Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian Kota Bandung adalah kota jasa yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, dilihat dari mal-mal yang banyak didirikan dan dipenuhi oleh sektor formal. Pada umumnya sektor formal menggunakan teknologi maju, modal yang banyak, dan mendapat perlindungan pemerintah. Bertumbuhnya sektor formal yang mendapat dukungan khusus oleh pemerintah, belum secara tegas dibandingkan dengan dukungan terhadap sektor informal jalan. Sektor informal adalah kegiatan perdagangan yang bersifat mudah dan praktis karena menyangkut jenis barang, tata ruang, dan waktu, dan lebih banyak ditangani oleh masyarakat golongan bawah, yang merupakan wujud dari Pedagang Kaki Lima. Permasalahan yang dihadapi Kota Bandung sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Barat adalah permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh tumbuh dan berkembangnya penduduk. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, jumlah penduduk kota Bandung tahun 2009 berjumlah 2.244.760 jiwa, pada tahun 2010 jumlah penduduk kota bandung mengalami peningaktan sebesar 2.390.441 jiwa, dan hasil pemutakhiran data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung sampai akhir tahun 2011 jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.537.232 jiwa. Pertumbuhan dan perkembangan penduduk tersebut sebagai faktor alami dan faktor urbanisasi yang sulit terkendalikan.

Angka pertambahan penduduk urban Kota Bandung cukup tinggi. Jumlah data penduduk kaum urban sebesar 292.472 jiwa yang terhitung dari pertambahan penduduk selama tiga tahun terakhir yakni dari tahun 2009 hingga tahun 2011 (berdasarkan data dari Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kota Bandung). Pertumbuhan dan perkembangan penduduk merupakan potensi, tapi disisi lainnya merupakan beban dan menjadi permasalahan kota. Salah satu yang menjadi permasalahan adalah masalah pedagang kaki lima atau yang biasa disebut oleh masyarakat PKL. Kegiatan berdagang apabila ditata dan dikelola dengan baik akan menimbulkan suatu dampak positif bagi perekonomian suatu daerah, begitu pun sebaliknya apabila tidak ditata dan dikelola dengan baik maka kegiatan berdagang ini dapat menimbulkan permasalahan bagi suatu daerah, terutama kawasan perkotaan. Masalah tersebut dapat timbul diakibatkan pedagang tidak tepat dalam memlih tempat usaha untuk menawarkan atau menjual barang dagangannya kepada konsumen. Pedagang dapat digolongkan kedalam dua jenis, yaitu pedagang yang menetap pada satu tempat yang memang diperuntukkan untuk berdagang dan pedagang yang mobile yaitu pedagang yang berpindah-pindah dan tidak memiliki tempat yang tetap, jenis pedagang yang kedua ini dapat disebut sebagai pedagang kaki lima (PKL). Pedagang kaki lima ketika menawarkan atau menjual barang dagangannya kepada konsumen cenderung selalu menempati ruang publik sehingga keberadaannya sangat mengganggu aktivitas publik. Beberapa tahun belakangan ini pemerintah kota Bandung disibukkan oleh permasalahan menjamur serta merebaknya para pedagang kaki lima. Untuk

menyikapi permasalahan tersebut diperlukan suatu peraturan dan tindakan tegas untuk melakukan penanganan terhadap pedagang kaki lima yang ada di kota Bandung. Tindakan penanganan pedagang kaki lima didasari atas suatu kebijakan publik, yaitu berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Merujuk kepada peraturan dalam penanganan pedagang kaki lima diantaranya adalah Keputusan Walikota Bandung No. 511.23/Kep.1779.Huk/2003 Tentang Pembentukan Tim Penertiban Dan Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Bandung yang diperkuat dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 tahun 2005 yang isinya mengatur tentang Penyelenggaraan kebersihan, ketertiban dan keindahan telah mendapat beberapa perubahan ketentuan yaitu keluarannya Perda No. 11 Tahun 2005. Kebijakan publik tersebut tidak serta merta dibuat. Perlu adanya implementasi agar kebijakan tersebut dapat berjalan. Oleh karena itu, implementasi kebijakan perlu dilaksanakan agar kebijakan yang dimaksud benarbenar dapat berjalan efektif untuk menanggulangi gangguan-gangguan yang terjadi dan berfungsi sebagai alat untuk merealisasikan harapan atau tujuan yang diinginkan. Permasalahan pedagang kaki lima telah masuk ke dalam permasalahan ketertiban umum, maka berdasarkan Peraturan Daerah kota Bandung No. 04 Tahun 2005 Tentang Pembentukan Dan Susunan Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung, dibentuklah suatu organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung yang mempunyai tugas pokok memelihara dan

menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum, menegakkan Peraturan Daerah, Peraturan Walikota dan Keputusan Walikota sebagai pelaksana Peraturan

Daerah.

Berdasarkan

Keputusan

Walikota

Bandung

No.

511.23/Kep.1779.Huk/2003 Tentang Pembentukan Tim Penertiban Dan Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Bandung, menjelasakan bahwa pada susunan Tim Penertiban Dan Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Bandung, pelaksana harian operasional di lapangan dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. Keputusan Walikota Bandung No. 511.23/Kep.1322-Huk/2001 Tentang Lokasi Bebas Dari Kegiatan Pedagang Kaki Lima di Kota Bandung, menegaskan tentang lokasi yang tidak boleh digunakan untuk berjualan. Lokasi bebas dari kegiatan pedagang kaki lima ini dikenal dengan kawasan 7 titik, yaitu antara lain: 1. Kawasan Alun-alun kota Bandung dan sekitarnya 2. Jl. Dalem Kaum dan Jl. Dewi Sartika 3. Jl. Kepatihan 4. Jl. Asia-Afrika 5. Jl. Otto Iskandardinata, mulai dari pintu kereta api sampai dengan Tegallega 6. Jl. Jendral Sudirman 7. Merdeka (BIP), mulai dari persimpangan Jl. Ir. H. Juanda dan Jl. L.L.R.E Martadinata (Riau) sampai dengan Jl. Aceh. Mempertimbangkan jumlah lokasi bebas dari kegiatan pedagang kaki lima yang berjumlah 7 titik, maka untuk memfokuskan pembahasan ini peneliti memilih beberapa tempat dalam pembahasan penertiban pedagang kaki lima di kota Bandung. Adapun lokasi yang dipilih adalah 1 titik lokasi bebas dari kegiatan

pedagang kaki lima dari keseluruhan 7 titik lokasi bebas dari kegiatan pedagang kaki lima yang ada di kota Bandung. Lokasi yang dipilih oleh peneliti adalah kawasan Alun-alun kota Bandung dan sekitarnya. Peneliti merasa tertarik untuk memilih kawasan Alun-alun kota Bandung dan sekitarnya karena keberadaan lokasi tersebut sebagai pusatnya kota Bandung yang memiliki nilai sejarah yang cukup kuat berkaitan dengan perkembangan kota Bandung sejak zaman dulu, kawasan Alun-alun kota Bandung sebagai pusat kota Bandung juga dapat berperan sebagai simbol kota Bandung pada umumnya, di kawasan Alun-alun kota Bandung juga terdapat Masjid Raya Propinsi Jawa Barat yang selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai objek wisata religi yang memiliki daya tarik bagi masyarakat (wisata keluarga) dari kota Bandung maupun dari luar kota Bandung, di kawasan Alunalun kota Bandung sebelah selatan juga terdapat Pendopo sebagai rumah dinas dari Walikota Bandung. Tetapi sekarang ini di kawasan Alun-alun kota Bandung banyak terdapat pedagang kaki lima yang tidak tertib dan berjualan seenaknya sehingga memberikan kesan yang kumuh dan mengganggu kebersihan dan keindahan kota, banyak pedagang kaki lima yang melanggar peraturan, khususnya peraturan tentang lokasi kawasan Alun-alun dan sekitarnya yang harus bebas dari kegiatan berjualan para pedagang kaki lima. Mengingat keberadaan lokasi kawasan Alun-alun kota Bandung dan sekitarnya sebagai pusat kota Bandung, sebagai ruang publik yang sering digunakan masyarakat dan sebagai objek wisata religi serta bersebelahan dengan Pendopo atau rumah dinas dari Walikota Bandung, maka keberadaan pedagang

