Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Definisi


Medication error adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan, pasien atau konsumen, dan seharusnya dapat dicegah (Cohen,1991, Basse & Myers,1998). Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 disebutkan b ahwa pengertian medication error adalah kejadian yang Merugikan pasien,akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah.Kejadian medication error dibagi dalam 4 fase, yaitu fase prescribing, fase transcribing, fase dispensing dan fase administration oleh pasien. Medication error pada fase prescribing adalah error yang terjadi pada fase penulisan resep. Fase ini meliputi: obat yang diresepkan tidak tepat indikasi, tidak tepat pasien atau kontraindikasi,tidak tepat obat atau ada obat yang Tidak ada indikasinya, tidak tepat dosis dan aturan pakai. Pada fase transcribing error terjadi pada saat pembacaan resep untuk proses dispensing. pada fase dispensing terjadi pada saat penyiapan hingga Penyerahan resep oleh petugas apotek. Sedangkan Medication error pada fase administration adalah kesalahan yang Terjadi pada proses penggunaan obat. Fase ini dapat melibatkan petugas apotek dan pasien atau keluarganya. Kejadian medication error pertahun di beberapa negara Di Amerika Serika, Angka kejadian medication error antara 2-14% dari jumlah pasien dengan 1-2% yang menyebabkan kerugian pasien, umumnya terjadi karena proses peresepan (prescribing) yang salah. Medication error diperkirakan mengakibatkan 7000 pasien meninggal per tahun di AS. (Williams, 2006). Di Indonesia tidak terdata secara jelas dikarenakan kejadian tersebut lebih banyak ditutupi, namun berdasar studi awal( Lestari,Y) pada Januari hingga Agustus 2009 di salah satu RS swasta di Kudus didapatkan data bahwa sebanyak 30 % obat yang diberikan tidak didokumentasikan, 15 % obat diberikan dengan cara yang tidak tepat, 23% obat diberikan dengan waktu yang tidak tepat, 2 % obat tidak diberikan , dan 12 % obat diberikan dengan dosis yang tidak tepat Di Australia Salah satu studi yang relatif cukup representatif adalah yang dilaporkan oleh Brennan et al (1991) terhadap medication error dari 30.121 pasien yang yang masuk ke 51 rumah sakit di New York tahun 1984. Laporan tersebut menunjukkan bahwa efek samping terjadi pada 3,7% pasien, yang 69% di antaranya terjadi akibat medical error. Angka yang jauh lebih besar dilaporkan oleh Wilson (1995). Dari 14.179 catatan medik pasien yang berasal dari 28 rumah sakit di New South Wales, medical error terjadi pada 16,6% pasien, yang mengakibatkan terjadinya kecacatan tetap pada 13,7% pasien dan kematian sekitar 4,9%.

Kesimpulan : Data empirik membuktikan bahwa dalam sistem pelayanan kesehatan masalah-masalah medical error ternyata sering terjadi dengan derajat yang beragam, mulai dari yang ringan dan tidak menimbulkan trauma hingga yang berat dan menyebabkan kecacatan atau kematian pada pasien. Melalui telaah-telaah ilmiah serta bukti-bukti epidemiologi mengenai medical error dan potensi risiko tindakan medik yang ada, beberapa lembaga yang peduli terhadap masalah tersebut kemudia menyusun berbagai upaya untuk mengantisipasi medical error. Hal ini umumnya dilakukan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan serta menjamin bahwa selain efficacious, suatu tindakan medik haruslah aman bagi pasien.

