Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU DIAGNOSA KLINIK

DIARE PADA KUCING HUTAN dan PARASIT PADA KUCING PERSIA di Klinik Pendidikan Dokter Hewan Universitas Brawijaya

Oleh : Mohan Ari Yusvani Nur R Wisdiani Putri Dwi Tintus G.C.P.S Bayu Noviaji 105130101111076 105130101111082 105130101111083 105130101111084 105130101111085

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Klinik hewan merupakan sebuah tempat pelayanan kesehatan hewan terpadu, khususnya bagi hewan kesayangan. Klinik didukung dengan sistem pelayan publik seperti administrasi yang baik, laboratorium klinik, radiologi, instalasi farmasi, sistem rekam medis, ruang operasi, dan rawat inap. Klinik yang baik memiliki manual prosedur yang terstruktur untuk pelayanan. Seperti halnya klinik hewan pendidikan yang dimiliki oleh Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya sebagai sarana pendidikan bagi mahasiswa program studi pendidikan kedokteran hewan. Mahasiswa dapat mempelajari beberapa kasus kesehatan, khususnya hewan kesayangan, pada kejadian lapangan secara langsung. Masalah kesehatan hewan merupakan hal penting dibidang peternakan dan hewan kesayangan. Menjaga kesehatan hewan berarti melakukan tindakan pencegahan terhadap

kejadian penyakit, baik bagi ternak dan juga pemilik ataupun peternak, sekaligus menjaga produksi dan produktivitas ternak dan hewan kesayangan. Secara umum penyebab penyakit pada hewan dapat berupa agen infeksius dan non infeksius. Keluhan atau gejala yang biasa terjadi pada hewan kesayangan diantaranya ialah diare. Diare merupakan gejala dari suatu penyakit, baik penyakit infeksius ataupun non infeksius. Agen infeksi antara lain bakteri, virus, parasit, protozoa dan jamur, sedangkan yang termasuk agen non infeksi antara lain faktor lingkungan, cuaca, suhu dan faktor dari dalam tubuh hewan itu sendiri, misalnya umur, kelamin dan genetik (Djari, 2000). Penyakit yang umum menyerang hewan kesayangan di Indonesia adalah kutu dan cacing. Keadaan tersebut dimungkinkan karena rendahnya aspek pencegahan penyakit pecinta hewan kesayangan, manajemen pemeliharaan yang kurang baik dan kurangnya tenaga paramedis atau dokter hewan untuk melakukan pencegahan maupun penanganan penyakit (Blood, 1989). Pada praktikum diagnosa klinik kali ini, mahasiswa dapat belajar bagaimana melakukan prosedur pemeriksaan hewan dan pemberian terapi yang tepat di Klinik Pendidikan Dokter Hewan Universitas Brawijaya.

1.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui alur administrasi dalam klinik 2. Mengetahui cara diagnosa awal pada pasien 3. Mengetahui teknik pemeriksaan pada pasien 4. Mengetahui cara pemberian terapi pada pasien

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kucing Hutan (Felis bengalensis) Kucing Hutan/Macan Akar (Felis bengalensis) berukuran sama seperti kucing rumahan. Bulu tubuhnya halus dan pendek. Warnanya khas, yaitu kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di bagian kepala sampai tengkuk. Selebihnya bertotol-totol hitam. Pola warna ini sama sekali tidak terdapat pada kucing-kucing liar lainnya. Bagian bawah perut putih dengan totol-totol coklat tua. Ekornya panjang, lebih dari setengah panjang badannya. Kucing hutan selalu tampak berkeliaran, sendirian atau berpasangan jantan dan betina. Klasifikasi ilmiah Kucing Hutan: Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus : Animalia; : Chordata; : Mamalia; : Carnivora; : Felidae; : Felis

Habitat Kucing Hutan (Felis bengalensis) Tempat hidup yang dihuninya ialah hutan dan kawasan bertetumbuhan di dekat perkampungan. Kucing ini mempergunakan sarang yang dibuatnya di gua-gua yang kecil atau di liang-liang batu. Pada siang hari kucing ini tidur di sarang ini, baru pada malam hari keluar mencari mangsa. Mangsanya berupa binatang-binatang kecil apa saja, seperti burung, kelelawar, tikus, ular, kadal dan juga kancil. Ketangkasannya memanjat pohon dan kemahirannya berenang sangat membantu di dalam perburuannya mencari mangsa. Kucing hutan sering melompat dari atas pohon untuk menerkam mangsa di atas tanah. Penyebarannya luas, mulai dari Lembag Amur di Rusia sampai ke Cina, India dan Asia Tenggara. Di Indonesia, kucing ini ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan.