kaki lima di kawasan tersebut harus ditangani dan ditertibkan agar di kawasan Alun-alun kota Bandung dan sekitarnya dapat tercipta suatu kondisi yang tertib, kondusif dan, tertata dengan baik, khususnya untuk mewujudkan kawasan Alunalun kota Bandung dan sekitarnya menjadi bersih dan indah serta untuk mewujudkan kota Bandung sebagai kota jasa yang genah merenah tumaninah. Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada Seksi Penertiban Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung, peneliti menemukan permasalahan belum optimalnya kinerja pegawai. Permasalahan tersebut dapat dilihat dari indikasi sebagai berikut : 1. Quality of work, hal ini terlihat dari pekerjaan yang dihasilkan pegawai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Contoh: Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Operasional, diketahui bahwa upaya penertiban pedagang kaki lima berdasarkan Perda nomor 03 tentang K3 tahun 2005 pasal 37 dilakukan melalui razia rutin setiap hari mulai dari pagi sampai dengan siang hari. Tetapi razia rutin yang dilakukan belum menunjukkan keberhasilan, misalnya dengan masih banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan. Hal ini dari hasil pengamatan peneliti menunjukkan bahwa pedagang kaki lima masih banyak yang berjualan, disetiap kawasan tujuh titik seperti di halaman depan Masjid Raya Propinsi Jawa Barat. 2. Quantity of work, jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode tidak tepat pada waktu yang telah ditentukan. Contohnya berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Operasional dan berdasarkan prosedur

tetap (PROTAP) operasional tentang cara pelaksanaan ketertiban umum, diketahui bahwa sebelum dilakukan tindakan penertiban pedagang kaki lima maka terlebih dahulu dilakukan sosialisasi produk hukum (peraturan daerah) dan adanya penetapan waktu pelaksanaan sosialisasi. Selama ini pola sosialisasi yang dilakukan berdasarkan tiga tahapan, sosialisasi tahap pertama yaitu berbentuk himbauan/peringatan kepada pedagang kaki lima untuk tidak berjualan di tempat-tempat yang dilarang untuk berjualan dan sosialisasi tahap pertama ini berlaku untuk jangka waktu 7 hari, apabila himbuan atau peringatan tersebut tidak dihiraukan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan, maka dilakukan sosialisasi tahap kedua yang sama dengan sosialisasi tahap pertama yaitu himbauan/peringatan dan berlaku untuk jangka waktu 7 hari, kemudian apabila masih tidak dihiraukan maka dilakukan sosialisasi tahap ketiga yaitu berbentuk

perintah kepada pedagang kaki lima untuk mengosongkan tempat yang dilarang untuk berjualan dan perintah ini berlaku untuk jangka waktu 3 hari, apabila peringatan tahap tiga ini masih tidak dihiraukan maka selanjutnya akan dilakukan tindakan represif penertiban pedagang kaki lima. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Penertiban Bidang Operasional bahwa seharusnya setelah perintah pengosongan dengan penetapan jangka waktu 3 hari dan masih tidak dihiraukan, maka pada hari ke-4 langsung dilakukan tindakan penertiban, tetapi pada kenyataannya penertiban baru dilakukan pada harike-7 bahkan

