Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN Bahan alam di bidang kesehatan memegang peranan sangat penting, baik sebagai bahan dasar obat

maupun sebagai salah satu bahan pendukung. Tidak hanya dalam bentuk ekstrak maupun hasil isolat murni, tetapi juga dapat berperan sebagai komponen utama dalam proses sintesis obat. Oleh karena itu, penelitian di bidang bahan alam khususnya tanaman obat, saat ini telah menjadi salah satu penelitian utama. Pemanfaatan mahkota dewa, Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl., sinonim Phaleria papuana Warb. Var. Wichannii (Val.) Back., suku Thymelaeaceae, sebagai tanaman obat antikanker / sitostatika sampai sejauh ini belum didukung oleh data ilmiah yang mencukupi. Untuk dapat lebih mengoptimalkan fungsi tanaman, yang dikenal juga dengan nama makuta dewa, makuto rojo, atau simalakama, sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif sitostatika maka masih dibutuhkan sejumlah data ilmiah lebih lanjut. Acuan pustaka

taksonomi menjelaskan bahwa tanaman marga Phaleria umumnya memiliki aktivitas antimikroba. Faktor yang ikut menentukan aktivitas farmakologi tanaman antara lain kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam tanaman tersebut. Toksisitas metabolit sekunder tanaman berkaitan dengan kemampuan pertahanan diri tanaman tersebut terhadap predator seperti serangga, mikroorganisma, hewan ataupun tanaman predator lainnya. Semakin tinggi tingkat toksisitas metabolit sekunder tanaman, maka semakin potensial tanaman tersebut untuk digunakan dalam pengobatan karena memiliki mekanisme pertahanan diri atau kemampuan melindungi yang juga tinggi. Dari sejumlah pengalaman eksperimental terbukti bahwa sebagian besar tanaman yang memiliki aktivitas antimikroba pada umumnya juga menunjukkan potensi sebagai suatu antikanker. Hal ini terjadi karena toksisitas yang dimilikinya tersebut dapat pula bekerja terhadap fase tertentu dari siklus sel tumor. Penelitian pendahuluan terhadap toksisitas ekstrak daging buah dan kulit biji mahkota dewa dari fraksi polar, semi polar dan non polar menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dari Meyer terhadap larva udang Artemia salina Leach. memberikan hasil berupa nilai LC50 yang sangat kecil, berkisar antara 0.16 11.83g/ml (Lisdawati, 2002). Uji ini menggambarkan tingginya aktivitas biologi yang dimiliki oleh metabolit sekunder di dalam ekstrak tanaman, dimana dengan konsentrasi dosis sebesar 0.16 11.83 g/ml telah dapat menyebabkan kematian 50% larva udang Artemia salina Leach. Seperti dinyatakan oleh Cassady, dengan tingginya tingkat toksisitas ekstrak tanaman mahkota dewa, semakin

potensial senyawa metabolit sekunder di dalam tanaman untuk bekerja menghambat fase tertentu pada siklus sel tumor. Metabolit sekunder tanaman yang berkaitan dengan aktivitas antikanker antara lain adalah golongan alkaloid (contoh: senyawa alkaloid indol dan alkaloid dihidroindol dari spesies Vinca rosea), senyawa terpenoid (contoh: senyawa taksol dari spesies Taxus brevolia Nutt.), senyawa polifenol (contoh: asam elagat dan isotiosianat dari spesies Brassica Sp.; lignan dari spesies Podophyllum peltatum L.), dan senyawa-senyawa resin (contoh: kukurbitasin dari spesies Bryonia cretica subsp. dioica). Penelitian awal terhadap tanaman mahkota dewa mengidentifikasi golongan metabolit sekunder alkaloid, terpenoid, saponin dan senyawa polifenol terdapat di dalam daun dan buah tanaman. Semua golongan metabolit yang ditemukan tersebut termasuk ke dalam golongan senyawa metabolit yang memang telah terbukti memiliki aktivitas anti kanker sebagaimana dinyatakan di atas. Meskipun demikian, tanpa adanya acuan informasi ilmiah yang mendukung secara nyata mengenai aktivitas anti kanker dari ekstrak tanaman maka penggunaan tanaman mahkota dewa sebagai suatu tanaman alternatif dalam pengobatan antikanker (sitostatika) tetap akan mengalami hambatan.

