Anda di halaman 1dari 74

STUDI BIOFARMASI PADA PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAPULMONER (AEROSOL)

Kelompok 4
Boy Suzazi Virgaust Andi Prasetyo Hadi N Orianna Zulfa Derisa Aulia Eka Septianingsih Aida Nur Aini Wenny Zuricha Zoro Nuraini Oktaviani Hanifa Rozanah Larasati Tunggadewi M. Khairuman Devinna Dedi Saputra 260110100161 260110100145 260110100120 260110100123 260110100105 260110100125 260110100144 260110100106 260110100095 260110100109 260110100128 260110100119 260110100134 260110100136

AEROSOL

CARA PENAHANAN ATAU DEPO

TUJUAN KINERJA OBAT SISTEM INTRAPULMONAR

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGHIRUPAN DAN PERPINDAHAN

POKOK BAHASAN

ANATOMI DAN FISIOLOGI SALURAN NAPAS

TAHAPAN PERJALANAN AEROSOL

TEKANAN INTRAPULMONER

PEMBAHASAN JURNAL

Boy Suzazi 260110100161

Aerosol
Aerosol : sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis, dapat digunakan untuk obat luar atau obat dalam dengan menggunakan propelan yang cukup (F.I. III, 1979). Propelan berfungsi memberikan tekanan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan bahan dari wadah Propelan :
gas yang dicairkan, misalnya hidrokarbon gas yang dimampatkan, misalnya CO2, N2, dan Nitrosa

Aerosol pada umumnya sering ditemukan untuk pengobatan saluran pernafasan misalnya untuk penanganan simpatomatis pada penyakit asma, aerosol topical untuk pengobatan acne (jerawat), dan kosmetik seperti styling foam untuk penataan rambut. Aerosol adalah suatu sistem koloid hidrofil:
fase pendispersi berupa gas / campuran gas fase terdispersi berupa partikel zat cair yang terbagi sangat halus atau partikel-partikelnya tidak padat

Ukuran partikel aerosol lebih kecil dari 50 mm Penentuan distribusi ukuran aerosol dapat dilakukan dengan sistem DMPS/C

Biofarmasi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran 2013

Virgaust Andi 260110100145

Kelebihan
Menghindari First Pass effect Kecepatan absorpsi dapat disetarakan dengan rute intravena Onset kerja cepat Dosis lebih rendah sehingga efek samping lebih kecil Dapat digunakan lokal dan sistemik Onset lebih cepat untuk daerah kerja CNS

Kekurangan
Sekali digunakan, Penghilangan obat dari tempat absorpsi sulit Mucociliary clearance menurangi waktu retensi obat dalam rongga hidung obat terhalang oleh mucus dan ikatan mucus obat Mukosa nasal dan sekresinya dapat mendegradasi obat Obat dengan berat molekul tinggi (susah diabsorbsi ), route ini terbatas hanya untuk obat-obat yang poten (dosis kecil ) Iritasi lokal dan sensitisasi obat harus diperhatikan

Prasetyo Hadi N 260110100110

Tujuan Kinerja Obat Sistem Intrapulmonar

Efek Lokal

Efek Sistemik

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Penghantaran obat dengan efek kerja lokal melalui intrapulmonar digunakan untuk mengobati jalan nafas/asthma, pengobatan lokal pada tenggorokan dan pengobatan TBC di paru-paru Beberapa obat diberikan secara intra nasal untuk efek lokal seperti obat tetes hidung / spray. Ukuran partikel yang cocok 5 10m
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Vaksin-vaksin Flu Obat obat pengencer dahak, mukolitik, ekspektoran Obat untuk penyakit tuberculosis (Fernandes & Vanbever, 2009)
http://www.ashleysuzanne.com/nursing-tip-of-the-daypharmacology/
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Obat Intrapulmonar efek lokal, keuntungan : Dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek farmakologis dapat dikurangi (dari dosis oral) Onset of action yang cepat Menghindari reaksi saluran cerna dan metabolisme hati
Kerugian : Pasien mungkin kesulitan menggunakan alat inhaler dengan benar
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Tujuan Kinerja Obat Sistem Intrapulmonar

