Anda di halaman 1dari 15

DAMPAK TEKNOLOGI PADA AUDITING

MELISA A31109299

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

PENDAHULUAN

. Sebagian besar entitas, termasuk perusahaan keluarga berukuran kecil, mengandalkan TI untuk mencatat dan memproses transaksi bisnis. Akibat kemajuan TI yang luar biasa, perusahaan yang relatif kecilpun bahkan menggunakan komputer pribadi dengan perangkat lunak akuntansi komersial untuk menjalankan fungsi akuntansinya. Fungsi Akuntansi yang menggunakan jaringan TI yang rumit, internet, dan fungsi TI terpusat sekarang sudah merupakan hal yang umum. Penggunaan TI dapat meningkatkan pengendalian internal dengan menambahkan prosedur

pengendalian baru yang dilakukan oleh komputer dan dengan menggantikan kendali manual yang merupakan subyek bagi kesalahan manusia. Penggunaan teknologi informasi (TI) sudah merambah di berbagai sektor industri baik itu barang maupun jasa. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku dan kebutuhan semua pihak yang berhubungan dengan perusahaan/organisasi termasuk auditor internal dan eksternal dalam melakukan proses audit terhadap perusahaan/organisasi tersebut. Salah satu dampak yang sangat berpengaruh pada proses auditing adalah adanya pergeseran audit tradisional yang berbasis tugas menuju audit TI berbasis resiko. Fungsi control audit yang berbasis pada pendeteksian resiko akan berfokus pada awal terjadinya suatu kejadian ekonomi dengan pencegahan terjadinya fraudmelalui kelayakan pengandalian internal. Hal tersebut dilakukan karena dampak TI yang cenderung menghilangkan bukti transaksi yang berupa dokumen kertas sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi auditor untuk menyusun strategi baru dalam kaitan audit dalam lingkungan TI. Beberapa dampak utama auditing teknologi diantaranya, lebih sering menggunakan program word processing dan spreadsheet, teknologi mengurangi kebutuhan sumber daya manusia, meningkatnya Kemampuan komunikasi elektronik dan lainnya. Semakin banyaknya perusahaan yang memanfaatkan TI dalam operasionalnya menuntut auditor juga harus mampu dalam memanfaatkan tools yang ada untuk menguji bukti elektronik yang dikumpulkan. Di setiap lingkungan baru di bidang TI seorang auditor akan dihadapkan pada tantangan perubahan resiko, proses

bisnis dan peran auditor sehingga auditor harus menggunakan strategi tepat dalam melakukan auditing. Selain itu dengan berkembangnya teknologi dalam dunia auditing maka terjadi perubahan pada bukti audit yang awalnya dalam bentuk kertas menjadi bukti elektronik akan menjadi tantangan baru bagi auditor.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Informasi.
Teknologi Informasi adalah istilah umum yang menjelaskan teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. Teknologi informasi (Information Technology) biasa disingkat TI, IT atau infotech.Dalam Oxford English Dictionary (OED2) edisi ke-2 mendefenisikan teknologi informasi adalah hardware dan software, dan bisa termasuk di dalamnya jaringan dan telekomunikasi yang biasanya dalam konteks bisnis atau usaha. Menurut Haag dan Keen (1996), Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Menurut Martin (1999), Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang akan digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakupteknologi komunikasi untuk mengirim/menyebarkan informasi. Sementara Williams dan Sawyer (2003), mengungkapkan bahwa teknologi informasi adalah teknologi yang

menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video. Teknologi Informasi dan Komunikasi mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

