Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada jaman di era ini semakin banyak peralatan yang menggunakan listrik baik sebagai alat kerja maupun sebagai sumber tenaga listrik. Contohnya sebagai alat kerja adalah bor listrik, kereta listrik, dan lain sebagainya, sedangkan sebagai sumber tenaga listrik adalah generator. Bor listrik, kereta listrik, maupun generator dan banyak alat lainnnya merupakan beberapa contoh dari aplikasi mesin DC di kehidupan seharihari. Dan terbukti pula semakin banyak orang yang membutuhkan alat tersebut, dan artinya semakin banyak pula yang membutuhkan aplikasi mesin DC. Dengan megingat sangat pentingnya mesin DC makapenulis sebagai mahasiswa teknik elektro ITENAS sub jurusan Teknik Tenaga Listrik, sudah seharusya mengerti tentang mesin DC baik sebagai motor maupun generator. Penulis juga diharapkan dengan praktikum dari mata kuliah Trafo dan Mesin DC, melalui modul Mesin Arus Searah dan Generator Arus Searah mampu memahami pengertian mesin DC secara menyeluruh; memahami jenis-jenis mesin DC yang berisikan persamaan dasar untuk arus, tegangan, daya, putaran, dan momen ; menjelaskan prosedur

menjalankan dan menghentikan semua jenis mesin DC; serta mampu mengoperasikan semua jenis mesin listirk DC. 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini merupakan salah satu syarat kelulusan mata kuliah Dasar Energi Elektik. Ada pun tujuan dari praktikum ini adalah: 1. Menjelaskan kembali pengertian mesin DC secara menyeluruh. 2. Menjelaskan semua jenis mesin listrik arus searah (DC), yang berisikan juga persamaan dasar untuk arus, tegangan, daya, putaran dan momen.

3. Menjelaskan prosedur menjalankan dan menghentikan semua jenis mesin listrik DC. 4. Mengoperasikan semua jenis mesin listrik DC. 5. 1.3 Pembatasan Masalah Mengingat perlunya mempraktekan apa yang telah di dapat dari perkuliahan, maka penulis merasa perlu membahas motor DC dan generator DC, Jenis-jenis mesin listrik arus searah, cara kerja motor arus searah, prosedur menjalankan dan menghentikan mesin listrik arus searah, serta pengoperasianya.

1.4

Teknik Pengumpulan Data Dalam penyusunan laporan kerja praktek ini penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, diantaranya adalah 1. Metoda pustaka dan studi literatur Studi literatur adalah metoda yang dilakukan dengan membaca dan mempelajari sumber-sumber kepustakaan yang erat hubungannya dengan topik yang penulis sajikan. 2. Metoda Pengujian Pengujian di Laboratorium Teknik Energi Elektrik Institut Teknologi Nasional Bandung.

1.5

Sistematika Pembahasan BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan latar belakang masalah,maksud dan tujuan,batasan masalah,metoda pengambilan data dan sistematika penulisan. BAB II : TEORI DASAR Menguraikan teori tentang prinsip kerja motor dan generator DC, jenis-jenis penguatan pada mesin DC dan bagian-bagian mesin-mesin DC dan prinsip

kerja generator DC.

BAB III

LANDASAN PRAKTIKUM Menguraikan tentang proses pengambilan data ,pengumpulan data , pengolahan data serta tujuan dan alat-alat pada motor dan generator DC.

BAB IV

ANALISA DAN TUGAS AKHIR Menguraikan Menguraikan tentang analisa dari hasil percobaan dan tugas akhir dari praktikum yang dilakukan. .

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN Berisikan kesimpulan mengenai hasil yang

diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Mesin Searah (DC) Mesin DC ada 2 jenis yaitu Generator DC dan Motor DC. Generator DC adalah sebuah perangkat mesin listrik dinamis yang mengubah energi mekanis menjadi energi listrik, dan menghasilkan arus DC / arus searah. Motor DC merupakan jenis motor yang menggunakan tegangan searah sebagai sumber tenaganya, yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik.