BAB II ISI Kanker merupakan penyakit degeneratif dengan ciri berupa terjadinya pertumbuhan selsel jaringan tubuh yang tidak normal dan terkendali. Hingga saat ini belum ditemukan obat penyembuh kanker meski penyakit masih berada dalam tahap dini atau stadium operabel. Prevalensi kanker di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berkembang dengan perkiraan 100 per 100.000 penduduk per tahun atau sekitar 200.000 penduduk per tahun berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Badan Litbangkes tahun 1986. Leukemia merupakan salah satu jenis penyakit kanker yang disebabkan oleh neoplasma ganas pada sel darah putih. Penyakit ini termasuk bentuk kelainan degeneratif pada sumsum tulang belakang, yang dengan sendirinya mempengaruhi kinerja stem cells. Akibat yang ditimbulkan adalah kanker leukemia dengan cepat menyebar ke seluruh organ tubuh untuk mencapai stadium akut. Saat ini, penyakit leukemia menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai penyebab kematian akibat kanker yang terutama menyerang anak-anak dan remaja berusia antara 3 14 tahun. Bioasai terhadap aktivitas anti kanker dalam ekstrak tanaman dapat dilakukan melalui dua cara. Cara pertama yaitu bioasai terhadap potensi sitotoksik ekstrak tanaman dalam menghambat proliferasi sel kanker pada kultur jaringan dan cara kedua yaitu bioasai terhadap mekanisme sitotoksik ekstrak tanaman berdasarkan perbedaan inhibisi oleh enzim ataupun ikatan reseptor yang menginduksi sel kanker. Pada percobaan bioasai antikanker ini, potensi inhibisi paling tinggi baik dari ekstrak daging buah maupun dari ekstrak kulit biji, potensi inhibisi yang tinggi ini menunjukkan bahwa golongan senyawa-kimia yang terdapat dalam fraksi semi polar dari daging buah dan kulit biji tanaman mahkota dewa merupakan golongan senyawa kimia yang dapat memberikan aktivitas inhibisi tertinggi pada perkembangbiakan sel kanker leukemia jenis L1210 . Untuk potensi inhibisi terendah dari ekstrak kasar pada percobaan ini ditunjukkan oleh fraksi yang berbeda dari masing-masing bagian. Pada daging buah, fraksi n-heksan menunjukan nilai IC50 terendah dan pada kulit biji ditunjukkan oleh fraksi. Perbedaan potensi inhibisi menunjukan bahwa pada bagian daging buah, aktivitas antikanker yang tinggi diberikan oleh golongan senyawa semi polar dan polar. Sedangkan untuk kulit biji maka aktivitas antikanker yang tinggi diberikan oleh golongan senyawa semi polar dan non polar.

Perbedaan potensi inhibisi ini sekaligus menunjukkan terdapatnya perbedaaan jenis senyawa yang ada dalam bagian daging buah dan kulit biji tanaman mahkota dewa. Oleh karena itu, melihat adanya perbedaan jenis senyawa metabolit sekunder yang ada dalam tanaman maka prospek pemanfaatan terhadap masing-masing bagian memiliki probabilitas yang lebih luas. Kemungkinan dengan adanya perbedaan jenis senyawa kimia dari masingmasing bagian, maka akan terbuka berbagai kemungkinan efek farmakologi yang berbeda sehingga masih dibutuhkan berbagai penelitian lanjutan untuk menentukan efek paling maksimal yang dapat diberikan oleh masing-masing bagian tersebut. Potensi inhibisi perkembangbiakan sel kanker dalam kultur jaringan sendiri dapat terjadi dengan berbagai mekanisme. Mekanisme ini sesuai dengan fenomena terjadinya sel kanker, yaitu suatu sel yang seharusnya mengalami deferensiasi tetapi tidak terdeferensiasi, atau seharusnya sudah berhenti membelah tetapi tetap terus membelah dengan tidak terkontrol. Siklus sel memiliki beberapa tahapan dimana pada setiap tahapan terkait proteinprotein tertentu yang memiliki fungsinya masing-masing. Bila terjadi suatu mutasi pada protein-protein tersebut maka tahapan dalam siklus sel akan berubah dan sel yang dihasilkan pun akan beubah dari semestinya. Sel kanker juga dapat terjadi bila oncogenes mengalami mutasi. Misalnya mutasi pada gene supresi p53 (gene yang seharusnya mengatasi mutasi saat M-phase) ataupun mutasi pada gene opoptopsis (gene yang berfungsi memberikan sinyal untuk dilakukannya reparasi pada sel) dan mutasi pada gene metastatis (gene yang seharusnya mengikat sel untuk tetap berada di lingkungannya). Berbagai mekanisme inhibisi antara lain adalah melalui jalan memutus rantai proses pembelahan sel yang telah mengalami mutasi tadi dengan merangsang enzim ligase bekerja terhadap sel mutan ataupun dengan jalan merangsang sel mutan untuk melakukan pemusnahan diri sendiri / opoptopsis (MAD). Mekanisme-mekanisme ini terjadi disesuaikan dengan jenis sel kanker yang ada. Untuk setiap mutasi yang berbeda maka mekanisme kerja inhibisi juga pasti akan berbeda. Oleh karena itu, untuk lebih memaksimalkan aktivitas antikanker tanaman maka bioasai antikanker harus terus dilakukan terhadap berbagai jenis sel kanker yang lain karena melihat mekanisme kerja senyawa sitostatika, maka nilai IC50 akan selalu berbeda bila dilakukan terhadap jenis sel yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan berbagai mekanisme yang mengiringi proses inhibisi tersebut.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Ekstrak daging buah dan kulit biji mahkota dewa memiliki potensi tinggi digunakan dalam pengobatan alternatif sitostatika, terutama untuk kanker leukemia. B. Saran Untuk lebih memaksimalkan aktivitas antikanker tanaman maka bioasai antikanker harus terus dilakukan terhadap berbagai jenis sel kanker yang lain.