B. Audit Sistem Informasi Komputerisasi Akuntansi.


a) Audit Pengertian Audit menurut Arens, et al. (2003) yang diterjemahkan oleh Kanto Santoso, Setiawan dan Tumbur Pasaribu: Audit adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti tentang informasi ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian informasi ekonomi tersebut dengan kriteriakriteria yang telah ditetapkan, dan melaporkan hasil pemeriksaan tersebut. b) Sistem Informasi Definisi sistem informasi menurut Ali Masjono Mukhtar, adalah: Suatu pengorganisasian peralatan untuk mengumpulkan, menginput, memproses, menyimpan, mengatur, mengontrol, dan melaporkan informasi untuk pencapaian tujuan perusahaan. c) Komputerisasi Definisi komputerisasi yang berasal dari kata komputer (Computer) diambil dari bahasa latin Computare yang berarti menghitung (to compute atau reckon). Komputer adalah sistem elektronik untuk memanipulasi data yang cepat dan tepat serta dirancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis menerima dan menyimpan data input, memprosesnya, dan menghasilkan output di bawah pengawasan suatu langkah-langkah instruksi-instruksi program yang tersimpan dimemori (stored program). Komputerisasi merupakan aktivitas yang berbasis pada komputer (Computer Based System). d) Akuntansi Definisi akuntansi (Accounting) menurut (Jerry J. Weygandt, Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel, 1999) : akuntansi adalah suatu proses untuk tiga kegiatan yaitu : mengidentifikasi, mencatat, dan komunikasi kejadian ekonomi pada sebuah organisasi baik binsis ataupun non bisnis. e) Audit Sistem Informasi Komputerisasi Akuntansi Karakteristik sistem informasi komputerisasi akuntansi terdiri dari:

Akuntansi yang berbasis pada sistem informasi komputerisasi akuntansi dapat menghasilkan buku besar yang berfungsi sebagai gudang data (data warehouse). Di mana seluruh data yang tercantum dalam dokumen sumber dicatat dengan transaction processing software ke dalam general ledger yang diselenggarakan dalam bentuk shared data base sehingga dapat diakses oleh personel atau pihak luar yang diberi wewenang.

Pemakai informasi akuntansi dapat memanfaatkan informasi akuntansi dengan akses secara langsung ke shared data base. Sistem informasi komputerisasi akuntansi dapat menghasilkan informasi dan laporan keuangan multi dimensi. Sistem informasi komputerisasi akuntansi sangat mengandalkan pada berfungsinya kapabilitas perangkat keras dan perangkat lunak. Jejak audit pada sistem informasi komputerisasi akuntansi menjadi tidak terlihat dan rentan terhadap akses tanpa izin. Sistem informasi komputerisasi akuntansi dapat mengurangi keterlibatan manusia, menuntut pengintegrasian fungsi, serta menghilangkan sistem otorisasi tradisional.

Sistem informasi komputerisasi akuntansi mengubah kekeliruan yang bersifat acak ke kekeliruan yang bersistem namun juga dapat menimbulkan risiko kehilangan data.

Sistem informasi komputerisasi akuntansi menuntut pekerja pengetahuan (knowledge worker) dalam pekerjaannya.

C. Perkembangan Teknologi Informasi.


Teknologi Informasi (TI) meliputi segala alat maupun metode yang terintegrasi untuk digunakan dalam menjaring atau menangkap data (capture), menyimpan (saving), mengolah (process), mengirim (distribute), atau menyajikan kebutuhan informasi secara elektronik kedalam berbagai format, yang

bermanfaat bagi user (pemakai informasi) Teknologi ini dapat berupa kombinasi

perangkat keras dan lunak dari komputer, non komputer (manual) maupun prosedur, operator, dan para manajer dalam suatu sistem yang terpadu satu sama lain. Perkembangan TI telah mengakibatkan perubahan dalam struktur industri serta praktik pengelolaan organisasi bisnis di dalam berkompetisi dan melaksanakan kegiatan untuk melayani pelanggan, sehingga dengan laju perkembangan TI yang semakin pesat telah mengubah bisnis dan konsep manajemen yang ada, juga berdampak terhadap kebutuhan informasi bagi manajer dalam akuntansi internal maupun eksternal guna mendukung dalam pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan, meraih peluang dan mencapai tujuan. Sebagaimana diketahui bahwa bidang akuntansi dibagi atas tiga subbidang yaitu akuntansi manajemen, akuntansi keuangan, dan auditing maka akibat perkembangan TI akan berpengaruh terhadap bisnis dan praktik manajemennya yang meliputi akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen demikian juga terhadap proses auditing, sehingga Auditor yang berkembang di era informasi ini adalah yang mampu memberikan jasa tebaik bagi klien dengan memanfaatkan TI.

