Anda di halaman 1dari 13

TELAAH KURIKULUM DAN KIMIA SEKOLAH 1 Kumpulan artikel mengenai kurikulum dan pendidikan

OLEH: NAMA NIM/ BP PRODI : Nofri Setiawan : 1201509/2012 : Pendidikan Kimia

DOSEN PEMBIMBING Dr. LatismaDj, M.Si.

UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013

Guru Tak Siap Hadapi Kurikulum 2013


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Persoalan pelaksanaan kurikulum 2013 seperti tidak ada habis-habisnya. Setelah minim ketersediaan buku, kini giliran belum adanya silabus dan ketidaksiapan guru menghadapi kurikulum baru tersebut. Silabus dan kesiapan guru sangat penting untuk memudahkan mengimplementasikan kurikulum 2013. Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Bandar Lampung Djumadi mencontohkan guru SMK belum menerima silabus. Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah menjanjikan pedoman pembelajaran di kelas tersebut. Namun, silabus yang dijanjikan tidak kunjung diterima oleh guru. Seperti di SMK 2 Mei Bandar Lampung, yang ditunjuk sebagai sekolah sasaran penerapan kurikulum baru. Lantaran belum ada silabus, para guru terpaksa masih mengajar menggunakan kurikulum lama, yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). "Padahal, Pemerintah Pusat berjanji akan mengirimkan silabus tersebut, tapi hingga kini kami tidak kunjung menerimanya," kata Kepala SMK 2 Mei Bandar Lampung Djumadi kemarin. Pihaknya telah berusaha mencari informasi tentang silabus yang dijanjikan melalui situs Kemendikbud. Tetapi, hasilnya kurang memuaskan. "Sekarang kami hanya tinggal wait and see saja," ujar Djumadi. Selain belum adanya silabus, guru di lapangan pun gagap menghadapi kurikulum 2013 ini. Ketidaksiapan tersebut bukan lantaran kesalahan guru, melainkan kesalahan dari Pemerintah Pusat. "Jangan salahkan guru jika gagap menghadapi kurikulum baru. Karena memang mereka tidak disiapkan oleh pemerintah secara matang," kata Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Gino Vanolie, Rabu (17-7). Menurut Gino, yang juga kepala Dinas Pendidikan Way Kanan, untuk menjalankan kurikulum baru guru membutuhkan kesiapan mental dan penguasaan yang dalam. Kesiapan ini tak bisa diperoleh dalam waktu instan. Dipaksakan Gino dan Djumadi pun menyimpulkan banyaknya kekurangan yang terjadi pada persiapan dan implementasi kurikulum 2013 merupakan cerminan ketidaksiapan pemerintah. "Pemerintah terlalu tergesa-gesa, perangkat saja belum disiapkan tapi sudah dipaksakan untuk diimplementasi," kata Djumadi.

Gino menambahkan ketidaksiapan pemerintah terlihat juga dalam hal pengadaan buku. Menurutnya, dana alokasi khusus (DAK) penggandaan buku di daerah sebenarnya ada. "Pagu anggarannya sudah ada. Tapi hingga detik-detik terakhir, master naskah yang dibutuhkan tidak kunjung diterima. Kalau demikian, bagaimana kami bisa mencetak buku. Ini bukti kurikulum ini tidak siap," kata dia. Ketidakmampuan pemerintah dalam menyiapkan tenaga pendidik juga diakui oleh Parwono, salah satu anggota tim pengembangan kurikulum di Provinsi Lampung. Ia mengatakan 20-an guru asal Lampung gagal mengikuti pelatihan guru inti karena terkendala anggaran. "Tidak hanya saya. Kurang lebih 20 guru asal Lampung yang telah diusulkan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Lampung untuk disiapkan sebagai instrukstur nasional gagal berangkat ke Jakarta lantaran tak ada biaya," ujarnya. Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Terpadu di Kota Bandar Lampung menilai sukses tidaknya kurikulum bergantung kepada kualitas guru. "Jika persiapan pemerintah matang, situasinya tidak akan seheboh ini," kata dia. Djumadi menyoroti pelatihan bagi guru SMK yang dilaksanakan beberapa pekan lalu. Pelatihan tersebut dinilai sangat kurang bagi guru SMK yang mengajar kejuruan. Materi yang diberikan masih merupakan dasar-dasarnya saja. "Guru kejuruan harus mendapat pelatihan yang lebih intensif karena tanggung jawab mengajarnya lebih berat," ujar Djumadi. Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Tatang mengatakan penerapan kurikulum 2013 belum merata. Saat ini baru diterapkan di 17 SD, 6 SMP, 7 SMA, dan 6 SMK. Tidak meratanya penerapan kurikulum tersebut terkait masalah dana.