2.2 Kucing Domestik (Felis catus) Kucing domestik (Felis catus) menempati sebagian besar penjuru dunia. Bukti

arkeologi menunjukkan domestikasi kucing terjadi di Near East sekitar 9000 10 000 tahun yang lalu. Namun inisiasi domestikasi mungkin dimulai ribuan tahun yang lalu di mana manusia dan nenek moyang kucing menjadi semakin saling ketergantungan. Proses domestikasi mungkin dimulai selama periode ketika manusia berhenti berburu kawanan hewan liar dan mengadopsi lebih banyak gaya hidup pertanian, terutama di Fertile Crescent. Perubahan ini terjadi 10 000 11 000 tahun yang lalu dan dimungkinkan oleh domestikasi serealia liar tertentu dan rumput-rumputan. Hubungan manusia dan kucing bermanfaat untuk mengontrol tikus yang merusak tanaman, yang juga telah bergabung dengan peradaban manusia. Menurut Wastlhuber (1991) kucing domestik yang ada sekarang ini merupakan evolusi dari kucing liar Afrika (F. silvestris lybica) di zaman Mesir kuno sekitar 3000 4000 tahun lampau. Meskipun banyak kucing yang menjadi hewan peliharaan, kucing modern tidak didomestikasi secara penuh dalam pengertian klasik. Kucing modern tetap mandiri jika diperlukan, dengan mempertahankan kemampuan berburu yang tajam bahkan ketika makanan tersedia, dan menunjukkan spektrum perilaku mulai dari hewan peliharaan yang tidak dapat dijinakkan hingga hewan peliharaan yang sangat lembut. Kucing tersebar ke hampir seluruh bagian dunia lama, mungkin sepanjang rute perdagangan antara peradaban kuno. Meskipun menyebar dengan cepat, kucing tetap mirip dengan nenek moyang mereka yaitu kucing liar (Felis silvestris subspp) dalam bentuk dan fungsi. Spesies nenek moyang kucing domestik tetap kompatibel dengan pertanian manusia. Alur gen antara kucing liar dan jinak yang modern, dan antara kucing modern dan subspesies kucing liar, belum berdampaknegatif dalam peran kucing sebagai karnivora kecil di ekosistem yang didominasi oleh manusia. Bahkan, dengan adanya sekelompok liar

kucing modern di sekitar pinggiran desa dan pertanian telah menguntungkan untuk pengendalian hama danpenyakit zoonosis terkait (Lipinski et al. 2007).

Adapun klasifikasi F. catus menurut LaBruna (2001) adalah sebagai berikut: Kingdom Filum kelas ordo famili genus spesies : Animalia : Chordata : Mammalia : Carnivora : Felidae : Felis : Felis catus Menurut laporan Convention of

Famili kucing (felidae) terdiri dari 76 spesies.

International Trade of Endangered Species (CITES 2011). Kucing domestik adalah salah satu felidae yang tidak termasuk dalam spesies hewan liar (Hermansson 2006).

Gambar Kucing Domestik Felis catus merupakan salah satu dari famili felidae yang berukuran kecil, tetapi merupakan predator yang cerdas dan efisien. Karakteristik fisik yang dimiliki kucing antara lain tubuh yang fleksibel dan padat, penglihatan dan adaptasi visual yang tajam pada malam hari, cakar (kuku) yang dapat ditarik masuk, gigi yang tajam, dan pengurangan jumlah gigi mencerminkan adaptasi karnivora. Jambang yang panjang, kaki depan mampu berotasi sehingga pads mampu mencapai muka saat proses washing, kaki belakang kucing mempunyai kekuatan yang sangat besar sehingga dapat membantu kucing pada saat akan menerkam, dan ekor yang panjang serta fleksibel membantu menjaga keseimbangan (Edwards 2005).

2.2 Diare Penyebab diare pada kucing bisa infeksi maupun bukan infeksi. Diare yang disebabkan bukan karena infeksi biasanya disebabkan oleh perubahan menu makanan, atau karena obat. Sedangkan diare karena infeksi disebabkan virus, jamur, bakteri maupun parasit. Yang penting pada saat kucing terkena diare, perhatikan tanda-tanda dehidrasi, jika perlu bawa ke dokter hewan untuk diberi infus guna memasukkan cairan ke tubuhnya. Adapun tanda-tanda dehidrasi pada kucing dapat dibagi menjadi: 1. Dehidrasi ringan, jarang buang air kecil, atau sedikit, mata kering, mulut kering 2. Dehidrasi sedang, tampak lemas, mata suram (biasanya kucing yang sehat matanya cerah), kulit kering, semakin jarang buang air kecil 3. Dehidrasi berat, sangat lemas, tidak mau minum sama sekali, tidak buang air kecil lebih dari sehari, kulit tidak kembali jika dicubit.

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan Alat 1) Spuit 1cc 2) Stetoskop 3) Penlight 4) Termometer 5) Otoskop Bahan Pada Kasus Diare Pada Kucing Hutan 1) Air 2) Antasida 3) Neo Kaominal 4) Oralit Pada Kasus Parasit Pada Kucing Domestik 1) Air 2) Selamectin 3) Alkohol 4) Combantrin 5) Pyrantel pamoat

3.2 Prosedur Kerja Sebelum dokter hewan memeriksa keadaan pasien yang datang maka pemilik hewan yang sakit tersebut hendaknya memberitahu identitas serta keadaan hewan tersebut. Supaya mempermudah dokter hewan dalam mendata kondisi hewan, mendiagnosis abnormalitasnyadan identitasnya maka diperlukan sebuah kertas yang biasa disebut Ambulator.Ambulator terdiri dari beberapa bagian yaitu : 1. Sinyalement Termasuk didalamnya yaitu : - Nama hewan

- Jenis hewan - Jenis kelamin - Warna bulu - Umur hewan Semua hal tersebut sangat penting untuk diketahui lebih dulu guna mengambil tindakan lenih lanjut, hal ini dikarenakan dapat memudahkan dalam penanganannya agar tepat sasaran, misalnya tiap jenis hewan, jenis kelamin, umur dan ras mempunyai kelemahan yang berbeda-beda pada masing-masing hewan.

