Anda di halaman 1dari 14

Musthalah al-Hadits dan Epistemologi Sosial: Sebuah Pembacaan Awal 1

Oleh Indi Aunullah


I
Dalam literatur epistemologi, biasa dibedakan antara pendekatan
epistemologi individual dan epistemologi sosial. 2 Yang pertama menekankan
bahwa pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh langsung oleh individu,
baik melalui pengalaman (sebagaimana diklaim empirisisme), rasio (seperti diakui
rasionalisme), maupun paduan keduanya (seperti disarankan kritisisme Kant).
Descartes, perintis filsafat modern dan peletak dasar rasionalisme, misalnya,
membandingkan proses mengetahui dengan kerja seorang arsitek. Suatu bangunan
atau sebuah kota, menurutnya, akan tersusun dengan baik jika didisain oleh
seorang arsitek saja, dan sebaliknya akan amburadul jika rancangannya ditangani
oleh banyak orang. 3 Begitu pula, epistemologi Cartesian sangat menekankan
pengetahuan individual. Baginya, seperti bagi aliran-aliran epistemologi klasik
lainnya, kesaksian dan otoritas bukanlah sumber pengetahuan yang dapat
diandalkan. 4
Belakangan, seiring berbagai kritik terhadap pandangan-pandangan
epistemologi klasik, mulai muncul kesadaran mengenai sifat sosial pengetahuan.
Dan lahirlah epistemologi sosial yang juga mengakui arti penting otoritas dan
kesaksian orang lain bagi pembentukan pengetahuan. Kesadaran ini dipicu oleh
kenyataan bahwa sebenarnya hal-hal yang diketahui langsung oleh individu
sangatlah sedikit. Banyak pengetahuan yang sangat sederhana dan mendasar
mengenai diri kita, seperti nama, tempat dan tanggal lahir, serta identitas orang
tua kita, sebenarnya didapatkan dari kesaksian orang lain. Tanpa pengakuan
terhadap kesaksian sebagai salah satu sumber pengetahuan, selain identitas

1
Dalam tulisan ini, musthalah al-hadits atau klasifikasi hadis dihubungkan dengan
epistemologi sosial untuk memberi perspektif yang sedikit berbeda, sesuai dengan minat khusus
penulis. Sebenarnya, selain dari sudut pandang epistemologi sosial, ‘Ulum al-Hadits secara umum
masih bisa dikaji dari banyak sudut pandang seperti metode kritik historis, kritik teks, dan
sebagainya.
2
J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta:
Kanisius, 2002), hlm. 22-3.
3
Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat, (Jakarta: Ghalia, 1986), cet. II, hlm. 72.
4
Sudarminta, Epistemologi Dasar..., hlm. 22.

1
personal kita, banyak hal dalam sistem pengetahuan dan institusi modern akan
kehilangan dasar pijakan. Ilmu sejarah, lembaga peradilan dan pers, misalnya,
akan menjadi tidak valid karena semuanya dilandasi oleh kesaksian. Bahkan,
pengembangan dan penerimaan seluruh ilmu pengetahuan modern baik oleh
ilmuwan maupun masyarakat umum sejatinya dibangun di atas pengakuan
terhadap kesaksian para ilmuwan pada era sebelumnya. 5
Tentu saja tak semua kesaksian dan otoritas memiliki status yang sama
dan dapat diterima sebagai sumber pengetahuan. Dalam literatur epistemologi
sosial yang baru muncul belakangan, banyak dibicarakan perdebatan mengenai
kriteria-kriteria untuk menetapkan kesaksian yang dapat diterima. Sebagai sebuah
pembacaan awal, tulisan ini tidak hendak membicarakan perdebatan tersebut.
Alih-alih, yang akan dilakukan adalah membincangkan ‘Ulum al-Hadits sebagai
salah satu alternatif pendekatan dalam epistemologi sosial. Namun karena ‘Ulum
al-Hadits meliputi banyak aspek yang membutuhkan pembahasan masing-masing
secara mendetail, tulisan ini hanya akan mendedahkan satu aspeknya saja, yakni
klasifikasi hadis atau yang biasa dikenal dengan musthalah al-hadits.
II
Pertanyaan utama yang hendak dijawab dalam ‘Ulum al-Hadits, dari
perspektif epistemologi sosial, adalah: jenis kesaksian atau otoritas manakah yang
dapat menjamin pengetahuan mengenai perkataan, tindakan, ketetapan, dan hal-
ihwal Nabi Muhammad SAW.? Apa saja syarat dan kriterianya? Guna menjawab
pertanyaan ini, para pakar ‘Ulum al-Hadits sejak abad I H telah mencurahkan
energi intelektualnya dan hasilnya terekam dalam pelbagai literatur ‘Ulum al-
Hadits. 6
Dalam literatur ‘Ulum al-Hadits, hadis—berita mengenai perkataan,
perbuatan, ketetapan, dan hal-ihwal Nabi Muhammad SAW.—diklasifikasikan