terkadang lebih. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai dalam melaksanakan pekerjaan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Berdasarkan indikator-indikator diatas, masalah tersebut diduga oleh implementasi kebijakan kawasan tujuh titik yang belum dilaksanakan secara optimal. Hal ini terlihat dari, sebagai berikut : 1. Kurangnya sumber daya yang dimiliki. Sumber daya yang dimaksud mencakup faktor-faktor yang mendorong dan memperlancar implementasi kebijakan seperti jumlah pegawai/personil, sarana atau perlengkapan serta dana yang dimiliki. Contohnya sumber-sumber kebijakan yang dimiliki oleh pegawai Seksi Penertiban Bidang Operasional dalam upaya penertiban pedagang kaki lima masih sangat kurang, jumlah pegawai/personil yang dimiliki hanya berjumlah 170 orang padahal yang dibutuhkan bidang operasional khususnya seksi penertiban membutuhkan 1000 personil dan jumlah pegawai/personil tersebut bukan hanya melakukan tugas untuk menertibkan pedagang kaki lima saja. Kemudian sarana atau perlengkapan yang dimiliki masih kurang, Seksi Penertiban Bidang Operasional hanya memiliki kendaraan operasional jenis mobil truk angkutan personil hanya 2 unit, kendaraan truk untuk mengangkut barang sebanyak 5 unit (rusak berat 2 unit), mobil operasional jenis kijang yang digunakan untuk berpatroli yang berjumlah 4 unit dan diperuntukkan bagi Kepala Bidang Operasional sebanyak 1 unit, Kepala Seksi sebanyak 2 unit, dan 1 unit lagi digunakan untuk operasional bagi pegawai yang memerlukan, kemudian sepeda motor operasional patroli sebanyak 18 unit, sepeda motor non patroli 12 unit,

sedangkan perlengkapan pakaian yang dimiliki seperti pakaian anti huruhara, tameng, helm, pentungan, pisau dan dahrim yang berfungsi sebagai pelindung bagi pegawai di lapangan hanya berjumlah 50 pasang. Hal tersebut diatas tentu saja menunjukkan bahwa jumlah pegawai atau personil serta sarana atau perlengkapan yang dimiliki kurang sekali dan dirasa tidak seimbang bila dibandingkan dengan lingkup tugas pegawai Seksi Penertiban Bidang Operasional yang mencakup wilayah kota Bandung secara keseluruhan dan dihadapkan pada jumlah pedagang kaki lima yang semakin banyak. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang Operasional, diketahui bahwa untuk mengajukan penambahan jumlah pegawai atau personil untuk mencapai jumlah yang ideal dan penambahan sarana atau perlengkapan operasional terkendala dengan dana yang sangat terbatas. 2. Disposisi atau sikap para pelaksana di lapangan cenderung kurang bersikap tegas terhadap pedagang kaki lima yang melakukan pelanggaran, Contohnya untuk mensukseskan penertiban pedagang kaki lima, pegawai Seksi Penertiban Bidang Operasional telah membangun pos di samping kawasan Alun-alun kota Bandung, beberapa pleton pegawai/personil dan kendaraan operasional pun selalu siap siaga di kawasan Alun-alun kota Bandung. Tetapi berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan, bahwa kenyataan di lapangan pegawai/personil yang ada di kawasan Alunalun kota Bandung hanya berjaga-jaga di pos, ada juga yang hanya duduk sambil mengobrol di dalam kendaraan operasional, di sekitar taman dan di

10

trotoar sebelah selatan kawasan Alun-alun kota Bandung tanpa menindak tegas atau melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima yang berjualan di kawasan tersebut. Hal ini tentu saja menunjukkan sikap yang tidak tegas dari pegawai sehingga memberikan keleluasaan kepada pedagang kaki lima untuk tetap berjualan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut permasalahan tersebut, untuk itu peneliti mengadakan penelitian yang hasilnya dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul:
PENGARUH IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KAWASAN TUJUH TITIK TERHADAP KINERJA PEGAWAI SEKSI PENERTIBAN BIDANG

OPERASIONAL PADA KANTOR SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA BANDUNG

1.2. Perumusan dan Identifikasi Masalah 1.2.1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian sebagaimana diuraikan diatas, maka yang menjadi masalah (problem statement) dalam penelitian ini adalah Kinerja Pegawai Seksi Penertiban Bidang Operasional Pada Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung rendah. Hal ini diduga belum dilaksanakannya implementasi kebijakan secara secara optimal. 1.2.2. Identifikasi Masalah 1. Bagaimana pengaruh implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung.

11

2. Hambatan-hambatan apa saja yang menjadi penghambat dalam usaha meningkatkan kinerja pegawai seksi penertiban pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. 3. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan untuk menanggulangi hambatanhambatan pengaruh implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung.