2. Anamnesa adalah menggali informasi yang berkaitan dengan penyakit hewan tersebut pada pemilik atau orang yang membawanya.Anamnesis dibagi 3, yaitu : anamnesis saat itu, anamnesis masa lalu, dan anamnesisumum serta tinjauan lingkungan.Pertanyaan yang umum diajukan saat anamnesa meliputi: - Nafsu makan - Apakah sudah pernah di beri obat cacing atau vaksin sebelumnya - Gejala yang timbulcontoh: muntah berapa lama? warna? Konsistensi

3. Inspeksi pemeriksaan dengan melihat saja.

4. Palpasi Bertujuan untuk mendeteksi perubahan-perubahan patologik organ/jaringanyaitu pada ukuran, bentuk, konsistensi dan temperatur. Ada 2 macam palpasi, yaitu palpasi secara langsung (menggunakan jari-jari, satu atau dua tangan) dan palpasisecara tidak langsung (menggunakan bantuan sonde/probe).

5. Perkusi Bertujuan untuk memeriksa kelainan-kelainan pada torak (paru dan jantung), rongga abdominal, sinus paranasal, emfisema subkutan. Pada hewan besar dilakukandengan bantuan pleksimeter dan palu perkusi, pada hewan kecil dilakukan dengan jaritengah yang satu sebagai pleksimeter dan jari tengah yang lain sebagai palu.

6. Auskultasi Bertujuan untuk mendengarkan suara yang dihasilakan oleh aktivitasfungsional suatu organ tubuh (pemeriksaan paru-paru, trakhea, jantung, dan bagian- bagian dari saluran digesti). Auskultasi biasa dilakukan dengan memakai stethoscope.

7. Metoda diagnosa lain - Radiologi, kateter - Lab : kimiawi, hematologi, bakteriologi, parasit

Pemeriksaan klinik pada mamalia dibagi 2 bagian, yaitu : 1. Pemeriksaan umum, termasuk inspeksi umum. 2. Pemeriksaan regional (umumnya pada hewan besar, contoh : sapi) dan ataus istematik (umumnya pada hewan kesayangan, contoh : kucing)

Pada rekam medis yang harus dicatat dan diperiksa adalah: - Temperatur Rektal - Frekuensi Pulsus - Freekuensi Nafas - Berat Badan - Kondisi Umum - kulit Bulu - Membrana Mukosa - Kelenjar Limfa - Muskuloskeletal - Sistem Sirkulasi - Sistem Respirasi - Sistem Digesti - Sistem Urogenital - Sistem Saraf - Mata Telinga

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Kasus Diare Pada Pasien Hutan Nama Pemilik : Haris Alamat : Jalan Jakarta Dalam, Malang

Signalement Pasien 1 Nama Hewan Jenis Hewan Warna Kelamin Umur Berat Badan Kondisi Umum Perawatan Habitus Gizi : Baik : Liar : Kurang : Cipi : Kucing Hutan : Coklat Hitam : Betina : 3 Bulan : 400 gram

Pertumbuhan Badan : Baik Sikap Berdiri Suhu Tubuh Anamnesa Pemilik melaporkan bahwa kucing baru didapatkan 1 minggu sebelum dibawa ke klinik melalui pengiriman luar pulau. Selama perawatan, pemilik memberi pakan berupa lele mentah. Dan sehari sebelum pemilik membawa ke klinik, pada pagi hari kucing tidak makan dan malam hari kucing mengalami muntah dan diare. : Tegak : 37,4 C

Signalement Pasien 2 Nama Hewan Jenis Hewan Warna Kelamin Umur Berat Badan Kondisi Umum Perawatan Habitus Gizi : Baik : Liar : Kurang : Cipo : Kucing Hutan : Coklat Hitam : Jantan : 3 Bulan : 400 gram

Pertumbuhan Badan : Baik Sikap Berdiri Suhu Tubuh Anamnesa Pemilik melaporkan bahwa kucing baru didapatkan 1 minggu sebelum dibawa ke klinik melalui pengiriman luar pulau. Selama perawatan, pemilik memberi pakan berupa lele mentah. Dan dua hari sebelum pemilik membawa ke klinik, kucing tidak makan dan malam hari kucing mengalami muntah dan diare. : Tegak : 36,7 C

Diagnosis Prognosis Terapi

: Hewan diduga mengalami dehidrasi dan diare : Fausta : Antasida, Oralit, dan Neo Kaominal

4.1.2. Kasus Parasit Pada Kucing Persia Nama Pemilik : Rizal Maulana Alamat : Jl.Bendungan Sutami , Malang

Signalement Pasien Nama hewan Jenis hewan Jenis kelamin Warna bulu Umur Anamnesa Check Up dan pemeriksaan - Temperatur Rektal - Pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan termometer kedalam anus kucing selama beberapa saat.Hasilr pemeriksaan = 39,7C - Temperatur normal kucing = 37,8C 39,2C - Frekuensi Pulsus - Bagian yang mudah digunakan dalam menghitung pulsus adalah kaki belakang kiri dengan dua tangan. - Hasil pemeriksaan = Tidak dapat dihitung karena kucing dalam keadaan takut.Frekuensi pulsus normal kucing = 110-130/menit : Grey dan Joe : Kucing Persia : Jantan : Putih Abu-abu : 8 Bulan