5
Ibid., hlm. 35-7.
6
Untuk sejarah perkembangan dan kodifikasi ‘Ulum al-Hadits lihat, misalnya,
Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature (Indianapolis:
American Trust Publications, 1977), bab 2-6, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits:
‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1971), cet. II, bab I fasal 3-5 dan bab II, dan
Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus,
1995), cet. II, bab I.

2
berdasar banyak sudut pandang. Karena itu ditemukan banyak sistem
penggolongan. Namun secara umum, berdasarkan apakah suatu hadis memenuhi
kriteria untuk diterima sebagai sumber pengetahuan atau tidak, hadis dibedakan
menjadi: hadis maqbul (diterima), yakni kesaksian yang memenuhi kriteria untuk
diterima sebagai sumber pengetahuan, dan hadis mardud (ditolak), yaitu
kesaksian yang dinilai tidak memenuhi kriteria sebagai sumber pengetahuan.7
Selanjutnya, klasifikasi ini diperinci menjadi tiga: hadis shahih, hadis hasan, dan
hadis dla’if. Dua yang disebut pertama, yakni shahih dan hasan, dengan tingkat
penerimaan yang berbeda secara berurutan masuk dalam kategori maqbul. Sedang
hadis dla’if masuk dalam kategori mardud. 8
Secara historis, ilmuwan hadis yang pertama kali mengenalkan klasifikasi
shahih-hasan-dla’if ini adalah Imam Abu ‘Isa al-Turmudzi, penyusun salah satu
kitab sunan. 9 Sebelumnya hanya dikenal pembedaan hadis menjadi shahih dan
dla’if, meskipun kelompok yang disebut belakangan ini kerap dibedakan menjadi
dla’if yang dapat diamalkan (yu’malu bihi) dan dla’if yang harus ditinggalkan
(yajibu tarkuhu). 10 Berikut akan dipaparkan secara singkat masing-masing dari
tiga jenis hadis ini.
Pertama, hadis shahih (secara harfiah: sehat, utuh, valid). Ibn Shalah
mendefinisikannya sebagai “hadis musnad (yang mata rantai periwayatannya
sampai pada Nabi SAW) yang isnad (mata rantai periwayatan)-nya bersambung
dengan periwayatan oleh orang yang adil dan dlabit (kuat hafalan dan akurat) dari
orang lain yang adil dan dlabit hingga ke ujung mata rantainya, serta tidak syadz
(menyimpang) dan tidak mengandung ‘illah (cacat).” 11 Dari definisi ini, al-Khatib
mengurai lima kriteria yang harus dipenuhi hadis shahih, yaitu: (1) isnad-nya
bersambung, (2) para periwayatnya adil, yakni lurus agamanya, baik akhlaknya,
terhindar dari kefasikan, dan menjaga harga diri, (3) para periwayatnya dlabit,

7
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 61, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 303.
8
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 303. Pengertian diterima atau ditolak di sini, seperti
akan dijelaskan lebih jauh di bawah, lebih berupa penerimaan atau penolakan praktis bukan
kebenaran intrinsiknya.
9
Ibid., hlm. 331.
10
Ibid., hlm. 331-2 cat. no. 1, dan hlm. 352-4 cat. no. 1.
11
Ibid., hlm. 304.

