Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MANAJEMEN PERAWATAN PADA ALAT TRANSPORTASI UDARA ( PESAWAT TERBANG )

Disusun Oleh :

Deni Fajarudin

NIM : 3211110010

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA JURUSAN TEKNIK MESIN KONSENTRASI MAINTENANCE 2013

KATA PENGANTAR

Makalah ini dibuat untuk memenuhi

salah satu tugas dari mata kuliah wajib yaitu

Perawatan dan Perbaikan dengan bobot 2 sks yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Mesin sebagai salah satu syarat untuk memenuhi nilai yang sudah ditetapkan oleh dosen yang bersangkutan. Melalui makalah ini saya berharap rekanrekan mahasiswa dapat memperluas pengetahuan dan pemahaman mengenai Maintenance pada Alat Transportasi Udara / Pesawat. Demikianlah makalah ini saya buat. Atas perhatian, kerjasama, dan bantuan temanteman. Saya ucapkan terimakasih.

Depok, 18 Desember 2013

Atas Nama Deni Fajarudin

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penerbangan merupakan salah- satu moda transportasi yang memiliki andil besar dalam memperlancar roda perekonomian, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa serta mempererat hubungan antar bangsa. Kebutuhan transportasi udara kian hari semakin meningkat, hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah penumpang dari dan ke seluruh pelosok tanah air, serta dari dan ke luar negeri. Oleh karena itu penerbangan hendaknya mampu menyediakan angkutan udara yang aman, seIamat, cepat, teratur, lancar, tertib, nyaman dan efisien serta.dengan biaya yang wajar. `Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah memungkinkan peningkatan pelayanan dalam Penerbangan baik dari segi kuantitas misalnya tempat duduk, frekuensi dll serta segi kualitas antara lain keselamatan, keteraturan dan kenyamanan. Pemanfaatan teknologi canggih dalam pesawat terbang memungkinkan pesawat tersebut dapat beroperasi dengan daya tahan dan tingkat keandalan yang tinggi, pengontrolan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, control otomatis yang memberikan kemudahan baik bagi pilot maupun ground engineer. Hal ini memberikan jaminan keselamatan terbang yang jauh lebih tinggi dibandingkan Pesawat konvensional pada masa lalu. Kecanggihan system dari suatu pesawat terbang mampu memberikan jaminan kelancaran dalam penyediaan transportasi udara, bila tidak disertai dengan sikap mental yang baik dari individu-individu yang berkaitan dengan pengoperasian pesawat tersebut. Hal yang lebih penting lagi adalah oemahaman tentang karakteristik dari pesawat itu sendiri, apa yang harus dilakukan untuk menjamin agar tetap laik terbang, pekerjaan perawatan (maintenance work) apa yang harus dilaksanakan dan bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan. Perawatan (maintenance) pada pesawat udara didefinisikan sebagai ; semua pekerjaan yang dilakukan untuk mempertahankan pesawat udara, komponen-komponen dan perlengkapan pesawat udara dalam keadaan laik udara.

1.2 TUJUAN Mewujudkan penyelenggaraan yang aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan berdayaguna dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat dengan mengutamakan dan melindungi penerbangan nasional, menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas nasional, sebagai pendorong, penggerak, dan menunjang pembangunan nasional serta mempererat hubungan antar bangsa. 1.3 TINJAUAN Tinjauan tentang aktivitas air lines hanya memberikan gambaran umum, agar nampak dimanakah letak dari fungsi kegiatan perawatan dan kontrisbusinya dalam mendukung keseluruhan sistem dari suatu airlines. James L. Lynch, menulis buku Airlines Organization In The 1980s yang didasarkan pada hasil penenilitian dan pengamatan pada lebih dari 50 perusahaan didunia dari tahun 1963 1983. James menyimpulkan bahwa, meskipun banyak airlines yang berbeda dalam struktur organisasi, besarnya, latar belakang sejarah, lingukngan budayanya, namun aktivitas aktivitas yang dilakukannya boleh dikatakan sama. Menurut James, suatu airlines terdiri dari fungsifungsi yang dapat dikelompokan dalam 3 sistem yang saling berkaitan. Ketiga sistem tersebut mencangkup ;