- Frekuensi Nafas - Di dapat dengan cara menghitung pergerakan thorax kucing.Hasil pemeriksaan = 52 kali / menit Frekuensi nafas normal kucing = 20-30 kali / menit. Pemeriksaan frekuensi nafas kucing yang kami periksa jauh di atas normal mungkin disebabkan kucing sangat ketakutan. - Berat Badan - Penimbangan berat badan di lakukan untuk mengetahui kurus tidaknya kucing. Hasil pemeriksaan = 1 ,2 kilogram - Sikap tubuh - cara berdiri (postur), dan berjalan juga harus diperhatikan. Kerena abnormal postur kadang merupakan indikasi penyakit, misalnya saja penyakit pada tulang, persendian, tendon, muskulus, saraf, laminitis, osteo distrofibrosa, peningkatan tonus muskulus pada tetanus. - Kulit Bulu Pada pemeriksaan kulit dan bulu perlu diperhatikan: warna bulu, keadaan bulu,elastisitas kulit, permukaan kulit, pruritis, kelenjar lemak, kelenjar keringat, dan bau. Mengetahui elastisitas kulit dapat dilakukan dengan mencubit menarik melepaskembali pada bagian leher, punggung, rusuk. Hasil pemeriksaan = terdapat lesi menunjukan adanya kutu pada kulit - Membrana Mukosa Untuk mengetahui normal tidaknya aliran darah maka dapat diketahui dengan menekan gusi hewan dengan jari kemudian melepaskannya.hal ini bertujuan untuk memeriksa waktu isi ulang kapiler. Ketika sebuah daerah gusi ditekan darah dipaksa keluar dari kapiler. Ketika tekanan dilepaskan darah harus segera mengisi ulang kapiler. Waktu normal yang diperlukan untuk kapiler isi ulang pada anjing dan kucingadalah 1,5 detik. Sebuah waktu isi ulang yang berkepanjangan (CRT) terjadi ketika darah tidak cukup mengalir. Hal ini bisa terjadi jika hewan dalam keadaan shock. Halini juga dapat terjadi akibat penyakit jantung tertentu. Pemeriksaan juga dapat dilakukan pada mukosa mulut dan mata. Hasil pemeriksaan = berwarna merah muda

- Kelenjar Limfa Minimal 4 kelenjar yang harus diperiksa : 1. kelenjar cervical di sekitar rahang 2. popliteal sekitar kaki belakang 3. axillaris di ketiak 4. mesenterika di abdomen Hasil pemeriksaan = Normal - Muskuloskeletal Pemeriksaan muskuloskeletal dengan melakukan palpasi sendi, kepala leher, kaki.Biasanya untuk mengetahui ada tulang yang patah atau tidak. Hasil pemeriksaan = Normal - Sistem Sirkulasi Pemeriksaan sirkulasi dengan bantuan stethoscope. Periksa suara jantung untuk mengetahui adanya thrill, arithmia ataupun murmur. Hasil pemeriksaan = Normal - Sistem Respirasi Pada pemeriksaan respirasi perlu diperhatikan: gerakan cuping hidung, caracara bernafas, discharge nasal, rongga/sinus hidung, lgl. Submaxillaris, batuk/tidak, larynx,trachea, perkusi, dan auskultasi thorax, perlu diperhatikan juga mengenai kecepatan(rate), type (karakter), ritme (irama), dan dalamnya (intensitas). Variasi kecepatanrespirasi disebabkan karena ukuran tubuh, umur, setelah melakukan exercise, bunting,dan sehabis makan kenyang (dikarenakan karena rumen penuh makanan) Hasil Pemeriksaan = Normal - Sistem Digesti Meliputi pemeriksaan halitosis mulut gigi tonsil kelenjar ludah, muntah, diare, palpasi abdomen (untuk memeriksa usus halus, kolon, limpa, hepar), feses (frekuensi, warna,konsistensi), parasit. Hasil pemeriksaan = Normal - Sistem Urogenital - Frekuensi minum (naik,turun) - Urine (naik,turun,dsyuria)

- Palpasi (kemih, ginjal) - Jantan (penis, preputium, scrotum, testis, prostat) Hasil pemeriksaan = Normal - Sistem Saraf -Disposisi (tidak pada tempatnya) -Trauma kepala -Scizure (kejang) Hasil pemeriksaan = Normal - Mata Telinga -Mata : entropion, ektropion, distichhiasis, epiphora, posisis bola mata -Kornea : ulcer, lascrasi, keratitis -Pinna : luka, lesi -Kanal: wax, infeksi ektoparasit (tungau octodectesear mite) apabila ada serumen berbau dan berwarna putih itu akibat dari infeksi bakteri.

