Anda di halaman 1dari 7

Tugas : MK. Teknik Irigasi Subak ALIH FUNGSI LAHAN SUBAK Studi Kasus : Metrotvnews.com, Denpasar.

. Windia : Subak Perlu Penanganan Serius

Oleh :

1. I MADE WIRAWAN SUPUTRA 2. I.B.KOMANG EDO SETIAWAN 3. NI PUTU YULIASIH 4. MADE GEDE WIDNYANA

1111305003 1111305019 1111305022 1111305024

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013

PERMASALAH SUBAK DAN SOLUSINYA

1.1 Pengertian Subak Mata pencaharian penduduk di Bali antara lain meliputi pekerjaan sebagai petani, pengrajin, dan beraneka ragam jenis usaha di bidang jasa khususnya bidang pariwisata. Bertani merupakan mata pencaharian hidup yang paling utama dari sebagian besar masyarakat Bali. Jenis pertanian di pulau dewata ini meliputi pertanian sawah dan juga perkebunan. Di dalam sistem pertanian di Bali, "subak" sangatlah memegang peranan penting. Subak adalah salah satu bentuk lembaga kemasyarakatan pada masyarakat Bali yang bersifat tradisional dan yang dibentuk secara turun temurun oleh masyarakat umat Hindu Bali. Subak berfungsi sebagai satu kesatuan dari para pemilik sawah atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu. Subak merupakan satu kesatuan ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan. Pada umumnya tugas setiap warga subak adalah untuk mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan kegiatan pemberantasan hama, melakukan inovasi pertanian dan mengkonsepsikan serta mengaktifkan kegiatan upacara. Karena subak memiliki struktur yang berlandaskan konsepsi Tri Hita Karana yaitu suatu konsepsi yang mengintegrasikan secara selaras tiga komponen penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali, sehingga setiap subak di Bali harus memiliki pura pemujaan. Subak yang ada di pulau Bali berjumlah sekitar 1.482 buah dan subak abian berjumlah 698 buah.

1.2 Permasalah Subak Organisasi pengairan tradisional bidang pertanian (subak) di Bali yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia perlu penanganan secara lebih serius, kata Guru Besar Universitas Udayana I Wayan Windia. Wayan Windia yang juga Ketua Pusat Penelitian Subak Unud di Denpasar, Sabtu (31/8), menegaskan bahwa penanganan terhadap petani secara lebih intensif dan komprehensif agar petani yang notabene anggota subak dapat merasakan makin membaiknya tingkat kesejahteraan mereka. Beliau juga mengatakan bahwa sistem budaya subak yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia (WBD) oleh UNESCO itu berkat memiliki keunikan, yakni adanya penerapan filosofi Tri Hita Karana dalam pengelolaan irigasi dan pertanian di lahan sawah.

Hal itu sekaligus menjadi daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri saat menikmati liburan di Pulau Dewata Profesor Windia berharap peran Pemerintah sebagai regulator lebih memberikan peluang iklim kebijakan yang kondusif bagi subak agar tetap bertahan dan makin berkembang. Hal itu penting, lanjut dia, mengingat subak sebagai salah satu aset budaya memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat di sektor pertanian maupun di luar sektor pertanian.Oleh karena itu, subak harus makin diberdayakan dan diperkuat melalui kebijakan pemerintah yang nyata. Salah satunya, melalui peninjauan kembali terhadap sistem pajak atas tanah, termasuk sawah. Windia mengemukakan bahwa subak di Bali kini menghadapi banyak masalah dan tantangan, seperti makin terbatasnya sumber daya air dan kompetisi pemanfaatan air yang semakin meningkat.Selain itu, masalah alih fungsi lahan, faktor keterbatasan air, dan pajak tanah yang tinggi ikut memicu terjadinya alih fungsi lahan. Berbagai hambatan dan tantangan itu sejumlah subak kini hanya tinggal nama.

Jika kondisi demikian tidak mendapat penanganan secara serius, dia mengkhawatirkan pariwisata budaya Bali ikut terdegradasi.

Untuk itu, menurut Windia, diperlukan adanya introduksi teknologi pertanian dan sistem agrobisnis guna mempertahankan subak yang masih sarat dengan sistem sosial budaya. Penguatan aspek ekonomis, seperti pembentukan koperasi subak diharapkan dapat menjadi hambatan terhadap alih fungsi lahan karena lahan sawahnya mampu memberikan tambahan produktivitas dan penghasilan, kata Windia. (Ant) Gambar dari fungsi alih lahan :

Sumber : http://bali.antaranews.com/berita/43245/subak-perlu-penanganan-serius

1.3 Solusi Permasalahan 1. Subak harus makin diberdayakan dan diperkuat melalui kebijakan pemerintah yang nyata. Salah satunya, melalui peninjauan kembali terhadap sistem pajak atas tanah, termasuk sawah. 2. Penguatan aspek ekonomis, seperti pembentukan koperasi subak diharapkan dapat menjadi hambatan terhadap alih fungsi

1.4 Kesimpulan Apabila alih fungsi lahan terus dilakukan tanpa ada penanggulangan dari pemerintah maka akan berdampak pada berkurangnya sektor pertanian dan juga subak-subak yang terdapat di bali,mengingat subak sebagai salah satu aset budaya memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat di sektor pertanian maupun di luar sektor pertanian.Oleh karena itu, subak harus makin diberdayakan dan diperkuat melalui kebijakan pemerintah yang nyata. Salah satunya, melalui peninjauan kembali terhadap sistem pajak atas tanah, termasuk sawah.

DAFTAR PUSTAKA http://wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/subak diakses pada 26 November 2013 http://bali.antaranews.com/berita/43245/subak-perlu-penanganan-serius 26 November 2013