Anda di halaman 1dari 23

Laporan Responsi Penyusuna Kelayakan Industri Pangan

Hari/tanggal : 20 November 2013 Dosen Kelompok : DwiYuni Hastati, STP Msi :6

KELAYAKAN PELUANG USAHA BARU


Nama Stacia Wiranata Lina Dwi Sanjaya M. Fathin Ibnu Harly. NIM J3E112093 J3E112117 J3E212132

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi perkembangan di Indonesia yang menuju perdagangan bebas, dituntut kreatifitas yang tinggi dan mempunyai potensi dan kualitas dalam persaingan suatu produk, baik dalam bidang jasa maupun barang, terlebih dalam bidang pangan hal ini diperkuat oleh kebutuhan manusia akan makanan. Makanan merupakan faktor penunjang bagi manusia akan keberlangsungan hidupnya, karena dengan makanan yang sehat akan menghasilkan pribadi yang sehat sehingga dapat berkarya dengan baik. Pada era modern sekarang ini banyak sekali inovasi-inovasi pangan yang beredar dipasaran tetapi tidak semua panganan tersebut aman untuk dikonsumsi sehingga mucul masalah kesehatan dan sosial ketika usia harapan hidup bertambah. Perubahan gaya hidup dan pola makan telah meningkatkan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, atherosklerosis, penyakit Alzheimer, disfungsi imunitas, diabetes mellitus, tumor, dan kanker. Penyakit degeneratif diduga kuat disebabkan oleh senyawa radikal bebas, karena hal tersebut orang-orang sekarang menjadi lebih selektif dalam mengkonsumsi makanan, baik dari segi bahan baku, rasa, kesehatan dan keamanan pangan tersebut dan harga. Salah satu upaya pencegahannya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan fungsional yang banyak ditemukan disekitar kita dengan harga terjangkau. Telah diketahui bahwa pangan lokal seperti umbi-umbian, biji-bijian dan kacangkacangan merupakan sumber pangan lokal yang baik untuk pencegahan penyakit degeneratif. Salah satu pangan lokal murah dan mudah dijumpai adalah bekatul yang merupakan limbah dan hasil samping penggilingan padi. Hal ini yang membuat kami tertantang untuk memasarkan produk baru yang extraordinary fresh , yaitu BeBe. BeBe merupakan inovasi brownies baru dengan berbahan dasar bekatul, yang diharapkan dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen akan pangan yang unik, sehat, dan enak. Berbisnis brownies merupakan ide berbisnis yang baik, selain merupakan gagasan baru, bekatul juga mengandung banyak manfaat, antara lain bekatul kaya akan serat, dapat menurunkan kadar kolestrol dan kadar gula dalam darah sehingga baik bagi penderita diabetes, bekatul juga kaya vitamin B kompleks

dan vitamin E. Selain itu penggunaan bekatul dapat mengoptimalkan sisa-sisa pengolahan beras tidak hanya menjadi pangan ternak tetapi menjadi pangan yang meyehatkan dan berkualitas sehingga dapat mengurangi limbah lingkungan. Sasaran konsumen yang dijangkau juga sangat luas, dari semua kalangan (diprioritaskan remaja dan dewasa) pria dan wanita dengan status sosial menengah dan menengah keatas, selain itu brownies ini aman dikonsumsi bagi penderita diabetes. Keunggulan produk kami adalah produk disajikan fresh from oven, dan tidak menggunakan bahan pengawet dan pewarna buatan, dengan kapasitas produksi yang tidak terlalu banyak (disesuaikan dengan pemintaan). Aspek pemasaran Brownies Bekatul dapat melalui outlet-outlet yang tersebar di Indonesia.