Kondisi Pendidikan di Daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal


Laporan VITALIS JEBARUS (Peserta PPG SM3T Angkatan Pertama, Universitas Pendidikan Indonesia) INDONESIA adalah salah satu negara yang memiliki kemajemukan (unitax multipeks) dalam pelbagai dimensi kehidupan, baik strata sosio-kultur, politik, ekonomi, juga kondisi geografis dan topografi alamnya. Diversity yang dimiliki masyarakat bangsa Indoensia itu di suatu pihak menjadi kebanggaan, tetapi di lain pihak menjadi penghambat dalam menjalankan roda pembangunan bangsa, khususnya pembangunan di dunia pendidikan. Kondisi dan karakter alam yang berbeda-beda berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan perbedaan ekonomi berpengaruh pada partisipasi masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan di negara ini. Perbedaan kondisi topografi alam juga berdampak pada lambat dan tidak meratanya penyebaran tenaga guru, sarana dan informasi yang bisa menunjang kegiatan pendidikan di setiap sekolah yang ada. Akibatnya kita masih ditemukan daerah-daerah yang tergolong tertinggal, terbelakang, terdepan dan belum tersentuh oleh pelayanan pendidikan yang layak dan memadai. Permasalahan Pendidikan di Daerah 3T Beberapa permasalahan penyelenggaraan pendidikan, khususnya di daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T) antara lain; persedian tenaga pendidik, distribusi tidak seimbang, insentif rendah, kualifikasi dibawah standar, guru-guru yang kurang kompeten, serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang ditempuh, penerapan kurikulum di sekolah belum sesuai dengan mekanisme dan proses yang standarkan. Permasalahan lainnya adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi. Berangkat dari sejumlah permasalahan yang disebutkan di atas pendidikan di daerah 3T perlu dikelola secara khusus dan sungguh-sungguh supaya bisa maju sejajar dengan daerah lain. Hal ini bisa terwujud bila ada perhatian dan keterlibatan dari semua komponen bangsa ini, baik yang ada di daerah maupun di pusat. Selain itu, kebijakan pembangunan pemerintah daerah dan pusat memperioritaskan daerah 3T itu. Menteri Pendidikan Nasional menegaskan daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia, (Juknis SM-3T). Sekolah-sekolah di daerah terpencil tidak memberikan kontribusi bagi investasi politis dan ekonomi, tetapi pendidikan di daerah-daerah terpencil berkontribusi bagi pembentukan karakter manusia Indonesia yang berkualitas kedepan.

Kondisi Objektif Salah Satu Sekolah di Daerah 3T Kondisi Geografis Secara geografis SMPN Satap Kembang Lala berada di belahan Utara Manggarai Timur, persisnya di kampung Golo Cewo, desa Kembang Mekar, kecamatan Sambi Rampas-NTT. SMPN Satap ini