DAMPAK-DAMPAK YANG TERJADI PADA MEDICATION ERROR Dampak yang terjadi pada pasien akibat medication error bisa terjadi pada fisik mupun fisiologi maka dengan demikian pasien tersebut harus engeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan dari efek medication error tersebut. Dampak yang terjadi pada rumah sakit / pelayanan kesehatan dampak ini bisa terjadi karena waktu dan tenaga yang terlalu di paksakan oleh pihak rumah sakit atau bisa di sebut dengan faktor kelelahan, dimana setiap pelayanan harusnya bekerja hanya 8 jam saja , tapi ada beberapa rumah sakit yang mempekerjakan karyawan hingga 12 jam, akibatnya dapat mengakibatkan medication error. Dampak meication error pada pemerintah lebih cendrung ke pasien yang dibiayai oleh pemerintah (jamkesmas), dimana pasien yang mengalami medication error akan mengeluarkan biaya tambahan untuk mengobati efek dari medication error , yang mana biaya tersebut di keluarkan oleh pemerintah

Penelitian terbaru (Allin Hospital) menunjukkan 2% dari pasien masuk rumah sakit mengalami adverse drug event yang berdampak meningkatnya Length Of Stay (LOS) 4.6 hari dan meningkatkan biaya kesehatan $ 4.7000 dari setiap pasien yang masuk rumah sakit. Temuan ini merubah tujuan pelayanan farmasi rumah sakit tersebut : a fail-safe system that is free of errors. Studi yang dilakukan Bagian Farmakologi Universitas Gajah Mada (UGM) antara 2001-2003 menunjukkan bahwa medication error terjadi pada 97% pasien Intensive Care Unit (ICU) antara lain dalam bentuk dosis berlebihan atau kurang, frekuensi pemberian keliru dan cara pemberian yang tidak tepat. Lingkup perpindahan/perjalanan obat (meliputi obat, alat kesehatan, obat untuk diagnostik, gas medis, anastesi) : obat dibawa pasien di komunitas, di rumah sakit, pindah antar ruang, antar rumah sakit, rujukan, pulang, apotek, praktek dokter. Multidisiplin problem : dipetakan dalam proses penggunaan obat : pasien/care giver, dokter, apoteker, perawat, tenaga asisten apoteker, mahasiswa, teknik, administrasi, pabrik obat. Kejadian medication error dimungkinkan tidak mudah untuk dikenali, diperlukan kompetensi dan pengalaman, kerjasama-tahap proses.

Indeks medication errors untuk kategorisasi errors (berdasarkan dampak) Errors No error Error, no Harm Kategori A B C Hasil Kejadian atau yang berpotensi untuk terjadinya kesalahan Terjadi kesalahan sebelum obat mencapai pasien Terjadi kesalahan dan obat sudah diminum/digunakan pasien tetapi tidak membahayakan pasien

D Error, Harm E

Terjadinya kesalahan, sehingga monitoring ketat harus dilakukan tetapi tidak membahayakan pasien Terjadi kesalahan, hingga terapi dan intervensi lanjut diperlukan dan kesalahan ini memberikan efek yang buruk yang sifatnya sementara Terjadi kesalahan dan mengakibatkan pasien harus dirawat lebih lama di rumah sakit serta memberikan efek buruk yang sifatnya sementara Terjadi kesalahan yang mengakibatkan efek buruk yang bersifat permanen Terjadi kesalahan dan hampir merenggut nyawa pasien contoh syok anafilaktik Terjadi kesalahan dan pasien meninggal dunia

