Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR FIBULA

Konsep Medis

1.1. Definisi Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian (Muttaqin, 2008: 69). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000:346). Fraktur cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis, atau persendian pergelangan kaki (Muttaqin, 232). Fraktur cruris adalah terputusnya continuitas tulang dan ditentukan sesuai jeenis dan luasnya yang terjadi pada tulang tibia dan fibula (Brunner and Sudart, 2000)

1.2. Etiologi ( Sjamsuhidajat:2004:887 ) 1.2.1. Trauma Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan. Daerah yang fraktur biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan

1.2.2. Patologis Fraktur yang terjadi pada tulang karena adanya kelainan/ penyakit yang menyebabkan kelemahan pada tulang.

1.3. Klasifikasi (http://athoenk46.wordpress.com/asuhan-keperawatan-padaklien-dengan-fraktur-cruris) 1.3.1 Fraktur komplet: patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. 1.3.2 1.3.3 1.3.4 Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.

1.4. Manifestasi Klinis (http://athoenk46.wordpress.com/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-fraktur-cruris) 1.4.1 1.4.2 Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur 1.4.3 1.4.4 1.4.5 1.4.6 Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit Laserasi pada kulit Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema, nyeri gerak dan nyeri tekan (Mansjoer, 2000:357) 1.4.7 Hematom

1.5. Pemeriksaan Penunjang (http://athoenk46.wordpress.com/asuhankeperawatan-pada-klien-dengan-fraktur-cruris) 1.5.1 1.5.2 1.5.3 1.5.4 Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya Pemeriksaan jumlah darah lengkap Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal

1.6. Penatalaksanaan (Muttaqin, 2008:237-238) 1.6.1 penatalaksanaan konservatif 1) Reduksi Reduuksi fraktur dengan memanipulasi tertutup dan pembiusan umum 2) Gips serkuler untuk imobilisasi dipasang sanpai lutut. 3) Reposisi pada fratur tertutup adalah ada kontak antara kedua tulang 70% atau lebih, tidak ada rotasi dan tidak ada angulasi. Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi (union secara fibrosa). 4) Cast Bracing yaitu teknik pemasangan gips siekuler dengan tumpuan pada tendi patela yang biasanya digunakan setelah pembengkakan mereda atau telah terjadi union secara fibrosa. 1.6.2 Penatalaksanaan Operatif Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan pada tindakan konserrvatif, fraktur tidak stabil, dan non union. Metode penatalaksanaan meliputi pemasangan plate dan screw, nail intramedular, pemasangan screw saja atau pemasangan fiksasi eksternal. 1.7 Komplikasi (Sjamsuhidajat, 2004:887) Beberapa komplikasi yang sering terjadi pada fraktur kruris adalah: Infeksi, Delayed union, dan non union, mal union, kerusakan pembuluh darah (sindrom kompartemen anterior), trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis, dan gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Ganguan ini biasanya terjadi karena adanya adhesi pada otot- otot tunkai bawah. Adanya pembengkakan, pertautan lambat.

1.7. Web Of Caution Trauma Langsung Trauma tidak langsung Kondisi Patologis

Fraktur Fibula Tindakan pembedahan

Hospitalisasi

Cemas

B2 Gangguan kenyaman Aktifitas terbatas/menurun Perdarahan post op

B3 Luka post op

B4 Efek anestesi Penurunan fungsi otak/korteks serebral Penurunan pusat pons Penurunan reflex otot detrusor dan otot dasar panggul Vesika penuh urinaris

B5 Pengeruh anestesi

B6

Luka post op dan alat invasif Port de entry kuman

Trauma jaringan Hb menurun Suplai O2 menurun Peningkatan mediator kimia sitokinin dan prostaglandin Berikatan dengan nociceptor Nyeri

Hambatan mobilitas fisik

Defisit Perawatan diri

Peristaltik usus menurun Mual muntah

Resiko Infeksi

Gangguan perfusi jaringan

Resiko perubahann nutrisi

Retensi urine

Konsep Keperawatan

2.1. Pengkajian 1) Identitas Pasien Usia : Bisa terjadi pada semua usia 2) Keluhan Utama : Nyeri hebat dengan PQRST sbb: (1) Provokatif/palliatif: hal yang menjadi factor presipitasi nyeri adalah trauma pada bagian betis atau tungkai bawah. (2) Quality/Quantity: klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk. (3) Region/Radiation : nyeri yang terjadi dibagian betis attau tunkai bawah yang mengalami patah tulang. Nyerr dapat redah dengan imobilisasi atau istirahat dan nyeri tidak menjalar atau menyebar. (4) Severity: secara subjektif nyeri yang dirasakan klien antara 2-4 pada rentang skala pengukuran 0-4. (5) Timing: berapa lama nyerinya berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. 3) Riwayat Penyakit Kesehatan (1)Riwayat Penyakit Sekarang: Kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang tibia. Terasa nyeri pada daerah kaki, nyeri ringan-berat, nyeri akan hebat bila digunakan gerak (2) Riwayat Penyakit Dahulu: Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang, riwayat injuri sebelumnya, pernah jatuh saat olahraga atau kecelakaan dan mengalami kesakitan pada daerah kaki, . (3) Riwayat Penyakit Keluarga: Osteoporosis dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik. (4) Riwayat psikososialspiritual: respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya , peran klien dalam keluarga dan masyarakat, serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. 4) . Kebutuhan Dasar : Pola nutrisi dan metabolisme: klien fraktur harus