1. Sistem operasi (The Operational System) 2. Sistem perencanaan strategi (Strategy Planning System) 3. Sistem sumber daya (Resourcing System)

BAB II TEORI
2.1 FUNGSI DAN HUBUNGAN ANTAR SISTEM Keempat fungsi tersebut, dicangkup dalam 1 sistem yang disebut Sistem Operasi (The Operational System). Jika suatu airline mulai mengoperasikan, tentunya pihak managemen harus dapat memastikan bahwa kapasitas yang disediakan, dapat dipakai secara maksimal, karena itu butuh fungsi Pemasaran. Dan tentunya pesawat yang dipakai harus layak terbang dan aman (Safe), maka ini tentunya perlu fungsi Perawatan atau Maintenance. Pemakai jasa atau muatan cargo harus dimuat ke pesawat (must be boarded), tanpa gangguan sedikit pun, hal ini tentunya membutuhkan fungsi operasi darat (ground operation). Selanjutnya pesawat diterbangkan secara cepat sampai ketujuannya, hal ini membutuhkan fungsi operasi penerbangan (Flight Operation). Semua termasuk dalam berbagai fungsi yang dapat dicakup 2 sistem, yaitu Sistem Perencanaan Strategi (Strategy Planning System). Adapun sistem perencanaan strategi meliputi fungsi corporate planning dan fungsi information management. Sedangkan resoursing system meliputi fungsi keuangan (Finance), administrasi (Accounting), dan personil (Personel).

2.1.1 Fungsi Perawatan Dalam Sistem Operasi Pelaksanaan perawatan memerlukan pula adanya ; perencanaan yang akurat, dukungan material atau komponen, fasilitas ; tools dan equipment, sumber daya manusia yang memadai, sistem dan prosedue serta pedoman kerja yang jelas bagi setiap personil dan element organisasi. 2.1.2 Kelaikan udara dan Sistem Peraturan A. Pengertian Laik Udara

Pelaksanaan pekerjaan perawatan adlah untuk mempertahankan agar pesawat udara , komponen-komponen dan perlengkapan pesawat udara dalam keadaan laik udara, berarti pesawat terbang itu sendiri telah laik udara. Kapan dan pada kondisi bagaimana pesawat udara itu dikatakan laik udara? Dalam kegiatan penerbangan baik dalam perawatan maupun pengoperasian pesawat udara selalu ditemuai istilah AIRWORTHY (AIRWORTHINESS.

Menurut UU penerbangan pengertian laik udara adalah : Adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/ atau komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan . Sedangkan menurut FAA yang tertuang dalam FAA order No. 8300.9 section 15 terbitan 26 Juli 1985 pengertian laik udara adadlah Suatu pesawat udara dinyatakan dalam kondisi LAIK UDARA apabila memenuhi dua kondisi yaitu :

1. Pesawat udara harus memenuhi atau sesuai dengan rancang bangun (type design) atau type certificate 2. Pesawat harus dalam kondidi aman untuk dioperasikan .

Kesesuaian terhadap type design atau pesawat dikatakan sesuai dengan type design-nya bila keadaannya atau komponen-komponen yang dipasang konsisten dengan blue print , spesifikasi dan data lain yang menjadi bagian dari type certificate. Kesesuaian ini mencakup pula field approve alteration dan supplemental type certificates yang berlaku . Sedangkan pesawat aman dioperasikan menunjukkan kondisi pesawat udara yang berkaitan dengan wear dsb.

