Anda di halaman 1dari 15

Daftar Isi 1. Pendahuluan................................................................. 2. Agitasi dan Propaganda Politik.................................... a. Agitasi ..................................................................... b. Propaganda ............................................................. c.

Propaganda jepang terhadap indonesia ................... 3. Penutup ......................................................................... a. Kesimpulan.............................................................. Daftar Pustaka .................................................................... 2 3 3 7 12 14 14 15

1. PENDAHULUAN
Istilah agitasi dan propaganda, adalah bagian dari cara berkomunikasi. Sebetulnya ada banyak cara berkomunikasi lainya seperti penerangan, jurnalistik, humas, publisitas, pameran, dll. Seperti apa yang menjadi tujuan umum dari komunikasi maka agitasi dan propaganda ditujukan juga untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku orang lain seperti yang diharapkan oleh komunikator (pengirim pesan). Karena terkait masalah perilaku individu dalam situasi sosial, agitasi dan propaganda tidak lepas dari masalah psikologi sosial. agitasi dan propaganda akan menjadi efektif apabila disertai dengan pemahaman atas faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi sikap, maupun perilaku individu maupun kelompok. Faktor internal seperti kepribadian, sistem nilai, motivasi, serta sikap terhadap sesuatu yang ada disekitarnya, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh sistem nilai yang hidup ditengah masyarakat, kondisi lingkungan alam, tata ruang dan kondisi sosial ekonomi. agitasi dan propaganda menjadi penting bagi organisasi masyarakat (ormas) maupun partai politik (parpol) hingga perusahaan komersial sekalipun karena menyangkut upaya-upaya untuk mecapai kemenangan maupun

mempengaruhi sikap, pendapat maupun perilaku dari pihak-pihak lain baik itu pihak musuh (politik, ideologi, saingan bisnis), pihak netral maupun kawan. Seorang Komunikator (agitator dan propagandator) yang baik, setidak-tidaknya harus mengerti unsur-unsur dasar komunikasi. Pakar komunikasi Harold Lasswell (1972) menyebutnya dalam pertanyaan : Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect ?. ( Siapa mengatakan apa melalui apa untuk siapa dan pengaruhnya apa ?). Siapa (Komunikator), mengatakan apa (Pesan), melalui apa (Media), untuk siapa

(komunikan/penerima pesan), pengaruhnya apa (efek). Analisa yang mendalam terhadap unsur-unsur komunikasi diatas juga akan turut mempertajam strategi komunikasi bagi sebuah organisasi.

2. AGITASI DAN PROPAGANDA POLITIK A. Agitasi Agitasi politik berasal dari bahasa Yunani agitare yang berarti bergerak atau menggerakkan. Agitasi juga merupakan bentuk dari seni berkomunikasi yang tidak terlepas dari kegiatan perpolitikan. Menurut Herbert Blumer (1969) agitasi adalah kegiatan yang beroprasi untuk membangkitkan rakyat pada suatu gerakan terutama gerakan politik. Dengan demikian agitasi adalah cara untuk menggerakan massa baik secara lisan maupun tuisan dengan cara membangkitkan emosi khalayak. Dalam makna denotatifnya, agitasi berarti hasutan kepada orang banyak untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan dan lain sebagainya. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh tokoh/aktivis partai politik, ormas dan lain sebagainya dalam sesi pidato maupun tulisan. Dalam praktek, dikarenakan kegiatan agitasi yang cenderung menghasut maka seringkali disebut sebagai kegiatan provokasi atau sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan. Bentuk agitasi sebetulnya bisa dilakukan secara individual maupun dalam basis kelompok (massa).

Agitasi dimulai dengan cara membuat kontradiksi di masyarakat dan menggerakkan kahalayak untuk menentang kenyataan hidup masyarakat selama ini. Hal ini digunakan untuk menimbulkan kegelisahan di masyarakat, kemudian rakyat digerakan untuk mendukung gagasan baru untuk menciptakan keadaan yang baru. Dalam Negara Negara demokrasi sebagian besar agitasi ditolak karena sangat tercela. Hal ini karena agitasi bersifat negatif dengan caranya yang menggunakan hasuttan, ancaman, dan menggelisahkan sehingga membangkitkan rasa tidak puas dan memdorong adanya pemberontakan.

