Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Residivis dalam Konsep KUHP Ada beberapa pasal yang disebutkan dalam KUHP yang mengatur akibat

terjadinya sebuah tindakan pengulangan (recidive) ada dua kelompok dikategorikan sebagai kejahatan pengulangan (recidive), yaitu: 2. .!. "enyebutkan dengan mengelompokkan tindak#tindak pidana tertentu dengan syarat#syarat tertentu yang dapat terjadi pengulangannya. Pengulangannya hanya terbatas terhadap tindak pidana tertentu yang disebutkan dalam Pasal $%&, Pasal $%' dan Pasal $%% KUHP. 2. .2. (i luar kelompok kejahatan dalam Pasal %& sampai dengan Pasal %% KUHP juga menentukan beberapa tindak pidana khusus tertentu yang dapat terjadi pengulangan, misalnya Pasal 2!& ayat ( ) KUHP, Pasal $%) ayat (2), Pasal $)* ayat (2) dan Pasal *!2 ayat ( ).+ , "engingat pentingnya tujuan pidana sebagai pedoman dalam pemberian atau menjatuhkan pidana dimuat dalam konsep ran-angan Kitab Undang#Undang Hukum Pidana (KUHP), di samping itu juga adanya perkembangan pemikiran mengenai teori pemidanaan mengakibatkan tujuan pemidanaan yang ideal. (i samping itu dengan adanya kritik#kritik mengenai dasar pemidanaan yang menyangkut hubungan antara teori pidana, pelaksanaan dan tujuan yang hendak di-apai serta hasil yang diperoleh dari penerapan pidana. (alam perkembangannya, pengulangan tindak pidana dapat dibagi menjadi beberapa golongan. pengulangan tindak pidana menurut ilmu kriminologi, dibagi dalam penggolongan pelaku tindak pidana sesuai dengan perbuatan#perbuatan yang dilakukan, yaitu: 2. . . Pelanggaran hukum bukan residi.is (mono delinquent/ pelanggaran satu kali/ first offenders) yaitu yang melakukan hanya satu tindak pidana dan hanya sekali saja. 2. .$. 0esidi.is yang dibagi lagi menjadi: 2. .$.!. Penjahat yang takut meliputi pelanggaran hukum yang bukan residi.is dan mereka yang berkali#kali telah dijatuhi pidana umum namun antara masing#masing putusan pidana jarak 1aktunya jauh, atau perbuatan pidananya begitu berbeda satu sama lain sehingga tidak dapat dilakukan ada hubungan kriminalitas atau dengan kata lain dalam jarak 1aktu tersebut (misalnya * tahun menurut pasal $* KUHP). 2. .$.2. Penjahat kronis adalah golongan pelanggaran hukum yang telah mengalami penjatuhan pidana yang berlipat ganda dalam 1aktu singkat di antara masing#masing putusan pidana. 2. .$. . Penjahat berat adalah mereka yang paling sedikit setelah dijatuhi pidana 2 kali dan menjalani pidana berbulan#bulan dan lagi mereka yang karena kelakuan anti sosial sudah merupakan kebiasaan atau sesuatu hal yang menetap bagi mereka. 2. .$.$. Penjahat sejak umur muda tipe ini memulai karirnya dalam kejahatan sejak ia kanak#kanak dan dimulai dengan melakukan kenakalan anak.