B. Tangung Jawab Negara terhadap Kelaikan Udara Menurut Konvensi pada Penerbangan Sipil International setiap pesawat udara milik Negara anggota ICAo yang melakukan penerbangan international wajib membawa Certification of Registration (C of R) dan Certificate of Airworthiness (C of A) (article 29), C of A tersebut harus dikeluarkan oleh Negara dimana pesawat tersebut didaftarkan (article 31). Konvensi juga mensyaratkan bahwa setiap Negara anggota ICAO wajib mengakui C of A yang dikeluarkan oleh Negara dimana pesawat itu didaftarkan selama memenuhi standard minimal kelaikan udara yang ditetapkan oleh ICAO. Standar minimal kelaikan udara ditetapkan pada Annex 8, standard ini harus dipergunakan sebagai patokan bagi setiap Negara anggota ICAO dalam mengembangkan peraturan. Negara dimana pesawat tersebut didaftarkan (state of registry) merupakan penanggungjawab tunggal atas kesesuaian pesawat dengan prototype design dan disertifikasi sesuai dengan kelas/kategorinya.

C. Pelimpahan Kewenangan /Tanggung Jawab Dalam rangka mengupayakan terwujudnya keselamatan penerbangan setiap Negara hendaknya menyusun peraturan yang disesuaikan dengan kepentingan negaranya serta memperhatikan konvensi International. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya pemegang otoritas (DGCA) dapat menggunakan sistem active role, passive role atau active-passive role. Pada active role authority melakukan supervise scera day to day, memberikan pengarahan dan pengontrolan pada industry (manufacture). Pada passive role authority berperan aktif hanya bila ada permasalahan atau melakukan investigasi atau ada penyimpangan-penyimpangan .

Beberapa hal yang penting dan harus tercakup dalam sistem peraturan kelaikan udara setiap Negara, yaitu : a. registration of aircraft b. aircraft type certification c. issue of certification of airworthiness d. approval of aircraft maintenance organization e. certification of operator f. licencing of personnel

Melalui proses pendaftaran pesawat udara, pengeluaran sertifikat, pemberian approval (pengesahan) serta penerbitan lisensi, authority /negara dapat mengontrol tanggung jawab manufacturer, operator/airlines dan maintenance facilities dalam keselamatan penerbangan guna melindungi.

D. Sasaran dan Tanggung Jawab Maintenance Tiga sasaran dasar dari perawatan pesawat udara adalah : a. Mengupayakan keselamatan penerbangan semaksimal mungkin artinya perawatan mamapu menjamin bahwa setiap bagian atau perlengkapan memiliki tingkat performansi yang tinggi dengan demikian keselamatan penerbangan akan terjamin b. Mengoptimalkan ketersediaan pesawat udara artinya keberadaan maintenance mampu memenuhi persyaratan keselamatan dan mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan. Dengan demikian akan semakin banyak pesawat yang siap untuk diterbangkan . Pesawat dapat dioperasikan secara optimal (efisiensi jam terbang) sehingga memberikan keuntungan. Mengupayakan biaya perawatan (maintenance cost) serendah mungkin. Biaya perawatan antara lain meliputi pengadaan fasilitas, material, komponen-komponen dan sumber daya manusia.

Catatan Setiap orang yang berhubungan dengan maintenance baik sebagai supervisor, manager, engineer, mechanic dan lain-lain hendaknya peduli mengupayakan ketercapaian ketiga sasaran tersebut.

Responsibility for Maintenance Setiap organisasi yang mengoperasikan pesawat udara untukpengangkutan penumpang atau kargo memiliki tanggung jawab utama untuk merawat pesawatnya dalam keadaan aman dan laik udara. Terlepas apakah maintenance itu dilakukan oleh organisasi itu sendiri atau dikontrakkan ke organisasi lain maka penanggung jawab utama dari kelaikan udara adalah OPERATOR yang mengoperasikannya Semua pekerjaan maintenance dan modification pada pesawat udara, komponenkomponen dan perlengkapan pesawat udara hendaknya dilaksanakan, disahkan (disertifikasi) dan dicatat sesuai CASR. Operator hendaknya memiliki buku pedoman perawatan (maintenance manual yang dapat dipergunakan sebagai pedoman/guide bagi setiap personil yang berkaitan pelaksanaanya.

