Anda di halaman 1dari 9

Manajemen Kedaruratan Pasien Trauma Gigi Sulung dan Permanen Gigi Permanen 1.

Enamel Fractures Fraktur enamel pada dasarnya jika hanya fraktur saja tidak membahayakan pulpa. Prognosis fraktur ini baik, dan injury yang menyebabkan fraktur juga dapat menyebabkan luksasi gigi dan merusak pembuluh darah yang mensuplai pulpa. Jika gigi sensitive terhadap perkusi atau jika ada tanda-tanda injury dapat disimpulkan terjadi luksasi gigi. Grinding dan smoothing pada edges yang kasar dan merestorasi struktur gigi yang hilang adalah yang terpenting. 2. Fraktur Mahkota tanpa Pulpa Terbuka Deskripsi Fraktur mahkota yang melibatkan enamel dan dentin sering disebut juga uncomplicated crown fractures. Injuri seperti ini biasanya tidak berasosiasi dengan nyeri parah dan biasanya tidak membutuhkan perawatan penting. Prognosisnya baik jika tidak dibarengi dengan luxation injury dimana gigi menjadi sensitive terhadap paerkusi. Treatment Adanya tekbik etsa menyebabkan restorasi resin komposit pada gigi incisor yang mengalami fraktur mahkota tanpa membahayakan pulpa. 3. Fraktur Mahkota dengan Pulpa Terbuka Deskripsi Fraktur mahkota dengan eksposur pulpa melibatkan enamel, dentin, dan pulpa dan biasa disebut dengan complicated crown fractures. Pulpa terekspos dan fraktur menjadi lebig complicated. Pertimbangan panjang fraktur dapat membantu menenetukan treatment untuk pulpa dan restorasi yang dibutuhkan. Fraktur kecil mungkin membutuhkan vital pulp therapy dan dapat direstorasi dengan resin komposit. Fraktur yang besar mungkin membutuhkan perawatan saluran akar dengan post-core supported crown tergantung pada usia pasien. Tahapan maturasu akar merupakan faktor terpenting dalam memilih antara pulpotomy dan pulpectomy. Karena gigi imatur memiliki dinding

akar yang tipis setiap tindakan harus dibuat untuk mempertahankan pulpa agar tetap dapat memungkinkan terjadinya pertumbuhan akar. Jangka waktu antara I jury dan pemeriksaan mungkin secara langsung dapat berefek pada kesehatan pulpa. Umumnya, semakin cepat gigi dirawat semakin baik prognosis untuk mempertahankan pulpa. Tetapi pulpa yang telah terekspos kurang dari seminggu dapat dirawat dengan menggunakan pulpotomy. Untuk injury yang terjadi 1-2 jam dapat dilakukan direct pulp capping , injury yang terjadi kurang dari 72 Jam dapat dilakukan partial pulpotomy, sedangkan injury yang terjadi lebih dari 72 jam sampai 1 minggu dilakukan pulpotomy. 4. Fraktur Mahkota Akar Deskripsi Fraktur ini biasanya oblique dan melibatkan mahkota dan akar gigi.Fraktu ini mirip fraktur mahkota namu lrnih serius karena melibatkan akar. Pada fraktur ini pulpa biasanya terekspos. Perawatan Kedaruratan Gigi dengan fraktur mahkota akar biasanya sakit. Injury seperti ini sering membutuhkan perawatan darurat yang terdiri daru perlekatan pragmen gigi yang hilang dan pulp therapy. Jika akar imatur, pulpotomy lebih recommended dibanding pulpectomy dimana pulpectomy merupakan pilihan perawatan untuk pasien dengan gigi yang terlah sempurna terbentuk. 5. Fraktur Akar Deskripsi Fraktur akar biasa juga disebut sebagai intraalveolar root fracture, horizontal root fracture, dan tranverse root fractures. Secara klinis root fractures menimbulkan nyeri saat menggigit. Gejala biasanya ringan. Perawatan Kegawatdaruratan Perawatan utama untuk gigi dengan fraktur akar respositioning dan stabilisasi- harus digolongkan sebagai prioritas utama. Reposisi segemen koronal yang berpindah posisi lebih mudah jika dilakukan segera setelah