G H Error, death I

BAB II PEMBAHASAN
A. Tahapan Medicatin Error adalah : 1. Fase Prescribing Kesalahan dalam proses prescribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam penulisan resep obat oleh dokter. Misalnya, obat yang diresepkan dosisnya tidak tepat (terlalu besar atau terlalu kecil) untuk pasien. Bila dosisnya terlalu besar bagi pasien, maka dapat menyebabkan efek toksik (keracunan) yang bahkan sampai bisa menyebabkan kematian dan bila dosisnya terlalu kecil, maka efek terapi (penyembuhan) dari obat tersebut tidak tercapai. Contoh lainnya misalnya, tidak jelasnya tulisan dalam resep, keliru dalam menuliskan nama obat atau tidak jelasnya instruksi yang diberikan dalam resep 2. Fase Transcribing Kesalahan dalam proses transcribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam menterjemahkan resep obat di apotek. Misalnya, resep yang keliru dibaca/diterjemahkan sehingga otomatis salah juga obat yang diberikan kepada pasien. Bisa juga karena secara sengaja instruksi yang diberikan dalam resep tidak dikerjakan atau secara tidak sengaja ada instruksi dalam resep yang terlewatkan sehingga tidak dikerjakan. 3. Fase Dispensing Kesalahan dalam proses dispensing merupakan kesalahan yang terjadi dalam peracikan atau pengambilan obat di apotek. Misalnya, obat salah diambil karena adanya kemiripan nama atau kemiripan kemasan, bisa juga karena salah memberi label obat sehingga aturan pemakaian obat atau cara pemakaian obat menjadi tidak sesuai lagi atau mengambil obat yang sudah kadaluarsa 4. Fase Administering Kesalahan dalam proses administering berkaitan dengan hal-hal yang bersifat administrasi pada saat obat diberikan atau diserahkan kepada pasien. Misalnya, karena keliru dalam membaca nama pasien atau tidak teliti dalam memeriksa identitas pasien maka obat yang diberikan/diserahkan juga menjadi salah. Bisa juga karena salah dalam menuliskan instruksi pemakaian obat kepada pasien atau salah memberi penjelasan secara lisan kepada pasien sehingga pasien pun akhirnya salah dalam menggunakan obat tersebut B. Menurut dr.Charles D. Hepler pengelompokan kesalahan proses penggunaan obat adalah sebagai berikut: a. Active failure vs latent failure Active failure adalah kesalahan yang terjadi pada pelayanan lini terdepan, yang dampaknya segera terjadi pada penderita. Latent failure adalah cacat dalam sistem pelayanan yang berkaitan dengan perencanaan, tatakelola, organisasi, pengambilan keputusan, pelaporan, evaluasi, dll b. Error of execution vs error of planning Error of execution adalah kegagalan dalam mengemban tugas yang sudah direncanakan. Error of planning adalah salah perencanaan untuk capai tujuan c. Skill-based behavior errors vs knowledge-based errors

Skill-based behavior errors adalah salah /lupa emban tugas rutin Knowledge-based errors adalah salah persepsi, penilaian, penyimpulan, atau pengertian C. Penyebab Medication Error menurut dr.cohen a. Komunikasi yang buruk, baik secara tertulis (dalam resep) maupun secara lisan (antar pasien, dokter dan apoteker) b. Sistem distribusi obat yang kurang mendukung (sistem komputerisasi, sistem penyimpanan obat, dan lain sebagainya) c. Sumber daya manusia (kurang pengetahuan, pekerjaan yang berlebihan) d. Edukasi kepada pasien kurang e. Peran pasien dan keluarganya kurang

Table 1. Comparison of the Incidence of Medication Administration Errors by Type Categories Buckl Balas Kopp Wolf Prot Handl Colen Flynn Tang Tissot 84 45 44 78 88 77 ey 2006 2006 2006 2005 er 2003 2002 200793 200391 24 92 2007 n= n= n= n= 2004 n= n= n = 72 n = 78 n = 15 127 132 1,305 538 n = 88 1,077 457 Percentages (%) Wrong patient Wrong drug/unau thorized drug Wrong dose Wrong route Wrong time/frequ ency Wrong form Wrong administra tion technique Omission Extra dose Deteriorat ed drug Drug past expiration date Drug 0 26.7 0 26.7 0 20 0 26.7 0 26.4 36.1 8.3 18.1 4.7 10.2 20.5 3.9 37.8 22.0 0 12 0 10 0 14 48 14 0 9.2 8.4 17.2 3.6 16.9 0.4 3.4 19.0 14.1 12 15 19 36 8 3 5 0 2 4.5 11.3 19.3 29.5 0 0.46 1.0 0.19 20.0 0.09 0.19 3.3 13 12 26 4 16 3.7 18.4 1.3 42.9 3.9 0.4 27.6 1.8 Kapb org 199980 n = 37 16.2 13.5 51.4 2.7 5.4 -

reaction/al lergy Infiltration/ extravasat ion Maintenan ce intravenou s fluid/total parenteral nutrition Wrong concentrat ion Wrong drug preparatio n Wrong rate Wrong solution Wrong storage Other/Not specified