3
yakni sadar dan paham saat menerima hadis dari perawi sebelumnya dan terus
menghafalnya atau menjaga catatannya hingga menyampaikan hadis tersebut pada
perawi sesudahnya, (4) hadis tersebut tidak syadz, yakni tidak berbeda dengan
riwayat lain yang lebih tinggi tingkat kepercayaannya, dan (5) terhindar dari ‘illah
(cacat). 12 Selanjutnya, hadis shahih dibedakan menjadi shahih lidzatihi, yaitu
hadis yang memenuhi kriteria di atas, dan shahih lighairihi, yakni hadis yang
tergolong hasan namun menjadi shahih karena ditopang oleh hadis sejenis dengan
jalur periwayatan yang lain—lazimnya disebut mutabi’ atau syahid. 13
Kedua, hadis hasan (secara harfiah: baik). Ibn Hajar mengajukan definisi
jenis ini dengan membandingkannya dengan hadis shahih. Menurutnya,
persyaratannya sama dengan hadis shahih, hanya saja “ke-dlabit-an perawinya
lebih rendah.” Dengan demikian perbedaan antara hadis shahih dan hadis hasan
adalah tingkat ke-dlabit-an perawinya. Pada hadis shahih disyaratkan tingkat ke-
dlabit-an perawi yang sempurna, sedang pada hadis hasan sekadar disyaratkan
adanya ke-dlabit-an meski tidak terlalu sempurna. 14 Seperti halnya hadis shahih,
jenis ini juga dibagi menjadi hasan lidzatihi, yakni hadis yang memenuhi kriteria
tersebut, dan hasan lighairihi, yaitu hadis yang tergolong dla’if tetapi naik
menjadi hasan karena didukung oleh hadis sejenis dengan alur periwayatan yang
lain. 15 Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa hanya syarat ke-dlabit-an perawi
saja yang hingga tingkat tertentu bisa dikompromikan, itupun tidak hingga tingkat
yang terlalu rendah. Sementara syarat keadilan sama sekali tidak dapat
dikompromikan. 16
Ketiga, hadis dla’if (secara harfiah: lemah). Semua hadis yang tidak
memenuhi kriteria-kriteria hadis shahih maupun hasan digolongkan ke dalam
kategori ini. Ada beragam sebab sebuah hadis dimasukkan dalam kategori ini. Al-
Khatib memilahnya menjadi dua kelompok: hadis-hadis dla’if karena
keterputusan isnad dan hadis-hadis dla’if karena sebab-sebab lain. 17 Sedang

12
Ibid., hlm. 305.
13
Ibid., hlm. 306, Azami, Studies in Hadith..., hlm. 61.
14
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 332-3.
15
Ibid., Azami, Studies in Hadith..., hlm. 61.
16
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 332.
17
Ibid., hlm. 337.

4
Azami meringkas sebab-sebab tersebut menjadi tiga: cacat pada perawinya,
keterputusan isnad, dan sebab-sebab insidental lainnya. 18
Hadis secara anatomis terdiri dari dua bagian, yakni matn (materi
kesaksian yang disampaikan) dan isnad (mata rantai periwayat kesaksian tersebut
dari sumber pertama hingga penerima terakhir). 19 Dengan demikian, jika
dihubungkan dengan kedua bagian hadis ini, dari lima kriteria yang disebut di atas
tiga di antaranya (bersambunya isnad, perawinya adil, perawinya dlabit) khusus
untuk isnad, dan dua sisanya (terhindar dari syadz dan ‘illah) berlaku baik bagi
isnad maupun matn. Meski sejatinya isnad dan matn sama-sama harus
diperhatikan dalam menetapkan status validitas sebuah hadis, namun kerapkali
masing-masing dinilai secara berbeda. Jika isnad dibedakan secara trikotomis
menjadi shahih-hasan-dla’if, sebaliknya hanya dikenal pemilahan matn secara
dikotomis menjadi shahih dan dla’if.
Dari aspek yang lain, dapat pula diberikan klasifikasi hadis yang berlainan,
meski semuanya tetap mengacu pada klasifikasi maqbul–mardud atau lebih detail
lagi, klasifikasi shahih–hasan–dla’if. Misalnya, dari segi jumlah periwayatnya,
hadis dibedakan menjadi hadis mutawatir dan hadis ahad. 20 Yang disebut pertama
adalah hadis yang dilaporkan oleh sejumlah besar orang yang tak mungkin
bersepakat untuk berdusta. Jumlah dan syarat ini harus dipenuhi dalam seluruh
mata rantai periwayatan mulai sumber laporan hingga akhirnya. Jenis hadis ini
dalam pandangan ilmuwan Islam adalah bentuk kesaksian yang menghasilkan
pengetahuan yang pasti (‘ilm dlaruri, yaqin, certainty), bahkan disebutkan bahwa
orang yang mengingkarinya menjadi kafir. 21 Dengan demikian, dilihat dari sudut
penerimaan, hadis mutawatir menduduki posisi teratas dalam kategori hadis
shahih. Al-Khatib menyamakan pengetahuan yang diperoleh melalui hadis
mutawatir dengan pengetahuan empiris dan menyebutnya sebagai “periwayatan