Beberapa perilaku kolektif yang dapat dijadikan sebagai pemicu dalam proses agitasi adalah : 1. Perbedaan kepentingan, seperti misalnya isu SARA (Suku, Agama, Ras). Perbedaan kepentingan ini bisa menjadi titik awal keresahan masyarakat yang dapat dipicu dalam proses agitasi 2. Ketegangan sosial, ketegangan sosial biasanya timbul sebagai pertentangan antar kelompok baik wilayah, antar suku, agama, maupun pertentangan antara pemerintah dengan rakyat. 3. Tumbuh dan menyebarnya keyakinan untuk melakukan aksi, ketika kelompok merasa dirugikan oleh kelompok lainya, memungkinkan timbul dendam kesumat dalam dirinya. Hal ini bisa menimbulkan keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi bersama; Dalam politik, ketiga perilaku kolektif diatas akan menjadi ledakan sosial apabila ada faktor penggerak (provokator)nya. Misalnya ketidakpuasan rakyat kecil terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada mereka juga bisa menjadi sebuah alat pemicu yang efektif untuk mendongkel sebuah rezim. Dalam tahap selanjutnya, mobilisasi massa akan terbentuk apabila ledakan sosial yang muncul dapat memancing solidaritas massa. Hingga pada eskalasi tertentu mebisa munculkan kondisi collaps. Dalam proses agitasi pemahaman perilaku massa menjadi penting. Agar agitasi dapat dilakukan secara efektif maka perlu diperhatikan sifat orang-orang dalam kelompok(massa) seperti ; massa yang cenderung tidak rasional, mudah tersugesti, emosional, lebih berani mengambil resiko, tidak bermoral. Kemampuan seorang agitator untuk mengontrol emosi massa menjadi kunci dari keberhasilan proses agitasi massa. Sedangkan pendekatan hubungan interpersonal merupakan kunci sukses dalam agitasi individu.

Agitasi dan propaganda hampir memiliki kemiripan namun yang membedakanya Agitasi memfokuskan diri pada sebuah isu aktual, berupaya mendorong suatu tindakan terhadap isu tersebut. Propaganda berurusan dengan penjelasan gagasan-gagasan secara terinci dan lebih sistematis. Seorang marxis perintis di Rusia, Plekhanov, menunjukkan sebuah konsekuensi yang penting dari pembedaan ini. Seorang propagandis menyajikan banyak gagasan ke satu atau sedikit orang; seorang agitator menyajikan hanya satu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke sejumlah besar orang (a mass of people). Seperti semua generalisasi yang seperti itu, pernyataan di atas jangan dipahami secara sangat harfiah. Propaganda, dalam keadaan yang menguntungkan, bisa meraih ribuan atau puluhan ribu orang. Dan sejumlah besar orang yang dicapai oleh agitasi jumlahnya sangat tidak tetap. Sekalipun demikian, inti dari pernyataan Plekhanov itu memiliki landasan yang kuat (sound). "Seorang propagandis yang, katakanlah, berurusan dengan persoalan pengangguran, mesti menjelaskan watak kapitalistis dari krisis, sebab dari tak terhindarkannya krisis dalam masyarakat modern, kebutuhan untuk mentransformasikan masyarakat ini menjadi sebuah masyarakat sosialis, dsb. Secara singkat, ia mesti menyajikan banyak gagasan, betul -betul sangat banyak, sehingga gagasan itu akan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif) sedikit orang. Meskipun demikian, seorang agitator, yang berbicara mengenai persoalan yang sama, akan mengambil sebagai sebuah ilustrasi, kematian anggota keluarga seorang buruh karena kelaparan, peningkatan pemelaratan (impoverishment) dsb., dan penggunaan fakta ini, yang diketahui oleh semua orang, akan mengarahkan upayanya menjadi penyajian sebuah gagasan tunggal ke massa. Sebagai akibatnya, seorang propagandis bekerja terutama dengan mamakai bahasa cetak; seorang agitator dengan memakai bahasa lisan." Mengenai pokok pikiran yang terakhir, Lenin keliru, karena ia terlalu berat-sebelah. Seperti yang ia sendiri nyatakan, sebelum dan sesudah ia menulis pernyataan di atas, sebuah