8.1

0.8

3.1 -

35.2

0.09 0 1.5

4 19 6

2.7 -

10

20

30

40

50

60

Sumber
Wrong patient
Wrong drug/unauthorized drug Wrong dose Wrong route

Balas 200485
Wrong time/frequency
Wrong form Wrong administration technique Omission Extra dose Deteriorated drug Drug past expiration date Drug reaction/allergy Infiltration/extravasation Wrong concentration Wrong drug preparation Wrong rate Wrong solution Wrong storage Other/Not specified Prot Wolf Tang Kopp Balas Flynn Colen Tissot Buckley Handler Kapborg

Keselam atan Issue Terkait Klinis Practice Tipe MAEs

Tipe Desain

Crosssectional

Studi Desain & Studi Hasil Uku

Rekaman sukarela yang

Studi Pengaturan & Studi Populasi

393 perawat terdaftar penuh

Key Finding(s)

37,8% dari perawat

study

dilaporkan sendiri 14 hari shift kerja, tidur, dan kesalahan menggunakan jurnal

waktu (RNS) di rumah sakit untuk menanggapi survei.

Balas 200684

Tipe MAE

Crosssectional study

Rekaman sukarela yang dilaporkan sendiri 14 hari shift kerja, tidur, dan kesalahan menggunakan jurnal

502 RNS di unit perawatan kritis di seluruh Amerika Serikat

Barker 200287

Types of MAEs

Crosssectional

Pengamatan dari 3.216 dosis yang diberikan oleh perawat di 36 lembaga yang dipilih

12 rumah sakit terakreditasi, 12 rumah sakit tidak terakreditasi, dan 12 rumah

melaporkan kesalahan pengobatan dan kesalahan kecil, rata-rata antara 2 dan 5 kesalahan. Dilaporkan jenis kesalahan pengobatan adalah waktu yang salah (33,6%), dosis yang salah (24,1%), dan obat yang salah (17,2%), dibandingkan dengan tiga jenis kesalahan kecil, yang kesalahan obat (29,3%), kesalahan dosis (21,6%), dan kesalahan pasien (19,0%). Dari 224 kesalahan pengobatan dan 350 kesalahan kecil, 56,7% yang melibatkant obatobatan. Waktu yang salah, kelalaian, dan dosis yang salah menyumbang 77,3% dari MAE, dan dosis yang salah, obat yang salah, dan pasien yang salah menyumbang 77,8% dari dekat meleset. 19% dari dosis berada dalam kesesatan yang termasuk waktu yang salah, 11% tidak termasuk

secara acak

jompo

Buckley 200724

Types of MAEs

Studi kohort prospektif

Pengamatan Dalam ICU langsung lebih medis / bedah dari 6 bulan 16 tempat tidur proses pediatrik di pengobatan, pusat layanan penentuan kesehatan kesalahan akademik tersier aktual dan potensial. Pengamat akan turun tangan jika kesalahan dianggap berbahaya bagi pasien.

Colen 200388

Types of MAEs

Prospective cohort study

Salah satu fase studi evaluasi sistem distribusi obat yang melibatkan pengamatan langsung

1.077 dosis yang diamati pada 1 rumah sakit pendidikan di Belanda

waktu yang salah. Kesalahan yang paling sering selain waktu yang salah adalah kelalaian dan dosis yang salah dalam ketiga jenis lembaga. 263 dosis diamati dan 19% berada dalam kesalahan. Hanya 6% dari dosis dipengaruhi oleh MAE. Kesalahan umum selama pemberian dosis yang salah, waktu yang salah, dosis ekstra, dan teknik yang salah. Penyebab proksimal kesalahan 263 dosis diamati Dan 19% berada Dalam, kesalahan. Hanya 6% Bahasa Dari dosis dipengaruhi Oleh MAE. Kesalahan UMUM selama pemberian dosis Yang salat, waktu Yang salat, dosis ekstrabesar, Dan Teknik Yang salat. Penyebab proksimal kesalahan Administrasi Tingkat MAE adalah 27,2% termasuk waktu yang salah, dan 7,2% tidak termasuk waktu yang salah. Jenis

