Anda di halaman 1dari 6

Fungsi Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hematologi 1. Hematologi Rutin : untuk mengetahui adanya kelainan darah seperti anemia(kurang darah), adanya infeksi atau kelainan sel darah putih yang lain, alergi dan gangguan pembekuan darah akibat kelainan jumlah trombosit. 2. Fibrinogen : Pemeriksaan fibrinogen berguna untuk mengetahui adanya kelainan pembekuan darah, mengetahui adanya resiko terjadinya pembekuan darah (peningkatan resiko terjadinya Penyaikt Jantung Koroner (PJK) dan Stoke) dan mengetahui adanya gangguan fungsi hati 3. Tes Agregasi Trombosit (TAT) : TAT berguna untuk mengetahui gangguan agregasi Hiperagregasi berarti peningkatan kecenderungan trombosit membentuk agregasi, sehingga meningkatkan resiko Stroke dan Penyakit Jantung Koroner

Hipoagregasi berarti trombosit 'malas' membentuk bekuan, sehingga meningkatkan resiko pendarahan.

4. Golongan Darah dan Rhesus : untuk mengetahui golongan darah berdasar sistem ABO dan Rhesus faktor. Dalam tranfusi darah, darah donor dan penerima harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. 5. IgM Anti Salmonella Typhi : untuk mendeteksi penyakit tifus

Pemeriksaan Kimia Glukosa (Sewaktu Puasa & 2 Jam PP) : untuk mengetahui kadar glukosa darah, sehingga membantu menentukan terapi pada pasien diabetes.
1.

2. Cholesterol Total, Trigleserida, HDL, LDL Direk : untuk mengetahui profil lemak pasien, sehingga membantu menentukan terapi, memantau terapi, menentukan faktor resiko Penyakit Jantung Koroner dan Stroke. 3. LP(a) : merupakan faktor resiko stoke 4. Small Dense-LDL : LDL berukuran kecil dan lebih berbahaya dari LDL, merupakan faktor resiko Penyakit Jantung Koroner dan Stroke 5. Ureum/BUN, Kreatin : untuk mengetahui fungsi ginjal 6. Asam Urat : untuk mengetahui adanya penyakit Gout Arthritis (nyeri sendi karena tingginya asam urat). 7. SGOT, SGPT : untuk mengethui fungsi hati, sehingga membantu mendiagnosisi kelainan hati 8. Bilirubin : Peningkatan kadar bilirubin bisa terjadi karena penyakit hati dan empedu(karena radang/infeksi, sumbatan batu, tumor) atau pemecahan sel darah merah yang berlebihan. 9. Protein Total : untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita kekurangan protein, untuk mengetahui fungsi hati (hati merupakan organ yang menghasilakn protein). 10. Albumim : Kekurangan albumim dapat terjadi pada penyakit hati(misalnya sirosis), kekurangan gizi, kebocoran ginjal(misalnya sindrom nefrotik). 11. Globulin : Penurunan kadarnya berarti terdapat gangguan kekebalan tubuh. Peningkatan kadar globulin terjadi pada infeksi, penyakit hati dan beberapa jenis keganasan. 12. Cholinesterase(CHE) :merupakan enzim hati yang dipergunakan untuk membantu menentukan apakah funsi sintesisi dari hati masih baik.

13. Alkali Fosfatease(ALP), Gamma-GT : merupakan enzim yang dihasilan oleh hati dan saluran empedu. Peningkatan kadarnya berarti kemungkinan ada kelainan(radang, infeksi, batu, tumor) pada hati dan saluran empedu. 14. Protein Electrophoresisi (SPE) : merupakan tes untuk mengetahui proporsi(%) fraksi-fraksi protein dalam darah(albumim, a1- dan a2-globulin, b-globulin, dan gglobulin. Pemeriksaan Trigliserida Kadar trigliserida yang tinggi dapat membahayakan kesehatan karena beberapa lipoprotein yang tinggi kandungan trigliseridanya juga mengandung kolesterol. Kondisi ini menyebabkan terjadinya atherosclerosis (penyempitan dinding arteri) pada orang yang mempunyai kadar trigliserida tinggi. Seseorang yang mempunyai kadar trigliserida tinggi sering mempunyai faktor resiko lain untuk penyakit jantung, seperti rendahnya kadar HDL atau diabetes. Untuk kesehatan tubuh, kadar trigliserida dalam tubuh sebaiknya < 150 mg/dl, menurut The National Heart, Lung and Blood Institute. Batas antara kadar trigliserida normal & tinggi antara 150-199 mg/dl; tinggi antara 200-499 mg/dl, dan untuk kadar yang sangat tinggi > 500 mg/dl.