Hasil pemeriksaan Diagnosis Prognosis Terapi

: nafsu makan berkurang dan bulu rontok : hewan diduga terkena cacingan dan kutu. : Fausta : Selamectin dan pyrantel pamoat

4.2 Pembahasan 4.2.1 Kasus Diare Pada Kucing Hutan Pada kucing normal, frekuensi BAB antara 1 2 kali sehari, dengan bentuk kotoran yang padat. Jika terkena diare, maka frekuensi BAB menjadi lebih sering, dan berbentuk cair, berlendir dan kadang-kadang terdapat darah di kotorannya. Penyebab diare antara lain :

Penyumbatan (hairball atau benda asing) Kolitis. Diet: Ada kemungkinan beberapa diet yang terkait bisa menyebabkan diare. perubahan mendadak dalam makanan kucing Anda dapat menyebabkan diare. alergi makanan juga dapat menyebabkan diare. Sapi susu atau produk susu menjadi penyebab umum seperti kucing banyak laktosa. Makanan lain juga dapat menyebabkan intoleransi makanan pada kucing Anda.

Obat atau racun (tanaman, racun dll). Eksokrin pankreas insufisiensi Hipertiroidisme Infeksi: bakteri (Salmonella, Campylobacter), virus (FIV, FeLV, Panleukopenia, rotavirus), protozoa (Giardia, Cryptosporidium), parasit (cacing kucing).

Inflamasi usus Penyakit Penyakit ginjal. Penyakit hati. Neoplasia (limfoma, karsinoma & lainnya). Pankreatitis.

Pengobatan 1. Antasida doen 1 jam sebelum makan dosis 0,4 cc 2. Neo Kaominal beberapa saat sebelum makan dosis 0,4 cc 3. Oralit sesering mungkin

A. Antasida Antasida adalah golongan obat yang digunakan untuk menetralkan asam di lambung. Secara alami lambung memproduksi suatu asam, yaitu asam klorida (HCl) yang berfungsi untuk membantu proses pencernaan protein. Antasida bekerja dengan cara menetralkan lambung yang terlalu asam. Selain menetralkan asam lambung, antasida juga meningkatkan pertahanan mukosa lambung dengan memicu produksi prostaglandin pada mukosa lambung. Efek Obat dan Efek Sampingnya Disamping efek pengobatan yang diinginkan,obat dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Bahan Aktif

Kegunaan

Efek Samping

Alumunium Hidroksida Menetralkan lambung

asam Konstipasi, dapat terjadi mual muntah, dapat mengurangi absorpsi bermacammacam vitamin dan tetrasiklin

Magnesium Hidroksida

Menetralkan lambung

asam Diare, sebanyak 5-10 % magnesium diabsoprsi dan dapat menimbulkan

kelainan neurologi, neuromuskular, dan kardiovaskular. Antasida yang terdiri dari kombinasi alumunium hidroksida dan magnesium hidroksida dipilih karena menghasilkan efek non sistemik dengan masa kerja panjang. Antasida non sistemik hampir tidak diabsorbsi di dalam usus sehingga tidak menimbulkan alkalosis metabolik. Kombinasi ini diharapkan dapat mengurangi efek samping dari obat. Indikasi Untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak usus dua belas jari dengan gejal-gejala, seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati. Kontra Indikasi: Jangan diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal yang berat karena menimbulkan hipermagnesia (kadar magnesium dalam darah meningkat). Hal yang perlu diperhatikan: 1. Tidak dianjurkan digunakan terus menerus selama lebih dari dua minggu, kecuali atas petunjuk dokter. Bila sedang menggunakan obat tukak lambung lain, seperti simetidin atau antibiotika tetrasiklin, sebaiknya diberikan dengan selang waktu 1-2 jam. 2. Hati-hati pemberian pada penderita diet fosfor rendah dan pemakaian lama, karena dapat mengurangi kadar fosfor dalam darah.

B. Neo Kaominal Deskripsi : Jenis obat dalam bentuk suspense dan termasuk dalam kelompok obat Antidiare. Mekanisme Kerja ; meningkatkan viskositas usus secara langsung. Indikasi : Diare, disentri, colitis ulseratif kronis Kontraindikasi ; Glaukoma, Penyakit adrenal dan hati, hipersensitivitas. Efek Samping ; pandangan kabur, mulut kering, kulit kering. C. Oralit Oralit diberikan pada penderita diare guna mencegah dehidrasi. Oralit merupakan campuran garam elektrolit, seperti natrium clorida ( NaCL ), kalium klorida ( KCL ) dan trisodium sitrat hidrat, serta glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrilit dalam tubuh yang terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga lebih ditemukan oralit. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.