injuri dan reposisi yang terlambat akan membutuhkan intervensi orthodontic agar dapat memindahkan segmen koronal ke posisi yang diinginkan. Setelah reposisi segmen koronal gigi harus dilakukan splinting yntuk memungkinkan repair dari jaringan periodontal. Empat sampai enam mingggu stabilisasi biasanya cukup , kecuali jika fraktur berlokasi pada crest tulang alveolar maka diperlukan waktu yang lebih lama untuk stabilisasi. Perawatan Saluran Akar Perawatan saluran akar diindikasikan jika terdapat pathosis dan biasanya diakibatkan perkembangan nekrosis pulpa pada bagian koronal yang biasanya memicu lesi inflammatory pada daerah yang berdekatan dengan garis fraktur. Berbeda dengan perawatan saluran akar pada kebanyakan kondisi endodontic, ketika diindikasikan untuk gigi dengan horizontal root fractures, perawatannya biasanya terbatas pada saluran akar di dalam segemn koronal dari garis fraktur. Pulpa pada segemn apical biasnaya dibiarkan vital. 6. Luxation Injuries Deskripsi Luxation injuries melibatkan trauma pada struktur pendukung gigi dan sering mempengaruhi suplai sarah dan vaskular pada pulpa.

Penyebabnya biasanya tiba-tiba seperti membentur objek keras saat terjatuh. Semakin parah luksasi semakin besar kerusakan pada periodontium dan pulpa. Macam-macam luksasi : o Concussion Gigi biasanya hanya sensitive pada perkusi. Tidak ada peningkatan mobilitas dan gigi tidak mengalami perpindahan posisi. Pulpa biasanya merespon pada test normal dan tidak ada perubahan radiograf. o Subluxation Gigi dengan subluxation sensitive terhadap perkusi dan mengalami peningkayan mobilitas. Sulcular bleeding sering

terjadi mengindikasikan kerusakan pembuluh dan robeknya ligament periodontal. Gigi biasanya tidak mengalamu

perpindahan posisi dan pulpa berspon normal terhadap tes dan terkadang gagal untuk merespon. o Extrusive Luxation Gigi telah sebagian berpindah posisi dari socket sepanjang sumbu gigi. Gigi yang mengalami ekstrusi mengalami peningkatan mobilitas yang tinggi dan radiograf menunjukan perpindahan posisi. Pulpa biasanya tidak merespon terhadap tes. o Lateral Luxation Gigi berpindah kea rah bukal , lingual, atau mesiodistal. Sensitivitas terhadap perkusi mungkin ada atu tidak ada. o Intrusive Luxation Gigi tertekan dari soketnya kea rah aksial atau apical. Gigi tersebut tidak memiliki mobilitas. Perawatan Luxation Injury Untuk concussion injury , perawatan yang immediate tidak terlalu diperlukan. Pasien harus membiarkan giginya rest (menghindari menggigit) sampai sensitivitas hilang. Status pulpa terus dimonitor. Subluxation tidak perlu dilakukan perawatan kecuali jika movilitas berat dan mobilitas grade 2 , dan stabilisasi diperlukan untuk periode waktu yang singkat (1-2minggu). Extrusive dan lateral luxation membutuhkan reposisi dan splinting, Durasi waktu splinting tergantung keparahan injuri. Ekstrusi biasanya membutuhkan waktu untuk splinting selama 2 minggu tetapi jika telah melibatkan fraktur tulang membutuhkan waktu 4 minggu. Perawatan saluran akar diindikasikan untuk gigi yang memiliki diagnosis irreversible pulpitis atau nekrosis pulpa. Perawatan untuk intrusive injury tergantung pada maturitas akar . Jika gigi belum terbentuk sempurna dengan apex terbuka, gigi tersebut dapat secara spontan mengalami reposisi. Jika telah terbentuk sempurna , ekstrusi aktif diperlukan setelah injuri baik dengan orthodontic atau