2.2

Anatomi Mesin Searah ( DC ) Anatomi mesin DC baik sebagai generator maupun sebagai motor memiliki anatomi yang sama, yang membedakannya hanya pada energi yang diubahnya, kalau generator DC mengubah energi mekanik menjadi listrik, sedangkan motor DC mengubah energi listrik menjadi mekanik. Anatomi mesin DC dan penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut

:
Gambar 2.1 Konstruksi Mesin DC

Gambar 2.2 Irisan Penampang Mesin DC

1. 2.

Rangka (frame) motor. Kutub Utama (main pole) disini digambarkan suatu mesin arus searah 4 kutub. Konstruksi kutub berupa lapisan laminasi plat-

plat tipis yang saling terisolasi. 3. Dengan belitan penguat (field winding). Selama operasinya belitan penguatan dialiri arus penguat (field current/ excitationcurrent). Belitan penguat dengan arus penguat ini menghasilkan fluksi yang bekerja dalam struktur magnetis mesin. Lintasan fluksi utama ini dari kutub utara lalu menyebrang celah stator-rotor ke inti motor, memotong belitan jangkar (armature winding) kembali

menyebrang celah udara kutub selatan di stator. 4. Kutub bantu (comutating pole) berguna untuk membantu karakteristik mesin. Dengan pemberian keadaan fluksi terhadap adanya fluksi mesin yang timbul dari arus jangkar pada belitan jangkar yang lazim disebut reaksi jangkar yang bersifat mengganggu. Belitan kutub bantu dialiri oleh arus jangkar sehingga belitan ini terhubung seri dengan jangkar dan besarnya konvensasi akan tergantung besarnya arus jangkar. Kutub bantu hanya pada mesin- mesin kapasitas besar. 5. Slot rotor tempat penempatan belitan jangkar yang dialiri arus beban. Pada ujung belitan jangkar terukur belitan jangkar (armature voltage) yang dapa fungsinya sebagi motor adalah tegangan masuk jangkar dan pada fungsinya sebagai generator adalah tegangan keluar jangkar.

6.

Inti rotor, terletak dilotor yang berputar yang merupakan tempat belitan jangkar dan inti lotor serta tertumpu pada as

motor/generator 7. Lamel komotator, merupakan terminal dari ujung-ujung belitan jangkar. Lamel komutator merupakan terminal hubungan luar mesin (sumber tegangan atau beban) dengan belitan jangkar mesin arus searah. Antara lamen komutator terdapat sekat isolasi yang tidak boleh terhubung, kecuali saat operasi mesin dimana-mana atau lemel komotator dapat terhubung singkat melalui sikat. Hal ini dapat terjadi pada masa-masa pergantia pengaliran arus pada belitan jangkar. 8. Sikat (carbon brush) pada sikat ini, terletak antara kutub N dan S pada garis netral magnetis, guna untuk meminimalkan adanya loncatan bunga api pada proses komutasi. 9. 10. 11. Terminal box, tempat penyambungan listrik.. As. Dudukan tempat name plate. Dalam mesin DC dari bagian bagian di atas dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu : 1. Stator Bagian ini adalah bagian mesin DC yang diam, dan yang menjadi bagian-bagiannya adalah slot rotor, inti rotor, dan lamel komutator. 2. Rotor Bagian ini adalah bagian mesin DC yang berputar selama beroperasi, bagian-bagiannya yaitu frame, field winding, main pole, comutating pole, as, name plate, sikat, dan terminal box.

2.3

Prinsip Cara Kerja Motor Searah Berdasarkan pada prinsip kemagnetan, maka motor DC

menggunakan prinsip kemagnetan. Penghantar yang mengalirkan arus ditempatkan tegak lurus pada medan magnet, cenderung bergerak tegak lurus terhadap medan. Besarnya gaya yang didesakkan untuk

menggerakkan berubah sebanding dengan kekuatan medan magnet, besarnya arus yang mengalir pada penghantar, dan panjang penghantar. Untuk menentukan arah gerakan penghantar yang mengalirkan arus pada medan magnet, digunakan hukum tangan kanan motor. Gambar terebut menggambarkan bagaimana torsi motor dihasilkan oleh kumparan yang membawa arus atau loop pada kawat yang ditempatkan pada medan magnet. Interaksi pada medan magnet menyebebkan pembengkokan garis gaya. Apabila garis cenderung lurus keluar, pembengkokan tersebut menyebabkan loop mengalami gerak putaran. Penghantar sebelah kiri ditekan kebawah dan penghantar sebelah kanan ditekan keatas, menyebabkan putaran jangkar berlawanan dengan arah putaran jarum jam.