1.2 Tujuan Pengolahan bekatul sebagai bahan pangan sangat minim, tidak sebanding dengan banyaknya manfaat dan khasiat yang diberikan Diversifikasi produk baru Memanfaatkan sisa hasil pengolahan sebelumnya, sehingga lebih ramah lingkungan

BAB II ASPEK PRODUK

BeBe adalah Brownies bekatul kukus coklat dengan aroma yang khas, dengan warna coklat mengkilat dengan tambahan selai sebagai pelapis dan topping yang memiliki tektur padat di dalam dan lembut di luar yang sangat pas dimulut, baik dari segi rasa maupun tekstur. Brownies Bekatul dipasarkan dalam 3 ukuran, yaitu ukuran large, medium, dan small, dengan harga yang variatif yaitu Rp 50.000, Rp 40.000, dan Rp 25.000 untuk setiap ukurannya. Selain itu, Brownies Bekatul disajikan dalam berbagai varian rasa, yaitu rasa original, keju, dan blueberry. Komposisi brownies terdiri dari bahan utama dan bahan pendukung, bahan utama terdiri dari tepung bekatul dan tepung terigu, sedangakan bahan pendukung terdiri dari telur ayam, margarin, gula, dan coklat. Produk Brownies Bekatul ini mengandung lebih banyak tepung bekatul daripada tepung terigu, hal ini dikarenakan kandungan gizi tepung bekatul jauh lebih tinggi daripada tepung terigu. Bahan baku utama yaitu tepung bekatul diperoleh dari supplier di daerah Karawang dan tepung terigu diperoleh dari suplier terigu dengan standart dan spesifikasi mutu yang ditetapkan oleh perusahaan. Sedangkan bahan penunjang diperoleh dari pasar tradisional Bogor. Untuk proses produksi, alat yang digunakan adalah inventaris perusahaan yang terdiri dari dandang kukus dan mixer. Proses pembuatan dilakukan dengan mengocok telur dan gula pasir, kemudian ditambahkan tepung bekatul dan terigu, lalu di tambahkan coklat dan margarin cair, kemudian dikukus. Semua proses dilakukan sesuai dengan SOP yang terjaga sanitasi dan higenitasnya. Produk Brownies Bekatul ini memiliki perbedaan dibandingkan dengan produk merek lain yang sejenis, yaitu bahan baku utama yang digunakan merupakan bahan yang kaya akan berbagai manfaat dan gizi (tepung bekatul), selain itu BeBe tidak menggunakan bahan kimis sintetis, seperti bahan pengawet, pengental, pengembang, pewarna, dan pemanis buatan. Jadi dapat dikatakan BeBe merupakan suatu produk yang berasal dari alam yang diolah dengan proses termal dan terjamin sanitasi, higenitas, dan rasanya. Untuk pemasaran Brownies Bekatul menggunakan media cetak, media sosial, media elektronik, dan melalui outlet yang terdapat dibeberapa daerah, yaitu didaerah Padjajaran, Bogor Jawa Barat. Pemilihan lokasi didaerah wisata merupakan lokasi yang

strategis karena banyaknya turis baik dari dalam negri maupun dari mancanegara sehingga sangat efektif untuk memasarkan suatu produk baru. Outlet Bebe menggunakan sumber daya manusia yang berkualitas yang didapat dari warga sekitar outlet dan didampingi dengan tenaga supervisor. Produk Brownies Bekatul akan dipasarakan dengan menggunakan kemasan primer, kemasan sekunder, dan kemasan tersier. Kemasan primer terdiri dari kertas plastik yang berlogo food grade, digunakan untuk menutupi seluruh bagian brownis dan menyerap minyak, kemudian kemasan primer menggunakan kemasan dus berwarna, dan kemasan tersier terdiri dari tas kertas (paper bag) berlogo BeBe. Contoh desain kemasan sekunder yang Brownies Bekatul tampilkan dipasaran adalah seperti ini :