Efek Lokal

Efek Sistemik

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Alternatif penghantaran obat bebas-jarum untuk kerja sistemik, Karena obat masuk ke darah secara alami seperti mekanisme pernafasan Disebabkan area permukaan epitel intrapulmonar yang luas dan memiliki pembuluh darah vaskuler yang tinggi Walaupun membran epitel alveoli lebih tebal daripada membran epitel usus, aktivitas enzim yang bekerja di alveoli lebih rendah dan tidak mengalami first-pass effect sehingga absorpsi obat ke darah lebih maksimal
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Keterangan
1. Obat masuk dengan cara inhalasi lewat mulut / hidung 2. Obat disalurkan ke paruparu 3. Dalam paru-paru, obat diteruskan ke alveolus 4. Obat masuk ke aliran darah melalui alveoli, seperti pada proses pertukaran oksigen dan CO2 saat pernafasan
http://www.youtube.com/watch?v=pA6e39FfQgs
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Obat-obat anastetika opioid (morfin, fentanyl) Obat-obat yang mengandung protein (growth Hormone, Parathyroid hormone, erythropoietin) (Fernandes & Vanbever, 2009)

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Keuntungan obat Intrapulmonar efek sistemik :


Paru paru mempunyai area permukaan yang luas untuk absorbsi obat Permeabilitas membrane paru paru terhadap molekul obat lebih tinggi daripada usus kecil dan route mukosa lainnya Mempunyai vaskularitas tinggi yang mempercepat absorbsi dan onset of action Paru paru lebih baik terhadap obat protein dan peptide daripada saluran cerna

Kerugian obat Intrapulmonar efek sistemik: Paru paru tidak siap untuk penghantaran obat Banyak faktor yang mempengaruhi reprodusibilitas penghantaran obat melalui paru paru, termasuk variable fisiologis dan farmaseutik Absorbsi obat dihalangi oleh lapisan mucus yang cukup tebal dan interaksi obat mukus Mucociliary clearance mengurangi waktu retensi obat dalam paru - paru

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Sumber:

http://www.uclouvain.be/cps/ucl/doc/farg/documents/FernandesVanbeverEODD2009.pdf
Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Prasetyo Hadi - Farmasi Unpad

Orianna Zulfa 260110100123

ANATOMI DAN FISIOLOGI SALURAN NAPAS


Saluran napas dapat dibagi dalam dua daerah yang berbeda yaitu : a. Daerah konduksi b. Daerah pertukaran.

a. Daerah Konduksi

Hidung

Mulut

Trakea

Bronkus

Silia

Getah bronkus

1. Hidung
Anatomi 1. Hidung luar a. Pangkal hidung ( bridge ) b. Puncak hidung ( apeks ) c. Lubang hidung ( nares anterior ) 2. Hidung dalam a. Vestibulum b. Konka Fungsi Hidung : 1. Alat pengatur kondisi udara (air conditioning) 2. Indra pencium (olfactory) 3. Jalan dan pertahanan saluran nafas Pertahanan saluran nafas: Menyaring partikel yang masuk hidung dan mukosa akan menahan partikel tersebut melalui tumbukan atau pengendapan.

Bulu dan rambut getar (silia) pada epitel.

Effective absorption area formed in patients' nasal cavity after the spray of the liquid medicine

Derisa Aulia 260110100105

Mulut merupakan jalur kedua untuk proses penghirupan.

2. Mulut

Penghirupan melalui mulut mempunyai efek samping terutama bila udara mengandung partikel, sebab di mulut tidak ada penyaringan partikel.

Anatomi Mulut
1. Celah mulut (Rima Oris) Dibatasi oleh labium superius dan labium inferius. Bagian dalam mulut (Cavitas Oris) a. Vestibulum oris b. Labium (Frenulum labii superioris dan inferioris) c. Glandulla salivatorius (kelenjar liur) Bagian atas mulut (Cranial) a.Palatum (atap mulut) Lingua

2.