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian a) Menemukan data dan Informasi tentang sejauh mana pengaruh implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban pada Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. b) Mengembangkan data dan informasi mengenai pengaruh implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban pada Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. c) Menerapkan data dan informasi mengenai pengaruh Implementasi Kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. 1.3.2. Kegunaan Penelitian. a). Kegunaan Teoritis :

12

Memberikan sumbangan pemikiran dan memperkaya kepustakaan dalam bidang Ilmu Administrasi Negara, khususnya tentang

implementasi kebijakan kawasan tujuh titik. b). Kegunaan Praktis : Diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk menjadi bahan alternatif pemikiran atau pertimbangan sebagai masukan bagi kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung yang berkaitan dengan Pengaruh Implementasi Kebijakan Kawasan Tujuh Titik dan kinerja pegawai. c). Bagi Penulis : Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambahkan wawasan pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam menganalisis suatu fenomena administrasi dan membandingkan dengan teori-teori yang diperoleh sebelumnya.

1.4. Kerangka Pemikiran Fokus dan lokus terhadap suatu sasaran dalam memecahkan masalah yang dikemukakan peneliti, diperlukan adanya suatu anggapan dasar atau kerangka pemikiran yang berupa dalil, hukum, teori serta pendapat dari para ahli yang kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Kaitan dengan topik penyusunan bahan usulan penelitian mengenai implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja pegawai seksi penertiban bidang operasional pada Satuan Polisi Pamong

13

Praja Kota Bandung, maka peneliti mengemukakan pengertian yang berpedoman kepada pendapat para ahli. Menurut pendapat dari Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier yang dikutip oleh Solihin Abdul Wahab (2001:65) dalam bukunya : Analisis Kebijaksanaan Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara sebagai berikut : Implementasi adalah memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan- kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadiankejadian. Menurut pendapat Carl Fredrich mengenai kebijakan dalam Analisis Kebijaksanaan Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, yang dikutip oleh Solihin Abdul Wahab (2001:3) mengemukakan sebagai berikut : Kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan. Pelaksanaan kebijakan yang dikemukakan oleh Van Mater yang dikutip oleh Solihin Abdul wahab (2001:65) dalam bukunya Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, adalah sebagai berikut:

14

Implementasi kebijaksanaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau kelompokkelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang sudah digariskan dalam keputusan kebijakan. Menurut George C. Edward III yang dikutip oleh Widodo dalam bukunya Analisis Kebijakan Publik (1980:79), mengemukakan beberapa model yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan, yaitu: 1. Komunikasi, Komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian informasi komunikator kepada komunikan.; 2. Sumber daya, sumber daya itu dibagi menjadi beberapa bagaian, diantaranya : sumber daya meliputi sumber daya manusia, sumber daya anggaran, sumber daya sarana dan prasarana, sumber daya informasi, dan juga sumber daya kewenagan; 3. Disposisi atau sikap, merupakan kemauan, keinginan, dan kecenderungan para pelaku kebijakan untuk melaksanakan kebijakan secara bersungguh-sungguh sehingga apa yang menjadi tujuan kebijakan dapat diwujudkan; 4. Struktur Birokrasi, mencakup aspek-aspek seperti struktur organisasi, pembagian kewenangan, hubungan antara unit-unit organisasi yang ada dalam organisasi yang bersangkutan, dan hubungan organisasi dengan organisasi luar dan sebagainya. Pengertian Kinerja yang dikemukakan oleh Bernandin & Russell yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes dalam bukunya Manajemen Sumbedaya Manusia (2003:135) memberikan definisi Performansi sebagai berikut: Performansi atau kinerja adalah catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama satu periode waktu tertentu. Sedangkan penilaian performansi adalah suatu cara mengukur kontribusi-kontribusi dari individu-individu anggota organisasi kepada organisasinya. Jadi, penilaian performansi ini diperlukan untuk menentukan tingkat kontribusi individu, atau performansi.