BAB III ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

3.1 Aspek Pasar Aspek pasar merupakan salah satu aspek yang berkenaan mengenai kondisi pasar dan bidang usaha yang dijalankan. Permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan menentukan jumlah barang dan jasa yang harus dihasilkan. Permintaan perseorangan tidak akan mempengaruhi harga, namun apabila bersama-sama akan membentuk permintaan dalam pasar. Untuk dapat dipakai dalam pengambilan keputusan manajemen, dalam analisis antara jumlah barang yang diminta dengan semua jumlah variabel yang mempengaruhinya (Sutojo, 1993). Analisis permintaan yang menghasilkan prakiraan permintaan terhadap suatu produk merupakan salah satu alat penting bagi manajemen perusahaan. Dari perkiraan penjualan dapat diperkirakan anggarap perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan jumlah dan macam tenaga kerja yang dibutuhkan, kecukupan alat-alat produksi, ketersediaan bahan mentah dan daya tampung gudang (Nurmalina, 2010). Permintaan pasar akan kudapan brownies terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari data BPS konsumsi brownies sebagai makanan selingan per kapita per bulan mengalami peningkatan, yaitu dari 388 piece brownies per kapita per bulan pada tahun 2004 menjadi 676 piece brownis per kapita per bulan pada tahun 2007 (asumsi jumlah warga bogor (mewakili beberapa warga Jakarta) adalah 20% dari total penduduk di Indonesia). Konsumsi brownies terus mengalami peningkatan sebagai makanan kudapan sampai tahun 2011 untuk wilayah Bogor adalah 4.089 buah perbulan ( Friyatno, et al. 2011). Permintaan atas produk brownies datang dari berbagai konsumen (diseluruh wilayah Indonesia terutama seluruh propinsi Jawa dan DKI Jakarta). Data dari Badan Pusat Statistik menginformasikan bahwa kemampuan produksi

brownies diwilayah Bogor mencapai 2.349 piece brownies per bulan pada tahun 2011. Sehingga dapat dikatakan masih terdapat peluang terbuka untuk usaha brownies diwilayah Bogor karena kebutuhan lokal diwilayah Bogor masih belum dapat terpenuhi. Menurut BPS dalam Auliana, beras sebagai konsumsi makanan pokok masyarakat Indonesia memilki data produksi padi mencapai 53,13 juta ton gabah kering giling pada tahun 2007 (Tempo online, 4 Maret 2007). Sebagai perbandingan di USA, 10 persen dari total produksi padi dapat menghasilkan bekatul, sehingga jika dikonversi dari 53,13 juta ton

produksi padi nasional maka diperkirakan dapat dihasilkan 5,3 juta ton bekatul. Sehingga dari segi bahan baku tidak akan mendapat kesulitan dalam memproduksi Brownies Bekatul karena jumlahnya yang melimpah. Persaingan sentra industri Brownis di Bogor adalah sentra-sentra industri di sekitar lokasi tersebut. Beberapa industri brownis terkenal diwilayah Bogor adalah Brownis Amanda, Elsari Brownies, Vario Country, BrownCo, dan Brownies Bogor. Pada umumnya pesaing usaha tersebut adalah usaha kecil menengah atau Home Industry yang menampilkan kelebihan dari masing-masing produk yang ditawarkan dengan harga yang variatif dan dari segi pelayanan dan tempat yang nyaman. Tabel 1. Konsumsi Rata-Rata Roti Per Kapita Sebulan di Indonesia pada Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Konsumsi Rata-Rata Roti Manis Atau Lainnya Per Kapita Per Bulan (Potong) 1.936 2.408 2.920 3.380 Sumber : Susenas tahun 2004-2007 Tabel 2. Jumlah Produksi Roti di Jakarta dari tahun 2001-2004 Tahun Jumlah produksi (kg) Nilai Produksi (Ribu Rupiah) Tahun 2001 2002 2003 2004 Jumlah produksi (kg) 22.749 24.547 25.102 26.263 Nilai produksi (ribu rupiah) 124.638,695 125.487,235 123.285,362 128.554,148