4.2.2. Kasus Parasit Pada Kucing Persia Penyakit Gastrointestinal yang Disebabkan oleh Parasit pada Kucing A. Disebabkan Cacing 1. Toxocariasis Toxocariasis adalah penyakit parasit internal yang disebabkan oleh cacing ascarida dari genus Toxocara yang sering disebut dengan cacing gilig. Cacing gilig pada anjing disebut Toxocara canis sedangkan pada kucning dbut Toxocara cati. Penyakit ini diketahui mempunyai kecenderungan zoonosis sangat tinggi, karena itu sangat perlu diwaspadai. Etiologi Etiologi penyakit ini adalah cacing nematoda, roundworm (cacing gelang), yang lazim disebut ascarida genus Toxocara yang menyerang pada kucing, secara spesifik adalah Toxocara cati. Selain Toxocara cati, dua species lainnya adalah Toxascaris leonina dan Toxocara canis yang lazimnya menyerang anjing atau jenis canidae liar lainnya. Namun sering ditemukan telur Toxocara cati pada feses anjing, hal ini dikarenakan telur yang masih

belum pada tahap infeksius termakan oleh anjing dan dikeluarkan melalui feses segera setelah termakan. Patogenesis Dalam usus, cacing dewasa mengambil nutrisi dari hospes definitifnya dengan menyebabkan kelukaan dinding usus dan mengambil nutrisi dari sirkulasi. Berdasarkan siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan fase migrasi yang meninggalkan lesi pada organ dan jaringan yang dilalui. Keparahannya bergantung kepada jumlah, baik pada cacing dewasa maupun larva. Perjalanan larva lewat lambung, pada yang berat menyebabkan distensi lambung, diikuti oleh muntah, dan mungkin disertai keluarnya cacing yang belum dewasa didalam bahan yang dimuntahkan (vomitus). Gejala Klinis Gejala klinis dapat mencakup pembesaran abdomen, kegagalan pertumbuhan, muntah dan diare. Infeksi dalam jumlah sedikit dapat menghasilkan jumlah telur yang sedikit pula dalam feses. Hewan yang mengalami infestasi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala kekurusan, bulu kusam, perbesaran perut (pot-belly), juga gangguan usus yang antara lain ditandai dengan sakit perut (kolik). Obstruksi usus baik parsial maupun total, dan dalam keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Pada beberapa kasus bisa menunjukkan anemia, muntah, diare atau konstipasi. Pada kasus yang sangat berat tapi jarang terjadi, bisa terdapat obstruksi usus. Gejala batuk dapat teramati sebagai akibat adanya migrasi melalaui sistema respirasi. Diagnosa Untuk diagnose dilakukan pemeriksaan tinja, dapat juga diikuti pemeriksaan patologi anatomi dan klinik. Diagnosa cacingan kadang-kadang tidak selalu didasarkan ditemukannya telur atau larva cacing didalam pemeriksaan tinja, baik secara visual, natif, metode apung atau pemeriksaan endapan. Riwayat cattery tempat penderita tumbuh sering dapat digunakan sebagai pengan dalam penentuan diagnosis antara lain batuk, pilek, anoreksia, kadang-kadang diare, perut membesar dan menggantung, dan bahkan konvulsi merupakan petunjuk kuat dalam menentukan diagnosa. Diagnosa pascamati penting untuk menegakkan diagnosis. Cacing Toxocara yang belum dewasa dapat ditemukan didalam mukosa usus. Untuk hewan dewasa diagnosisnya lebih mudah. Pengobatan Obat yang umum dipakai dan efektifitasnya, aplikasi per oral: piperazine salts, Pyrantel pamoat/praziquantel, Milbemycin, Selamectin.

Pencegahan Pencegahannya dengan cara deworming secara teratur, higienitas pakan dan lingkungan, dan kontrol terhadap populasi hospes intermedier dan paratenik. Pemeriksaan feses harus dilakukan segera setelah anak kucing lepas masa sapih; 4 8 minggu setelah treatment berakhir; pemeriksaan reguler setahun sekali, dan sebelum betina dikawinkan. 2. Dipylidiasis Etiologi Dipylidiasis merupakan penyakit cacing pita pada anjing yang disebabkan oleh Dipylidium caninum. Selain anjing, hospes definitif lainnya adalah kucing dan karnivora liar. Sebagai intermediate hostnya (hospes perantara) adalah flea (pinjal) anjing (Ctenocephalides canis) , pinjal kucing (Ctenocephalides felis). Selain itu Pulex irritans dan kutu / tuma anjing (Trichodectes canis) juga diduga sebagai intermediate host (Levine ND,1994). Patogenesis dan Gejala Klinis Pada anjing atau kucing yang terinfeksi ringan tidak terlihat gejala yang jelas, hanya tampak gelisah dan menggosok gosokkan anusnya ke tanah. Pada infeksi berat terlihat diare , konstipasi dan obstruksi usus (Soulsby, 1982). Diagnosa Berdasarkan anamnesa dari pemilik hewan, serta gejala klinis yang tampak dapat diprediksi kemungkinan menderita dipylidiasis. Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk kepastian diagnosa dengan cara memeriksa adanya telur dalam feces atau adanya segmen proglottid yang keluar bersama feces. Kadang kadang ditemukan sejumlah eggball pada perianal penderita. Pengobatan Pada anjing dan kucing anthelmimtik yang digunakan adalah arecoline hydrobromide, arecolineacetasol, Bithional, Niclosamide atau Praziquantel (Soulsby EJL,1982). Pencegahan Penularan dan infeksi dapat dicegah dengan cara menghindari kontak antara hewan yang terinfeksi dengan hewan yang seha. Anjing atau kucing penderita dipylidiasis harus diobati. Selain itu perlu dilakukan pemberantasan pinjal atau kutu dengan insektisida ( Soedarto,2007) .

3.