Gambar 2.3 Prinsip Motor DC

Ataupun kita juga dapat menggunakan hukum tangan kiri seperti ini

Gambar 2.4 Aturan Tangan Kiri

Gaya elektromagnet pada motor DC timbul saat ada arus yang mengalir pada penghantar yang berada dalam medan magnet. Medan magnet itu sendiri ditimbulkan oleh magnet permanen. Garis- garis gaya magnet mengalir diantara dua kutub magnet dari kutub utara menuju kutub selatan. Menurut hukum gaya Lorentz, arus yang mengalir pada penghantar yang terletak dalam medan magnet akan menimbulkan gaya. Gaya F, timbul tergantung pada arus I dan arah medan magnet B. Arah gaya F dapat ditentukan dengan aturan tangan kiri seperti pada gambar berikut. Motor DC magnet permanen adalah motor yang fluks magnet utamanya dihasilkan oleh magnet permanen. Elektromagnetik digunakan untuk medan sekunder atau fluks jangkar. Gambar 6 menggambarkan operasi motor magnet permanen. Arus mengalir melalui kumparan jangkar dari sumber tegangan DC, menyebabkan jangkar beraksi sebagai magnet. Kutub jangkar ditarik kutub medan dari polaritas yang berbeda, menyebabkan jangkar berputar. Lalu jangkar berputar searah dengan putaran jarum jam. Apabila kutub jangkar segaris dengan kutub medan, sikat-sikat ada ada celah di komutator dan tidak ada arus mengalirpada jangkar. Jadi, gaya tarik atau gaya tolak magnet berhenti. Kemudian kelembaman membawa jangkar melewati titik netral. Komutator membalik arus jangkar ketika kutub yang tidak sama dari jangkar dan medan berhadapan satu sama lain, sehingga membalik polaritas medan jangkar.

Kutub-kutub yang sama dari jangkar dan medan kemudian saling menolak, menyebabkakan jangkar berputar terus menerus seperti diperlihatkan

Gambar 2.5 Operasi Motor DC

2.4

Prinsip Cara Kerja Mesin Arus Searah sebagai Generator DC Untuk membangkitkan tegangan DC maka diperlukan komutator. Komutator sendiri merupakan suatu konverter mekanik yang membuat arus dari sumber mengalir pada arah yang tetap walaupun belitan medan berputar. Perhatikan gambar di bawah ini :

Gambar 2.6 Operasi Generator DC

Proses pembangkitan tegangan tegangan induksi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.6 dan Gambar 2.7

Gambar 2.7 Proses Tegangan Induksi

Jika rotor diputar dalam pengaruh medan magnet, maka akan terjadi perpotongan medan magnet oleh lilitan kawat pada rotor. Hal ini akan menimbulkan tegangan induksi. Tegangan induksi terbesar terjadi saat rotor menempati posisi seperti Gambar 2.6 (a) dan (c). Pada posisi ini terjadi perpotongan medan magnet secara maksimum oleh penghantar. Sedangkan posisi jangkar pada Gambar 2.6.(b), akan menghasilkan tegangan induksi nol. Hal ini karena tidak adanya perpotongan medan magnet dengan penghantar pada jangkar atau rotor. Daerah medan ini disebut daerah netral.