surat kabar revolusioner bisa dan mesti menjadi agitator yang paling efektif. Tetapi ini merupakan masalah sekunder. Hal yang penting adalah bahwa agitasi, apakah secara lisan atau tertulis, tidak berupaya menjelaskan segala sesuatu. Jadi kita menyatakan, dan mesti menyatakan, bahwa para individu buruh tambang yang menggunakan pengadilan kapitalis untuk melawan NUM adalah buruh pengkhianat, bajingan (villains), dipandang dari segi perjuangan sekarang ini; betul-betul terpisah dari argumen umum tentang watak negara kapitalis. Tentu kita akan mengajukan argumen, tetapi kita berupaya membangkitkan perhatian, mendorong, membangkitkan rasa tidak senang dan kemarahan terhadap pengadilan di sebanyak mungkin buruh. Ini mencakup mereka (mayoritas besar) yang belum menerima gagasan bahwa negara, negara apapun dan pengadilannya, pasti merupakan sebuah instrumen dari kekuasaan kelas. Kedua hal itu penting, sangat diperlukan, tetapi keduanya tidak selalu bisa dikerjakan. Agitasi memerlukan kekuatan yang lebih besar. Tentu saja seorang individu terkadang bisa mengagitasi sebuah keluhan tertentu secara efektif, katakanlah, keluhan mengenai kurangnya sabun atau tissue toilet yang layak di sebuah tempat kerja tertentu, tetapi sebuah agitasi yang luas dengan sebuah fokus yang umum tidaklah mungkin tanpa sejumlah besar orang yang ditugaskan dengan pantas untuk melaksanakannya, tanpa sebuah partai.

B. Propaganda Kata propaganda yang berasal dari bahasa latin propagare berarti menyemaikan tunas. Propaganda sendiri sebenarnya sudah lama diaplikasikan di bidang politik. Awalnya propaganda digunakan untuk bidang keagamaan katholik. Pada tahun 1962 Paus Gregorius XV membentuk komisi cardinal yang dinamakan congregatio de propaganda fide untuk menumbuhkan keimanan kristiani.

Propaganda sendiri berarti penerangan ( paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang lain agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Kegiatan propaganda ini banyak dipakai oleh berbagai macam organisasi baik itu orgnisasi massa, parpol, hingga perusahaan yang berorientasi profit sekalipun baik kepada kawan, lawan maupun pihak netral. Propaganda juga merupakan inti dari kegiatan perang urat syaraf (nerve warfare) baik itu berupa perang ideologi, politik, ide, kata-kata, kecerdasan, dll.

Pengaruh propaganda dalam kegiatan politik sendiri secara intensif digunakan oleh kegiatan politik Hitler pada perang dunia II. Propaganda dilakukan Hitler untuk menyebar luaskan faham fasisme sekaligus memperluas area kekuasaan Nazi. Propaganda Nazi ini berkonotasi negative karena menggunakan kebohongan dan banyak memakan korban jiwa.

Di Negara komunis seperti soviet (sebelum pecah) kegiatan probaganda mendapat citra positif dan digunakan secara intensif. Menurut Lenin, propaganda adalah mengemukakan banyak gagasan atau pikiran sedikit orang. Propaganda lebih ditekankan untuk membentuk pikiran orang orang melalui ceramah ceramah yang jumlah khalayaknya terbatas.

Di Negara demokrasi, menurut Leonardo W.Dobb (1966) propaganda adalah suatu usaha individu atau indiviru individu yang berkepentingan untuk membentuk sikap kelompok lain. Pembentukan sikap ini dilakukan dengan cara pemberian sugesti.

Sedangkan Jaques Ellul membagi propaganda menjadi dua tipe. Pertama, propaganda politik yang merupakan kegiatan yang dilakukan pemerintah, partai politik, dan kelompok kepentingan untuk mencapai tujuan politik. Kedua, propaganda sosiologis yang biasanya kurang terlihat dan berjangka lebih panjang dari propaganda politik. Propaganda sosiologis

mengemukakan pesan pesan suatu cara hidup, yang selanjutnya mempengaruhi setiap lembaga kehidupan.