Maintenance manual harus memuat informasi sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Approved Aircraft Specification Prosedur inspeksi dan perawatan yang berlaku untuk pesawat yang dioperasikan Tanggung jawab personil inspeksi dan perawatan Daftar organisasi /kontraktor yang di kontrak untuk melakukan pekerjaan tertentu yang tidak diizinkan dikerjakan sendiri oleh operator Filosofi dan konsep perawatan 1. Airline/operator memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan maintennace pd pesawat udara yang dioperasionalkannya sesuai dengan persyaratan kelaikan udara. 2. Agar pelaksanaan maintenance teratur, maka operator harus memiliki AIRCRAFT MAINTENANCE SPECIFICATION dan menyusun maintenance program 3. Maintenance program berbeda antara airline yang satu dengan yang lainnya. Airline mengembangkan maintenance program disesuaikan dengan sifat operasi, komersial dan persyaratan teknis, peraturan pemerintah, struktur route, man power dan fasilitas E. Maintenance pesawat udara diklasifikasikan : 1. Menurut tempat pelaksanaan : 1. Line maintenance 2. Base maintenance

2. Menurut jumlah waktu untuk perawatan 1. Minor maintenance 2. Major maintenance

3. Menurut Konsep/proses maintenance 1. Hard Time 2. On condition 3. Condition maintenance

E.1 Menurut tempat pelaksana 1. Line Maintenance Line maintenance dilaksanakan di line station atau flight line of an airlines base station, jenis pekerjaannya terdiri dari routine task dengan low interval dan non routine task.Routine task meliputi servicing, cleaning, refueling dan inspeksi-inspeksi ringan Non Routine seperti penggantian komponen sampai penggantian engine. Sifat pekerjaannya DEPARTURE ORIENTED artinya mengutamakan keberangkatan pesawat terutama menuju base dengan mengingat keterbatasan waktu, man power dan fasilitas pada line station.

2. Base Maintenance Base maintenance dilaksanakan di aorlines base maintenance. Sifatnya adalah Fixed Oriented karena memiliki manpower dan fasilitas yang memadai sehingga mampu melaksanakan semua macam pekerjaan perawatan .

E.2 Menurut Jumlah Waktu untuk maintenance 1. Minor Maintenance Merupakan pekerjaan perawatan yang memerlukan aircraft down time kurang dari 24 jam. Pekerjaan yang dilakukan mencakup pekerjaan rutin seperti pre flight check sampai B check work packages serta pekerjaan tidak rutin lainnya seperti perbaikan ringan. Pelaksanaan pekerjaan di line station atau maintenance base . 2 Major or Heavy Maintenance. Adalah semua pekerjaan yang memerlukan aircraft down time lebih dari 24 jam . Pekerjaan ini meliputi structural inspection and repair, overhaul, cabin refurbishment, paint removal dll. Pelaksanaannya di maintenance base.

Catatan 1. Struktur atau sistem pesawat terdiri dari sejumlah part, component atau assembly 2. Setiap partmemiliki kemampuan untuk menahan beban berbeda, begitu juga dengan material 3. dan proses pembuatannya juga bervariasi. 4. Ketahanan suatu part untuk menanggung beban atau stress yang terjadi sangat berkaitan erat 5. dengan waktu atau umur] 6. Contoh part yg menerima beban berulang-ulang akan mengalami fatique atau dua part yang bergerak dan saling bergesekan lama kelamaan akan menjadi aus (wearout)

7. Part yang telah digunakan sekian lama akan mengalami kerusakan. Kemungkinan kerusakan semakin tinggi setelah mencapai umur tertentu, meski tidak semua part akan mengalami kerusakan pada umur yang sama. 8. Ketahanan terhadap failure perlu diting\katkan /dikembalikan pada umur/waktu tertentu.

E.3 Menurut Konsep / Proses maintenance 1. Hard Time maintenance yaitu proses preventive maintenance agar suatu part, component, assembly tidak mengalami failure dan mengganggu keselamatan dengan cara diganti atau di overhaul pada interval waktu tertentu.