Gambar 2.8 Tegangan rotor yang dihasilkan melalui cincin seret (1) dan komutator (2)

Jika ujung belitan rotor dihubungkan dengan slip-ring berupa dua cincin (disebut juga dengan cincin seret), seperti ditunjukkan Gambar 2.8.(1), maka dihasilkan listrik AC (arus bolak-balik) berbentuk sinusoidal. Bila ujung belitan rotor dihubungkan dengan komutator satu cincin Gambar 2.8.(2) dengan dua belahan, maka dihasilkan listrik DC dengan dua gelombang positif. Yang perlu diingat adalah : a. Rotor dari generator DC akan menghasilkan tegangan induksi bolakbalik. Sebuah komutator berfungsi sebagai penyearah tegangan AC.

10

b.

Besarnya tegangan yang dihasilkan oleh sebuah generator DC, sebanding dengan banyaknya putaran dan besarnya arus eksitasi (arus penguat medan). Untuk menganalisa cara kerja mesin DC sebagai generator dapat

dilihat juga melalui rumus : E = tegangan induksi maka dibutuhkan : 1. Medan magnet

, yang artinya adalah agar timbul

Medan magnet timbul dari sumber eksitasi yang dihubungkan ke stator. Arus dari sumber ekitasi akan masuk ke lilitan stator sehingga menghasilkan fluks yang arahnya dari kutub Utara magnet menuju kutub selatan magnet. 2. Batang konduktor Batang konduktor dialiri arus jangkar agar timbul fluks magnetis juga. 3. Perlunya adanya kecepatan Maka batang konduktor atau rotor yang memiliki fluks tadi, diputar oleh prime mover, sehingga timbul perubahan fluks tiap detiknya sehingga memenuhi hukum Faraday, yang artinya akan timbul tegangan.

2.5

Reaksi Jangkar Jangkar adalah tempat lilitan pada rotor yang berbentuk silinder beralur. Belitan tersebut merupakan tempat terbentuknya tegangan induksi. Pada umumnya jangkar terbuat dari bahan yang kuat mempunyai sifat feromagnetik dengan permiabilitas yang cukup besar. Permiabilitas yang besar diperlukan agar lilitan jangkar terletak pada derah yang induksi magnetnya besar, sehingga tegangan induksi yang ditimbulkan juga besar. Belitan jangkar terdiri dari beberapa kumparan yang dipasang di dalam alur jangkar. Tiap-tiap kumparan terdiri dari lilitan kawat atau lilitan batang.

11

Gambar 2.9 Jangkar Motor DC

Fluks magnet yang ditimbulkan oleh kutub-kutub utama dari sebuah generator saat tanpa beban disebut fluks medan utama (Gambar 2.10). Fluks ini memotong lilitan jangkar sehingga timbul tegangan induksi.

Gambar 2.10 Medan Eksitasi Generator DC

Bila motor dibebani maka pada penghantar jangkar timbul arus jangkar. Arus jangkar ini menyebabkan timbulnya fluks pada penghantar jangkar tersebut dan biasa disebut fIuks medan jangkar (Gambar 2.11).

12

Gambar 2.11 Medan Jangkar dari Generator DC (a) dan Reaksi Jangkar (b).

Munculnya medan jangkar akan memperlemah medan utama yang terletak disebelah kiri kutub utara, dan akan memperkuat medan utama yang terletak di sebelah kanan kutub utara. Pengaruh adanya interaksi antara medan utama dan medan jangkar ini disebut reaksi jangkar. Reaksi jangkar ini mengakibatkan medan utama tidak tegak lurus pada garis netral n, tetapi bergeser sebesar sudut . Dengan kata lain, garis netral akan bergeser. Pergeseran garis netral akan melemahkan tegangan nominal generator. Untuk mengembalikan garis netral ke posisi awal, dipasangkan medan magnet bantu (interpole atau kutub bantu), seperti ditunjukkan pada Gambar 2.12.(a).