18
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 64-7. Rincian masing-masing sebab dengan
penamaan teknisnya akan dijelaskan di bawah.
19
Al-Khatib, Ushul al-Hadits…, hlm. 31-3.
20
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 43. Kalangan Hanafiah menambahkan jenis ketiga,
yakni hadits masyhur. Lihat, misalnya, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 301-3.
21
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 43, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm. 133,
al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 301, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Al-Mustashfa fi ‘Ilm
al-Ushul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000), hlm. 106-7.

5
(naql) dengan derajat tertinggi”. 22 Selanjutnya, hadis mutawatir dibedakan
menjadi mutawatir lafdzi, yakni hadis yang lafalnya secara sama persis
diriwayatkan dengan syarat tersebut di atas, dan mutawatir ma’nawi, yakni hadis
yang maknanya saja, tanpa kesamaan lafal, secara sama diriwayatkan dengan
syarat di atas. 23
Para ilmuwan hadis, dengan berbagai pertimbangan dan argumentasi,
mengajukan berbagai pendapat mengenai jumlah minimal periwayat yang harus
dipenuhi agar sebuah hadis menjadi mutawatir. Perbedaan ini berkisar dari empat,
lima, sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh, hingga tiga ratus
tiga belas orang. Meski demikian, menurut Subhi al-Shalih yang perlu
diperhatikan bukanlah jumlah tepat periwayatnya, melainkan periwayatan dari
sejumlah besar orang yang menurut rasio dan akal sehat tidak dimungkinkan
mereka bersekongkol untuk berdusta. Ia mengutip pandangan Ibn Hajar bahwa
“tidak ada artinya menentukan jumlahnya yang benar.” 24 Senada dengan al-
Shalih, Azami menegaskan bahwa yang penting diperhatikan bukan jumlah
tertentu perawinya, melainkan persebaran para periwayatnya secara geografis
pada masing-masing tingkatan sehingga persekongkolan menjadi tidak
mungkin. 25 Al-Ghazali membela pandangan yang sama dengan mengajukan
argumen bahwa yang penting dalam pendefinisan hadis mutawatir adalah
tercapainya pengetahuan niscaya (dlaruri), dan hal itu tidak bergantung pada
berapa jumlah perawinya karena sangat bergantung pada jenis peristiwa yang
dikabarkan dan kepribadian dan latar belakang para perawi yang
mengabarkannya. 26
Jenis kedua dalam klasifikasi berdasar jumlah periwayat adalah hadis
ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh satu orang atau lebih namun belum
mencapai tingkatan mutawatir. Mengingat perdebatan penetapan jumlah minimal
perawi mutawatir yang dipaparkan di atas, dapat dinyatakan bahwa perbedaan

22
Ushul al-Hadits..., hlm. 301.
23
Ibid., Azami, Studies in Hadith..., 43, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm.
135.
24
Al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm. 133-5.
25
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 43.
26
Al-Mustashfa..., hlm. 108-10.