3.

4.

Anatomi : Panjangnya kira-kira 9 cm. Terdiri dari 16-20 cartilago hyalin (mempertahankan agar trakea tetap terbuka). Di permukaannya terdapat Trakea atau banyak sel kelenjar epitelium bersilia dan selaput lendir.

3.

Batang Tenggorokan

Trakea terbagi menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri.

1. Bronkus kanan Lebih pendek dan lebih besar. Terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai tiga cabang. 2. Bronkus kiri Lebih panjang dan lebih ramping. Terdiri dari 9-12 cincin mempunyai dua cabang.
Bronkus dilapisi oleh lapisan epitel yang terdiri dari:
Lapisan mukosa Sel lendir Silia (bulu getar) Membran

4. Bronkus

Silia

Getah bronkus
Sumber

Secara anatomik sumber getah bronkus adalah kelenjar bronkus pada trakea dan bronkus besar dimana mengandung sel-sel mukus
Bentuk : Sel epitel menyerupai tangga berjalan atau permadani mukosilier yang berombak. Peranan : a. Silia saraf pembau b. pertahanan saluran napas dengan mengeluarkan getah bronkus dan cairan alveoler.

Sekresinya terjadi bila ada rangsangan akibat refleks akson contohnya bila terjadi iritasi langsung.

Eka Septianingsih 260110100125

b. Daerah Pertukaran
Daerah pertukaran berfungsi dalam pertukaran udara antara alveolus dan pembuluh darah. Terdiri dari : 1. Bronkiolus terminalis 2. Bronkiolus respiratorius 3. Ductuli alveolaris pediculi 4. Saccus alveolaris 5. Dinding alveoli

1. Bronchiolus terminalis dan respiratory


Bronkiolus terminalis mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkiolus terminalis masuk ke dalam saluran vestibula yang dilapisi sel epitelium pipih dan di dalam dindingnya terdapat kantong udara (alveoli). Bronkiolus respiratori merupakan saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.

2. Kanal Alveoli (Ductuli Alveolaris Pediculi) Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alveoli. Panjangnya 2-3 mm memiliki suatu celah yang dibatasi oleh lubang alveoli. 3. Saccus alveolaris (kantung alveoli) Alveoli pulmonalis berbentuk kantong kecil berdiameter 0,1-0,3 mm. Volumenya sekitar 60% dari volume udara bronchopulmonary total. 4. Dinding alveolus Merupakan lapisan film yang menyelubungi alveoli dengan ketebalan 10-50 nm. Strukturnya berperan untuk transfer udara dalam saluran napas dan hemoglobin dalam peredaran darah kapiler yang berdekatan dengan alveoli.

Struktur Dinding Paru


Epitelium Sel otot halus Sel kelenjar Syaraf Sel pertahanan Pengasup darah

Aida Nur Aini 260110100144

Tekanan intrapulmoner
Arah aliran udara ditentukan oleh hubungan antara tekanan atmosfer dan tekanan intrapulmoner Tekanan intrapulmoner adalah tekanan di dalam saluran pernafasan di alveoli Ketika istirahat dan bernafas normal, perbedaan tekanan atmosfer dan tekanan intrapulmoner relatif kecil

saat inhalasi

paru-paru mengembang

tek. Intrapulmoner turun menjadi 759 mmHg

saat ekshalasi

paru-paru mengempis

tek. Intrapulmoner meningkat menjadi 761 mmHg

Komponen aerosol pada permukaan lumen (mis. tracheobroncial) dan periferal (mis. alveolus) memiliki tekanan farmakokinetik yang berbeda. Diagram 1 (central airways) menggambarkan perjalanan obat dari permukaan lumen hingga tempat terapeutiknya di saluran pusat (otot polos) Diagram 2 (alveolus) menggambarkan sirkulasi darah di saluran periferal paru-paru

DIAGRAM 1. CENTRAL AIRWAY


Aerosol Lumen Mucus Cilia Ephitalium Blood Vessel Submucosa Smooth muscle
5 4 1 2 3