bedah. Perawatan saluran akar dindikasikan untuk gigi intrusi dengan pengecualian gigi imatur, dengan kasus dimana pulpa dapat mengalami revaskularisasi. 7. Avulsi Deskripsi Gigi avulsi adalah gigi yang benar-benar telah keluar dari socket alveolarnya. Jika gigi ditanam kembali segera setelah avulse , periodontal ligament memiliki kesempatan yang bagus untuk healing. Sangat penting untuk mempertahankan sel-sel ligament periodontal dan fiber tetap melekat oada permukaan akar denga lembab. Perawatan o Immediate Replantation Prognosis meningkat setelah dilakukan immediate replantation segera setelah avulse.Replantasi dapat dilakukan pada tempat dimana injuri terjadi.Pertolongan pertama untuk gigi avulse : 1) Bilas gigi di dengan air dingin mengalir selama 10 detik 2) Jangan menggosok gigi 3) Letakan gigi di dalam socket menggunakan jari dengan tekanan ringan 4) Tahan gigi pada posisinya 5) Lakukan dental care segera Dokter gigi harus mencari injuri tambahan pada gigi yang berlawanan dan mengevaluasi gigi yang mengalami replantasi o Replantasi Untuk Gigi yang Mengalami Avulsi dalam 1 Jam dengan Apeks Tertutup Jika replantasi tidak dapat dilakukandi tempat terjadi injury , pasien harus dibawa ke dental office dan gigi dimasukan ke dalam media yang dapat menjaga gigi tetap lembab. Media transport yang paling baik adalah physiologic saline . Namun susu dapat menjadi alternative pilihan . Saliva juga merupakan menjaga gigi tetap

media transport yang masih bisa diterimak.Ketika pasien datang prosedur yang dilakukan yaitu : 1) Letakan gigi pada cangkir yang telah berisikan

physiologic saline sembari mempersiapkan replantasi. 2) Ambil radiograf untuk area yang mengalami injury untuk melihat ada tidaknya fraktur alveolar. 3) Periksa avulsion site 4) Irigasi socket secara perlahan dengan menggunakan saline untuk menghilangkan coagulum terkontaminasi 5) Genggam mahkota gigi dengan menggunakan gunting tang ekstraksi 6) Periksa gigi apakan ada debris atau tidak, jika ada hilangkan dengan larutan saline menggunakan syringe 7) Menggunakan gunting tang, masukan sebagian gigi ke dalam socket. Tekanan jari ringan dapat digunakan untuk memantapkan posisi gigi. 8) Check alignment dan koreksi jika ada hiperoklusi. 9) Stabilisasi gigi untuk 2 minggu dengan flexible splint 10) Antibiotik direkomendasikan untuk pasien dengan

replantasi gigi avulse. 11) Instruksikan pasien dan orangtua untuk memakan makanan yang lembut selama 2 minggu dan menyikat gigi dengan bulu sikat gigi yang lembut setelah makan, dan menggunaka obat kumur chlorexidine 2kali sehari selama seminggu. o Replantasi Avulsi dalam Waktu 1 jam dengan Apeks Terbuka Prosedur : 1) Letakan gigi dalam cangkir yang mengandung saline 2) Berikan anestesi lokal 3) Periksa socket alveolar, apakah ada fraktur pada dinding socket