Grasso 200343

Types of MAEs

Retrospecti ve cohort study

administrasi. Pengamat akan turun tangan jika kesalahan dianggap berbahaya bagi pasien. Review catatan 2.194 kesalahan pasien untuk pengobatan, pasien dimana 1.432 dipulangkan dari adalah Maes, Augusta Mental dari 31 catatan Health Institute pasien di Maine, selama periode 14 minggu

utama dari Maes termasuk waktu yang salah (20,0%) dan kelalaian (3,3%).

Kapborg 199980

Types of MAEs

Retrospecti ve cohort study

Analisis kasus malpraktek dan survei wawancara kecil dengan 8 perawat yang bekerja di panti jompo dan pengaturan perawatan di rumah menggunakan pertanyaan semiterstruktur

Kopp 200645

Types of MAEs

Prospective cohort study

Pengamatan langsung selama 6 bulan oleh 2 warga farmasi yang

68 kasus Maes terjadi di beberapa jenis pengaturan rumah perawatan dan panti jompo selama periode 4 tahun, dilaporkan ke unit pengawasan regional Dewan Nasional Kesehatan dan Kesejahteraan di Swedia 1 ICU 16-tempat tidur medis / bedah di pusat layanan kesehatan

MAE mewakili 65,3% dari semua kesalahan pengobatan. 61,9% dari Maes adalah karena dosis dijadwalkan tidak didokumentasikan sebagai diberikan, 29,1% sebagai obat diberikan tanpa perintah, 8% sebagai dosis yang terlewat karena terlambat transkripsi, dan 3% akibat agar tidak dimasukkan dengan benar di komputer apotek. Mayoritas Maes dibuat oleh perawat yang terlibat dosis di atas apa yang ditentukan dan kapan pemberian obat didelegasikan kepada bawahan staf; mayoritas Maes terlibat salah obat atau konsentrasi salah obat.

Secara keseluruhan, 27% dari dosis yang salah. Dari 132 Ades, 42 (32%)

mengkhususkan diri dalam farmasi perawatan kritis. Warga Farmasi akan turun tangan jika MAE akan mengakibatkan membahayakan pasien.

akademik tersier di Arizona

McCarth y 200086

Types of MAEs

Crosssectional study

Sukarela, dipilih secara acak survei anggota Asosiasi Sekolah Perawat Nasional

649 perawat sekolah (tingkat respon 64,9%) di Amerika Serikat

Prot 200578

Types of MAEs

Prospective cohort study

Pengamatan langsung perawat memberikan obat-obatan kepada pasien. Pengamat akan turun tangan jika MAE akan mengakibatkan membahayakan pasien.

1.719 dosis diamati pada 4 unit di rumah sakit pendidikan anak di Paris, Prancis.

dikaitkan dengan administrasi pengobatan. Sekitar setengah dari mereka (48%) adalah kesalahan dari kelalaian. Jenis kesalahan umum lainnya adalah dosis yang salah, dosis ekstra, dan teknik yang salah. Tiga puluh tujuh (34%) dari Ades dikaitkan dengan administrasi pengobatan dianggap Ades potensial, dan hanya 3 dari mereka dicegat. 48,5% responden melaporkan kesalahan pengobatan, dan sebagian besar jenis kesalahan yang tidak terjawab dosis dan dosis berdokumen. 27% dari dosis yang di error (538 Maes). Salah kesalahan-time adalah 36% dari Maes, salah rute adalah 19%, dosis yang salah adalah 15%, dan unordered obat adalah 10%. Risiko dari MAE meningkat jika obat itu diberikan oleh perawat magang, badan staf perawat sementara, atau