Pemeriksaan Imunoserologi
1.

Feritin : mengetahui cadangan besi dalam tubuh HBsAg : untuk mengethui adanya infeksi virus hepatitis B.

2.

Jika HBsAg Posistif -> terinfeksi virus hepatitis B

Jika HBsAg Posistif selama lebih dari 6 bulan, berarti pasien menderita Hepatitis B Kronis -> disarankan untuk rutin memeriksakan fungsi hati (SGOT, SGPT, Protein total, Albumim, AFP) minimal 6 bulan sekali. 3.

Anti Hbs : untuk mengetahui adanya antibody/zat kekebalan terhadap hepatitis B. Pada penderita Hepatitis B, anti HBs positif merupakan pertanda kesembuhan.

Pada pasien yang belum /sudah mendapatkan vaksinasi Hepatitis B, jika anti HBs positif berarti pasien sudah mempunyai kekebalan terhadap infeksi virus Hepatitis B. Disarankan untuk rutin memeriksakan kadar anti HBs, jika kadar anti HBs menurun, perlu diberikan vaksinasi ulang. Jika HBsAg dan anti HBs negatif -> pasien belum pernah terinfeksi dan belum mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B-> disarankan untuk vaksinasi.

4. HBeAg : Disarankan untuk diperiksa bila HBsAg positif. Bila HBeAg positif berarti penderita masih infeksius(berpotensi menularkan virus Hepatitis B) 5. HBV DNA : untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis B yang masih hidup -> dipergunakan untuk memantau perjalanan penyakit dan terpai hepatitis B. 6. Anti HCV : untuk mengetahui adanya antibody terhadap virus Hepatitis C. Anti HCV positif berarti pasien menderita Hepatitis C. 7. HCV RNA : untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis C yang masih hidup, dipergunakan untuk memenatau perjalanan penyakit dan terpai hepatitis C. 8. Anti Dengue IgM dan IgG : untuk mengethui adanya infeksi virus Dengue penyebab demam dengue/demam berdarah. 9. Anti Toxoplasma Igm : Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari Toxoplasma gondii.

10. Anti Toxoplasma IgG : Merupakan pertanda adanya kekebalan terhadap infeksi Toxoplasma gondii. 11. Anti CMVIgM : Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari CMV (Cytomegalovirus) 12. Anti CMVIgG : Merupakan pertanda adanya kekebalan terhadap infeksi CMV(Cytomegalovirus) 13. Anti Rubella IgM : Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari Virus Rubella 14. Anti Rubella IgG : Merupakan pertanda adanya kekebalan terhadap infeksi Rubella 15. Anti HSV2IgM : Untuk mengethui adanya infeksi akut dari virus Herpes Simpleks tipe 2. 16. Anti HSV2IgG : Merupakan pertanda adanya kekebalan terhadap infeksi Virus Herpes Simpleks tipe 2. 17. VDRL, THPA : VDRL dan THPA merupakan tes skrining/penapis untuk mengethui adanya penyakit sifilis Pemeriksaan Urine

1.

Keluaran kreatinin (creatinine clearance) : Tes ini menilai kemampuan ginjal untuk menghilangkan senyawa yang disebut kreatinin dari darah. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya disaring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni. Tes ini mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. Untuk menghitung keluaran, tingkat kreatinin dalam darah juga harus diukur.

2.

3.

4.

Keluaran urea : Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah. Osmologi air seni : Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun. Keberadaan protein : Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Tetap ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.

Pemeriksaan Pertanda Tumor (Tumor Marker) AFP (Alfa Protein) : Merupakan pertanda tumor untuk hati dan tumor-tumor germinal.
1.

2. CEA (Carcino-Embronic Antigen) : Merupakan pertanda tumor untuk usus dan payudara. 3. PSA (Prostate Specific Antigen) : Merupakan petanda tumor untuk prostat