Enteritis

Radang usus yang bersifat akut maupun kronis dapat mengakibatkan peningkatan peristaltik usus, kenaikan jumlah sekresi kelenjar pencernaan serta penurunan proses penyerapan cairan maupun sari-sari makanan yang terlarut di dalamnya. Radang usus primer maupun sekunder ditandai dengan menurunnya nafsu makan, menurunnya kondisi tubuh, dehidrasi dan diare. (Beaver , 1984). Radang ini dicirikan dengan kehilangan perakut gerakan mukosal intestinal dengan perpindahan secara cepat dari darah, cairan dan elektrolit ke lumen usus. Dehidrasi dan shock hipovolemik terjadi secara cepat. Elektrolit, terutama Natrium dan Kalium ikut hilang bersama dengan hilangnya cairan tubuh. Terganggunya keseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi yang bisa berakibat fatal, (Hall, 1987). Etiologi Enteritis dapat disebabkan oleh agen infeksius (bakteri, virus dan parasit), diet makanan yang buruk, perubahan diet pakan mendadak, bahan kimia (fenol, arsen, thalium , phosphor) dan parasit (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Parasit yang dapat menyebabkan enteritis antara lain Ancylostoma sp., Toxocara sp., Strongyloides, cacing pita. Protozoa (Giardia, Coccidia, Cryptosporodia). Patogenesis Rasa nyeri pada radang akan mengakibatkan rangsanganpada ujung-ujung saraf sensoris, yang selanjutnya akan menaikkan frekuensi dan intensitas peristaltik usus. Dengan meningkatnya peristaltik kesempatan penyerapan di dalam usus halus akan berkurang. Selsel selaput lendir usus banyak yang mengalami kematian dan kelenjar pencernaan lebih meningkatkan sekresi getah pencernaan. Jumlah air yang tidak terserap jadi lebih banyak hingga konsistensi tinja jadi lebih encer dan pasasinya juga melebihi normalnya (terjadi diare). Kehilangan cairan tubuh akan menyebabkan dehidrasi (Beaver,1984). Gejala klinis Rasa sakit ditandai dengan kegelisahan. Diare merupaka gejala yang selalu dijumpai dalam radang usus. Tinja yang cair dengan bau yang tajam mungkin bercampur dengan darah, lendir atau reruntuhan jaringan usus. Pada radang yang kronik, terjadi kekurusan dengan tinja yang bersifat cair, berisi darah, lendir atau reruntuhan jaringan yang jumlahnya mencolok. Akibat kehilangan cairan yang berlebihan, penderita akan mengalami dehidrasi yang mencolok. Radang usus akut selalu disertai dengan oligo uria atau anuria, dan disertai dengan menurunnya nafsu makan, anoreksia total maupun parsial. Pada radang kronik biasanya bafsu makan tidak mengalami perubahan (Subronto, 1995). Tanda lain seperti diare

disertai atau tanpa muntah, demam, anoreksia, depresi dan sakit pada abdomen (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Diagnosa Anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium (darah dan tinja) digunakan untuk mengidentifikasi penyebab radang usus. Diagnosa tentatif diambil bila tidak ditemukan penyakit tersifat penyebab diare (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Terapi Pengobatan ditujukan untuk mengatasi penyebab primernya, perlu dipertimbangkan pemberian protektiva, adstringensia. Rasa sakit yang terus menerus dapat dikurangi dengan pemberian analgesika atau transquilizer. Pemberian cairan faali maupun elektrolit mutlak diberikan unutuk mengganti cairan yang hilang. Pemberian antibiotik dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. B. Disebabkan Protozoa 1. Toxoplasmosis

Etiologi Banyak spesies terserang parasit ini antara lain: carnivora, insectivora, rodentia, babi, herbivora, primata dan mamalia lainnya. Toxoplasma merupakan parasit intra seluler pada bermacam-macam jaringan tubuh termasuk otot dan epithel intestinum. Pada infeksi berat parasit dapat ditemukan dalam darah dan eksudat peritoneal. Fase extra intestinal: dimulai pada waktu kucing atau hospes lainnya memakan oocyst yang bersporulasi atau termakan tachyzoid atau bradyzoites yang merupakan fase infektif. Oocyst dengan ukuran 10-13 um X 9-11 um pada dasarnya mirip dengan oocyst jenis isospora lainnya. Sporozoits keluar dari sporocyst, sebagian masuk kedalam sel epithel dan tinggal di lokasi tersebut, lainnya masuk kedalam mukosa dan berkembang di lamina propria, kelenjar lymfe mesenterica, organ lainnya dan dalam sel darah putih. Pada hospes lain seperti kucing tidak ada perkembangan di daerah enteroepithelial, tetapi sporocyst masuk dalam sel hospes dan memperbanyak diri dengan endodyogeny. Sel yang membelah diri secara cepat dan menyebabkan infeksi akut disebut tachyzoits. Sekitar 8-16 tachyzoit mengumpul dalam sel vacuola parasitophorus sebelum sel mengalami disintegrasi, bila parasit membebaskan diri dari sel tersebut merka akan menginfeksi sel lain. Fase enteroepithelial: Dimulai pada waktu kucing memakan zoitocyst yang berisi bradyzoits, oocyst yang berisi sporozoit atau tachyzoit. Kemungkinan lain adalah adanya migrasi zoit dari extraintestinal kedalam intestinal dalam tubuh kucing. Begitu parasit masuk sel epithel usus halus atau colon, parasit berubah menjadi trophozoit dan siap tumbuh untuk

