems with drug resistance and side effects. Karena terapi pemeliharaan jangka panjang seringkali diperlukan, terutama pada pasien dengan AIDS, pilihan yang lebih luas antibiotik ini sangat diperlukan, karena potensi masalah dengan resistensi obat dan efek samping. Treatment may be started empirically in any patient with HIV infection and multiple brain lesions. Pengobatan dapat dimulai secara empiris dalam setiap pasien dengan infeksi HIV dan beberapa lesi otak. The drugs of choice are a combination of sulfadiazine and pyrimethamine. Obat-obatan pilihan adalah kombinasi sulfadiazin dan pirimetamin. Folinic acid should be added to prevent pyrimethamine-induced bone marrow suppression. Folinic asam harus ditambahkan untuk mencegah pirimetamin-akibat penekanan tulang sumsum. Repeated neuroimaging, 2 weeks after initiating therapy, is needed to assess efficacy of treatment. Berulang neuroimaging, 2 minggu setelah memulai terapi, diperlukan untuk menilai keberhasilan pengobatan. If CD4 cell counts remain below 100 cells per mm(3), lifelong therapy is needed. Jika jumlah CD4 tetap di bawah 100 sel per mm (3), terapi seumur hidup diperlukan. Tissue diagnosis should be established in patients who do not respond to treatment, who have solitary lesions, or in patients without AIDS. Tissue diagnosis harus ditetapkan pada pasien yang tidak menanggapi pengobatan, yang memiliki lesi soliter, atau pada pasien tanpa AIDS. Recent breakthroughs in the understanding of the biology of Toxoplasma will result in the development of a range of new therapies in the near future. terobosan terbaru dalam pemahaman tentang biologi toksoplasma akan menghasilkan pengembangan berbagai terapi baru dalam waktu dekat.

http://www.wrongdiagnosis.com/medical/toxoplasmosis_cerebral.htm Toxoplasmosis, Cerebral: Infeksi pada OTAK disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii yang terutama timbul pada individu dengan IMUNOLOGIS DEFISIENSI sindrom (lihat juga AIDS-ISTIMEWA INFEKSI OPORTUNISTIKNYA ). The infection may involve the brain diffusely or form discrete abscesses. Infeksi dapat melibatkan otak difus atau bentuk abses diskrit. Clinical manifestations include SEIZURES , altered mentation, headache, focal neurologic deficits, and INTRACRANIAL HYPERTENSION . Manifestasi klinis termasuk SERANGAN , pemikiran berubah, sakit kepala, defisit neurologik fokal, dan hipertensi intrakranial . (From Joynt, Clinical Neurology, 1998, Ch27, pp41-3). (Dari Joynt, Klinik Neurologi, 1998, Ch27, pp41-3). Source: MeSH 2007 Sumber: MESH 2007