6
antara hadis mutawatir dan hadis ahad bukan terutama pada jumlah perawinya,
tetapi pada persoalan ada atau tidaknya kemungkinan logis bagi persekongkolan.
Di kalangan ilmuwan Islam, terjadi perdebatan mengenai apakah hadis jenis ini,
jika memenuhi kriteria penerimaan, menghasilkan pengetahuan (‘ilm) (seperti
pandangan Imam Ahmad, Dawud az-Zahiri, Ibn Hazm) atau sekadar dugaan yang
kuat (dzann rajih) (semisal pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah, dan mayoritas
Malikiyah), namun semuanya sepakat bahwa kandungannya wajib diamalkan. 27
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hadis ahad bisa tergolong shahih,
hasan, atau dla’if, bergantung apakah ia memenuhi kriteria penerimaan atau tidak.
Di bawah kategori hadis ahad, berdasar jumlah perawinya terdapat
beberapa sub-kategori: hadis masyhur (diriwayatkan setidaknya oleh tiga orang
dalam tiap tingkatan), hadis ‘aziz (diriwayatkan oleh sedikitnya dua orang pada
tiap tingkatan), hadis fard (diriwayatkan oleh satu orang saja pada tingkatan
sahabat), hadis gharib/fard nisbi (diriwayatkan oleh satu orang saja, perawi-
perawi di wilayah tertentu saja, atau oleh satu perawi terpercaya saja, di salah satu
tingkatan selain sahabat). Semua sub-kategori ini bisa masuk dalam golongan
shahih, hasan, atau dla’if, namun umumnya hadis gharib tergolong dla’if. 28
Pengelompokan yang lain didasarkan pada asal-usul berita. Dalam
pengelompokan ini terdapat tiga kategori: marfu’ (berita mengenai Nabi SAW),
mauquf (berita mengenai sahabat), dan maqthu’ (berita mengenai tabi’in). 29
Sebenarnya, yang benar-benar dapat dikatakan hadis hanyalah hadis marfu’,
namun jika dalam perkataan sahabat atau tabi’in tersebut terdapat petunjuk bahwa
ucapan tersebut berasal dari Nabi SAW maka statusnya bisa naik menjadi marfu’.
Jika hadis marfu’ bisa temasuk shahih, hasan, atau dla’if, secara umum ilmuwan
hadis memasukkan mauquf dan maqthu’ dalam kategori dla’if. 30 Mengenai hal
ini, al-Shalih mengutip perkataan Imam Abu Hanifah, “apa yang datang dari
Rasulullah SAW. kita junjung di atas kepala; apa yang datang dari sahabat kita

27
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 43, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 302-3, cat. no.
5, al-Ghazali, al-Mustashfa..., hlm. 116-8.
28
Azami, Studies in Hadith..., hlm. 43, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 358-61, 363-5.
29
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 355, 380-1, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits,
hlm. 184-5.
30
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 380-2.

7
pilih daripadanya; sedang apa yang datang dari tabi’in, mereka manusia, dan kita
pun manusia.” 31
Klasifikasi yang lain lagi dibuat berdasarkan kondisi isnad. Berdasarkan
hal ini, hadis dapat dibedakan menjadi: hadis musnad (bersambung isnad-nya
hingga ke Nabi SAW), hadis muttashil/maushul (bersambung isnad-nya hingga ke
asal-usul berita), hadis mursal (berita yang diasalkan pada Nabi SAW oleh tabi’in
atau oleh sahabat yang tidak mendengar langsung dari beliau), hadis munqathi’
(gugur satu periwayat dalam isnad-nya baik di satu tempat atau lebih), hadis
mu’dlal (dalam isnad-nya gugur dua periwayat atau lebih secara berurutan), hadis
mudallas (terbagi dalam dua sub-kategori: mudallas isnad yaitu perawi
meriwayatkannya dari orang yang sezaman dengannya tapi tidak pernah bertemu
dengannya atau meriwayatkan dari orang yang pernah bertemu dengannya sesuatu
yang tidak ia dengar dari orang tersebut, dengan menggunakan kata-kata yang
menimbulkan pengertian mendengar langsung; dan mudallas syuyukh yakni
perawi menyebut perawi sebelumnya dengan nama, julukan, atau sifat yang tidak
dikenal), hadis mu’allal (mengandung cacat tersembunyi; sebenarnya cacat
macam ini dapat terjadi baik pada isnad maupun matn, namun lebih sering terjadi
pada isnad). 32 Dari kategori-kategori di atas, musnad dan muttashil dapat
tergolong shahih, hasan, atau dla’if. Sedang mursal, jika yang me-marfu’-kan
adalah sahabat dianggap tidak bermasalah, sebaliknya jika di-marfu’-kan oleh
tabi’in dianggap dla’if dan menurut mayoritas ilmuwan tidak dapat dijadikan
argumen. 33 Kategori sisanya, munqathi’, mu’dlal, mudallas, dan mu’allal
tergolong dla’if.
Klasifikasi dan penamaan yang lain dibuat berdasarkan adanya perbedaan
antara beberapa periwayatan yang tidak mungkin dipadukan. Dalam klasifikasi ini
disebutkan beberapa jenis hadis, yaitu: hadis mudltharib (beberapa periwayatan
berbeda, pada isnad atau matn-nya, baik oleh satu perawi atau oleh beberapa
perawi yang tingkat keterpercayaannya sederajat), hadis syadz (riwayat seorang
perawi yang terpercaya berbeda dengan riwayat perawi lain yang lebih tinggi
31
Al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm. 185.
32
Ibid., hlm. 192-3, 149-62, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 355-6, 337-44.
33
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 338-9.