Schneid er 199825

Frequen cy and types of MAEs

Crosssectional

pengamatan langsung

275 dosis diamati pada ICU anak di Swiss

Taxis 200389

Types of MAEs in Intraveno us (IV) drug administr ation

Crosssectional

Observasi etnografilangsung perawat obat administrasi

Dosis obat 430 IV diamati untuk perawat yang bekerja di bangsal 10 di 2 rumah sakit di Inggris.

perawat kolam renang (OR = 1,67, P = 0,03) dan jika obat sudah disiapkan oleh apotek (OR = 1,66, P = 0,02). 26,9% dari dosis yang dalam kesalahan termasuk kesalahan yang salah-waktu, 18,2% tidak termasuk kesalahan yang salah-waktu. Jenis kesalahan umum lainnya adalah persiapan dosis yang salah dan teknik administrasi salah. Secara keseluruhan tingkat kesalahan 49%, kesalahan yang salah-waktu tidak dihitung. Dari 212 kesalahan diamati, 38% melibatkan pemberian dosis bolus terlalu cepat, dan kesalahan persiapan menyumbang 15%. Mayoritas persiapan kesalahan oleh perawat yang terlibat dosis memerlukan persiapan beberapa langkah,

Taxis 200390

Types of MAEs in IV drug administr ation

Crosssectional

Ethnographic direct observation of nurses administering medications

22 perawat staf pada 2 unit di sebuah rumah sakit Jerman diamati pemberian dosis 122 IV.

Tissot 200391

Type of MAEs

Prospective cohort study

Pengamatan langsung perawat memberikan obat-obatan kepada pasien oleh seorang apoteker

Kedokteran ICU di Perancis

Ven den

Frequen

Cross-

Pengamatan

233 administrasi

khususnya mempersiapkan dosis yang salah atau memilih salah pelarut. Secara keseluruhan tingkat kesalahan 48%. Salah kesalahan-waktu tidak dihitung. Dari kesalahan, proporsi terbesar terjadi selama prosedur persiapan obat multiple-langkah, dan terbesar kedua memberikan obatobatan yang tidak kompatibel melalui jalur yang sama. Mayoritas persiapan kesalahan oleh perawat yang terlibat mempersiapkan dosis yang salah atau memilih salah pelarut. Dari 2.009 tindakan keperawatan diamati, 132 (6,6%) berada dalam kesesatan. Dosis yang salah adalah yang paling sering error, diikuti dengan tingkat salah administrasi, kesalahan dalam persiapan, dan ketidakcocokan fisikokimia. Secara

Bernt 200294

cy and type of MAEs

sectional

langsung dari perawat memberikan obat untuk pasien

narkoba di 2 rumah sakit Belanda

Wirtz 200337

Types of MAEs in IV drug administr ation

Crosssectional

Pengamatan etnografiterselubung perawat menyiapkan dan memberikan obat-obatan

337 persiapan obat dan pemberian obat 278 diamati pada 2 Jerman dan salah satu rumah sakit Inggris.

Wolf 200644

Types of MAEs

Retrospecti ve cohort

Analisis Maes dilaporkan 1

Maes dilaporkan oleh 1.305

keseluruhan, 104 dosis memiliki kesalahan (44,6%) termasuk waktu yang salah, 77 (33%) tidak termasuk waktu yang salah. Jenis kesalahan yang paling umum adalah persiapan dosis yang salah dan teknik administrasi salah. Mayoritas Maes dikaitkan Artikel Baru kelalaian (19%), dosis Yang salat (17%), waktu salat Yang (17%), Dan dosis ekstrabesar (14%). Penyebab Utama Maes dilaporkan kinerja (manusia) defisit (51%), Prosedur / Protokol tidak diikuti (32%), Dan pengetahuan defisit (27%). Bahasa Dari faktor dilaporkan, 78% adalah KARENA kurangnya pengalaman staf. Ketika MAE terjadi, 55% bahasa Dari staf Yang membuat kesalahan diberitahu Dan 44% menerima Pendidikan / PELATIHAN. Mayoritas Maes dikaitkan dengan