Sumber : Badan Pusat Statistik (2004) 3.2 Aspek Pemasaran Brownies adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu, coklat, margarin, dan telur yang pembuatannya melalui tahap pengulenan, dan proses pemanggangan dalam oven atau pengukusan. Kini brownies semakin banyak diminati dan dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari mulai menjamurnya merek-merek brownis dengan berbagai inovasi yang beredar di pasaran seluruh Indonesia. Hal tersebut didukung

dengan trend menjamurnya butik-butik pastry yang menjual berbagai macam jenis produk bakeri. Salah satunya ialah brownies karena banyak masyarakat yang menggemari roti ini karena rasanya yang manis dan unik, maka dengan alasan tersebut munculah BeBe , yakni brownies coklat dengan mengunakan tepung bekatul. Meskipun berbahan dasar tepung bekatul tetapi rasa dan aroma bekaul itu sendiri itu sendiri tidak strong , karena campuran coklat dan selai blueberry sehingga sangat pas dimulut, disertai dengan berbagai manfaat yang dihasilkan dari tepung bekatul. Tepung bekatul digunakan sebagai bahan utama yang memiliki kandungan nutrisi seperti, kaya serat dan vitamin B kompleks dan E, serta dapat menurunkan gula darah sehingga aman

dikonsumsi bagi penderita diabetes. Kesan sehat dan enak merupakan tampilan yang ingin ditunjukan pada produk brownies bekatul ini. Produk Brownies Bekatul dipromosikan dengan cara membuka stand atau kedai di event-event pangan dan pameran pangan. Selain itu juga digunakan sistem jemput bola, dengan menawarkan produk langsung ke konsumen serta memberlakukan sistem membeli 3 pack large brownis gratis 1 pack brownis small setiap hari Selasa disetiap outlet. Selain itu, pemasaran juga menggunakan social media (FB, twitter, instagram, dll) dan menggunakan media cetak (majalah dan koran). Aspek selanjutnya yang mempengaruhi pemasaran suatu produk adalah pemilihan lokasi yang tepat dan strategis. Lokasi yang strategis memiliki keunggulan tersendiri dalam menjalankan suatu usaha. Lokasi yang mudah dijangkau cenderung memudahkan konsumen untuk mendapatkan produk sehingga meningkatkan daya jual dari suatu produk. Brownies Bekatul memiliki lokasi strategis yang dipilih untuk lokasi pemasaran, diantaranya di darah Padjajaran, Bogor. Selain lokasi yang strategis, faktor lain yang mempengaruhi pemasaran dari suatu produk adalah harganya yang relatif terjangkau. Harga merupakan jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk setiap produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Penentuan harga didasarkan atas perhitungan biayaproduksi yang ditambah dengan profit yang disesuaikan dengan harga produk sejenis. Penentuan harga yang stabil juga merupakan salah satu strategi yangdapat menjaga konsumen tidak berpaling ke produk lainnya. Produk memiliki harga yang bervariasi, yakni : BeBe large (800 gr) BeBe medium (600 gr) BeBe small (400 gr) : Rp 50.000 : Rp 40.000 : Rp 25.000

Target pemasaran merupakan sasaran pasar yang ingin dituju oleh suatu produsen yang akan menawarkan produknya. Target pasar yang tepat dengan karakteristik produk yang ingin

ditawarkan mampu meningkatkan penjualan suatu produk. Target pemasaran pada produk Brownies Bekatul, umumnya mampu diterima oleh semua kalangan, tetatp lebih ditargetkan untuk usia anak-anak hingga dewasa. Pada usia tersebut, cenderung membutuhkan gizi yang cukup bagi tubuh. Selain itu Brownies Bekatul ini aman dikonsumsi bagi penderita diabetes karena kandungannya yang dapat menurunkan kadar gula darah. Brownies Bekatul juga membuat stan di acara-acara tertentu, seperti pameran pangan dengan desain Qualit Time to Share dengan menunjukan unussual positioning dari Vege Bread, yaitu brownies sehat dan enak. Untuk kedepannya, VegeBread dapat menitik beratkan sebagai icon brownies sehat dan enak yang cocok sebagai buah tangan dari kota wisata Bogor dan Bandung. Selain membaca peluang yang ada, Brownie Bekatul juga merencanakan pemasaran yang lebih spesifik baik dari target pasar, segmen pasar, 4P (produk,tempat, promosi, harga), unussual positioning, pesan, dan jalur distribusinya. Perencanaan pemasaran yang spesifik dari Brownies Bekatul adalah sebagai berikut: Nama produk Profil Target pasar : BeBe (Brownies Bekatul) : CV. BeBe : anak-anak sampai dewasa