Gambar 2.12 Generator dengan Kutub Bantu (a) dan Generator Kutub Utama, Kutub Bantu, Belitan Kompensasi (b)

Lilitan magnet bantu berupa kutub magnet yang ukuran fisiknya lebih kecil dari kutub utama. Dengan bergesernya garis netral, maka sikat yang diletakkan pada permukaan komutator dan tepat terletak pada garis netral n juga akan bergeser. Jika sikat dipertahankan pada posisi semula (garis netral), maka akan timbul percikan bunga api, dan ini sangat berpotensi menimbulkan kebakaran atau bahaya lainnya. Oleh karena itu, sikat juga harus digeser sesuai dengan pergeseran garis netral. Bila sikat

13

tidak digeser maka komutasi akan jelek, sebab sikat terhubung dengan penghantar yang mengandung tegangan. Reaksi jangkar ini dapat juga diatasi dengan kompensasi yang dipasangkan pada kaki kutub utama baik pada lilitan kutub utara maupun kutub selatan, seperti ditunjukkan pada gambar 2.12 (a) dan (b), generator dengan komutator dan lilitan kompensasinya. Akibat dari reaksi jangkar adalah terjadinya percikan api (sparking) yang dikarenakan perubahan normal medan rotor yang semakin dekat dengan statornya sehingga jika jarak makin dekat akan ada loncatanloncatan elektron yang terjadi,awalnya sedikit namun seiring dengan berjalannya waktu elektronnya akan semakin banyak sehingga akan timbul loncatan elektron. Flashover adalah fenomena yang terjadi pada mesin DC akibat reaksi jangkar. Flashover adalah percikan api yang lebih besar dari sparking. Dampaknya adalah ketika terjadi sparking maka yang terjadi brush (sikat) akan cepat habis dan abunya akan semakin mengurangi kinerja dari mesin DC tersebut. Namun dampak yang diakibatkan oleh peristiwa flashover adalah brush akan meleleh (melting) dan jika ini terjadi maka yang akan terjadi adalah akan terjadinya short circuit pada mesin DC. Jika hal ini terjadi maka mesin tersebut akan rusak. Menanggulangi flashover caranya adalah dengan mengurangi reaksi jangkarnya, salah satunya dengan mengganti rotor menjadi permanen rotor. Rugi dan efisiensi yang terjadi dalam mesin arus searah : 1. Rugi besi yang terdiri dari : rugi histeris dan rugi arus (Eddy Curent). 2. Rugi listrik dikenal sebagai rugi tembaga. 3. Rugi mekanik yang terdiri dari rugi geser pada sikat pada sumbu dan rugi gesek dan rugi gesek angin. 4. Efisiensi = [Poutput / (Poutput + Rugi-rugi)]

14

2.6

Jenis-Jenis Penguatan Pada Mesin DC Pada dasarnya jenis penguatan pada mesin DC baik sebagai motor maupun generator sama saja, hanya perbedaannya terletak pada peruntukannya kalau motor untuk menggerakkan motor agar memiliki rotasi yang lebih cepat, sedangkan generator berguna untuk menaikkan tegangan outputnya. Dan inilah jenisnya 1. Penguatan Terpisah Mesin DC jenis ini adalah motor yang di dalamnya terdapat arus jangkar dan arus yang mengalir pada kumparan medan, namun berasal dari 2 sumber tegangan yang berbeda.

Gambar 2.13 Rangkaian Ekivalen Mesin DC Penguat Terpisah

2.

Penguatan Sendiri Penguatan Sendiri menurut posisi armature dan medannya dibagi menjadi : a. Mesin DC Shunt Mesin DC jenis ini mempunyai ciri kumparan penguat medan diparalel terhadap kumparan armatur. Kelebihan dari mesin DC jenis ini yaitu tidak terlalu membutuhkan banyak ruangan karena diameter kawat kecil. Sedangkan

kelemahannya yaitu daya keluaran yang dihasilkan kecil karena arus penguatnya kecil.

15

Gambar 2.14 Rangkaian Ekivalen Mesin DC Shunt

b.

Mesin DC Seri. Mesin DC jenis ini mempunyai ciri kumparan penguat medan yang dirangkai secara serii terhadap kumparan armatur. Kelebihan dari Mesin DC jenis ini yaitu daya output yang dihasilkan besar. Sedangkan kelemahannya yaitu arus beban yang diminta sangatlah besar, sesuai dengan beban yang dipikulnya, jika tegangan inputnya tidak stabil maka flux magnit yang dihasilkan oleh kumparan seri tidak stabil pula, sehingga daya output yang dihasilkan tidak stabil.