study

Januari 1999, dengan tanggal 21 Desember 2003 oleh mahasiswa keperawatan selama fase administrasi

mahasiswa keperawatan dalam program USP MEDMARX

kelalaian (19%), dosis yang salah (17%), waktu yang salah (17%), dan dosis ekstra (14%). Penyebab utama Maes dilaporkan kinerja (manusia) defisit (51%), prosedur / protokol tidak diikuti (32%), dan pengetahuan defisit (27%). Dari faktor dilaporkan, 78% adalah karena kurangnya pengalaman staf. Ketika MAE terjadi, 55% dari staf yang membuat kesalahan diberitahu dan 44% menerima pendidikan / pelatihan.

D. Penyebab Medication Error menurut American Society of Consultant Pharmacists (ASCP) a. Kekurangan pengobatan (Under use of medication) yang terdiri dari : Ada indikasi pasien tidak dirawat / ditangani dengan baik, misalnya pasien tidak diberi obat yang dibutuhkannya. Kekurangan dosis obat yang diberikan (subtherapeutic dosage), misalnya pasien diberi obat yang tepat, tetapi dalam dosis yang tidak sesuai atau kurang dari yang seharusnya. b. Kelebihan pengobatan (Overuse of medications) terdiri dari : Pemberian obat tanpa indikasi yang jelas, misalnya pemberian antibiotika terhadap pasien tanpa gejala infeksi atau kemungkinan menderita penyakit infeksi. Kelebihan dosis (overdosage), misalnya dosis yang diberikan melebihi kebutuhan pasien (dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan pasien). c. Pemberian obat yang tidak cocok (Use of inappropriate medications), misalnya pemilihan obat tidak tepat (improper drug selection). d. Reaksi obat yang tidak diinginkan E. Menurut Committee Of Identifying and Preventing Medical Error, penyebab terjadinya Medical Error adalah: a. Dosis

b.

c.

d.

e.

Dosis merupakan hal yang paling utama dalam pemberian obat,ikutilah dosis yang di anjurkan. Terkadang ketika seseorang sakit,karna ingin cepat sembuh seketika itu juga ia minum obat dalam jumlah tertentu melebihi dosis yang dianjurkan. Padahal itu adalah kesalahan yang cukup fatal. Misal aturan pakai suatu obat 3x1 tablet,artinya tiga kali sehari satu tablet lebih baik lagi jika kita atur jam minumnya 243=8 berarti minum obat tiap 8 jam,untuk waktunya silahkan atur sendiri sesuai dengan aktivitas anda sehari-hari. Jika minum obat 3 tablet sekaligus pada pagi hari itu juga salah,karena itu akan mempengaruhi dosis satu kali dan dosis maksimal satu hari. Jika kita menemukan dosis 1x1 itu boleh diminum pagi/siang/malam tetapi usahakan kalau diminum pagi semuanya harus pagi. Jika kita menemukan dosis 5 tetes/hari itu boleh diminum tidak beraturan misal pagi 2 tetes,siang 2 tetes,malam 1 tetes yang penting 5 tetes/hari. Signa/aturan pakai Ada beberapa obat yang memang mempunyai signa tertentu seperti : Antasida diminum sebelum makan Antihipertensi diminum dalam keadaan perut kosong Antibiotik harus dihabiskan Obat diminum sebelum makan bukan berarti kita minum obat dulu kemudian dilanjutkan dengan makan,sebaiknya berilah jarak waktu setengah atau satu jam sebelum makan,karena itu akan mempengaruhi reaksi obat didalam tubuh. Seperti antasida diminum sebelum makan karena untuk menetralkan asam lambung. Jangka waktu pengobatan Jangka waktu pengobatan minimal adalah tiga hari. Ketika kita minum obat tidak seketika itu juga langsung sembuh,jadi bersabarlah. Obat luar dan obat dalam Obat menurut pemberiannya terbagi dua macam yaitu obat luar dan obat dalam. Hati-hatilah dalam menggunakan obat. Contoh obat dalam yaitu tablet,kapsul,sirup dan contoh obat luar adalah salep,obat gosok,krim. Kasus yang biasanya terjadi di masyarakat adalah obat luar dijadikan obat dalam,sebagai contoh salep/minyak gosok tertentu yang memang bukan untuk sakit gigi tetapi dijadikan obat sakit gigi,termasuk obat luar lainnya tidak boleh digunakan untuk obat dalam. Efek samping dan indikasi Ada beberapa obat yang mempunyai indikasi tertentu dan efek samping tertentu seperti antialergi biasanya mempunyai efek samping mengantuk. Kesalahan yang terjadi antialergi dijadikan obat tidur. Analgetik/pereda nyeri biasanya mempunyai efek samping nafsu makan dan kasalahan yang terjadi ada yang menggunakan analgetik sebagai vitamin nafsu makan,padahal maskipun ia nafsu makan dan berbadan gendut misalnya,gendut nya itu bukan gendut sehat. Jadi jangan terbalik antara indikasi dan efek samping.