berada di daerah yang sedikit jauh dari pusat pelayanan pendidikan dan terkesan teisolir karena topografi alam yang berbukit-bukit dan terjal. SMPN Satap Kembang Lala adalah SMP Baru yang terletak di desa Kembang Mekar. SMPN Satap 2 Kembang Lala memiliki luas area sekitar 2.500 m .. Gedung sekolah ini merupakan gedung SDI Kembang Lala, karena kedua satuan pendidikan ini masih berada di bawah satu atap. Secara topografis lingkungan sekolah ini berada di lereng bukit, di sebelah Timurnya area persawahan masyarakat, di sebelah Baratnya kompleks Gereja Stasi Kembang Lala dan sebelah tenggaranya berbatasan dengan kompleks postu dan kantor desa Kembang Mekar. Karena lokasi sekolah ini berada di antara kedua kompleks umum ini, maka suasana lingkungan sekolah sangat kondusif bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Topografi yang berbukit-bukit berpengaruh pada arus transportasi dari kota kabupaten ke daerah ini. Hanya dua kendaraan yang melintas ke desa Kembang Mekar. Jarak tempuh dari kota kabupaten kurang lebih 3 jam dengan kendaraan. Jenis kendaraan yang biasa ditumpang adalah dantruck yang telah dimodifikasi menjadi oto penumpang alias oto kol. Tempat duduk dalam oto ini terbuat dari papan. Setelah turun dari mobil tulang pinggang terasa sakit. Belum ada bus menuju kampung Golo Cewo. Dua kendaraan yang biasa bertaksi ke daerah itu hanya sampai di ujung aspal. Kami harus berjalan kaki dari ujung aspal menuju kampung itu kurang lebih 1 jam perjalanan. Kondisi aspal dari kota kabupaten ke kecamatan Sambi Rampas sangat sempit dan medannya terjal, bahkan banyak yang sudah rusak. Sampai sekarang belum ada perhatian pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan rusak itu. Kondisi Pendidikan Kondisi Fisik Gedung Sekolah Secara fisik gedung sekolah ini masih kelihatan bagus karena usianya masih relatif muda. Suasana sekitar gedung ini sepih dan sejuk karena di sekelilingnya masih banyak pohon yang rindang. Gedung sekolah memiliki jumlah ruangan yang terbatas; empat ruang kelas, satu ruang guru, satu ruang perpustakaan yang kosong dan 2 kamar WC. Oleh karena jumlah ruangan kelasnya masih terbatas maka sekolah belum bisa menyediakan sarana-sarana yang bisa mendukung kegiatan belajar-mengajar di satuan pendidikan itu. Kegiatan belajar-mengajar untuk para siswa/i SMP di buat sore hari karena pagi harinya ruangan-rungan kelas yang ada digunakan oleh anak-anak SD. Itu pun, karena ruangan terbatas maka anak-anak SD menggunakan gedung gereja sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan belajar-mengajar. Kondisi Siswa Secara kuantitatif murid SMPN Satap Kembang Lala berjumlah 21 orang dan semuanya berada dalam satu rombongan belajar. Pada awalnya mereka berjumlah 23 orang tetapi 2 orang harus berhenti sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan. Ironisnya, SMP Negeri satu atap ini membebankan biaya pendidikan ke orang tua Rp. 100.000 per bulan, untuk biaya SPP. Angka ini melebihi SPP sekolah swasta yang ada di sekitarnya. Menyangkut daya serap murid terhadap mata pelajaran yang ada sangat variatif. Ada beberapa anak yang memiliki daya serap yang sangat bagus, beberapa di antaranya memiliki daya serap yang cukup dan sebagian kecilnya memiliki daya serap yang rendah.