15

Berbicara tentang kinerja personil, erat kaitannya dengan cara mengadakan penilaian terhadap pekerjaan seseorang sehingga perlu ditetapkan standar kinerja atau standar performance. Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing sebuah organisasi. Rancangan sistem pengukuran kinerja yang akurat dan kontekstual merupakan jembatan emas kearah mana keunggulan sebuah organisasi akan dibawa. Sehubungan dengan hal tersebut menurut Gomes (2003:142) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia, mendefinisikan ke dalam delapan dimensi kinerja pegawai, yaitu : 1. Quantity of work, jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan; 2. Quality of work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya; 3. Job knowledge, luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilan; 4. Creativeness, keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul; 5. Cooparation, kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain (sesama anggota organisasi); 6. Dependability, kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja; 7. Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggungjawabnya; 8. Personal qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah tamahan, dan integritas pribadi;

1.5. Keterkaitan Antara Kebijakan Publik Dan Kinerja Pegawai Kebijakan publik yang berkualitas tidaklah hanya berisi cetusan pikiran atau pendapat para administrator publik, tetapi harus berisi pula opini publik

16

sebagai representasi dari kepentingan publik. Oleh karena itu tugas utama administrator atau pelaku yang melaksanakan kebijakan publik mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan kepentingan publik, dan untuk itu ia harus memerhatikan terhadap masalah-masalah, kebutuhan-kebutuhan, dan tuntutan-tuntutan yang ada dilingkungannya. Administrator publik sebagai pelaku kebijakan merupakan salah satu komponen dari sistem kebijakan publik. Menurut Goggin yang dikutip oleh Tacjhan (2008 : 82) dalam bukunya implementasi kebijakan publik mengemukakan : Dalam implementasi kebijakan publik, organisasi (birokrasi) publik yang berperan dominan sebagai implementator, kinerjanya secara internal akan ditentukan oleh kapasitas organisasi yang dimiliknya. Dalam pendapat Goggin, kinerja organisasi secara internal akan ditentukan oleh kapasitas organisasi atau administratif yang dimilkinya, adapun kapasitas organisasi tersebut adalah mengacu pada kemampuan tindakan yang dimaksudkan oleh organisasi. Dimana kapasitas ini merupakan suatu fungsi dari struktur, personil, dan karakteristik finansial yang dimiliki oleh badan pemerintahan sebagai implementing organization. Berdasarkan kepada teori-teori yang telah dikemukakan diatas, dapat dikemukakan bahwa, kapasitas organisasi (birokrasi) publik dalam mencapai kinerjanya dalam implementasi kebijakan publik secara internal akan ditentukan oleh struktur organisasi (birokrasi), sumber daya organisasi (birokrasi), dan budaya organisasi (birokrasi).

17

1.6. Hipotesis Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka pemikiran diatas, maka dapat disusun hipotesis penelitian ini sebagai berikut : Jika implementasi kebijakan berdasarkan model implementasi kebijakan maka kinerja pegawai seksi penertiban bidang operasional pada Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung meningkat. Berdasarkan hipotesis tersebut, maka untuk mempermudah dalam pengajuan hipotesis, peneliti mengajukan definisi operasional sebagai berikut : 1. Pengaruh adalah menunjukan seberapa besar keterkaitan atau pengaruh antara implementasi kebijakan kawasan tujuh titik terhadap kinerja Pegawai di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja. 2. Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan dan pengendalian arah tindakan kebijakan yang dilakukan oleh pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung langsung dilaksanakan dilapangan untuk menertibkan sesuatu yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Hal itu didasarkan pada dimensi-dimensi sebagai berikut : komunikasi, sumber daya, disposisi atau sikap, dan struktur birokrasi. 3. Kinerja pegawai tentang penertiban adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh Pegawai Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan Satuan Polisi Pamong Praja secara legal, tidak melanggar hukum sesuai dengan moral maupun etika serta berdasarkan dimensidimensi yang memengaruhi kinerja pegawai yaitu : quantity of work, quality

18

of work, job knowledge, creativeness, cooperations, dependabiliity, initiative, dan personal qualities.

1.7. Lokasi Dan Lamanya Penelitian 1.7.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di Kantor Satuan Polisi Pasmong Praja Kota Bandung di Jl. Pelajar Pejuang 45 Buah Batu Bandung. 1.7.2. Lamanya Penelitian Lamanya penelitian yaitu, tahap Penjajagan yang dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2012 s/d 25 Januari 2012, dan pelaksanaan penelitian dari bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2012.