Kegiatan propaganda menurut bentuknya seringkali digolongkan dalam dua jenis, yaitu propaganda terbuka dan tertutup. Propaganda terbuka ini dilakukan dengan mengungkapkan sumber, kegiatan dan tujuannya secara terbuka. Sebaliknya, propaganda tertutup dilakukan dengan menyembunyikan sumber kegiatan dan tujuannya.

Para pakar organisasi menggolongkan 3 (tiga) jenis model propaganda. Menurut William E Daugherty, ada 3 (tiga) jenis propaganda : 1. White propaganda, yaitu propaganda yang sumbernya dapat diidentifikasi secara jelas dan terbuka. White propaganda juga disebut overt propaganda alias propaganda terbuka. Dalam ajang pemilu, propaganda jenis ini mudah dijumpai. Juga dalam bidang periklanan yang sering disebut propaganda komersil (commercial propaganda). 2. Black propaganda, disebut juga covert propaganda atau propaganda terselubung, yaitu propaganda yang seolah-olah menunjukkan sumbernya, padahal bukan sumber yang sebenarnya. Dengan kata lain, ini jenis propaganda lempar batu sembunyi tangan. Karena sifatnya yang terselubung, sumber aslinya tidak diketahui, sehingga jika kegiatan propaganda itu melanggar etika atau norma tertentu, sulit untuk mengetahui kepada siapa pelanggaran itu seharusnya dialamatkan. Propaganda jenis ini biasanya digunakan untuk melancarkan tuduhan, teror, dan stigma terhadap pihak yang dimusuhinya. Jenis ini galibnya digunakan dalam perang opini. 3. Grey propaganda, yaitu propaganda yang seolah-olah berasal dari sumber yang netral, padahal sebenarnya bersumber dari pihak lawan. Grey propaganda tidak lebih dari black propaganda yang kurang mantap. Pasalnya, pelaku grey

propaganda ini berupaya menghindari identifikasi, baik dari sumber yang bersahabat maupun yang berlawanan. Sementara Mertz dan Lieber dalam Conflict in Context: Understanding Local to Global Security, juga Doob dalam Public Opinion and Propaganda, mengategorisasi propaganda menurut jelas-tidaknya tujuan di balik pesan yang disampaikan. 1. Revealed propaganda (propaganda terang-terangan/terbuka) adalah propaganda yang tujuannya jelas. 2. Concealed propaganda (propaganda tersembunyi/tertutup) adalah propaganda yang digunakan untuk mempengaruhi pihak lain dengan mengaburkan tujuan di balik pesan yang disampaikan. Selanjutnya, Jacques Ellul (Nimmo, 2000: 126-127) membagi propaganda dengan cara yang berbeda. Ellul membedakan propaganda politik dan propaganda sosiologi, propaganda agitasi dan propaganda integrasi, propaganda vertikal dan propaganda horizontal. 1. Propaganda politik melibatkan usaha-usaha pemerintah, partai, atau golongan yang berpengaruh untuk mencapai tujuan strategis atau taktis. Ini dilakukan melalui himbauan-himbauan khas berjangka pendek. 2. Propaganda sosiologi kurang kentara namun efek yang ditimbulkannya lebih berjangka panjang. Melalui propaganda ini orang didoktrin oleh suatu pandangan hidup tertentu; sebuah ideologi yang berangsur-angsur merembes atau tepatnya dirembeskan ke dalam pranata-pranata ekonomi, sosial, dan politik suatu masyarakat. Hasilnya adalah suatu konsepsi umum tentang masyarakat yang dengan setia dipatuhi oleh setiap orang kecuali beberapa orang yang dihukum atau dikecam dengan keras sebagai penyimpang. 3. Propaganda agitasi berusaha agar orang-orang bersedia memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung, mengorbankan jiwa mereka dalam usaha