D. Perubahan dalam Pengendalian Internal yang Disebabkan Oleh Perkembangan Teknologi.


Penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan pengendalian internal dengan menambahkan prosedur pengendalian baru yang dilakukan oleh komputer dan dengan mengganti pengendalian yang biasanya dilakukan secara manual yang rentan terhadap kesalahan manusia. Di saat yang sama, TI dapat menimbulkan risiko-risiko baru yang dapat diatasi klien dengan menggunakan pengendalian khusus terhadap sistem TI. Beberapa perubahan dalam pengendalian internal yang disebabkan oleh integrasi TI ke dalam sistem akuntansi:

1. Pengendalian internal menggantikan pengendalian manual. Keunggulan yang paling tampak dalam TI adalah kemampuan untuk menangani transaksi bisnis yang komplek dalam jumlah yang besar dengan efisien. Karena komputer memproses informasi secara konsisten, sistem TI dapat mengurangi salah saji dengan mengganti prosedur yang biasanya dilakukan secara manual dengan pengendalian-pengendalian yang terprogram yang menerapkan fungsi saling mengawasi dan mengontrol (check and balance) untuk setiap transaksi yang diproses. 2. Menyediakan informasi dengan kualitas yang lebih tinggi. Aktivitasaktivitas TI yang kompleks biasanya diatur secara efektif karena kompleksitas mengharuskan adanya pengaturan, prosedur, dan

dokumentasi yang efektif. Hal tersebut biasanya menghasilkan informasi yang kualitasnya lebih tinggi serta lebih cepat bagi manajemen perusahaan. Jika manajemen yakin bahwa informasi yang dihasilkan oleh TI tersebut dapat diandalkan, manajemen akan menggunakan informasi tersebut untuk keputusan-keputusan manajemen yang lebih baik

E. Menilai Resiko Teknologi Informasi.


Meskipun Teknologi informasi (TI) dapat meningkatkan pengendalian internal perusahaan, TI juga dapat memegaruhi risiko pengendalian secara keseluruhan. Banyak risiko-risiko dalam sistem manual yang berkurang dan bahkan dalam beberapa kasus malah menjadi hilang. Risiko-risiko khusus terkait dengan sistem TI: 1. Risiko terhadap perangkat keras (hardware) dan data. Meskipun TI memiliki keunggulan dalam pemrosesan secara signifikan, TI juga dapat menciptakan risiko-risiko yang khas dalam melindungi perangkat keras dan data, dan juga potensial memunculkan jenis-jenis kesalahan yang baru, berikut ini risiko-risiko khusus yang berkaitan dengan perangkat keras (hardware) dan data:

Ketergantungan terhadap kemampuan kerja perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (Software). Tanpa memberikan perlindungan fisik yang tepat, perangkat keras dan lunak mungkin tidak dapat berfungsi atau tidak berfungsi dengan benar. Sehingga sangat penting untuk memberikan perlindungan fisik yang

disebabkan oleh penggunaan yang tidak tepat, sabotase, atau kerusakan lingkungan (misal dari api, air, lembab, dan panas). Kesalahan sistematis dan kesalahan acak. Ketika perusahaan mengganti prosedur manual dengan prosedur berbasis TI, risiko kesalahan acak akibat dari keterlibatan manusia dapat berkurang. Akses yang tidak diotorisasi. Sistem akuntansi berbasis TI sering kali memungkinkan akses secara online terhadap data dalam arsip utama, perangkat lunak dan catatan-catatan lainnya. Karena akses online dapat dilakukan dari jarak jauh termasuk oleh pihak eksternal melalui internet, terdapat potensi akses yang tidak sah, tanpa adanya pembatasan online yang tepat seperti penggunaan kata sandi dan identifikasi pengguna, aktivitas yang tidak sah dapat dilakukan melalui komputer, yang berakibat pada perubahan yang tidak tepat dalam program perangkat lunak dan arsip-arsip utama. Kehilangan data. Banyak data dalam sistem TI yang disimpan dalam arsip elektronik yang terpusat. Hal ini meningkatkan risiko kehilangan atau kerusakan seluruh arsip data. Hal tersebut memiliki dampak yang sangat serius, dengan potensi salah saji dalam laporan keuangan bahkan dalam beberapa kasus

mengakibatkan gangguan serius terhadap kegiatan operasional perusahaan secara keseluruhan. 2. Berkurangnya jejak audit. Salah saji mungkin tidak dapat dideteksi dengan meningkatnya