8
derajat keterpercayaannya), hadis munkar (riwayat seorang perawi yang lemah
berbeda dengan riwayat perawi lain yang terpercaya), hadis maqlub (hadis yang
susunan lafal dalam isnad atau matn-nya terbolak-balik). Semua kategori dalam
klasifikasi ini tergolong dla’if. 34 Perlu juga ditambahkan dalam golongan dla’if
hadis yang disebut matruk, yakni yang diriwayatkan oleh orang yang diduga
berdusta dalam persoalan hadis, kerap berdusta dalam omongannya, nampak jelas
kefasikannya dalam ucapan dan tindakan, atau sangat sering lupa dan melakukan
kekeliruan. Jenis ini merupakan tingkatan hadis dla’if paling rendah. 35
Berbagai klasifikasi hadis di atas belumlah mencakup seluruh klasifikasi
dan penamaan hadis yang dibuat oleh para ilmuwan hadis. Namun demikian, dari
pembacaan awal di atas dapat diperoleh gambaran betapa detail pemilahan yang
dibuat para ilmuwan hadis.
Terdapat satu kategori lagi yang perlu mendapat pembahasan, yakni hadis
maudlu’ (hadis buatan, palsu). Dalam pandangan ilmuwan hadis, hadis-hadis
maudlu’ mulai muncul sejak perselisihan antara ‘Ali bin Abi Thalib dan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Sejak itu, umat Islam mulai terpecah belah secara
politis dan teologis. Orang-orang yang fanatik dan hendak mencari keuntungan
dari masing-masing golongan kemudian membuat-buat hadis yang
menguntungkan pihak mereka, membenarkan dan memuji pemimpin dan
kepercayaan mereka. 36 Selain persoalan perpecahan politik dan teologis umat
Islam, ada banyak faktor yang mendorong orang membuat-buat hadis. Beberapa
hal yang mendorong kemunculan hadis maudlu’, di antaranya adalah: kekecewaan
elit politik dan keagamaan di wilayah-wilayah yang ditaklukkan Islam, fanatisme
terhadap suku atau bahasa tertentu dan terhadap imam serta mazhab tertentu,
keinginan para tukang cerita untuk menarik perhatian pendengar, keinginan

34
Ibid., hlm. 167-83, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 344-8.
35
Al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm. 183, al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm.
348.
36
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 415-7, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm.
233.

9
orang-orang saleh yang berpandangan picik untuk mendorong masyarakat pada
kebaikan, dan keinginan untuk mendekati penguasa. 37
Untuk mengetahui ke-maudlu’-an suatu hadis, para ilmuwan hadis
memberikan beberapa panduan. Di antaranya: pengakuan dari perawi hadis
tersebut bahwa ia membuat-buatnya, terdapat kejanggalan dalam makna dan lafal
hadis, maknanya bertentangan dengan pengalaman dan akal sehat serta tak dapat
ditakwil, bertentangan dengan nash Qur’an atau hadis mutawatir. Selain itu,
seluruh sarana kritik terhadap isnad juga harus diterapkan dalam menentukan
apakah sebuah hadis maudlu’ atau bukan. 38
Kita juga dapat memanfaatkan hasil penelitian para ilmuwan terdahulu
mengenai hadis-hadis maudlu’, semisal Tadzkirat al-Maudlu’at karya Muhammad
bin Thahir al-Muqaddasi, al-Maudlu’at al-Kubra, karya ‘Abdurrahman bin al-
Jauzi, al-Ba’its ‘ala al-Khalash min Hawadits al-Qashshash, karya Zainuddin
‘Abdurrahim al-‘Iraqi, al-La’ali’ al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudlu’ah, karya
Jalaluddin al-Suyuthi, Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Akhbar al-Syani’ah
al-Maudlu’ah, karya ‘Ali bin Muhammad al-Kannani, dan al-Fawa’id al-
Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudlu’ah, karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali
al-Syaukani. 39
III
Setelah mendiskusikan berbagai klasifikasi hadis, kriteria yang digunakan
dalam klasifikasi, dan peringkat validitasnya, berikut akan dibicarakan secara
singkat status penerimaan—atau dalam istilah yang umum dipakai, kehujjahan—
berbagai tingkatan hadis tersebut.
Dalam literatur keilmuan Islam klasik, seperti ‘Ulum al-Hadits, Ushul al-
Fiqh, dan lainnya, biasa diajukan beberapa argumen yang menopang penerimaan
hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Pertama, penerimaan terhadap hadis
merupakan bagian integral dari keimanan dan keislaman seseorang. Per definisi

37
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 417-27, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits,
hlm. 233-7, Azami, Studies in Hadith..., hlm. 68-71.
38
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 432-6, al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, hlm.
230-2, Azami, Studies in Hadith..., hlm. 71-2.
39
Al-Khatib, Ushul al-Hadits..., hlm. 437-8.