Kritikan tersebut dapat berpengaruh besar terhadap proses pembuatan ran-angan KUHP yang telah rampung pada 2ahun 2333 yang lalu dan telah disosialisasikan sejak bulan (esember 2ahun 2333, 4Konsep KUHP tersebut telah mengalami beberapa perubahan mulai dari konsep 2ahun !)'!/!)'2, konsep KUHP !)%2/!)% , konsep KUHP !)) dan yang terakhir konsep KUHP 2ahun 23335.+$, (ari sudut ilmu pengetahuan hukum pidana, pengulang tindak pidana dibedakan atas jenis, yaitu: !. Pengulang tindak pidana yang dibedakan berdasarkan -akupannya antara lain: # Pengertian yang lebih luas yaitu bila meliputi orang#orang yang melakukan suatu rangkaian tanpa yang diseiringi suatu penjatuhan pidana/ condemnation. # Pengertian yang lebih sempit yaitu bila si pelaku telah melakukan kejahatan yang sejenis (homolugus recidivism) artinya ia menjalani suatu pidana tertentu dan ia mengulangi perbuatan sejenis tadi dalam batas 1aktu tertentu misalnya * (lima) tahun terhitung sejak terpidana menjalani sama sekali atau sebagian dari hukuman yang telah dijatuhkan. 2. Pengulangan tidak pidana yang dibedakan berdasarkan si6atnya antara lain: # Accidentale recidive yaitu apabila pengulangan tindak pidana yang dilakukan merupakan akibat dari keadaan yang memaksa dan menjepitnya. # Habituele recidive yaitu pengulangan tindak pidana yang dilakukan karena si pelaku memang sudah mempunyai inner criminal situation yaitu tabiat jahat sehingga kejahatan merupakan perbuatan yang biasa baginya. . 7elain kepada kedua bentuk di atas, pengulangan tindak pidana dapat juga dibedakan atas: # 0e-idi.e umum, yaitu apabila seseorang melakukan kejahatan/ tindak pidana yang telah dikenai hukuman, dan kemudian melakukan kejahatan/ tindak pidana dalam bentuk apapun maka terhadapnya dikenakan pemberatan hukuman.+*, # 0e-idi.e khusus, yaitu apabila seseorang melakukan perbuatan kejahatan/ tindak pidana yang telah dikenai hukuman, dan kemudian ia melakukan kejahatan/ tindak pidana yang sama (sejenis) maka kepadanya dapat dikenakan pemberatan hukuman.

Pembagian Sistem Residive 0e-idi.e dibagi menjadi 2 yaitu !. 8eneral re-idi.e atau re-idi.e umum 9aitu apabila seseorang melakukan kejahatan terhadap kejahatan mana telah dijatuhi hukuman maka apabila ia kemudian melakukan kejahatan lagi, yang dapat merupakan bentuk kejahatan apapun ini dapat dipergunakan sebagai alasan untuk memberatkan hukuman. :ontoh. A melakukan kejahatan pen-urian kemudian di jatuhi hukuman, setelah A menjalani hukuman itu, ia kembali ke dalam masyarakat. Akan tetapi A kemudian melakukan kejahatan penganiayaan terhadap ; berdasarkan si6at re-idi.e ini, maka perbuatan penganiayaan itu dapat merupakan alasan untuk memberatkan hukuman yang dijatuhi alasan dirinya. 2. 7pe-ial re-idi.e atau re-idi.e khusus 9aitu bila seseorang melakukan kejahatan dan terhadap kejahatan itu dijatuhi hukuman oleh hakim, kemudian ia melakukan kejahatan lagi yang sama (sejenis) dengan kejahatan pertama, maka persamaan kejahatan yang dilakukan yang kemudian itu merupakan dasar untuk memperberat hukuman. KUHP menganut 4tussentelsel5 artinya kejahatan#kejahatan yang diatur itu dibagi dalam golongan menurut si6at yang dapat memenuhi re-idi.e, adalah bukan setiap kejahatan dan bukan pulan merupakan kejahatan yang sejenis. 7yarat#syarat 0e-idi.e : a. 2erhadap kejahatan yang pertama telah dilakukan harus jelas ada keputusan hakim yang mengandung hukuman b. Keputusan hakim tersebut harus merupakan keputusan yang tidak diubah lagi, artinya telah mempunyai kekuatan hukum tetap. -. (i dalam pasal $%& KUHP dan pasal $%' KUHP ditentukan bah1a hukuman yang dijatuhi berhubungan dengan perbuatan yang pertama harus merupakan hukuman penjara, sedangkan di dalam pasal $%% KUHP 4tidak5 di tentukan hukuman apa yang telah dijatuhkan dalam perbuatan yang pertama. "engenai hukuman yang dijatuhi terhadap perbuatan yang pertama dilakukan, dapat diterangkan bah1a apakah hukuman itu telah dijalankan seluruhnya atau baru sebagian, atau 1alaupun si terhukum itu mendapat ampunan (grasi), hal itu tetap merupakan dasar untuk memperberat hukuman yang akan dijatuhkan terhadap perbuatan yang kemudian dilakukan.