penggunaan TI karena hilangnya jejak audit yang nyata, dan juga

berkurangnya keterlibatan manusia. Selain itu, komputer menggantikan beberapa jenis otorisasi tradisional dalam banyak sistem TI: Kejelasan jejak audit (visibility of audit trail). Karena banyak informasi yang dimasukkan secara langsung ke dalam komputer, penggunaan TI sering kali mengurangi atau bahkan menghilangkan dokumen-dokumen sumber dan catatan-catatan yang

memungkinkan organisasi untuk menelusuri informasi akuntansi tersebut. Dokumen dan catatan tersebut dinamakan jejak audit. Karena tidak adanya jejak audit pengendalian lain harus

dimasukkan untuk menggantikan kemampuan tradisional untuk membandingkan informasi output dengan data di atas kertas. Berkurangnya keterlibatan manusia. Dalam banyak sistem TI, para pegawai yang menangani pemrosesan awal transaksi tidak pernah melihat hasil akhirnya. Sehingga mereka kurang mampu untuk mengidentifikasikan salah saji dalam pemrosesan. Bahkan jika mereka dapat melihat hasil akhirnya sekalipun, sering kali sulit untuk mengenali adanya salah saji karena hasilnya sering kali sudah diiktisarkan dengan sangat ringkas. Selain itu, para pegawai cenderung menganggap output yang dihasilkan dari penggunaan TI itu benar karena diproses oleh program komputer. Kurangnya otorisasi tradisional. Sistem TI yang maju sering kali dapat mengerjakan beberapa jenis transaksi secara otomatis, seperti menghitung bunga untuk rekening tabungan dan

pemesanan persediaan ketika tingkat pemesanan kembali yang telah ditetapkan telah tercapai. Sehingga otorisasi yang tepat bergantung pada perangkat lunak dan arsip utama yang akurat yang digunakan untuk membuat keputusan otorisasi. 3. Kebutuhan akan pengalaman di bidang TI dan pemisahan tugas-tugas TI. Sistem TI mengurangi pemisahan tugas tradisional (otorisasi, pembukuan, dan penyimpanan) dan menciptakan suatu kebutuhan tambahan akan pengalaman di bidang TI:

Berkurangnya pemisahan tugas. Ketika suatu organisasi berubah dari proses manual ke proses komputer, komputer melakukan banyak tugas yang sebelumnya secara tradisional dipisahkan, misalnya otorisasi dan pembukuan. Menggabungkan aktivitasaktivitas dari beberapa bagian organisasi ke dalam satu fungsi TI akan memusatkan tanggung jawab yang sebelumnya dipisahkan.

Kebutuhan akan pengalaman di bidang TI. Meskipun perusahaan membeli paket perangkat lunak akuntansi yang sederhana, sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki pegawai yang memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk memasang, memelihara dan menggunakan sistem tersebut. Ketika penggunaan sistem TI meningkat, kebutuhan akan ahli di bidang TI akan meningkat pula.

F. Pengendalian Internal Khusus untuk Teknologi Informasi.


Standar audit menjelaskan 2 (dua) kategori pengendalian untuk sistem TI yaitu: 1. Pengendalian Umum. Diterapkan pada semua aspek dalam fungsi TI termasuk pengaturan TI, pemisahan tugas-tugas TI, pengembangan sistem, pengamanan fisik dan online terhadap akses pada perangkat lunak, perangkat keras dan data terkait, rencana cadangan dan kontijensi jika terjadi kondisi darurat yang tidak diperkirakan sebelumnya, dan pengendalian perangkat keras. Auditor mengevaluasi pengendalian umum untuk perusahaan secara keseluruhan. 2. Pengendalian Aplikasi. Diterapkan untuk memproses transaksi-transaksi, seperti pengendalian terhadap pemrosesan penjualan dan penerimaan kas. Auditor harus mengevaluasi pengendalian aplikasi untuk setiap kelompok transaksi atau akun di mana auditor merencanakan untuk mengurangi penilaian risiko pengendalian karena pengendalian TI akan berbeda di setiap kelompok transaksi dan akun. Pengendalian aplikasi hanya dapat menjadi efektif jika pengendalian umumnya efektif.