Kondisi Guru Guru-guru yang mengajar di SMPN Satap Kembang Lala sebagian besarnya adalah guru-guru Sekolah Dasar, dan dua di antaranya adalah Guru SM-3T. Sejak sekolah ini dibuka belum ada tenaga guru yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga untuk mengabdi di SMP satap ini (persediaan guru masih kurang). Sebagai solusinya kepala sekolah (yang adalah kepala SD) memanfaatkan guru-guru sekolah dasar untuk mengisi kekosongan tenaga itu. Dampaknya guru-guru yang mengajar di SMP Satap ini ditempatkan berdasarkan loyalitas dan dibayar murah. Hal ini berdampak juga pada motivasi kerja mereka. Masalah lainnya, dedikasi yang mereka berikan tidak berangkat dari kompetensi dan spesifikasi ilmu yang mereka miliki. Dengan demikian berdampak pada kualitas proses karena guru-guru belum memiliki spesifikasi profesionalitas untuk jenjang pendidikan pada satuan itu. Kami sendiri melihat hal ini sebagai suatu masalah serius yang harus segera dicarikan solusinya oleh dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Manggarai Timur. Guru-guru SM-3T yang datangpun menemukan kesulitan yang sama karena kedua guru SM-3T diminta oleh kepala sekolah untuk mengajar mata pelajaran yang ada di luar spesifikasi dan kompetensi yang kami miliki. Guru yang berlatar belakang pendidikan pahasa inggris mengajar mata perlajaran Matematika. Ini juga berakibat pada kualitas proses. Kurikulum Sekolah Kurikulum yang berlaku di sekolah ini adalah KTSP sebagaimana yang berlaku secara nasional di semua wilayah di Nusantara ini. Ketika kami melihat mekanisme penerapannya di lingkungan sekolah ini, KTSP belum sungguh-sungguh diterapkan oleh karena beberapa faktor berikut ini. Faktor pertama adalah penempatan tenaga pengajar yang belum proporsional, karena pengajar yang ada tidak memiliki kualifikasi akademik seperti yang diharapkan oleh sekolah. Akibatnya guru yang mengajar tidak mengikuti proses dan mekanisme penerapan kurikulum yang sebenarnya. Kedua karena fasilitas pendukung belajar, sekolah belum memiliki buku-buku sumber dan saranan lain seperti laboratorium dan arus listrik yang mendukung kegiatan pembelajaran. Ketiga, untuk pembuatan perangkat dan proses, guru-guru hanya berbuat sebatas apa yang mereka tahu, tanpa mengikuti panduan yang berlaku umum. Ini juga menjadi suatu masalah yang terlihat di sekolah yang ada di daerah 3T. Semua kondisi dan masalah ril yang ada di daerah 3T menjadi masalah bersama yang menggugah rasa nasionalisme kita untuk mengatasinya. Dalam perpektif ini rasa nasionalisme yang kita bangun terbentuk melalui kesadaran universal dari seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memberi prioritas bagi percepatan pelayanan pendidikan dan peningkat mutu pendidikan di daerah 3T itu. Kita tidak lagi memikul senjata untuk menentang segala bentuk kolonialisme dari luar tetapi kita membangun semangat nasionalisme untuk merasakan dan mengambil sikap kongkret dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, terutama anak-anak bangsa yang terhimpit dan terlantar di balik deratan bukit dan lembah atau yang berada di daerah yang terisolir dan tertinggal.

Mirisnya Pendidikan di Pelosok Indonesia


OPINI | 28 February 2013 | 20:49 Dibaca: 594 Komentar: 0 0

Pendidikan di indonesia di zaman yang sudah modern ini sudah semakin berkembang. mulai dari gedung sekolah yang sudah bertingkat sampai fasilitas yang serba modern. tapi bagaimana dengan keadaan pendidikan di pelosok negeri kita indonesia?apakah sama dengan pendidikan di kota kota besar? Di daerah perkotaan, sebagian siswa siswa nya dengan mudah menempuh jarak sekolah dengan menggunakan alat transportasi yang serba mewah. siswa siswa disana tidak perlu mencari biaya untuk sekolah mereka, karena orang tua mereka sudah mapan untuk membiayai pendidikan anak anaknya. Sangat berbeda dengan keadaan pendidikan di perkotaan. Di daerah Pelosok negeri ini , banyak sekali para siswa yang kebanyak tinggal di pelosok negeri yang harus berjuang bertaruh nyawa melewati jembatan yang hampir roboh untuk menuju sekolahnya. para siswa ini pasti ada rasa takut yang mendera ketika melewati jembatan yang roboh yang jika terpeleset maka akan terjatuh ke sungai, tapi karena tekad yang kuat untuk bisa sekolah, meraka harus berani mengambil resiko yang sangat besar seperti ini. Peristiwa lain di bidang pendidikan yaitu masih banyak gedung sekolah yang tidak layak guna, seperti belajar di kandang kambing. apakah siswa siswa ini bisa belajar dengan nyaman jika ditempat seperti ini? jawabannya pasti tidak, karena belajar di tempat sperti itu pasti menggangu karena mungkin pasti tercium bau tidak enak dari kandang tersebut. lalu biaya BOS yang pemerintah dikasih itu apakah sampai ke sekolah di daerah pelosok? apakah dana BOS itu hanya ada di daerah perkotaan saja. Tidak hanya masalah itu saja, siswa siswa disana kebanyakan harus mencari uang agar tetap bisa sekolah. dengan umur mereka yang masih dibawah umur dalam hal bekerja, mereka punya keinginan besar untuk bisa tetap sekolah. selain untuk sekolah, mereka membantu orang tuanya untuk kebutuhan hidupnya sehari hari. begitu besar keinginan mereka untuk tetap sekolah walaupun dengan keadaan yang sangat kekurangan. agar tetap sekolah, diantara mereka harus berjualan di sekolah. mungkin sebagian siswa lain akan merasa malu dengan teman teman yang lainnya, takut di ejek, takut ga punya temen dll. yang harusnya masa anak anak itu