DIAGRAM 2. ALVEOLUS
Aerosol Macrophage
2

Surfactant Ephitalium
Interstititum

Lumen

3 4
5 5

Lymphatic

Endothelium
Blood

Proses masuknya aerosol di alveolus


1. 2. 3. 4. Berinteraksi dengan permukaan mucus Kotoran dihilangkan oleh makrofag Aksesnya dibatasi oleh lapisan epitel Biotransformasi atau terkompleks oleh ephithelium-associated

Wenny Zuricha Zoro 260110100106

JURNAL

Nuraini Oktaviani 260110100095

Tahapan Perjalanan Aerosol


Transit atau penghirupan Penangkapan atau depo

Penahanan dan pembersihan


Penyerapan

Hembusan udara ekspirasi

Tetapan k1 sampai k5 menyatakan kecepatan dan jumlah partikel yang melewati permukaan atau kompartemen paru

Tetapan K6 menyatakan jumlah partikel tersuspensi yang tidak tinggal dalam alveoli dan dikeluarkan melalui hembusan udara ekspirasi

Tetapan K8 dan k9 lebih mencerminkan jalur perpindahan zat aktif yang terlarut daripada perpindahan paertikel itu sendiri

Tetapan K2p, K3p, K4p, K5p, K6p menyatakan jumlah zat aktif yang mengendap di permukaan kompartemen tertentu

Tetapan K7, K8 dan K9 lebih mencerminkan jalur perpindahan zat aktif yang terlarut daripada perpindahan partikel itu sendiri

Tetapan KD menyatakan keadaan zat aktif yang terkandung dalam partikel

Hanifa Rozanah 260110100109

Penghirupan dan perpindahan


Faktor- faktor yang berpengaruh: Ukuran partikel Cara pernapasan dan laju pernapasan Aliran gas Kelembaban Suhu Tekanan

1. Ukuran Partikel
Partikel-partikel yang ukurannya lebih kecil dari 1,2 m tidak mengalami hambatan di dalamsaluran bronkus, dan yang berdiameter kurangdari 0,2 m dapat mencapai daerah alveoli. Partikel-partikel yang memiliki koefisien difusi rendah dan yang gravitasinya rendah akan mengikuti perjalanan udara pensuspensinya. Partikelsemacam ini dapat menembus bagian paru yang lebihdalam dan penembusan ini tergantung pada volumeudara yang beredar. Tetapi tidak pada setiap inspirasi partikel tersebut dapat mencapai alveoli yang lebih jauh dan hal itu dijelaskan dengan mekanisme difusiyang mengatur pertukaran antara udara inspirasi danudara residu di dalam paru. Partikel yang mempunyai koefisien difusi rendah mampu menembus paru sampai daerah volume edar yang mengalir dan volume kumulasi aliran udaranya sama.

Larasati Tunggadewi 260110100128

2. Cara bernapas
Pernapasan normal 12-15kali/menit Oleh karena itu peningkatan atau penurunan laju respirasi akan mempengaruhi banyaknya zat aktif yang terhirup pasien.

Peningkatan laju inspirasi akan membawa partikel berukuran besar ke alveoli. Penurunan ritme pernapasan akan membuat pertikel diam dalam paru-paru lebih lama.

M. Khairuman 260110100119

3. ALIRAN GAS
Aliran gas melalui saluran udara terdiri dari aliran laminar, aliran transisi dan aliran turbulen. Aliran Laminer adalah aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisan-lapisan (lanima-lamina) membentuk garis-garis alir yang tidak berpotongan satu sama lain. Aliran ini mempunyai Bilangan Reynold lebih kecil dari 2300. Aliran Turbulen adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya bergerak secara acak dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling interaksi. Akibat dari hal tersebut garis alir antar partikel fluidanya saling berpotongan. Aliran turbulen mempunyai bilangan reynold yang lebih besar dari 4000.