10
seseorang menjadi mukmin dan muslim ketika ia beriman dan mengakui kenabian
dan kerasulan Muhammad SAW. Dan termasuk dari pengakuan terhadap
kerasulan Muhammad adalah penerimaan terhadap apapun yang disampaikan
olehnya, termasuk hadis. Kedua, banyak ayat al-Qur’an yang secara tegas dan
eksplisit memerintahkan manusia untuk mentaati Rasulullah SAW. 40 Dan tentu
saja cara merealisasikan ketaatan tersebut adalah dengan menerima perkataan,
perbuatan, dan ketetapannya—singkatnya menerima hadis. Ketiga, Rasulullah
sendiri kerap kali menegaskan kewajiban penerimaan hadis. 41 Keempat, terdapat
kesepakatan (ijma’) seluruh ummat Islam mengenai penerimaan hadis sebagai
salah satu sumber ajaran Islam. 42 Selain itu, kelima, ada beberapa perintah Allah
yang disebutkan secara global dalam al-Qur’an, sholat misalnya. Tanpa menerima
hadis yang berperan menjelaskannya secara terperinci, tidak mungkin kita dapat
melaksanakan perintah tersebut. 43
Meski penerimaan hadis adalah sesuatu yang merupakan keniscayaan,
namun perlu diperhatikan bahwa keniscayaan penerimaan tersebut masih bersifat
global. Dalam perkataan al-Syathibi, sementara “al-Qur’an bersifat niscaya dan
pasti (maqthu’ bihi), sunnah (hadits) hanya bersifat dugaan (mazhnunah).
Keniscayaan penerimaan sunnah hanya absah secara global bukan dalam
perinciannya, berbeda dengan al-Qur’an yang niscaya dan pasti baik secara global
maupun dalam perinciannya.” 44
Di atas sudah disebutkan bahwa secara garis besar, hadis dipilah menjadi
hadis yang diterima (maqbul) dan yang ditolak (mardud). Juga sudah disebutkan
bahwa peringkat tertinggi hadis maqbul adalah hadis mutawatir yang
menghasilkan kepastian dan pengetahuan niscaya (‘ilm dlaruri, yaqin). Validitas

40
Misalnya, al-Nisa’: 59 dan 80, al-Ma’idah: 92, al-Fath: 10, al-Hasyr: 7.
41
Salah satunya, dalam hadis yang diriwayatkan al-Miqdam bin Ma’dikariba, Rasulullah
SAW bersabda “Apakah akan ada seseorang yang disampaikan padanya sebuah hadis dariku
ketika ia tengah bertelekan di singgasananya, lalu ia berkata ‘Antara kami dan kalian ada Kitab
Allah, apa yang kami temukan halal di dalamnya kami halalkan, dan apa yang kami temukan
haram di dalamnya kami haramkan.’ Padahal sesungguhnya apa yang diharamkan Utusan Allah
adalah sama seperti yang diharamkan Allah.” (HR Turmudzi, no. 2588).
42
al-Khatib, Ushul al-Hadits…, hlm. 36-42, al-Ghazali, al-Mustashfa…, hlm. 103.
43
Bdk. Abu Ishaq Ibrahim al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, juz IV,
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), hlm. 9-10.
44
Ibid., hlm. 6.