diisi dengan bermain dengan teman temannya, justru mereka harus bekerja untuk bisa menggapai cita cita nya. Lalu apakah pemerintah setempat sudah turun tangan dalam kasus seperti ini.? ? Kasus pendidikan diatas tidak sepadan dengan meningkatnya pejabat yang korupsi , apakah pejabat yang korupsi itu memikirkan bagaiamana keadaan pendidikan di negeri tercinta ini? mengapa mereka lebih memikirkan untuk berkorupsi daripada memperbaiki pendidikan di indonesia? mungkin jika para pejabat tidak korupsi dan hanya memikirkan diri sendiri, maka pendidikan di pelosok negeri ini akan lebih baik. pembangunan fasilitas fasilitas yang tidak penting akan lebih baik jika digunakan untuk memperbaiki jembatan di pelosok negeri ini untuk kepentingan pendidikan. Dalam hal ini peran pemerintah sangat dibutuhkan. karena pendidikan itu hak setiap warga negara indonesia. anak anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti yag tercantum dalam UUD 1945. Kemajuan bangsa indonesia ditentukan oleh generasi muda yang memiliki potensi yang membanaggakan. anak anak di indonesia pasti menginginkan bisa memajukan bangsa nya dan membawa nama indonesia dalam berbagai bidang ke dunia internasional. marilah bersama sama memajukan kualitas pendidikan di negeri ini agar anak anak indonesia bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk negerinya dan secara global mereka bisa membawa harun negeri ini di tingkat internasional.

Pendidikan Tak Merata, Kualitas Masyarakat Tertinggal


JAKARTA, KOMPAS.com- Pendidikan merupakan sarana utama pembentukan generasi penerus bangsa. Semakin maju kualitas pendidikan, maka semakin maju pula negara tersebut. Guna meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, pemerintah juga membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Tidak meratanya pendidikan juga mengakibatkan kualitas masyarakat Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun karakter bangsa dan faktor untuk menggerakkan perekonomian suatu bangsa. Berdasarkan data, perkembangan pendidikan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Menurut Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69. Indonesia kalah dibandingkan Malaysia (65) dan Brunei (34). Selain itu, akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian, lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54 persen guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19 persen bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki. "Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dibutuhkan di kota-kota besar, tetapi juga di kota kecil dan tidak hanya di Jawa tetapi diluar Jawa. Apabila perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, maka tidak hanya kuantitas yang besar melainkan kualitas kesejahteraan masyarakat pun lebih baik sehingga mendukung pembangunan ekonomi di Indonesia yang lebih baik," ujar Shafiq Pontoh, Head of Brand & Business Development SalingSilang dan Praktisi Social Media Campaign, salah satu pendukung Gerakan Indonesia Berkibar yang juga menjadi pembicara pada acara talkshow Guruku Pahlawanku, Lentera Abad 21 di Makassar, Kamis (13/9/2012). Sebagai salah satu wujud dari kepedulian terhadap kualitas pendidikan di Indonesia, Putera Sampoerna Foundation mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Berkibar. Gerakan ini merupakan sebuah gerakan nasional yang mengajak peran serta korporasi baik swasta maupun BUMN, media, dan komunitas untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam

memperbaiki pendidikan di Indonesia, dimulai di daerah dimana institusi tersebut beroperasi sehingga kualitas pendidikan yang baik dapat merata di seluruh negeri. Gerakan Indonesia Berkibar adalah wadah kerjasama yang mengusung kerjasama pemerintah-swasta atau lebih dikenal dengan Public Private Partnership yaitu bentuk kerjasama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta untuk bersamasama memperbaiki pendidikanserta untuk mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan memilki daya saing tinggi dan mampu menjawab tantangan global. Melalui kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam Gerakan Indonesia Berkibar, maka kapasitas dan sumber daya untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah, dapat dicapai. Mekanisme kerjasama dibangun dalam bentuk program pelatihan dan pendampingan untuk sekolah-sekolah yang didukung tenaga ahli, serta pendekatan berdasarkan hasil penelitian. Hingga saat ini sudah tujuh provinsi dimana 23 mitra beroperasi yang sudah menyatakan keikutsertaan dalam Gerakan Indonesia Berkibar, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah dan Papua. Putera Sampoerna Foundation optimis bahwa dengan dukungan positif dari berbagai pihak dalam Gerakan Indonesia Berkibar, semakin besar kesempatan masyarakat Indonesia dapat mendapatkan pendidikan berkualitas guna menghadapi tantangan global.

Kompetensi Guru Memprihatinkan


JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ngotot untuk melaksanakan uji kompetensi guru (UKG) bagi guru bersertifikat dan yang belum bersertifikat. Hal ini didasarkan masih rendahnya kompetensi pendidik di indonesia. Unifah Rosyidi, Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemendikbud, di Jakarta, Rabu (25/7/2012), mengatakan, selama ini guru dibina tanpa arah dan dasar. Akibatnya, pendidikan dan pelatihan (diklat) yang dilakukan pemerintah dan pemerintah daerah jadi mubazir karena tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan guru. "Kompetensi guru tetap rendah karena pembinaannya tidak berdasarkan hasil UKG tiap guru," kata Unifah. Sebenarnya UKG secara nasional pernah dilakukan Kemendikbud pada 2004. Hasilnya, kompetensi guru di jenjang TK-SMA/SMK memprihatinkan. Para guru tidak menguasai mata pelajaran yang diampunya. Nilai rata-rata guru mata pelajaran berkisar di angka 18-23. Kompetensi guru kelas TK rata-rata 41,95, sedangkan guru kelas SD 37,82. Demikian juga hasil uji kompetensi awal (UKA) guru tahun 2012. Secara nasional, rerata kompetensi guru TK 58,87, SD (36,86), SMP (46,15), SMA (51,35), SMK (50,02), serta pengawas (32,58). Ada guru yang mendapat nilai terendah 1 dari skala 100. Nilai tertinggi guru masih di bawah 100, yakni di kisaran 80-97, hanya dicapai satu guru untuk tiap jenjang. Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), mendukung UKG untuk pemetaan kompetensi guru secara nasional diwajibkan pada semua guru. "Namun, materi UKG ini harus bisa menilai guru secara obyektif," kata Sulistiyo. (

Kenapa minat baca masyarakat indonesia rendah ?