Gambar 2.15 Rangkaian Mesin Penguat Seri

16

c.

Mesin DC Kompon Pada umumnya Mesin DC Kompond dibuat untuk mengurangi kelemahan yang terjadi pada Mesin DC Shunt maupun Seri. Jenisnya ada dua macam, yaitu Mesin DC Kompond Panjang dan Mesin DC Kompond Pendek, ciri khas yang membedakan keduanya yaitu tata letak kumparan penguat medan tambahan. Pada mesin DC kompon pendek kumparan penguat medan diletakkan seri dengan pada mesin DC Shunt. Sedangkan pada mesin DC Kompond panjang, kumparan penguat medan tambahan diletakkan secara seri antara kumparan armatur dan kumparan penguat medan shunt pada Mesin DC Shunt.

Gambar 2.16 Rangkaian Mesin DC Penguat Kompon. (Kiri : kompon pendek, Kanan : Kompon Panjang)

17

BAB III LANDASAN PRAKTIKUM

3.1.

Alat-alat Praktikum 1. Motor arus searah dan unit bebannya 2. Generator arus searah dan unit penggeraknya 3. Catu daya tegangan searah 4. Voltmeter DC 5. Amperemeter DC 6. Tachometer 7. Kabel Jumper 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah Secukupnya

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1 Menjalankan Motor Arus Searah 1. Mencatat data motor yang terdapat pada name plate. 2. Membuat rangkaian kerja seperti gambar 3.1 dibawah ini. 3. Menyalakan MCB jala-jala. 4. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac eksitasi sampai maksimum. 5. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac jangkar motor hingga putaranya 1500 rpm. 6. Mencatat semua hasil percobaan, yaitu : Vt, If, Ia, dan n dimana motor pada kondisi belum beban. 7. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac

jangkar motor hingga tegangannya minimum. 8. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac eksitasi sampai minimum. 9. Mematikan MCB Jala-Jala.

18

Gambar 3.1. Rangkaian Kerja Motor Arus Searah

3.2.2 Menjalankan Generator Arus Searah 1. Membuat rangkaian kerja seperti gambar 3.1 diatas ini. 2. Menyalakan MCB jala-jala. 3. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac eksitasi sampai maksimum. 4. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac jangkar motor hingga putaranya 1500 rpm. 5. Mengatur arus penguatan (eksitasi) pada generator dengan memutar tegangan pada variac eksitasi generator sampai tegangan keluaran Vt=220 volt. 6. Mencatat semua hasil percobaan, yaitu : n, If, dan VL. 7. Mengatur arus penguatan (eksitasi) pada generator dengan memutar tegangan pada variac eksitasi generator sampai tegangan keluaran Vt=0. 8. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac

jangkar motor hingga tegangannya minimum. 9. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac motor eksitasi sampai minimum. 10. Mematikan MCB Jala Jala.

19

3.2.3 Menjalankan Generator Arus Searah Dengan Beban 1. Membuat rangkaian kerja seperti gambar 3.1 diatas ini. 2. Menyalakan MCB jala-jala. 3. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac eksitasi sampai maksimum. 4. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac jangkar motor hingga putaranya 1500 rpm. 5. Mengatur arus penguatan (eksitasi) pada generator dengan memutar tegangan pada variac eksitasi generator sampai tegangan keluaran Vt=220 volt. 6. Menghidupkan satu saklar lampu sebagai beban 100 watt pada panel berbeban dan catat hasil percobaan, yaitu: Vt, Ia, If (pada Motor), VL, Ia, If (pada Generator) dan n. 7. Menhidupkan satu saklar lampu sebagai beban 200 watt pada panel berbeban dan catat hasil percobaan, yaitu: Vt, Ia, If (pada Motor), VL, Ia, If (pada Generator) dan n. 8. Menghidupkan satu saklar lampu sebagai beban 300 watt pada panel berbeban dan catat hasil percobaan, yaitu: Vt, Ia, If (pada Motor), VL, Ia, If (pada Generator) dan n. 9. Menghidupkan satu saklar lampu sebagai beban 400 watt pada panel berbeban dan catat hasil percobaan, yaitu: Vt, Ia, If (pada Motor), VL, Ia, If (pada Generator) dan n. 10. Setelah selesai Matikan satu saklar lampu sebagai beban 400 watt pada panel berbeban. 11. Setelah selesai Matikan satu saklar lampu sebagai beban 300 watt pada panel berbeban. 12. Setelah selesai Matikan satu saklar lampu sebagai beban 200 watt pada panel berbeban. 13. Setelah selesai Matikan satu saklar lampu sebagai beban 100 watt pada panel berbeban.

