Anda di halaman 1dari 9

Juru Sita dan Tugas-Tugasnya

Pengertian
Juru sita adalah: pejabat yang melaksanakan pemanggilan, pemberitahuan dan menjalankan putusan. Syarat menjadi jurusita; berijasah paling rendah SMU, berpengalaman 3 th sbg jurusita pengganti. Sedangkan untuk diangkat sbg jursita pengganti berpengalaman 3 th sbg PNS di PA (ps.39 UU No./2006) Juru sita diangkat dan diberhentikan oleh MA atas usul ka.PA (ps.40) Jurusita pengganti diangkat dan diberhentikan oleh ka.PA (ps.40) Juru sita tidak boleh merangkap sebagai wali, pengampu dan pejabat yang berkaitan dengan perkara yang didalamnya ia sendiri berkepentingan, jurusita tidak boleh merangkap sebagai advokat (ps.42)

Tugas Juru sita


Melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh ketua sidang Menyampaikan pengumuman-pengumuman, panggilan, teguran-teguran dan pemberitahuan penetapan/putusan pengadilan menurut caracara berdasarkan ketentuan UU Melakukan penyitaan atas perintah ketua Pengadilan Membuat berita acara penyitaan (ps.103 UU No.7/1989)

A. Pemanggilan
Salah satu tugas tugas juru sita pengganti adlah melakukan pemanggilan atau pemberitahuan (exploot) yang harus disampaikan dengan risalah tertulis (schriftelijk relaas). Exploot dalam bahasa Benada atau Efploit dalam bahasa Perancis adalah surat panggilan yang disampaikan oleh jurusita/juru sita pengganti. Sedangkan relaas adalah berita acara pemanggilan sebagai isi dari exploot tersebut Dalam perkembangannya istilah yang lazim digunakan buka exploot/exploit tetapi rlaas panggilan karena memang subtansi dari exploot tersebut adalah relaas panggilan atau berita acara panggilan Relaas dilihat dari bentuknya merupakan akta autentik karena dibuat oleh pejabat yang berwenang, sehingga apa yang tercantum dalam relaas tersebut dianggap benar.

Asas Pemanggilan Asas yang harus diperhatikan dalam pemanggilan adalah: a. Pemanggilan harus dilakukan secara resmi artinya dilakukan oleh yang berwenang, tepat kepada objek/sasaran pemanggilan dan tata cara pemanggilan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan b. Pemanggilan harus dilakukan secara patut artinya tenggang waktu pemanggilan dengan sidang pertama tidak kurang dari tiga hari (bagi alamatnya yang jelas)

Tata cara Pemanggilan a. Pemanggilan disampaikan kepada yang bersangkutan ditempat tinggal orang yang dipanggil (in person) b. Apabila orang yang dipanggil tidak bisa ditemui, maka panggilan disampaikan kepada Lurah/Kepala desa c. Apabila yang dipanggil berada diluar wilayah yuridiksi, maka PA yang bersangkutan memohon bantuan kepada PA yang ada didaerah orang yang akan dipanggil untuk melakukan pemanggilan d. Apabila yang akan dipanggil tidak diketahui alamatnya, maka pemanggilan disampaikan melalui bupati/kotamadya, ditempel di papan pengumumam pengadilan dan khusus untuk perkara perkawinan pemanggilan dilkukan dengan cara dimuat di surat kabar sebanyak dua kali dengan tenggang waktu antara pengumuman pertama dengan yang kedua satu bulan dan tenggang waktu antara pengumuman terakhir dengan sidang pertama tiga bulan e. Pemanggilan disampaikan melalui kementrian Luar Negeri c.q. Dirjen Protokoler yang tembusannya disampaikan kepada Kedubes RI setempat, apabila yang bersangkutan berada di luar negeri f. Pemanggilan disampaikan kepada ahli warisnya apabila yang bersangkutan meninggal dunia

B. Penyitaan
Sita: suatu tindakan hukum oleh hakim yang bersipat eksepsional atas permintaan salah satu pihak yang berperkara untuk mengamankan objek sengketa atau yang menjadi jaminan dari kemungkinan dipindahtangankan dsb untuk menjamin agar putusan hakim dapat dilaksanakan sebagiamana mestinya Macam: 1)sita revindikasi: sita terhadap barang bergerak yang diajukan oleh pemilik barang yang sah untuk menuntut kembali barang miliknya dari pemegang yang menguasai barang itu tanpa hak. 2)sita jaminan/conservatoir; sita yang diletakkan baik terhadap harta yang disengketakan maupun terhadap harta kekayaan tergugat yang bertujuan untuk memberi jaminan kepada pengguat agar harta yang disengketakan atau harta kekayaan tergugat tetap ada dan utuh sehingga sita itu memberi jaminan kepada pihak penggugat bahwa kelak gugatannya tidak hampa pada saat putusannya dilaksanakan. 3) sita harta bersama/marital: adalah sita yang diletakan atas harta bersama suami istri baik yang ada pada suami maupun pada istri dalam perkara perceraian atau gugatan harta bersama. 4)sita eksekusi/eksekutorial: sita yang diletakan atas barang-barang yang tercantum dalam amar utusan yang telah berkekuatan hukum yang tetap yang merupakan tindakan awal pelaksanaan eksekusi secara paksa

Tata Cara Penyitaan Dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan, surat penetapan sita dibuat oleh ketua atau majlis hakim yang bersangkutan. Surat penetapan tersebut berisi perintah kepada panitra atau jurusita untuk melaksanakan sita terhadap objek yang disebutkan dalam surat penetapan. Penyitaan dilaksanakan oleh panitra atau jurusita Pemberitahuan penyitaan, secara formal penyitaan harus diberitahukan kepada termohon sita/tergugat dan hal ini bersifat imperatif, pemberitahuan sita itu memuat waktu sita, barang dan tempat penyitaan serta agar menghadiri pelaksanaan sita Jurusita dibantu oleh dua orang saksi Pelaksaanaan sita dilakukan ditempat barang, Juru sita dan saksi datang ketempat barang yang akan disita, penyitaan yang tidak dilakukan ditempat barang berada adalah tidak sah

Membuat berita acara penyitaan, hal-hal yang harus dimuat dalam berita acara penyitaan adalah: nomor, tgl,bl,th. surat penetapan perintah sita sebagai dasar pelaksanaan penyitaan, hari, tg, bl th, dan jam pelaksaan penyitaan, identitas saksi, rincian barang yang disita, keterangan tentang kehadiran/ketidakhadiran tergugat, penegasan bahwa penjagaan atas objek sita diserahkan kepada tergugat/termohon sita, ditandatangani oleh juru sita dan saksi Pendaftaran sita, mendaftarkan dan mengumumkan berita acara sita dikantor pendaftaran yang berwenang untuk itu. Apabila barang yan akan disita berupa tanah bersertifikat didaftarkan kepada badan pertanahan nasional sedangkan yang belum bersertifikat dicatatkan dalam buku leter C dikantor lurah/Desa Menempatkan barang sitaan ditempat semula, penjagaan sita atas barang bergerak/tidak bergerak diserahkan kepada tergugat/termohon sita, dilarang mengalihkan/menyerahkan penjagaan kepada pemohon/penggugat atau pihak ketiga, termohon sita berhak memakai, menggunakan barang yang disita kecuali pemakaian tersebut mengakibatkan barang sitaan menjadi habis