4) Jika memungkinkan, tutup permukaan akar dengan menggunakan minocycline hydrochloride microsphere sebelum replantasi gigi 5) Replantasi gigi dengan menggunakan tekanan ringan 6) Suturasi laserasi gingival khususnya pada daerah servikal 7) Verifikasi posisi normal pada gigi yang direplantasi 8) Berikan antibiotic pada pasien Perawatan saluran akar diindikasikan untuk gigi maturn dan diselesaikan 1 minggu dan sebelum splint diangkat. Pengecualian untuk perawatan saluran akar adalah gigi imatur dengan apeks terbuka karena gigi tersebut dapat revaskularisasi namun harus dievaluasi dalam interval waktu 2,6 dan 12 bulan setelah replantasi . o Replantasi untuk Gigi yang Mengalami Avulsi Lebih dari 1 JamGigi dengan Apeks Terbuka Jika gigi telah keluar dari socket alveolar lebih dari 1jam (dan tidak dijaga tetap lembab dalam media yang pas) sel-sel ligament periodontal dan fiber tidak akan bisa dipertahankan. Ketika pasien datang tahapan yang dilakukan : 1) Periksa daerah gigi yang mengalami avulse dan lakukan radiograf untuk melihat apakah ada fraktur alveolar apa tidak 2) Hilangkan debris dan potongan jaringan lunak 3) Rendam gigi di dalam larutan sodium fluoride 2.4% selama 5-20 menit 4) Lakukan perawatan saluran akar pada gigi 5) Aplikasikan anestesi lokal 6) Hilangkan gumpalan darah pada socket alveolar dan irigasi socket dengan menggunakan saline 7) Replant gigi dengan perlahan ke dalam socket , dan cek allignement dan kontak oklusal 8) Splint gigi selama 4 minggu

8. Fraktur Alveolar Nekrosis pulpa biasanya berasosiasi dengan fraktur alveolar yang kemudian dapat berasosiasidengan injuri facial utama yang lain. Hal utama dan yang terpenting dalam manajemen fraktur alveolar yaitu spinting segmen ke gigi terdekat. Bedah oral dan maksilofasial biasanya dilakukan untuk prosedur ini. Kurang respon terhadap tes pulpa nekrosis pulpa dalam 3-6 bulan dapat mengindikasikan nekrosis pulpa sehingga sangat penting untuk dilakukan perawatan saluran akar.

Gigi Sulung 1) Fraktur Mahkota tanpa Pulpa Terbuka Fraktur mahkota bisa jadi membutuhkan perawatan yang segera jika anak kecil yang masih sangat muda memiliki gigi yang patah dengan edges yang tajam. Gigi sulung dapat direstorasi dengan menggunakan glass ionomer atau komposit atau lokasi fraktur dapat diperhalus tanpa merestorasinya. 2) Fraktur Mahkota dengan Pulpa Terbuka Fraktur mahkota dengan eksposure pulpa merukan kondisi emergency yang sulit terlebih jika mengenai gigi sulung. Perawatan termasuk pulpotomy dengan kalsium hidroksida, pulptomy, ekstraksi, tergantung pada usia pasien. Jika terapi pulpa vital memungkinkan, fraktur mahkota dapat direstorasi dengan resin komposit 3) Fraktur Akar-Mahkota Fraktur akar-mahkota pada gigi sulung biasanya mengekspos pulpa dan ekstraksi diindikasikan 4) Fraktur Akar Menghilangkan segmen koronal dan meninggalkan apeks akar in situ merupakan pilihan perawatan untuk fraktur akar dengan adanya displacement coronal. 5) Fraktur Alveolar

Fraktur ini merupakan injuri berat yang membutuhkan anestesi umum pada saat dilakukan perawatan. Segmen yang displaced harus direposisi dan splinting terhadap gigi terdekat dalam waktu 4 minggu. 6) Luxation Injuries Concussion dan s Ubluxation tidak memerlukan treatment hanya dengan peningkatan oral hygiene saja. Gigi dengan lateral dan ekstrusive luxation bisa saja dibiarkan tidak dirawat, bisa juga dilakukan reposisi jika ditemukan gangguan oklusi atau dilakukan ekstraksi tergantung kepaarhan injury.Gigi dengan intrusive luxation harus secara hati-hati untuk menentukan arah intrusi. Gambaran radiografik memberikan informasi untuk mengkonfirmasi posisi intruded dari gigi dan kedekatannya dengan jaraknya terhadap successor permanen. Jika gigi intrusi memendek pada film dan apeks mengarah ke x-ray cone gigi tersebut tidak membahayakan gigi permanen sehingga dibiarkan untul reerupsi. Jika gigi terlihat memanjang , apeks mengarah ke successor permanen dan dapat menimbulkan resiko pada benih gigi permanen. Gigi harus diekstraksi . 7) Avulsi Replantasi gigi sulung yang mengalami avulse tidak direkomendasikan karena dapat menimbulkan resiko kerusakan pada successor permanen.