20

14. Mengatur arus penguatan (eksitasi) pada generator dengan memutar tegangan pada variac eksitasi generator sampai tegangan keluaran Vt=0. 15. Mengatur arus jangkar dengan memutar tegangan pada variac

jangkar motor hingga tegangannya minimum. 16. Mengatur arus penguatan (eksitasi) motor dengan memutar tegangan pada variac motor eksitasi sampai minimum. 17. Mematikan MCB Jala Jala.

3.3 Data dan Hasil Pengamatan Praktikum Tabel 1 Name Plate Motor DC Daya Tegangan Exitacy / If RPM 3 HP 180 V / 15 A 220 V / 2 A 1500 r/menit

Tabel 2 Percobaan Motor Tanpa Beban Vt (volt) 180 If (Ampere) 0,6 Ia (ampere) 1.1 Ra ( Ohm) 1.1 N (rpm) 1499

Tabel 3 Percobaan Menjalankan Generator Arus Searah N (rpm) 1499 If (ampere) 0,1 VL (volt) 17,6 mV

21

Tabel 4 Percobaan Generator Arus Searah dengan Menaikan Beban Beban (Watt) 100 200 300 400 500 Vt 284 278 438 487 105 MOTOR Ia 3,15 1,11 4.17 4,97 4,07 If 1.32 1.45 2.25 0.81 0.06 N(rpm) 1504 1506 1484 1457 1435 GENERATOR VL 156 122 94 91 78 Ia 1.7 5.1 7.35 2.58 1.55 If 3.41 9.4 4.13 4.18 0.53

22

3.4

Pengolahan Data

23

24

25

BAB IV ANALISA DAN KESIMPULAN

4.1

Analisa 1. Motor DC bisa berputar karena berdasarkan rumus ( ) , yang merupakan syarat agar timbul gaya sudah dipenuhi, karena adalah panjang konduktor sendiri yang diberikan penguatan, adalah medan magnet yang dihasilkan dari sumber eksitasi, dan i adalah arus dari sumber. Dan ketika tegangan jangkar dinaikkan maka akan timbul fluks, dan fluks ini akan bertabrakan dengan fluks dari eksitasi, selain sebagai salah satu cara agar motor bisa berputar karena saling berpotongnya fluks, tapi juga karena dalam satu kumparan tertutup dan adanya perubahan fluks magnetis terhadap waktu maka lama kelamaan akan timbul torka lawan, yang mengakibatkan melambatnya putaran motor. 2. Cara kerja generator DC : Berdasarkan rumus : E = , yang artinya adalah agar

timbul tegangan induksi maka dibutuhkan : a. Medan magnet Medan magnet timbul dari sumber eksitasi yang

dihubungkan ke stator. Arus dari sumber ekitasi akan masuk ke lilitan stator sehingga menghasilkan fluks yang arahnya dari kutub Utara magnet menuju kutub selatan magnet. b. Batang konduktor Batang konduktor dialiri arus jangkar agar timbul fluks magnetis juga. c. Perlunya adanya kecepatan Maka batang konduktor atau rotor yang memiliki fluks tadi, diputar oleh prime mover dalam hal ini motor DC, sehingga timbul perubahan fluks tiap detiknya sehingga memenuhi

hukum Faraday, yang artinya akan timbul tegangan.

26

3.