Negara disebut maju dan berkembang kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi dengan dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri tersebut. Minat Baca di Indonesia Kalau kita berbicara mengenai minat baca, maka sudah sering ditulis di berbagai media masa dan juga sering dibicarakan dan diseminarkan, namun masih saja topik ini masih sangat manarik dibicarakan, hal ini disebabkan karena sampai detik ini peningkatan minat baca masyarakat masih tetap berjalan ditempat walaupun disana-sini usaha telah dilakukan oleh pihak pemerintah dengan dibantu oleh pihak-pihak tertentu yang sangat berkaitan dengan minat baca masyarakat, seperti Guru, Pustakawan, Penulis, Media masa dan Gerakan Cinta Buku. Padahal jika dicermati sejenak penerbitan majalah dan koran, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah nama/judulnya sangat meningkat tajam. Mestinya semakin banyak penerbitan Koran dan majalah, maka akan berimbas pada peningkatan minat baca terhadap buku. Tetapi sayang, minat baca ini hanya sebatas peningkatan minat bacara masyarakat terhadap koran dan majalah saja. Sebagai masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan kita mesti bertanya, kenapa hal ini terjadi atau apa penyebabnya sehingga minat baca masyarakat Indonesia dikatakan rendah dan berjalan di tempat ?. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat minat baca Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan bisa menghambat masyarakat untuk mencintai dan menyenangi buku sebagai sumber informasi layaknya membaca koran dan majalah, yaitu: 1. Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas. 2. Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat perhatian anak atau orang dewasa untuk menjauhi buku. Sebenarnya dengan berkembangnya teknologi internet akan membawa dampak terhadap peningkatan minat baca masyarakat kita, karena internet merupakan sarana visual yang dapat disinosimkan dengan sumber informasi yang lebih abtudate, tetapi hal ini disikapi lain karena yang dicari di internet kebanyakan berupa visual yang kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. 3. Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket dll. 4. Budaya baca masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita, hal ini terlihat dari kebiasaan Ibu-Ibu yang sering mendongeng kepada putra-putrinya sebelum anaknya tidur dan ini hanya diaplikasikan secara verbal atau lisan saja dan tidak dibiasakan mencapai pengetahuan melalui bacaan. 5. Para ibu disibukan dengan berbagai kegiatan di rumah/di kantor serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga waktu untuk membaca sangat minim. 6. Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk yang ada dan kadang-kadang letaknya jauh.

Peran Orang Tua dalam menumbuhkan minat baca Untuk mensiasati supaya masyarakat kita gemar membaca dan membaca adalah suatu kebutuhan sehari-hari, maka tidak ada jalan lain peranan orang tua sangat dibutuhkan dengan cara membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca.dan bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi melulu. Peran Pemerintah dalam menumbuhkan minat baca Peranan pemerintah daerah dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk bersama-sama merangkul pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaanperpustakaan kecil dilingkungan masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan koleksi perpustakaan yang pengelolaannya diserahkan kepada Ibu-Ibu PKK atau Karang Taruna. Supaya gebyarnya lebih meluas perlu diadakan lomba yang bisa di ekspos oleh media massa lokal maupun nasional dengan iming-iming berupa hadiah yang menarik sebagaimana lomba green and clean di Surabaya, dan ini harus dilakukan secara continue setiap tahunnya. Peran Lembaga Pendidikan dalam menumbuhkan minat baca Peranan kepala sekolah sangat penting sebagai ujung tombak terhadap pendirian perpustakan dan fungsi guru dan pustakawan sebagai pengembangan perpustakaan harus selalu mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah daerah, karena banyak sekolah dasar sampai menengah belum memiliki perpustakaan dan kalaupun ada sifatnya stagnasi dan tidak berkembang karena kesulitan dana. Pemerintah Daerah yang sebenarnya harus memfasilitasi perpustakaan sekolah dengan cara menggandeng pihak-pihak swasta sebagai sponsor atau sebagai mitra. Perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini perlu ditingkatnya dan diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan koleksi setiap tahunnya dan bukan malah sebaliknya semakin tahun semakin menurun dan akhirnya tidak beroperasi lagi dan ini harus mendapat perhatian serius dari kita semua kalau menginginkan bangsa kita cerdas dan pandai sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Kalau kita cermati secara seksama sebenarnya untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat akan bisa terwujud kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan, Orang tua, pecinta buku maupun elemen masyarakat mau duduk bersama-sama satu meja dan sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui pemasyarakatan perpustakaan. Kalau semua sekolah/perguruan tinggi maupun dalam lingkungan kampung/desa tersedia perpustakaan maka tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan demikian lapangan kerja terbuka luas dan berpotensi besar dan inilah yang diharapkan oleh pengarang maupun penerbit supaya dunia buku tidak lesu dan gulung tikar.