ALIRAN DALAM TUBUH


Biasanya aliran darah di dalam tubuh mengalir secara laminar tetapi ada beberapa tempat di mana darah mengalir secara turbulensi seperti di valvuva jantung (katup jantung). Secara teoritis, aliran laminar bisa diubah menjadi aliran turbulensi apabila tabung/pembuluh secara berangsur-angsur diciutkan jari-jarinya dan kecepatan aliran secara bertahap ditingkatkan sehingga mencapai kecepatan kritis (Vc).
Menurut Osbome Reynoldkecepatan kritis (Vc) berbanding lurus dengan viskositas (h) dan berbanding terbalik dengan massa jenis zat cair (r) dan jarijari tabung/ pembuluh (r).

MEKANISME PARU-PARU
Dalam saluran udara kecil di mana aliran adalah laminar, Dalam saluran udara kecil di mana aliran adalah laminar, resistensi sebanding dengan viskositas gas dan tidak berhubungan dengan kepadatan dan sebagainya heliox memiliki pengaruh yang kecil. Persamaan HagenPoiseuille menggambarkan resistensi laminar. Dalam saluran udara besar di mana aliran turbulen, resistensi sebanding dengan kepadatan, sehingga heliox memiliki efek yang signifikan. Paru-paru merupakan komponen utama pernapasan yang diselimuti selaput yang disebutpleura viseralis yang tumbuh menjadi satu dengan jaringan paru-paru. Di luar pleura viseralis terdapat selaput pleura parietalis. Ruang antara viseralis dan parietalis disebut ruang intrapleural berisi cairan yang tipis. Saat menarik nafas, ruang dada berkembang dan ikut berkembang pula pleura viseralis dan pleura parietalis, sedangkan tekanan dalam ruangan intrapleural akan mengalami penurunan.

Devinna 260110100134

4. Kelembaban
Paru bagian dalam (kand. air 44g/m3) Aerosol kejenuhannya 34g/m3 Pertumbuhan partikel sebagai fungsi dari kelembaban Perubahan ukuran partikel tergantung kelarutan (> kelarutan, ukuran partikel >)

5. Suhu
Partikel bergerak suhu ke suhu Gerakan berbanding lurus dengan perubahan suhu dan diameter partikel

6. Tekanan
Selama inspirasi tek paru turun 60-100 mmHg dibawah tek atmosfer Pemakaian tek positif pada aerosol perbedaan tek hingga 4-22 mmHg

Dedi Saputra 260110100136

CARA PENAHANAN ATAU DEPO


Tumbukan karena kelembaban Pengendapan karena gravitasi Difusi / Gerak Brown

CARA PENAHANAN ATAU DEPO


a. Tumbukan karena kelembaban
Tumbukan karena kelembaban terjadi pada permukaan hidung, faring, dan segmen trakea-bronkus. Tumbukan oleh kelembaban ini tidak terjadi di alveolus, karena pada alveolus laju pengaliran udara adalah 0 (nol). Kemungkinan terjadinya tumbukan oleh kelembaban semakin meningkat dengan bertambahnya diameter partikel, laju aliran udara, sudut lekukan, dan penurunan jarijari bronkus.

Daftar Pustaka
Agbandje, dkk. 2008. Drug Delivery System : Methods in Molecular Biology, Edited by Kewal K. Jain. Humana Press. Basel, Switzerland Aiache, J.M. 1993. Farmasetika 2: Biofarmasi. Airlangga University Press. Surabaya Fernandes, Claudia A & Vanbever, Rita. 2009. Preclinical Models for Pulmonary Drug Delivery. Pearce,E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia. 255-272. Young, B., Lowe, J. S., Stevens, A., dan Heath, W. J. 2006. Wheaters Functional Histology A Text and Colour Atlas 5th Edition. Elsevier. USA Jardins, T. D. 2008. Cardiopulmonary Anatomy & Physiology: Essentials of Respiratory Care 5th Edition. Delmar Cengange Learning. USA htttp://www.youtube.com/watch?v=pA6e39FfQqs http://www.uclouvain.be/cps/ucl/doc/farg/documents/FernandesVanbev erEODD2009.pdf http://biologimediacentre.com/sistem-respirasi-3-respirasi-padamanusia/