11
demikian diperoleh karena otoritas kesaksian yang meriwayatkannya sama dengan
periwayatan al-Qur’an. Dalam hal ini, yakni penerimaan otoritas dan periwayatan,
terletak perbedaan terpenting antara epistemologi Islam dan epistemologi Barat.45
Tingkat berikutnya dalam kategori hadis maqbul, secara berurutan, adalah hadis
ahad yang berstatus shahih dan hasan. Sedang yang tergolong mardud adalah
hadis ahad yang berstatus dla’if. Namun demikian harus diingat, karena status
hadis ahad yang dzanni al-wurud (kemunculannya dari sumbernya hanya berdasar
dugaan), maka penerimaan atau penolakannya lebih berkaitan dengan pengamalan
praktisnya ketimbang berhubungan dengan kebenaran ekstrinsik berita tersebut.
Tentang ini al-Ghazali menyatakan, “kami tidak memaksudkan ‘penerimaan’
sebagai pembenaran, begitu pula ‘penolakan’ sebagai pendustaan, sebab kita
wajib menerima berita dari orang yang adil meski mungkin dia berdusta atau
keliru, dan kita tidak boleh menerima berita dari orang yang fasiq meski dia
benar.” Dengan demikian hadis ahad yang maqbul tidak berarti benar, melainkan
wajib diamalkan, dan yang mardud tidak berarti salah, tetapi tidak wajib
diamalkan. 46
Mengenai penerimaan dan pengamalan hadis dlai’if, para ilmuwan Islam
berselisih pandangan dalam tiga kubu. Pertama, mereka yang menolak
penerimaan dan pengamalan jenis hadis ini secara mutlak. Di antara yang
berpandangan demikian adalah Abu Bakr bin ‘Arabi, Imam al-Bukhari, Imam
Muslim, dan Ibn Hazm al-Andalusi. Kedua, ilmuwan yang yang menerima dan
mengamalkan jenis hadis ini secara mutlak. Mereka berpandangan bahwa hadis,
betapapun dla’if-nya tetap lebih baik ketimbang pandangan manusia biasa, karena
ada dugaan betapapun lemahnya bahwa berita tersebut berasal dari Rasulullah
SAW. Yang menganut pandangan macam ini di antaranya adalah Imam Abu
Dawud dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal. Ketiga, ulama yang menyatakan bahwa
jenis hadis ini boleh diterima dan diamalkan dalam urusan keutamaan praktik-
praktik tertentu (fadla’il al-‘amal) dan nasihat (mawa’idz) dengan syarat-syarat
berikut: (1) tingkat ke-dla’if-annya tidak sangat parah; (2) ajaran yang dikandung
45
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful Muzani,
(Bandung: Mizan, 1995), hlm. 39-40, bdk. al-Ghazali, al-Mustashfa…, hlm. 106-7.
46
al-Ghazali, al-Mustashfa…, hlm. 123.

12
berita tersebut termuat di bawah suatu prinsip umum yang diterima dalam Islam;
dan (3) hendaknya ketika menerapkan hadis dla’if tersebut kita tidak meyakini
bahwa ia benar-benar berasal dari Nabi SAW, melainkan semata-mata karena
alasan kehati-hatian (ihtiyath). 47
IV
Demikianlah, tulisan ini—layaknya sebuah pembacaan awal—memang
tak hendak menukik ke kedalaman pembahasan, apalagi perbandingan. Ia hanya
memaparkan serba ringkas ‘Ulum al-Hadits, khususnya musthalah al-hadits,
dengan latar epistemologi sosial, sebuah perkembangan baru dalam epistemologi.
Tulisan ini hanya hendak menarik perhatian kita semua bahwa ternyata ‘Ulum al-
Hadits, sejumput dari khazanah klasik ilmu-ilmu Islam, sangat potensial untuk
memberikan sumbangan terhadap pengembangan salah satu cabang penting dalam
filsafat, yakni epistemologi. Tentu saja masih diperlukan sekian pendalaman dan
penajaman, perbaikan di sana-sini, serta pembacaan yang lebih lanjut. Tapi sejauh
ia menggugah minat, tulisan ini hingga tingkat tertentu telah berhasil. Wallahu
a’lam.

47
al-Khatib, Ushul al-Hadits…, hlm. 351.

13
Daftar Pustaka
al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful Muzani.
Bandung: Mizan, 1995.
Azami, Muhammad Mustafa. Studies in Hadith Methodology and Literature.
Indianapolis: American Trust Publications, 1977.
Bakker, Anton. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia, 1986, cet. II.
al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Mustashfa fi ‘Ilm al-
Ushul. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000.
al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj. Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu.
Beirut: Dar al-Fikr, 1971, cet. II.
al-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1995, cet. II.
Sudarminta, J.. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan.
Yogyakarta: Kanisius, 2002.
al-Syathibi, Abu Ishaq Ibrahim bin Musa. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, juz
IV. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003.

14