F.

Menurut dr. Richard Segal, strategi pencegahan Medication Error adalah a. Optimasi Proses Penggunaan Peresepan: pembakuan penulisan resep, peresepan elektronik, clinical decision support systems. Transkripsi: catatan medik elektronik. Peracikan: bar code technology. Pemberian: pengecekan ulang, penggunaan pompa suntik/infus.

Medication reconciliation b. Eliminasi Faktor Risiko Cegah kelelahan dan kebosanan Cegah kebisingan dan kerumitan Pelatihan untuk tingkatkan pengetahuan dan keterampilan c. Oversight dan Error Interception Teamwork/team approach dalam pelaporan pasif dan aktif: klinisi, patologis, farmakologis, farmasis,perawat. Information Technology Licensing, certification/recertification Accreditation G. Beberapa usaha yang bisa dilakukan antara lain: a. Menulisakan resep obat dengan menggunakan sistem komputerisasi sehingga resep dapat lebih mudah dibaca/diterjemahkan, membuat standarisasi dalam penulisan resep obat misalnya penggunaan singkatan-singkatan dalam resep, melakukan pendidikan (training) kepada setiap tenaga kesehatan yang terlibat dalam proses pengobatan, melakukan konseling terhadap pasien pada saat penyerahan/pemberian obat, dan melakukan double check terhadap permintaan resep atau terhadap identitas pasien sebelum memberikan/menyerahka n obat. b. Untuk pasien, hal yang bisa dilakukan antara lain : Bertanya kepada tenaga kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan yang sedang dijalaninya misalnya untuk apa obat tersebut digunakan, bagaimana aturan pakainya, sampai kapan obat dipakai.Bisa juga dengan melihat informasi obat atau penyakitnya melalui internet sehingga pengetahuan pasien pun tentang penyakit dan obatnya dapat bertambah. c. Sedangkan bagi pemerintah beberapa hal yang biasa dilakukan antara lain : mengatur pembuatan kemasan obat agar tidak terlalu mirip dan dapat dibedakan secara spesifik satu sama lain atau bisa juga dengan membentuk suatu lembaga independen yang khusus memantau dan mencari solusi terhadap Medication Error Tentunya ke depan kita berharap akan ada banyak lagi usaha yang bisa di lakukan untuk mencegah atau meminimalkan terjadinya Kesalahan Pengobatan (Medication Error) ini dengan harapan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, aman dan dapat di percaya Oleh karena itu, dalam pelayanan resep Apoteker harus melakukan skrining resep yang meliputi: a. Persyaratan administratif (nama, SIP dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan / paraf dokter penulis resep, nama, alamat, umur jenis kelamin dan berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis dan jumlah yang diminta, cara pemakaian yang jelas, informasi lainnya). b. Kesesuaian farmasetika (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian). c. Pertimbangan klinis ( efek samping, alergi, interaksi, kesesuaian indikasi, dosis, pasien, dan lainlain).