Ketika beban ditambahkan pada generator, putaran generator akan semakin melambat karena ketika beban bertambah maka besar tegangan dari rotor akan bertambah sehingga menyebabkan adanya torka lawan. Selain itu bisa dibuktikan dengan rumus :

Ketika daya output semakin besar denga fluks yang sama dan tegangan yang sama maka arus jangkar akan membesar.

Jadi bisa dilihat ketika beban semakin naik maka arus jangkar semakin membesar yang menyebabkan besarnya tegangan di rotor yang merupakan ggl lawan membesar sehingga dengan kondisi If yang tetap dan tegangan yang tetap, namum beban semakin besar, maka putarannya akan semakin melambat. 4. Untuk menjalankan mesin DC ini yang dinyalakan terlebuh dahulu adalah sumber eksitasi lalu dilanjutkan jangkar, karena sumber eksitasi berfungsi sebagai medan magnet pada mesin DC, selain itu untuk menjaga putaran rotor tetap stabil, karena apabila jangkar sendiri yang bekerja maka putarannya akan tidak stabil. 5. Dan untuk menghentikan mesin DC dimulai dari jangkar, lalu dilanjutkan ke eksitasi agar putaran rotor tetap stabil. 6. Dalam praktikum ini, sistem penguatan yang dipakai adalah sistem penguatan terpisah, karena bisa dilihat dari sumber yang dipakai berbeda, untuk eksitasi memakai sumber sendiri, dan jangkar pun memakai sumber sendiri. 7. Komutator adalah suatu konverter mekanik yang membuat arus dari sumber mengalir pada arah yang tetap walaupun belitan medan

27

berputar.

Komutator

juga

berfungsi

sebagai

saklar,

yaitu

menghubung singkatkan kumparan jangakar. Komutator berupa cincin belah yang dipasang pada ujung kumparan jangkar, bila kumparan jangkar berputar, maka cincin belah ikut berputar. Karena kumparan berada dalam medan magnet maka akan timbul tegangan bolak balik sinusoida. Dan bila kumparan telah berputar setengah putaran, sikat akan menutup celah cincin sehingga tegangan menjadi nol. Karena cincin berputar terus maka celah akan terbuka lagi dan timbul tegangan lagi. Bila perioda tegangan sama dengan perioda perputaran cincin maka tegangan yang timbul adalah tegangan arus searah gelombang penuh.

4.2

Kesimpulan 1. Motor DC bisa berputar karena berdasarkan rumus ( ) , yang merupakan syarat agar timbul gaya sudah dipenuhi, karena adalah panjang konduktor sendiri yang diberikan penguatan, adalah medan magnet yang dihasilkan dari sumber eksitasi, dan i adalah arus dari sumber 2. Cara kerja generator DC : Berdasarkan rumus : E = , yang artinya adalah agar

timbul tegangan induksi maka dibutuhkan : a. b. c. 3. Medan magnet Panjang konduktor. Kecepatan.

Ketika beban ditambahkan pada generator, putaran generator akan semakin melambat.

4.

Untuk menjalankan mesin DC ini yang dinyalakan terlebuh dahulu adalah sumber eksitasi lalu dilanjutkan jangkar.

5.

Dalam praktikum ini, sistem penguatan yang dipakai adalah sistem penguatan terpisah.

28

6.

Komutator adalah suatu konverter mekanik yang membuat arus dari sumber mengalir pada arah yang tetap walaupun belitan medan berputar.

7.

Untuk menghentikan mesin DC dimulai dari jangkar, lalu dilanjutkan ke eksitasi agar putaran rotor tetap stabil.

29

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Transformator dan Mesin DC, 2013. Chapman, Stephen J, Electric Machinery Fundamentals, Mc Graw Hill, New York, 1985 http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/generator -dc.html http://sindhu-neutron.blogspot.com http://indomicron.co.cc/fag/jangkar http://www.w3.org/1999/html
http://konversi.wordpress.com/2008/09/01/motor-arus-searah-dc http://akhdanazizan.com/gambar-hubungan-star-delta-motor-listrik-3-fasa

30

31