Unussual Positioning : Brownies sehat dan enak tanpa BTP. Placement : Tingkatkan daya kretifitas loe dengan yang sehat dan alami

Brownis Bekatul memiliki strategi untuk dapat bertahan menjadi icon suau tempat wisata dan tetap terus bertahan didalam dunia perdagangan dengan beberpa cara, seperti memperkuat promosi baik melalui media cetak, elektonik, maupun online, dan melalui pameran pangan. Kemudian mematenkan Brownies Bekatul sebagai brownis sehat dan aman sehingga konsumen yakin dan menjadi pelanggan tetap. Brownies Bekatul juga menampilkan Nutrition Fact pada label kemasan, serta melalui promosi-promosi pada hari atau event tertentu. Selain itu, BeBe juga akan terus berinovasi untuk menciptakan produk yang berkualitas dan variatif. Semua kegiatan ini diharapkan agar BeBe dapat bertahan menghadapi persaingan pasar.

BAB IV ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

Sejalan dengan evaluasi aspek produk, aspek pasar dan pemasaran yang menggambarkan masa datang, juga dilakukan penelitian aspek teknis dan teknologi. Aspek teknis merupakan aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek selesai dibangung. Perencanaan teknis berhubungan dengan pemilihan lokasi usaha atau pabrik dan alokasi output pabrik, penentuan biaya produksi, dan struktur organisasi. Studi aspek teknis dan teknologi akan mengungkapkan kebutuhan apa yang diperlukan dan bagaimana secara teknis proses produksi akan dilaksanakan. 4.1 Lokasi Pemilihan lokasi yang tepat dalam memulai mendirikan suatu tempat usaha merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kemajuan atau keberhasilan suatu usaha. Untuk memperoleh keberhasilan tersebut pemilihan lokasi yang dianggap strategis harus didasarkan atas faktor primer, yang terdiri dari ketersediaan bahan baku, kapasitas produk, pemasaran dan transportasi, dan faktor sekunder seperti, tenaga kerja, utilitas, pengolahan limbah, iklim, dan lingkungan. Dibutuhkan perhitungan yang tepat, baik dari segi faktor primer dan sekunder dalam menentukan tempat lokasi karena lokasi yang tepat dan strategis dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan bahkan menguntungkan suatu perusahaan namun apabila perusahaan salah dalam menentukan tempat lokasi maka tidak menutup kemungkinan suatu perusahaan akan mengalami kerugian yang cukup besar. Brownies Bekatul dalam hal ini telah memilih salah satu lokasi yang berada di jalan Padjajaran kota Bogor, Jawa Barat berdasarkan faktor-faktor pendukung dalam pemilihan suatu tempat lokasi untuk membuka suatu tempat usaha. Pemilihan lokasi tersebut telah didasarkan pada faktor-faktor pendukung, seperti lokasi tersebut dikelilingi oleh pusat perbelanjaan, sentral bisnis, beberapa perguruan tinggi, tempat kuliner, Kebun Raya Bogor, beberapa hotel, beberapa rumah sakit besar, dan dekat dengan akses jalan tol Jagorawi disepanjang jalan raya Padjajaran, sehingga dapat dikatakan lokasi tersebut memiliki akses yang mudah untuk dicapai oleh para calon konsumen sehingga peluang untuk memperoleh keuntungan lebih besar dan optimal. Selain itu lokasi ini juga berdekatan dengan akses pintu masuk dan keluar tol Jagorawi sehingga dapat dilakukan promosi disekitarnya yang dapat

menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas kota Bogor serta dapat semakin meningkatkan keuntungan perusahaan nantinya. Dalam hal bahan baku Brownies Bekatul memutuskan untuk memilih menyuplai bahan baku yang berasal dari supplier yang berada didaerah Karawang. Dalam proses pembuatan produk, Brownies Bekatul memutuskan untuk menyatukan ruang proses produksi dan ruang pemasaran, hal ini berdasrkan strategi yang Brownies Bekatul pilih yakni fresh from the oven sehingga konsumen dapat melihat langsung proses pembuatan produk brownies dan memperoleh brownies dalam keadaan yang baru masak. Brownies Bekatul memutuskan menyewa tempat berupa gedung dua lantai selama 1 tahun dengan luas 80 m2 dengan harga Rp80.000.000 juta per tahunnya. Ruangan tersebut dibagi menjadi dua lantai, yaitu dilantai dasar merupakan ruang produksi (open kitchen), display produk bagi calon konsumen dan ruang pemasaran sedangkan dilantai dua merupakan ruang pemasaran (tempat makan). Secara rinci jumlah kebutuhan bangunan dapat dikatakan sebagai berikut : Kebutuhan utama bangunan = 80m2 = 240 m2 Jumlah kebutuhan saat ini Kebutuhan pengembangan = 320m2 = 2 x 320m2 = 640m2 Jumlah kebutuhan lahan = 320 + 640 = 880 m2 Penyewaan tempat lokasi tersebut dipilih karena melihat prospek jangka panjang dari lokasi tempat usaha tersebut yang strategis dan menjanjikan.

Kebutuhan fasilitas pendukung = 4 x 80

4.2 Kapasitas Produksi Aktivitas produksi hendaknya direncanakan dengan baik agar jumlah produksi yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar. Perencanaan kapasitas produksi ditetapkan berdasarkan proyeksi jumlah permintaan brownies. Disamping itu perencanaan kapasitas produksi yang baru juga didasarkan pada kapasitas peralatan yang sudah ada sehingga diperoleh kapasitas optimal produksi tanpa harus menambah jumlah peralatan yang sudah ada. Berdasarkan hasil riset Departemen Riset BPS, proyeksi permintaan konsumen pertahun adalah 4089 brownies perbulan. Sebesar 57% permintaan brownies di Bogor saat ini dipenuhi oleh industri kecil atau rumahan, dengan kemampuan distribusi yang masih sangat

terbatas. Akan tetapi dengan keterbatasan industri kecil tersebut, perusahaan kami menargetkan 37% dari permintaan total brownies per bulan atau sekitar 1500 brownies/bulan dengan jumlah produksi per hari sebanyak 50-55 brownies. Sehingga apabila terjadi kekurangan produk karena tidak terpenuhinya jumlah permintaan perusahaan kami dapat menutupi kekurangan tersebut. Secara rinci target produksi yang kami tetapkan adalah sebagai berikut : Tabel 3. Jumalah Kebutuhan Adonan Brownies Per Hari Varian topping Original atau coklat Keju Bluebeery Total berat adonan Total produksi Ukuran Small (400gr) 7 7 7 8.400 gr Medium (600gr) 6 6 6 10.800 gr 31.200 gr Large (800gr) 5 5 5 12.000 gr

Untuk membuat brownies Bekatul dengan 3 macam ukuran dengan 3 jenis topping menggunakan satu formula, yaitu formula untuk membuat brownies seberat 800 gr, sehingga jumlah kebutuhan bahan adalah = 39 kali formula 800 gram.