mewujudkan cita-cita dalam tahap-tahap yang merupakan suatu rangkaian, tujuan demi tujuan. Melalui agitasi, para pemimpin mempertahankan kegairahan para penganutnya dengan memperoleh suatu kemenangan yang khas, kemudian memberi peluang untuk bernapas, diikuti oleh usaha yang lain lagi dalam satu rangkaian tujuan. 4. Propaganda integrasi berusaha menggalang kesesuaian di dalam mengejar tujuantujuan jangka panjang. Melalui propaganda ini orang-orang mengabdikan diri mereka kepada tujuan-tujuan yang mungkin tidak akan terwujud dalam waktu bertahun-tahun, bahkan selama mereka hidup. 5. Propaganda vertikal adalah propaganda satu-kepada-banyak dan terutama mengandalkan media massa bagi penyebaran himbauannya. 6. Propaganda horizontal bekerja lebih di antara keanggotaan kelompok ketimbang pemimpin kepada kelompok; lebih banyak melalui komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi ketimbang melalui komunikasi massa. Secara tradisional partai-partai politik mengandalkan propaganda horizontal, seperti kunjungan ke pengurus organisasi di daerah, pelatihan kader partai, persekongkolan di dalam sel, dan sebagainya. Lain lagi dengan Paul Kescskemeti (dikutip dari Sastropoetro, 1991: 24-25). Kescskemeti mengategorisasi propaganda ke dalam dua jenis utama, yaitu propaganda komersial dan propaganda politik. Propaganda komersial meliputi periklanan, kecakapan menjual, dan hubungan masyarakat (public relations). Propaganda politik mencakupi kegiatan dan gerakan partai-partai politik yang menuju kepada pemastian penerimaan doktrinnya, mengerahkan anggota baru, memenangkan suara, dan lain sebagainya. Tipe lain dari propaganda politik meliputi teknik promosi yang digunakan oleh pemerintah dan kelompok penguasa untuk meningkatkan prestasinya, baik di dalam maupun luar negeri,

menjaga semangat warganya di dalam negeri, dan menghancurkan moral para penentangnya baik dalam perang terbuka ataupun dalam perang dingin. Ada juga propaganda yang dilakukan di luar bidang komersial dan politik, yaitu kampanye untuk amal, kampanye untuk mendapat perhatian umum terhadap suatu kepentingan sosial, usaha untuk mendapat pengakuan terhadap teori-teori ilmiah, atau suatu gaya arsitektur tertentu, dan promosi untuk suatu prinsip higienis atau suatu kesukaan. Beberapa ahli membedakan propaganda menjadi propaganda disengaja dan tidak disengaja (Nimmo, 2000: 126). Nimmo mencontohkan perbedaan antara seorang guru ekonomi yang dengan sengaja mendoktrin para siswanya dengan pandangan-pandangan Marxis dan guru ekonomi yang ketika menjawab suatu pertanyaan, secara spontan menunjukkan segi-segi positif dalam filsafat ekonomi Marxis dibandingkan kapitalisme. Selain jenis propaganda yang telah disebutkan di atas, ada juga yang disebut dengan propaganda of the deed. Sejatinya propaganda berkarakter antikekerasan. Namun demikian para ilmuwan telah memberikan jastifikasi terhadap penggunaan kekerasan atau propaganda of the deed, dengan merumuskannya sebagai berikut (Sastropoetro, 1991: 28-30): a public action or display having the purpose or the effect of furthering or hindering a cause (= suatu tindakan atau peragaan yang bersifat publik dengan tujuan atau akibat meneruskan atau menghalangi suatu maksud). Dalam Encyclopaedia Britannica termaktub uraian,

Communication effects are sometimes obtained with the aid of physical devices which are not usually employed for the purpose. The act of killing is no ordinary method of communication, yet killing is spoken of as propaganda of the deed when political assassination are carried out as a menass of affecting attitudes (= Efek komunikasi terkadang dapat diraih dengan bantuan sarana fisik yang biasanya tidak digunakan untuk tujuan tersebut. Tindak pembunuhan lazimnya bukanlah metode komunikasi, namun pembunuhan

dapat dianggap sebagai propaganda of the deed manakala pembunuhan politis dilakukan sebagai sarana untuk mempengaruhi sikap). Termasuk kategori propaganda of the deed (= propaganda tindakan nyata) adalah tindak terorisme. Terlepas dari belum adanya definisi yang disepakati bersama dari istilah terorisme, terorisme itu sendiri memiliki cara yang khas yaitu penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan politis. Misalnya, peristiwa Bom Bali yang berhasil membuat publik, khususnya dunia Barat, percaya bahwa Indonesia adalah sarang teroris. C. Propaganda jepang terhadap indonesia Salah satu propaganda bangsa jepang yang menyatakan bahwa setelah bangsa belanda ( bangsa barat ) terusir dari indonesia ( Asia ), jepang bertekad untuk memajukan bangsa indonesia ( Asia ) sehingga mereka setaraf dengan bangsa bangsa yang telah maju.jepang memberikan harapan kepada bangsa indonesia dengan siasat