G. Dampak Teknologi Pada Auditing.


Tantangan utama para auditor saat ini muncul dari keterikatan terhadap konvensi dasar cost histories laporan keuangan, yang mana tidak dapat dilepas dari konvensi akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh pihak lain, yakni penentu standar akuntansi. Dan umumnya kantor akuntan publik menjalankan dua jenis jasa terhadap kliennya, yaitu: 1. Jasa atestasi, muncul karena: Ada pihak yang memerlukan informasi Penyedia informasi mempunyai interest yang berbeda para user Informasi yang dihasilkan dapat di audit Anlisis biaya dan manfaat yang dinilai layak.

Jasa atestasi ini di era informasi semakin besar peluang untuk berbisnis bagi auditor . 2. Jasa konsultasi, setiap pekerjaan konsultasi manajemen, kantor akuntan publik semakin dituntut untuk memberikan advis manajemen dengan cepat dan tepat yang dapat memberikan dampak kinerja perusahaan lebih baik, yaitu mengarahkan rancangan sistem informasi yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif, sehingga advis yang diberikan tidak hanya terbatas pada laporan audit maupun SPT pajak namun juga mampu mengidentifikasi aktivitas klien yang memberikan added value (nilai tambah), meminimumkan biaya aktivitas serta sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah perusahaan. Pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam audit semakin luas dan semakin banyak perkantoran akuntan publik yang menggunakan generalized audit software karena semakin meningkat produktivitas dalam menjalankan pekerjaan audit dengan electronic working papers, sementara di pihak lain, sistem informasi yang diterapkan klien dengan basis komputer yang memungkinkan pekerjaan audit dilaksanakan secara online, akibatnya manfaat audit yang diperoleh semakin cepat bagi yang membutuhkan

informasi. Untuk itu para auditor dalam memberikan advis kepada klien di era informasi ini diharapkan memilki kemampuan: Memahami nilai strategis sistem informasi Memahami aktivitas utama klien dalam menciptakan nilai tambah Memberikan alternatif tindakan untuk menciptakan nilai yang lebih besar dengan bantuan teknologi informasi Mengidentifikasi, mengatur,dan mengembangkan sumber daya organisasi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar.

KESIMPULAN
Perkembangan Teknologi secara pesat dalam berbagai aspek menyebabkan secara tidak langsung berdampak pada berbagai aspek, khusunya pada bidang auditing. Perkembangan teknologi memberi dampak yang cukup signifikan dalam bidang auditing baik itu dampak pada proses audit, bukti-bukti audit, maupun pada profesi akuntan itu sendiri. Perkembangan teknologi menimbulkan pergeseran fungsi auditing dari fungsi tradisional menuju audit berbasis teknologi. Oleh karena itu seorang auditor saat ini tidak hanya dituntut untuk dapat menguasai keterampilan di bidang akuntansi tetapi juga harus dapat menguasai hal-hal khusus yang berhubungan dengan teknologi informasi. Perkembangan teknologi juga berdampak pada pengendalian internal di dalam perusahaan. Penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan pengendalian internal dengan menambahkan prosedur pengendalian baru yang dilakukan oleh komputer dan dengan mengganti pengendalian yang biasanya dilakukan secara manual yang rentan terhadap kesalahan manusia. Di saat yang sama, TI dapat menimbulkan risiko-risiko baru yang dapat diatasi klien dengan menggunakan pengendalian khusus terhadap sistem TI. Hal ini menyebabkan terjadinya beberapa perubahan di dalam fungsi internal perusahaan.

Daftar pustaka
Andrew. 2012, Dampak Teknologi Terhadap Audit, http://www.mdp.ac.id/materi/20122013-1/AD301/122218/AD301-122218-607-11.pdf Arqam. 2011, Dampak Teknologi Terhadap Audit, http://akosalam.blogspot.com/2011/ 12/dampak-teknologi-informasi-terhadap.html Nia. 2012, Pengaruh IT dalam Auditing. http://nayhyunjae92.blogspot.com/2012/01/ pengaru-it-dalam-proses-audit.html Taufiq, Muhammad. 2008, Dampak Perkembangan Teknologi Informasi dalam Profesi Akuntan dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan, Jurnal STIMIK AMIKOM Yogyakarta