(1) Nutrisi

mengonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-hari seperti kalsium, zat besi, protein dan vitamin C untuk membantu proses penyembuhan

tulang. Masalah nyeri pada fraktur tibia-fibula menyebabkan klien kadang mual-munath sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi berkurang. (2) Eliminasi : Untuk kasus fraktur cruris gangguan pola eliminasi. (3) Aktivitas dan istirahat: keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (4) Hygine perseorangan : untuk kebutuhan Hygine pada pasien dengan fraktur cruris tidak dapat memenuhinya secara mandiri. Pasien memerlukan bantuan orang lain. 5) Pemeriksaan Fisik (1) Keadaan Umum : Keadaan Umum agak lemah akibat nyeri yang dirasakan (2) Tanda-Tanda vital: TD, Nadi, dan pernapasan dipantau untuk mendeteksi terjadinya syok. 1) B1 (Breathing) pada pemeriksaan sistem pernapasan : pada efek anestesi ada pengarug pada system pernapasan (bisa menekan pusat pernapasan) pola napasnya, irama pasien tidak mengalami

pernapasan, sesak (apabila ada kompliksa pada gagal ginjal dapat mengakibatkan edema paru). 2) B2 (Blood) pada pemeriksaan sistem kardiovaskuler : adanya peningkatan tekanan darah dan nadi karena adanya nyeri. Konjungtive merah muda, kalau puct menunjukkan adanya anemia. Bila akral dingin , pucat, lembab dan CRT lebih dari 2 detik menunjukkan perfusi jelek. 3) B3 (Brain) pada pemeriksaan sistem persyarafan: kesadaran menurun karena efek anestesi. 4) B4 (Bladder) pada pemeriksaan sistem perkemihan: pada efek anestesi terjadi kelemahan kontraksi pada otot detrusor, vesika urinaria akan pulih kembali dalam waktu 68 jam

5) B5 (Bowel) pada pemeriksaa sistem pencernaan : penurunan atau tidak ada bising usus (dampak anestesi terjadi 6-8 jam post op. 6) B6 (Bone) pada pemeriksaan muskuloskeletal: kelemahan otot pasca op. 7) System integument: terjadi kerusakan inegritas kulit pada luka post op.

2.2

Masalah Keperawatan 1) Nyeri 2) Hambatan mobilitas fisik 3) Resiko infeksi 4) Defisit perawatan diri 5) Ganggan perfusi jaringan 6) Resiko perubahan nutrisi 7) Retensu urine.

2.3

Diagnosa , Tujuan dan Intervensi Keperawatan 1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan sehubungan dengan prosedur pembedahan yang ditandai dengan TD meningkat, Nadi meningkat, posisi berhati-hati, raut wajah kesakitan. Tujuan : Pasien mengungkapkan nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam maka dengan kriteria hasil : - Klien menyatakan nyeri berkurang sampai menghilang - Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/ tidur /istirahat dengan tepat - Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 60-100x/menit dan RR 1620x/menit dalam rentang normal - VAS 0-1

Intervensi : (1)Jelaskan prosedur sebelum memulai perawatan. R/ memungkinkan klien untuk siap secara mental untuk

berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan. (2)Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. R/ mencegah kesalahan posisi tulang/ jaringan yang cedera sehingga mampu mengurangi nyeri. (3)Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan alternatif tindakan kenyamanan contoh latihan nafas dalam, massagse. R/ meningkatkan sirkulasi umum dan meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri yang mungkin menetap dalam periode yang lama. (4)Kolaborasi dengan fisioterapi untuk latihan rentang gerak pasif/ aktif. R/ memperthankan kekuatan/ mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera. (5)Kolaborasi pemberian analgetik. R/ pemberian rutin analgesik mempertahankan kadar analgesik darah adekuat, mencegah fluktuasi dalam menghilangkan nyeri. (6)Observasi TTV, ekspresi pasien, dan VAS R/ untuk memantau terjadinya syok dan hipotensi yang merupakan salah satu komplikasi yang mungkin terjadi.

2) Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat fraktur yang ditandai dengan keterbatasan rentang gerak, enggan untuk bergerak. Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan Kriteria hasil: -Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin -Mempertahankan posisi fungsional -Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit

-Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas Intervensi : (1)Jelaskan kemungkinan keterbatasan dalam aktivitas. R/ penjelasan yang diterima klien memberikan motivasi pada klien untuk meningkatkan kemajuan kesehatan. (2)Ajarkan pada pasien dalam latihan rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tidak sakit. R/ meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/ atrofi dan resorpsi kalsium akibat tidak digunakan. (3)Beri penyangga pada ekstrimitas yang sakit yaitu di atas dan di bawah fraktur ketika bergerak. R/ mempertahankan posisi yang fungsional ekstremitas dan mencegah komplikasi. (4)Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan perawatan diri dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan. R/ meningkatkan kontrol klien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung. (5)Ubah posisi secara periodik. R/ menurunkan insiden komplikasi kulit (dekubitus) (6)Kolaborasi fisioterapi R/ berguna dalam membuat aktifitas individual/ program latihan bagi pemulihan klien. (7)Observasi tekanan darah, nadi saat melakukan aktivitas R/ Untuk mencegah terjadinya hipotensi pstural akibat tirah baring yang lama. 3) Resiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat luka operasi. Tujuan : tidak adanya tanda infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria hasil: Penyembuhan luka sempurna. Tidak ada tanda infeksi.

Bagian yang fraktur/luka dapat berfungsi seperti semula Tidak ada kemerahan sekitar luka operasi, t Tidak ada nyeri berlebihan, suhu 36,5-37,5OC, Intervensi:

(1) Jelaskan kepada pasien penyebab infeksi R/: Infeksi terjadi karena masuknya mikroorganisme sekunder akibat adanya luka terbuka (2) Monitor tanda-tanda vital R/: dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis (3) Observasi tanda dan gejala infeksi R/: Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi (4) Kolaborasi pemberian antibiotik R/: menurunkan jumlah mikroorganism (5) Observasi keadaan umum, keluhan dan TTV R/: untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang sudah diberikan. 4) Deficit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan

menggerakkan ekstremitas dan nyeri pascaoperasi yang ditandai dengan pasien tidak bisa memenuhi sendiri kebutuhan perawatan diri, dibantu orang lain. Tujuan: pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuannya setelah dilakukan tindakan

keperawatan dengan kriteria hasil Intervensi: (1) Bantu klien dalam memenuhi hygine perseorangan R/: Membantu memenuhi kebutuhan pasien (2)Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan R/: Mengurangi ketergantungan dan meningkatkan masa pemulihan (3)Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya

R/: Meningkatkan perasaan makna diri, kemandirian dan mendorong pasien berusaha secara kontinu (4)Observasi kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari R/: Membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan

pemenihan kebutuhan secara individual 5) Retensi urine berhubungan dengan gangguan saraf afferen akibat efek SAB yang ditandai dengan pasien belum bisa BAK spontan dalam waktu 3-6 jam setelah operasi, palpasi vesika urinaria penuh, pasien mengeluh susah untuk kencing. Tujuan: pasien mengungkapkan bahwa kandung seninya terasa kosong, urine dapat keluar dalam waktu 3-6 jam setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil pasien dapat BAK spontan, palpasi vesika urinaria kosong, Intervensi: (1) Jelaskan penyebab retensi urine. R/ Retensi urine disebabkan oleh adanya gangguan pada sensasi dan kontrol saraf yang diblokade oleh obat anastesi. (2) Ajarkan stimulasi kulit pada daerah pubis. R/ Skin stimulasi akan menimbulkan peregangan pada daerah pubis sehingga sensansi vesika urinaria akan lebih terasa (3) Anjurkan pasien untuk miring kanan dan kiri. R/ Mobilitas akan menimbulkan pergerakan cairan dalam vesika urinaria sehingga penekanan pada saraf akan lebih banyak dan rasa ingin berkemih akan lebih kuat. (4) Berikan kompres hangat pada daerah pubis. R/ Kompres hangat akan menimbulkan sel tubuh mengeluarkan mediator kimia sehingga akan mempengaruhi kontraksi otot detrusor untuk mengeluarkan urine.

(5) Lakukan pemasangan nelaton kateter bila perlu R/ Pemasangan kateter dilakukan untuk mengeluarkan urine yang tertahan dalam vesika urinaria saat itu dan dilaksanakan hanya jika diperlukan. (6) Observasi keluhan dan distensi vesika urinaria R/ Pengosongan vesika urinaria merupakan indikator bahwa retensi urine telah teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Capernito-Moyet, Lynda Juall. 2006. Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC. Donges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa: I Made Kariasa, dkk. Jakarta: EGC Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed 3. Jakarta: Media Aesculapius Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. 2008. Jakarta: EGC Sjamsuhidajat, R, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC . http://athoenk46.wordpress.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-frakturcruris/Diakses jam 00:13 tgl 25 oktober 2011