propagandanya,dengan diizinkanya pengibaran sang saka dan menyanyikan lagu kebangsaan sebelum tanggal 20 maret 1942 yang semakin meyakinkan bangsa indonesia bahwa jepang merupakan penolong bangsa indonesia dari jajahan bangsa belanda. Ternyata harapan bangsa indonesia terhadap bangsa jepang sirna,tidak lama setelah jepang menguasai indonesia,ternyata harapan datangnya kesejahteraan bagi mereka masih sangat jauh.bahkan yang dihadapi sekarang adalah masa penindasan total yang lebih kejam dari pada sebelumnya.Penindasan politis dilakukan dengan mengeluarkan maklumat tanggal 20 maret 1942 yang berisi berbagai larangan yang diantaranya melarang segala macam bentuk pembicaraan,pergerakan,dan anjuran atau propaganda perihal atau peraturan dan susunan negara.serta pelarangan pengibaran sang saka merah putih dan penyanyian lagu indonesia raya yang semula diizinkan.dengan demikian bahwa bangsa jepang telah melakukan perampasan kebebasan yang semula dimilikinya.

Kesombongan tentara jepang sangat menyakitkan hati. Jepang melakukan perampasan kehormatan rakyat indonesia.karena sulitnya penghidupan rakyat terpaksa makan ubi-ubian yang gizinya kurang,mengkonsumsi bekicot yang sebelumnya dianggap jijik,mereka terpaksa berpakaian goni,bagot,atau rami.jenazah orang mati biasanya dibungkus kain mori (kafan) terpaksa dibungkus dengan tikar atau bagor,kalau dibungkus dengan kain harus dijaga agar kainya tidak diambil orang.penyakit mewabah seperti : beri-beri,penyakit kulit,dan sebagainya.perampasan kekayaan dalam bentuk raja brana dan raja kaya. Rakyat dikenakan tanam paksa untuk kebutuhan perang,seperti kapas,randu,jarak,dan

sebagainya.mereka dikenakan juga kerja paksa ( romusha atau narakarya) untuk membangun bangunan-bangunan militer.ini semua kata jepang,merupakan kurban untuk datangnya kemerdekaan.sesungguhnya di zaman jepang,bangsa indonesia tidak hidup dalam lingkungan kemakmuran bersama melainkan lingkungan kemiskinan bersama.agar kebutuhan jepang dapat terpenuhi.

3. P E N U T U P a. KESIMPULAN Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi merupakan perilaku manusia yang berproses dalam penyampaian isi pernyataan meliputi fikiran, kehendak atau perasaanya kepada orang lain baik secara baik secara lisan, maupun tulisan, di iringi gerak-gerik, sikap tubuh dan mimik, serta lambang-lambang lainya. Jika dikaitkan dengan kegiatan komunikasi maka agitasi dan propaganda merupakan bagian dari kegiatan komunikasi. Komunikasi dilakukan dengan berbagai tingkatan tujuan. Agitasi dan propaganda merupakan suatu tujuan pencapaian isi pernyataan yang disamapikan sesuai komunikator dan melaksanakanya untuk kepentingan komunikator. Faktor kepentingan komunikator dalam melakukan agitasi dan propaganda menjadi patokan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kandungan pernyataan bisa berupa fakta dan nonfakta, bisa kebenaran atau kebohongan. Semua isi itu dikembangkan denga tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu keyakinan, sikap sampai pada arah tindakan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Ardial 2009. Komunikasi Politik, PT Indeks, Jakarta Rakhmat, Jalaludin. 2002.Retorika Modern Pendekatan-Pendekatan Praktis, Cetakan ke delapan, PT Remaja Rosda Karya Bandung. Subiakto, Henry dan Ida Rahma. Komunikasi Politik, Media dan Demokrasi. Jakarta: Kencana http://www.marxists.org/indonesia/archive/hallas/agitasi.htm