mengalami proses schizogony. Telah diteliti ada 5 strain toxoplasma yang dipelajari pada fase ini, dari yang memproduksi 2 sampai 40 merozoit dari scizogony, polygony, atau endodyogeni, dimana prosesnya asexual. Gametogony tumbuh di dalam usus terutama usus halus, tetapi sering terjadi dalam ileum. Patogenesis Tipe enteroepithelial hanya hidup selama beberapa hari, terutama pada ujung vili. Tetapi fase extraepithelial, terutama yang berlokasi di retina atau otak, cenderung menyebabkan infeksi yang serius. Infeksi pada umur dewasa biasanya tidak menunjukkan gejala (asymptomatik). Tetapi bila terjadi penurunan daya tahan oleh karena obat (obat imunosupresif seperti corticosteroid) gejala akan menjadi tampak. Infeksi yang memperlihatkan gejala (symptomatik infection) di kelompokkan dalam 3 kategori yaitu: infeksi akut, sub akut dan kronis. Pengobatan Pirantel pamoat merupakan turunan tetrahydropyrimidine yang berkhasiat sebagai antelmintik dan sangat efektif untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh satu jenis cacing atau lebih di usus, beberapa diantaranya adalah cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing kremi (Enterobius vermicularis), serta cacing Trichostrongylus colubriformis dan Trichostrongylus orientalis. Obat ini bekerja dengan cara menimbulkan depolarisasi pada otot cacing sehingga terjadi pelepasan asetilkolin dan penghambatan kolinestrese. Hal ini menyebabkan pelumpuhan cacing-cacing, yang diikuti dengan pembuangan dari saluran intestinal manusia (Urquhat, 1987).

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan 1. Penulisan rekam medis sangat dibutuhkan untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien. 2. Diagnosis sangat penting untuk dokter hewan sedangkan prognosis sangat penting dan dibutuhkan oleh pemilik hewan. 3. Terapi diberikan setelah diagnosis diputuskan. Diagnosa yang terbaik adalah diagnosa kausatif. 4. Pada pasien kucing hutan yang telah diperiksa, ditemukan gejala tubuh lemas dan tidak mau makan, kucing hutan didiagnosa mengalami dehidrasi dan diare yang mungkin disebabkan adanya penyesuaian kucing hutan terhadap lingkungan yang baru. Terapi diberikan antasida untuk menetralkan asam lambung, neo kaominal sebagai antidiare, dan oralit untuk mengatasi dehidrasi pada kondisi kucing hutan tersebut. 5. Pada pasien kucing persia yang telah diperiksa pada saat pemeriksaan ditemukan gejala berupa tidak mau makan dan keadaan kulit rontok, hal ini didiagnosa karena adanya cacing di dalam pencernaan dan adanya kutu di permukaan kulit. Untuk terapinya diberikan selamectin secara topikal. Kemudian untuk obat cacingnya diberikan obat dari golongan pyrantel pamoat yaitu combantrin dengan dosis 5 cc per ekor kucing

5.2 Saran Perlu adanya pengawasan sejak dini terhadap kesehatan hewan peliharaan, karena jika tidak maka akan timbul berbagai macam penyakit seperti diare, dehidrasi, cacingan dan kutu yang mudah menyerang kucing usia dibawah 8 bulan.

Daftar Pustaka Beaver, P.C.; Jung, R.C; Cupp, E.W.; Clinical Parasitology, Lea & Febiger, Philadelphia, 5th edition, 1984, 35-220 Blood, DC, and Rodostits, OM. 1989. Veterinary Medicine. 7thed. Bailliere Tindall. Djari, CS. 2000. Manajemen Penyakit Hewan. Seri Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Direktorat Bina Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen. Jakarta. Hermansson U. 2006. Studies of canine and feline sperm viability under different storage procedures, with special reference to chilling, freezing, and use of zona pellucida binding assays Uppsala: Tryck, SLU Service/Repro. LaBruna D. 2001. Introduce spesies summary project domestic cat (Felis catus). [terhubung berkala]. http : // www.columbia.edu/ itc/ cerc/ danoffburg/ invasion_bio/ inv_spp_summ/ Felis_catus. html. [7 Juli 2011]. Lipinski, MJ, Froenicke L, Baysac KC, Billings NC, Leutenegger CM, Levy AM, Longeri M, Niini T, Ozpinar H, Slater MR, Pedersen NC, Lyons LA. 2007. The ascent of cat breeds: genetic evaluations of breeds and worldwide random bred populations. Genomics 91(1): 1221. Edwars A. 2005. The Ultimate Encyclopedia of Cats. Cat Breeds & Cat Care. China: Anness Publishing. Hall, H.T.B., 1987. Diseases and Parasites of Livestock in the Tropics 2nd Edition. England Levine ND.1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gajah Mada University Press.163164,480. Soedarto.2007.Sinopsis Kedokteran Tropis.Airlangga University Press.75-76. Soulsby E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals. The ELBS & Bailliere Tindall. London Urquhart G.M.,; Armour J.,; Duncan J.L.,; Dunn A.M.,; and Jennings F.W. 1987. Veterinary Parasitology, ELBS, England.