Pemenuhan permintaan juga memerlukan pertimbangan dari segi bahan baku. Bahan baku utama yang kami gunakan yaitu tepung bekatul dan tepung terigu dengan perbandingan 3 : 1 atau digunakan sebanyak 2925 gram tepung bekatul dan 975 gram tepung terigu/hari. Tepung bekatul yang kami gunakan dipasok oleh supplier yang berasal dari Karawang. Selain bahan baku utama, terdapat bahan baku tambahan dalam proses pembuatan Brownies Bekatul ini yaitu margarin sebanyak 3900 gram, gula pasir sebanyak 3900 gram, coklat bubuk 1950 gram, telur sebanyak 117 butir, coklat batang sebanyak 6825 gram. Kebutuhan bahan tersebut disesuaikan dengan formulasi brownies yang ada seperti yang terlampir pada Lampiran 1. Kapasitas alat untuk proses pengadukan/pencampuran adonan adalah sebesar 5 kg dalam satu kali proses sehingga dibutuhkan 6 kali proses untuk memenuhi kebutuhan pembuatan brownies dalam satu hari. Pada proses pemanggangan digunakan oven dengan kapasitas 5 loyang dalam sekali pengovenan. Selain itu digunakan alat-alat produksi lainnya yang tercantum pada Tabel 1 untuk mendukung berjalannya proses produksi. Di perusahaan kami memperkerjakan sekitar 5 orang pekerja produksi. Dalam merekrut pekerja, perusahaan kami memilih pekerja yang produktif dan cekatan. Selain itu harus mempunyai keterampilan

sesuai bidang yang masing-masing kerjakan, sehingga kami akan menyeleksi kemudian membina terlebih dahulu calon pekerja yang akan bekerja di perusahaan milik kami.

Tabel 5. Data Kapasitas Mesin No Mesin peralatan Kapasitas/jam Kapasitas/hari (8jam)

Tabel 4. Daftar kebutuhan departemen (bagian) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kebutuhan ruang Penerimaan dan pemeriksaan bahan baku Penyimpanan bahan baku (penggudangan) penimbangan Pembuatan adonan Pencetakan Pengukusan Pengemasan Penyimpanan produk jadi

Gambar 1. Menghitung kebutuhan Bahan


Efisiensi 90% Penerimaan dan pemeriksaan bahan baku

Efisiensi 100%

Penyimpanan bahan baku

Efisiensi 100%

Penimbangan bahan

Efisiensi 95%

Pembuatan adonan (pencampuaran)

Efisiensi 100%

pencetakan

Efisiensi 100%

pengukusan

Efisiensi 100%

pengemasan

Efisiens 100%

Penyimpanan produk jadi

Target : 54brownies/hari

Tabel 6. Kebutuhan mesin dan peralatan No Mesin peralatan Kapasitas/hari (8jam) Kebutuhan untuk proses Total kebutuhan kapasitas Jumlah mesin yang dibeli

4.3 Layout Penentuan layout merupakan penentuan dari keseluruhan tata letak fasilitas industri yang didalamnya, termasuk bagaimana personelnya ditempatkan, alat-alat operasi gudang, pemindahan material, dan alat pendukung lain sehingga akan tercipta suatu tujuan yang optimum dengan kegiatan yang ada dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam industri skala kecil. Penentuan layout harus mencakup layout site (layout lahan lokasi), layout industri, dan layout bangunan. Tipe utama layout di sebuah pabrik ada dua, yaitu layout fungsional (layout process) dan layout produk (layout garis). Pada layout ruang produksi Brownies Bekatul lebih cocok digunakan adalah layout produk (layout garis), karena mesin dan peralatan disusun berdasarkan urutan dalam proses pembuatan produk. Dalam semua kasus yang terjadi, layout seharusnya mempertimbangkan bagaimana cara mencapai:

1. Pemanfaatan lebih tinggi atas ruang, fasilitas dan tenaga kerja. 2. Perbaikan aliran informasi, barang atau tenaga kerja. 3. Meningkatkan moral kerja dan kondisi keamanan yang lebih baik 4. Meningkatkan interaksi perusahaan dengan konsumen. Layout atau tata letak produksi disusun sesuai proses yang akan dilakukan. Dari awal bahan baku datang dari pintu belakang yang menuju tempat penyimpanan bahan baku. Meja dekorasi di letakkan d tengah dengan tujuan agar konsumen dapat melihat proses pembuatan brownies (open kitchen) karena batasan antara ruang produksi dan pemesanan dibuat dari kaca. Dalam ruang pemasaran terdapat meja-meja untuk para konsumen yang berada di dalam ruangan (indoor) dilantai satu dan dilantai dua. Pada halaman depan dan halaman belakang dibuat sebuah kebun yang bertujuan agar konsumen dapat menikmati alam. Kami telah merencanakan layout proses produksi yang akan kami buat menjadi sebuah tata letak pada usaha Brownies Bekatul sebagai berikut :
1