2. On Condition Maintenance adalah proses preventive maintenance yang dilakukan pada unit-unit, sistem-sistem atau bagian dari struktur yang kondisinya dapat ditentukan melalui pemeriksaan (inspection) atau mengetesan secara berulang-ulang pada interval waktu tertentu. Interval waktu pemeriksaan mula-mula pendek dan kemudian semakin bertambah bila telah ada service experience.

3. Condition Monitoring Maintenance Condition monitoring digunakan pada parts atau sistem yang tidak memerlukan preventive maintenance, dalam proses ini kerusakan / malfunction diizinkan terjadi. Bila terjadi kelainan-kelainan dalm operasi atau penurunan performance yang diketahui dari hasil monitoring

maka akan dilakukan pekerjaan tertentu. Dari hasil monitoring ini akan dianalisis untuk menentukan langkah-langkah timdakan yang tetap misalnya penyetelan, perbaikan atau pergantian.

F. Maintenance Program
Dalam penyusunan maintenance program perlu dipertimbangkan factor-faktor berikut seperti maintenance requirement, komersial, operasional, geografis, ekonomis, man power dan peraturan pemerintah. Kerangka kerja dari suatu operator manitenace program yang disusun oleh airline umumnya memiliki pola yang sama, seperti uraian berikut ini :

A. Service Checks Pada akhir setiap penerbangan dan pada akhir setiap pengoparasian pesawat, beberapa pekerjaan perawatan harus dilaksanakan pesawat transport. Pekerjaan ini biasanya disebut walk around check, preflight check, lay over check, over night check atau service check.

B. A-, B- dan C-Check Dalam maintenance check tidak ada hirarki bahwa pekerjaan yang satu lebih penting dari pekerjaan yang lainnya. Semua pekerjaan (task) adalah penting untuk dikerjakan pada setiap interval waktunya. Tetapi ada hirarki untuk frekuensi pemeriksaan dan ground time. Dimulai dari A-check, B-check dan seterusnya, dimana semakin tinggi levelnya diperlukan ground time yang lebih tinggi dan frekuensi pelaksanaannya semakin menurun.

Maintenance check interval ground time A-check after 50 to 200 flight hours in 2 to 6 hours B-check after 300 to 800 flight hours in 6 to 12 hour C-check after 1000 to 3000 flight hours in 24 to 48 hour Interval waktu dan ground time berubah-ubah /berbeda tergantung pada tipe pesawat dan tipe operasinya.

C. D-check atau heavy maintenance visit Setelah pesawat dioperasikan selama tiga sampai lima tahun beberapa pekerjaan besar perlu dilakukan pada pesawat transport. Selama aircraft down time antara satu sampai empat minggu pekerjaan-pekerjaan besar dapat dilaksanakan seperti paint removal, cabin

refurbishment, control surface removal dan internal structure inspection. Paket total disebut Dcheck atau jika isi paket berubah-ubah disebut heavy maintenance.

D. Non Routine Maintenance Non routine maintenance adalah pekerjaan-pekerjaan yang timbul karena adanya malfunction, keluhan-keluhan pilot atau temuan-temuan (finding item) pada pelaksanaan routine maintenance. Untuk memperkirakan jumlah waktu perawatan diasumsikan bahwa setiap satu jam routine maintenance akan menimbulkan satu jam non routine maintenance. Meskipun anggapan ini tidak selalu benar, tetapi dapat dipergunakan sebagai pendekatan yang baik untuk menghitung jumlah jam perawatan. Modifikasi-modifikasi pada pesawat atau komponen-komponenya merupakan sumber lain dari non routine maintenance. Apakah modifikasi ini akan dilaksanakan bersamaan dengan scheduled check atau pada waktu khusus tergantung dari volume pekerjaan dan urgencinya, memungkinkan pesawat tersebut dapat beroperasi dengan daya tahan dan tingkat keandalan yang tinggi, penaontrolan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, kontrol otomatis yang memberikan kemudahan, baik bagi pilot maupun ground teknisi.

Daftar Pustaka
http://aeroblog.wordpress.com/category/perawatan-pesawat/