Anda di halaman 1dari 2

Mutiara Ramadhan Haluan

Amal Besar Di Dalam Bulan Ramadhan


Oleh Buya H. Mas;oed Abidin
Dari beberapa hadits Nabi Muhammad SAW disimpulkan ada amalan-amalan tertentu
untuk lebih diperbanyak, khususnya di Ramadhan. Amalan-amalan tersebut antara lain.
1). Sedekah memberi makan kepada orang yang sedang berpuasa. Hadist nabi menegaskan ;
”Barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka (puasa) di bulan Ramadhan, maka dia
mempunyai pahala sebagaimana (orang) yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun”.
(H.R. Akhmad dan Turmudzi). Pemberian tidak perlu banyak, sesuai kemampuan kita.
Kalau kesanggupan hanya sebuah pisang, sebuah appel, sebuah kurma, bahkan seteguk
air, berikanlah dengan niat yang tulus mengharapkan keridhaan dari Khalik saja, maka
nilainya akan sama disisi Allah.
2). Qiyamul-Lail, sholat malam. Rasulullah SAW bersabda ; “Barangsiapa yang
melaksanakan Qiyamul-Lail di Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas pasti diampuni
dosa-dosanya yang telah lewat”.(H.R. Bukhari Muslim).
3). Tilawatil-Qur’an. Rasulullah bersabda ;”Puasa dan sholat malam membela si hamba pada
hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya robbi, saya halangi ia untuk makan dan minum disiang
hari ’. Dan Al Quran juga berkata, ‘Aku rintangi ia untuk tidur di malam hari’. Maka
jadikanlah kami penolongnya.” (H.R. Ahmad dan Nasai).
4). I’tikaf di Masjid, bermakna berdiam di mesjid untuk mendekatkan diri kepada Allah
dengan beribadah padaNya. Rasulullah selalu beri’tikaf terutama 10 malam terakhir
Ramadhan. Rasulullah bersabda ;“Masjid adalah rumah untuk setiap orang yang
bertaqwa dan Allah bertanggung jawab akan memberi rahmat kepada orang yang
menjadikan masjid sebagai rumahnya, dan ia akan melewati jembatan keridhaan Allah
SWT.”(diriwayatkan Thabrani).
5). Umrah, tawaf dan sa’i. “Umrah di bulan Ramadhan menyamai pahala haji bersamaku, “kata nabi
SAW. Pada riwayat lain dijelaskan, “Dari umrah satu ke umrah lainnya merupakan penghapus
dosa diantara keduanya”.
Empat ibadah dari lima kesempatan di atas, sangat mungkin dilakukan oleh setiap orang,
karena tidak terlalu berat. Akan tetapi untuk ibadah kelima, harus “ba-indang ba-tampih tareh,
ba-piliah atah ciek-ciek”. Artinya, tidak semua orang mampu mengerjakannya. Ramadhan terlalu
mahal untuk dilewatkan begitu saja. Untuk menyambut dan mengisinya perlu persiapan
khusus, terutama faktor mental.
Rasulullah mempersiapkan Ramadhan dengan memperbanyak sedekah di bulan itu.
Maka, kita masyarakat Muslim di mana saja pada saat ini dapat menirunya dengan
menggerakkan amal membantu saudara kita yang kena musibah gempa, banjir bandang dan
lainnya di Sumatera Barat dan daerah lainnya. Selalu saja musibah datang di awal atau di
dalam bulan Ramadhan pada hampir setiap tahun yang sudah kita lewati. Hikmah apakah
kiranya yang tersirat di dalam peristiwa itu ??? Wallahu’alam.
Namun kita harus dapat menjadikan peristiwa-peristiwa dimaksud mendorong kita untuk
hidup berkearifan tidak saling menyalahkan, akan tetapi berupaya untuk saling menguatkan
(strength – in) sebagai satu gerakan pemerkasaan diri pribadi dan masyarakat.
Masyarakat yang ditimpa musibah itu, banyak pula yang telah meninggal dunia. Untuk
mereka yang wafat itu kita bisa berdoa kiranya arwah mereka diterima disisi Allah dengan
mengampuni kesalahan mereka dan menempatkan mereka pada Jannatun Na’im. Kita yang
hidup ini dapat melaksanakan shalat ghaib untuk janazah mereka dimana saja.
Harta benda mereka telah hilang, hanyut dibawa arus banjir. Mereka memerlukan uluran
tangan kita semua, baik itu berupa bantuan uang, makanan, pakaian walau bekas sekalipun.
Mereka memerlukan bantuan untuk dapat menyambung hidup setara dengan kita. Untuk
dapat bersama-sama merasakan nikmatnya berpuasa Ramadhan dan berhariraya Idulfitri
beberapa hari lagi.
Ulurkan bantuan kita dengan ikhlas, karena sesuatu yang diniatkan ikhlas nilainya lebih
berharga daripada sesuatu yang dibuat karena mengharapkan pujian manusia banyak.
Pengalaman Ramadhan tahun lalu seharusnya dijadikan pelajaran agar Ramadhan kini
lebih bermakna.

Wassalam, < buyamasoedabidin@gmail.com >