10

Gambar 1. Layout Ruang Produksi Brownies Bekatul Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pintu masuk Pintu masuk ruang produksi Lemari pendingin Meja persiapan bahan Wastafel Timbangan 7. Mixing (tempat pengadukan) 8. Proofer 9. Oven 10. Meja tempat mengemas produk 11. Pintu belakang

7 8 4

2 5

Gambar 2. Layout Lantai 1 Ruang Dispaly Brownies Bekatul Cafe Keterangan : 1. Pintu masuk 2. Tempat pemesanan dan etalase produk 3. Meja kasir 4. Open kitchen 5. 6. 7. 8. Meja dan kursi pelanggan TV LCD AC Tangga ke lantai 2

5 4 3

Gambar 2. Layout Lantai 2 Brownies Bekatul Cafe Keterangan : 1. 2. 3. 4. Pintu masuk dari tangga Toilet dan tempat wudhu Musholla Kursi dan meja pelanggan 5. TV LCD 6. AC 7. Wi-fi

DAFTAR PUSTAKA

Friyatno, et al. 2011. Pengembangan usaha diversifikasi pangan sebagai modal deseminasi inovasi terknologi [laporan akhir]. Bogor (ID) : Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian. Home page available from : http://pse.litbang.deptan.go.id (9 Oktober 2013).

Nusawanti, TA. 2009. Analsis strategi pengembangan usaha roti pada Bagas Bakery, kabupaten Kendal [skripsi]. Bogor (ID) : Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Nurmalina, Rita. 2010. Studi kelayakan bisnis. Bogor (ID) : Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institus Pertanian Bogor. Auliana, dkk. 2009. Pelatihan Pengolahan Bekatul Sebagai Makanan Fungsional Dalam Pembuatan Aneka Makanan Di Kelurahan Wedomartani Kecamatan Ngemplak Sleman Yogyakarta [Artikel]. Yogyakarta (ID) : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Negeri Yogyakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Bahan Dan Alat 1.1 Bahan Baku : Tepung terigu Tepung bekatul Gula pasir Coklat bubuk Selai Blueberry 1.2 Alat : Alat pengukus Loyang cetakan Panci Pengaduk Mixer Kuas

25 g 75 g 100 g 50 g 3 sdm

Coklat batang Telur Margarin

175 g 3 butir 100 g

Lampiran 2 : Proses Produksi

Masukkan 3 butir telur

Masukkan gula pasir

Campurkan telur dan gula menggunakan mixer

Masukkan mentega yang telah dicairkan ke dalam adonan

Masukkan tepung terigu dan tepung bekatul ke dalam adonan

Aduk hingga adonan mengembang dan berwarna keputihputihan

Masukkan coklat yang telah dicairkan ke dalam adonan

Aduk semua adonan hingga merata

Tuangkan adonan ke dalam loyang

Adonan di dalam panci kukus

Masukkan loyang ke dalam panci kukus

Adonan yang telah dimasukkan ke dalam loyang

Kukus selama 30 menit dengan api kecil

Lampiran 3 : Spesifikasi Bahan Baku Bahan Baku Tepung bekatul Tepung terigu Telur ayam Spesifikasi Coklat terang dan berbau khas Bewarna putih dan tidak bau apek Jenis ayam negri, tidak berbunyi ketika dikocok Halus dan masih keras Halus, tidak menggumpal, berbau khas Bewarna kuning cerah dan tidak bau tengik Gula pasir kristal Tabel 1. Spesifikasi bahan baku

Coklat batang Coklat bubuk Margarin Gula pasir